Music and Lyric [chap. 3]


Title : Music and Lyric [chap. 3]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung, Jessica Jung, Choi Minho, Choi Siwon.

Other cast : Luna Park, Choi Sulli, Amber Liu.

Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin and other.

Type : Chapter

 

 

Yaps, selamat membaca chapter ketiga ini, ya. semoga kalian suka🙂

“Krys!!!”

Minho menjatuhakan ransel  dan melepas sepatunya ketika sadar bahwa kepala yang tadi muncul adalah milik Krystal. Tanpa pikir panjang, dia langsung meluncur ke kolam renang untuk membantu Krystal yang sekarang sudah melayang dan hampir berada di dasar kolam renang. Setelah meraih tubuh Krystal, Minho menarik tubuh itu ke permukaan. Dilihatnya Krystal sudah menutup mata. Minho segera membaringkan tubuh Krystal di lantai dan menyibakan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah yeoja itu.

“Krys! Bangun Krys!” Minho menepuk-nepuk pipi Krystal pelan dengan napas memburu. Antara kelelahan karena menyelam sekitar 350 meter dan ketakutan akan terjadi sesuatu pada Krystal. Tapi yeoja itu tidak menjawab.  Minho mendongakkan kepala dan dagu Krystal untuk membuka jalan napas.  Dia meletakkan pangkal telapak tangannya di pertengahan dada Krystal dan meletakan tangan yang lain di atas punggung tangan yang satunya. Dia menekan dada Krystal beberapa kali. Tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya Minho mendekatkan wajahnya kepada wajah Krystal sambil menutup hidung Krystal. Bibirnya menutupi mulut Krystal dengan erat dan mulai meniupkan udara. Setelah beberapa kali Minho meniupkan udara, dada Krystal pelahan mulai bergerak terangkat dan mulutnya mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya.

Minho langsung menghempaskan tubuhnya di lantai ketika melihat Krystal membuka matanya, merasa lega. Krystal masih terus terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air kolam. Setelah Krystal berhenti terbatuk-batuk, Minho memegang bahu Krystal untuk membantunya bangun, tetapi yeoja itu langsung meringis dan menundukan kepalanya.

Gwencahnha?” Tanya Minho  sambil menyentuh pipi Krystal. (Kau baik-baik saja?)

“Sakit. Tadi aku kram.” Jawan Krystal tanpa memperdulikan jarak wajahnya yang sekarang sudah sangat dekat dengan Minho.

Minho menurunkan tangannya yang tadi memegang bahu Krystal ke pinggang dan membantu yeoja itu untuk duduk di kursi.

 

 

OMONA!?!” Shin ahjumma langsung memekik ketika dia melihat Krystal pulang dengan dipapah Minho. (Astaga!)

“Sstttt!” Minho menyuruh Shin ahjumma untuk diam. Takut kalau nyonya Jung atau kedua kakak mereka mendengar teriakan Shin ahjumma.

Wae irae?!” Shin ahjumma tidak memperdulikan Minho. (Apa yang terjadi?)

“Tadi dia tenggelam.” Jawab Minho, Krystal hanya tersenyum lemah ketika Shin ahjumma menatapnya kaget. Dia merasa ini sesuatu paling bodoh yang pernah terjadi pada dirinya.

Agassi, gwenchana?” Tanya Shin ahjumma sambil memperhatikan Krystal. (Nona tidak apa-apa?)

Ne ahjumma, nan gwenchanha.” (Iya bi, aku tidak apa-apa.)

“Tidak ada siapa-siapa?” Tanya Minho.

“Iya. Semua orang pergi.”

“Ahjumma, bisakah buatkan susu untuk Krystal? Eh, tidak-tidak, teh saja! Aku lupa dia benci susu.” Minho meminta tolong.

Krystal menatap Minho, “Darimana dia tahu aku benci susu?” Batinnya.

“Aku mengantar Krystal ke kamar dulu.” Ujar Minho lagi dan Shin ahjumma bergegas menuju dapur untuk membuatkan teh.

Krystal hanya pasrah tubuhnya dipapah Minho ke kamar. Sebetulnya Krystal tidak apa-apa, sakit di bahunya-pun sudah lama hilang setelah dia mandi di sekolah tadi. Dia hanya kaget dan hal itu membuat tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Kram mungkin menjadi hal yang biasa dilalui Krystal mengingat dia sangat menyukai olahraga renang, tapi mengalami kram di kolam renang saat keadaan sendirian dan menyebabkan dia pingsan seperti tadi, itu adalah kali pertamanya.

Minho mendudukan Krystal di tempat tidur setelah sampai di kamar. Dia juga tak lupa  meletakan tas Krystal yang tadi dibawanya di meja belajar.

“Istirahatlah!” Katanya singkat sambil berjalan menuju pintu.

“Ajjushi..” Panggil Krystal ketika Minho sudah membuka pintu kamarnya bersiap keluar.

“Wae?”

Gomawo..” Ucap Krystal sambil menunduk. (Terimakasih.)

Minho menjawabnya dengan senyuman, “Lain kali, jangan lagi berenang sendirian!” Ujar Minho sebelum akhirnya menutup pintu.

 

 

Krystal terbangun ketika jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Dia tertidur setelah meminum teh yang dibuatkan oleh Shin ahjumma. Dia menyibakan selimutnya dan melihat tubuhnya masih terbalut seragam sekolah. Dia bangkit dan berjalan ke lemari untuk mengambil baju untuk mengganti seragamnya.

Setelah tubuhnya terbalut baju tidur, dia berjalan ke meja rias untuk menyimpan jam tangannya. Dia melihat ipod-nya sudah berada disana. Disamping parfume-nya yang beraroma buah cherry.

“Kenapa tiba-tiba ada disini? Kapan dia mengembalikannya?” Ucap Krystal pelan sambil menyimpan jam tangannya di laci.

Karena tidak ada yang dia lakukan, dia akhirnya mengambil ipod-nya dan berjalan ke sofa. Dia memasang earphone dan menyalakan benda itu. Layar ipod-nya berada dalam keadaan main menu. Dia memilih folder musik. Disana terdapat beberapa folder, ‘barat’, ‘Korea’, ‘vokal grup’, dan folder-folder lain.

Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada satu folder yang terasa asing, nama folder itu adalah ‘untuk Krystal’. Rasa penasarannya membuncah dan membuatnya membuka folder itu. Setelah dibuka, terdapat tiga lagu disana. Saat melihat lagu pertama, Krystal seketika tahu bahwa folder itu dibuat oleh Minho. Lagu pertama adalah lagu Simple Plan yang kemarin Minho janjikan. Lagu kedua langsung menarik perhatian Krystal, lagu itu berjudul Sorry, Blame It On Me yang dinyanyikan oleh Akon. Krystal menekan tombol play dan mulai mendengarkan.

“I realize everything i do is affecting the people around me… So i want to take this time out and apologize for things i have done…”

Akon memulai lagu itu dengan sebuah narasi. Baru kemudian suaranya yang khas terdengar.

“I’m sorry for the fact that i am not aware… I’m sorry for the times i would neglect… I’m sorry for the times i disrespect… I’m sorry for the wrong things that i’ve done… I’m sorry for the fact that i did not know…”

Entah kenapa, Krystal merasa bahwa yang menyanyikan lagu ini bukanlah Akon. Melainkan… Minho. Dia merasa bahwa namja itu sedang meminta maaf padanya.

“All the pain you kept inside you… Even though you might not show.. if i can apologize for being wrong.. Then it’s just a shame on me… I’ll be the reason for your pain and you can put the blame on me…”

Iya. Namja itu benar-benar sedang meminta maaf padanya.

Lagu akon tersebut berhenti sekitar dua menit kemudian dan langsung berganti ke lagu ketiga. Krystal melihat ke layar ipod-nya.

David Archuleta – Things Gonna Get Better

Krystal mendengarkan lagu itu dengan seksama. Dia penasaran apa yang akan disampaikan Minho dalam lagu ini.

“Cause I know, it’s hard to have the strength… And sometimes, all you feel is pain… But things keep floating by on that river in the night… But I know things are gonna get better… And I know things are gonna be fine… And I know things are gonna get better… Life is gonna get better… Yeah we’re gonna be fine.”

Krystal tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Tapi yang jelas, dua lagu ini meyakinkan dia. Dia tiba-tiba yakin bahwa semuanya memang akan baik-baik saja walaupun dia tidak mengingat apapun. Dia juga tiba-tiba yakin bahwa namja yang memintanya untuk mendengarkan lagu ini adalah orang yang sangat dekat dengannya dulu.

Lagu itu berhenti tepat saat pintu kamarnya terbuka. Jessica masuk dengan tangan menjinjing tas yang penuh dengan kain diikuti seseorang yang membawa boneka manekin. Seseorang itu adalah Siwon.

“Simpan di meja saja, oppa.” Jessica menunjuk ke arah meja di depan sofa yang diduduki Krystal. Krystal memperhatikan Siwon yang membawa manekin itu hanya dengan satu tangannya.

“Hai, Krys!” Siwon menyapa Krystal setelah meletakan manekin milik Jessica diatas meja. Krystal tersenyum membalas sapaan Siwon.

“Sudah, kan? Aku ke kamar, ya!” Ujar Siwon.

“Oke. Gomawo oppa.” Ucap  Jessica sambil tersenyum manis pada Siwon. Siwon mengangguk kemudian berjalan keluar.

Krystal memandang kakaknya yang sedang membereskan barang-barang dalam diam.

“Apa?” Tanya Jessica yang ternyata sadar diperhatikan.

“Bukankah tadi eonni bilang tidak ada kuliah?”

“Memang tidak ada. Aku tadi hanya menjemput Siwon oppa di kampus dan mengambil manekin ini di lab.” Jelas Jessica.

“Eonni benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Siwon oppa?”

Ne?” Jessica menghentikan kegiatannya. “ Keuge musun suriya? Wae neo gabjagi?” Jawab Jessica sambil tertawa tertahan. (Apa? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?)

“Eonni, marhaebwa!” Krystal sekarang duduk di meja belajarnya agar lebih dekat dengan Jessica.

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Krys. Kenapa memangnya? Kau masih suka padanya?”

NE?? Naega eonje? Aku hanya bertanya.” Krystal histeris. (Apa? Kapan aku bilang begitu?)

“Kau tidak ingat kalau dulu kau pernah marah-marah padaku karena dia menolongku saat aku terjatuh? Kau bilang dia hanya milikmu. Hahaha…, kau benar-benar menyeramkan waktu itu.

Jinjjayo?” Tanya Krystal takjub. (Benarkah?)

“Apa untungnya aku berbohong padamu!” Jawab Jessica sambil menyentil kening adiknya pelan.

“Aku tidak ingat.”

“Waktu itu kau dan Minho kelas 2 SD, aku kelas 4, dan Siwon oppa kelas 5. Sudah pasti kau tidak ingat. Aku dan Siwon oppa masih ingat karena kita selalu membicarakannya saat chatting dulu.”

“NEEE?? Siwon oppa masih ingat? Aaaah eottokhae? Jeongmal pudonada.” Krystal sekarang sibuk mengacak-acak rambutnya, merasa malu. (Bagaimana ini? Benar-benar memalukan.)

“Hahaha… Tenang saja, dia menganggap itu sebagai leluconmu waktu kecil. Dia tidak menganggapnya serius. Kecuali kalau kau sekarang benar-benar menyukainya.”

“Tentu saja tidak!” Bantah Krystal langsung, “Keuntae eonni, uriga jeongmal geudeulgwa gakkab janha?” (Tapi kak, apa kita benar-benar dekat dengan mereka?)

Jessica tersenyum, “Percayalah, tidak ada yang lebih mengenal kita daripada mereka.” Jawab yeoja itu sambil mengikat rambutnya, siap bergelut dengan kain sutera dan jarum-jarum yang baru dibawanya.

“Krys, bisa aku minta tolong ambilkan minum?” Tanya Jessica sambil memperlihatkan wajah manja pada adiknya.

“Arasseo.” Jawab Krystal lalu bergegas keluar.

Krystal berjalan keluar sambil memikirkan apa yang dikatakan kakaknya tadi. Kakaknya memang tidak pernah berbohong padanya.

Langkah Krystal terhenti ketika melihat seseorang sedang duduk di kursi taman sambil membaca komik ditemani lampu taman yang temaram.

Entah ada kekuatan magis apa, langkah Krystal malah berbelok menuju taman, bukan lagi menuju dapur. Dia berjalan mendekati Minho yang sedang tertawa terbahak-bahak karena bacaannya.

