SCANDALICIOUS


Aku seharusnya punya seribu alasan setelah membiarkanmu terseok masalah seperti ini. Tapi aku tak punya. Aku tak bisa mengatakan satu halpun yang bisa membenarkan perbuatanku kepadamu. Tapi aku tahu, dalam hatiku, seluruh hidupku, aku benar-benar mencintaimu.

Saat ini, di dalam dadaku seperti ada bom waktu. Yang bisa meledak kapan saja. Artinya juga bisa membuatku mati kapan saja. Aku tak sanggup terus hidup seperti ini. Aku takut hidup terlalu lama dalam kesedihan.

Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi menyakitkan bagiku juga. Mulai saat ini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Jadi percayalah kepadaku.

-Copyright & CrossPosting by Goetary-

Prologue,

Yunho menggenggam tangan Jejung dengan penuh perasaan saat ia hampir sampai di puncak kenikmatan. Sementara lelaki itu mengerang. Jejung bisa merasakan sekujur tubuhnya panas. Sangat panas.

Seakan tubuh Yunho memancarkan gelombang berdaya isap, membuatnya tak mampu mengelak. Jejung semakin merapatkan tubuhnya, mempertipis setiap inci jarak yang memisahkan mereka. Ia ingin merasakan Yunho dalam dirinya. Masuk lebih jauh ke sanubarinya yang haus akan belaian lelaki itu.

Jejung melingkarkan tangannya di pinggang Yunho. Sementara tubuhnya mulai mahir mengikuti gerakan naik-turun yang dilakukan Yunho.

Yunho balas memeluk Jejung. Ia memejamkan mata dengan bahagia. Tangannya mengelus punggung Jejung yang ramping. Tangan itu kemudian menyelinap ke bawah, menyentuh bokong Jejung yang penuh. Kejantanan Yunho tiba-tiba kembali bereaksi. Keduanya merasakan hal itu.

Desah napas mereka langsung memburu, menggema.

Yunho mendesah sambil menciumi rambut Jejung yang basah. Lalu menjauhkan tubuh lelaki itu agar bisa menunduk dan menciumi bibirnya yang membuka. Bibir mereka saling memagut. Lidah mereka saling menjilat. Jejung membiarkan Yunho menjadi pemilik utuh dirinya. Mendominasinya.

Membiarkan lidah Yunho masuk ke mulutnya. Menunjukkan kepemilikan lelaki itu yang tak akan pernah disesalinya. Lidah lelaki itu dengan penuh cinta menjelajah, menjilat, berputar-putar di dalam mulut Jejung.

Seluruh panca indranya seakan lumpuh. Rambut Yunho tersangkut diantara jemarinya. Erangan lembut dan kata-kata mesra yang dibisikkan Yunho semakin membuat napasnya memburu dan tubuhnya seakan melayang.

★★★

Lelaki itu menggeleng berkali-kali. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan. Sudah cukup air mata darinya. Pada akhirnya, sekuat apapun ia berusaha, sekuat apapun ia menginginkan tetap saja lelaki itu bukan takdirnya.

Tapi ia masih menangis. Karena dalam hatinya, seluruh jiwa raganya tak akan sanggup hidup dengan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan seperti ini.

Ia ingin lari dari sana. Meninggalkan lelaki itu. Tapi kakinya tak mau membawanya kemana-mana. Karena ia masih disitu. Menunggu, entah apa.

★★★

Ini sudah kesekian kalinya ada orang yang mengirimkannya paket berisi ancaman. Kali ini lebih menyeramkan, seekor kelinci dalam bingkisan merah, lehernya tercabik, ada darah dimana-mana dan secarik surat ditaruh sembarangan di atas badannya.

“KAU AKAN SEPERTI INI JIKA MASIH MENDEKATINYA”

Jejung memegang surat itu dengan tangan bergetar. Hatinya sakit kali ini. Seolah apa yang sedang dilakukannya salah. Seakan berhubungan dengannya adalah sebuah dosa.

Because my throat burned my tears fall

Cause everything infront of me blurred

Jejung tertidur dengan kepala di atas meja, rambutnya yang mulai panjang menutupi wajahnya. Yunho berjalan mendekatinya sambil berjinjit supaya tak membangunkan lelaki itu.

Ia berjongkok di samping meja Jejung. Memerhatikan wajah cantiknya yang terlelap. Tangannya terulur, menyingkirkan rambut di wajahnya. Yunho tersenyum sekilas, tapi air mukanya dingin tanpa ekspresi saat tiba-tiba setitik air jatuh di pipi Jejung.

