[YooSu] Last Song, Last Love


Last Song, Last Love

Langit cerah. Udara hangat membelainya. Ia tersenyum memandangi riak air laut yang bergelombang, tampak begitu indah.

Suasana disini masih persis sama dengan saat ia terakhir kemari tiga tahun yang lalu, sepertinya tak ada yang benar-benar berubah. Seolah waktu selama itu tak mampu merubah apapun termasuk perasaannya.

Ia memejamkan mata sesaat, angin kembali menerpa wajahnya. Ia senang berada di tempat ini. Di pantai ini. Selalu mampu membawa kenangan masa lalu kembali di hadapannya.

Membawa rasa bahagia yang masih sedikit tersisa untuknya.

Walau kenangan tersebut menyakitkan, mengiris hatinya tiap kali mengingat masa itu. Tetap saja, ia lebih memilih untuk mengenangnya ketimbang tidak sama sekali. Karena hanya itu yang ia punya, kenangan.

-Kim Junsu, Park Yoochun, Kim Jaejoong-

®Standar Disclaimer Applied

Copyright & CrossPosting ©Goetary

Memandang pria itu tak akan ada habisnya. Tak pernah cukup kata untuk menjabarkan keindahanya. Tiap mata memandang. Tiap hati memuja. Tiap raga mendamba. Itu saja tak cukup. Yang berkaitan dengan lelaki itu selalu lebih dari itu.

Dari sofa yang terletak di sudut ruang café suara lengkingan panjang yang menyayat hati itu terdengar sedemikian indah dan menyentuh. Seolah pria yang saat ini sedang menyanyikannya tengah terbebani perasaan sedih yang mendayu-dayu. Hingga ia pun larut dalam perasaan. Hingga hatinya ikut bersedih terbawa suasana hati sang penyanyi.

Dengtingan piano mengakhiri penampilan pria itu dengan dramatis. Kedua tangannya melayang di udara. Tepukan tangan langsung membahana dari seluruh pengunjung café tersebut.

Lelaki bernama Yuchun itu segera turun dari atas panggung setelah sorak-sorai penonton mereda. Ia berjalan anggun dan percaya diri, melewati meja-meja menuju tempat duduk yang terletak di ujung paling sudut café miliknya.

“Aku sering melihatmu,” kata Yuchun seraya duduk di kursi di depan Junsu.

“Aku memang sering kesini.”

“Kau melihat penampilanku barusan?”

“Itu adalah alasan mengapa aku sering datang kemari.”

Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka membuat percakapan tersebut terputus beberapa saat. “Terima kasih,” ujar Yuchun kemudian menatap Junsu lagi. “Lalu, mengapa kita tak pernah bicara sebelumnya?”

Junsu mengangkat bahunya, sambil tersenyum ia berkata, “permainan pianomu membaik dari hari ke hari.”

“Kau tak menjawab pertanyaanku, tapi terima kasih.”

“Entahlah, kurasa aku sedang menunggumu untuk mengajakku kenalan lebih dulu.” Seulas senyum tersungging indah di sudut bibir Junsu. Menggoda.

Yuchun tertawa singkat. “Kurasa itu adil, namaku Park Yoochun, tapi aku lebih senang dipanggil Yuchun saja. Senang berkenalan denganmu.”

“Aku Kim Junsu, senang akhirnya bisa mengenalmu.” Junsu membalas jabatan tangan Yuchun sambil tertawa.

“Kau indah.”

Tawa Junsu sekejap menghilang diganti tatapan penuh tanya pada pria yang baru saja dikenalnya itu. “Maaf, apa katamu?”

“Kubilang kau indah, bagaimana mengatakannya? Aku belum pernah melihat senyum seindah itu sejak…” ucapan Yuchun terhenti. Perkataannya barusan langsung membawanya ke kilas balik kehidupannya yang ingin ia lupakan.

Ombak memecah tepi pantai. Burung berkicau dan angin berhembus kencang. Senja berwarna kemerahan mewarnai perasaannya yang bahagia melihat tawa di wajah cantik Jejung.

