Still…


Tak pernah sekalipun terbersit di pikiranku, bahwa suatu hari kau akan menyuruhku pergi seperti ini, Oppa. Tak pernah sekalipun aku berani memikirkan bahwa nanti kau akan meninggalkanku. Merelakanku seperti ini.

Padahal dulu kau pernah janji tak akan meninggalkan diriku. Tak akan membuatku kesepian.

Aku, rindu dirimu yang dulu…

Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

June 2010,

Sungmi beranjak bangun dari duduknya. Menuju lemari pakaian. Ia membuka laci dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat usang dan mengelusnya sesaat. Air mata menitik di jemarinya, sesaat gerakan tangannya membeku saat merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya.

“Sungmi,” bisik lelaki itu.

Wanita itu memutar badannya, dan kembali memaksa dirinya untuk tersenyum. Enggan ia mengangguk, “tentu,” jawabnya.

“Mana barangmu?” tanya Jungso.

“Tak banyak yang harus kubawa, tunggu aku di mobil saja.”

Jungso hanya mengangguk dan berjalan keluar kamar. Setelah merasa lelaki tak akan berbalik, Sungmi kembali memandangi kotak di tangannya. Ia melepas cincin kawin yang masih melingkar anggun di jari manisnya. Ada sebersit rasa egois yang membuatnya ingin mempertahankan kedudukan benda yang mengikat dirinya dengan suaminya, tapi juga merasa bersalah jika terus memakainya. Karena sama saja dengan ia tak benar-benar menerima Jungso di hidupnya setelah ini.

Akhirnya Sungmi melepas cincin itu dan memasukkannya kedalam kotak yang sedari tadi di pegangnya. Ia sudah memutuskan untuk membawa kotak itu bersamanya. Setelah sekali lagi mengedar pandangannya di dalam rumah yang banyak memeberinya pahit dan manis Sungmi beranjak keluar. Masuk kedalam mobil yang akan membawanya ke rumah yang baru. Tempatnya memulai dari awal dengan Jungso.

“Lapar?” tanya Jungso saat mobil mereka keluar ke jalan raya. Sungmi menggeleng. “Apakah ada sesuatu yang kau perlukan, Sungmi?” Jungso bertanya lagi.

Sungmi memutar kepala memandangnya dan tersenyum, “aku baik-baik saja, hanya sudah tak sabar melihat rumah kita,” ujarnya.

Ia hampir tercekat tadi saat berbohong, tapi ia ingin Jungso juga bahagia tanpa harus selalu memikirkan perasaannya.

***

Mereka sampai dirumah minimalis milik Jungso yang ia beli dari penghasilannya sebagai penyanyi. Rumah itu tak terlalu besar dari luar tapi terlihat asri dengan tamannya yang rimbun, dan sesekali terdengar gemercik air dari kolam ikan di sudut taman. Sungmi sangat menyukainya, ternyata selain menjadi romantis Jungso juga suka dengan hal-hal natural seperti ini.

Jungso membimbing Sungmi masuk kedalam rumah, melewati sebuah ruangan berkisi-kisi yang fungsi utamanya hampir menyerupai teras, jadi tamu-tamu yang datang akan melewati ruangan itu dulu sebelum akhirnya di persilahkan masuk ke ruang tamu.

Awalnya Sungmi mengira Jungso akan membawanya melewati ruang tamu dulu, tapi ternyata dari ruangan penghubung tadi mereka langsung di hubungkan dengan koridor kamar tidur. Jantung Sungmi berdegup kencang saat Jungso menggenggam jemarinya melewati koridor panjang.

“Kuharap kau bisa betah disini,” ujar Jungso. Sungmi hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan senyum tipis.

Jungso mempersilahkan Sungmi masuk ke dalam sebuah kamar yang indah. Di depan kamar ia disuguhkan oleh kolam renang yang biru, dan bunga-bunga cantik mengelilingi kolam tersebut. Sehabis hujan tadi kaca besar di sisi kolam kamarnya nampak berembun, yang membuat kamar itu lebih cantik dan nyaman.

“Kamarku di sebelah,” kata Jungso.

Sungmi terkejut dan langsung bertanya, “kau tidak tinggal disini?” Saat Jungso tertawa singkat Sungmi baru sadar kalau kata-katanya barusan sama sekali tidak pantas. Ia pun meringis meminta maaf.

“Tak apa,” ucap Jungso menenangkan. “Kalau kau perlu apa-apa ketuk saja pintuku.”

Sungmi tersenyum membalas ucapan Jungso. Dan pintu kamarnya tertutup di belakang. Sesaat Sungmi termenung, aneh rasanya berada dikamar ini. Aroma yang di keluarkan tak sama dengan yang biasa ia cium di kamarnya sendiri. Lagipula, tak ada aroma khas suaminya lagi.

