[Series] The One – Chapter 2


Han Hye Ma © 2012 PRESENTS

[2nd] The One

Read Me ♥ RCL Please ♥ SIDERS? Please RCL ♥ PLAGIAT? Oh come on? Please don’t copycat my story!

Title       : The One

Author : Han Hye Ma

Cast       : Han Goonghwa (OC) ¦ Lee Donghae (Super Junior) ¦ Coming soon (Super Junior Members, EXO Members, F(x) Members, Shinee Members, BoA, Kangta)

Cameo : Han Family

Genre : Fantasy, Family, School.

Rating : PG-15

Disclaiminer : Cast yang ada di sini itu punya orang tua masing-masing. Kecuali original charanya. Plot cerita pastinya punya saya.

A/N : Annyeong, Hyema balik bawa [2nd] The One. Ada yang nunggu? #Plak_Ngarep. Kemarin saya benar-benar sedih dengan presentase yang ngoment ff saya. Ternyata lebih banyak siders dari pada yang ngoment. Hiks.. Hyema nangis. Tapi walau gitu Hyema tetep bawa ini ff lanjutan. Moga banyak yang ngoment #Amin. Trus mohon jangan ada yang copycat ya?

Intinya dilarang PLAGIARSM dan mohon banget jangan jadi SIDERS. Please?? #PuppyEyes

Oh ya, makasih sekali buat Urara yang udah bikin poster di atas. Cr-pic♥

>>>> Start to Reading >> Loading to [2nd] The One >> By Han Hye MA >>>>

Goonghwa pov

Aku bermimpi? Oh tidak, jika ini mimpi berarti dalam sehari aku bermimpi 3 kali. Itu tidak mungkin.

“Lalu apa aku sebenarnya?” Mulutku bergetar saat mengucapkannya. Bagaimana bisa aku mengakui kalau aku bukan manusia. Ini seperti… seperti aku mengakui kalau aku seharusnya tidak ada disini. aku seharusnya tidak ada. Apa aku sudah gila?

“Entahlah.” oh apa ini bencana? Bagaimana bisa aku bukan manusia dan bukan apa-apa. Apa mungkin memang seharusnya aku tidak ada di dunia ini? Ini gila!

“Paman..” Suaraku mulai melirih. Jantungku terasa hampir berhenti berdetak. Aku rasa aku tak bisa..

“Jangan sedih Goonghwa.” Paman menunduk. Nampaknya ia menyesal mengatakan yang sebenarnya. Apa seburuk itukah keadaannya? Oh apa ini?

Aku mulai terisak “Bagaimana bisa aku bukan manusia dan bukan apa-apa paman? Tolong… tolong jelaskan yang sebenarnya paman, tolong..” bulir-bulir air mata telah siap jatuh. Aku mulai terisak lebih kuat lagi.

“Paman?” Suaraku kian hebat bergetar. Aku memandangnya dengan penuh harapan.

Harapan kian terkikis. Harapan untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya walau kesempatannya mungkin kurang dari  beberapa persen saja.

Paman menatapku lekat, lalu perlahan senyumannya mulai mengembang “Sudah kuduga kau akan menanyakannya.”

“Tunggu sebentar” Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkanku sendiri disini. ‘Apalagi nanti, ini sudah sebuah bencana besar bagiku. Oh apa lagi?’

Beberapa menit kemudian.

Ia kembali, paman kembali. Tapi apa yang sedang dibawanya. Sebuah kotak hitam berdebu dengan lambang aneh yang terukir di bagian depannya.  “Apa itu paman?” semoga bukan kabar buruk lagi.

Paman menaruh kotak itu tepat dihadapanku. Oh apa lagi ini? “Bukalah” perintahnya. Tanganku sudah mulai bergemetar. Perlahan aku mulai membuka kotak itu. Debu menumpuk dijariku. Ku lihat sebuah buku tak berdaya tersimpan di dalamnya.

