[YunJaeSu] Everlasting


Author: Gita Oetary/Goetary21

Pairing: YunJaeSu [Jung Yunho/Kim Jaejoong/Kim Junsu]

Disclaimer: Fanfic ini sebagian besar saya salin dari komik Everlasting Potrait penerbit m&c by Rina Morio. Klo udah ada yang baca komiknya mungkin gak akan terlalu berasa feelnya waktu baca fanfic ini. Tapi gak ada salahnya baca lagi *hehe.

WARNING!! Meskipun ide ceritanya saya ambil dari komik bukan berarti ada yang boleh COPAS ff ini tanpa seijin saya!!

Tulisan yang dicetak miring itu isi hati. Yang cetakannya miring trus bold itu flash back yah…

Standar Disclaimer Applied

Copyright&Crossposting©Goetary

Busan,

Langit cerah. Udara hangat di penghujung musim gugur. Birunya laut. Kami bertemu di kota ini…

Selamanya, tak akan kulupakan. Hari-hari yang pernah kulewati bersama mereka.

Sudah lebih tujuh tahun ia meninggalkan kota ini, banyak yang sudah berubah. Gedung-gedung pencakar langit mulai berdiri dimana-mana, kota yang dulunya hijau dan tenang kini sudah ramai dengan penduduk.

Sebuah buket berada dalam genggamannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti, seseorang yang ia kenal di masa lalu kini nampak di pandangannya. Pria itu segera beranjak dari depan nisan tempat ia tadi berdoa.

“Sudah lebih dari tujuh tahun kita tak berjumpa, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja.”

“Sudah lama aku tak mendengar kabarmu sejak…”

“Aku melanjutkan kuliah kedokteran di Seoul,” potong pria itu cepat. Tak ingin membangkitkan memori lama yang tersembunyi rapat dalam pikirannya.

“Yunho, aku… Aku akan menikah.”

Hening.

Lama pria bernama Jung Yunho itu diam saja. Perlahan ujung bibirnya terangkat di kedua sisi. Ia tersenyum. “Apa dia baik?”

“Iya, dia baik. Baik sekali.”

“Syukurlah kalau begitu.” Hening lagi. “Aku harus pergi…”

“Baiklah.”

Yunho memutar badannya saat namanya kembali di panggil, “kuharap kita masih bisa bertemu lagi.”

Yunho hanya tersenyum singkat seraya menganggukkan kepalanya. Dan kembali berpaling. Sementara dirinya hanya bisa tersenyum pilu memandang langit. Dan tiba-tiba air mata jatuh di pipinya.

***

Seven Year’s Ago

“Aku mencintainya. Kau tak keberatan jika kukatakan padanya bukan, hyung?”

Hari itu matahari bersinar terik, namun udara di pesisir pantai sedikit lebih dingin dari biasanya. Junsu tiba-tiba bilang kalau ia menyukai Jejung.

“Itu bukan urusanku,” jawab Yunho datar.

Junsu tersenyum dan berkata, “kalau begitu aku akan bilang padanya besok.”

***

Pintu rawat terbuka. Seorang dokter menghampiri Yunho yang kini sedang terbaring di ranjang dengan kepala terbalut perban. Melihat dokter tersebut Yunho segera bangkit dan duduk di ranjangnya.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Yunho khawatir.

“Dia ingin bicara denganmu, ruangannya tepat di sebelah.”

“Hyung,” Junsu membuka masker oksigen dan memaksakan dirinya untuk tersenyum ketika melihat Yunho datang dengan langkah tertatih. Perban membalut kepala dan lengannya.

“Junsu, kau tak apa-apa kan? Mengapa tubuhmu di balut sebanyak ini? Apa kau terluka parah?” Yunho mencecar Junsu dengan pertanyaan. Kekhawatiran tercermin jelas dari raut wajahnya. Yunho menutup wajah dengan kedua tangan, “Junsu, maafkan aku. Semua ini salahku.”