Wanita itu menggeleng kuat, ia menepuk pipinya agar tak kembali terisap oleh kenangan menyakitkan yang tak seharusnya di ingat lagi. Sungmi merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Matanya langsung terpejam kemudian.

_______

“Jungso Oppa melamarku,” ujar Sungmi.

Lelaki di hadapannya, yang tidak menjawab, tidak juga mengatakan apapun memandang wajah Sungmi dengan ekspresi terluka. Desakan di dalam dirinya bisa saja membuat Sungmi terkurung disini bersamanya selamanya. Tapi, ia ingin Sungmi bahagia. Jadi ia berkata, “itu bagus.”

“Oh…” Sungmi hampir menangis.

“Kuharap kau bahagia bersamanya.”

Air mata mengalir di pipi Sungmi, bibirnya gemetar. “Mengapa kau harus sejahat ini padaku?”

Kangta tak memutar badannya. Ia tetap membelakangi Sungmi. “Aku memang jahat, kau seharusnya tahu itu dari awal.”

“Tapi aku ini istrimu!” erang Sungmi. “Aku ini istrimu, Oppa. Aku istrimu.” Sungmi terisak. Ia ingin Kangta melihatnya. Ia ingin Kangta memarahinya karena ada lelaki lain yang melamarnya. Ia ingin Kangta tertawa keras-keras dan mengatainya bodoh. Ia ingin Kangta kembali seperti dulu. Kembali menjadi suaminya.

“Kita bisa bercerai,” ujar Kangta dingin. “Kalau kau mau menikahi lelaki lain, aku tak akan keberatan.”

Sungmi memandang nanar punggung Kangta. Suaminya sudah berubah. Ia bukan lagi Kangta yang ia kenal. Ia bukan lagi Kangta yang mencintainya. Tapi dihatinya, ia masih Kangta suaminya, semua ini tak akan berubah. Karena walau lelaki itu sudah berubah, ia masih akan mencintainya.

Sementara Sungmi masih terisak, ia bisa melihat bayangan suaminya yang berjalan menjauhinya.

“Aku ini istrimu.”                       

_______

Sungmi terenyak kaget di kasurnya yang empuk. Ia menyeka air mata dan mulai sadar kalau tadi ia hanya sedang bermimpi. Walau ia masih sakit hati karenanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Sungmi berdiri dan membukakan pintu. “Sudah waktunya makan malam,” ucap Jungso.

“Oh, maaf aku tadi ketiduran.”

“Tak apa, mandilah dulu nanti kujemput lagi. Tadi aku lupa menunjukkan ruang makan kepadamu.”

Sungmi menggeleng, “tak apa kok. Aku akan mandi dengan cepat,” kata Sungmi berusaha ceria.

***

Akhir-akhir ini, entah mengapa ia lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Dengan kehadiran orang-orang di sisinya hanya akan menambah sesak didada. Kadang, saat ia berada di kantornya, ia akan memandangi foto istrinya. Dan kembali meratapi keadaan. Karena bagaimanapun juga, ia masih mencintai Sungmi. Tak pernah berkurang sedikit pun.

Tapi baginya, kehadiran Park Jungso adalah sesuatu yang entah bagaimana harus di syukuri pula. Karena dengan begitu, ia tak akan pernah merasa khawatir jika harus meninggalkan Sungmin sendirian.

“Aku ini istrimu, Oppa!”

Adakalanya ia mendengar suara Sungmi disekitarnya. Entah itu hanya halusinasinya semata atau bagaimana. Tapi suara Sungmi yang terdengar memelas, air mata Sungmi yang menyimpan kepedihan, semuanya.

Semuanya selalu bisa menariknya dalam pusaran rasa bersalah.

Kangta menutup matanya. Berusaha mengistirahatkan pikiran. Kondisi tubuhnya memburuk dari hari kehari. Ia takut tak diizinkan bekerja lagi dan harus mendekam lama di dalam rumah yang sepi. Sebenarnya, ia takut sendirian. Ia paling takut hidup tanpa Sungmi. Tapi akan lebih baik dari pada menyusahkan orang lain.

Lelaki itu membuka laci meja kerjanya, dan mengambil kantung plastik berisi macam-macam obat yang fungsi sebenarnya hanya untuk meredakan sakit yang ia derita karena kanker otak, bukan untuk menyembuhkannya. Dalam sekali teguk Kangta menghabiskan obat-obatan tersebut. Dan kembali memejamkan mata.

