LOVE BETWEEN


DON’T COPAS !! NO PLAGIATOR !!

Read This First

Love To Say GoodBye

Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

*

Mungkin cinta tidak harus untuk selamanya.

Seperti kehadiranmu disisiku, yang bagaimanapun caranya tak akan bisa selalu kumiliki.

Lagi pula, bukankah mencintai tak selalu harus memiliki?

Dan untuk pertama kalinya di dalam hidupku, aku merasa kuat. Tegar.

Dan mampu menghadapi hari esok sendirian, meskipun harus tanpa dirimu…

“Sebenarnya apa sih yang kamu lihat dari Kyuhyun?” bentak Sungmin tak suka. “Dia memang Juniorku yang tampan dan sangat menarik, tapi bukan berarti aku tak mengenalnya. Lebih baik lupakan dia, masih banyak kan cowok single yang tak punya embel-embel status suami orang di belakang namanya di dunia ini. Jangankan di dunia, Seoul saja kau kelilingi masih bisa dapat dalam jumlah yang banyak.”

Sooyoung menarik nafas panjang. Ia merasa tak sanggup lagi membantah Sungmin. Meskipun harus mendengarnya mengomel-ngomel seperti ini dalam lima menit kedepan bisa saja membuat kesabarannya habis dan telinganya panas.

Sejak Sooyoung bersahabat dengan Sungmin saat mereka masih menjadi trainer sebagai penyanyi, sikap Sungmin memang seperti itu. Meledak-ledak. Emosional. Cepat marah. Mudah tersinggung. Dan terlalu protektif.

Tapi sebenarnya hatinya baik, wajahnya juga termasuk tampan. Hanya saja ia akan mudah marah jika melihat seorang gadis menangis, dan akan langsung naik pitam kalau tahu siapa yang membuat orang itu menangis.

Seperti sekarang, saat ia melihat Sooyoung menangis di pinggir kolam di dekat taman, tanpa babibu Sungmin langsung menghampirinya dan mengomelinya seperti ini. Tapi kemudian langsung membujuknya setelah itu. “Sudahlah, tak usah menangis lagi,” hibur Sungmin. “Aku mengerti perasaanmu. Seharusnya aku tidak perlu memarahimu. Maafkan aku.”

“Tak apa, Oppa. Aku baik-baik saja. Terima kasih.” Jawab Sooyoung saat tangisnya mulai reda.

“Sooyoung-a, bagaimanapun juga aku menyayangimu. Dan aku benci melihatmu terus disakiti seperti ini.”

Sooyoung mengangguk, tanpa sadar menghapus air mata yang tiba-tiba membasahi wajahnya. Perasaan sedih hampir terlupakan akibat rasa harunya akan perhatian Sungmin. Lalu ia berkata dengan parau, “terima kasih, Oppa. Aku tak tahu betapa sulitnya hidupku nanti tanpa dirimu.”

Dan Sungmin hanya tersenyum mendengarkan ucapan Sooyoung. Sementara di sudut terdalam hatinya, ada sebersit rasa cemburu yang entah mengapa membuat ngilu. “Aku tak akan kemana-mana,” bisiknya dalam hati, “akan selalu bersamamu.”

Bangun di pagi hari, Sooyoung merasa kepalanya berat, pandangannya berkunang-kunang. Perutnya mulas. Ia merasa pusing sekali. Sooyoung tertatih-tatih ke kamar mandi, isi perutnya meminta segera dikeluarkan. Sooyoung muntah di washtafel.

Setelah merasa cukup lega ia berkumur-kumur dan mencuci mukanya. Wajahnya pucat sekali, tapi badannya dingin dan kepalanya pusing. Sooyoung kembali kedalam kamar, dan tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dan menempelkan ponselnya ke dekat telinga.

“Sooyoung-a, kau sudah bangun?”

“Oppa?” tiba-tiba saja sakit di kepalanya menguap, telinganya tidak lagi terasa berdenging. Dan semua itu karena telpon dari Kyuhyun. Lelaki yang disukai oleh Sooyoung. “Tentu saja. Oppa lagi dimana?” tanyanya bersemangat.

“Oo, aku sedang dijalan menuju apartmentmu. Aku ingin sarapan denganmu.”

“Baiklah.”

