[KaiMin] Painfully Loving You


 

Painfully Loving You

Author: Gita Oetary as Goetary

Genre: Yaoi [Men to Men]

Length: One Shoot

Cast: Shinee Lee Taemin, EXO K  Kim Jong In [Kai]

WARNING!! Don’t copas! Don’t Plagiator! Don’t Bashing! Don’t Read If You Irritate!

This fanfic is purely Mine!

®Standar Disclaimer Applied

Copyright & CrossPosting ©Goetary

RCL please!!

Taemin Kai KaiMin MinKai JongMin

Walau hanya berteman, wajah mereka terlihat mirip.

Banyak orang mengira mereka bersaudara.

Selain itu mereka juga saling menyukai.

Lalu apa yang salah dengan hal itu?

Yang salah karena mereka sama-sama seorang pria.

Sesama pria tak seharusnya saling mencintai.

Suka itu wajar, kau bisa menyukai orang-orang yang baik kepadamu.

Tapi kalau hatimu sakit ketika jauh darinya dan bergetar saat bersamanya…

Itu adalah cinta.

::Kalau kita tak boleh bersama, biarkan aku tetap mencintaimu::

___________________Goetary Present___________________

Hari ini akan segera berakhir. Jam yang melingkar di tangannya menunjukkan lewat dari sebelas malam. Kai seharusnya segera kembali ke dorm setelah tampil di salah satu acara musik bersama teman satu timnya. Tapi ia malah memutuskan untuk berjalan menyusuri kota Seoul pada malam hari.

Disana orang-orang sepertinya hampir tidak pernah tidur. Mall-mall selalu lebih ramai pada malam hari, dan banyak pedagang kaki lima di jalan-jalan. Kai menuju salah satu tempat yang menjual aksesoris buatan tangan, melihat-lihat disana.

Si pedagang menawarinya sebuah gelang tapi Kai menolaknya. Saat itu matanya tertuju pada sepasang anting-anting berwarna hitam, polos memang, hanya berbentuk bulat pipih tanpa hiasan apapun. Tapi ia memutuskan untuk membelinya.

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, Kai segera membuka pesan tersebut yang membuat senyum diwajahnya langsung merekah. Ia berlari secepat mungkin menuju taman tempat seseorang sedang menunggunya.

Di hadapannya seorang lelaki berwajah tampan tersenyum kepadanya. Kai menghentikan larinya saat ia berada tepat di depan Taemin yang terkekeh melihatnya.

“Kenapa lari-lari sih? Lihat bajumu basah semua!” Taemin mengambil sapu tangan miliknya dan menyeka keringat di wajah lelaki itu.

Kai menelan ludah saat merasakan nafas Taemin menyapu permukaan wajahnya, membuat hatinya berdesir. Taemin tersenyum lagi lalu merapikan rambut Kai.

“Sudah selesai, lovely Kai sudah tampan kembali,” ujarnya seraya tertawa malu-malu.

“Kita mau kemana?” tanya Kai tak menggubris godaan Taemin barusan. Lelaki itu yang setahun lebih tua darinya memang selalu seperti ini. Sering membuat hatinya berdesir dan setelah itu berlagak tidak terjadi apa-apa. Jadi daripada memasukannya dalam hati Kai selalu lebih memilih untuk tidak meresponnya.

“Aku lapar,” rengek Taemin.

“Memangnya tidak dikasih makan sama Key Hyung?”

Taemin nampak pura-pura merajuk, “aku sengaja tidak makan tadi karena ingin makan bersamamu.”

Kai lagi-lagi hanya bisa mendengus dan tersenyum melihat tingkah Taemin yang entah mengapa selalu lebih kekanak-kanakan dibanding dirinya. Mereka lalu menuju salah satu kios terdekat untuk mengisi perut Taemin.

“Kau terlihat lain malam ini,” kata Taemin tiba-tiba. “Apa terjadi sesuatu?”

Kai menggeleng. “Apanya yang lain?”

Taemin terlihat berpikir sejenak, “kau pendiam. Biasanya berisik sekali.” Taemin memasukkan sesuap makanan di mulutnya, sementara Kai yang tidak menjawab pertanyaan lelaki itu meneguk arak milik Taemin.