“Oh, gabjagiya!” Minho langsung menutup komiknya dengan wajah kaget, membuat Krystal tertawa. (Semacam ungkapan kaget seperti astaga.)

“Kau mengagetkan saja, Krys!” Ujar Minho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu sendiri.

“Kau seperti baru kepergok membaca majalah porno.” Jawab Krystal tak mau kalah sambil duduk di hadapan Minho.

“Enak saja! Aku membaca Slam Dunk!” Minho memamerkan komik yang tengah dipegangnya pada Krystal.

Krystal mengangguk, menandakan dia tahu.

“Kau baik-baik saja? Bagaimana bahumu?” Tanya Minho sambil memperhatikan sekujur tubuh Krystal.

“Iya, aku baik-baik saja.” Jawabnya, “Em, terimakasih, ya.”

“Kau kan tadi sudah berterimakasih.”

“Bukan, ini terimakasih yang lain.” Jawab Krystal yang membuat kening Minho berkerut. “Lagu yang kau berikan.” Jelasnya.

“Aaaaah. Keugeyo? Shin ahjumma sudah memberikannya padamu?” (Soal itu?)

“Ne? Shin ahjumma? Jadi yang menyimpan itu dikamarku Shin ahjumma? Aku pikir kau.”

“Iya, tadi pagi aku memintanya untuk menyimpannya di kamarmu. Kau pikir aku berani masuk kandang singa?” Ujar Minho sambil bergidig ngeri menatap Krystal.

“Buktinya tadi kau masuk kamarku!”

“Itu karena sang singa baru saja basah kuyup setelah tenggelam!” Jawab Minho menggoda.

Krystal tersenyum mendengarnya, “Pokoknya terimakasih, ya.”

“Sama-sama. Maaf aku tidak memberikannya sendiri.”

“Aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak mempercayaimu, tidak mengingatmu, dan tidak menerima permintaan maafmu kemarin.”

Gwenchanha. Aku tahu sejak dulu kau memang seperti ini, Krys.” (Tenang saja.)

Ucapan Minho membuat Krystal benar-benar percaya sepenuhnya pada Jessica. Dia memang orang yang keras. Banyak orang yang membenci sifatnya itu. Biasanya hanya orang-orang terdekatnya yang mengerti dan memaklumi karena mereka sudah mengenal sifat baik Krystal. Melihat kemakluman Minho, dia tahu bahwa kakaknya benar. Namja itu dulu memang dekat dengannya.

“Aku juga sebenarnya belum mengingatmu.” Ucap Krystal jujur, “Otakku sepertinya kehilangan kemampuan mengingat. Hahaha.. Tapi, aku rasa aku sudah mulai mempercayaimu.”

Minho terdiam mendengar kalimat terakhir Krystal. Dia sudah sering mendengar orang mengatakan itu. Mengumbar kata percaya padahal didalam diri masing-masing, mereka masih menebak-nebak apakah kepercayaan itu sudah diletakan pada tempat yang tepat atau belum. Dia juga sulit untuk mempercayai orang yang mengumbar kata percaya. Tapi, dia merasakan keyakinan pada suara Krystal.

“Jadi, sekarang kita berteman?” Tanya Minho.

Krystal tidak menjawab, dia hanya mengedikan bahu sambil berjalan masuk. Meninggalkan Minho yang masih menatap kepergiannya.

 

 

“Inilah penggagas ide kita, Choi Minho! Hey, ayo say hello pada kamera!” Suho menyambut Minho dan Krystal di depan pintu kelas mereka keesokan paginya.

“Kenapa camcorder-nya malah kau pegang?” Tanya Krystal bingung.

“Kalau semua diambil dari atas, itu akan membosankan. Lagipula, camcorder Sulli tadi sudah dipasang disana.” Jawab Suho sambil kembali mengarahkan camcorder-nya kepada Minho. “Yaa! Minho-ya! Ayo cepat!”

Minho hanya menatap kamera dengan wajah datar. Lalu beberapa saat kemudian tersenyum singkat dan segera menyingkirkan camcorder itu dari hadapannya. Membuat Krystal tersenyum, tak habis pikir dengan tinggkahnya.

“Yaa! Kau ini sok tampan sekali!” Suho berdecak.

“Aku bukan sok tampan. Tapi memang tampan!” Jawab Minho jenaka.

Suho sudah akan menjawab gurauan Minho tapi dia urungkan karena bel tanda masuk sudah berbunyi. Dia kemudian berjalan ke belakang untuk memasangkan camcorder-nya pada tripod yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.

Beberapa saat kemudian, guru mata pelajaran sejarah mereka datang. Krystal langsung menghembuskan napas malas. Krystal bukan tidak menyukai guru laki-laki bernama Kim Young Won ini. Dia hanya benci pelajarannya. Sejak dulu, dia memang tidak pandai dalam menghapal tahun terjadinya suatu kejadian. Jangankan ditanya kapan dan bagaimana kronologis terjadinya Perang Dunia, ditanya tentang kapan sekolahnya ini berdiri saja, dia pasti tidak bisa menjawabnya.

Dalam rapot ujian kenaikan kelasnya kemarin, dia mendapat nilai sejarah paling rendah. Hal itu terjadi bukan hanya karena dia yang mengalami hilang ingatan, tapi juga karena gurunya ini memberikan soal-soal yang dipelajari Krystal di kelas satu. Apa yang kemarin dipelajarinya saja dia tidak ingat, apalagi yang dia pelajari setahun yang lalu? Itulah yang membuatnya menganggap guru ini menyebalkan.

“Selamat pagi anak-anak!” Sapa Kim sonsaengnim sambil menyimpan buku-bukunya di meja.

“Selamat pagi, pak!!” Jawab anak-anak serentak.

“Hari ini, sebelum saya menerangkan tentang bab yang akan kita pelajari. Saya akan memberikan tugas bagi kalian. Sedikit matrikulasi karena kalian sudah bersantai dirumah selama dua minggu.”

Langsung terdengar suara riuh dari anak-anak.

“Tugasnya tidak terlalu sulit. Saya yakin kalian sudah mempelajari ini sebelumnya, tinggal memperdalamnya. Kalian hanya harus mengumpulkan makalah hasil riset kalian mengenai perpecahan Korea Utara dan Korea Selatan. Ini tugas kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang.”

Krystal langsung menghadap Sulli yang berada dibelakangnya, begitu pula dengan Amber yang langsung tersenyum penuh arti pada Luna. Krystal dan Amber tidak mungkin dipasangkan dalam pelajaran sejarah. Mereka sama-sama payah dalam mata pelajaran tersebut.

