Diary; Simple Thing


Author      : Han Hyema (IRF)

Tittle          : Diary : Simple Thing

Main Cast : Marcelina (OC) and Sehun (EXO-K)

Genre         : Romance

Rating         : PG-13

Length       : Oneshoot

Disclaiminer : The story is mine. The cast on my story belong to god. Cr-pic to ‘baltyra’

DON’T LIKE DON’T READ! PLEASE DON’T BE SIDERS!

♥Happy Reading♥

Ada kalanya aku merasa jenuh. Jenuh sama aktivitas yang itu-itu aja. Simple tapi ya begitulah. Pengen ngerasain yang lebih rumit. Supaya rasanya punya pelangi di dalam jiwa. Tapi serumit apapun, aku gak berharap kayak teman-teman yang sampai kelimpungan sama masalahnya sendiri.

Simple tapi bisa bikin sesuatu jadi berarti. Contohnya cinta. Kadang orang bilang cinta itu rumit, tapi serumit-rumitnya cinta asalnya sih sederhana. Kayak dia. Aku menengok ke selasar sebelah tempat anak-anak social pada ngumpul. Salah satu diantara mereka ada anak pindahan dari Korea. Korea? Kedengeran gimana gitu. Haha. Waktu pertama kali denger itu kabar, aku langsung ngebayangin boyband Korea ala Super Sunior, SHINee, sampai yang paling baru B.A.P yang punya perawakan putih tinggi sama ganteng-ganteng.

Pas ketemu ya bener aja. Ganteng? Iya. Tinggi? jangan di tanya. Putih? Kayak mayat hidup. Tapi kelakuan? Super sadis! Temanku pernah diomeli gara-gara masalah sepele. Tapi untungnya dia ngomel pake bahasa Korea yang untung kita disini gak pada tahu artinya. Bisa jadi kalau pada tahu, uh meletuslah perang antar kompleks kelas. SOSIAL VS SAINS. Gak lucu kan?

Sekolah itu adalah hal simple kedua yang ternyata di bikin rumit sama warganya sendiri. Mulai dari tugas sampai pr yang kadang pada mogok buat ngerjain. Guru, juga jadi factor sih. Tapi buatku guru galak lebih nyenengin di banding guru yang super lembut. Faktor yang bikin lebih menyenangkan ya karena kita bisa fokus sama pelajaran dan takut buat melakukan kesalahan.

Rumah. Jangan ditanya untuk satu hal ini. Ini adalah hal rumit yang di anggap simple sama sebagian orang. Jujur ini masalah kompleks yang gak bisa di uraikan satu per satu.

Kembali ke masalah cinta. Udah beberapa bulan itu murid baru jadi bahan gossip anak-anak seantero sekolah. Yang bikin geregetnya itu. Playboy abis. Itu adalah hal rumit ke sekian yang di anggap simple.

Eh yang bikin ngeselinnya lagi. Dia pura-pura gak ngerti Bahasa Inggris kalau di tanya pelajaran yang susah. Di tanya Bahasa Inggris aja pura-pura gak tau, apalagi Bahasa Indonesia yang ternyata jago punya.

Tapi di balik itu semua, dia ternyata punya sisi baik.

“Kau baik-baik saja?” Kepalaku pusing. Sungguh aku merasa dunia berputar-putar.

“Aku baik” Aku mengedutkan kedua mataku. Masih terasa pening.

“Lina-ya, don’t lie with me!” Aku merasakan ada yang memegang bahuku. Mungkin lebih tepatnya menyandarkanku pada tangannya. Dan aku pun tak tahu apa-apa lagi.

Kepalaku terasa basah. Mataku mengerjap. Aku bangun. Ternyata tanganku terikat dan ada sebuah kain kompres yang jatuh saat aku bangun tadi. Aku melihat sekeliling. Sekarang aku sedang berada di ruangan serba putih. Astaga! Rumah sakit?

“Lina-ya, gwecanayo?” Aku menoleh ke sumber suara. Astaga! Mataku membulat. Kenapa orang itu ada di sini?

“Sehun? What are you doing in here?” Ia tertawa.