Kyuhyun membawakan Sooyoung sup dan sushi kesukaannya. Sooyoung tengah makan dengan lahap sambil sesekali tertawa mendengar lelucon Kyuhyun atau karena merasa terlalu bahagia dengan kehadiran lelaki itu. Bahkan senyumnya seakan dapat menjadikan seluruh hari Sooyoung indah.

Tapi tiba-tiba perut Sooyoung serasa melilit, ia mulas lagi. Sooyoung hampir memuntahkan makanannya dimeja jika ia tak cepat-cepat mencapai kamar mandi. Sementara Kyuhyun mengikutinya dari belakang, membantu Sooyoung dengan memijit belakang lehernya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun khawatir.

Sooyoung menggeleng singkat, “aku baik-baik saja, Oppa. Sepertinya terlalu banyak makan.”

“Tapi wajahmu pucat sekali Sooyoung. Mari kuantar ke rumah sakit.”

“Tak usah,” tolak Sooyoung. “Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir, Oppa. Aku tak apa.”

“Serius?” tanya Kyuhyun merasa ragu. “Kau akan baik-baik saja saat aku pergi?” Kyuhyun memastikan.

“Iya, Oppa. Pergilah, nanti kau terlambat.” Sooyoung mengibaskan sebelah tangannya sementara Kyuhyun menuntunnya kembali ke ruang keluarga. “Aku akan menelponmu jika terjadi apa-apa.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Kalau begitu aku pergi dulu.” Kemudian Kyuhyun pergi lalu Sooyoung membaringkan tubuhnya yang kelelahan di sofa sambil mengelus-elus perutnya.

Telpon genggam Sungmin bergetar. Sunny mengangkatnya. Belum sempat ia berbicara, orang yang menelpon sudah lebih dulu angkat bicara. “Oppa, kau dimana?” tanya suara itu dengan terisak. “Oppa, aku butuh dirimu.”

Disaat itu Sungmin telah berdiri di depan Sunny sambil bertanya, “siapa yang menelpon?” tanyanya dan langsung merebut ponsel tersebut dari tangan Sunny. Sunny sampai tercengang karenanya.

“Sooyoung-a?” tanya Sungmin khawatir dengan ponsel di telinganya. Dan hanya dalam hitungan detik ia segera berlari, meninggalkan Sunny dengan pertanyaan yang menggantung di pikirannya.

“Sooyoung, apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?” tanya Sungmin kepada Sooyoung di dalam apartment milik gadis itu.

“Oppa… bagaimana ini? Bagaimana?” Sooyoung masih menangis. Menangis keras dipelukan Sungmin yang sampai sekarang tidak juga mendapatkan penjelasan apapun.

“Sooyoung-a?”

“Aku hamil,” cetus Sooyoung tiba-tiba. “Aku hamil anaknya Kyu Oppa. Oppa..”

Sungmin sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya kaku. Ekspresinya menegang. Ia tak pernah berpikir bagaimana caranya sampai Sooyoung harus mengalami hal itu. Ia tak pernah tahu perasaannya sebelumnya. Betapa Sooyoung berarti, betapa ia menyayanginya. Tapi justru kenyataan seperti inilah yang membuatnya sadar kalau ternyata ia menyukai Sooyoung.

Dan ia tak suka mengetahui kenyataan bahwa gadis itu hanya mencintai Kyuhyun. Bukan dirinya. Bukan ia yang dulu, bukan juga yang sekarang. Sooyoung tak akan pernah mencintainya. Dan buktinya ia bahkan rela memberikan hartanya yang paling berharga untuk Kyuhyun.

Itu saja sudah menyakitinya. Terlalu sakit. Itu sebabnya ia memeluk Sooyoung lebih erat, karena mungkin ini akan menjadi kali terakhir ia bisa memperlakukan Sooyoung seperti sekarang.

***

Kyuhyun mundur selangkah. Raut wajahnya murka. Ia tak suka dengan kenyataan ini. “Bagaimana bisa? Aku selalu memakai pengaman saat melakukannya bersamamu,” ujar Kyuhyun tak percaya.