Kim sonsaengnim mengetukan penggaris besinya pada papan tulis ketika anak-anak langsung berebut memilih teman kelompok. “Tunggu dulu! Saya belum selesai bicara.” Ujarnya yang membuat anak-anak langsung menutup kembali mulut mereka.

“Karena saya tahu kalian hanya akan memilih teman yang dekat dengan kalian, saya sendiri yang akan membagi kelompok tersebut.”

Tuh, kan. Guru ini memang menyebalkan!” Batin Krystal.

Kim sonsaengnim mengambil buku absennya dan meneliti nama-nama yang ada disana.

“Jumlah murid laki-laki dan perempuan disini ternyata sama. Baiklah, saya akan membagi kalian menjadi pasangan.”

“Pasangan pertama, Amber Liu dengan Luhan.”

Amber memiringkan kepalanya, menimbang-nimbang. “Tidak terlalu buruk.” Ujarnya pelan.

“Byun Baekhyun dengan Park Jiyeon.”

“Choi Jinri dengan… Hmm sebentar.” Ujar Kim sonsaengnim, “Kim Kibum. Choi Jinri dengan Kim Kibum.”

Key langsung menatap Taemin sambil tersenyum merasa bersalah.

“Choi Minho dengan Jung Soo-Jung.”

Minho mengangguk mantap, tapi seketika langsung memasang wajah kaget.

“Hah? Siapa? Aku tadi dengan siapa?” Bisik Minho pada Key yang duduk disampingnya.

“Krystal.”

Minho langsung menatap Krystal yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu. Minho tersenyum senang. Setidaknya, mereka bisa mengerjakan ini dirumah.

Setelah Kim sonsaengnim menyebutkan namanya yang dipasangkan dengan Minho. Krystal tidak mendengar lagi apa yang gurunya itu katakan. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada perasaan aneh saat akhirnya Minho menatapnya setelah bertanya pada Key, dan dia tidak tahu apa itu.

“Saya memberikan waktu yang cukup lama untuk kalian. Satu bulan. Dengan catatan, kalian harus membuat itu semaksimal mungkin, setebal mungkin, dan sekreatif mungkin.” Itulah kalimat yang Krystal dengar sebelum akhirnya gurunya itu menjelaskan tentang bab pertama.

 

 

Selama dua minggu, baik Minho maupun Krystal tidak ada yang membicarakan soal makalah itu. Krystal lupa. Dia baru ingat tadi siang saat Luna yang ternyata berpasangan dengan Jonghyun membicarakan makalah itu dihadapannya.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Krystal mengetuk pintu kamar Minho yang sedikit terbuka. Tidak terdengar jawaban disana. Krystal akhirnya membuka pintu kamar itu sedikit lebih lebar untuk memungkinkan dirinya masuk.

“Ajjushi..” Panggil Krystal sambil memasuki ruangan yang besarnya setengah dari kamar miliknya dan Jessica. Tapi ternyata sosok yang dicarinya tidak ada disana.

Dia kemudian berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk pintunya sambil memanggil namja itu lagi, tapi sepertinya namja itu memang tidak ada.

“Kemana dia?” Ucap krystal pelan, terlebih untuk dirnya sendiri. Dia hendak keluar kamar ketika melihat rak yang berada dekat pintu. Dia mendekatinya. Rak itu terdiri dari 3 bagian. Rak bagian atas diisi oleh kotak-kotak film maupun album original dari band luar yang tak terhitung jumlahnya. Rak kedua terisi komik-komik karya Hisashi Matsuri. Kedua koleksi tadi sama sekali tidak aneh untuk seorang Minho. Tapi, ketika Krystal berjongkok mengamati isi rak bagian ketiga, dia melihat nama berbagai tokoh sejarah disana.

Krystal mengambil buku yang disusun paling atas.

BARACK H. OBAMA : THE UNAUTHORIZED BIOGRAPHY.

Dia kemudian mengambil lagi buku yang berada dibawah buku biografi presiden Amerika tadi.

“Syngman Rhee.” Krystal membaca judul buku itu kemudian mengangguk-angguk. Dia memang kesulitan menghapal soal tahun suatu kejadian. Tapi dia cukup cakap dalam mengingat tokoh-tokoh sejarah, termasuk Syangman Rhee. Syangman Rhee adalah presiden Korea Selatan yang pertama.

Ternyata dia suka biografi.” Ucap Krystal dalam hati.

“Krys, sedang apa?”

Suara itu kontan membuat Krystal telonjak dan menjatuhkan kedua buku yang sedang digenggamnya. Minho, yang baru datang sambil membawa ice cream langsung sigap menghampiri Krystal dan membantunya mengambil dua buku tadi.

“Eh.. Aku.. Ehm..” Krystal bingung sendiri menjawab pertanyaan Minho. Tapi hal itu terselamatkan karena Minho mengulurkan sebuah keresek kecil padanya.

“Apa ini?”

Ice cream kacang hijau.” Jawab namja itu sambil meletakan kembali bukunya.

“Makanlah! Aku memang membelinya untukmu.” Ujar Minho setelah melihat Krystal hanya diam memandangi keresek itu. “Kau mencariku pasti karena tugas makalah itu, ya?”

“Iya.” Jawab Krystal singkat karena sedang membuka bungkus ice cream-nya.

“Kapan mau mulai?”

“Sekarang saja, aku takut waktunya tidak cukup. Tinggal dua minggu. Kita kerjakan di taman, ya? Aku mengambil Laptop dulu.” Ujar Krystal sambil keluar dari kamar Minho. Minho juga langsung mengambil laptop serta buku-buku yang dia rasa dapat menyokong tugas mereka nanti.

Minho sampai di taman lebih dulu karena taman tersebut berada tepat didepan kamarnya, dia melihat ice cream yang tadi dibelinya untuk Krystal sudah ada di meja taman. Sepertinya Krystal tadi menyimpannya dulu disana.

Beberapa saat kemudiam, Krystal datang. Dia menyimpan laptop disebelah ice cream-nya. Dia memperhatikan Minho sejenak yang sudah membuka program microsoft word dan internet explorer. Krystal ikut membuka program tersebut dengan tambahan program winamp. Dia mengklik asal lagu yang sudah ada di playlist sambil melumat ice cream-nya. Setelah terdengar bunyi klik dua kali, langsung terdengar suara saxophone yang dibawakan oleh Dave Koz dari speaker laptop tersebut.