“Ambilah” Aku melirik sekilas ke arah paman dan segera mengambil buku itu. Lalu aku menaruhnya di atas kotak yang baru saja aku tutup.

“Buku apa ini paman?” Paman Han melirikku sekilas lalu tersenyum “Peninggalan ibumu, milik ibumu.” aku tersentak kaget ‘Milik ibuku?’ aku terdiam sesaat.

“Kenapa paman tak pernah mengatakannya dari dulu?” Paman tersenyum kembali.

“Karena paman sudah berjanji akan memberitahumu tentang buku ini, jika kau bertanya tentang hal ini.”

“Lalu apa hubungannya dengan siapa aku sebenarnya?” Kurasa rasa penasaranku sudah mencapai batasnya. Hidup sendiri tanpa mengetahui siapa dirimu sebenarnya pasti akan terasa sangat sulit bukan?

“Entahlah, paman juga tidak tahu. Namun yang pasti, paman yakin buku itu bisa membantumu Goonghwa. Maafkan paman.” Paman kembali tertunduk. Wajah tirusnya terlihat begitu pucat. Mungkin ia terlalu lelah untuk menyampaikan segalanya.

“Jika kau  ingin tahu siapa dirimu, bersekolahlah disana. Hanya disana kau tau siapa dirimu”

“Maksud paman Tryvalasc skola?” Beliau mengangguk.

“Paman jangan gila. Aku sudah terdaftar di Daego High School, mana mungkin aku ke Tryvalasc skola. Ini diluar kemampuanku paman. Aku tak bisa ” Emosiku kembali meluap.

“Paman mengerti. Tapi saran paman, ambilah keputusan yang bijak Goonghwa. Jika kau ingin tahu siapa dirimu, pergilah sekolah di Tryvalsc. Namun jika kau ingin hidup tanpa kepastian tinggallah disini.” Tercenung, yah aku tercenung. Ini pilihan yang sulit untukku.

“Bawalah buku dan perkamen-perkamen ini. Bacalah. Pikirkan baik-baik Goonghwa. Paman rasa kehidupanmu selanjutnya akan tergantung pada keputusanmu. Paman cuma bisa berharap yang terbaik untukmu.”

***

Serasa ada bom jatuh dikepalaku. Aku merasa .. merasa sendiri sekarang. Kurasa benar kata paman, jika aku ingin tetap disini, maka hidupku akan tanpa kepastian. Namun, apabila aku pergi, aku akan menghilangkan kesempatanku untuk bersekolah di Daego High School. Oh ini gila!

Ku helakan nafasku sejenak. Menghirup udara sebanyak mungkin. Ku tenangkan  hatiku, pikiranku dan jiwaku. Mencoba mengambil keputusan yang terbaik untukku. “Ah.. shitt!” Semua ini gila! Aku tak tau siapa diriku sebenarnya. Harus menerima pahit kalau sebenarnya aku bukan manusia. Aku harus meninggalkan cita-cita dan impianku. Aku harus meninggalkan rumah ini dan harus pergi ke tempat yang aku saja tidak tahu dimana letaknya. “Ah..” ini semakin gila saja!

“Jangan terus menggerutu Goonghwa, semua yang terjadi adalah fakta yang harus kau terima” suara itu bergaung ditelingaku. ‘Lalu apa lagi ini?’

“Jangan pernah putus asa. Ikuti kata hatimu.” Suara itu begitu lembut membelai telingaku. Bergaung disana dan hingga mulai menghilang-hilang dan menghilang begitu saja.

Aku termenung sesaat. Suara dari mana itu? Tapi, .. suara itu berkata benar. Hh.. untuk apa aku menggerutu sesuatu hal yang sudah terjadi. Hh… kenapa aku jadi begitu bodoh untuk menyadarinya. Aku harus mengikuti kata hatiku.

Perlahan aku mengambil ke empat perkamen yang kebiarkan bergeletakan di atas meja. Lalu ku buka satu persatu. Saat kubuka perkamen pertama, muncullah kedua Peri Beva, Calvara dan Solvora.

