Heart Keeper


Tak ingin menjadi terlalu berarti bagimu. Bukan berarti aku tak pernah mencintai dirimu. Hanya saja, masih banyak hal di dunia ini yang lebih penting. Dan itu bukan aku.

 

Suatu saat, aku pasti akan melupakanmu. Jadi kumohon, ijinkan aku belajar melepaskanmu. Karena hari dimana aku pergi, saat itu aku tak akan pernah kembali lagi.

®Standar Disclaimer Applied

Copyright & CrossPosting ©Goetary

***

I can’t stop myself from loving you

Fate had already decided this before my life began

“Bagiku, di dunia ini, hanya ada dirimu seorang yang berarti Oppa,” bisik gadis itu. “Dan aku ingin bisa mengenang apa saja tentang dirimu.”

Kangta menarik napas dalam, semua usahanya untuk membuat Victoria menjauhinya gagal total. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. “Terserah kau saja kalau begitu.” Kangta beranjak bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Victoria di dalam studio rekaman sendirian.

Victoria kembali menyenderkan punggungnya di sofa. Air mata menitik di wajah cantiknya. Kangta memang berarti buatnya. Tapi ia merasa sedih ditolak mentah-mentah seperti itu.

*

My mind can’t stop missing you

“Aku masih kekasihmu kan, Oppa?” tanya Victoria. Awalnya tak ada jawaban dari Kangta, lelaki itu selalu begitu. Tak pernah memberi kepastian, membuatnya bingung sendiri harus bertindak seperti apa. “Oppa,” rengek gadis itu.

Kangta memandangnya dengan kurang sabar. Ia terlalu sibuk saat ini dan Victoria terus mengganggunya. “Kalau kau terus menggangguku kita putus!”

Victoria memandang Kangta tak percaya. Pelupuk matanya basah. Hatinya sakit. Tapi ia coba tersenyum walau lebih sering meringis. “Aku hanya minta waktumu sebentar saja, Oppa,” ujarnya dengan bibir bergetar. “Sebentar saja kok, kau selalu tak punya waktu untukku.”

“SUDAH KUBILANG AKU SIBUK!!”

Air mata gadis itu bergelinang seketika. Air muka Kangta yang penuh emosi saat  memandangnya membuatnya malu dan salah tingkah. Ia mencoba mundur selangkah, membungkukkan badannya dan meminta maaf pada lelaki itu.

“Oppa,” panggil Victoria. “Aku akan pergi. Pasti pergi selamanya dari hadapanmu. Tapi untuk sebentar saja aku minta waktumu sebelum aku benar-benar pergi. Oppa…” tapi tak ada jawaban dari Kangta yang masih sibuk mengurus kliennya. Victoria bicara lagi, masih dengan air mata di pipinya, “aku akan pergi. Kalau aku pergi, aku berjanji tak akan pernah kembali lagi. Jadi kuharap kau bisa bahagia dengan itu.”

Gadis itu membalik badannya, berjalan selangkah menjauhi Kangta. Tak ada apapun yang menariknya agar ia tetap berada disana, Kangta masih disibukkan oleh para klien. Akhirnya Victoria memutuskan untuk tak menoleh pada lelaki itu, membiarkan semua usahanya sia-sia belaka. Mungkin Kangta memang tidak mencintainya.

Kangta menoleh kebelakang dan menyaksikan sosok Victoria yang melangkah satu-satu.

I’ve tried and tried again to erase you, but you remain like a scar

Kangta berbaring di atas ranjangnya. Matanya terus-terusan tak dapat terpejam.  Dalam pikirannya kata-kata yang diucapkan Victoria tadi mengganggunya. Gadis itu bilang sekali ia pergi maka tak akan kembali lagi.

Sebenarnya kata-kata klise itu sudah sering didengarnya. Kebanyakan artinya adalah putus sepihak. Tapi wajah Victoria yang tadi menangis masih menyimpan ribuan pertanyaan di otaknya.

Kangta beranjak bangun dan meraih telpon genggamnya di atas meja, berencana menelpon Victoria dan menjelaskan kesalah pahaman tadi siang. Tapi gerakan tangannya terhenti tepat saat ia hampir menekan tombol panggilan cepat ke nomor gadis itu.

Ia berpikir sejenak dan kembali disadarkan oleh pikiran bawah sadarnya. Bukankah memang ini yang ia inginkan? Sudah seharusnya Victoria tak memikirkannya terus-terusan, supaya ia bisa mencapai mimpinya yang tertinggi. Karena semenjak ia menjalin hubungan dengan Kangta gadis itu selalu nampak selalu tidak bisa fokus dengan pekerjaannya sebagai penyanyi, padahal dulu Victoria pernah bilang ingin menjadi seorang diva.

Kangta menaruh telpon genggamnya kembali. Mengurung niatnya.

“Kunhuljurul mollayo

Gudel guriwohanun mamun

Jiwodo to jiwodo

Sarajiji anhnun hyunhtogathso”

Di dalam ruang studio, dimana hanya ada Victoria dan dua orang produser, gadis itu menyanyi dengan penuh penghayatan. Mencoba memahami arti lagu itu sebenarnya. Tanpa sadar air matanya menitik.

My eyes are covered to keep from seeing you

Ia tak ingin semuanya berakhir seperti ini. Apalagi harus kehilangan Kangta untuk selamanya dalam ingatan.