“Bodoh, kan aku yang menyuruhmu bawa motor cepat-cepat,” ujar Junsu.

Hening sejenak.

Hyung…”

Yunho mengangkat kepalanya.

Dengan sisa tenaga Junsu menyerahkan sebuah amplop pada Yunho.

“Apa ini?”

“Bacakan untukku ya? Surat itu dari Jejung Hyung, katanya jawaban atas pernyataan cintaku kemarin. Kalau tak mengetahui isinya, aku pasti tak akan bisa tenang sampai mati.”

“Jangan bicara sembarangan kau ini. Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk mati duluan?” emosi Yunho tersulut.

“Kumohon, Hyung…”

Yunho membuka amplop lusuh tersebut. Seluruh tubuhnya menegang membaca isi surat tersebut.

“Apa isinya?” tanya Junsu penasaran. Melihat ekspresi wajah Yunho, Junsu kembali berkata sambil tetap menahan senyum di wajahnya sebisa mungkin, “ternyata aku memang ditolak yah?”

Jejung tergesa-gesa keluar dari dalam taksi dan segera berhambur masuk kedalam rumah sakit. Ia berlarian di koridor, jantungnya beredegup kencang setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Junsu dan Yunho.

Pintu ruang rawat Junsu tak tertutup. Jejung langsung merasa lega melihat Yunho berada di dalam ruangan itu baik-baik saja. Namun langkah kakinya tiba-tiba berhenti di ambang pintu saat mendengar Yunho mengatakan sesuatu pada Junsu.

“Katanya Jejung Hyung juga mencintaimu Junsu…”

Jejung tak bergeming. Tubuhnya seakan kaku. Bukan itu.

Isi suratnya…

Hyung… Jae Hyung,” panggil Junsu pada Jejung yang saat ini berdiri di belakang tubuh Yunho.

Terkejut. Yunho segera memutar badannya. Menyaksikan gurat kecewa di wajah Jejung membuat dadanya terasa sesak.

“Jejung Hyung,” panggil Junsu lagi. Jejung berjalan menghampiri Junsu, “terima kasih ya.”

Tapi belum sempat Jejung ke sisinya, mesin pengendali jantung tiba-tiba berbunyi keras. Saat itu Junsu telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Jejung termenung di pinggir ranjang yang di tiduri Junsu. Semua sarafnya seakan lumpuh. Otaknya tak sanggup mencerna. Ia berusaha mempertajam pendengarannya di antara bunyi bising mesin jantung, tapi Junsu tak lagi mengucapkan apa-apa.

Pria itu diam. Seperti sedang tertidur. Wajah tampannya terlihat damai. Beberapa detik kemudian, air mata merembes keluar. Jejung menjerit meminta Junsu kembali padanya. Ia mengguncang-guncang tubuh Junsu, namun lelaki itu tetap bergeming.

Untuk Junsu

Maaf, tapi aku mencintai Yunho.

 ***

Sepuluh hari semenjak kematian Junsu, Yunho tak lagi pernah kelihatan. Jejung merindukannya. Maka ia datang ke pantai tempat mereka biasa menghabiskan waktu, dan menemukan Yunho disana.

Lelaki itu sedang termenung memandang laut luas. Entah kemana pikirannya berlabuh. Namun tatapannya kosong, seakan jiwanya sedang berkelana.

“Sudah kuduga, kamu disini.”

Yunho berpaling menatap Jejung. Wajahnya tanpa ekspresi. Tatapannya murung. Melihat itu membuat hati Jejung semakin sedih.

“Kebetulan kau datang, Hyung. Ini…” Yunho menyerahkan surat pemberian Jejung untuk Junsu kepadanya. “Surat yang kau tulis untuk Junsu, kukembalikan.”

“Katanya Jejung Hyung juga mencintaimu Junsu…”

“Aku…” Jejung ragu-ragu buka suara. “Menyukaimu Yunho.”