“Kau pingsan. Ingat?” Aku berfikir sejenak dan aku menepuk jidatku sendiri

“Jangan bilang kau yang membawaku kemari?” Sehun mengangguk.

“Siapa lagi? Hanya aku yang ada di sini” Ucapnya enteng.

“Aku ingin pulang” Aku turun dari ranjang tapi keseimbanganku oleng. Aku terjatuh tapi sebelum itu terjadi Sehun sudah berada di belakangku dan menyangga tubuhku.

“Kau harus istirahat, arachi?” Ia membantuku berdiri. Aku bingung.

“Kau sedang sakit sekarang. Dokter menyuruhku untuk menahanmu beberapa hari di sini.” Aku mengok ke arahnya. Ia tersenyum ramah padaku. Tak seperti biasanya. Ia begitu berbeda.

Sehun menuntunku  kembali ke ranjang. Aku hanya menurut karena badanku tak bisa di ajak kerjasama.

“Aku minta nomor orangtuamu. Dokter menyuruhku menghubungi mereka” Aku terdiam sesaat. Nomor orangtua ya? Tapi walaupun ia menghubungi orangtuaku. Mereka tidak akan menggubrisnya.

“Dimana tasku?” Ia menunjuk ke arah sofa.

“Di saku depan. Cari dengan nama papa dan mama” Aku membaringkan tubuhku ke ranjang dan memilih memunggungi Sehun yang berbicara dengan ke dua orangtuaku. Orangtua yang tak pernah memperhatikan anaknya adalah hal rumit yang disimplekan kedua orangtuaku dan aku benci itu.

Sejak penyelamatan heroiknya itu. Aku mulai dekat dengannya. Bukan dalam hal hubungan cinta. Namun hanya sebagai teman yang perlu di jaga dan teman yang menjaga. Aku salah sangka mengira orangtuaku tidak akan menggubris panggilan Sehun tentang aku di rawat di rumah sakit. Mereka ternyata berduyun-duyun ke rumah sakit dengan cepatnya. Entah apa yang di katakan Sehun waktu itu. Namun aku berterimakasih padanya.

Karena hal itu pula, orangtuaku menyerahkanku pada makhluk itu. Sedangkan protesku hanya masuk ke tong sampah dan di anggap sebagai spam. Aku memutar mataku dan makhluk itu hanya cengengesan di belakangku.

Hal menarik juga terjadi di sekolah. Teman-temanku melongo melihat ada bodyguard yang setia menempel di belakangku. Siapa lagi coba kalau bukan Sehun.

Bahkan banyak bashing yang melayang ke arahku. Rata-rata itu dari para penggemar Sehun yang ternyata udah bikin fanpage di Facebook. Aduh lebaynya!

Aku pernah coba kabur dari Sehun namun sialnya selalu gagal. Bocah itu ternyata punya banyak mata-mata dan aku semakan curiga. Kenapa dia begitu menyebalkan?!!

Parahnya lagi teman-temanku mulai mengintrogasiku. Mereka bertanya apakah aku ada hubungan dengan makhluk itu. Otomatis aku bilang tidak. Namun sialnya mereka tak percaya. Dan ketika aku bilang karena kedua orangtuaku. Mereka semakan tidak percaya. AHHH!! Aku frustasi!

Tapi hari ini terasa aneh. Sehun tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Ia menghilang dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Suasana sekolah pun tenang karena tidak ada dia. Aku bahagia!

Tapi siapa sangka ia ternyata mendekam di kolam ikan belakang rumahku. Dan dengan seenak jidatnya tiduran di bangku panjang kesayanganku. Aku meledeknya seperti biasa dan dia hanya diam. Aku ledek lagi dan dia malah, APA? TIDUR!

“Ya, Sehun!!” Aku mengguncang-guncang tubuhnya. Ia menggeliat dan memegang tanganku. Otomatis aku meronta mencoba melepaskannya.

“Apa kau tak kangen denganku?” Tanyanya dengan mata tertutup dan masih tetap menggenggam tanganku.

