[Oneshoot] Angel


Title : Angel

Author: Depoy

Main Cast : Yoona, Kai

Genre : Fantasy, Romance, Friendship,Angst

Length : Oneshoot

Rating : G

Nb: Warning! Typo.

Note: FF ini juga aku post di beberapa blog. jadi, selama nama outhornya Depoy itu berarti aku yang nge-post.

“Aku dimana?” tanya Kai pada dirinya sendiri saat terbangun dari ranjang. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan itu. Semuanya serba putih, ia tahu kalau ia sedang berada di rumah sakit. Tapi yang ia heran adalah bagaimana ia bisa berada di rumah sakit. Ia mencoba mengingat kejadian yang dialaminya sebelum berada di rumah sakit ini. Tapi hasilnya nihil, ia tidak ingat apapun. Ia hanya bisa mengingat keluarganya, keluarga yang selama ini mengacuhkannya hanya demi alasan pekerjaan. Ia lebih berharap amnesia daripada mengingat keadaan itu.

“Selamat pagi!” sapa seseorang wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan itu. Kai mulai menebak-nebak siapa wanita itu. Tak mungkin seorang perawat bersayap dan ia juga heran bagaimana cara wanita itu masuk ke dalam ruangan ini, padahal sejak tadi ia tidak melihat pintu terbuka.

“Siapa kau?” tanya Kai langsung tanpa basa-basi.

“Aku,” jawab wanita itu. “Aku Yoona, aku yang menjagamu selama beberapa bulan ini.” Lanjutnya.

“Beberapa bulan? Memangnya aku sudah berapa lama disini?” tanya Kai lagi.

Yoona mengingat-ingat saat pertama ia diberi tugas untuk menjaga seorang manusia. Yang ia ingat sekitar tiga bulan atau mungkin lebih. “Yang aku ingat tiga bulan.” Jawab Yoona.

Mwo? Selama itukah?

Ne.”

“Lalu apa orang tuaku pernah menjengukku?” tanya Kai penasaran.

Yoona mengingat sejenak lalu menjawab, “Ani, tak ada orang lain yang pernah kesini kecuali dokter dan suster.”

“Sudah kuduga,” katanya lemas. “Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka.” Lanjutnya.

“Sudah, jangan berkata seperti itu. Saat ini mereka pasti sedang khawatir mencarimu.” Balas Yoona.

Kai ingin melanjutkan lagi kata-katanya, tapi Yoona mencegahnya. Ia tahu semua tentang Kai tanpa harus mendengar langsung dari mulutnya. Ia bisa membaca hati dan pikiran Kai. Ia selalu berpikir bahwa ia tak membutuhkan siapapun karena ia selalu diabaikan, tapi didalam hatinya ia terus berharap ada seseorang bisa ia jadikan sandaran disaat ia sedang ada masalah dan seseorang yang bisa menjadi tumpuan dalam hidupnya. Sayangnya ia belum menemukan sesuatu yang ia cari sampai saat ini.

“Bagaimana aku bisa berada di tempat ini?” tanya Kai.

Yoona mulai kesal dengan manusia didepannya yang sangat ingin tahu ini, tapi di sisi lain ia merasa kasihan dengan manusia malang di depannya ini.

“Sayapku terlalu lelah untuk mengajakmu pergi,” Jawab Yoona. “Dan jiwamu belum kuat untuk pergi keluar sana.” Lanjutnya.

Kai merasa jengkel dengan orang didepannya ini, orang ini terlalu banyak bicara. “Baiklah, baiklah kalau begitu aku pergi sendiri saja.”

“Kau pikir kau bisa pergi dengan tubuhmu yang masih tertinggal dirumah sakit.” Ucap Yoona kesal.

Kai melirik ke ranjang rumah sakit itu, ia terkejut melihat tubuhnya yang terbaring lemah dengan infus dan alat-alat medis yang tidak ia ketahui. “Ini…” ucapnya heran.

“Aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu. Aku ada tugas di tempat lain, sampai jumpa besok.” Ucap Yoona sambil mengepakkan sayapnya kemudian ia terbang keluar jendela.

Kai menuju jendela dan melihat makhluk terbang seperti merpati “Hei, tunggu. Siapa sebenarnya kau?” tanya Kai sambil berteriak, tapi makhluk itu sudah terbang tinggi dan semakin jauh dari tempatnya berada.

