[1st] The One


Title       : The One

Author : Han Hye Ma

Cast       : Han Goonghwa (OC) ¦ Lee Donghae (Super Junior) ¦ Coming soon (Super Junior Members, EXO Members, F(x) Members, Shinee Members, BoA, Kangta)

Cameo : Han Family

Genre : Fantasy, Family, School.

Rating : PG-15

Disclaiminer : Cast yang ada di sini itu punya orang tua masing-masing. Kecuali original charanya. Plot cerita pastinya punya saya.

A/N : Annyeong, Hyema balik bawa [1st] The One.Ada yang nunggu? #Plak_Ngarep. Oh ya makasih juga yang udah ngoment kemarin, ternyata fanfict series saya yang satu ini mendapat apresiasi yang membuat saya terharu. <<ceilah_bahasanya. Walau gitu tetep saya mohon buat RCL lagi. Soalnya itu hal yang paling Hyema inginkan.

Satu hal lagi, saya pengin banget yang jadi SIDERS pada coment disini. Plagiat? Jangan Oh #ModeOn gak kasian sama saya?

Oh ya, makasih sekali buat Urara yang udah bikin poster di atas. Cr-pic♥

 >>>> Start to Reading >> Loading to [1st] The One >> By Han Hye Ma >>>>

Goonghwa menggeliat pelan. Matanya mengerjap dan ia bangun dari tidurnya. Ia melirik jarum jam weker di samping tempat tidurnya. Pukul enam pagi dan matahari belum muncul dari peraduannya. Goonghwa berdiri dan dengan langkah malas menuju kamar mandi. Goonghwa membuka keran air. Air mengalir dan di biarkannya begitu saja. ‘Apa aku terlihat berbeda?’ Gumamnya dalam hati sambil melihat air yang terus mengalir. ‘Apa aku berbeda dari orang lain?’ Gumamnya lagi.

Di basuh wajah yang masih mengantuk. Sesudahnya ia mematikan keran air dan menatap lekat wajahnya di cermin. ‘Semua mengatakan aku berbeda tapi tak ada yang berubah dari diriku yang ku kenal selama ini” Ucap Goonghwa. “Namun semua hal kecuali aku telah berubah dalam sehari” lanjutnya sambil memandangi diri sendiri di cermin.

Lalu ia melangkah ke luar kamar mandi. Matanya memutar memandangi sekeliling ruangan yang ia tempati tadi malam untuk sejenak melepas penat dan segala hal yang membuatnya begitu frustasi. Yah frustasi. Banyak bayangan serta pikiran menyebalkan yang terus bersarang dikepalanya. Goonghwa lelah. Sangat lelah. Sejenak ia termenung sesaat setelah sampai di pinggir tempat tidur dan terduduk disana.

‘Siapakah aku sebenarnya?’

***

Flashback, 5 hari yang lalu.

Goonghwa berjalan sendiri mengelilingi taman di dekat rumahnya. Kira-kira 3 blok dari rumahnya. Lebih tepatnya rumah paman dan bibi Goonghwa. Goonghwa yatim piatu sejak kecil. Ibunya meninggal ketika Goonghwa berumur 3 tahun. Dalam waktu bersamaan ayahnya menghilang, tidak ada yang tahu kemana perginya.

Goonghwa terus berjalan. Matanya terus memandang sekeliling. Ia terduduk ketika melihat sebuah bangku taman kecil di bawah sebuah pohon rindang yang entah apa namanya.

‘Musim semi yang indah’ gumamnya pelan

Matanya menerawang sekeliling. Matanya terhenti ketika melihat sebuah keluarga kecil sedang asiknya bercanda. Goonghwa iri. Ia tak pernah mengenal kedua orangtuanya. Karena saat ibunya meninggal dan ayahnya meninggalkannya begitu saja, Goonghwa mengalami amnesia. Tak satu hal pun ia ketahui tentang mereka. Tak satupun. Ia hanya terus mendengar samar-samar suara teriakan seorang wanita dan pria yang menangis histeris. Disaat bersamaan juga ia mendengar tawa menggelegar sekelompok orang dan umpatan yang tak pantas. Hanya itu yang ia ingat, hanya suara itu. Tak ada apapun. Tak ada.