“Kau bisa belajar diiringi lagu, kan?” Tanya Krystal sambil menatap Minho.

“Sangat bisa.” Jawab namja itu sambil tersenyum. “Eh, Krys..”

“Hmm?” Krystal menatap minho dengan pandangan bertanya, bergumam karena mulutnya penuh ice cream.

Sorry.” Ucap Minho serasa meletakan ibu jarinya-di sudut bibir Krystal. Membuat yeoja itu membulatkan matanya. “Seperti anak kecil saja.” Minho tertawa.

Krystal hanya menunduk dan buru-buru mengetik kata kunci untuk mencari referensi di kolom bing.Berharap rona merah yang menjalar dipipinya tidak terlihat oleh Minho.

Lama tak ada yang bicara, mereka sibuk bergelut dengan situs google dan bing. Mengerutkan kening lalu menggeleng. Begitu seterusnya sampai suara sendal Jessica yang mempunyai sedikit hak terdengar dibelakang mereka.

“Kalian sedang apa?” Tanyanya dengan tatapan aneh.

“Mengerjakan tugas.” Krystal menjawab sambil menjatuhkan kepalanya pada keyboard laptop.Frustasi.

“Tugas sejarah?” Jessica memastikan setelah melirik buku-buku yang dibawa Minho tadi.

“Iya.” Sekarang giliran Minho yang menjawab. “Tapi kami kesulitan. Hasil pencarian di internet terlalu umum.”

“Kenapa kalian tidak cari di perpustakaan appa? Appa kan suka sekali sejarah.”

Krystal langsung menepuk keningnya, menghukum diri karena kebodohannya sendiri. Dia baru ingat kalau ayahnya suka sekali sejarah.

“Kalian pindahlah kesana, lagipula hari sudah mulai gelap. Memangnya kalian tidak pusing bekerja di tempat gelap seperti ini?”

“Baiklah.” Jawab Krystal sambil beranjak dari duduknya, “Eonni mau kemana?”

“Aku mau mengajak Siwon oppa makan diluar. Tadinya aku mau mengajak kalian juga, tapi sepertinya kalian sibuk. Sudah sana cepat pindah!” Perintah Jessica sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar Siwon.

Sesampainya di perpustakaan, mereka benar-benar terlihat seperti anak kecil yang baru saja menemukan kolam mandi bola. Mereka langsung mengambil buku-buku setebal kamus John Echols yang mengandung kata ‘Sejarah Korea’. Krystal membawa satu dan langsung duduk di kursi yang  biasa ayahnya pakai untuk bekerja, sedangkan Minho langsung berselonjor di sofa. Membuat Krystal bingung sendiri.

You weird.” Ucap Krystal langsung.

Why?” Tanya Minho meminta penjelasan.

“Bisa-bisanya membaca buku sejarah setebal itu sambil tiduran.”

“Ini menyenangkan. Coba saja kalau tidak percaya!” Jawab Minho sambil menunjuk sofa panjang di hadapannya.

Entah kenapa, Krystal langsung mengikuti perintah Minho.

Sekitar satu jam mereka tenggelam dalam buku bacaan mereka. Tidak ada yang bicara, sama seperti saat di taman tadi. Tapi tiba-tiba Minho mengeluarkan suaranya.

“Krys coba dengar ini. Korea memiliki sejarah yang cukup panjang dan membuatnya terpecah menjadi dua negara. Seperti Jerman yang dulu terbagi dua, Korea juga mengalami hal yang sama. Bedanya, Jerman kini bersatu dengan dihancurkannya Tembok Berlin, sedangkan bagi Korea, impian untuk bersatu masih belum bisa terwujud.” Minho membacakan satu paragraf dari buku yang dibacanya. “Itu  bisa kita jadikan sebagai rumusan masalah,”

“Korea dahulu merupakan satu wilayah besar yang pembagiannya mengacu pada banyak wilayah kerajaan. Tiga kerajaan Korea yaitu Koguryo, Silla, dan Baekje mulai mendominasi semenanjung Korea dan Manchuria, bersaing secara ekonomi dan militer. Koguryo dan Baekje adalah dua kerajaan terkuat, terutama Koguryo yang selalu …..” Minho langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Krystal yang sudah tertidur dengan buku menutupi wajahnya.

Minho menggeleng-gelengkan kepala dan langsung beranjak dari duduknya, mendekati Krystal dan mengambil buku yang menutupi wajah gadis itu. Saat Minho mengangkat buku tersebut, dia terpaku melihat Krystal yang tertidur dengan wajah polos. Tenggelam menuju alam bawah sadarnya.

Tanpa sadar, tangan Minho sudah menelusuri wajah Krystal yang tertutupi rambut.

“Krys! Minho!” Seseorang memanggil mereka dengan suara sedikit nyaring sambil membuka pintu perpustakaan dengan cukup keras. Membuat Minho kaget dan menjatuhkan buku tebal yang digenggamnya. Buku tersebut menipa kakinya yang hanya beralaskan sendal karet. Krystal juga langsung terlonjak bangun mendengar panggilan itu.

“AW!!” Minho mengaduh.

“Ajjushi! Wae geurae?” Tanya Krystal polos ketika Minho duduk di lantai sambil memegangi jari kakinya. (Ada apa?)

“Aniya.” Jawab Minho singkat.

“Krys, kau apakan Minho?” Tanya seseorang yang memanggil mereka tadi. Jessica.

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Jawab Krystal sambil menatap Minho. Sedangkan Minho menatap Jessica dengan pandangan kau-yang-membuatku-seperti-ini.

“Ayo makan! Tadi aku dan Siwon oppa tidak jadi makan diluar. Kita hanya membeli pizza.” Ujar Jessica sambil menarik tangan Minho dan Krystal bersamaan.

 

 

From : Siwon Hyeong

Aku di depan sekolah.

Minho yang akan menggendong ranselnya terpaku setelah membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.

Hyeong ada di depan? Sedang apa?” Batinnya.

“Ajjushi! Ppalli!” Krysal yang sudah berada di depan pintu berkata tidak sabar. (Cepat!)

“Krys, hyeong ada di depan.”

“Ne? Sedang apa?” Tanya Krystal sambil menautkan alisnya.

“Tidak tahu. Ayo cepat!” Sekarang Minho menarik tangannya untuk segera turun dan menghampiri Siwon.

