Music and Lyric [chap. 4]


Title : Music and Lyric [chap. 4]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung and Choi Minho.

Other cast : Jessica Jung, Choi Siwon, Lee Donghae and others.

Type : Chapter

 

HAPPY READING!!😀

 

“Saya mengucapkan terimakasih karena kalian sudah mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang saya berikan tepat waktu. Hasil kerja kalian bagus!” Ucap Kim Young Won seminggu setelah tugas makalah tempo hari dikumpulkan.

“Karena itulah, hari ini saya membawa satu buah hadiah untuk pasangan yang saya anggap paling membuat saya puas.”

Mengingat beliau adalah seorang guru sejarah. Anak-anak mulai berkasak-kusuk. Bukan menebak-nebak siapa yang menang. Tetapi apa isi hadiah yang akan diberikan guru sejarah mereka ini pada murid tersebut.

“Saya kagum dengan mereka. Mulai dari latar belakang yang mereka analogikan sepeti perang Jerman sampai kesimpulan yang mereka ambil, saya benar-benar kagum. Terlebih, salah satu dari mereka adalah siswa baru dan yang lainnya adalah siswa yang mendapat nilai paling kecil tahun kemarin. Ya, selamat untuk Choi Minho dan Jung Soo-Jung!”

Krystal membelalakan mata tak percaya. Lalu Krystal berbalik kebelakang untuk menatap Minho. Ternyata namja itu juga sama kagetnya, bahkan wajahnya terlihat sangat tidak terkontrol saking terkejutnyanya.

“Ya, bagi salah satunya bisa ke depan untuk mengambil bingkisan dari saya.” Ujar Kim sonsaengnim sambil melihat mereka berdua bergantian.

Krystal yang duduk lebih depan dari Minho akhirnya bangkit dari duduknya, mendekati meja guru dengan keadaan seperti tidak sadar.

“Kau memperbaiki nilai dengan sangat bagus, Soo-Jung-ah.” Kata Kim sonsaengnim sambil memberikan bingkisan yang sudah disiapkannya. Bingkisan itu ternyata cukup berat, membuat Krystal sedikit terhuyung ketika menerimanya. Krystal menduga-duga apakah isinya.

“Kalian sepertinya cocok menjadi ‘pasangan’.” Ujar Amber bercanda sambil memberikan tanda kutip dikedua sisi kepalanya saat Krystal kembali duduk disampingnya.

 

 

“Aku benar-benar tidak menyangka!!” Minho berkata antusias sambil memegang bingkisan tadi. Tasnya maupun tas Krystal ternyata sudah cukup penuh sehingga tidak bisa menampung bingkisan yang ternyata berisi buku sejarah perang yang tebalnya seperti novel fiksi Harry Potter edisi kelima yang mempunyai 1200 halaman dan cukup usang. Krystal langsung memberikannya pada Minho ketika melihat isinya, membuat namja itu senang bukan main.

“Aku juga sama. Terimakasih, ya. Karena kau, setidaknya image-ku terlihat lebih baik di mata Kim sonsaengnim.” Ujar Krystal.

“Aku juga berterimakasih, setidaknya image-ku tentang anak baru terlihat tidak terlalu buruk.” Jawab Minho sambil tersenyum, “Eh, Krys. Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu diluar?”

“Mau makan dimana?”

“Terserah padamu. Aku ikut saja.”

Krystal berpikir sejenak. “Hmm, bagaiaman kalau kita makan di 106 Ramyeon saja? Daerah Seodaemun, cukup jauh, sih. Tidak apa-apa?”

Minho mengangguk setuju.

 

 

Mereka sampai di tujuan sekitar pukul 4 sore. Butuh waktu selama 45 menit untuk sampai dikedai itu dari sekolah mereka dengan menggunakan bus.

Sesampainya disana, Krystal memesan Kalguksu. Kalguksu adalah mie gandum yang disajikan dengan kuah yang terbuat dari ikan kecil, kerang, dan kelp. Sedangkan Minho memesan Sujebi. Sujebi mirip dengan kalguksu, hanya saja mie gandumnya dibuat agak tebal.

“Selamat menikmati!” Ujar seorang wanita akhir 30-an yang menyajikan makanan mereka.

“Ne..” Krystal dan Minho menjawab bersamaan.

“Ini adalah perayaan keberhasilan makalah kita!” Ujar Minho, Krystal tersenyum menyetujui.

Krystal baru akan mengaduk mie-nya ketika melihat Minho mengacungkan tangan.

“Ahjummoni, bisa minta garpu?” Ujar namja itu. Wanita tadi mengangguk sambil tersenyum.

“Kau benar-benar tidak bisa makan menggunakan sumpit?” Tanya Krystal tak percaya.

“Darimana kau tahu?” Minho malah balik bertanya.

“Aku kan selama ini duduk dihadapanmu saat makan dirumah! Aku lihat sumpitmu selalu berada di tempat yang sama dan tidak kotor sedikitpun.” Jawab Krystal, “Ahjummoni, maaf tidak jadi.” Krystal berkata pada wanita tadi. Wanita itu terlihat sedikit kesal, tapi dia mengangguk mengiyakan.

“Sini biar aku ajarkan.” Krystal yang semula duduk di hadapan Minho sekarang sudah pindah tepat ke sisi namja itu. Bahkan, Minho bisa mencium aroma cherry ditubuh Krystal saking dekatnya jarak antara mereka.