Angin berhembus lemah menerpa rambut hitam pekat milik Goonghwa yang dibiarkannya tergerai rapi. Sesekali Goonghwa mencoba menghirup aroma dedaunan dan bunga-bunga nan harum dan segar yang terbawa oleh angin. Angin musim semi memang sangat menyejukkan. Perlahan Goonghwa mulai memejamkan mata. Mencoba kembali merasakan sejuknya angin musim semi yang begitu nyaman di rasa. Suasana menjadi begitu tenang dan makin tenang. Inilah yang Goonghwa butuhkan, sebuah ketenangan.

***

Hari telah senja. Sinar menyilau orange memancar ke arahnya. Mata Goonghwa terbuka. Dilihatnya sekeliling. Taman sudah sepi. Ia bangkit berdiri. Tak terasa sudah dua jam ia terduduk disana dengan mata terpejam.

Goonghwa melangkah ke arah barat tepat dimana matahari dengan nakalnya bersinar menyilaukan kearahnya. Goonghwa harus terus berjalan hingga 3 blok kedepan dimana rumah paman-bibinya berada. Rumah yang terletak di sebuah distrik di daerah Daego, provinsi Gyeongsangbuk-do.

Rumah bergaya Hanok beratap tumpang dua itu memiliki halaman yang cukup luas. Suasana rumah itu begitu sejuk dan cukup mendapatkan sinar matahari karena mengikuti prinsip Baesanimsu yang menghadap arah timur. Semua itu cukup bagi Goonghwa. Ditambah Keluarga Han, paman-bibinya sangat ramah terhadapnya.

Paman Han adalah adik ibu Goonghwa. Sekaligus keluarga satu-satunya yang Goonghwa miliki. Beliau dan istrinya, Ny.Han memutuskan mengasuh Goonghwa hingga ia bisa hidup mandiri suatu saat nanti. Mereka mempunyai 3 orang anak. Han Nara, dia adalah anak pertama Keluarga Han. Dia sebaya dengan Goonghwa yang berumur 17 tahun.  Han Younghwon dan Han Yoona, mereka kembar. Mereka adik Nara yang berjarak 5 tahun darinya.

Cahaya senja masih menyilaukan mata. Saat Goonghwa sampai dirumah paman-bibinya. Rumah yang cukup baginya. Ia melangkah masuk dan pandangannya terhenti pada kotak surat yang sudah terisi beberapa surat yang saling berjejalan. Ia melangkah mengambilnya, ada 3 buah surat dengan warna yang berbeda. Putih polos untuk Tuan Han dari Kantor Kehakiman Daego, tempat Paman Han bekerja selama ini. Coklat untuk Han Yoona dari Daego School. Dan yang terakhir, surat perkamen coklat untuk “Tunggu! Untukku?” Gumam Goonghwa pada diri sendiri.

Ia tak  pernah menyangka akan ada surat yang dikirimkan untuknya. Karena pada dasarnya tak ada sanak saudara selain Keluarga Han yang ia punya. Ini pertama kalinya ia mendapatkan surat.

“Tapi dari siapa ya?” lanjutnya sambil membolak-balik surat perkamen coklat yang tertera namanya, Goonghwa Han.

Dengan penuh tanda tanya ia masuk ke dalam rumah.

“Aku pulang” Serunya sambil membuka sepatu dan menaruhnya ditempat sepatu. Goonghwa melangkahkan kakinya kedapur. Aroma soup sudah tercium sejak ia masuk rumah.

“Masak apa?” Tanyanya

“Kau sudah pulang rupanya. Kemana saja kau heh?” timpal Nara sinis.

“Hanya menghirup aroma musim semi”

“Waw .. kau tau saja aku sedang lapar” Goonghwa berteriak senang karena Nara memasakan soup jagung kesukaannya sedangkan Nara hanya bisa menggelengkan kepala.

“Apa itu ditanganmu?” Tanya Nara sambil mematikan kompor.

“Oh ini?.. ada surat untuk paman, Yoona, dan aku”

“Benarkah kau mendapatkan surat, Goonghwa? Aku kira kau tak punya teman” Ucap Younghwon dari lantai dua. Nadanya seperti biasa penuh dengan kesinisan.