Benar saja, ketika mereka sampai di depan gerbang. Dia melihat mobil Chevrolet biru yang biasa dipakai Jessica terparkir disana. Tapi yang berada dibalik kemudi bukanlah yeoja cantik itu, melaikan seorang namja berlengan kekar. Siwon. Sendirian.

Minho langsung mengetuk kaca mobil itu. Siwon membukanya dengan wajah gembira.

“Hyeong! Kau datang menjemput kami?” Tanya Minho.

“Masuklah!” Ujar Siwon tanpa menjawab pertanyaan adiknya itu. Krystal dan Minho segera membuka pintu penumpang dan masuk bersamaan dari sisi berlawanan.

“Taraaaaa!!” Siwon memamerkan lisensi mengemudinya kepada Minho dan Krystal.

“Wah! Daebak! Cepat sekali dapatnya.” Ujar Krystal sambil mengambil kartu berwarna putih dengan foto close-up Siwon yang berada di sisi kanan bawah kartu tersebut. (Keren!)

“Aku datang karena mau merayakannya bersama kalian. Hahahaha…” Ujar Siwon seperti seorang anak yang baru saja dibelikan pesawat remote control oleh ayahnya. “Tadinya aku juga mau mengajak Jessica. Tapi dia sedang ada urusan.”

“Noona sedang ada urusan dan hyeong malah mengambil alih mobilnya? Jahat sekali!”

“Dia sedang ada ‘urusan’,” Ujar Siwon sambil membuat tanda kutip di sisi kepalanya, “dengan namjachingu-nya.” Lanjutnya.

“NEEE?” Krystal dan Minho bertanya bersamaan.

“Iyaaaaaa. Aku sudah dua kali mengganggu acara pertemuan mereka. Tidak untuk ketiga kalinya.” Jawab Siwon tak sabar. “Mau kemana kita sekarang?”

Krystal tidak menjawab, masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Siwon. Kakaknya? Punya pacar? “Kenapa eonni tidak pernah bercerita padaku!

“Kita ke Paris Bouquette saja! Hari lumayan panas. Aku ingin makan patbingsu.” Jawab Minho yang langsung disambut anggukan setuju dari Siwon. Siwon kemudian memutar kunci mobil dan siap menginjak pedal gas ketika dia sadar satu hal.

“Yaa! Kalian pikir aku ini supir! Kenapa kalian berdua duduk dibelakang? Ayo salah satu pindah kedepan!” Siwon protes sambil menoleh lagi kebelakang. Memberikan tatapan membunuh untuk Minho dan Krystal.

“Krys, sana kedepan!” Perintah Minho sambil menyenggol lengan Krystal pelan. Ini adalah mobil kakak Krystal. Jadi sudah sepatutnya Krystal yang berada di depan.

“Kau saja.” Jawab Krystal singkat.

 

 

“Eonni jahat sekali tidak bercerita padaku!” Krystal langsung berkacak pinggang dan pura-pura marah ketika Jessica sampai dirumah. Krystal tadi sempat melihat keluar, Jessica baru saja diantar oleh seorang namja tampan yang mengendarai sebuah Ford Kuga silver.

“Cerita apa?” Tanya Jessica pura-pura bingung.

Krystal menjawab pertanyaan Jessica dengan lirikan matanya ke luar. Menunjukan seolah-olah namja yang baru saja mengantar kakaknya itu masih disana.

“Maaf, Krys. Bukan maksudku seperti itu.” Ucap Jessica sambil merangkul adik kesayangannya itu. “Maaf, ya?”

Krystal menurunkan tangannya yang tadi berada di pinggang, masih bertingkah seperti anak kecil. “Baiklah, aku maafkan tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Ceritakan semuanya dari awal tentang dia!”

“Baik. Tapi tunggu aku selesai mandi. Oke?”

“Oke.” Jawab Krystal dan mereka-pun berjalan bersamaan menuju kamar.

 

 

“Namanya Lee Donghae. Umurnya setahun lebih tua dariku. Dia satu kampus denganku, kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual.”Jessica mulai bercerita sambil mengeringkan rambutnya.

“Kami bertemu sekitar 7 bulan yang lalu. Jangan tertawa mendengar cerita bagian ini, ya!” Ucap jessica sembari mengacungkan sisirnya ke hadapan Krystal yang duduk di ranjang.

“Arasseo.”

“Kejadiannya klasik. Em.. Bukan klasik, sih. Lebih merujuk ke norak.” Jessica tertawa sendiri mendengar ucapannya, “Hari itu adalah hari pertama aku mendapat tugas menggunakan manekin. Aku membawa manekin itu dari lab. Saat itu aku berjalan sambil melamun. Memikirkan tentang kecelakaanmu. Tentang ingatanmu yang hilang.” Lanjut Jessica sambil tersenyum lembut pada Krystal. Krystal langsung memeluk kakaknya. Merasa bersalah sekaligus berterimakasih.

“Dia yang sedang bicara di telepon dengan terburu-buru menabrak aku yang sedang dalam keadaan seperti tadi. Lengan boneka manekinku patah. Dia bilang dia akan menggantinya tapi dia tidak bisa melakukannya hari itu. Padahal aku tidak memintanya bertanggung jawab, karena bagaimanapun aku juga salah. Tapi dia bersikukuh. Dia kemudian meminta nomor teleponku dan berjanji akan menghubungiku untuk membicarakan soal penggantian manekin itu setelah urusannya selesai. Drama sekali, kan? Lalu ya begitulah. Hubungan kami akhirnya jadi seperti ini.” Jessica memperlihatkan ponselnya pada Krystal, disana terpasang wallpaper Jessica yang mengenakan dress dengan banyak payet bersama namja yang tadi Krystal lihat sekilas mengantar Jessica.

“Aku pikir eonni ada apa-apa dengan Siwon oppa.” Ujar Krystal setelah melihat foto itu. “Tapi, Donghae oppa juga tampan. Kalian terlihat cocok.” Krystal tersenyum tulus.

“Aku sungguh tidak punya hubungan apa-apa dengan Siwon oppa selain kakak-adik, Krys. Tenang saja. Kau bisa punya hubungan dengan Minho.” Jessica berkata polos.

“NE?”

“Aku lihat akhir-akhir ini hubungan kalian makin dekat.”

“Dekat bukan berarti yang ‘lain’ kan.” Krystal menjawab acuh sambil memberikan tanda kutip dikepalanya.