“Kau sudah menerimanya Goonghwa? Waw .. cepat sekali kau bisa menerima semua kenyataan ini. Tapi bersabarlah, ini hanya awalnya saja. Kau akan lebih terkejut dengan hal-hal yang akan kau temui disana” Terang Calvara

Aku meliriknya, Calvara. Ia nampak tersenyum padaku.

“Bisakah kau ceritakan segala hal tentang Tryvalasc skola, Calvara?” Calvara melirik Solvora.

“Tentu saja, itu sudah menjadi tugasku”. Ia tersenyum dan terbang dan terduduk di pangkuanku.

“Kau siap?” ia memandangku

“Tentu saja, kan aku yang memintanya.” Solvora mendekatiku dan terduduk di pundak kananku

“Ceritakan Cal” perintahnya

“Tryvalasc  skola, adalah sebuah akademi di sebuah daerah yang tidak boleh disebut namanya. Namun karena nama daerah tidak boleh disebutkan, kami memanggil daerah itu dengan daratan Tryva sebab ada sebuah akademi disana.”

“Tryvalasc?”

“Benar sekali. Akademi Tryvalasc adalah tempat untuk belajar ilmu dan seni.”

“Ilmu dan seni?” mereka berdua tertawa kecil.

“Yah, ilmu dan seni tentang kemampuan setiap makhluk pada golongan mereka masing-masing” Calvara memandangku.

“Nampaknya kau tak mengerti maksud kami.” Solvora terbang dan duduk di samping Calvara. Aku mengangguk. Memang aku tak mengerti.

“Begini, Setiap Makhluk hidup terutama yang bisa bicara tentunya. Mempunyai kemampuan yang berbeda tergantung golongannya. Golongan makhluk itu ada lima dan setiap jenis makhluk di masukkan ke dalam golongan sesuai kemampuan yang mereka miliki. Kau mengerti?” Terang Solvora. Keduanya melirikku meminta jawaban.

“Ku mencoba, terangkan lebih lanjut.” Mereka berdua mengangguk.

“Ada lima golongan dengan kemampuan yang berbeda. Yang pertama golongan penguasa, namun sangat disayangkan golongan itu sudah punah”

“Punah.. hh.. kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, yang kami tahu generasi terakhirnya ada dua buah keluarga dengan masing-masing satu penerus. Karena ingin melanjutkan tradisi, kedua penerus itu yang kebetulan laki-laki dan perempuan pun menikah dan mempunyai anak. Namun sangat disayangkan harapan satu-satunya mereka menghilang. Sementara keduanya terbunuh saat terjadi pertempuran melawan TeMH0Ta (Temnota)”

“Sungguh tragis” Timpal Calvara. Aku hanya terdiam. Tapi tunggu..

“TeMH0Ta, apa itu?” mereka berdua saling berpandangan.

“Kami tak boleh memberitahu tentang mereka. Itu dilarang. Maafkan kami” Ucap Solvora Aish.. menyebalkan!

“Ya sudahlah, apa selanjutnya?”

“Golongan tertinggi, dimana setelah kejadian itu merekalah yang terkuat sekarang. Setelah golongan penguasa punah tentunya” Calvara melirikku lalu ia mulai berbicara lagi “Yang ketiga kami, golongan sedang. Golongan dengan kemampuan rata-rata. Lalu kemudian golongan peranakan, jenis makhluk yang berasal dari berbeda jenis. Yang terakhir golongan manusia. Em.. kami biasa menyebutnya dengan golongan rendah”

Aku terperangah. Sebanyak itukah? Tapi .. kenapa manusia disebut golongan rendah. Tak berperi kemanusiaan sama sekali.

“Itulah yang terjadi Goonghwa, bisa dibilang itu hukum rimba. Yang terkuat yang menang. Kaum manusia adalah satu-satunya makhluk yang tak memiliki kekuatan. Itu kenyataanya.”