“Entahlah” Goonghwa hanya tersenyum kecut. Sikap Younghwon memang sudah seperti itu sejak Goonghwa ada disana. Ia tak pernah suka dengan Goonghwa.

“Hentikan Hwon!” Teriak Nara yang  langsung mendapat cibiran dari Younghwon.

“Jangan terlalu membelanya kak” Younghwon turun kelantai satu dan dengan segera mengambil duduk di meja makan.

“Kau bisa menaruh suratnya disana” Younghwon mengalihkan pandangannya setelah menunjuk tempat kerja ayahnya.

“Baiklah, aku akan ke atas” Goonghwa berjalan ke arah meja dan meletakkan surat untuk Paman Han disana serta surat untuk Yoona tentunya.

***

Perlahan pintu kamar terbuka. Goonghwa masuk ke kamarnya di lantai dua. Kamar berukuran 4×4 meter ini sudah menjadi temannya sejak ia tinggal disini. Kamar berwarna biru itu tampak menyejukkan saat lampu menyala terang. Ia mulai melangkah dan terduduk di ranjang kecilnya. Perlahan ia membuka surat perkamen coklat yang baru saja ia terima. Ia mengambil sebuah tumpukan perkamen di dalamnya. Ada 4 perkamen dengan nomor yang berbeda.

Dibukanya perkamen pertama. Alisnya saling bertaut saat mendapati sebuah logo dengan tulisan aneh.

“Apa ini?” Gumamnya lirih.

Belum rasa penasarannya hilang. Goonghwa kembali dikejutkan dengan terbangnya surat perkamen yang ia pegang. Angin mulai bersemilir di rongga-rongga rambutnya. Sekelebat sinar mulai terpancar dari perkamen tersebut. Dua buah cahaya menyilaukan mulai mengitarinya.

“Hai, kau Goonghwa bukan?” Dua buah cahaya tadi berubah menjadi dua peri yang terus bergentayangan di sekitar Goonghwa.

Goonghwa mulai ketakutan. “Si-Siapa kalian?” Kedua sinar itu masih terus berputar-putar disekeliling Goonghwa dan tepat berhenti di depan wajah Goonghwa. Goonghwa terjengkang, dia terlalu terkejut dengan sinar yang secara tiba-tiba menyerang matanya.

“Kau tak apa?” Kedua sinar itu masih menatapnya. Goonghwa segera terbangun. Lalu ia menghela nafas panjang dan mulai menatap kedua sinar itu intens.

“Siapa kalian?”

-ooooo-

Goonghwa POV

Apa? Apa yang mereka katakan? Beva? Apa itu? Aku sungguh tak percaya, kedua cahaya itu adalah jelmaan dua peri. Sungguh, apa mungkin di jaman se-modern ini masih ada peri? Oh, apa aku bermimpi?

Aku mulai menepuk-nepuk kedua pipiku, “Aaaawww”  sakit.  Jadi ini bukan mimpi?

“Tentu saja bukan Goonghwa, kami memang peri” Ujar salah satu dari mereka.

“Kau..”

“Aku bisa membaca pikiranmu” Terang yang satu lagi. Aku masih tercengang di tempat.

“Siapa kalian?” Mulutku mulai bergetar, apa yang mereka inginkan?

“ Aku Calvara” Ujar peri dengan sinar biru terang.

“Aku Solvora” Ujar peri dengan sinar kuning menyala.

“Apa yang kalian inginkan?”

“Tak ada” Ujar Calvara. Keningku berkerut.

“Lalu apa yang kalian lakukan disini?” Kedua peri itu tersenyum dan dalam sekejap semuanya gelap.

*

Sinar matahari menyengat wajahku. Perlahan aku mulai membuka mata. Langit biru membentang dengan awan-awan seputih kapas terus melintas dimataku. Kurasakan bau embun menyergap hidungku. ‘Dimana aku?’

“Kau sudah bangun?” Aku mendongak. Terlihat seorang pria berpostur tinggi dengan wajah oriental asia sepertinya. Kulitnya putih dengan pakaian berjubah hitam pekat.

Aku bangkit dari posisi tidurku. Oh ternyata aku sedang berada di padang rumput. Tapi bagaimana aku bisa ada disini? Aku mulai melirik pria yang sekarang sudah duduk di sampingku.