Lelaki itu bahkan menangis saat ia tertidur. Yunho ingin tahu mengapa. Ketika itu tatapannya tertumbuk pada secarik kertas dalam genggaman Jejung. Ia pasti tertidur setelah membaca surat tersebut.

Yunho membelalak ketika membaca isi surat tersebut adalah sebuah ancaman. Dengan kata-kata kotor dan menakutkan seperti itu, ia yakin hati Jejung pasti hancur lebur.

Ia memandangi wajah Jejung lagi. Rasanya ingin mengecup bibirnya seperti biasa. Ingin memeluk lelaki itu dan berbisik di telinganya bahwa ia tak akan pernah pergi meninggalkannya.

Because I couldn’t walk

I must have no able to even call enough strenght to hold onto you

Seseorang menggenggam jemarinya membuat Jejung terjaga. Kelopak matanya terbuka perlahan dan orang itu tengah tersenyum kepadanya.

Rasanya ingin menangis. Jejung langsung menyeka air mata di pipinya, ternyata ia tidur sambil menangis tadi. Hatinya sakit.

“Kau tak apa?” tanya lelaki itu. Raut mukanya nampak khawatir saat ia melepas genggaman tangan Jejung.

Jejung mengangguk. Wajahnya mengernyit pilu. Ia ingin menangis. Air matanya memaksa keluar. Dan hatinya ngilu bagai teriris sembilu.

Hyung?” panggil Junsu memastikan.

Jejung mengangguk lagi. Tapi kini air mata mulai merembes keluar. Ia tak sanggup menerima cobaan seberat ini. Semuanya terlalu sering membuatnya patah hati. Keadaan yang senang itu hanya bertahan selama beberapa detik saja dan penderitaan malah menyambutnya untuk selamanya.

“Mengapa harus aku, Junsu?” bisik Jejung pilu. “Mengapa aku?”

Air mata menetes lagi, dan lelaki di depannya semakin bingung. Akhirnya, Junsu tanpa tahu permasalahannya menarik Jejung kedalam pelukannya. Membiarkan ia menumpahkan segala perih yang bersarang dihatinya.

Sementara itu, Yunho hanya bisa menyaksikan kekasihnya menangis di pelukan orang lain. Karena ia sendiri tak punya cukup kekuatan untuk bisa menaruh beban Jejung di bahunya. Mungkin ia memang pengecut. Yah, ia memang pengecut.

★★★

Tangisannya mulai mereda kini. Junsu sudah berbaik hati menawarkannya tumpangan untuk pulang kerumah. Tapi Jejung menolaknya. Ia ingin diberi waktu untuk berpikir. Berpikir apa saja.

Who’s getting farther away

Not being able to make you laugh at least once

Ia melangkah keluar dari ruang rapat tempat ia tadi ketiduran setelah mendapat keputusan kalau dirinya harus mengundurkan diri dari agensinya.

Sebenarnya, bukan itu yang membuatnya berat. Ia berat harus meninggalkan Yunho.

Tanpa sengaja ia bertemu Yunho di koridor. Tatapan mereka beradu. Sesak rasanya. Karena yang diinginkan Jejung adalah menjatuhkan dirinya dalam pelukan Yunho.

Rasanya sudah terlalu lama waktu berlalu. Waktu seakan meninggalkan mereka terlalu jauh. Bahkan penggalan kenangan yang terjadi di masa lalu perlahan mulai memudar.

With my heart that’s ripped and broken

And already withered away

Jejung hampir menangis lagi. Napasnya tercekat ketika Yunho mengacuhkan dirinya padahal jelas-jelas mereka bersinggungan saat di koridor. Hatinya yang sudah remuk redam kini harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang menjadi alasan satu-satunya ia bertahan sudah tidak perduli lagi kepadanya. Ia sedih. Hancur.

★★★

Tak pernah cukup alasan untuk bertahan. Tak pernah cukup perasaan untuk menjadi kuat. Itu sebabnya ia disini sekarang. Mengakui kesalahannya karena sudah mencintai seorang Jung Yunho. Meminta maaf kepada orang-orang yang melabelkan diri mereka sebagai fans lelaki itu.

Don’t turn to look at me, don’t turn around

Just run away as you are and forget me.