***

August 2010,

Ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi wanita manapun karena akan menikahi Jungso, pria yang mungkin diidamkan semua orang. Tapi tidak untuk Sungmi. Setelah semalam suntuk ia menangis, sekarang ia tampak kacau di balik gaun pengantinnya.

Tadi Jungso sempat mengecek penampilannya, tapi mungkin karena ia sedang jatuh cinta jadi ia tak terlalu memerhatikan penampilan calon istrinya. Dan malah memuji kecantikan alami Sungmi.

Wanita itu kembali melihat wajah sendunya setelah ia selesai di dandani dan berlatih tersenyum. Disaat bersamaan pintu kamarnya terbuka. Mata Sungmi membelalak ketika mengenali siapa orang itu.

“Yob…” Sungmi menghentikan kata-katanya dan meralatnya, “Oppa?” ujarnya kaget.

“Lama tak bertemu denganmu,” Kangta tersenyum. “Kau terlihat menakjubkan dan cantik seperti biasa.”

Sungmi tak berniat membalas pujian Kangta. Matanya terus-terusan terpusat pada wajah Kangta yang tirus. “Kau terlihat kurus, Oppa,” ucap Sungmi. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Kangta tersenyum tanpa membalas pertanyaan tersebut. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Apa kau bahagia?”

Pertanyaan itu membuat keduanya sama-sama terenyak. Itu bukanlah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh orang yang belum resmi bercerai.

*

Sungmi ragu-ragu sejenak. Napasnya tercekat saat menyaksikan banyaknya rekan yang menghadiri upacara pernikahannya. Dan hampir semua dari mereka pernah menghadiri pernikahannya yang pertama.

Ini sedikit memalukan baginya.

Tapi paling banyak ia sudah terluka. Dan mungkin tak akan ada rasa malu lagi yang tersisa didirinya.

Jungso tersenyum kepadanya ketika tatapan mereka beradu.

*

Ujung gaun panjang berwarna putih gading dengan gradasi abu-abu itu menggesek karpet yang akan membawanya ke altar. Sungmi nampak begitu cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Bibirnya yang berwarna pink lembut tersungging dalam setiap langkahnya. Ditangannya ia membawa buket bunga lili putih.

Jungso menyodorkan tangannya, Sungmi lalu menyambutnya. Sesaat Jungso meremasnya lembut, mengisyaratkan betapa ia bahagia.

Seorang pendeta membimbing mereka untuk mengikuti kata-katanya. Sungmi ragu. Hatinya tak karuan. Ia masih mencintai suaminya. Ia masih sangat mencintai Kangta. Selama ini Jungso sudah begitu baik kepadanya, ia tahu itu. Tapi dengan menerimanya sebagai suami, bukankah sama saja akan menyakitinya?

Karena Sungmi tak pernah mencintainya.

Tiba-tiba air mata menitik. Jungso terkejut melihat Sungmi memandangnya dengan tatapan memelas. “Sungmi…”

“Oppa.” Bibir Sungmi gemetar. “Oppa,” lirihnya lagi. “Maafkan aku…”

Kini Sungmi terisak. Ia menatap Jungso yang terluka. Tak ada apapun yang bisa menyembuhkan hatinya, ataupun hati Jungso. Saat ini, berdiri di altar bersama lelaki itu mungkin adalah keputusan terburuk yang pernah di buatnya.

“Pergilah,” bisik Jungso. Sungmi terkejut di buatnya. “Pergilah Sungmi, sebelum aku berubah pikiran.”

Sungmi menggigit bibir bawahnya.

“Aku serius. Pergilah…”

Ia hanya bisa mengingat bahwa kepalanya mengangguk berkali-kali sebelum ia berlari meninggalkan Jungso. Meninggalkan semua orang yang menghadiri pernikahannya. Sungmi terus berlari, mencari sosok Kangta yang tak kelihatan lagi.

“Oppa!” panggil Sungmi saat melihat punggung suaminya berjalan menjauhinya. “Oppa… Oppa…”

Kangta memutar badannya. Menyaksikan Sungmi yang berlari mendekatinya. Tiba-tiba ia membeku di tempatnya.

“Aku cinta padamu, Oppa.” Ujar Sungmin.

Kangta hanya bisa menatapnya dalam diam. Ia tak suka melihat Sungmi menangis. Kepalanya tiba-tiba kosong dan Kangta lalu jatuh pingsan.

-flash back-

Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini. Melihat istrimu berjalan menuju altar dan menggenggam tangan lelaki lain. Tanpa sadar air mata mengalir di pipi Kangta yang tirus. Ia sedih menyaksikan kenyataan yang terpampang di depannya, tapi di sisi lain hatinya cukup bahagia untuk membuatnya tersenyum.