“Siapa kamu?”

“Aku Lee Donghae. Kau bisa memanggilku Donghae, Goonghwa” Kedua alisku bertaut.

“Bagaimana kau tau namanku?”

“Dari mereka” Ucapnya singkat sambil menunjuk ke belakangku. Aku menoleh namun tidak ada siapa-siapa. Aku kembali menoleh “Maksudmu sia..” “Hyak” Aku terjengkang jatuh.

“Hai, Goonghwa” Kedua peri itu mengitari wajahku. Aish.. jadi ini kerjaan mereka. Aku mulai duduk kembali.

“Apa yang kalian lakukan padaku?” Tanyaku ketus

“Oh.. jangan marah” Ujar keduanya berbarengan

“Jelaskan!” Perintahku singkat. Aku sungguh bingung dengan keadaan ini. Ada apa sebenarnya?

Suasana mendadak menjadi hening. “Hai Calvara jawablah” aku benar-benar kebingungan sekarang.

“Kedua peri itu adalah pelindungmu Goonghwa, Peri Beva” Ferguson angkat bicara yang ditanggapi anggukan kedua peri, Calvara dan Solvora tentunya.i

“Aku punya peri pelindung?” Jujur aku kaget bagaimana bisa?

“Kau seorang yang istimewa Goonghwa” Ujar Solvora. Aku hanya terdiam ‘apa maksudnya?’

“Kau bisa jelaskan lebih rinci?” Tanyaku kembali. Mereka bertiga tersenyum.

“ Mungkin pamanmu bisa bantu menjelaskan” Donghae bangkit berdiri disertai kedua peri yang sudah ada di kanan dan kiri pundaknya.

“Pamanku?”

“Ya pamanmu akan menceritakan semuanya sejelas-jelasnya. Berikan ke empat perkamen itu padanya ketika kau bangun nanti” Terang Calvara yang ditambahi anggukan dari Solvora. Tunggu, saat bangun nanti? Apa aku sedang bermimpi?

“Kita akan bertemu lagi Goonghwa. Sampai jumpa beberapa malam lagi, selamat tinggal” Fergosun tersenyum padaku. Suasana mulai gelap kembali. Aku bisa melihat perlahan-lahan mereka menghilang.

“Hai .. tunggu.. apa mak-sud-ka-li-an, Hai.. ja-ngan-ti- Yaaaaaaaa” Tiba-tiba aku terdorong masuk ke sebuah lubang dan semuanya gelap-gelap-gelap dan GELAP.

***

Mataku kembali disinari matahari pagi, namun kali ini tidak begitu menyengat. Bau pengap menumpuk dihidungku. ‘Apa aku dikamarku?’ mataku secara refleks membuka ‘Oh ternyata benar, aku sedang berada di kamarku’ “Syukurlah” Aku menghela nafas sejenak. Hingga aku mulai tersadar kejadian yang baru saja aku alami.

“Oh ya paman!” Aku langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah berganti baju. Aku segera menyabet ke empat perkamen dan turun kebawah dengan tergesa-gesa.

“Jangan berlari di dalam rumah! Kau seperti anak kecil saja” Bentak Younghwon penuh cibiran.

Sudahlah  Goonghwa, jangan ladeni dia. Ayo cari paman!

“Hai! Dasar tak sopan” Teriak Younghwon.

Aku terus berlari hingga sampai di lantai satu dan mendapati Keluarga Han sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Kenapa kau berlari seperti itu? Apa ada masalah?” Bibi Sora menghampiriku yang masih ngos-ngosan.

“Paman aku perlu bicara denganmu” Aku memandang Paman Han penuh harap

“Sebenarnya ada apa?” Bibi Sora merangkulku kemudian menuntunku ke ruang keluarga dimana semuanya berkumpul kecuali Younghwon tentunya.

“Masalah ini” Aku menyerahkan ke empat perkamen dan terduduk di depan Paman Han.

 

2 detik

10 detik

30 detik

1 menit

5 menit

10 menit

 

Tiba-tiba wajah paman mulai memucat setelah membaca perkamen terakhir. ‘Ada apa ini?’

“Goonghwa paman rasa kau harus tahu semua ini” Riak wajah paman mulai serius.

