[YunJae] Skies Tear Drops


Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

Skies are crying, I am watching

Catching tear drops in my hands

Jemari yang mencengkram cangkir berisi cappucino bergetar pelan. Buku-buku tangannya memucat. Ada sesuatu yang membuatnya tak sanggup melontarkan apa yang sedang ia rasakan. Pikirannya seketika buntu, lidahnya kelu.

Putus. Baru saja ia mendengar kata keramat itu keluar dari mulut lelaki yang sudah menjalin hubungan dengannya selama setahun terakhir ini. Otaknya berusaha mencerna arti kata tersebut sementara hatinya menolak mati-matian.

“Maafkan aku, Hyung. Semoga kau mengerti.” Suara itu lagi.

Suara tak asing pria yang amat ia cintai. Suara yang selalu mampu memompa jantungnya tiga kali lebih cepat. Selama ini suara itu selalu bisa membuatnya merasa tentram, dalam kekacauan sekalipun. Namun hari ini, semuanya terasa berbeda. Ia tak ingin mendengar suara itu.

Karena suara itu tengah mengirimkan pesan ultimatum yang akan memporak-porandakan kehidupannya kelak. Karena suara itu menyimpan ribuan silet untuk menyayat-nyayat hatinya.

Jejung memejam erat kelopak matanya. Nafasnya memburu. Kerongkongannya terasa kering, bibirnya mengatup membentuk segaris tipis. Ada amarah dalam setiap tarikan nafasnya, ada kesedihan di setiap kerjapan matanya. Tapi sekuat tenaga ia mencoba menyembunyikan semua itu.

Karena ia tahu, Yunho tak pernah suka jika ia cengeng dan lemah. Tapi, bukankah semua itu tak berarti lagi? Bukankah betapapun tegarnya ia tidak akan berpengaruh banyak karena Yunho tetap saja akan meninggalkannya?

“Hyung,…”

Jejung melepas cangkir yang dari tadi di pegangnya. “Mengapa?” hanya itu pertanyaan yang bisa keluar dari bibirnya. Lagipula hanya itu pertanyaan yang mesti di jawab oleh Yunho.

“Aku akan menikah.” Yunho diam sejenak, lalu kembali berkata, “dengan Sooeun!”

Deg.

Jantung Jejung tiba-tiba berhenti berdetak. “Sooeun? Han Sooeun? Mengapa harus dia?” Ucapnya pilu dalam hati.

“Tapi Sooeun sudah kuanggap seperti adik sendiri, dia juga tahu kau adalah kekasihku. Tapi kenapa…” ucapan Jejung terpotong.

“Sooeun hamil, sudah hampir tiga bulan.”

“Memangnya kenapa? Bukan berarti kau yang menghamilinya kan? Yunho jawab aku dengan jujur!” Amarah Jejung memuncak. Kesedihan tiba-tiba meluap, hanya menyisakan kebencian yang teramat sangat pada lelaki yang dulu pernah ia cintai ini.

Dulu. Jejung tiba-tiba tersadar, mungkinkah cintanya bisa hilang dalam sekejap? Hanya karena kenyataan yang baru saja di terimanya. Bisakah cinta yang selama ini menjadi bagian hidupnya tersisihkan begitu saja, secepat badai menerjang? Mungkinkah? Semoga…

“Maaf, Hyung…”

“Semoga kalian bahagia!”

Jejung menaruh selembar uang kertas di atas meja, jumlah yang cukup untuk membayar minuman mereka berdua. Dan segera melenggang pergi dari cafe tersebut. Meninggalkan Yunho sendiri. Meninggalkan sisa cintanya untuk dibawa pergi sekalian oleh lelaki itu.

Only silence, as it’s ending

Like we never had a chance

Ia tak butuh semua penghinaan itu. Satu-satunya hal yang ia butuhkan saat ini adalah pergi jauh sambil berusaha melupakan kenangan pahit dan manis yang pernah di ukirnya bersama Yunho. Karena tak bisa ia pungkiri bahwa Yunho pun pernah memberinya banyak kenangan manis. Walau perbuatannya kali ini mampu membakar hangus semua kenangan itu.

