Love To Say Goodbye


Dosakah aku jika terlalu mencintaimu?

Aku tak meminta perasaan seperti ini tumbuh di hatiku. Namun, kenyataannya Tuhan malah mempercayaiku untuk menerimanya.

Jadi, jika mencintaimu itu salah, apakah Tuhan sudah membuat kekeliruan?

Sungmin Oppa, jawab aku…

Sungmin Oppa

Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

 

“Aku akan menikah dengan Sooyoung. Maafkan aku Sunny, aku tahu ini terlalu tergesa-gesa.”

“Apa alasannya, Oppa?” lirih Sunny.

“Sooyoung tengah hamil.”

Sunny, gadis itu diam saja. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar, meremas roknya hingga buku-buku tangannya berubah warna.

“Maafkan aku, Sunny-a.”

“Untuk apa, Oppa? Itu sama sekali bukan urusanku. Jika kau mau menikah dengan Sooyoung, itu adalah urusan kalian bukan aku.”

“Aku tahu. Aku tahu. Maaf, kupikir kau pasti akan marah.”

“Mengapa aku harus marah?”

Sungmin mendesah berat, air mukanya berubah sedih. “Entahlah, Sunny. Maaf, aku tahu ini memang bukan urusanmu. Maaf karena aku sudah menyita waktumu untuk hal tak penting seperti ini.”

Sunny membuka mulutnya, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekat oleh air mata yang sedari tadi memaksa untuk keluar. Meskipun susah, pada akhirnya Sunny ikut berjuang untuk tersenyum. Melawan arus gelombang di hatinya yang beku. Gadis itu nampak tengah menahan tangis. Buktinya sejak tadi ia menunduk terus sementara bibirnya merengut membentuk segaris tipis.

Seharian, hujan mengguyur Ibu Kota Seoul. Seharian itu pula Sunny mengurung dirinya di dalam kamar. Ia duduk di kursi yang menghadap keluar kaca apartementnya, dengan tangan memeluk kedua lutut, sementara dagunya bersandar di atas tangannya yang satu lagi.

Mata Sunny sembab karena menangis. Ia sempat tertidur selama beberapa saat di posisinya sekarang. Namun sakit dihatinya justru berdampak pada mimpinya, karena di tidurnya ia tetap menangis tanpa berhenti.

Ponselnya berdering. Sunny mengacuhkannya dan beranjak berdiri menuju pintu teras dan membukanya. Tampias hujan mengenainya, Sunny melangkah pelan di teras yang basah. Tiba-tiba saja sudah basah kuyup, sementara itu telpon genggamnya masih terus berdering.

Sebenarnya, ia sendiri juga bingung mengapa ia harus sedih dan semarah ini. Kenyataannya Sungmin dan dirinya tidak memiliki hubungan apapun kecuali sebagai teman. Memang perhatian yang diberikan Sungmin, telpon dan pesan-pesan singkatnya selalu begitu perhatian dan membuat hatinya tersentuh. Namun itu bukan berarti Sungmin juga memiliki sebuah perasaan yang ia inginkan ada dihati lelaki itu untuk dirinya.

Sunny mendongak menatap langit kelabu yang menyirami wajah dan tubuhnya. Pukulan-pukulan air hujan tersebut menenangkannya. Perih memang, namun tak seperih hatinya yang dirundung kecewa sekarang. Tak sepedih rindu yang memuncak di dadanya.

Sunny tersenyum sementara wajahnya mengernyit pilu. Tapi toh, itu gunanya ia berlindung dibawah hujan saat ini, supaya meskipun air matanya terus mengalir ia tak perlu merasa malu karenanya.

Hujan diluar, Sungmin terpekur dibelakang kemudi dengan ponsel di genggamannya. Sudah berkali-kali ia mencoba menelpon Sunny tapi tak juga ada tanggapan. Ia berencana mengunjunginya di apartementnya, tapi urung karena merasa Sunny memang sedang menghindarinya.

Baru saja ia akan membawa mobilnya keluar dari pelataran parkir kantor tempatnya bekerja, ponselnya bergetar. Sungmin cepat-cepat melirik nama si penelpon, “ini aku,” gumamnya di telpon.