Krystal mengambil sumpit Minho dan menyuruh namja itu untuk memegangnya. Setelah Minho memegang sumpitnya. Jemari Krystal perlahan menuntun jemari Minho untuk memegang sepertiga dari bagian atas sumpit.

“Jari tengah dan jari telunjuk kau pakai untuk menggerakkan sumpit pertama. Sumpit kedua usahakan jangan sampai bergerak!” Perintah Krystal sambil memperhatikan jari tengah minho yang melekuk pada sumpit, sementara ujung ibu jarinya menempel untuk menahan posisi sumpit.

“Begini?” Tanya Minho. Krystal mengangguk mengiyakan.

“Sudah nyaman belum memegangnya?”

“Lumayan.” Jawab Minho pelan sambil menggerak-gerakan sumpitnya.

“Nah begitu menggerakannya!” Ujar Krystal ketika Minho menggerakan sumpitnya. “Sekarang, kau makan dulu ikan kecil-kecilnya. Kalau sudah bisa, kau pasti akan mudah untuk memakan mie-nya.”

Minho mengangguk lalu mencoba apa yang tadi diinstruksikan Krystal. Tapi, tangannya yang memang tidak terlatih menggunakan benda tersebut membuat ikan-ikan kecil yang tadi coba dia ambil, jatuh kembali ke kuah ramyeon-nya. Membuat Krystal terkikik geli.

“Bahkan anak berumur 5 tahun dibelakangmu saja mahir menggunalkannya ajjushi!” Ujar Krystal sambil mengarahkan matanya ke belakang Minho. Minho mengikuti pandangan Krystal, dan benar saja, tepat dibelakangnya ada seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun sedang makan ramyeon dengan lahap bersama ibunya.

“Aku jadi terlihat seperti orang idiot.” Ujar Minho.

“Eits, hanya belum terbiasa. Tenanglah! Banyak berlatih mulai sekarang.” Krystal menepuk bahu Minho sambil kembali duduk dihadapan namja itu.

 

 

Krystal dan Minho tinggal beberapa meter lagi sampai di pekarangan rumah Krystal ketika mereka melihat sebuah taksi melewati mereka dan memasuki gerbang rumah Krystal.

“Siapa itu?” Ucap Krystal pelan. Minho yang mendengarnya hanya mengangkat bahu tanda dia juga tidak tahu. Mereka kemudian mempercepat langkah mereka menuju rumah. Sesampainya disana, terlihat supir taksi tengah mengeluarkan cukup banyak barang dari bagasi. Setelah supir itu menutup pintu bagasi, barulah terlihat sosok si penumpang yang langsung dikenali Krystal dan Minho.

“Appa!!!!!!” Krystal langsung berteriak heboh dan menghampiri si penumpang yang tak lain dan tak bukan adalah tuan Jung, ayah Krystal.

“Soo-jung-ah!” Tuan Jung juga berseru tak kalah heboh dengan puteri bungsunya itu dan langsung memeluk tubuh Krystal ketika dia sudah berada dihadapannya.

Tuan Jung mengusap lembut puncak kepala Krystal saat dia melihat Minho yang masih berdiri di depan gerbang dengan senyum mengembang.

“Krys, itu pacarmu?” Tanya tuan Jung sambil meregangkan pelukannya.

“Ne?” Krystal bertanya bingung dan langsung sadar ketika melihat ayahnya sedang menatap Minho.

“Appa, itu Minho.” Jawab Krystal pelan ketika mengatakan kata terakhir. Merasa aneh. Baru kali ini dia menyebutkan nama namja itu.

“Astaga! Yaa! Minho-ya, maaf aku lupa padamu.” Tuan Jung langsung menghampiri Minho yang sebenarnya sudah akan menghampirinya.

Tuan Jung memeluk Minho dan mencengkram bahu Minho dengan keras.

“Yaa… Lihat dirimu! Tampan sekali! Sudah lama kita tidak bertemu, aku sampai lupa wajahmu.” Ucapnya sambil tertawa.

“Ne ajjushi,  sudah lama sekali. Ajjushi apakabar?”

Tuan Jung langsung menepuk-nepuk perutnya yang sekarang mempunyai lipatan.

“Kau lihat saja perutku. Kau tahu? Kalau kau menanyakan kabar seseorang, lihatlah perutnya seperti apa. Kalau seperti aku, itu berarti aku baik-baik saja.” Beliau menjawab jenaka, membuat Krystal dan Minho tertawa.

“Ajjushi tetap saja humoris seperti dulu.” Ujar Minho sambil tersenyum.

Lelaki berumur pertengahan 50 itu memang terlihat sangat sehat. Walaupun rambut pada kepalanya sudah banyak yang berubah warna menjadi putih dan terlihat sedikit tipis, tak ada yang kurang dari lelaki itu. Tidak sejak terakhir kali Minho melihatnya 8 tahun lalu.

“Appa kenapa tidak bilang kalau pulang hari ini? Kalau aku tahu, aku dan Minho bisa menjemput appa ke bandara.” Ujar Krystal. Masih merasa aneh ketika menyebut nama namja itu lagi. Sesuatu seperti berdesir di dalam tubuhnya.

“Aku memang sengaja mau membuat kejutan untuk kalian. Kalian darimana? Kenapa baru pulang sesore ini?”

“Tadi kami habis merayakan sesuatu.” Jawab Minho.

“Eiiii, apa yang baru kalian rayakan? Hari jadi, ya?” Tuan Jung bercanda.

“Ne?” Tanya Minho kaget, “Anieyo ajjushi! Jinjja anieyo!”