My lips are closed to keep from calling you

Victoria membuka matanya yang tadi terpejam. Berhenti menyanyikan lagu sedih itu, ia melepaskan headphone dari telinganya.

But still my heart can’t

Seorang produser yang duduk di hadapannya yang dibatasi kaca transparant terperangah melihatnya. Kepalanya mengikuti kemana Victoria pergi. Lelaki lainnya yang duduk disamping produser memanggil Victoria berkali-kali. Tapi gadis itu tak mendengarkan dan berlari keluar studio.

But still my mind can’t

Gadis itu tetap berlari selama di koridor untuk menuju ruangan kantor Kangta. Ia melintasi meja resepsionis yang sepi dan matanya tertumbuk pada Kangta yang berdiri di luar pintu masuk tak jauh darinya.

Victoria berjalan mendekat untuk melihat siapa wanita yang sedang bersama Kangta. Hatinya tiba-tiba terasa panas. Kangta tersenyum manis sekali, Victoria bahkan lupa kapan terakhir kali ia melihat lelaki itu tersenyum seperti itu.

Stop from feeling you, from wanting you

I shouldn’t call you when I miss you

Victoria menekan dadanya yang terasa perih. Berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis.

Since I only hurt more from wanting you

Tapi air mata kembali menemukan jalan untuk keluar. Karena Victoria langsung terisak ketika dengan matanya sendiri ia melihat Kangta mengecup kening wanita yang asyik mengobrol dengannya tadi.

My eyes are covered to keep from seeing you

Setelah wanita itu pergi Kangta kembali kedalam. Dan tanpa sengaja ia menoleh kearah Victoria yang tengah menutup wajahnya dengan sebelah lengan.

My lips are closed to keep from calling you

But still my heart can’t

“Victoria?” tanya Kangta seraya menghampirinya.

But still my mind can’t

“Oppa.” Victoria cepat-cepat menghapus air matanya.

“Mengapa kau menangis?” tanya Kangta.

Stop from feeling you, from wanting you

“Tidak apa. Maaf, aku harus kembali ke studio rekaman.” Setelah berkata begitu Victoria segera berlari kembali melewati koridor tadi dan berhenti tepat di depan pintu studio untuk menangis.

“Suatu hari, ketika aku benar-benar pergi aku tak akan pernah kembali lagi, Oppa.”

Please, don’t forget me

I can’t live if our love is forgotten

Sudah beberapa hari ini ia tak lagi melihat sosok  Victoria.

My eyes are covered to keep from seeing you

Dalam beberapa waktu lalu gadis itu terus-terusan  membuatkan bekal makan siang untuknya. Dan mengganggunya tiap saat.

I’m living without you

Tapi sudah hampir seminggu tak ada kabar darinya. Tak ada bekal, tak ada gangguan. Hari-hari ia lewati dengan tenang. Namun Kangta mulai merasa kehilangan. Ia merindukan Victoria.

My lips are closed to keep from calling you

 

***

Still I can’t erase you

Because of this failure

Perlahan aku akan melupakanmu, Oppa. Dan pergi untuk selamanya.

Sebenarnya aku takut.

Jika itu benar-benar terjadi, bagaimana dengan hidupku selanjutnya?

Aku juga memikirkan dirimu. Tapi kau pasti baik-baik saja. Pasti.

I feel you. I’m always feeling you

Dihatiku, satu-satunya orang yang paling berharga adalah dirimu. Tak ada yang lain. Dan aku tak butuh orang lain.

Kangta membaca surat dari Victoria dengan hati teriris. Ia tak pernah tahu gadis itu mengidap demensia yang akan menghapus seluruh memori dalam otaknya secara perlahan. Itukah sebabnya Victoria selalu ngotot memintanya meluangkan waktu sejenak untuknya?

Katanya untuk membuat kenangan. Tapi ia tak pernah tahu kalau yang ia maksud adalah hal ini. Ia juga tak pernah bertanya apa-apa. Hanya terus memarahi gadis itu tiap kali ia datang mengganggu.

Andai ia tahu.

But if my heart still can’t

Then I don’t want to feel anything at all

Kangta masuk kedalam kamar rumah sakit yang steril. Melihat Victoria terbaring di atas ranjang kaku itu membuat hatinya pilu. Ia berjalan mendekat saat seorang suster yang sudah ada sejak Kangta datang membisikkan sesuatu pada gadis itu.

Karena Victoria langsung bangun dan duduk di kasurnya dengan bantuan suster tadi ia merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu tersenyum senang kearah Kangta.

Kangta hampir menangis menyaksikan kondisi Victoria. Bibir gadis itu sepucat warna kulitnya yang sudah lama tak terkena sinar matahari. Rambutnya yang kemarin panjang dan lebat kini menipis. Pipinya tirus dan matanya tak lagi menyimpan cahaya yang biasa ia lihat tiap kali Victoria memandangnya. Melainkan kekosongan semata.

Tapi kesedihan dihatinya tak membuatnya berhenti merasakan kelegahan luar biasa saat menyadari kalau Victoria masih mengenalinya. Padahal seharusnya gadis itu sudah kehilangan semua memorinya saat ini.

“Lama tak bertemu, bagaimana keadaanmu?” tanya Kangta sambil berusaha ceria.

Victoria membalas senyumannya. “Nuguseyo?”

-END-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s