You can take everything I have

You can break everything I am

Like I’m made of glass

Like I’m mad of paper

***

Tujuh tahun kemudian…

Gugusan awan mulai menipis. Dari jendela kabin pesawat puncak Kota Seoul mulai terlihat, cahayanya yang dari gedung-gedung bertingkat nampak berkilauan dalam gelap malam yang memukau.

Decitan suara angin menggesek badan pesawat ketika benda bersayap itu meluncur turun dalam kecepatan tinggi. Sementara jantungnya mulai berdegup semakin cepat. Beberapa saat kemudian roda pesawat mulai menyentuh tanah, bergulir di atas aspal bertanda panah.

Sudah hampir tujuh tahun lamanya ia meninggalkan Seoul, tak sadar kalau ternyata ia rindu juga pulang ke rumah. Banyak hal yang berubah dari kota kelahirannya itu. Gedung-gedung pencakar langit terlihat bertebaran hampir di seluruh pusat kota. Pada malam hari seperti ini kota itu memang selalu lebih ramai ketimbang di siang hari.

Jejung menyeret kakinya dengan tas jinjing. Ia berniat melewati beberapa jam menikmati malam di pusat kota sebelum kembali ke rumah lamanya. Entah bagaimana keadaan rumah tersebut ketika ia pulang. Meskipun bertahun-tahun sudah ia habiskan waktu dan menyibukkan diri di negara orang, dan walaupun tak ada kemungkinan ia akan kembali ke Korea.

Tetap saja ia tak ingin menjual rumah peninggalan orang tuanya. Karena jauh di lubuk hati, ia berharap ketika ia kembali ke sini semuanya masih akan tetap sama. Walau tak begitu banyak kemungkinan. Karena pada kenyataannya semua hal tentu saja akan berubah ketika bersanding dengan waktu.

Melihat sebuah cafe yang dulu sering di datanginya masih berdiri kokoh di antara deretan cafe dan butik-butik lain, Jessica memutuskan untuk mampir kesana sebentar. Aroma yang menyambutnya saat melangkahkan kakinya kedalam masih persis sama dengan saat terakhir ia kemari. Ia sedikit merasa senang menyadari ternyata ada juga yang masih sama seperti dulu dan tak berubah.

Seorang pelayan berseragam putih-merah datang membawakan coffe late dan blueberry cheese cake pesanan Jejung. Setelah itu Jejung segera di sibukkan oleh pemandangan ramai di luar cafe tersebut.

There’s nothing I could say to you

Nothing I could ever do to make you see

What you mean to me…

Perlahan suara merdu Leona Lewis mengalun lembut dari speaker suara. Waktu tiba-tiba saja berhenti berputar. Jarum jam nampak tak bergerak kemana-mana sejak terakhir Jejung meliriknya. Saat itu juga pikirannya kembali melayang ke tujuh tahun yang lalu, ketika Yunho memutuskannya di restoran ini.

Tapi bayangan itu musnah ketika tawa Yunho saat menggodanya waktu mereka baru saja pacaran terdengar lantang di telinganya. Jejung tersenyum. Memang benar, sebenci apapun ia pada Yunho, semarah apapun ia akibat perbuatan lelaki itu, tetap tak bisa menghancurkan kenangan indah yang telah diberikan lelaki itu untuknya.

I know I let you down, but it’s not like that now

This time I’ll never let you go…

Tiba-tiba saja ketika tersadar dari lamunannya Jejung sadar kalau ia menangis. Cepat-cepat disekanya air mata di pipi sebelum ada orang lain yang melihatnya.

“Jejung oppa…” seseorang memanggil namanya ragu-ragu.

Jejung mendongak dan menemukan wanita berparas cantik, rambutnya di sanggul ke belakang. Cantik sekali. Tapi yang paling mengejutkannya adalah bahwa ia mengenal wanita itu. Perlahan Jejung berdiri dari duduknya.