“Appa, wae irae!!” Krystal langsung memukul ayahnya pelan. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu!”

“Aku kan hanya bertanya, reaksi kalian berlebihan sekali!”

 

 

“Haaaaah, sudah lama sekali aku tidak makan masakan Shin ahjumma.” Ucap tuan Jung seraya mengambil makanan kesukaannya, kkori gomtang.

“Jadi sebetulnya istrimu itu aku atau Shin ahjumma?” Tanya nyonya Jung pura-pura marah.

“Eiiii, tentu saja kau! Siapa yang memberikanku dua gadis cantik disini?” Tanya tuan Jung sambil menatap Jessica dan Krystal, “Kau! Aku hanya rindu Shin ahjumma karena masakannya. Sedangkan kau? Kau aku rindukan sepenuhnya.” Jawab tuan Jung. Membuat wajah istrinya langsung bersemu merah.

“Appa… Aku geli mendengarnya!” Jessica berkata dan membuat mereka semua tertawa.

“Kau juga nanti akan dibilang seperti itu jika sudah menikah. Apalagi sekarang kau sudah punya pacar. Yeobo, siapa nama pacarnya Sica? Aku lupa.” Tuan Jung bercanda lagi. Padahal dia sudah hapal betul siapa namja yang sekarang mengisi relung hati anak sulungnya itu. (Sayang.)

Setelah istrinya memberitahukan bahwa Jessica punya pacar, beliau langsung menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki seluk-beluk Lee Donghae. Sesuatu yang biasa dia lakukan untuk menjaga kedua puteri-nya karena dia tidak berada disamping mereka.

“Lee Donghae.” Jawab nyonya Jung sambil ikut tersenyum.

“Ah iya, Lee Donghae.” Tuan Jung mengangguk, pura-pura baru mengingatnya.

Nyonya jung memandang suami-nya dengan tatapan Kau-berakting-sangat-baik.

“Oh iya, ngomong-ngomong soal Donghae oppa, dia minta maaf karena tidak bisa menemui appa sekarang. Dia sedang sibuk mengurus study abroad-nya ke London minggu depan.”

Tuan Jung hanya mengangguk mendengar perkataan Jessica. Beliau sebetulnya tidak mempermasalahkan jika memang namjachingu anaknya ini tidak bisa bertemu dengannya. Dia hanya perlu tahu apakah namja itu tepat untuk anaknya atau tidak, dan dia sudah tahu itu dari hasil penyelidikan anak buahnya. Jadi, walaupun namja itu hanya akan datang ke rumah ini untuk melamar Jessica tanpa berkenalan dulu dengan seluruh keluarganya, itu tidak jadi masalah.

“Donghae pergi berapa lama, Jess?” Siwon akhirnya membuka suara.

“Sekitar delapan bulan sampai setahun mungkin, tidak pasti.”

 

 

“Luna pergi kemanaaaaa?”  Jonghyun langsung berseru ketika dia kembali dari toilet bersama Minho dan mendapati Luna sudah tidak ada di kursinya, begitupun Krystal.

Amber melihat Jonghyun dengan tatapan ngeri. Sungguh dia tidak pernah habis pikir dengan Jonghyun. Namja ini selalu berkelakuan dan memperlakukan Luna layaknya Luna adalah pacarnya. Padahal jangkan dijadikan pacar, jika Luna melihat Jonghyun dari jarak 100 meter dengan wajah tengilnya yang khas, yeoja itu biasanya langsung kabur.

“Mereka sedang dipanggil BoA sonsaengnim. Tadi Krys menyuruhmu menunggunya.” Jawab Amber bukan pada Jonghyun, melainkan pada Minho. Minho mengangguk mengerti.

“Luna tidak menyuruhku untuk menunggunya?” Tanya Jonghyun dengan wajah berbinar. Berharap ada sebuah keajaiban yang menghampirinya.

“Tentu saja tidak! Kau pikir kau siapanya Luna?” Amber sewot sendiri.

“Memangnya Minho siapanya Krystal?” Jonghyun menantang.

“Dia…”

“Aku sahabatnya sejak kecil!” Jawab Minho memotong perkataan Amber sambil memukul punggung Jonghyun pelan. Merasa pertanyaan itu lucu.

Jonghyun menghela napas, “Ah biarlah, aku akan ikut menunggu Luna.” Kemudian dia duduk disebelah Amber.

Sekitar 20 menit kemudian, Krystal dan Luna kembali ke kelas mereka sambil membicarakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan lagu dan konsep.

“Hei! Ada apa BoA sonsaengnim memanggil kalian?” Tanya Amber.

“Kami diminta untuk tampil di acara perpisahan nanti sebagai perwakilan dari vokal grup.” Jawab Luna.

Amber mengangguk-angguk. Mereka berdua memang termasuk dalam anggota vokal grup sekolah. Bahkan bisa dikatagorikan sebagai suara-suara emas. Makanya tidak heran jika mereka berdua diminta BoA sonsaengnim, guru musik mereka sekaligus pembina vokal grup untuk menjadi perwakilan di acara perpisahan nanti.

“Jjong, kau sedang apa disini?” Luna menatap Jonghyun dengan bingung.

“Menunggumu kembaliiii.” Jonghyun menjawab sambil memasang tampang seperti seorang mafia yang sedang menggoda gadis belia. Membuat Amber langsung melemparnya dengan jaket.

Minho tertawa, “Ayo kita pulang!” Ajaknya seraya menggendong ransel dan menepuk lengan Krystal.