Sooyoung menggigit bibirnya, sementara air mata memaksa jatuh dari celah bulu matanya yang lebat. “Entahlah, Oppa. Hal ini sudah terjadi, jadi kau harus…”

Ucapan Sooyoung terputus oleh Kyuhyun, “aku tak menginginkannya.” Kyuhyun menatap dalam mata hitam Sooyoung, lalu, “kau gugurkan saja!”

Air mata mengalir. Hatinya sakit bagai di iris sembilu tajam. Sakitnya tak tertahankan. Jiwanya hancur. Raganya remuk. Bahkan kakinya seakan lumpuh seketika, karena Sooyoung merasa sedang berdiri di atas air. Tak ada jaminan baginya untuk tidak tenggelam. “Oppa,” lirihnya pilu. “Kau jahat! Kau jahat Oppa! Aku benci padamu!” jeritnya.

Kyuhyun diam saja di tempatnya berdiri. Sedangkan Sooyoung sudah kehilangan keseimbangan. Dia ingin pergi dari sana. Menjauhi Kyuhyun yang tak perduli kepadanya. Tapi hatinya begitu sakit. Sakit karena ternyata lelaki itu menolaknya dengan terang-terangan. Sakit karena semua penyesalan selalu datang terlambat.

Sooyoung terpekur. Pada akhirnya ia jatuh bersimpuh di atas lantai kamar hotel yang disewa oleh Kyuhyun. “Oppa!” panggil Sooyoung saat merasakan kalau Kyuhyun sudah tak lagi ada di depannya melainkan berjalan ke pintu. “Apa kau tak pernah mencintaiku?” tanya Sooyoung berusaha tegar.

Kyuhyun diam sejenak, menarik napas dalam-dalam. Lalu, “aku mencintaimu, Sooyoung. Selalu mencintaimu. Tapi, jika aku harus kehilangan Seohyun aku tak akan sanggup.”

Sooyoung menggigit bibirnya.

“Karena aku mencintai Seohyun, lebih dari apapun. Maafkan aku, Sooyoung. Maafkan aku karena sudah memperalatmu. Aku tak pernah berniat menyakitimu.” Lalu Kyuhyun pergi.

Setelah Sooyoung mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup ia langsung menjerit sekeras-kerasnya. Menumpahkan seluruh air mata yang sedari tadi di sembunyikan olehnya. Ia menangis. Menjerit. Mengeluh. Semua itu hanya karena satu alasan. Alasannya adalah betapapun ia membenci Kyuhyun karena perlakuannya kepadanya, ia masih berharap lelaki itu kembali.

Karena Sooyoung mencintainya. Terlanjur mencintai Cho Kyuhyun. Lelaki yang sudah berstatus suami orang. Ia mencintainya. Terlalu.

Sooyoung duduk termenung di samping jendela di dalam studio siaran. Hari ini ia memiliki jadwal menggantikan Taeyon siaran bersama Sungmin. Sooyoung terpekur memandang Seoul yang sedang diguyur hujan deras. Beberapa orang terlihat sedang berlari, berseliweran mencari tempat berteduh, beberapa yang lain berjalan cepat dibawah naungan payung mereka.

Tiba-tiba pintu studio terbuka, dan Sungmin melongok, “apa yang kau lakukan disana?” tanyanya pada Sooyoung.

Sooyoung memandangnya tanpa ekspresi.

“Ayo, sudah waktunya.” Sungmin hanya bisa melihat Sooyoung dengan perasaan pilu, gadis itu nampak menderita. Mungkin karena masalahnya dengan Kyuhyun. Tapi Sungmin takut menanyakannya, bisa-bisa Sooyoung langsung menangis begitu ditanya.

Sooyoung melewati Sungmin, tapi Sungmin mencegatnya dengan memegang lengannya. “Aku tahu tak pantas menanyakannya, tapi aku ingin tahu apa yang terjadi.”

Sooyoung menarik napasnya dalam-dalam, “tak ada yang terjadi, Oppa. Semua baik-baik saja.”

Tak puas dengan jawaban Sooyoung, Sungmin memutar badannya, “kalau tak ada yang terjadi lalu mengapa kau seperti ini?”

“Seperti apa, Oppa? Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Sooyoung-a,” sergah Sungmin hampir berbisik. “Baiklah kalau kau tak mau menceritakannya padaku, akan kucaritahu sendiri.” Setelah berkata begitu Sungmin segera berlalu.