Yuchun mengambil sesuatu dari dasar kantung celana panjangnya, sebuah kotak persegi berwarna hitam berbahan beludru kini bertengger di atas telapak tangannya. Perlahan ia berjalan menghampiri Jejung.

“Jungie,” panggilnya.

Lelaki itu mendongak sambil tersenyum indah sekali. Ia datang menghampiri Yuchun.

“Kau senang?”

“Tentu saja,” jawab Jejung.

“Menikahlah denganku.” Yuchun menyodorkan kotak cincin yang tadi dipegangnya. “Maukah kau menikah denganku, Jungie?”

Bibir lelaki itu bergetar. Angin kembali berhembus membuat tubuhnya menggigil. Senyum di bibirnya memudar. Ketika mendongak menatap mata Yuchun air mata membuat matanya kabur. Jejung menangis. Namun ditengah-tengah tangisannya bibirnya sedikit tersenyum.

Senyuman terindah yang pernah dilihat Yuchun. Senyum terindah yang hanya dimiliki Jejung, sampai hari ini…

“Sejak kapan?”

Pertanyaan Junsu serta-merta menarik Yuchun kembali ke dunia nyata, meninggalkan penggalan masa lalu dalam benaknya. Ia gelagapan namun masih dapat menguasai ekspresinya dengan baik. Sambil tersenyum Yuchun berkata, “seperti ibuku.”

Junsu tersenyum. “Kuanggap itu pujian.”

“Sayangnya itu memang pujian.”

***

“Aku sekarat, Chunnie…”

Yuchun tak berkata apa-apa. Ia hanya bisa tersenyum kikuk mendengar lelucon yang dilemparkan Jejung kepadanya.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?” tanya Yuchun ketika akhirnya menemukan kejanggalan disuara Jejung. “Kau tak boleh seenaknya bercanda begini, Hyung. Itu sama sekali tidak lucu.”

“Aku tak bercanda, Chunnie… aku benar-benar sekarat. Aku sakit.”

“Jangan berkata begitu. Jejung, kumohon. Maafkan aku, maafkan aku. Kau boleh marah padaku, kau boleh membenciku. Tapi jangan membohongiku seperti ini. Kumohon…”

“Aku juga sakit, Chunnie… aku juga sakit harus mengatakannya padamu. Tapi aku harus, sebelum terlanjur…”

“Terlanjur apa?” potong Yuchun cepat. “Terlanjur menikah denganku? Begitu maksudmu?”

“Kau tahu itu tak benar.”

Yuchun memang tahu hal itu tak benar. Jejung yang cantik, yang selama ini ia sayang tak mungkin membuat lelucon konyol seperti itu. Tak mungkin lelaki itu sengaja menyakitinya. Tapi sekali saja, ia ingin meyakinkan dirinya kalau hal itu adalah kebohongan semata. Bukan sesuatu yang harus ia khawatirkan. Sekali saja.

Angin pantai berhembus lembut. Langit masih terang saat ia sampai disana, namun waktu terasa demikian cepat berlalu. Karena ketika tersadar hari sudah sangat sore. Ditangannya, Yuchun masih memegang kotak cincin yang dulu pernah ia persiapkan untuk Jejung. Pria itu belum sempat memakainya ketika ia pergi untuk selamanya.

Tiap kali datang ketempat ini, bayangan masa itu selalu kembali lagi. Meskipun menyakitkan, Yuchun menyukainya. Meskipun ia harus menangis lagi.

“Aku rindu padamu, Jejung Hyung…”

Lelaki itu kembali menimang kotak cincin di tangannya, “aku masih rindu padamu.”

***

If the words spoken, between you and me. What would your favorite melody?

Even if the world suddenly changed overnight

With you around, we can sing the duet…

So don’t forget, never forget, my heart is yours

I want you to know, I’ll protect you with my everlasting eternal love

I love you, so love you, my everything is yours…

Ditempatnya yang biasa. Dimana ia sering menyaksikan penampilan Yuchun, Junsu bertepuk tangan. Tanpa sadar air mata menetes. Ia ingat lagu itu, jadi ia tersenyum.

Yuchun beranjak menghampirinya, “kulihat kau tersentuh. Apakah juga menangis?” tanyanya sambil mengerling nakal.