Mereka-pun keluar dari kelas dan bergegas pulang. Seperti biasa, mereka berpisah di depan gerbang. Krystal bersama Minho sedangkan Amber bersama Luna dan Jonghyun.

Sepanjang perjalanan menuju pemberhentian bus, Krystal lebih banyak diam. Sibuk memikirkan tentang permintaan BoA sonsaengnim tadi. Beliau tidak hanya meminta mereka untuk bernyanyi, tapi juga membuat lagu tersebut. Minho juga tidak banyak bicara, hari ini dia mengantuk sekali.

“Krys, ayo naik!” Minho menarik tangan Krystal karena yeoja itu tak kunjung beranjak dari tempatnya bediri padahal bus sudah datang.

Krystal masuk lebih dulu, sedangkan Minho dibelakannya langsung mendekati mesin pembaca T-Money card. Beruntung ada dua tempat kosong di bangku kedua. Mereka langsung duduk disana.

Minho mengeluarkan ipod-nya dan memberikannya sebelah earphone-nya pada Krystal.

“Mau dengar?”

Krystal menerima earphone tersebut dan memasangnya di telinga sebelah kiri. Setelah Krystal memasangnya, Minho memutar lagu maroon 5.

“Aku ingin tidur. Nanti kalau sudah sampai bangunkan, ya?”

Krystal mengangguk dan mulai tenggelam dalam suara khas Adam Levine bersama grup-nya sambil melihat keluar jendela. Sedangkan Minho sudah memposisikan duduknya dengan nyaman dan memejamkan mata.

Tiga buah lagu sudah berganti. Krystal masih melihat kesibukan kota Seoul dari balik kaca bus. Ada sebuah pemberhentian sekitar 5 meter di depan. Bus tersebut berhenti disana untuk beberapa waktu.

Krystal masih terus melihat pemandangan di sebelah kanannya sampai bus itu berjalan kembali. Saat dia mengarahkan pandangannya ke depan, sekujur tubunya terasa lemas. Dia kaget. Dia langsung menggenggam tangan Minho yang berada tidak jauh dari tangannya.

Minho seketika terbangun ketika merasakan seseorang mencengkram tangannya dengan kuat. Dilihatnya Krystal sudah mandi keringat dengan wajah seperti tidak dialiri darah disisinya.

“Krys! Wae irae?” Tanya Minho panik sambil menatap wajah Krystal. Tapi yeoja itu tidak bisa bicara, dadanya terasa sesak sekali, menyebabkan napasnya tidak beraturan.

“Krys, kau kenapa?” Tanya Minho lagi tak sabar. Tak mendapat jawaban lagi, akhirnya Minho mengalihakan pandangannya menuju seseorang dibalik kemudi.

Cogiyo ajjushi!” Minho sedikit berteriak kepada supir bus. Sang supir mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya kepada Minho dengan tatapan tak senang. (Ungkapan meminta perhatian, permisi.)

“Ada apa?”

“Temanku sepertinya sakit, bisa kami turun disini?” Tanya Minho cepat.

Sang supir melihat ke samping Minho. Dilihatnya Krystal yang sudah benar-benar terlihat seperti mayat hidup. Sang supir akhirnya memutar setirnya kemudian menepi.

“Kamsahamnida ajjushi.” Ujar Minho sambil menuntun Krystal untuk turun. Dia bisa merasakan bahwa tubuh yeoja itu benar-benar lemas. Dia berani bertaruh kalau dia melepaskan pegangannya pada Krystal, yeoja itu akan ambruk seketika.

Beruntung supir bus tadi berhenti tepat didepan sebuah taman kota. Minho segera mencari kursi taman yang kosong dan mendudukan Krystal disana.

“Tunggu disini sebentar.” Minho segera berlari entah kemana. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa sebotol air mineral di tangannya.

“Minum ini!” Ujarnya setelah membuka tutup botol tersebut.

Setelah meminumnya, wajah Krystal perlahan memerah kembali. Napasnya sudah mulai beraturan meskipun tangannya masih gemetar. Minho mengeluarkan sebuah handuk kecil yang biasa dibawanya untuk menyeka keringat Krystal.

“Krys, ada apa?” Tanya namja itu sambil menekuk lututnya dihadapan Krystal.

Selama beberapa detik, Krystal diam. Masih belum bisa mengatakan apa-apa. Lalu kemudian, mulutnya membuka dan dia bersuara.

“Aku tidak bisa duduk dikendaraan tanpa ada seseorang yang duduk didepanku.” Jawabnya parau.

Seketika pikiran Minho langsung memutar balik kejadian di bus tadi. Saat dia bangun, dia memang tidak melihat lagi orang yang tadi duduk didepan mereka, padahal saat mereka naik, dia melihat ada dua orang mahasiswi yang duduk disana.

Dia juga mengingat kembali berbagai kejadian yang berhubungan dengan hal tadi. Siwon yang biasa duduk di samping Jessica jika mereka pergi bersama. Krystal yang menolak untuk duduk didepan ketika Siwon menjemput mereka. Krystal yang memintannya bertukar tempat ketika hanya ada kursi kosong didepan dan dibelakang bus. Krystal yang tidak ingin pergi ke perpustakaan dengan mobil bersama Minho. Sekarang semuanya jelas, Krystal masih trauma.

Minho berdiri dan tangannya tiba-tiba saja terulur untuk mengusap puncak kepala Krystal.