Wajah Sooyoung memucat, kemudian ia tersentak seakan tak menyadari kalau Sungmin sudah tak disampingnya lagi. Sooyoung berlari mengejar Sungmin. “Oppa, kumohon jangan seperti ini, Oppa…”

Sungmin memutar badan, ia memandang Sooyoung dengan wajah tak suka, “aku harus Sooyoung, aku harus tahu apa yang sedang mengganggumu,” ucap Sungmin keras kepala.

“Ini bukan urusanmu!” bentak Sooyoung. Sungmin memandangnya heran. Seakan gadis yang di depannya bukan Sooyoung.

“Sooyoung-a…” bisik Sungmin.

“Maafkan aku Oppa,” ucap Sooyoung bingung. Air mata mengalir di pipinya, “aku sedang bingung, itu saja.”

“Sooyoung, jangan menangis. Aku yang salah, maafkan aku.”

Sooyoung menggeleng, “tidak Oppa. Kau tak salah, aku tahu kau hanya sedang mencoba untuk melindungiku.” Sooyoung menyeka air mata di pipinya, lalu berkata lagi, “tapi bukan itu yang kubutuhkan sekarang. Aku butuh sendirian, aku ingin menenangkan pikiran sebelum membuat keputusan.”

Menarik napas dalam, Sooyoung kembali meminta maaf. Lalu pergi meninggalkan Sungmin. Saat ini ia sedang tidak bisa melakukan tugasnya, ia tidak bisa siaran. Tapi juga tak ingin membuat orang lain khawatir. Jadi Sooyoung mengambil tasnya dan berjalan keluar, menelpon taksi kemudian mengirim pesan singkat untuk manajernya, bilang kalau ia sedang sakit.

Jendela taksi yang di tumpanginya berembun. Sooyoung melihat lalu lintas Kota Seoul yang padat di lampu merah, raungan mobil-mobil yang saling berlomba menembus hujan tercepat setelah lampu berubah warna menjadi hijau. Namun ia terenyak melihat seseorang di mobil di sebelahnya, Kyuhyun mengemudi mobilnya sementara wanita cantik itu di sampingnya.

Seohyun tertawa bahagia, Kyuhyun juga begitu. Mereka sepertinya sedang bercanda, atau menertawai sesuatu yang lucu. Tiba-tiba saja hati Sooyoung terasa pilu. Ia lupa kapan terakhir kali melihat tawa Kyuhyun yang menawan, kapan terakhir kali merasa damai dalam pelukannya. Dan ia juga lupa betapa ia merindukan lelaki itu.

Ia kembali menoleh, tapi mobil Kyuhyun merambat maju. Sooyoung menghembuskan napas kasar, mengerjapkan matanya yang kembali berair saat Seohyun tidak lagi terlihat olehnya.

Sudah berhari-hari Sooyoung hidup dengan menghindari orang-orang. Termasuk Sungmin dan Sunny yang sekampus dengannya. Ia tak ingin mereka bertanya apa yang terjadi kepada dirinya. Ia juga yakin Sungmin sudah menceritakan kejadian ini pada Sunny. Mereka berdua memang akrab, Sooyoung sampai heran bagaimana mereka bisa tidak pacaran.

Tapi pada kenyataannya ia memang tak pernah bisa bersembunyi terlalu lama. Sungmin pasti akan mencarinya. Seperti sekarang, lelaki itu berada di depannya. Meminta jawaban serta penjelasan yang tak ingin dibeberkan Sooyoung kepada siapapun termasuk dirinya.

“Mengapa kau mengindariku?” tanya Sungmin sambil berkacak pinggang.

Sooyoung mulai salah tingkah,  berusaha tersenyum sebisa mungkin. “Aku tidak menghindarimu, Oppa,” elaknya. “Aku hanya sedang sibuk sekarang.”

“Oh ya?” Sungmin nampak tak yakin dengan jawaban tersebut. “Jadi bagaimana?” tanyanya pada akhirnya.

Sooyoung menarik napas panjang, mulai jengah dengan sikap Sungmin yang terlalu ikut campur. “Tidak ada apa-apa,” jawab Sooyoung singkat.

“Kyuhyun tak mau tanggung jawab?”