Farther

“Aku minta maaf atas kejadian ini,” ujar Jejung dengan suara bergetar. “Aku minta maaf karena sudah menjadi contoh yang buruk untuk anak-anak kalian,” katanya.

A little farther

Run away from me

It’s good that you’ve left me who’s so bad

Air mata Jejung menetes. Ia merasa malu berdiri di depan hampir seluruh penduduk Korea. Ia malu karena mereka melihatnya tanpa sehelai benang pun. Karena dalam pikiran mereka, dirinya saat bercinta dengan Yunho yang tersebar di internet dan media massa masih teramat jelas dalam benak mereka.

So unworthy, so foolish

Don’t have any memories don’t even remember me

Seseorang meneriakinya jalang. Orang lain meneriakinya pelacur. Semuanya ia dapatkan hari itu. Hukuman baginya karena mencintai seseorang yang tak semestinya ia cintai.

Jejung menangis pilu. Ia berusaha tegar. Tapi ia tak sekuat itu. Dalam ingatannya ia kembali melihat wajah Yunho hari itu. Yang membisikkan kata-kata mesra kepadanya, yang bilang kalau ia mencintai Jejung. Tangisannya tak berhenti sesering cemooh yang ia terima.

Padahal ia juga manusia. Tak salah jika mencintai seseorang. Tak salah kalau bercinta dengan orang yang ia cintai. Ia tahu, dirinya publik figur yang semestinya memberi contoh yang baik. Dan selama ini ia sudah berusaha. Tapi, ia kembali lagi pada sosok manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

The words “be well” and “I’m sorry”

If you’re wanting to leave me

Than instead just kill me right here and go

Ia berlari sekuat tenaga. Sesekali hampir menabrak pejalan kaki yang berlalu lalang. Tapi ia tak perduli. Saat ini hanya ada satu hal yang harus dipastikannya.

Yunho sampai di gedung konfrensi. Dan menyaksikan lelaki yang ia cintai tengah berlutut di depan banyak orang. Tiba-tiba hatinya terasa pilu.

Yunho berlari naik ke atas panggung. Ia sampai di depan Jejung yang tidak melihat kedatangannya. Yunho menarik lengan Jejung dan membantu lelaki itu berdiri. Tanpa sadar ia mundur selangkah.

Without you day by day I’ll die away

But you know, you know that it’s already too late to go back

Yunho heran melihat Jejung yang menjauhinya. Ia kembali menarik lengan lelaki itu dan menariknya ke pelukan tapi Jejung malah mendorongnya jauh-jauh. Tak kuasa menahan emosi tanpa sadar telapak tangan Yunho mendarat ke pipi Jejung.

Plakk.

Lelaki itu nampak terkejut dengan yang dilakukan Yunho. Yunho menatapnya membelalak. “Kau mau meninggalkanku? Mau kemana? Mau pergi tanpa aku? Kalau begitu seharusnya dari awal tak perlu muncul di depanku!”

Air mata kembali merembes. Ini pertama kali ia melihat Yunho lepas kendali seperti ini. Rasanya takut bercampur sedih. Takut karena emosi Yunho yang meledak-ledak dan sedih karena ia tahu kalau penyebabnya adalah dirinya.

What about me who’s become so much like you

How in the world?

Why are you trying to leave me? Why?

“Aku seharusnya punya seribu alasan setelah membiarkanmu terseok masalah seperti ini,” ujar Yunho mulai melunak. “Tapi aku tak punya. Aku tak bisa mengatakan satu hal pun yang bisa membenarkan perbuatanku kepadamu.” Ia menarik napas dalam dan kembali menatap mata Jejung, “tapi aku tahu, dalam hatiku, seluruh hidupku, aku benar-benar mencintaimu Jungie.”

Jejung menggeleng kuat-kuat, dengan wajah kaku ia berkata, “saat ini, di dalam dadaku seperti ada bom waktu. Yang bisa meledak kapan saja. Artinya juga bisa membuatku mati kapan saja. Aku tak sanggup terus hidup seperti ini, Yun. Aku takut hidup terlalu lama dalam kesedihan.”

Yunho memandangnya dengan rasa bersalah. “Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi menyakitkan bagiku juga. Mulai saat ini aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Jadi percayalah kepadaku.”

Lelaki itu melangkah maju perlahan, tapi Jejung kembali mundur. Ia menggeleng. Hatinya yang sakit. Pikirannya yang lelah. Raganya yang serasa lumpuh membuatnya kehilangan keseimbangan. Jejung terhuyung ke belakang.