 

 

“Aku tidak tahu jika kau tidak bersama Krystal akan seperti apa jadinya. Terimakasih, ya.” Ujar tuan Jung sambil menepuk bahu Minho.

“Sama-sama ajjushi.”

“Maaf membuatmu khawatir.” Nyonya Jung ikut bersuara sambil memandang Minho.

“Anieyo imo. Gwenchanhayo.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Pasti kakimu sekarang pegal sekali setelah berjalan sejauh tadi.”

Minho hanya terkekeh mendengar nyonya Jung mengatakan itu. Setelah menenangkan Krystal di taman tadi siang, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Kakinya memang terasa pegal sekarang. Siapa yang tidak akan pegal jika berjalan sejauh 2 kilometer? Tapi entah kenapa, Minho merasa senang.

“Dari sekian banyak memori, kenapa yang dia ingat pertama adalah kejadian itu.” Nyonya Jung berkata sedih.

Minho terdiam. Tadi selama berjalan pulang bersama Krystal, Krystal menceritakan kalau yang dia ingat pertama saat menajalani terapi adalah saat seseorang disebelahnya membanting setir dan kepalanya yang menghantam kaca depan.

“Tolong jaga dia terus, ya!” Pinta nyonya Jung dengan senyum, membuyarkan lamunan Minho.

 

 

“Sebentar lagi mereka pasti keluar.” Ujar Minho sambil men-dribble bola basket pelan. Peluh membasahi wajah serta badannya. Begitu pula Key yang berjalan mengikutinya dibelakang.

Merka baru saja bermain basket selama dua jam, sambil menunggu krystal dan Amber selesai berenang. Sudah 8 bulan lebih berlalu setelah kejadian Krystal shock di bus tempo hari dan permintaan nyonya Jung kepada Minho untuk menjaga puteri bungsunya. Minho selalu menemani Krystal kemanapun yeoja itu pergi. Menemaninya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, lari pagi, berenang, bahkan sekedar mengerjakan tugas bersama di taman. Krystal selalu menyuruhnya untuk tidak melakukan itu, tapi Minho selalu beralasan kalau dia malas dirumah. Biasanya alasan itu mampu membungkam mulut Krystal.

Awalnya Minho hanya melakukan itu sendirian, kadang dia membaca komik di kursi berjemur atau mendengarkan musik ketika Krystal dan Amber berenang, mencoba membunuh waktu. Tapi lama-kelamaan, Key ikut menemaninya karena dia ingin selalu pulang bersama Amber. Kadang pula, ketika Krystal dan Luna berlatih vokal, posisi Key digantikan oleh Jonghyun yang dengan senang hati menemani Minho sambil terus berusaha mendekati Luna.

Baru saja mereka merebahkan tubuh dilantai, kedua yeoja yang mereka tunggu muncul dihadapan mereka.

 

 

Gadis cantik itu tengah berdiri diantara kerumunan orang-orang yang sedang menunggu kedatangan teman, kerabat, atau mungkin kolega mereka di pintu gerbang kedatangan Bandara Internasional Incheon. Tubuhnya yang terhitung pendek terlihat lebih tinggi dengan sebuah Criss Cross Heelsyang mengalasi kakinya. Dia mengenakan sebuah dress berwarna hijau soft yang dipadukan dengan bolero putih. Tangannya menggenggam Suede Bag cokelat kecil dan ponsel layar sentuh berwarna putih. Terlihat sangat modis.

“Sica!!” Seseorang memanggil gadis itu tepat saat pintu kedatangan baru saja terbuka.

“Oppa!!” Jessica berseru riang dan melompat kecil ketika melihat namjachingu-nya baru saja muncul.

Donghae langsung berjalan cepat menghampiri Jessica dan memeluk yeoja yang sudah hampir 8 bulan ini tidak dilihatnya.

Bogoshipeo.” Ujarnya tepat ditelinga yeoja itu. (Aku rindu padamu.)

Nado.” Jawab Jessica seraya melepaskan pelukannya. (Aku juga.)

Jessica baru saja akan berkata sesuatu ketika melihat seorang namja dibelakang Donghae tengah melihat kearahnya. Namja itu membuka kaca mata hitam yang dikenakannya, dan tersenyum senang ke arah Jessica. Jessica membelalakan matanya dan mencengkram keras jemari Donghae yang sedang menggenggamnya ketika sadar siapa namja yang sedang melihatnya.

“Sica, ada apa?” Tanya Donghae sambil mengikuti pandangan Jessica.

 

 

“Ajusshi..” Krystal membuka pintu kamar Minho yang tidak dikunci. Dilahatnya namja itu sedang berkutat dengan Laptopnya.

“Eh, Krys.” Ucap Minho ketika membalikan tubuhnya.

“Sedang apa?” Tanya Krystal sambil mendekati meja belajar Minho.

“Mengedit film dokumenter kita.” Jawabnya sambil tersenyum. “Ada apa?”

“Kita ke minimarket, yuk? Aku ingin makan es krim.” Krystal tersenyum lebar seperti anak kecil.

“Kenapa sekarang kau jadi penghuni minimarket juga!”

“Gara-gara kau! Siapa suruh kau selalu memberiku es krim kacang hijau?” Ujar Krystal sambil memeletkan lidahnya. Minho hanya tertawa sambil mematikan laptopnya. Setelah mematikan laptop, Minho beranjak dari duduknya.

“Kaja!”

 

 

“Bagaimana hasil ujian Krystal?” Tanya Donghae sambil melahap makan siangnya.