Mata Sooyoung melebar seketika. Wajahnya memerah, sepertinya Sungmin sudah mengorek sesuatu sampai terlalu dalam. “Bukan urusanmu!” ketusnya.

“Benarkan? Sampai kapan kau mau menyembunyikan semua ini Sooyoung?”

Air matanya tiba-tiba mengalir. Tapi Sungmin tidak tampak terganggu. Seolah ia tahu apa yang dirasakan oleh Sooyoung. Seolah ia tahu dengan tepat segala hal. Padahal ia tidak tahu apa-apa. Padahal dengan begini semua orang justru akan tersakiti, termasuk dirinya dan Sungmin.

“Jadi apa yang akan kau lakukan, Sooyoung-a?” tanya Sungmin mulai melunak. “Apa rencanamu?”

Sooyoung mendongak, “aku tak tahu Oppa,” jawabnya pasrah pada akhirnya. “Aku tak tahu.” Sunyi sesaat. “Tapi aku ingin mempertahankannya.”

“Kau tak boleh begini Sooyoung. Bagaimana dengan karirmu, orang tuamu bahkan kuliahmu? Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang? Oleh Agensi kita?”

Sooyoung menggeleng. “Aku akan melepas semuanya, Oppa.”

“Biar aku yang bertanggung jawab!” cetus Sungmin mantap.

Sooyoung terperanjat. Air matanya tiba-tiba berhenti di gantikan oleh pertanyaan yang menganga di hadapannya. “Apa maksudmu?” tanyanya ragu hampir pada diri sendiri.

“Biar aku. Aku akan menjadi ayah anak itu.” Sungmin sendiri heran, bagaimana bisa ia mengajukan sesuatu yang berbahaya seperti itu. Tapi ia merasa yakin bisa menjaga Sooyoung. “Kita akan menikah, dan bercerai tepat setelah bayimu lahir, Sooyoung.”

“Tidak mungkin Oppa.”

“Mengapa tidak?”

“Karena aku tak mungkin membiarkanmu menyakiti Sunny Onnie.”

Sungmin memandang Sooyoung heran. “Sunny? Apa kau sudah gila? Kami tidak punya hubungan apa-apa!”

Tapi wajah Sooyoung memucat. Ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada disana. Tanpa sadar ia bergumam “Sunny Onnie…”

Pada saat itu Sungmin menengok ke belakang. Dan raut wajahnya tiba-tiba berubah. Karena di mata Sunny ia melihat genangan kesedihan. “Sunny…” panggilnya, tapi Sunny sudah berlari menginggalkan mereka.

“Sunny, aku… aku akan menikah. Dengan Sooyoung,” Sungmin memandang Sunny, tapi gadis itu tidak sedang melihatnya. Perhatiannya teralihkan oleh cangkir berisi cappucino yang mulai mendingin. “Ini memang tergesa-gesa, aku tahu.”

“Apa kau mencintainya?” tanya Sunny ragu.

Sungmin menggigit bibirnya, lalu berkata, “Sooyoung hamil.”

Sunyi sesaat. Sooyoung ataupun Sungmin sama-sama tak berani membuka suara. Seakan satu kalimat saja bisa menghancurkan hati.

“Maafkan aku,” ujar Sungmin tiba-tiba.

Sunny mengangkat wajahnya dan bertanya, “untuk apa minta maaf?”

“Entahlah, aku hanya merasa perlu meminta maaf kepadamu.”

Tersenyum samar Sunny mengangguk.

“Kukira kau marah. Karena tadi kau langsung pergi setelah mendengar pembicaraanku dengan Sooyoung.”

“Mengapa aku harus marah?”

Sungmin mendesah, air mukanya berubah sedih. Kecewa. Mungkin bukan itu reaksi yang ia inginkan setelah Sunny menangkap basah dirinya mengatakan hal seburuk itu. Tapi toh mungkin juga karena gadis itu tidak merasakan apapun.

“Entahlah, Sunny. Maaf. Aku tahu ini memang bukan urusanmu. Maaf karena aku sudah mengira kalau kata-kataku tadi akan mengganggumu. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir.”

Diperhatikannya raut wajah Sungmin yang tak sedap. Sepertinya ia sudah menyakiti hati lelaki itu. Tapi kenapa?