“Kemarin juga aku tidak sengaja melihatnya memperhatikanmu tidur.”

Krystal membeku mendengarnya. Apa yang Krystal rasakan saat dia tidur ternyata bukan hanya ilusi. Krystal memang merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya, bahkan menyentuh wajahnya. Jadi, orang itu… Minho?

 

 

“Krys, aku pikir kita masih butuh bahan yang lain untuk melengkapi ini.” Minho berkata setelah meneliti hasil makalah mereka yang masih belum dicetak.

“Apanya yang kurang?” Tanya Krystal sambil memasukan kembali buku-buku sejarah milik ayahnya ke rak.

“Entahlah.” Minho menggeleng, “Besok kan sabtu. Bagaimana kalau kita cari referensi lain di perpustakaan kota?”

“Perpustakaan kota?”

“Iya, sekalian jalan-jalan. Aku mulai bosan menjadi penghuni rumah-sekolah-minimarket.” Ujar Minho sambil menggaruk kepalanya yang Krystal yakini tidak gatal. Kebiasaan Minho yang baru Krystal perhatikan ketika dia sedang mencoba bercanda dan takut apa yang dia katakan tidak lucu.

Krystal tersenyum. Itulah kebiasaan Minho selama hampir sebulan berada disini. Ketika dia sedang bosan, biasanya dia berjalan ke minimarket untuk membeli ice cream kacang hijau kesukaannya dan membelikan Krystal juga.

“Baiklah. Besok kita pergi.” Krystal menyetujui.

 

 

“Ajjushi!!” Krystal memanggil-manggil Minho sambil berkeliling rumah. Sedikit kesal karena tidak menemukan namja itu dimana-mana. Padahal mereka sudah janji akan ke perpustakaan kota siang ini.

“Kau mencari Minho?” Tanya nyonya Jung yang sedang menuangkan jus mangga di dapur.

“O. Eomma lihat tidak?”

“Tadi eomma lihat dia di garasi.”

“Mwo? Sedang apa?”

“Entahlah. Lihat saja sendiri.”

“Aku langsung pergi, ya, eomma.”

“Hati-hati!” Nyonya Jung mewanti-wanti sambil memasukan kembali kotak jus ke kulkas.

Krystal mengangguk sekilas dan langsung melesat menuju garasi. Tapi sebelum dia berbelok menuju garasi, dia sudah melihat Minho disamping mobil Jessica tepat didepan pintu masuk.

“Aku menunggumu dari tadi!” Ujar Minho ketika melihat Krystal.

“Aku mencarimu dari tadi!” Krystal menjawab tak mau kalah.

“Aku pinjam mobil Sica noona. Ayo pergi!”

Krystal memandang mobil Jessica dan Minho secara bergantian.

“Aku sudah punya lisensi juga saat di Amerika. Jangan khawatir!” Minho yang seolah mengerti pandangan Krystal menenangkan.

Krystal masih menatap Minho sangsi. Tapi akhirnya dia melangkahkan kaki menuju mobil. Dia memilih duduk di belakang.

Minho masuk dan duduk di bangku kemudi. Dia melihat kebelakang, untuk menatap Krystal.

“Kau pikir aku supirmu! Ayo pindah kedepan!” Ujar Minho. Krystal diam beberapa saat lalu memutuskan untuk keluar. Membuat Minho tersenyum.

Tapi alih-alih berjalan ke sisi kanan untuk duduk di samping Minho, dia malah melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Minho membuka pintu dan menatap punggung gadis itu bingung.

“Krys!”

“Aku lebih suka naik bus. Kita bertemu disana saja.” Krystal sedikit berteriak tanpa memandang Minho.

 

 

Minho memutuskan untuk ikut Krystal pergi menggunakan bus tadi siang. Krystal tersenyum penuh kemenangan saat Minho memanggilnya sesaat setelah dia menutup pintu gerbang.

Minho sangat suka perpustakaan. Dia suka membaca buku-buku tua yang sudah usang. Menaiki tangga untuk mencari buku keluaran tahun sekian. Entah siapa yang mewariskan itu kepadanya. Karena dikeluarganya, hanya Minho yang menyukai hal-hal berbau sejarah dan tua seperti itu.

Walaupun tadi Minho hanya mendapatkan sedikit tambahan untuk makalahnya bersama Krystal. Dia keluar dari perpustakaan dengan wajah gembira. Seperti seseorang yang baru saja keluar dari Lotte Word. Berbeda dengan Krystal yang seperti baru saja keluar dari rumah hantu.

“Krys, minimarket dulu, yuk!” Minho menarik pergelangan tangan Krystal untuk masuk minimarket yang beberapa detik lalu mereka lewati.

Sesampainya disana, Minho langsung berjalan menuju box ice cream. Menggambil dua ice cream rasa kacang hijau seperti biasa. Dia melihat Krystal sedang berada di rak cokelat sambil menggigit bibir bawahnya bingung, membuat Minho langsung teringat sesuatu. Dia kemudian menghampiri Krystal.

“Krys, ngomong-ngomong soal cokelat, ada oleh-oleh yang aku lupakan untukmu.”

“Apa?” Tanya Krystal.

“Ada di rumah. Ayo cepat kita pulang!” Minho berjalan menuju kasir untuk membayar ice cream-nya diikuti Krystal.

“Aku tunggu diluar.” Ujar yeoja itu dan disambut anggukan dari Minho.

“Seperti biasa.” Sang kasir yang berumur tidak jauh dari Minho berkata. Saking seringnya Minho membeli ice cream disini, sang kasir sampai hapal betul wajah Minho.

“Iya hyeong.” Jawab Minho sopan.

Kasir tadi mengedikan bahunya keluar, “Pacarmu?” Tanyanya usil.

“Ne? Ah, anieyo.” Minho menjawab sambil memberikan beberapa lembar won pada sang kasir.

“Kalian terlihat serasi.”

“Ahahaha.. Sayangnya kami bukan sepasang kekasih.” Minho menerima uang kembaliannya, “Terimakasih hyeong. Saya pulang dulu.”

Minho buru-buru keluar menghampiri Krystal dan memberikan keresek berisi ice cream tadi.

“Gomawo.”

Mereka berjalan pelan menuju rumah. Sama-sama terlihat kelelahan.

“Kenapa kau suka kacang hijau?” Tanya Krystal tiba-tiba.