Ia terus memikirkan siapa makhluk itu. Mungkin makhluk itu seorang bidadari, tapi tidak mungkin. Ia menyangkal fikirannya itu, memangnya ada seorang bidadari cerewet seperti dia. Mungkin dia malaikat, malaikat kematian yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mencabut nyawanya. Hipotesisnya yang terakhir membuatnya merinding.

Tiba-tiba jendela kamarnya terbuka lagi dan ia sudah mengira kalau makhluk itu akan kembali. “Ya, aku bukan seperti yang kau kira. Aku ini malaikat yang ditugaskan untuk menjagamu.” Tegas makhluk itu.

“Lalu…”

“Cukup,” Potong makhluk itu. “Panggil aku Yoona, aku pasti akan mencari tahu bagaimana kenap kau ada di sini. Tapi kau harus tetap disini, biarkan aku yang mencari tahu sendiri.” Lanjutnya panjang lebar.

“Baiklah Yoon, tapi….” ucap Kai kepada malaikat pelindungnya.

Lagi-lagi makhluk itu memotong ucapan Kai dengan mengatakan, “Kau ingin tahu, kalau begitu ayo ikut aku.”

***

Kai POV

“Kau ingin tahu, kalau begitu ayo ikut aku.” Ucap Yoona.

Ake lebih baik menurut padanya daripada aku habis diomeli olehnya. Ia berjalan mendahuluiku dan menebus pintu ruangan ini. Aku berusaha membuka pintu namun tanganku tak dapat memegangnya entah apa yang membuatku tidak bisa melakukannya. Tiap kali aku mencoba memegang gagang pintu rasanya seperti tanganku menembusnya.

“Kai, apa yang kau lakukan. Ayo cepat, sebentar lagi waktu ku akan habis untuk menjagamu.” Ucap Yoona lagi.

“Kau itu bisa menembus apapun, jadi kau tak perlu gagang pintu itu.” Ucap Yoona lagi, malaikat pelindungku ini seperti membaca fikiranku, ia selalu memotong apapun yang ingin aku katakan. Sebaiknya aku harus berhati-hati saat berada didekatnya, sepertinya malaikat pelindungku ini juga sedikit berbahaya.

“Sudah, jangan berfikir macam-macam. Cepat jalan kalau kau ingin tahu, sepuluh menit lagi aku harus pergi dari tempat ini.” Ucap Yoona lagi. Aku berjalan mengikutinya melewati lorong-lorong rumah sakit. Aku melihat tulisan yang terpampang di atas kamarku, yang bertuliskan ICU. Itu berarti aku sedang berada di ruang ICU dan mungkin kecelakaan yang ku alami cukup parah sehingga sampai saat ini aku belum juga sadar.

Aku melewati ruang operasi dan melihat seorang ibu yang menagis saat anaknya masuk kedalam ruang operasi. Ibu itu kelihatan bahwa ia sangat takut kehilangan anaknya jika terjadi kemungkinan terburuk pada anaknya. Anak itu sungguh beruntung memiliki orang tua yang sangat peduli kepadanya. Seandainya saja aku yang menjadi anak itu, pasti aku akan jadi anak paling bahagia di dunia.

“Kau lihat orang-orang yang berada disana?” tanya Yoona sambil menunjuk ke ujung koridor yang dipenuhi oleh orang-orang yang tampak frustasi. “Mereka adalah jiwa-jiwa yang lemah, jiwa-jiwa yang kesepian sama sepertimu. Mereka adalah manusia-manusia yang merasa diabaikan oleh orang-orang disekitarnya. Mereka membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang-orang disekitar mereka agar mereka bisa kembali ke tubuh mereka dan menjalani hidup mereka lagi.” Jelasnya.

Dari semua yang dikatakana Yoona, terlintas beberapa pertanyaan di fikiranku. Mungkin Yoona bisa langsung menjawab pertanyaanku tanpa aku harus bertanya padanya. Aku menunggunya beberapa saat, tapi Yoona sama sekali tak menjawab pertanyaan ku. Mungkin kali ini Yoona membiarkan ku untuk bertanya kepadanya.