***

Lebih seperti ingin memastikan. Beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Sooyoung, Sungmin pergi mencari Sunny. Karena sebelumnya, setelah perbincangan mereka yang terakhir ia tak lagi bisa menemui gadis itu.

Ia merasakan ada sesuatu yang salah. Tapi tak yakin kalau itu dirinya atau bukan. Atau mungkin hanya nervous menjelang pernikahan. Entahlah.

Sungmin tengah duduk sendirian di bangku taman di dekat kampus tempat ia biasa menghabiskan waktu bersama Sunny. Tapi tiba-tiba saja ia seakan melihatn seseorang yang mirip dengan Sunny berjalan mendekati kolam di taman tersebut.

Gadis itu yang ternyata memang Sunny tampak sedang menghayal. Karena ia bahkan tak menyadari kalau sudah keluar dari jalan setapak dan bisa saja tergelincir ke dalam kolam. Sungmin berlari menghampirinya, tepat sebelum Sunny terjun ke dalam kolam.

“Kau mau mati konyol dengan terjun ke dalam kolam?”

“Aku tahu kau pasti kecewa denganku sekarang,” kata Sungmin tiba-tiba. “Tapi saat ini Sooyoung benar-benar membutuhkan aku.”

“Apa yang sedang kau bicarakan, Oppa?”

Sungmin tidak langsung menjawabnya. Setelah beberapa saat kemudia ia berkata, “percayalah kepadaku.”

Sunny memalingkan wajahnya, kaget. “Ada apa sebenarnya, Oppa? Aku sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraanmu.”

Tersenyum samar Sungmin menangkup jemari Sunny dalam tangannya, dan memandang mata gadis itu lekat-lekat. “Mungkin memang bodoh karena baru menyadarinya, tapi aku membutuhkanmu, Sunny-a.”

Sesuatu dalam mata Sungmin membuat Sunny berdebar-debar.

“Sunny, maukah kau menungguku sampai aku kembali? Sampai aku menepati semua janjiku pada Sooyoung, sampai ia aman kutinggal sendiri?” mata Sungmin penuh harap memandang kepada Sunny. “Maukah kau mempercayaiku?”

Tapi terkadang berjalan menjauh, mengingkari janji yang tak sanggup ditepati justru lebih baik, ketimbang harus tinggal dan berpura-pura kalau semua itu tidak akan mengusikmu. Seakan kau baik-baik saja walau tersakiti. Padahal, terkadang, ada luka yang di takdirkan untuk berbekas selamanya.

Seoul, Korea Selatan

Dua tahun kemudian

Ditemani seorang gadis kecil yang cantik Sooyoung berjalan di samping Sungmin yang tengah mendorong kereta belanjaan.

“Omma, aku mau itu,” tiba-tiba Sohyun menjerit kegirangan seraya menunjuk kotak sereal berhadiah.

Sungmin tertawa, “tentu saja sayang,” ujarnya lembut.

“Sohyun-a, di rumah kan masih banyak sereal nak? Kenapa harus beli lagi? Memangnya Sohyun bisa menghabiskan semuanya?” Sooyoung berusaha nampak dingin ketika berbicara dengan anaknya, tapi akhirnya justru dia sendiri yang tidak tahan dan langsung mencubit pipi tembem Sohyun.

“Sooyoung-a?” seseorang menyebut nama Sooyoung. Ia pun berbalik. Dan di depannya sudah berdiri Kyuhyun.

“Kyuhyun Oppa?” tanyanya terkejut. Di samping Kyuhyun ada Seohyun yang seanggun biasanya dan sepertinya bertambah cantik. “Apa kabar Seohyun ssi?” sapanya.

“Apa kabar? Lama tak bertemu, Sooyoung Onnie,” Seohyun tersenyum manis sekali. Sooyoung saja yang sama-sama wanita merasa deg-degan melihat senyuman itu. Mungkin begitu juga dengan Kyuhyun. Itu sebabnya ia tak pernah bisa meninggalkannya.

“Aku baik.”

“Ini anakmu yah? Wah, cantik sekali,” Seohyun tersenyum gembira, dicubitnya pipi Sohyun dan gadis kecil itu juga ikut tertawa.

Sementara Sooyoung dan Kyuhyun mulai merasa canggung dengan keadaan sekarang. “Kami harus pergi,” ujar Sungmin tiba-tiba. Kemudian mereka saling berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Di dalam mobil Sohyun asyik bermain dengan mainan barunya, sementara Sungmin serius menyetir.