“Ya! Kau belum boleh minum ini!”

“Kenapa kau boleh?”

“Karena aku 19 tahun.”

“Aku 18 tahun beberapa bulan lagi.”

Taemin cemberut lagi.

“Kenapa kau selalu bisa melakukan apa saja dan aku tidak?” tanya Kai tiba-tiba serius. Taemin menatapnya tidak mengerti. “Kenapa hanya aku yang tidak boleh melakukan apa yang kuinginkan?”

“Baru segelas saja kau sudah mabuk? Dasar!”

Kai menatap Taemin lekat-lekat. “Katakan padaku, Taemina… apa yang seharusnya kulakukan dengan hidupku? Aku merasa menjadi seorang penyanyi adalah sebuah kesalahan. Sebesar apapun aku mencintai tarian bukan berarti harus tetap ada disini kan?”

“Kamu ngomong apa sih Kai?”

“Aku bicara tentang perasaanku.”

“Perasaan? Perasaan terhadap apa?” tanya Taemin benar-benar tak mengerti.

“Kau tak akan pernah mengerti.” Kai mengisi gelasnya yang kosong dan meneguk minuman keras tersebut dalam sekali tegukan. “Orang sepertimu tak bisa mengerti.”

Taemin diam tak merespon. Bertanya pun tetap tak akan memberinya jawaban.

“Aku bertahan karena disana ada kamu Taemin. Tapi sekarang aku ingin pergi karena kamu juga. Aku ini bodoh yah?” mata Kai berkaca-kaca.

“Kai… apa yang sebenarnya terjadi?”

“Hatiku sakit. Sakit sekali.”

“Dimana?” tanya Taemin. Ia mengulur tangan untuk menyentuh dada Kai tapi ditepis lelaki itu.

“SUDAH KUBILANG ORANG SEPERTIMU TIDAK AKAN PERNAH TAHU!!” tiba-tiba Kai nampak kehilangan kendali. Ia membentak Taemin yang tidak tahu apa-apa dengan suara keras. Hal tersebut membuat Taemin sakit hati sekaligus malu karena tiba-tiba tatapan mata dari orang-orang tertuju kepadanya.

Saat itu juga Taemin berlari meninggalkan Kai sendirian. Ia tak mengerti kenapa Kai tiba-tiba aneh seperti ini. Tapi kakinya menuntunnya untuk segera pergi sejauh mungkin. Dibelakang Kai mengejarnya.

Kai menarik pergelangan tangan Taemin secepat kilat. Membuat tubuh Taemin sempat oleng sebelum akhirnya ia tak bisa melakukan apa-apa selain terpaku. Kai juga nampak sangat terkejut, sepertinya bukan hal ini yang tadi ia rencanakan.

Tapi ketika ia bisa merasakan bibir Taemin yang lembut di atas bibirnya, Kai tanpa sadar memejamkan mata. Menikmati sensasi yang menyergap hatinya. Rasanya seperti ada ratusan arus listrik yang berjalan mendekat, melewati ujung kaki hingga ke ujung kepala lalu berdiam diri di dalam dadanya.

Ketika kesadarannya pulih, Taemin segera mendorong Kai dengan kuat. Matanya berkilat marah. Kai memandang Taemin dengan perasaan campur aduk. Saat ia menyaksikan Taemin menyeka bibirnya dengan punggung tangannya tiba-tiba saja sengatan listrik di dadanya tadi berubah menjadi sembilu tajam yang menyayat-nyayat hatinya.

Kai tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Air muka Taemin yang penuh rasa jijik tidak hanya membuat jiwanya terluka tapi juga melumpuhkan sarafnya.

***

Kai menyesali perbuatannya malam itu. Tiap kali memikirkannya, rasa sakit yang ia rasakan waktu itu kembali lagi seperti mimpi buruk. Sudah berhari-hari sejak kejadian tersebut, Taemin tidak menegurnya bahkan cenderung menghindar.

Kai ingin meminta maaf tapi tak pernah punya kesempatan untuk melakukannya. Yang lebih menyakitkan karena pada kenyataannya ia sangat merindukan Taemin. Hari-hari berlalu tanpa melihat senyum Taemin untuknya dan itu memilukan.