“Bagiku, Hyung dan Junsu sama-sama berharga… Bagaimanapun aku ingin tetap menjaga persahabatan kita bertiga.”

Air mata mengenang di pelupuk mata Jejung.

“Kalau memikirkan soal Junsu… Aku tak akan bisa… Bersamamu!”

Jejung masih membisu.

“Junsu, dia benar-benar menyukaimu, Hyung. Karena itu, maaf.”

Dengan linangan air mata di wajah serta suara serak akibat menahan tangis Jejung akhirnya berkata, “iya. Aku mengerti.”

***

Setelah hari itu Yunho pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya.

Meskipun begitu setiap hari peringatan kematian Junsu. Selalu ada bunga di makamnya. Lebih cepat dari siapa pun.

Itu merupakan bukti…

Bahwa Yunho masih hidup di suatu tempat!

* * *

“Sudah lebih dari tujuh tahun kita tak berjumpa, kamu baik-baik saja? Sekali-kali hubungilah keluargamu, orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu! Sekarang aku kerja di dekat sini, kalau kamu Yunho, bagaimana? Sekarang sudah lulus?”

“Aku, bekerja sambil belajar… Di sekolah kedokteran!”

Bagai tersengat arus listrik.

“Karena mengulang, aku kini masih di semester satu…”

“Yunho hyung, kamu bisa jadi dokter lho… Pasti keren!”

Tatapan Jejung meredup, hatinya yang tadi sakit kini mulai menghangat, menyadari bahwa ternyata di hati Yunho, Junsu sahabat mereka masih hidup. “Ternyata, Junsu masih hidup di dalam hatimu, aku senang mendengarnya…”

“Kalau begitu jaga diri baik-baik yah…”

“Kau juga, yang semangat belajarnya.”

“Iya.”

“Yunho, aku… Aku akan menikah.”

Hati Yunho remuk redam. Bibirnya tersenyum namun terasa pahit. Lelaki yang ia cintai akan segera menikah. “Apakah… dia baik?” tanya Yunho kelu.

“Iya. Dia baik sekali.”

“Syukurlah.”

“Mungkin… sedikit mirip denganmu, Yunho.”

“Begitu ya…”

Jejung tak kuasa menahan rasa pedih di hatinya. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menelan kembali air matanya sebelum jatuh di pipinya.

Yunho juga nampak tak bergeming. Ekspresinya sekeras batu, tak dapat terbaca.

“Aku harus pergi…”

“Baiklah.”

Yunho memutar badannya saat namanya kembali di panggil, “kuharap kita masih bisa bertemu lagi.”

Setelah berkata demikian Jejung segera berjalan menjauh, berlawanan arah dengan jalur yang di tempuh Yunho. Tanpa sadar Yunho menghentikan langkahnya dan kembali memandang punggung Jejung yang perlahan menjauh dengan hati perih.

***

Teng!

Teng!

Suara lonceng katedral berbunyi berkali-kali. Wajah Jejung di penuhi dengan tawa bahagia. Ketika ia masuk kedalam limusin, sekilas nampak bayangan seseorang di balik pohon.

Pintu mobil tertutup, Jejung tak mempercayai penglihatannya yang menampilkan Yunho tengah bersandar pada batang pohon dekat katedral tersebut. Dada Jejung berdegup kencang saat Yunho membuka mulutnya seakan berbisik. Dan ia tersenyum, tatapannya terlihat teduh dan membahagiakan.

Air mata mengalir lagi di wajahnya. Roda limusin bergulir perlahan, pelan-pelan meninggalkan bayangan Yunho hingga tak terlihat lagi di belakang. Jejung terisak dalam pelukan orang yang akan mendampinginya seumur hidupnya.

Perasaanku dulu…

Saat ini pun tetap bersinar!

Karena aku…

Benar-benar mencintainya!

“Semoga bahagia… Jae Hyung”

-The End-

4 thoughts on “[YunJaeSu] Everlasting

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s