Dengan sigap Yunho meraihnya. “Jejung?” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Jejung yang berkeringat. Lelaki itu panas dingin, badannya panas sekali.

Yunho memeluknya dengan panik. Sambil sesekali memanggil namanya. Air mata yang selama ini dipendam akhirnya menetes di wajah Jejung yang pucat. Tapi Jejung tak lagi bisa merasakannya. Ia tak merasakan apapun. Tak lagi ada perasaan apapun.

★★★

Don’t turn to look at me

Don’t turn around

Just run away as you are and forget me

Matanya mengerjap ngilu. Jemarinya terasa berat dalam tindihan tangan seseorang. Ia membuka matanya perlahan. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjerit.

Yunho sedang tertidur pulas di samping ranjangnya. Tapi ia tak kenal ruangan ini. Ini bukan kamarnya ataupun kamar Yunho. Bau steril khas rumah sakit menyerang hidungnya dan Jejung mencibir.

Farther a little farther

Run away farther away from me

Jejung mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Yunho. Perlahan menarik tangannya yang digenggam lelaki itu berusaha untuk tidak membangunkannya. Jejung beranjak turun dari ranjang rumah sakit, kembali mengendap-endap ia membuka pintu ruangan tersebut.

It’s good that you’ve left me

Jejung menggigit bibirnya. Menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Tiba-tiba ia terhuyung ke belakang. Yunho menarik lengannya sampai Jejung menatapnya.

So unworthy, so foolish

“Jangan kira kau bisa lari dariku,” geram Yunho.

“Yunnie…”

“Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan?” tanya Yunho tak habis pikir. Ia memijit pelipisnya dan kembali menatap mata Jejung. “Kau tak boleh kemana-mana lagi. Setelah kupikir-pikir aku juga sudah punya cara untuk membuatmu tetap disisiku,” ujar Yunho percaya diri.

Jejung memandangnya tanpa ekspresi.

Don’t have any memories

Don’t remember me

Yunho mengelurkan sesuatu dari kantong celananya. Jejung terperangah melihat cincin yang dipegang Yunho di depan matanya. Cincin itu cantik sekali, dengan permata mengelilingi setengah permukaan cincin. “Menikahlah denganku.”

Jejung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia memejam mata, mengira dengan begitu segala halusinasi ini bisa menghilang dan pergi darinya.

“Aku disini, Hyung. Ini bukan mimpi,” ucap Yunho lembut. Ia meraih tangan Jejung dan menyematkan cincin tadi di jari manisnya. “Menikahlah denganku,” ulangnya sekali lagi.

Even if you’re so lonely you think you might die

Jejung tak kuasa menjawab lamaran tersebut. Hanya air mata yang kembali menemukan jalan keluar. Sementara Yunho tak butuh jawaban apapun. Ia yakin lelaki itu mau menerimanya. Menjadi satu-satunya dalam kehidupannya.

Yunho meraih Jejung dalam pelukannya. Mengecup ringan dahinya dan kembali membenamkan kepala lelaki itu di dadanya.

“Aku tak akan meninggalkanmu lagi,” bisik Yunho. “Akan selalu disisimu.”

Dan ia bisa merasakan anggukan kepala Jejung yang halus. “Terima kasih,” bisiknya pelan.

Yunho mendorong tubuh Jejung agak jauh darinya. “Tak perlu berterima kasih padaku, Jungie. Karena akulah orang yang seharusnya berterima kasih.”

Jejung tak menjawab. Ia hanya tersenyum.

“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih sudah menjagaku. Aku cinta padamu, Jejung. Aku cinta Kim Jaejoong-ku.”

END

One thought on “SCANDALICIOUS

  1. Hem … Gmn yah .. Memang sih apá yg jaejoong – yunho lakukan itu salah … Salah besar ..
    (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ!
    Mereka idol .. Panutan byk anak muda mgkn ada jg orang dewasa .. Jd ga pantas ..

    Tapi ….

    Bagaimanapun jaejoong – yunho hanya manusia biasa yg berhak mencintai & di cintai …
    Walaupun .. yeah Rada ” aneh ” .. Tp itu hak pribadi

    Aigoo ga tega liat jaejoong di tindas híks híks
    Ommo yunho manis bgt ya .. Betul itu ..
    Tetaplah bersama .. Jgn berpisah ..

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s