Keringat membasahi tubuhnya. Ia hanya menyempatkan sesekali menyeka keringat di wajahnya sebelum kembali berlatih.

Taemin memerhatikan tingkah laku Kai dari kejauhan. Lelaki muda itu sangat serius kalau menyangkut hal-hal yang disukainya. Kai mengenakan singlet oblong berwarna putih dengan sablon tulisan di bagian depannya. Tubuhnya yang berotot terlihat begitu lunak ketika ia memutarnya dan bergerak dalam bentuk tarian yang indah.

Taemin tersenyum. Ia ingin sekali mendekati Kai seperti yang biasa ia lakukan kalau lelaki itu sedang latihan. Tapi sekarang hatinya belum begitu siap menerima reaksi Kai. Bagaimanapun juga ia telah melukai hatinya.

Akhirnya Taemin memutuskan untuk pulang kerumah. Ia berdiri dan mengambil tas punggungnya sebelum sekali lagi melirik kearah ruang latihan tempat Kai berada. Lelaki itu masih larut dalam gerakan tarinya. Taemin mengangkat bahu tak acuh dan berjalan menjauh.

“Taemina!” tiba-tiba seseorang memanggilnya. Mau tak mau ia memutar badan. Kai terengah-engah menghampirinya.

“Kai…”

Lelaki itu berjalan mendekat masih sambil berusaha mengatur napasnya. “Mau pulang?” tanyanya. Taemin mengangguk. “Kuantar yah?”

Taemin menggeleng sambil terkikik geli, “tak perlu, aku bisa sendiri.” Kai meraih pergelangan Taemin dan lelaki itu nampak terkejut. “Lepaskan Kai.”

“Apa salahku?” tanya Kai tanpa melepas pengangan tangannya. “Kalau kau marah padaku, seharusnya kau memukulku atau meneriakiku atau apapun. Tapi tolong jangan menghindariku, Tae…”

Taemin membuang muka dan sekali lagi berusaha melepaskan tangannya dari Kai yang langsung melepasnya kali ini. Taemin diam saja sementara Kai masih memandangnya dengan penuh tanda tanya.

“Taemina…”

“Jangan menyentuhku!” erang Taemin tiba-tiba. Ia tahu Kai pasti akan menyentuhnya lagi. Dan ia tak suka dengan hal itu.

Sementara itu Kai lagi-lagi memandangnya dengan tatapan terluka. Air mukanya berubah sendu dan air mata tergenang di pelupuk matanya. Bibir Kai yang kering bergetar pilu. Hatinya sakit. Ini penolakan Taemin setelah ia tanpa sengaja menciumnya. Ini penolakan Taemin yang paling melukainya.

Ia seharusnya pergi dari situ. Membiarkan Taemin meninggalkannya tanpa perlu ia saksikan. Tapi kembali kakinya tak dapat bergerak. Taemin selalu sukses membuat indranya lumpuh seperti sekarang.

Taemin tiba-tiba menarik tangan Kai dan membawanya keruang ganti. Kai yang tak mengerti apa-apa hanya bisa mengikutinya dibelakang. Di dalam ruangan tersebut Taemin menyandarkan tubuh Kai ke tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kai.

Ciuman itu lama dan hangat. Kai terlalu takut menggerakkan bibirnya, ia tak ingin Taemin menyudahi ciuman mereka.

Taemin perlahan meraih pinggang Kai dan melingkarkan lengannya di sana sementara bibirnya yang biasanya tersenyum manis kini mulai bergerak-gerak. Taemin melumat bibir Kai dengan gerakan lambat. Kai mulai bisa mengiringi gerakan yang dibuat Taemin. Ia juga melingkarkan tangannya di sekitar leher lelaki itu.

Mereka memejamkan mata, melumat bibir masing-masing dengan gerakan mengundang. Lama sekali waktu berlalu, seakan berjalan tertatih-tatih untuk membiarkan mereka menyudahi permainan ini.

Tak lama kemudian Taemin menyudahi ciumannya yang terasa intim. Lengannya masih melingkar di pinggang Kai yang ramping. Kejantanan mereka berdua tak terasa sudah menegang dibawah sana. Tapi Kai ataupun Taemin toh belum ingin melepas pelukannya.