“Oppa kau dimana? Bisa jemput aku di kampus sekarang?”

Sungmin menarik nafas panjang. Lalu, “maaf, Sooyoung-a. Saat ini aku sedang sibuk.”

“Oppa…” terdengar rengekan Sooyoung dari seberang sana. “Saat ini sedang hujan deras, apa kau tak kasihan padaku? Memangnya aku bisa berlari dengan janin di dalam perutku?”

Sungmin terenyak, mengingat bahwa Sooyoung memang sedang mengandung. Baiklah,” katanya kemudian, “tunggu aku disana.”

Sooyoung tengah berlindung di bawah atap perpustakaan bersama beberapa orang lainnya. Sungmin memarkir mobilnya dan turun dengan membawa sebuah payung, sementara Sooyoung nampak sumringah hanya dengan memandang cara Sungmin berjalan menghampirinya.

“Ayo,” ajak Sungmin memayungi Sooyoung.

Sooyoung berjalan disamping Sungmin, dengan hati-hati Sungmin menuntun Sooyoung menurungi anak-anak tangga sebelum mencapai mobilnya.

“Terima kasih, Oppa,” ujar Sooyoung setelah mereka berdua duduk nyaman di dalam mobil. “Mau kerumahku dulu?”

“Tidak usah, nanti saja.”

Mendengar ucapan Sungmin yang selalu sama dengan biasanya Sooyoung mendengus, “selalu saja begitu,” gumamnya. Sungmin mendengarnya, namun ia berpura-pura tak terganggu sama sekali dengan hal itu.

Mobil-mobil yang berseliweran dijalan raya tidak seramai biasanya, karena kini memang sedang hujan jadi jalanan lumayan sepi. Sungmin meraih tombol power dvd di mobilnya dan menyalakannya, dalam sekejap alunan musik lembut mengalir menyamarkan kecanggungan di antara mereka.

***

Tiga hari berlalu sejak Sungmin memberitahu Sunny bahwa ia akan segera menikah. Sejak hari itu pula Sunny tak lagi bertemu lelaki itu, di kampus, dorm bahkan kantor agensi mereka. Seolah Sungmin lah yang sedang menghindarinya.

Sebenarnya ia baik-baik saja dengan keadaan seperti ini, itu artinya ia tak perlu lagi bertemu dengan Sungmin selama perasaannya belum membaik. Sunny mengangguk membenarkan pikirannya, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah murung dan matanya berkaca-kaca.

“Onnie…” seseorang memanggilnya tiba-tiba, dan entah sejak kapan Sooyoung sudah berdiri di hadapannya. “Onnie, apa kabar? Mengapa kau sekarang sulit sekali ditemui?”

Sunny meringis. “Maaf, Sooyoung-a. Kita bicara lagi nanti, aku harus menemui dosen dulu untuk melanjutkan study di tahun depan.” Sooyoung tersenyum sembari mengangguk, “maaf yah, aku duluan.”

“Iya Onnie, sampai jumpa.” Tiba-tiba Sooyoung kembali berseru memanggil nama Sunny, ketika Sunny berbalik badan Sooyoung berlari menghampirinya. “Aku hampir lupa, aku mau menyerahkan sesuatu kepadamu.” Menyerahkan sebuah undangan berwarna putih gading dengan pita marun, Sunny menerimanya ragu, “Oppa yang menyuruhku memberikannya padamu. Kau harus datang ke pernikahan kami ya, Onnie?”

Sunny tersenyum kecut dalam hati, hatinya kembali tercabik-cabik sekarang.

Di dekat kampus ada taman yang biasa ia datangi bersama Sungmin. Saat seperti ini, meskipun ia cukup sedih untuk kembali mengingat kebersamaannya bersama Sungmin entah mengapa ia justru memilih datang kesini. Dan merasakan kehadiran Sungmin disisinya. Taman itu sudah dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, ini sudah musim semi dan semuanya nampak begitu berwarna. Tapi Sunny tidak memperhatikan jalan disekelilingnya, ia hanya terus menyusuri jalan setapak di samping kolam ikan di tengah taman.