“Bagaimana kalau orang-orang disekitar mereka selamanya tak memberikan perhatian dan dukungan kepada mereka apa yang terjadi pada mereka?”

Yoona menarik nafas sejenak lalu menjawab, “Mereka akan mati penasaran dan menjadi jiwa yang penasaran. Mereka tidak akan pernah tenang selamanya.”

Aku ingin bertanya lagi kepadanya, tapi aku ragu karena aku takut jawaban yang diberikan kepada Yoona berbeda dengan yang kuharapkan. Jadi, aku mengurungkan niatku untuk bertanya. Saat ini aku berharap orang tuaku datang ke tempat ini dan memberiku dukungan untuk sembuh sehingga aku bisa menjalani kehidupanku sepeti manusia pada umumnya.

“Kai, waktu ku disini sudah habis, aku harus pergi ke tempat lain. Aku janji besok aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.” Yoona langsung pergi meninggalkanku di tempat ku berdiri disini.

Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Tak ada yang bisa kulakukan disini, aku berjalan melewati lorong rumah sakit yang gelap. Mungkin sekarang sudah malam, jadi mereka mematikan lampunya. Setelah sampai dikamar, aku melihat para dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku. Mereka memeriksa keadaanku, mungkin sekarang keadaanku tidak lebih baik drai sebelumnya.

Aku tak ingin mendengar apapun yang mereka katakan tentang kondisiku. Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Aku takut mendengar kemungkinan terburuk yang akan terjadi denganku.

***

Yoona POV

“Apa aku akan menjadi seperti mereka juga?” tanya Kai dalam hatinya. Aku mendengar apa yang ia ucapkan di dalam hatinya. Aku ingin menjawab saat itu juga, tapi aku takut ia akan sedih jika mendengar jawaban dariku. Jujur, sampai saat ini aku belum menemukan siapa keluarganya dan alasannya berada di tempat ini. Sudah lebih dari tiga bulan aku mencari tahu tapi hasilnya nihil.

“Kai, waktu ku disini sudah habis, aku harus pergi ke tempat lain. Aku janji besok aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.” Ucapku lalu aku pergi dari tempatnya berdiri dan membiarkannya berdiri di tempat itu. Aku yakin tidak akan berbahaya jika meninggalkannya di tempat itu sendirian.

Aku berhenti di atap sebuah gedung lalu mengamati sekelilingku. Mungkin disekitar sini ada petunjuk agar aku bisa menemukan keluarga Kai.

***

“Kai, aku sekarang aku tahu kau berasal dari mana.” Ucapku ketika sampai di kamar Kai. Tapi kamar itu sudah kosong. Tak ada manusia ditempat itu. Aku tak punya kemampuan untuk mendeteksi keberadaan seseorang sehingga aku harus mencarinya ke segala penjuru rumah sakit ini.

“Yoona.” Suara itu sangat familiar di telingaku. Ya, itu suara Kai.

“Kai, kemana saja kau. Aku punya berita nagus untukmu.” Ucapku antusias

“Aku sudah tau,” potongnya. “Aku sudah mendengar perkataan dokter dengan para perawat itu kalau lusa orang tuaku akan datang ke tempat ini dan kondisiku juga sudah mulai membaik, jadi mereka memindahkanku ke ruang perawatan.” Lanjutnya

Aku mendengar nada sedih dalam perkataanya dan hatinya juga mengatakan kalau ia merasa aku bahagia karena akan melepaskan tugasku darinya. Sebenarnya bukan itu yang aku rasakan, aku tak pernah merasa bahagia ketika akan berpisah dengannya.

“Aku tidak berfikiran seperti yang kau fikirkan.”

Kai hanya diam tapi kemudian ia berkata, “Apa tidak bisa kau selalu disini?”

“Maksud mu apa?” tanyaku bingung, bahkan aku tak bisa membaca fikirannya lagi.

“Jika aku tidak kembali ke tubuhku aku bisa terus bersamamu?” tanya Kai lagi.

Aku berfikir sejenak, aku juga tidak tahu apa akan aku jawab, aku tak sanggup melepasnya pergi. Sudah lebih dari tiga bulan aku menjaganya dan sekarang aku merasa tak sanggup melepaskannya. Tapi aku tidak boleh egois, aku harus membiarkannya pergi. Membiarkannya mendapat kasih sayang dari orang-orang disekitarnya. “Tidak, kau akan menjalani hidupmu. Kau tidak bisa terus berada disini atau kau akan menjadi jiwa yang penasaran.”