“Oppa.”

“Hmm?”

“Kudengar hari ini Sunny Onnie kembali dari Taiwan.”

“Iya.”

“Kau tak menjemputnya?”

Sungmin menoleh, “sebentar lagi. Ada apa tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Sungmin heran.

“Kita sudah setahun lebih bercerai, tapi kau masih sangat baik menemaniku kemana-mana.” Jeda sebentar. “Aku akan lebih merasa tidak enak jika setelah kepulangannya kau masih harus menemani kami.”

Sungmin terkekeh, “Sunny bukan orang seperti itu.”

“Aku tahu.”

“Kau cemburu yah?” goda Sungmin. Tapi kemudian raut wajah Sooyoung berubah sedih. “Maafkan aku Sooyoung-a, apa aku menyinggungmu?” tanya Sungmin khawatir.

“Ah, tidak kok Oppa. Aku hanya… sudahlah,” ucapnya kemudian seraya tersenyum. Lalu kembali menatap keluar jendela.

Telpon genggam Sooyoung berbunyi saat ia sampai di rumah. Di tatapnya nomor penelpon yang tak di kenalinya sesaat.

“Halo?”

“Sooyoung-a?”

Deg.

Suara itu. sesaat Sooyoung termenung di samping telpon genggamnya. Lalu kemudian, “Kyu Oppa?”

“Bisa bertemu?” tanya suara itu lagi. Dan air mata mulai merembes satu-persatu dari celah bulu matanya yang lebat.

Menatapnya begini dekat, duduk di sampingnya. Merasakan getaran tubuhnya ketika ia bernafas. Lekukan bibirnya, hidung yang lancip, tatapan mata yang tajam, senyumnya yang menawan. Semua itu membuat jantung Sooyoung berdetak seribu kali lebih cepat.

Dan lebih dari cukup untuk mengukur betapa dalam rindunya, betapa besar cintanya. Semua itu hanya dengan memandang wajah Kyuhyun.

“Boleh aku bertemu dengannya?” tanya Kyuhyun. “Dia…”

“Anakmu. Anak kita.”

“Boleh?”

Sooyoung meremas jari-jarinya, perasaannya goyah dengan kehadiran Kyuhyun. “Kau dulu tak menginginkannya,” cetus Sooyoung setengah berbisik. Seolah meyakinkan dirinya sendiri kalau Kyuhyun tak pantas untuk anaknya. Tapi meskipun otaknya menolak, hatinya justru selalu memiliki cara untuk membawa Kyuhyun pulang kepadanya. Walau hanya sebentar, seperti yang sudah-sudah.

“Aku tahu, aku minta maaf sudah membiarkanmu menderita sendirian.”

“Aku tak menderita. Aku baik-baik saja. Jauh lebih baik dari saat bersamamu dulu.” Bohong. Sooyoung mengatakannya hanya untuk menyakiti hati Kyuhyun. Untuk memastikan pada lelaki itu kalau ia bisa hidup tanpa dirinya.

“Ya sudah kalau kau memang tak menginzinkannya. Aku mengerti.” Kyuhyun berdiri dari duduknya, kembali memandang Sooyoung, “aku senang kau hidup dengan baik, Sooyoung-a.”

“Oppa…” Sooyoung memanggil nama Kyuhyun dan lelaki itu langsung menoleh kepadanya. Air mata jatuh di pipi Sooyoung, sambil mengangguk ia berkata, “kau boleh bertemu dengannya.”

***

Duduk di taman. Gadis cilik itu tengah asyik bermain plosotan dengan teman-teman sebayanya. Sesekali menoleh pada ibunya, melambai sebentar kemudian kembali di sibukkan oleh teman-temannya.

Sooyoung tersenyum. Manis sekali. Karena untuk pertama kalinya ia menyadari, kalau di hidupnya begitu banyak berkah dan kebahagiaan.

Mungkin ia tak harus memiliki Kyuhyun sebagaimana ia inginkan di masa lalu. Tapi, Kyuhyun telah menggantikan kehadirannya dengan wujud gadis kecil. Dan ia amat bersyukur.