Junsu terkikik kecil dan mengangguk, “sedikit. Katakan padaku.”

“Apa?”

“Mengapa nyanyianmu selalu begitu sedih, Hyung?”

“Mengapa kau selalu ingin tahu?”

“Tidak boleh?” Junsu merengut. Membuat tawa menghias di wajah tampan Yuchun sekali lagi.

“Aku takut kau akan cemburu.”

“Tentang lelaki lain?” tanya Junsu serius.

Yuchun mengangguk. Perasaannya entah mengapa langsung berkecamuk, tapi Junsu sudah tahu jawabannya. Jadi ia tetap mendorong Yuchun untuk menceritakannya.

“Mau ikut ke suatu tempat?” tanya Yuchun. Junsu belum sempat mengangguk ketika lelaki itu menarik tangannya.

 

Udara terasa hangat. Tidak sedingin biasa. Di samping Yuchun yang membisu, Junsu menerawang. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi ia terlalu takut merusak suasan diantara mereka. Lagipula, jika sudah waktunya Yuchun akan bicara sendiri.

“Kau tak ingin bertanya mengapa aku membawamu kemari?” ungkap suara Yuchun tiba-tiba.

Junsu sempat tersenyum, “kupikir kau pasti akan segera menjelaskannya kepadaku.”

“Karena kau bilang ingin tahu tentang lelaki itu.”

“Sepertinya kau sangat mencintainya dulu, Hyung.”

Yuchun mendesah, ia menatap Junsu dengan ekspresi tak terbaca. “Aku masih mencintainya, Su.”

Junsu memandang lekat wajah Yuchun. Ada sesuatu yang ingin ia cari disana, mungkin seberkas harapan. Atau mungkin sedikit kebohongan. Yang jelas hatinya nyeri saat Yuchun mengatakan kalau ia masih sangat mencintai Jejung, kakaknya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit kanker darah.

“Yah, kurasa juga begitu. Semua orang, yang mengenalmu, bahkan mendengar musikmu pasti akan tahu. Apakah disana, ada kenangan yang menyakitkan, Hyung?”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu, adakah celah untuk kumasuki?”

Yuchun nampak sangat terkejut dengan pertanyaan Junsu barusan. “Apa maksudmu?”

Mata lelaki itu berkaca-kaca. Bukan karena perasaannya yang sakit. Tapi karena ia tahu kalau Yuchun tak mungkin menyediakan celah baginya untuk memasuki hati lelaki tersebut.

“Junsu?”

“Kurasa, aku sudah terlalu jauh. Mungkin, sudah saatnya aku pulang. Karena kau baik-baik saja. Jadi, sudah saatnya bagiku untuk kembali.”

Yuchun semakin tidak mengerti. “Apa yang sedang kau bicarakan Su-ie?” Junsu tak menggubris pertanyaan Yuchun, ia beranjak menjauh dari sana. Tapi Yuchun sudah menggenggam pergelangan tangannya. “Apa maksudmu berkata demikian, Junsu?” tanya Yuchun lagi.

“Maafkan aku, Hyung,” bisik Junsu. Setitik air mata berhasil jatuh di wajahnya.

“Su…”

“Maaf karena aku tak seharusnya mencintaimu. Tapi aku melakukannya.”

Yuchun mematung. Kakinya terasa kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya. Ia senang sekali mendengar pengakuan Junsu. Tapi bingung kenapa gadis itu justru menangis. “Aku tak pernah bilang kau tak boleh mencintaiku, kan?”

Junsu menggeleng frustasi, “tapi kau tak mencintaiku kan, Hyung?”

“Siapa bilang?”

“Jadi kau mencintaiku?” tanya Junsu.

“Siapa bilang?”

Junsu ingin sekali tertawa, Yuchun sepertinya sedang bercanda. Tapi hatinya sedang terluka, bagaimana ia bisa mengabaikan perasaannya kala itu.

Yuchun berjalan mendekat, ia membelai rambut Junsu sesaat. Lalu meraih lelaki itu dalam pelukannya. Mendekapnya erat.