Jessica tidak menjawab. Dia memandang kosong ke depan. Donghae yang sadar Jessica sedang melamun langsung memeluk pinggang Jessica, membuat yeoja itu terlonjak kaget.

“Ah, kenapa oppa?” Tanyanya sambil meletakan garpu yang sedari tadi dipengangnya.

“Aku tadi tanya bagaimana hasil ujian Krystal?”

“Oh, bagus. Beberapa hari lalu, mereka baru saja mendapat pengumuman, mereka semua lulus dengan nilai memuaskan.” Jawab Jessica dan kembali tenggelam dalam pikirannya.

“Sica..” Donghae sekarang membelai rambut panjang Jessica.

“Hmm?” Jessica bergumam sambil menatap Donghae intens. Tapi Donghae tahu bahwa jiwa Jessica sedang tidak bersamanya.

“Kau masih memikirkan namja tadi, ya?” Tanya Donghae dan menatap Jessica lembut. Jessica terdiam kemudian mengangguk sambil menghela napas panjang.

“Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang.” Ujarnya sambil bersandar di dada Donghae. “Oppa, mianhae. Oppa datang, aku malah memikirkan hal lain. Jinjja mianhae.”

 

 

Keadaan kelas 3-B dan keadaan kelas tingkat terakhir lainnya terasa sangat bising. Berhubung mereka telah selesai melaksanakan ujian, jam pelajaran mereka sekarang kosong setiap harinya. Para gadis ada yang berkerumun membicarakan tentang berbagai hal, seperti kuliah, namja, pakaian, salon dan hal hal berbau wanita lainnya, ada yang mendengarkan musik seperti Krystal dan Amber, ada juga yang sibuk dengan ponselnya seperti Sohee. Sedangkan para namja ada yang sedang bermain kartu di belakang, bernyanyi-nyanyi asal, membaca komik seperti Minho dan Luhan, ada juga yang sedang memindahkan kursinya untuk berpacaran seperti Taemin yang baru saja memindahkan kursinya ke sebelah Sulli. Sedangkan Suho sibuk mengambil gambar keadaan tersebut dengan camcorder-nya.

Tiba-tiba pintu yang semula ditutup terbuka pelan, membuat anak-anak langsung menutup mulut mereka namun masih berada diposisi yang sama. Victoria sonsaengnim tersenyum senang ketika melihat para anak didiknya dan langsung memasuki kelas.

“Anak-anak, maaf ibu mengganggu sebentar acara bersenang-senang kalian.” Ucapnya ketika sudah berdiri di depan kelas. “Ibu ingin membertahukan sesuatu. Seperti yang kalian tahu, minggu depan adalah hari ulang tahun sekolah. Kali ini, sekolah kita akan merayakannya dengan tema bakti sosial. Kita akan mengadakan kunjungan ke salah satu panti asuhan dan panti jompo nanti, dan yang berpartisipasi adalah anak-anak kelas tiga karena kelas satu dan kelas dua baru akan menjalani ujian kenaikan kelas.”

Anak-anak seketika membulatkan mulutnya.

“Maka dari itu, ibu minta kalian semua berpartisipasi. Apa kalian tidak ingin merayakan ulang tahun sekolah yang terakhir kalinya sebelum kalian menjadi para mahasiswi dan mahasiswa?”

Anak-anak mengangguk setuju.

 

 

“Krys, hyeong sudah menemukan apartemen untuk kami.” Ujar Minho ketika mereka baru saja keluar dari minimarket biasa sambil memakan es krim sepulang sekolah.

Krystal menghentikan langkahnya tiba-tiba, “Jinjjayo?”

“Iya, dekat dengan kampus hyeong.”

“Syukurlah, kau juga ingin kuliah disana, kan? Semoga cita-citamu tercapai. Kapan kalian pindah?” Tanya Krystal berusaha tenang. Padahal dalam dirinya, seperti ada yang mengganjal disana.

“Entahlah, mungkin seminggu lagi. Hyeong belum selesai mengurus surat-surat dan administrasinya.”

Krystal hanya mengangguk mengerti sambil melumat es krim-nya lagi. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sungguh ada sesuatu yang mengganjal, dia ingin mengatakannya, tapi dia sendiri tidak tahu itu apa.

 

 

Ternyata kepindahan Minho dan Siwon lebih cepat dari yang diperkirakan. Mereka pindah selang 3 hari setelah Minho mengatakan hal tersebut pada Krystal. Hari ini, Jessica dan Krystal mengantar Siwon dan Minho ke apartemen baru mereka yang terletak di daerah Doksan.

“Haaaaah..” Jessica menghembuskan napas sambil menatap jalanan didepannya.

“Kenapa?” Tanya Siwon.

“Rumah pasti akan terasa sepi lagi. Apalagi eomma dan appa juga tidak ada.”

Tuan dan nyonya Jung kemarin memang baru saja pergi ke Perancis. Tuan Jung mendapatkan bisnis baru disana, dan dia ingin membawa serta istrinya. Mereka pergi selama 2 bulan.

Siwon tersenyum, “Nanti kami akan sering main kesana. Kalian juga sering-sering main ke apartemen, ya! Buatkan kami makanan. Hahaha..”

“Lebih baik kita sering bertemu di restoran. Oppa tahu aku dan Krystal tidak bisa memasak!”

“Kalau kalian yang memasak, makanan apapun pasti akan terasa enak.” Jawab Siwon menggoda. Jessica langsung terbahak dibuatnya.