Ia meringis dan memukul kepalanya sendiri saat menyadari kalau dipikirannya ternyata hanya ada kenangan atas Sungmin. “Bodoh. Jangan terus memikirkan orang itu.”

Sunny terkesiap keras ketika lengannya mendadak dicengkram, disusul suara rendah yang manis berkata datar, “kau mau mati konyol dengan terjun ke dalam kolam?”

Sunny mengerjap dan baru menyadari bahwa ia sudah berjalan menjauh dari jalan setapak dan malah mengarah ke kolam. Apakah ia terlalu asyik melamun sampai tidak memperhatikan jalan? Lalu Sunny tertegun. Tunggu dulu… Suara itu… Suara itu! Ia menoleh dengan cepat dan matanya langsung berserobok dengan mata Sungmin yang menatapnya dalam. “Oppa…” bisiknya parau.

Sungmin duduk di salah satu bangku taman di dekat kolam. Sunny menghampiri bangku itu dan duduk di samping Sungmin. Selama beberapa saat mereka hanya duduk disana tanpa saling bicara. Suara yang terdengar hanya gemersik dedaunan yang ditiup angin dan suara lalu lintas di kejauhan.

“Aku tahu kau pasti kecewa dengan keputusanku ini, dan bertanya-tanya.” Kata Sungmin tiba-tiba. “Tapi saat ini banyak orang yang tergantung kepadaku.”

“Apa maksudmu?”

Sungmin tidak langsung menjawabnya. Ia menarik napas dalam-dalam, “aku hanya ingin kau percaya kepadaku. Itu yang kubutuhkan darimu, Sunny.”

Sunny memalingkan wajah dan menggigit bibir. “Memangnya apa yang bisa berubah jika aku percaya? Untuk apa kau memintaku percaya, Oppa? Tanyanya.

Sungmin tersenyum samar. “Karena aku membutuhkanmu.”

Sunny menatap Sungmin tidak mengerti. Menatap mata lelaki itu membuatnya tak sanggup berpikir. Sesuatu dalam mata Sungmin membuat jantungnya berdebar-debar. Membuat tenggorokannya tercekat, dan hatinya terasa perih.

“Jangan pergi dariku, tetaplah di sampingku. Kau hanya perlu percaya kepadaku, itu saja.”

Sunny masih tak bisa memalingkan pandangannya dari mata gelap Sungmin. Otaknya masih tak sanggup berpikir.

“Karena itu, maukah kau menungguku Sunny?”

***

Sunny duduk di salah satu deretan bangku-bangku panjang di antara para tamu undangan. Suara denting piano sayup-sayup mengalun keseluruh penjuru ruang katedral tersebut. Sungmin tampak begitu tampan dengan setelan jas putihnya, berdiri tenang di depan seorang pastur yang akan menikahinya.

Tiba-tiba jantung Sunny serasa berhenti berdetak. Ia sudah menyesali keputusannya untuk datang kesini. Sunny berdiri dan tempat duduknya, dan tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan milik Sungmin. Sunny merasa pijakannya goyah, lidahnya kelu padahal hatinya menjerit, memohon lelaki yang kini tengah menunggu mempelai wanitanya untuk membawanya jauh dari tempat itu sekarang juga. Tapi Sungmin tak lagi melihatnya.

Pada saat itu juga Sunny merasa dunianya seolah runtuh. Cinta yang bersarang di hatinya luntur oleh air mata yang tak pernah mereda. Ia memang berjanji untuk menunggu sampai Sungmin kembali kepadanya, meskipun kapan ia tidak tahu pasti karena mereka tak pernah membicarakannya. Tapi Sunny ingin percaya pada Sungmin. Meskipun saat ini ia bahkan sudah meragukan janji-janji tersebut.

Dengan langkah gontai Sunny berjalan keluar dari katedral tersebut. Membuang seluruh rasa cintanya. Meninggalkan kepedihan yang bersarang di hatinya.