“Lalu bagaimana denganku?” mereka nampak terkejut dan mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Tolong” pintaku

“Em.. Goonghwa” mereka gugup. Oh semoga bukan kabar buruk

“Kami tak tahu” Mataku melotot. Oh ini kabar buruk

“Maksudmu?”

“Em .. Kami tak pernah bertemu orang sepertimu sebelumnya. Maksud kami, biasanya orang yang kami temui sudah tahu akan kemampuannya. Jadi kami akan tahu dari situ. Walaupun seseorang yang tinggal didunia manusia sekalipun. Tapi kamu berbeda Goonghwa, kau tak tahu kemampuanmu. Jadi kami tak tahu kau itu apa. Maafkan kami” BOM! Sebuah bom jatuh dikepalaku. Oh ini tidak baik. Ini akan menjadi masalah yang besar untukku.

Aku menghela nafas. Begitukah akhirnya? Aku bukan seorang manusia. Berarti aku seharusnya memiliki kekuatan, apapun itu. Namun seperti yang dikatakan kedua Peri Beva itu, aku tak memilikinya. Aku pun tak pernah merasa mempunyai suatu kekuatan. Aish.. ini sungguh menyebalkan.

“Lalu, apa kau tau kenapa aku tak memiliki kekuatan?”

Mereka terdiam “Entahlah, kami para peri tak pernah tau akan hal itu. Hanya kaum tertinggi yang mengetahuinya, namun-” Solvora tampak berfikir

“Apa mungkin, kau belum merasakan kekuatanmu karena memang belum saatnya.” Solvora tampak tak yakin dengan pendapatnya.

“Kurasa mungkin sajakan? Bukankah setiap makhluk mempunyai cara dan waktu tersendiri” Timpal Calvara

“Yah, atau kau makhluk jenis baru dengan cara dan waktu yang belum diketahui secara pasti” Tambah Solvora.

“Aku setuju” Mereka berdua tersenyum kepadaku, seakan mengberikan harapan padaku. Tapi yang dikatakan mereka benar juga.

“Jadi apa keputusanmu?” Calvara mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aku akan mencoba pergi ke ekcnepTNea (Ekspertiza)”

“Yeay” Mereka bersorak gembira

*

Hatiku merasa lega setelah tadi malam aku memutuskan untuk mencari tahu siapa diriku sebenarnya. Pagi ini aku memutuskan untuk memberitahu paman dan bibi mengenai keputusanku. Perlahan aku turun ke lantai bawah. Disana aku mendapati keluarga Han sedang berkumpul di meja makan.

“Duh, tuan putri baru bangun?” Cibir Younghwon yang disambut jitakan dari Nara.

“Hentikan” Teriak Nara.

“Aish..” Younghwon memegang kepalanya.

“Maaf.” Aku berjalan menuju ke dapur. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu keluarga Han tentang keputusanku.

Saat sampai didapur aku langsung mengambil air minum dan meminumnya dalam sekali tegukan.

“Kau sudah memutuskannya?” Bibi Han tiba-tiba saja sudah ada dibelakangku.

“Oh itu… mm… sudah” Aku menatapnya ragu.

“Dan apa itu?” Aku menghela nafas. Kurasa sekarang waktunya.

“Aku akan pergi” Senyum bibi mengembang.

“Ku tau, kau pasti memilih yang terbaik ”Bibi memelukku. Pelukan yang hangat. Ku membalasnya. Dia sudah seperti ibu untukku. Selalu membuatku nyaman dan bahagia disisinya. Terimakasih atas segalanya.

“Tapi kapan kau berangkat?” Bibi melepaskan pelukannya dan memandangku lekat. Aku bisa melihat sinar teduh dimatanya. Sinar yang berasal dari kedua bola mata coklat yang indah.

“2 hari lagi seperti yang tertera disurat perkamen itu” Bibi mengusap lembut rambutku.

“Kami pasti akan merindukanmu, rumah ini akan terasa berbeda tanpamu” Bibi kembali memelukku.