“Benar kan kau Jejung Oppa? Oh Tuhan, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi,” ujar wanita itu dengan senyum secerah matahari di wajahnya.

“Sooeun…”

“Lama tak bertemu denganmu, boleh aku duduk disini?” Tanya wanita bernama Sooeun itu tanpa memerdulikan ketegangan yang terpancar jelas di wajah Jejung.

“Tentu saja, silahkan.” Sementara pandangan Jejung teralihkan oleh gadis kecil yang datang bersama Sooeun.

“Ini Rania, putriku,” ujar Sooeun menjawab keingintahuan Jejung.

Jejung mengangguk dan tersenyum pada gadis kecil itu, “dia cantik sekali,” katanya.

“Bagaimana kabarmu, Oppa? Sudah tujuh tahun kita tak bertemu, sejak…” ucapan Sooeun terputus ketika melihat kabut yang terbayang di mata Jejung. “Maaf, aku tak seharusnya mengungkit hal itu.”

“Tak apa, toh sudah tujuh tahun berlalu. Aku pun sudah melupakan semuanya.” Jejung tersenyum, namun hatinya terasa sakit. Ia berusaha sebisa mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja, tapi sepertinya Sooeun dapat melihat kegelisahannya. “Bagaimana keadaan Yunho?”

“Sepertinya dia baik-baik saja,” jawab Sooeun. “Kami sudah bercerai!”

Jejung tak yakin dengan yang ia rasakan. Dan juga tak tahu harus bersikap bagaimana, jadi ia berusaha nampak acuh dan menyesap minumannya.

“Aku membohonginya,” bisik Sooeun menyesal. “Kubilang kalau Rania adalah anaknya.”
Jejung terlihat syok tapi tak mengatakan apa-apa.

“Setelah mengetahui kalau ternyata ia tak pernah menyentuhku ia marah sekali. Katanya ia sudah melukai Jejung Hyung untuk hal yang tak pernah ia lakukan. Sebenarnya, aku hanya iri melihat kalian berdua. Itu makanya aku berusaha untuk memisahkan kalian. Tapi bahkan setelah hampir setahun ia hidup denganku, ia tetap tak bisa melupakan dirimu.”

“Tapi anak itu?”

“Aku tak pernah bertemu ayahnya, aku menerima donor sperma.”

Amarah meledak di dadanya. Jejung melirik Rania kemudian menatap Sooeun dengan tajam, mencari kebohongan disana. “Sialan kau! Mengapa kau tega melakukan semua ini? Kupikir kita berteman!” geram Jejung marah.

“Sudah kubilang aku iri melihat kedekatan kalian berdua,” jawab Sooeun tenang.

“Cuma itu?! Jadi maksudmu cuma itu alasanmu untuk menghancurkan kehidupan kami?!”

“Tenanglah, Oppa. Semua itu sudah berlalu sejak lama. Lagipula, bukankah tadi kau bilang sudah melupakan semua kejadian tujuh tahun lalu? Mengapa sekarang malah marah-marah?”

Jejung tak berkata apa-apa. Dia menatap jijik pada Sooeun. Dan tiba-tiba saja tangannya sudah melayang di pipi mantan sahabatnya itu.

Do you have to make me feel like, there’s nothing left of me?

***

As the smoke clears, I awaken

And untangle you from me

Would it make you feel better

To watch me while I bleed?

Jejung berlari sambil membawa tas pakaiannya. Kali ini ia benar-benar marah. Marah pada orang yang selama ini dianggapnya sahabat, yang sudah mempermainkan hidupnya. Marah pada takdir yang membiarkan semua itu terjadi.

Mengapa harus dirinya? Mengapa harus Sooeun yang melakukan semua itu kepadanya? Andai orang lain, mungkin ia tak akan semarah ini. Andai orang lain, ia pasti tak akan sesedih ini.
Jika dipikir-pikir, ia pasti juga sudah mencegah Yunho pergi darinya jika wanita yang ia hamili itu orang lain. Tapi ini Sooeun, sahabatnya. Orang yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Orang yang selama ini selalu bersamanya, orang yang ia cintai sama besar dengan rasa cintanya pada Yunho.