“Ada apa ayah?” Tanya Nara dan Yoona secara berbarengan.

“Bisakah kalian semua tinggalkan kami disini?”  Paman Han memandang ke dua anaknya penuh harap.

“Baiklah” Mereka bertiga meninggalkan aku dan Paman Han sendiri disini.

Sebelum naik ke lantai dua Bibi Sora berkata “Katakan segalanya, dia pantas tahu” Lalu Bibi Sora tersenyum padaku.

“Semoga kau bisa menerimanya, bibi percaya kau bisa sayang.” Lalu mereka bertiga menghilang. Apa maksud Bibi Sora? Semoga aku bisa menerimanya? Apa itu kabar buruk? Entahlah.

***

Suasana masih hening sejak Bibi Sora dan kedua anaknya meninggalkan kami. Paman Han masih terdiam di tempat. Sepertinya paman masih berkutat dengan pemikirannya.

“Paman, bisakah paman mulai bercerita sekarang?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sungguh suasana menjadi canggung sekarang. Dan aku tidak suka suasana canggung. Sungguh menyebalkan!

“Pa-”

“Ini mengenai siapa dirimu sebenarnnya Goonghwa.” Mataku mendelik, aku sungguh terkejut ‘Apa maksudnya?’

“Tolong jangan membuatku bingung paman! Bisakah paman langsung pada intinya?”

Paman hanya terdiam. Lalu perlahan menghela nafas panjang.

“Apa ini kabar buruk?” Paman Han langsung memandangku

“Entahlah” Beliau menghela nafas lagi.

“Apa kau siap mendengarnya?” Aku langsung terdiam ‘Pasti ini kabar buruk!’

“Siap atau tidak, bukankah cepat atau lambat aku akan mengetahuinya? Ceritakanlah paman! Aku akan mencobanya”

Baiklah, jika itu yang kau inginkan“

Suasana kembali menjadi hening.

 

2 detik

10 detik

30 detik

32 detik

 

“Perkamen pertama berisi tentang dirimu yang diterima di sebuah sekolah di daerah Ekspertiza, Tryvalsc skola namanya”

“Sekolah? Tunggu paman, aku tak pernah mendaftar di sekolah itu, bagaimana aku-”

“Bisa diterima? (Paman tersenyum padaku) itu secara otomatis terjadi Goonghwa. Kau sudah terdaftar disana sejak kau dilahirkan” Alisku saling bertaut.

“Sejak dilahirkan? Paman jangan mengada-ada! Jangan buat aku bingung, paman!”

“Kau berbeda dari kami Goonghwa. Kau buka bagian dari kami”

Aku tercenung. Apa maksudnya? Aish.. Kenapa hidupku tak pernah ada kepastian? Menyebalkan!

“Paman, aku bukann bagian dari apa? Kami disini itu apa paman? Tolong jelaskan! Aku.. aku sungguh bingung. Apa aku bukan bagian dari paman? Lalu siapa aku?”

Harapanku mulai tipis sekarang. Ini benar-benar kabar buruk!

“Kau bukan manusia Goonghwa. Kau berbeda dari kami. Kami manusia dan kau bukan.”

Aku mematung. Aku bukan manusia? Mana mungkin! Pasti ini hanya lelucon. Aku tak percaya dan tak tak mau percaya.

“Paman! Jangan permainkan aku” Emosiku meluap. Pasti ini hanya lelucon saja. Pasti! Iya pasti!

“Kau bukan bagian dari kami Goonghwa, BUKAN!” Tegas paman sekali lagi. Aku benar-benar lemas sekarang.

“Lalu siapa aku?”

 >>>>To Be Continued >> Loading to [2nd] The One >> By Han Hye Ma >>>>

Gimana? Gimana? Bagus? Gaje? atau Jelek? Kalo ada Typo saya minta maaf sebesar-besarnya. Mian kalo mengecewakan ya? Be RCL Please? Saya Tunggu #deepbow

2 thoughts on “[1st] The One

  1. Lumayan menguras otak juga yah buat ngerti jalan ceritanya🙄 apa mungkin onnie lagi lalod aja?😆
    Onnie terbang ke part2x, komen sekalian aja disana yah *bye bye* kekeke~😆

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s