“Maafkan semua kesalahanku, maaf jika selama ini aku merepotkan keluarga ini”

“Tidak sayang, kau tidak pernah merepotkan kami. Bibi justru senang kau menjadi bagian dari kami. Terima kasih anakku”

***

2 hari kemudian,

Mungkin aku akan merindukan banyak hal. Dimana aku biasa berjalan sebagai seseorang yang tak tau apa-apa. Dimana aku bisa menjalani kehidupanku tanpa beban. Tapi kini aku akan pergi ke sebuah tempat yang mungkin tidak ada di peta belahan dunia mana pun. Oh atau mungkin di dunia yang tak pernah diketahui. Mungkin ini saatnya aku tau siapa diriku.

Author POV

Tok.. Tok.. Tok..

Nara membuka pintu rumah dengan segera. Setelah pintu terbuka muncullah sesosok laki-laki dengan wajah putih peranakan Irlandian,  tinggi, tegap, dan sedang mengenakan kacamata flat putih.

“Bisa aku bantu?” Tanya Nara kemudian.

“Apakah ini rumah kediaman keluarga Han?”

“Ya?”

“Bisakah aku bertemu Tuan Han Jiyoung dan Han Goonghwa?” Nara menautkan alisnya.

“Maaf anda siapa?”

“Saya Lee Donghae dari Akademi Tryvalasc”

“Silahkan masuk dan tunggulah disini” Nara meninggalkan Donghae di ruang tamu dan segera beranjak ke lantai dua.

*

“Siapa?” Tanya Younghwon yang berada di ruang tengah

“Entahlah, ia mencari ayah dan Goonghwa”

“Laki-laki?” Selidik Younghwon

“Ya,.. em.. dimana ayah?” Nara memandang seluruh penjuru ruangan

“Ada dikamarnya” Nara hanya bersay oh saja. Ketika ia bertanya dimana Goonghwa, Jo menjawab.

“Kurasa ia kabur, kemarin aku lihat ia berkemas seluruh barangnya.”

“Berhentilah berbicara seperti itu. Kau sangat menyebalkan untuk menjadi seorang adik” Younghwon tertawa sinis dan ia menyeringai.

“Aku memang bukan adiknya”

“Memang. Tapi kau bisa menunjukan sikap sopan santunmu-kan? Bukankah kau sangat menghargai atitut?” Nara tersenyum kemenangan. Nara tahu, kalau ia baru saja mengalahkan adiknya. Younghwon adalah seseorang yang sangat menghargai atitut. Bisa dibilang ia sangat sopan terhadap orang lain. Namun tidak untuk Goonghwa. Entahlah.

“Aish… itu khusus untuknya” ia beranjak pergi.

‘Dasar’ Umpat Nara. Lalu ia menuju kamar kedua orangtuanya.

Tok.. Tok..

“Masuklah” suara berat laki-laki menyapa Nara, itu ayahnya. Perlahan Nara membuka kenop pintu.

“Ayah?”

“Ehm” Tuan Han berdehem tanda ia sudah tahu kedatangan putrinya. “Ada apa?”

“Ada seseorang yang mencari ayah dan Goonghwa” Terang Nara.

“Siapa?”

“Entahlah, ku tak mengenalnya. Namun ia mengatakan bahwa ia bernama Donghae dari Akademi… Em.. Try-Try-va-Tryva-lac-…em.. apa ya? Em..” Nara nampak berfikir keras. Ia terus mengulang kata-kata itu berulang-ulang.

“Apa maksudmu Akademi Tryvalasc?” Tuan Han memcoba membantu.

“Benar, iya benar. Itu yang ku maksud” Nara mengangguk. Tuan Han tersenyum kecil dan beranjak dari duduknya.

“Dimana dia?” Tanya Tuan Han

“Di ruang tamu tentunya” Tuan Han berjalan ke arah pintu kamar. Namun sebelum meninggalkan kamar ia berpesan “Pastikan semua adik-adikmu tetap tinggal di kamar termasuk dirimu tentunya. Tolong tengok Goonghwa dan bilang padanya untuk bersiap-siap”

“Memangnya ada apa ayah?” Tanya Nara yang sepertinya kebingungan mencerna perkataan ayahnya.

