Before You Go


Walau cinta tak harus memiliki.

Walau bahagia tak harus bersamanya.

Ia akan hidup dengan baik.

Meski mungkin terkadang memori lama kembali teringat.

Ia akan baik-baik saja…

®Standar Disclaimer Applied

Copyright & CrossPosting ©Goetary

***

Harusnya mencintai orang lain saat kau masih bersamaku adalah dosa. Dan aku tak suka melihatmu berdosa karenanya. Tapi ketika melihatmu terluka karena mencintaiku, aku tak rela Yunnie. Karena aku tak ingin melihatmu terluka. Aku tak ingin membuat orang yang paling kucintai menderita.

Pada akhirnya meski menanggung luka itu sendirian, aku tetap harus mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Dan berharap setulus hati agar kau bahagia bersamanya.

***

Jejung duduk menerawang di bangku taman. Hari itu langit mulai mendung, jadi para keluarga yang mengajak anak-anaknya bermain berangsur pulang. Sampai Jejung sendirian, ia tetap tak menyadarinya.

“Aku tak ingin menyakitimu, Jungie,” lirih suara itu. “Tapi aku cinta padanya…”

Tiba-tiba matanya berair. Tersenyum miris Jejung mengerjap. Ia memandang keatas langit yang gelap. “Bahkan kalian tahu hatiku sekarang,” ujarnya.

Tetes demi tetes air mulai berjatuhan dari langit. Jejung menjulurkan tangannya dan setitik air membasahinya yang disusul tetesan seterusnya.

“Kalau kau tak ingin aku pergi maka aku tak akan pergi, Jae. Tapi aku tak bisa terus-terusan hidup dalam kebohongan seperti ini.”

Mengapa ingatan yang menyakitkan selalu datang bertubi-tubi. Ia datang kemari agar bisa jauh dari rumah, artinya jauh dari bayangan Yunho. Tapi otaknya terus-terusan memutar memori itu.

“Karena aku mencintainya, Jungie.”

“Kau tak mencintaiku?”

“Aku pernah mencintaimu…”

“Tapi tidak lagi sejak ia datang kan?” potong Jejung tak sabaran. Saat itu ia hanya bisa melihat Yunho mengangguk. Dan hatinya kembali tercabik sementara ia berusaha untuk berkata, “lalu bagaimana denganku?”

Tubuhnya basah kuyup sekarang. Jejung menyeka wajahnya untuk mengusir cairan hangat yang berasal dari matanya. Ia bahkan tak sanggup menjerit. Perih dihatinya mendekam terlalu dalam sampai-sampai tak menjumpai jalan keluar.

“Bagaimana denganku Yunho? Aku juga mencintaimu.”

Yunho diam lagi. Dan hati Jejung teriris lagi. Ia tak suka melihat Yunho membisu. Sebersit pikiran hampir membuatnya merelakan Jejung, tapi disaat bersamaan ia juga bertanya-tanya akan nasibnya kelak. Bagaimana dengannya? Selama ini ia tak pernah hidup tanpa Jejung. Kalau lelaki itu pergi, bagaimana dengannya?

“Mengapa aku tak bisa mencintaimu, Yunnie?” lirih Jejung sementara dirinya masih tak beranjak dari bangku taman. Padahal hujan  tidak mereda sedikitpun. Nampaknya Jejung justru menyukainya, dengan begitu tidak akan ada yang melihatnya menangis. “Mengapa kau tak mencintaiku?”

“Jungie?” panggil seseorang.

Jejung mengangkat kepalanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Saat ini Yunho berdiri di hadapannya memakai payung berwarna merah. Sambil tersenyum. Yang entah mengapa senyumannya membuat Jejung lega.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yunho lagi.

“Bukan urusanmu!” ketus Jungie.

Yunho diam sesaat. Dan kembali memandang Jejung, lelaki yang dulu sangat ia cintai. “Kau bisa sakit disini terus Jae, biar kuantar pulang. Aku bawa mobil.”

Mendengar tawaran itu Jejung malah menatap wajah Yunho dengan ekspresi tak suka bercampur terluka.

“Kau masih marah padaku?”

“Bagaimana denganku? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?”

Yunho tersenyum samar di bawah payungnya. “Baiklah Jae, kurasa sebaiknya aku pergi saja.” Lalu Yunho memutar badan dan berjalan pelan sementara air mata yang tadi ia sembunyikan perlahan mengalir jatuh saat bibirnya berhenti tersenyum.

“Aku tak ingin menyakitimu. Tapi aku mencintainya…”

Tiba-tiba tubuhnya membeku saat Jejung berlari memeluknya dari belakang. Untuk sesaat mereka saling diam.