Seoul, Korea Selatan

Dua tahun kemudian

 

Langit masih berwarna kelabu saat Sunny turun dari pesawat. Kabarnya hujan deras sudah mengguyur Kota Seoul sejak kemarin, Sunny awalnya berniat untuk tidak kembali dulu tapi karena panggilan dari agensi artisnya ia terpaksa harus mengambil pesawat tercepat dari Taiwan.

Saat Sunny tiba di luar bandara ada rasa familiar yang menyergap masuk kedalam hatinya. Pada kenyataannya banyak hal yang belum berubah walau dua tahun telah berlalu, termasuk perasaannya.

“Taksi nona?” tanya seorang pengemudi taksi.

“Dia bersamaku.”  Seseorang tiba-tiba sudah berada di samping Sunny. Dengan terkejut Sunny mendongak dan matanya melebar seketika.

“Sungmin oppa?” bisiknya ragu.

“Lama tak bertemu, aku sudah mencarimu kemana-mana.”  Sungmin menyipitkan matanya dan berkata lagi, “kau sengaja lari dariku yah?”

“Ah.. Oppa,” Sunny gelagapan. Tapi sedetik kemudian Sungmin sudah menariknya ke dalam mobilnya.

Mobil berjalan perlahan di bawah kemudi Sungmin. Jalanan Seoul tak begitu ramai karena hari hujan. Selama beberapa saat mereka hanya duduk diam berdampingan. Hanya suara hujan bercampur suara-suara kendaraan yang tak terlalu jelas terdengar dari dalam dengan kaca tertutup.

Sungmin membelokkan mobilnya, keluar dari pusat Kota. Ia lalu menghentikan mobilnya di samping trotoar yang di tumbuhi banyak pohon rindang.

Sungmin diam seraya jemarinya mengetuk-ngetuk pelan kemudinya.

“Oppa…” tiba-tiba Sooyoung bicara.

“Mengapa kau pergi begitu saja?” tanya Sungmin. “Bukankah kau berjanji akan menungguku? Tapi mengapa kau pergi begitu saja di hari dimana aku begitu membutuhkanmu untuk tetap terlihat di sekitarku?” Sungmin menarik napas dalam-dalam. Lalu, “aku rindu padamu. Tapi disaat bersamaan aku juga membenci dirimu karena sudah mengingkari janji yang kau ucapkan dulu. Sunny, mengapa kau melakukannya?”

“Maaf…”

“Aku tak ingin mendengar kata maaf darimu. Aku ingin tahu kenapa kau meninggalkanku?”

“Oppa, benar-benar ingin tahu alasanku? Sebegitu ingin tahunya? Baik, akan kuberitahu.”

Tapi tiba-tiba Sungmin sudah menggenggam jemari Sunny. Sunny memandangnya, napasnya tercekat.

“Aku tak perduli,” Sungmin membalas tatapan mata Sunny. Dan seketika gadis itu berhenti bernapas. “Yang penting kau sudah disini. Waktu dua tahun itu sama sekali tidak singkat, Sunny-a. Jadi, jangan pernah meninggalkanku lagi.”

“Sooyoung…”

“Kami sudah berpisah, setelah anaknya lahir kami bercerai.” Sungmin mengerjap, “sudah kubilang bukan? Sooyoung butuh seseorang agar anaknya nanti tidak lahir tanpa ayah, aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku bukan ayah anak itu, kami menikah hanya untuk status saja. Bukankah kau bilang…” ucapan Sungmin terputus ketika Sunny menaruh telunjuknya di bibir Sungmin.

“Kau sudah pernah bilang.”

Sungmin tersenyum. Senyuman  itu membuat Sunny semakin sulit bernapas. Sungmin memegang wajah Sunny dengan kedua tangannya, dan menarik gadis itu perlahan mendekatinya. “Aku cinta padamu, percayalah Sunny-a.”

“Aku percaya… padamu, Oppa.”

Lalu Sungmin mencium bibir Sunny. Lembut dan hangat.

3 thoughts on “Love To Say Goodbye

  1. Pingback: LOVE BETWEEN « ☘Fanfiction Club Lovers☘

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s