“Baiklah, aku akan kembali ke tubuhku. Kamsahamnida telah menjagaku selama beberapa bulan ini.” Setelah mengucapkan kata-kata itu Kai pergi dari ruangan ini. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang sekarang sudah mulai menghilang di balik dinding. Aku berusaha tidak mengikutinya agar aku bisa melepasnya. Sampai Jumpa Kai, setelah ini kau tidak akan mengingatku lagi. Tapi aku akan selalu mengingatmu.

***

Author POV

“Kai, apa kau sudah sadar?” Kai melihat kedua orang tuanya menangis dihadapannya.

“Ada apa Eomma, Appa?” tanya nya

“Syukurlah kau sudah sadar, kau kecelakaan tiga bulan lalu saat berangkat sekolah dan kau koma selama tiga bulan…” ucap Eomma Kai sambil menangis sesenggukan.

“Dan kami baru mengetahuinya semalam. Eomma dan Appa terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kami mengabaikanmu.” Lanjut Appa-nya.

“Sudahlah, aku tidak akan menyalahkan Eomma dan Appa. Aku hanya ingin Eomma dan Appa memberiku perhatian seperti anak-anak lain.” Ucap Kai kepada kedua orang tuanya. Mereka memeluk anak laki-laki mereka. Mereka tak akan lagi mengabaikan anak laki-lakinya ini.

Dibalik jendela kamar rawat itu ada seorang malaikat penjaga yang melihat mereka. Malaikat itu juga terharu melihat mereka bahagia. Ia tak peduli jika anak itu melupakannya yang ia pedulia adalah bahwa ia selalu ingat anak itu dan takkan melupakannya. Memang sudah menjadi tugasnya untuk  merawat orang-orang yang membutuhkan sandaran seperti anak itu. Dan ia berhasil membuat anak itu menemukan kebahagiaan bersama orang tuanya.

Ia mengepakkan sayapnya dan terbang menuju tempatnya berasal untuk memberitahukan teman-temannya kalau ia sudah berhasil memberi kebahagiaan kepada seorang manusia. Mungkin nanti ia akan bertemu dan merawat Kai yang lain dan membuatnya menemukan kebahagiaan seperti anak itu.

END

Huh, akhirnya selesai juga bikin ff gaje gak bermutu ini. Maklum ya, soalnya ff ini aku jadiin obat untuk penyakit writers blockhitis ku yang sampai saat ini masih belum sembuh. Yang baca jangan lupa RCL ya :)

13 thoughts on “[Oneshoot] Angel

  1. Yoona sebagai angel itu…pas banget *ngebayangin kakak jauhku (?)*
    Trus ‘teman-teman’nya Yoona ini angel2 yang lain kan? *ngebayangin Sooyoung-unnie jd angel*
    Sebenernya aku agak kurang ngena kenapa si Kai bisa langsung (semacam?) demen (?) sama Yoona gitu thor…eh tapi ini aku sok tau aja (maklum penikmat ff baru) -,-”
    Dan Kai itu ganteng! (?)
    Eh maaf thor aku komennya ga jelas *bow* tapi aku emang terbuat dari hal-hal ga jelas jadi…*bow* tuh kan jadi curcol *bow*

    • maklumin aja ya kalau agak gaje, ini ff aku buat sambil galau jadi wajar kalau ceritanya agak aneh… Kai itu emang ganteng (?) makasi ya udah komen, ni ff alurnya emang ga jelas banget *bow*

  2. hmm.. ceritanya bagus😀 tapi , si kai kenapa tiba2 gitu ska sm yoong?
    alurnya kecepeten #plakk..
    tp , yoong cocok jadi malaikat :3 unyu unyu :*
    kalo bisa diperbaiki sedikit-dikit #berasaApaLo.__.

  3. Belum apa2 kok Yoona.xa uda d ambil
    Kasian Kai tuh kehilngan bnget kta.xa

    Like YoonKai

    Post ff Yoona yg bnyak dong klo bisa pairing sma Changmin atau Kris
    Pasti keren bnget..

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s