More Than Yesterday


Author:: Gita Oetary as Goetary

Cast:: Lee Sungmin & Choi Sooyoung

Genre:: Sad Romance

Rating:: General

Lenght:: One Shoot

Disclaimer:: DON’T COPAS WITHOUT PERMISSION!! NO PLAGIATOR!!

Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

 

Because I can only look you, I’m sad

“Kupikir kau sudah meninggalkanku,” ujar Sungmin setelah keheningan yang terlalu lama lewat di hadapan mereka. “Saat kau tak datang waktu janjian kita kemarin. Kupikir kau benar-benar sudah melupakanku. Aku sangat kecewa.”

Sooyoung mengangkat kepalanya. Wajahnya di banjiri air mata, namun ia bisa dengan jelas melihat ekspresi kecewa di muka Sungmin.

“Aku sudah dengar tentang pernikahanmu dari Sunny.” Sungmin menghampiri Sooyoung dan memegang bahunya, meminta perhatiannya. “Aku tahu kau akan menikah. Tapi, aku tak ingin kamu menjadi milik laki-laki lain. Aku ingin kamu selalu bersamaku.”

Sooyoung menepis tangan Sungmin yang bertengger di pundaknya. Memaksa kakinya untuk berdiri dan meninggalkan pria itu disana. Mungkin pergi tanpa penjelasan akan lebih baik. Mungkin bahkan seharusnya ia tak usah datang kemari. Hanya akan menambah sakit di hatinya.

“Sooyoung, kau mau kemana?”

“Aku harus pergi. Aku tak seharusnya bersamamu.”

Sungmin segera meraih lengan Sooyoung, menarik gadis itu ke sampingnya. “Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba…”

“Aku akan menikah. Aku tak boleh bersamamu. Kau tahu itu.”

Sungmin melingkarkan lengannya di pinggang Sooyoung. Memaksa gadis itu untuk tetap tinggal dan berbisik lembut di telinganya, “kau mencintaiku kan? Aku tahu kau mencintaiku.”

“Kau salah, Oppa. Aku tak pernah mencintaimu.”

“Lalu mengapa kau menangis? Kalau kau tak mencintaiku mengapa kau datang padaku?”

“Aku tidak menangis. Dan aku tidak datang padamu. Aku hanya…”

“Jangan berdusta lagi, kau boleh mencintaiku.”

Sooyoung melepas pelukan Sungmin, berusaha melarikan diri dari belenggu yang di ciptakan nalurinya.

“Sooyoung, tunggu…”

Sungmin berusaha mengejarnya tapi tiba-tiba tubuh Sooyoung ambruk di hadapannya.

“Sooyoung!!”

***

Sungmin melangkahkan kakinya satu persatu dengan langkah-langkah berat. Saat memasuki kamar rawat bau cairan antiseptik langsung menyergap indra penciumannya.

Ruangan itu di dominasi warna putih yang jauh dari kesan hangat. Jendela besar menghiasi satu bagian dinding, hanya taman di bagian luarnya sajalah yang memberi sentuhan warna di dalam kamar tersebut.

Sooyoung tengah berbaring di atas ranjang besi bercat putih dengan selimut tebal membungkus sampai dadanya. Rambutnya yang hitam panjang tergerai di atas bantal, sementara wajahnya masih sepucat terakhir kali Sungmin melihatnya.

Menyadari kehadiran Sungmin, Sooyoung memutar kepalanya sambil berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin.

“Wajahmu terlihat seram,” candanya.

“Pernikahan itu. Semua bohong kan?”

Sooyoung diam, sesaat kemudian memandang mata Sungmin dengan tatapan berani. Ia menggeleng, “maafkan aku.”

“Jangan pergi. Aku cinta padamu.”

“Oppa…”

“Jika kamu memutuskan untuk tetap pergi, sebaiknya aku saja. Yang menghilang dari hadapanmu. Maafkan aku, Sooyoung. Tapi aku tak bisa melihatmu pergi begitu saja.”

Sooyoung diam saja. Menyaksikan punggung Sungmin yang perlahan menjauh kemudian menghilang di balik pintu yang tertutup. Hatinya perih, sakit teriris sembilu. Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya, meskipun bertahan untuk tidak menangis tetap saja ia akhirnya terisak.

I’m always standing in the shadows
Crying with my face shadowed
I can’t even ask you to turn around
So again I cry…

***

Rasanya, aku sudah di khianati olehnya. Wanita pertama yang pernah kucintai, menghianatiku. Hatiku, perih. Jiwaku hancur. Mungkin lebih baik jika aku meninggalkannya saja. Iya, itu pasti lebih bagus. Ujarnya dalam hati.