Ia juga bersyukur, karena pada akhirnya, orang yang selama ini selalu ada di sisinya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.

“Sooyoung-a…” panggil seseorang.

Sooyoung tersenyum melihat Sunny yang berjalan bergandengan tangan dengan Sungmin menuju dirinya. Sunny sudah hamil besar sekarang, wajahnya yang manis terlihat lebih cantik. Ia memiliki senyum paling cerah yang pernah dilihat Sooyoung.

Sama dengan Sungmin. Mereka berdua, begitu cocok satu sama lain. Begitu serasi. Begitu indah. Sungmin dan Sunny mungkin saja baru bisa menemukan kebahagiaan setelah bertahun-tahun, tapi tak pernah ada kata lelah untuk menunggu seseorang yang kita cintai bukan?

“Onnie, kau cantik sekali.” Pujian Sooyoung membuat wajah Sunny memerah.  Tiba-tiba saja Sungmin memeluknya dari belakang.

“Ya, Sooyoung-a, jangan menggoda istriku begitu. Nanti matahari malu karena senyumnya lebih cerah.”

Mereka tertawa. Untuk kali ini benar-benar tawa yang tulus. Tawa yang di dalamnya karena bahagia dan saling memiliki.

Sungmin dan Sunny berjalan menghampiri Sohyun. Sooyoung hanya melihat mereka dari tempatnya duduk. Sesaat ia berdoa, semoga kebahagiaan ini abadi. Semoga mereka tak lagi terpisahkan.

Mungkin di masa depan akan ada hal yang membuat mereka sedih dan menangis lagi. Tapi tiap kali ia terjatuh, ia berharap kalau ada orang-orang yang akan membantunya berdiri. Sama seperti waktu itu, ketika Kyuhyun pergi dari hidupnya. Meninggalkan dirinya.

Kyuhyun Oppa… aku, cinta padamu.

Sooyoung di panggil oleh Sunny, menyuruhnya menghampiri mereka. Ia pun berlari menghampiri orang-orang itu. bergabung bersama mereka.

Cinta mungkin, tidak selamanya berakhir bahagia. Tidak selamanya saling memiliki. Tapi pernah merasakannya saja sudah menjadi hal yang ajaib. Lagipula, bukankah cinta tak harus saling memiliki? Bukankah cinta juga bisa hidup masing-masing meskipun jarak memisahkan?

-The End-

16 thoughts on “LOVE BETWEEN

  1. kenapa bgetu menyedihkan?
    Sumpah kasian ama syoo😦
    pengen gw bunuh deh tu sikyu,
    kyu adgtgkwmgdwpxl !
    Serius!
    Geram ama kyu -.-

    chingu,
    buat sequelnya dunk?
    Yg syoo ama anaknya bisa bersatu ama kyu😀
    terserah cranya mau gmana,
    mau kyu poligami kek,
    mau kyu nikah siri ama soo jga bleh.
    Yg penting mereka bahagiYg penting mereka bahagiYg penting mereka bahagiYg penting mereka bahagia.
    Atw kalo ga buat kyu menyesal udah ningga

    • ini koment gw kenapa jdie gnie?? -.-

      ouh atw kalo ga chingu,
      buat sequel syoo pndah kemana gtu,tros dya ketmu ama pengganti kyu.
      Kalo bsa co itu siwon atw kris😀
      tpi tlg,
      buat kyu menyesal plus menderita karna uda nyakitin syoo😛

    • kekeke~ silahkan aja bunuh si Kyu, saya gapapa kok😛
      gimana yah? sebenernya ini ff udah lama banget, pernah sih kepikiran bikin sequel tapi gak pernah kesampean:mrgreen:
      nanti kapan2 klo punya ide baru dilanjutin, cuman bingungnya ada gak yah cast untuk Soo yang lebih oke dari Kyu?😉

  2. Grr….. Kyu aku benci padamu?!
    Eonni bikin sequelnya dong please buat Kyu menyesal udah gituin Soo kalo aku pengennya ada pengganti Kyu pengennya sih Changmin. Please buatin yah eonni?

  3. kyu… Beraninya kau mencampakan syoo,hehe
    chingu bkin sequel dong, syoo sama siwon deh,
    bkin khdupan bru antara syoo siwon n anak syoo,, *reader bnyak mau

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s