Kepalanya kembali berdenyut. Kangta ingin bisa tinggal disana, sedikit lama menyimpan ekspresi wajah Sungmi untuk yang terakhir kali. Tapi ia yakin ia sudah tidak akan sanggup bertahan. Ia yakin ia akan segera menemui ajalnya. Karena selama ini Tuhan sudah begitu baik kepadanya. Jadi, ia harus kembali ke sisi-Nya.

Jadi Kangta memutar badannya, beranjak dari sana. Pergi meninggalkan istri yang ia cintai untuk hidup bersama lelaki lain.

“Aku tak berharap banyak kepadamu Tuhan. Aku hanya berharap supaya lelaki itu bisa membuat Sungmi-ku yang cantik tersenyum seperti yang dulu kulakukan. Aku berharap ia melakukan hal-hal yang dulu suka kami lakukan. Semoga lelaki itu bisa menyalakan semangat yang sudah lama terkubur dalam diri Sungmi. Di atas semua itu, kuharap Sungmi-ku yang baik hati bisa berbahagia seperti dulu sebelum ia bertemu denganku.”

-end of flash back-

Sungmi sudah pingsan berkali-kali. Kesedihan dihatinya sudah tak bisa lagi diobati. Ia menangis tersedu-sedu, menyaksikan kekasihnya pergi untuk selamanya. Rasanya seperti sudah berabad-abad ia tak melihat wajah Kangta yang tersenyum. Karena setahun terakhir ini, Kangta selalu nampak murung dan bersedih. Dan ia tak pernah tahu alasannya.

Paru-paru Sungmi seakan tak berfungsi hingga udara yang masuk terasa semakin menyakitkan hingga ke pusat saraf tubuhnya. Berkali-kali Sungmi memukul dadanya yang terasa sesak. Tapi ia hanya bisa merasakan sakit dan perih itu sendiri.

Sungmi menyentuh wajah pucat Kangta dengan emosional. Kilasan memori seakan membawanya ke dunia mimpi yang ia inginkan. Tapi tak pernah mampu membuatnya menyentuh raga Kangta tanpa menangis.

Wajah damai Kangta di atas ranjang kaku rumah sakit itu seakan meyakinkan Sungmi kalau segala penyesalan tak akan ada gunanya hari ini. Meskipun ia berkali-kali berkata kalau tak seharusnya meninggalkan Kangta sendirian. Walaupun ia berkali-kali menyalahkan diri sendiri. Kangta tak akan pernah kembali.

Ia mengecup wajah Kangta. Dalam diam berbaring di atas ranjang di samping Kangta. Sungmi mendekapnya penuh perasaan, ingin menunjukkan pada jasad suaminya itu kalau betapa ia mencintainya.

Perlahan ia kembali terisak, tapi kini tanpa suara.

Ia tahu Kangta tak akan tenang jika ia harus menangis. Jadi Sungmi mendekap mulutnya. Lalu menyandarkan kepala di bahu Kangta yang bidang.

“Aku cinta padamu, yobo. Aku sangat mencintaimu.”

“Apa kau bahagia?” tanya Kangta waktu itu saat ia masuk kedalam kamar Sungmi tepat sebelum ia harus naik ke pelaminan bersama lelaki lain.

“Aku tidak akan bahagia tanpamu, Oppa,” ujar Sungmi kala itu. Ia memang tak akan pernah sebahagia setelah bersama Kangta. Tak sedikitpun.

Baginya, Kangta adalah segalanya.

Baginya, Kangta adalah suaminya untuk selamanya.

Baginya, hanya Kangta seorang.

“Aku yakin Jungso bisa membuatmu bahagia, Sungmi. Aku percaya padanya.”

Tapi mereka tak pernah tahu saat itu. Kalau sebenarnya, di hati mereka masing-masing tak ada lagi ruang yang tersisa untuk dimasuki orang lain.

Tak ada yang tahu sampai hari ini.

Mengapa hal-hal baik selalu saja berlalu dengan cepat? Dosa apa yang pernah kita perbuat dulu Oppa? Jika ini adalah hukuman.

Aku tak mengerti mengapa kita harus berakhir seperti ini. Tapi kenyataannya ada sesuatu yang kau sembunyikan rapat-rapat dariku. Padahal kukira aku tahu semuanya.

Aku sungguh naif.

Tapi ternyata kau tahu semuanya kan? Itu sebabnya kau menunggu dengan sabar. Tanpa amarah menyuruhku pergi. Tanpa emosi kau menatap mataku.

Sekarang kau sudah pergi.

Sementara aku masih disini.

Disana, apakah kau bahagia?

Disana, masih bisakah kau mengingatku?

Oppa…

Aku masih rindu padamu.

The End

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s