Sungmin kembali menenggak minuman beralkohol dalam genggamannya. Entah sudah gelas keberapa. Ketika kerasnya minuman itu tak mampu meredam sakit di hatinya ia langsung meneguk cairan tersebut dari botolnya.

Tapi air mata tak kunjung berhenti. Wajah Sooyoung kembali menghantuinya. Ia tak bisa melupakan wanita itu, bahkan sekejap.

Kenapa? Kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Bukankah kamu akan meninggalkanku juga pada akhirnya? Sooyoung, tolong. Kumohon bebaskan aku.

***

Dari ranjang rumah sakit, Sooyoung terkejut melihat sosok Sungmin yang tampak segar dan tampan dengan senyum menghias di wajahnya kini berada di ambang pintu kamar.

“Kenapa…?”

“Aku datang untuk memastikan kau baik-baik saja. Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Kenapa kau datang kemari, oppa?”

Sungmin meraih jemari Sooyoung dengan tangannya, menggenggamnya lembut. Ekspresinya murung saat menatap Sooyoung, namun ia tersenyum. “Aku cinta padamu, Sooyoung.”

“Tidak! Jangan! Sebaiknya kau mencari wanita lain saja. Jangan mencintaiku, oppa. Kau tak boleh mencintaiku.” bisik Sooyoung lirih.

“Aku ingin lebih mencintaimu, hari demi hari semakin cinta padamu,” bisik Sungmin sembari merapatkan genggaman tangannya. “Apakah begini kamu tidak bahagia?”

Sooyoung terharu. Ia bahagia. Mana mungkin tidak bahagia? Namun melihat wajah Sungmin yang terluka, meski ia berkali-kali memastikan bahwa ia baik-baik saja tetap membuat Sooyoung sakit hati. Ia tak menyangka bisa sejauh ini mencintai pria itu. Semua ini jauh dari bayangannya semula.

“Sooyoung, aku mencintaimu.” Tubuh Sooyoung jatuh dalam pelukan Sungmin. Tubuh pria itu hangat, menghangatkan hatinya yang beku. Air mata mengalir di wajahnya.

I don’t want to be behind you, I want to be beside you
So that’s why I’ll live

***

Sungmin mengajak Sooyoung bermain di taman. Memberi makan burung-burung merpati. Nampak begitu bahagia. Saat menyadari napas Sooyoung yang mulai tak beraturan dan mengajaknya duduk di salah satu bangku taman yang kosong.

“Aku beli minuman dulu yah?”

“Oppa…”

“Hmm?”
“Aku cinta padamu.”

“Aku tahu.” Sehabis berkata demikian dengan tersenyum Sungmin segera berjalan pergi. Mendekati kios minuman terdekat dan memesan coklat hangat untuk dua orang.

Sementara kondisi tubuh Sooyoung semakin memburuk. Wajahnya kian memucat. Bibirnya kian mengering. Dengan napas tersengal-sengal ia berbisik pada udara musim gugur yang menebarkan aroma kayu kering.

“Kalau aku pergi ke tempat Tuhan… Aku akan memohon padanya. Agar nanti kamu menemukan orang, yang akan selalu berada di sampingmu…”

Air mata mengalir dari sudut matanya yang memerah. “Sungmin oppa… aku cinta padamu…”

Even when I see you, I miss you
Even as were together, I’m lonely

Tommorow also, I’ll love you
More than yesterday, I’ll love you

“Sooyoung?”

Ketika Sungmin kembali Sooyoung tampak tidak bergerak. Tak ada lagi suara napasnya yang satu-satu. Matanya terpejam erat, bibirnya seputih kulit wajahnya.

Tubuh Sungmin membeku, sadar kalau Sooyoung-nya sudah pergi. Gelas yang berisi coklat hangat di kedua tangannya yang lemas terlepas dari genggamannya. Sungmin segera berhambur menghampiri tubuh Sooyoung yang terduduk kaku.

“Sooyoung? Kenapa? Kenapa secepat ini? Kumohon, bukalah matamu. Sekali saja. Sekali lagi, tolong buka matamu.”

Sungmin mengecup kening Sooyoung lama sekali, memeluk erat tubuh wanita itu. Membenamkan wajahnya yang dipenuhi air mata di lekuk leher Sooyoung.

Dan akhirnya ia berbisik pilu di samping telinga Sooyoung, berharap wanita itu masih bisa mendengarnya untuk yang terakhir kali.

“Sooyoung, aku cinta padamu. Selamanya…”

Even without being able to show what’s in my heart
Again today, I love you, Only love you…

-The End-

2 thoughts on “More Than Yesterday

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s