“Yaa.. Kenapa Minho malah tidur? Dia tidak asik sekali!” Ujar Jessica ketika melihat Minho yang menutup matanya dari spion tengah.

Krystal yang tadi menatap jalanan diluar langsung mengalihkan pandangannya pada Minho. Dilihatnya namja itu tengah tenggelam dalam dunia mimpinya. Ada sebuah perasaan sedih menjalar ketika melihat namja itu terlelap.

Bukannya mengajak ngobrol, dia malah tidur!” Rutuknya dalam hati.

Krystal menghela napas, berharap bisa sedikit mengurangi perasaan sedihnya. Tapi nihil, perasaan itu malah semakin menyesakan.

Sejak tadi, Krystal dan Minho memang sama-sama diam mendengarkan percakapan ringan kakak-kakak mereka. Ada sebuah perasaan canggung di diri mereka masing-masing. Terutama Minho. Makanya, saat sadar Krystal yang duduk disebelahnya hanya memandangi jalan menuju Doksan, dia pura-pura tertidur untuk mengurangi kecanggungan.

 

 

“Kalian mau berenang hari ini?” Tanya Minho pada Krystal dan Amber keesokan harinya saat pulang sekolah.

“Iya.” Jawab Krystal, “Kau pulang saja!” Lanjutnya.

“Tidak apa-apa?” Minho bertanya meyakinkan. Krystal mengangguk mantap.

“Ya sudah, aku duluan, ya. Amber, titip Krystal!” Ujar Minho sebelum akhirnya menghilang dibalik koridor.

Krystal melihat Amber langsung menghampiri Key, memintanya untuk tidak menunggu mereka selesai berenang. Amber membisikan sesuatu yang membuat Key mengangguk mengerti dan berlari keluar sambil berteriak memanggil Minho, sepertinya untuk pulang bersama.

Setelah itu, Krystal dan Amber berjalan pelan menuju gedung olahraga. Amber bisa merasakan sesuatu terjadi antara Krystal dan Minho. Tak tahan melihat Krystal yang terus diam, akhirnya Amber angkat bicara.

“Krys!” Panggil Amber sambil memegang bahu Krystal. Krystal menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Kau bertengkar dengannya?”

“Mwo? Nugu?”

“Minho. Kalian bertengkar?” Tanya Amber lagi dengan nada tidak sabar.

“Ani.” Jawab Krystal sambil berjalan kembali mendahuli Amber menuju gedung olahraga.

“Lalu ada apa dengan kalian? Kalian sudah sangat aneh dengan tidak datang bersama tadi pagi, ditambah tidak ada yang bicara selama dikelas, dan tadi saat kalian bicara, kau malah menyuruhnya pulang. Ada apa?”

Krystal menghentikan langkahnya tepat ketika mereka sampai di pinggir lapangan bola. Dia menghela napas panjang. Sejak kemarin, setelah mengantar Siwon dan Minho menuju apartemen baru mereka, menghela napas panjang tiba-tiba menjadi kebiasaannya.

“Entahlah.” Jawab Krystal sambil duduk di kursi semen yang sengaja dibuat dipinggir lapangan bola tersebut. “Mereka pindah kemarin sore.” Ujarnya lagi.

Amber mengikuti dan duduk tepat disebelah Krystal. “Jinjjayo?”

“Iya. Haaaaaah..” Krystal kembali menghela napas, “Entahlah, terasa ada yang tiba-tiba hilang.” Ujar Krystal jujur.

 

 

“Minho-ya! Minho-ya!” Key langsung berlari keluar mengejar Minho ketika Amber memintanya untuk menanyankan apa yang terjadi dengan namja itu dan Krystal. Key juga semenjak tadi pagi merasa ada yang aneh dengan mereka.

“Yaa Choi Minho!!!” Key yang kesal karena Minho tak kunjung berhenti berjalan, akhirnya memanggil nama lengkap Minho dengan sedikit keras. Minho langsung menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang dengan pandangan bertanya.

“Yaa! Kau tuli atau apa? Aku memanggil-manggilmu sejak tadi!”

Sorry, Key. Aku tidak mendengarnya.” Jawab Minho sambil tersenyum tidak enak, “Ada apa?”

“Kau tidak pulang bersama Krystal?”

“Iya, aku sudah pindah dari rumahnya.” Ujar Minho sambil melanjutkan langkahnya.

Key buru-buru menyamakan langkahnya dengan Minho. “Jinjjayo?”

Minho mengangguk, “Kalaupun aku pulang bersamanya, pasti hanya sampai depan sini.” Jawabnya ketika tepat berada di gerbang.

Key melirik Minho sekilas, ada kilatan sedih di kedua bola mata namja itu.

 

 

“Aku rasa Minho menyukainya.” Ujar Key pada Amber malam harinya saat namja itu berkunjung ke rumah Amber.

“Aku rasa Krystal juga punya perasaan yang sama. Tapi mereka sama-sama menutupinya.”

“Lalu bagaimana?”

“Besok kan sabtu, bagaimana kalau kita semua pergi menonton bersama? Aku akan ajak Krystal, Luna, dan Sulli. Kau mengajak Minho, Jonghyun, dan Taemin?” Usul Amber. “Setidaknya, mungkin mereka bisa sedikit bicara nanti. Jonghyun pasti akan terus mengganggu Luna, Sulli dan Taemin jangan ditanyakan lagi, mereka punya dunianya sendiri, nah, kita pura-pura berdua saja nanti.”