“Sudah turuti saja” Tuan Han melengos pergi setelah Nara mengangguk tanda mengerti “Bagus!” ucap Tuan Han sambil berlalu.

*

“Kau pasti seseorang yang akan mengantarkan keponakanku ke sekolah barunya” Ucap Tuan Han  sambil menuruni tangga. Kemudian mendekati Donghae dan berjabat tangan dengannya.

“Saya Lee Donghae, Tuan Han. Mungkin anda sudah tau kedatangan saya sejak kedatangan ke empat perkamen beberapa hari yang lalu”

“Yah .. Silahkan duduk” Keduanya duduk berhadapan di ruang tamu. Sejenak suasana hening.

“Kapan kalian akan pergi?” Tanya Tuan Han memulai percakapan, beliau nampak tersenyum sesaat.

“Hari ini, tepatnya saat ia siap.” Tuan Han menghela nafas sejenak.

“Jaga dia baik-baik. Dia anak yang baik dan penurut. Kau tau? Dia keponakanku yang paling aku sayangi” Pesan Tuan Han Tulus.

“Saya tau, saya sudah pernah bertemu dengannya. Dia anak yang baik dan juga polos. Sungguh dia sangat polos”

“Maka dari itu, jaga dia. Aku serahkan padamu. Jika Akademi Tryva percaya padamu, maka aku pun begitu. Bisakah?”

“Baiklah, Tuan. Saya akan menjaganya”

“Terimakasih Donghae, aku mengandalkanmu.” Senyum kelegaan terpancar jelas dari raut wajah Tuan Han. Beliau begitu senang dengan jawaban Donghae.

“Mari aku antar ke kamar Goonghwa” Tuan Han bangkit dari duduknya. Keduanya berjalan melewati tangga dan berbelok ke kanan tepat dimana kamar Goonghwa berada.

“Masuklah, dia sudah tau kau sudah datang. Masuklah” Perintah Tuan Han lembut dan beliau segera meninggalkan Donghae sendiri didepan pintu.

Ditatapnya lekat pintu kamar Goonghwa. Donghae menghela nafas sejenak. Perlahan ia memutar kenop pintu. Ia melirik kedalam. Disana ia melihat sesosok wanita muda yang ia yakini lebih muda darinya. Dengan rambut hitam legam dan tergerai rapih menyampir dipundaknya. Blouse putih berenda bunga dengan padu padan rok biru muda selutut dengan sedikit pita merah muda tertambat disana. Kulitnya yang putih bak pualam menambah serasi diantaranya.

“Aku sudah tau, kalau kau yang akan menjemputku” Ucap Goonghwa

***

“Aku sudah tau, kalau kau yang akan menjemputku” Ucap Goonghwa lirih. Donghae tersenyum kecil.

“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Donghae” lanjutnya.

“Yah, senang bertemu denganmu lagi” Donghae mulai melangkah masuk ke kamar Goonghwa.

“Jadi kau sudah membaca seluruh isi perkamen itu?” Goonghwa mengangguk.

“Waktu dua hari sudah cukup bukan untuk membaca ke empat perkamen itu?” Ucap Goonghwa. Ada nada kesinisan di balik ucapannya. Goonghwa melirik ke arah Donghae. Namun Donghae hanya bisa mengulum senyum.

“Tapi bagiku butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui isinya” Kata Donghae. Goonghwa menautkan alisnya “Maksudmu?”

“Kau tahukan, tulisan yang ada disana bukan memakai huruf alfabet yang biasa manusia pakai. Tapi menggunakan huruf kuno yang bahkan aku sendiri tak bisa membacanya. Hanya orang-orang dengan kemampuan tertentu yang bisa membacanya. Atau mungkin faktor keturunan” Terang Donghae. Goonghwa membisu. Ia baru menyadari hal itu. Dia bisa membaca ke empat perkamen itu padahal ia tahu tulisan yang tertera bukan menggunakan huruf alfabet yang biasa manusia pakai. Ini semakin membingungkan untuknya.