***

Hari ini tepat tiga tahun sejak kematian Jejung. Junsu menaruh buket bunga kesukaan Jejung yang di rangkai indah di atas kuburannya, berdoa sebentar sebelum memulai ceritanya seperti biasa.

“Hyung, dia baik-baik saja. Permainan pianonya sekarang jauh lebih bagus. Kau pasti senang melihat perkembangan Yuchun Hyung.”

Junsu diam sejenak. Menimbang-nimbang apa yang seharusnya ia ceritakan pada Jejung. Yang dapat menyamarkan perasaannya. Gemersik rerumputan yang terinjak langkah kaki seseorang mendekat. Junsu membuka matanya yang tadi sempat terpejam.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya suara lelaki itu. Junsu terenyak dari duduknya. “Siapa kamu sebenarnya?”

Junsu tergagap menyaksikan tubuh Yuchun yang menjulang di atasnya. Ia bergegas berdiri.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, mengapa kau ada disini Junsu?”

Junsu, lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya berdiam diri melihat kilatan amarah di mata Yuchun.

“Katakan padaku, bagaimana kau mengenal Jejung?” Junsu tetap tidak menjawab. “SIAPA KAMU?!”

“Aku adiknya.”

“Apa?”

“Aku adik Jejung.”

Sekarang giliran Yuchun yang terdiam tak bisa berkata apa-apa. Pantas saja. Pantas saja ia begitu menyukai Junsu, karena sebenarnya pada diri pria itu ada beberapa bagian yang memang mirip dengan Jejung. Senyumnya, sikapnya, gaya bicaranya, bahkan sifat mereka juga hampir sama. Mungkin Junsu memang sedikit lebih keras kepala dan tangguh ketimbang Jejung yang lemah lembut. Tapi tetap saja mereka mirip.

Yuchun melepas buket bunga yang ia bawa sembarangan dan segera pergi dari sana dengan perasaan campur aduk yang tak bisa ia artikan.

***

Sudah lewat seminggu Yuchun tak memberi kabar. Datang ke café miliknya pun percuma. Lelaki itu tidak pernah ada disana. Junsu mulai jengah dengan keadaan yang tak enak begini. Ia ingin bicara pada Yuchun tentang perasaannya. Atau kalau memang tak boleh mengatakan isi hatinya, ia ingin sekedar mengobrol saja. Seperti biasa. Apa itu juga tak boleh?

“Ada apa kau mencariku?” tanya suara seseorang tiba-tiba.

Junsu mengangkat kepalanya dan memandangi orang itu tanpa ekspresi. Awalnya ia tak ingin datang ke café milik Yuchun, tapi saat ia keluar dari rumah tanpa tujuan langkah kakinya menuntunnya sampai kesini tanpa sadar.

“Aku sedang sibuk, katakan saja apa maumu.”

Junsu menelan ludah dengan susah payah. “Aku… ada yang ingin kubicarakan.”

“Katakan saja.”

“Aku hanya ingin minta maaf,” ucap Junsu.

“Maaf untuk apa? Karena sudah membohongiku?”

“Aku tak pernah membohongimu, Hyung!” tegas Junsu. “Aku sama sekali tidak pernah membohongimu atau menipumu.”

“Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau adalah adik Jejung.”

“Aku ingin mengatakannya. Tapi aku takut…”

“Takut apa?”

Bola mata Junsu yang jernih berair saat ia mengangkat wajah dan menatap Yuchun, “maafkan aku. Aku tahu kau pasti marah, tapi aku tak kuasa mengatakannya kepadamu, Hyung.”

“Mengapa?”

“Karena aku mencintaimu.”

Sekali lagi meskipun rasanya seperti tersengat arus listrik yang menjalari tiap urat nadi yang membuat hatinya bergetar di dalam, Yuchun tetap tak bergeming. Walau dengan ini sudah dua kali Junsu mengungkapkan perasaannya. Sejujurnya, ia tak punya jawabannya. Ia senang berada di dekat Junsu, pria itu selalu membuatnnya merasa nyaman. Tapi, bagaimana ia bisa menerima perasaan adik dari mantan kekasihnya?