“Kita tidak pura-pura juga sebetulnya tidak masalah.” Ujar Key menggoda dan langsung mendapatkan pukulan ringan di tulang keringnya.

 

 

Rencana Amber dan Key ternyata tidak berjalan dengan begitu lancar. Mereka memang pergi bersama keesokan harinya, dan apa yang dikatakan Amber hampir seluruhnya benar, kecuali soal Minho dan Krystal. Kedua orang itu tetap bungkam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak di bioskop, tidak di restoran, tidak juga di dalam mobil yang dikemudikan oleh Key, padahal mereka duduk berdampingan. Mereka hanya akan bicara ketika ada orang lain diantara mereka. Hal itu membuat Amber dan Key sedikit kesal.

“Jjong, jangan mengganggu Luna terus! Kau tidak lihat wajahnya sudah seperti kepiting rebus karena menahan marah?” Ujar Krystal yang duduk di kursi paling belakang bersama Minho ketika melihat wajah Luna yang terus ditekuk karena Jonghyun yang tak henti-henti mengganggunya. Taemin dan Sulli tidak ikut pulang bersama mereka, Taemin membawa motor sport-nya tadi.

“Aku suka melihatnya cemberut seperti itu.” Jawab Jonghyun cuek dan Minho tertawa mendengarnya.

“Kenapa kau pintar sekali merayu, sih?” Ujar Amber yang memperhatikan mereka dari spion tengah.

“Kenapa? Kau ingin Key merayumu juga? Suruh dia berguru padaku!”

Key langsung melempar kotak tissue yang berada di dashboard tepat ke kepala Jonghyun.

“Berguru padamu seperti berguru pada ajaran sesat! Setidaknya hubungan kami lebih baik ketimbang hubunganmu dengan Luna!” Key berkata santai sambil memperhatikan jalanan didepannya. Perkataannya tadi membuat semua orang tertawa, kecuali Jonghyun yang sedang memandang kepala Key keji.

Tidak ada yang bicara lagi setelahnya sampai mereka tiba didepan gerbang rumah Krystal. Setelah Krystal turun dari mobil, Amber membuka kaca untuk berpamitan.

“Terimakasih, ya, kalian sudah mengantarku. Key, terimakasih!” Ujar Krystal sambil tersenyum manis.

“Sama-sama.” Jawab Key sambil mengangguk.

“Kalian hati-hati dijalan!”

“Selalu. Kami duluan, Krys!” Krystal mengangguk dan Amber menutup kaca mobil itu kembali.

Setelah mobil Key berjalan perlahan, Krystal berbalik dan hendak membuka pintu gerbang. Tapi sebelum tangan Krystal sampai di pegangan pintu, seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan membalikan tubuhnya kembali ke posisi semula.

“Soo-Jung-ah..” Seorang namja berperawakan tinggi kurus sudah berada disana. Memanggil Krystal dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan olehnya.

 

 

“Key, berhenti, Key!!!”Ujar Minho sedikit berteriak ketika Key hampir membelokan mobilnya ke jalanan besar.

Key langsung menginjak rem-nya kaget, “Ada apa, sih?” Tanyanya gusar sambil menengok kebelakang.

“Luna-ya, tolong pindah kesebelah Jjong sebentar. Aku mau turun.” Ujar Minho cepat. Luna yang ikut kaget langsung pindah kesisi Jonghyun dan membiarkan Minho turun.

“Eiii, dia baru bereaksi setelah Krystal turun. Dasar! Sok dramatis sekali!” Ujar Key setelah Minho turun dari mobilnya dan menginjak kembali pedal gas-nya.

Kedua mata Amber mengikuti Minho yang berlari cepat menuju rumah Krystal. Dia melihat Krystal masih di depan gerbang, dengan seorang namja.

“Astaga!! Key berhenti!!”

 

To be continue🙂

Aku tunggu komentarnya😀

20 thoughts on “Music and Lyric [chap. 4]

  1. Ah, keren!
    Dan aku suka banget Jonghyun di sini agh~ lucu Jonghyun-ah~ >,<
    Terus kenyataan kalo si Krys ternyata masih trauma itu out of expectation banget. Aku gak sempet kepikiran kalo si Krys masih trauma, thor-thor daebak!🙂

  2. Anyeonghaseyo…
    Zalukhu imnida.. chingu sblumnya mian karena baru komen disini.
    suka deh sama FF kamu, awalnya baca di smtff tapi pas lagi jalan-jalan ketemu wp ini ehhh tahu2 ada M.A.L disini.
    daebak chingu, itu pasti Kai!
    Keep writing yah🙂

    • hallo🙂 terimakasih banya ya udah mau baca dan nyempetin waktunya buat comment🙂 kamu bisa buka blog pribadiku, disana udah ada chapter ke-5 nya. sekali lagi terimakasih banyak. happy reading😉

  3. Wah itu sih pasti Kai yah mit:mrgreen:
    yang diliat jess di bandara juga kan?
    onnie suka part ini. penulisannya rapiiiih banget, kayaknya udah belajar banyak nih😛
    cuman emang masih agak datar sih yah, harusnya dijelasin dikit tingkah laku jess waktu liat cowok di bandara itu, trus gimana reaksi krys yang gak tau apa2 tapi perasaannya tiba2 dagdigdug ngeliat kai di depannya. meskipun ujung2x bukan kai juga gapapa. kan emang udah seharusnya bikin reader penasaran dan kadang kecewa karna ketegangan cepat berlalu😆 *ngomong apasih onnie?*

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s