“Tapi Paman Han bisa membacanya” Potong Goonghwa.

“Beliau bukan membacanya. Hanya mengamati” Jelas Donghae. Alis Goonghwa tertaut jadi satu garis lurus. Dan itu artinya ia bingung.

“Beliau hanya mencari tanda atau semacamnya yang pernah ia lihat atau ibumu beritahu. Entahlah. Mungkin semacam itu” Kata Donghae. Ia melirik Goonghwa yang terdiam “Asal kau tahu, ibumu pernah bersekolah disana layaknya pamanmu yang juga pernah bersekolah disana. Namun bedanya pamanmu lebih memilih tinggak di dunia manusia dan menikah dengan bibimu. Hingga kejadian dimana ibumu meninggal dan kau tinggal bersamanya” Tambah Donghae.

“Jadi, apa sebenarnya aku? Ibuku seorang apa? Pamanku seorang apa?”

“Entahlah, kalau pamanmu seorang penyihir namun ibumu aku tak tahu”

“Apa maksudmu? Kenapa mereka berbeda? Darimana kau tahu?” Donghae mengulum senyum kembali.

“Dia adalah  paman tirimu. Satu ayah namun berbeda ibu” Jawab Donghae “Oh ya satu lagi. Aku tahu pamanmu seorang penyihir dari sorot matanya. Aku seorang penyihir jadi wajar aku bisa tahu pamanmu penyihir atau  bukan” Goonghwa tertunduk lesu “Jadi kau tak tahu” Ucapnya lemah.

“Tapi kau akan segera tahu. Apa kau siap?” Goonghwa mendongakkan wajahnya dan melirik Donghae yang sedang mengulurkan tangannya.

“Aku siap. Apa kita aka pergi ke Tribita terlebih dahulu?” Donghae mengangguk “Seperti yang tertera” Perlahan Goonghwa menerima uluran tangan Donghae. Dengan satu jentikan jari sebuah portal berwarna kuning menyala dengan sedikit warna merah dan biru muncul di depan keduanya.

“Bagaimana dengan barang-barangku?”

“Bawa saja tas kecil yang berisi perkamen dan buku itu. Untuk yang lainnya, biar aku yang urus” Goonghwa segera menyabet tas kecil yang sudah terisi kedua barang itu. Lalu keduanya masuk ke dalam portal dan menghilang.

***

>>>> Waiting to [3rd] The One >> By Han Hye MA >>>>

What your opinion about my story? GOOD? NOT TO BAD? or NG? Please say something to me. I waiting you^^

4 thoughts on “[Series] The One – Chapter 2

  1. Onnie bela2in nih bacanya, padahal lagi sakit perut karna dtg bulan🙄😆
    Alesannya sih satu aja, karna ff ini DAEBAK!! kekeke~
    Itu donghae peranakan irlandia? gimana bentuknya tuh yah? susah bayanginnya😛
    jadi paman goong juga penyihir yah? nama2 yang dipakai susah2 amir, dapet ide darimana tuh?🙄
    dibelakang percakapan sebelum kutip penutup harusnya ada tanda baca donk, titik, koma dsb. tapi adanya klo tanda tanya ama seru aja, kasian yang lain dilupain😆
    trus saran onnie mending pakai aku ketimbang ku aja krn bisa lebih pas🙂

    • Ide itu muncul waktu pas pelajaran matematika. #KokBisa? Guru lagi nerangin rumus sedangkan saya menulis cerita ini.

      Emang eon, kata-katnya saya ambil dari bahasa rusia. Jadi susah di baca.

      Wah makasih udah ngasih saran eon. Iya itu juga lagi mulai tak rapiin lagi. Tulisanku masih belum rapi jadi mohon di maafkan. Oke, saya tampung saran eon yang sangat bermanfaat ini. Jeongmal Geomaweoyo^^

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s