“Maafkan aku Junsu…” tanpa sadar Yuchun mengatakannya. Ia terkejut saat menyadarinya. Tapi sudah terlambat bagi mereka untuk kembali.

Karena setelah mendengar permintaan maaf Yuchun yang adalah jawaban untuk perasaannya, Junsu mengangguk sambil tersenyum. Sebelum datang kemari, sejak beberapa hari lalu ia sudah berusaha menata hatinya. Kini tidak seharusnya ia terkejut dengan keputusan yang ia terima.

“Aku tahu, selamat tinggal, Hyung…” Junsu tersenyum lagi, kini untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar beranjak pergi dari sana. Beranjak pergi dari hati Yuchun yang tak pernah sekalipun terbuka baginya.

Mungkin sudah terlambat untuk menyesali semua hal yang ia lewati dengan sengaja. Selama ini ia hanya berpura-pura tidak tahu. Siapa yang ia bohongi sebenarnya? Saat melihat Junsu menjauh darinya, ia sebenarnya ingin menarik lelaki itu ke pelukannya sebelum ia benar-benar menghilang. Tapi toh, Yuchun hanya berdiam diri melihatnya. Sementara punggung Junsu yang nampak lesu beranjak menjauh.

Sekarang, setelah lama termenung Yuchun akhirnya pergi mengejar Junsu. Mungkin memang terlambat, tetapi lelaki itu tak perduli. Ia terus berlari, tanpa memperhitungkan jarak yang sudah ia tempuh. Ia tak lagi perduli. Tak ada yang bisa membuatnya lebih khawatir ketimbang Junsu yang meninggalkannya.

 

***Five Years Later***

If the words spoken, between you and me made a song

What would your favorite melody?

Even if the world suddenly changed overnight

With you around we can sing the duet.

If the time you and I spend together became a song, I would play a little sad notes

Because happiness prefers friendly people..

I won’t change, will never change, my heart is yours, I want you to know

My everything is yours, so come here and stay with me

Setitik cairan sebening kristal jatuh di ujung matanya. Tatkala hatinya yang gundah kini diliputi kegelisahan. Yuchun menyelesaikan permainan pianonya yang apik di antara ribuan penonton yang memenuhi gedung pertunjukan.

Ia adalah seorang selebriti sekarang. Hidupnya ia dedikasikan untuk telinga penggemarnya. Seperti permintaan Junsu dulu, yang bilang kalau dia ingin mendengar permainan Yuchun lebih sering. Sekarang lelaki itu memenuhinya.

Changmin yang baru mengikat hubungan dengan Yuchun setahun yang lalu datang sambil membawa sebuket  bunga untuknya, “maaf aku tadi keluar sebentar sehabis menonton pertunjukanmu, aku pergi membeli bunga dan ada teman yang tiba-tiba menelpon,” ujarnya.

“Tak apa, ayo, aku sudah lapar,” kata Yuchun kemudian.

“Chagya,” cepat-cepat Changmin menahan langkah lelaki itu. “Teman yang tadi kuceritakan mau bertemu denganmu, katanya dia juga penggemarmu.”

Yuchun memandang Changmin, kedua alisnya terangkat.

“Boleh kan?” tanya Changmin lagi.

“Tentu saja sayang.”

Mereka lalu berjalan keluar, berbelok ke sebuah ruang tunggu di dalam gedung yang sama. Changmin terlihat begitu senang saat memperkenalkan sahabat lamanya kepada Yuchun.

“Chagya, kenalkan, ini teman yang kuceritakan tadi.”

“Senang bertemu denganmu lagi, Hyung.”

“Junsu?”

I won’t change, will never change. My heart is yours.

I want you to know, I’ll wrap you with my wholeherated selfless love.

Don’t forget, never forget, my heart is yours

I want you to know, I love you, so love you

My everything is yours…

-THE END-

Beautiful lyrics is “DUET” by HoMin TVXQ

I wish you all enjoy this fanfic. As ussual, DON’T BE PLAGIATOR, DON’T BE SILENT READER

And I hope I can get RCL from everyone

Sorry for Typo

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s