“Tidak tahu.” Jawab Minho singkat dan jujur. Dia memang tidak tahu kenapa dia suka biji kecil-kecil berwarna hijau itu.

“Aneh!”

 

 

Sesampainya mereka di rumah, mereka langsung menuju taman. Bersiap menyelesaikan tugas makalah mereka hari itu juga.

“Sudah habis ice cream-nya?” Tanya Minho. Krystal menjawab dengan anggukan.

Minho berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Dia membuka lemari es dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran 25×15 yang dia masukan kurang lebih sebulan yang lalu disana. Kemudian dia kembali menuju taman.

“Krys, ingat ini tidak?” Minho menyodorkan kotak tadi dihadapan Krystal.

Krystal mengamati kotak itu sesaat. Dia tidak ingat itu kotak apa, tadi dari segelnya, dia tahu itu adalah kotak cokelat.

Minho melepas segel tersebut dan membukanya. Terlihat 16 cokelat dengan bentuk rupa-rupa disana.

“Dulu, kita suka sekali makan ini saat pulang sekolah. Cokelat segala rasa.”

“Cokelat segala rasa?”

“Iya. Dulu juga kita selalu bertaruh siapa yang akan mendapatkan cokelat paling aneh, yang kalah harus membelikan cokelat untuk keesokan harinya. Kita akan menyebutkan rasa cokelat itu setelah habis mengunyahnya.” Minho menjelaskan sambil mengambil salah satu cokelat tersebut dan memberikannya pada Krystal.

“Tidak akan ada yang berbohong?”

“Tidak akan ada yang bisa berbohong, terlihat langsung dari ekspresi wajah.”

“Kita biasa menghabiskan semuanya?”

“Iya, masing-masing delapan. Cara makannya, kau harus memakannya satu per satu, tidak boleh digigit atau dipotong menjadi beberapa bagian.”

“Sepertinya menarik.” Ucap Krystal sambil meneliti cokelat yang ada di tanganhnya.

“Memang. Kau lebih menyukai ini daripada aku. Kau selalu senang jika aku yang kalah.”

“Cokelat ini kau bawa dari bulan lalu?”

“Iya. Saat kau masih seperti singa. Makanya aku tidak berani memberikannya. Hahaha…” Minho tertawa mendengar ucapannya sendiri, “Tapi tenanglah, aku menyimpannya di kulkas.”

“Ayo kita mulai.” Ujar Minho sambil mengambil satu cokelat untuk dirinya sendiri. “Hitungan ketiga langsung dimakan, ya? Satu, dua, tiga!” Minho memasukan cokelat tersebut ke mulutnya, begitu juga dengan Krystal.

Mereka mengunyahnya beberapa saat. Krystal tersenyum, merasa cokelatnya enak, begitu juga Minho. Sekitar satu menit kemudian, mereka selesai mengunyah.

“Rasa apa?” Tanya Minho.

“Anggur. Kau?”

“Jeruk. Ah, tidak seru. Ayo lagi!”

Mereka kemudian memakan cokelat yang kedua. Ekspresi wajah Minho langsung berubah ketika mengunyahnya.

“Rasa apa?” Krystal sudah siap tertawa mendengar jawaban Minho.

“Durian.” Jawab namja itu.

“Durian kan enak!” Krystal menatap Minho aneh.

“Tapi aku tidak suka. Kau?”

“Caramel. Ayo lagi!” Ujar Krystal antusias.

Mereka kemudian memakan cokelat ketiga.

“Raswa apwa?” Tanya Minho langsung tanpa menghabiskan dulu cokelatnya saat wajah Krystal berubah. Sedangkan Krystal sudah berhenti mengunyah, tapi mulutnya masih penuh dengan cokelat. Krystal menutup mulutnya dengan tangan, sudah ingin memuntahkan isinya. Tapi Minho buru-buru menghentikan.

“Kita tidak pernah memuntahkan cokelat, Krys! Bahkan minum-pun tidak.”

“Hmm!!! Ehmmm!!!” Krystal mencoba berteriak dengan mulut tertutup, membuat Minho tertawa.

“Hmmm…” Krystal memasang tampang memelas pada Minho. Minho menimbang-nimbang sebentar, masih berusaha menggoda Krystal. Setelah Krystal menarik-narik ujung kemejanya dan wajahnya yang sudah berekspresi sangat aneh, Minho mengangguk menyetujui. Krystal langsung mengambil keresek putih berlogo minimarket bekas ice cream tadi dan memuntahkan isi mulutnya kesana.

“Rasa mengkudu!” Ucap Krystal sambil bergidig, membuat Minho langsung tertawa terbahak-bahak.

Krystal yang tidak terima ditertawakan dari hati yang paling dalam oleh Minho langsung memukul lengan Minho sedikit keras. Membuat namja itu malah terus tertawa dan entah kenapa Krystal juga ikut tertawa. Menertawakan kemalangannya sendiri karena memakan cokelat berasa mengkudu yang sangat-sangat pahit.

Tanpa mereka sadari, empat pasang mata sudah mengamati mereka sejak tadi dari balik tirai kamar Krystal.

“Ada sesuatu dengan mereka.” Bisik Siwon yang langsung mendapat persetujuan dari Jessica.

“Pasti ada sesuatu! Atau akan ada sesuatu!”

“Mereka serasi.” Shin ahjumma ikut ambil suara.

“Akhirnya eomma bisa melihat Krystal tertawa lepas seperti itu lagi setelah sekian lama.” Ucap nyonya Jung sambil memandang Minho dan Krystal yang sekarang sudah siap melahap cokelat keempat.

 

To be continue🙂

 

Gimana nih? (ini authornya ngga ada bosen-bosennya nanya gimana -,-) Jangan lupa tinggalkan komentar ya! Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya, annyeong🙂

5 thoughts on “Music and Lyric [chap. 3]

  1. cokelat segala rasa…?!? hem kayak di Harry Potter, tapi kalo disana permen segala rasa.
    aku suka eonni, soalnya aku juga minstal shiper… hehehe

  2. Kyaaaaaaaaaa *histeris*
    bapaknya Kris kemana sih? gak pernah nongol🙄
    aaaah minong, onnie jadi ngebias minstal kan nih🙄
    yah gapapa deh yang penting taemin tetep untuk kai😆
    agak kecewa juga yah siwon sendirian, onnie harap siwon bakal ketemu tiff suatu saat nanti wkwk

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s