You can take everything I have

You can break everything I am

Jejung menghentikan langkahnya yang lelah. Hatinya terasa terlalu berat membebaninya, hingga ia tak mampu melangkah lagi. Kini ia pasrah, pada takdir. Karena sejauh apapun ia berlari, toh takdirnyalah yang akan membawanya kemanapun ia kehendaki. Tubuhnya perlahan terasa lunglai, Jejung jatuh terduduk di depan salah satu pertokoan. Dengan tangan memeluk lutut dan kepala tersembunyi diantaranya.

***

Jejung berjalan lunglai, menenggelamkan dirinya dalam lautan orang-orang yang memadati pasar malam. Ingin sekali rasanya kembali lagi ke Paris, mungkin keputusannya untuk kembali ke kampung halamannya sudah salah, mungkin seharusnya ia tak lagi pernah kembali. Lebih baik tidak tahu apa-apa daripada mengetahui kenyataan pahit seperti ini. Toh selama ini ia juga sanggup bertahan hidup, meskipun butuh waktu tujuh tahun, tapi ia tetap bisa melupakan Yunho.

Tapi kini Sooeun kembali muncul di hadapannya. Mempersembahkan ribuan derita yang tak mungkin sanggup ia hadapi.

Tiba-tiba saja Jejung jatuh karena tabrakan seseorang. “Maaf, kau baik-baik saja?” tanya orang itu.

“Aku tak apa!”

“Biar kubantu berdiri.” Lelaki itu menjulurkan tangannya dan membantu Jejung berdiri kemudian mengambil tas Jejung dari tanah dan memberikannya pada Jejung.

Diantara kebisingan dan padatnya manusia, tatapan mereka beradu.

“Jejung Hyung?”

“Yunho…”

Tubuh Jejung terdorong oleh orang yang berdesakan, sekali lagi ia hampir terjatuh jika Yunho tak segera meraih tubuhnya.

Saat itu bagi mereka waktu seakan berhenti. Orang-orang yang memadati pusat pembelanjaan malam di Seoul tak lagi mengganggu. Tak lagi terdengar keributan, yang ada hanya hening. Lama berselang Yunho masih tak mau melepas tubuh Jejung. Ingin lebih lama memeluk lelaki itu, sebagai ganti hari-hari yang sudah hilang.
Jejung bergelayut, berusaha melepas pelukan Yunho. Tapi lelaki itu justru lebih mengeratkan pelukannya.

“Yunho, lepaskan aku!”

Yunho melepas pelukannya. Jemarinya berpindah ke leher Jejung. Tatapan mereka sekali lagi beradu, disana, di dalam mata Jejung, Yunho bisa merasakan kesedihan yang sudah ia ciptakan. Luka yang ia sebabkan pasti belum sepenuhnya hilang.

If I let you down, I’ll turn it all around

‘Cause I would never let you go

Perlahan Yunho mendekatkan kepalanya dengan Jejung, sementara Jejung menunggu dengan cemas dengan mata tertutup. Tak lama kemudian bibir Yunho pun merapat di bibirnya.

I will be all that you want, and get myself together

‘Cause you keep me from falling appart

Bagi Jejung ciuman itu bagai penyembuh lukanya. Bunga yang sudah lama layu di hatinya kini kembali segar bersemi. Yunho tak perlu mengatakan apa-apa, karena ia yakin Yunho masih mencintainya sama seperti dulu. Sama seperti ia mencintai lelaki itu.

All my life, I’ll be with you forever to get you through the day

And make everything okay

-The End-

2 thoughts on “[YunJae] Skies Tear Drops

  1. Diksinya bagus eon.. tapi ini kayaknya typo : Melihat sebuah cafe yang dulu sering di datanginya masih berdiri kokoh di antara deretan cafe dan butik-butik lain, Jessica memutuskan untuk mampir kesana sebentar😀

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s