“Apa? Kangen?” Aku bingung. Entah ada sesuatu dengan kata ‘kangen’ itu. Tapi aku tidak tahu.

“Jawab pertanyaanku. Lina-ya” Aku terdiam dan aku mulai berfikir kangen gak ya?

“Of course not” Otomatis tidak, karena hidupku malah bahagia tidak ada makhluk itu.

“Oh” Ia melepaskan tanganku dengan wajah lesu. Ia bangkit dan pergi begitu saja. Aku jadi berfikir, ada apa dengannya?

Sejak saat itu, aku tidak pernah mendengar lagi kabar tentangnya. Dia menghilang begitu saja tanpa kembali. Dan terhitung sejak saat itu sudah dua tahun ia menghilang.

Selepas ia pergi ada satu hal yang aku ketahui tentang Sehun dari kedua orangtuaku. Ia adalah sahabat kecilku yang biasa aku panggil bunbun. Bunbun itu asal kata dari hunhun, tapi aku memanggilnya bunbun. Mengingat hal itu aku jadi tertawa. Ternyata ia adalah bunbunku yang menghilang ketika kecil. Aku ingat sosoknya yang begitu ceria dan janjinya yang akan .. Oh maafkan aku.

Seketika aku menangis. Seandainya aku tahu dia adalah bunbun maka dia tidak akan pergi seperti ini. Dan ketika dia bertanya padaku ‘Apa kau tak kangen denganku?’ maka saat itu juga aku akan berkata aku sangat merindukanmu. Kangen? Tentu saja.

Aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Serasa sakit karena ada hal yang mengganjal di hatiku. Aku memegang dadaku sambil menangis. Kau kejam tidak pernah mengatakan kau adalah bunbun.

Tangisku terhenti saar ada orang yang mengecup pipiku. Dia sekarang merangkulku dari belakang.

“Gwecanayo Marcelina. I’m here” Aku kaget. Sontak saja kau memeluknya.

“Benar yang aku kira. Kau pasti akan merindukanku!” Ucap Sehun bangganya. Ya!! Sehun bodoh! Kalau kau bukan bunbun, aku tidak akan pernah merindukanmu!

Aku terus memukul lengannya. Dia terus berteriak kesakitan. “Bunbunie kau KEJAM!!” Ia berteriak sambil tertawa. Dasar kau makhluk menyebalkan!

Dan dia pun kembali. Sehun pun kembali. Entah ada perasaan apa yang membuatku merasa senang ia kembali. Tapi yang aku yakankan, perasaan itu adalah perasaan kangen untuk bunbun kecilku dan bukan untuk bunbun dewasa yang menyebalkan itu. Tapi tidak bagi Sehun yang menganggap ini cinta. Cinta ya? Hal simple yang bisa menjadi rumit. Apa itu yang terjadi denganku? Entahlah.

Aku tertawa tipis. Cinta? Sigh. Aku tutup buku harianku dan terus memikirkan antara Sehun dan Cinta. Apa itu mungkin?

≈FIN≈

Saya ingin bertanya gajekah? Mian kalau kurang memuaskan. Saya harap tulisan saya sudah cukup layak untuk dibaca. Di mohon RCL dan kritik sarannya ya?

3 thoughts on “Diary; Simple Thing

  1. 🙄
    agak bingung juga nih😆
    mungkin onnie yang otaknya lagi gak beres wkwkwk~
    tapi ya ampun, enak banget tuh si Lina.
    emang Sehun waktu kecil tinggal di indo? kok gak pernah kedengeran kabarnya? #plakk😀

  2. Hehehe, ne maaf kalo gak bagus. Soalnya nih tulisan emang nyeleseinnya malam banget dan cepet pula. Jeongmal mianhaeyo ya? huhu

    @Gita eon, hehe emang gak pernah eon. Cuma otakku aja yang pengin ngebuat sehun tinggal di indo.
    @Idzinimitsali, annyyeong ddo, emang iya eon, ini tulisan kependekan buat oneshoot. Rencana asli mau bikin ficlet. Eh kepanjangan, jadinya oneshoot yang kependekan.😄

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s