Taemin tersenyum hangat pada Kai yang disambut dengan seringaian. Ia membantu Kai menyingkirkan poni yang menutupi matanya dan berlama-lama dalam posisi tersebut. “Kai…” bisik Taemin serak.

Mendengar desahan dari Taemin membuat bulu kuduk Kai meremang karena gairah. Ia menelan ludah. Taemin kembali mendekatkan wajahnya pada Kai. Napasnya yang teratur membelai lembut permukaan kulit Kai. Ia suka sensasi yang ditimbulkan oleh Taemin jadi ia tersenyum. Kai mengambil inisiatif untuk meraih bibir Taemin terlebih dahulu. Dan bibir mereka langsung bergumul setelah itu.

“Kita tidak boleh begini lagi Kai.” Kata-kata Taemin bagai kilatan petir di hari cerah. “Kita tidak boleh seperti ini.”

“Kenapa?” tanya Kai dengan suara dalam yang memilukan.

Taemin hanya menggeleng tapi tetap pada posisinya semula yang memeluk pinggang Kai.

“Mengapa kau selalu saja merusak suasana, Tae?”

Taemin terkikik geli, “oya?” tanyanya jahil.

Kai menyentuh wajah Taemin lembut, “ia” katanya lalu kembali mengecup bibir Taemin singkat. Kai terkejut setengah mati saat ia melihat butiran kristal jatuh diwajah Taemin. “Tae…”

“Aku tak apa Kai.”

“Kenapa menangis?”

“Karena hatiku sakit.”

Kai diam saja. Hati Taemin sakit, apa karena dirinya? “Kenapa?”

“Karena aku tak lagi bisa menahan perasaanku.” Taemin melepas pelukannya dan berjalan mengitari ruangan.

“Apa maksudmu?” Kai berjalan menghampiri Taemin.

“Karena aku mencintai orang lain.”

Ini keputusan mutlak untuk dirinya agar tidak menaruh harap pada Taemin. Sekali lagi, hatinya tercabik. Seluruh rasa didirinya membuatnya lumpuh seketika. Ia menggeleng kuat-kuat seolah semua ini hanya mimpi. Ia hanya ingin kembali ke beberapa saat yang lalu. Akan lebih baik menyimpan perasaannya sendirian ketimbang harus mengetahui perasaan Taemin yang sebenarnya.

“Kenapa kau begini kepadaku?” tanya Kai terluka. “Kenapa kau jahat padaku Tae? Apa salahku mencintaimu? Kalau kau tak menginginkannya mengapa kau melakukan hal seperti ini? Kenapa?”

Taemin berjalan mendekati Kai yang tertunduk pasrah, tapi ketika ia ingin menyentuhnya Kai malah mendorong tubuhnya dan berlari keluar.

Diluar Kai menangis keras sekali. Ciuman Taemin masih terasa di bibirnya. Pelukan hangat Taemin masih bisa ia bayangkan. Tapi kenyataan seakan menghapus segala kesenangan itu. Seakan ia tak pantas merasa sebahagia ini.

Ia cinta Taemin. Apa yang salah dengan hal itu? Ia tahu hal itu memang salah. Sejak awal tak seharusnya ia biarkan perasaannya tumbuh semakin dalam. Kalau hanya untuk menambah luka hati seperti ini, seharusnya sejak awal ia tak perlu datang kemari.

Tapi ia mencintai Taemin. Meski tak begitu yakin kapan perasaan tersebut dimulai, ia yakin dengan perasaannya.

Kini Kai hanya bisa terus berjalan kedepan. Tak perduli seberapa kuat ia merasakan rindu untuk Taemin, di masa depan nanti ia tak boleh lagi menunjukkannya. Mungkin juga nanti ia akan melupakan perasaan tersebut.

Taemin akan selalu menjadi sahabatnya. Sahabat terbaik yang ia miliki. Selamanya…

-The End-

 

3 thoughts on “[KaiMin] Painfully Loving You

  1. Pingback: Once Upon A Time | Fanfiction Club Lovers

  2. Pingback: THE ZODIAC #1 | Fanfiction Club Lovers

  3. Pingback: THE ZODIAC #2 | Fanfiction Club Lovers

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s