“Selama ini, maafkan aku karena tidak sekalipun mencoba mengerti bagaimana perasaanmu Yunnie. Maaf karena selalu sibuk dengan urusanku sendiri. Aku tak ingin melepaskanmu. Tak pernah ingin membiarkanmu pergi.”

Jejung melepas pelukannya dan memegang pundak Yunho. “Tapi aku ingin kau juga bahagia. Karena aku cinta padamu. Jadi aku ingin melihatmu bahagia juga. Kurasa saat ini aku sudah mulai dewasa kan?” tanya Jejung. Yunho diam tak menjawab.

Jejung menarik napas dalam. Menepuk pundak Yunho berat. “Selamat tinggal.” Ucapnya seraya berjalan mundur. Yunho menarik lengannya.

“Kau akan baik-baik saja kan Jae?” tanyanya.

Jejung menggeleng. Dan wajah Yunho meredup. “Aku tak akan baik-baik saja tanpamu. Tapi aku akan belajar untuk hidup sebaik mungkin.”

Ia tersenyum untuk yang terakhir kalinya lalu segera memutar badan. Mengambil arah yang berbeda dengan Yunho. Arah yang akan ia tuju untuk selamanya.

Kalau cinta tak harus memiliki. Kalau bahagia tak harus bersamanya. Jejung ingin bisa hidup dengan baik setelahnya. Meskipun mungkin terkadang ia akan kembali ingat hal-hal yang sudah lalu.

Mungkin juga selama beberapa waktu yang akan berjalan kedepan Jejung akan sulit melupakan Yunho dan rasa sakit hatinya. Tapi dengan mengingat senyum Yunho hari ini, ia akan selalu yakin kalau Yunho baik-baik saja. Ia berharap Yunho selalu bahagia.

Saat Jejung melangkah pergi melewati tirai hujan seseorang meraih pundak Yunho dan tersenyum lembut kepadanya. Sementara Yunho balas tersenyum mereka memutar badan dan berjalan berpegangan tangan.

“Kau baik-baik saja Oppa?”

Yunho mengangguk. “Kita akan baik-baik saja, Yoon,” katanya seraya tersenyum. Sementara Yoonhae hanya bisa tersenyum, merasa bahagia dengan keberadaan Yunho disisinya.

Sekali untuk terakhir kalinya Yunho menatap kebelakang. Sosok Jejung sudah semakin menjauh saat itu. Tapi sepertinya langkahnya tak lagi tertatih. Jadi Yunho yakin kalau Jejung baik-baik saja.

“Aku sudah mengingkari janjiku kepadamu, Jungie. Maaf tak bisa mencintaimu untuk selamanya. Terima kasih… untuk segala hal yang pernah kau lakukan untukku. Dan, terima kasih karena sudah mencintaiku. Semoga kau bahagia suatu hari nanti…”

 

***

“Hyung, ada apa?” tanya Junsu khawatir melihat tubuh Jejung yang basah kuyup saat ia pulang kerumah.

Jejung berjalan melewati Junsu sambil membisu. Bercak sisa air mata yang kering membuat wajahnya kaku. Mata Jejung masih merah akibat menangis.

“Hyung…” panggil Junsu lagi untuk meminta penjelasan.

Jejung memutar badannya. Menatap sesaat mata Junsu. Dan kembali berkaca-kaca.

“Hyung? Kenapa? Jangan menangis, Hyung.”

“Dia tak lagi mencintaiku, Junsu. Tak ada gunanya,” bisik Jejung pilu. Jejung menarik ujung bibirnya untuk tersenyum, tapi air matanya menitik lagi. “Tak ada gunanya. Padahal ia berjanji. Untuk selamanya. Junsu, dia sudah berjanji untuk selamanya. Tapi ingkar. Dia pembohong. Dia penghianat. Penipu!”

Junsu meraih Jejung kedalam pelukannya.

“Apa salahku, Jungie?”

“Tak ada Hyung. Kau tak salah.”

“Tapi Yunho tidak lagi mencintaiku.”

Jejung berangsur-angsur tenang. Tapi masih meringkuk di dalam pelukan Junsu. “Junsu…” bisiknya.

“Hmm?”

“Aku tak akan menunggunya lagi,” Jejung setengah berbisik. Saat berkata demikian setitik air mata jatuh di pipinya. Bibirnya bergetar. “Karena tak ada gunanya lagi…”

“Baiklah, Hyung. Jangan menunggunya lagi. Jangan ditunggu lagi.”

Jejung mengangguk singkat. “Hatiku sakit, Junsu… sakit sekali. Kau tak tahu rasanya.”

Junsu berbisik lirih, “aku tahu, Hyung.”

 

-The End-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s