[Series] The One – Chapter 3


Han Hye MA © 2012 PRESENTS

[3RD] THE ONE

Han Goonghwa | Lee Donghae | Prince of Ipswich | Princess Palvier

PG-15 | Series

Read Me ♥ RCL Please ♥ SIDERS? Please RCL ♥ PLAGIAT? Oh come on? Please don’t copycat my story!

Title       : The One

Author : Han Hye Ma

Cast       : Han Goonghwa (OC) ¦ Lee Donghae (Super Junior) ¦ Coming soon (Super Junior Members, EXO Members, F(x) Members, Shinee Members, BoA, Kangta)

Cameo : Han Family, Prof. Cristian Arculenta, dan Prof.Yonsama

Genre : Fantasy, Family, School.

Rating : PG-15

Disclaiminer : Cast yang ada di sini itu punya orang tua masing-masing. Kecuali original charanya. Plot cerita pastinya punya saya.

A/N : Annyeong, Hyema balik bawa [3rd] The One. Ada yang nunggu? #Plak_Ngarep. Entah ini ada yang baca atau tidak mengingat banyaknya siders. Saya mohon banget ya RCL. Atau saya hentikan pempublisan FF ini. Jujur saya benar-benar mengharapkan para READERS MENJADI GOOD ketika mereka mengoment. Itu aja deh. Cr-Pic to Urara @http://rarastory.wordpress.com

 Wanna see the last chapter?

Klik this Teaser The One | The One [1st]The One [2nd]

 >>>> Start to Reading [3RD] THE ONE >> Presented by Han Hyema >>>>

Tribita World

Mereka berdua sampai di sebuah daratan yang begitu hijau membentang. Dengan udara yang bersemilir sejuk dan bau embun yang menumpuk di hidung. Sungguh menyegarkan.

“Selamat datang kembali di Tribita.” Ucap Donghae.

“Bukankah ini-”

“Yang ada di mimpimu” Timpal kedua Peri Beva, siapa lagi kalau bukan Calvara dan Solvora.

“Kalian?” Goonghwa nampak terkejut.

“Jadi semua ini nyata? aku tak menyangka.” Goonghwa menggeleng tak percaya.

“Ayo kita pergi dari sini” Ajak Donghae

“Kemana?”

“Kau tak ingin beristirahat? Kurasa kau cukup lelah dengan semua hal yang terjadi. Lagi pula apa kau besok cukup kuat untuk menempuh perjalanan?”

“Terserah kau saja” Donghae menarik tangan Goonghwa “Ayo-”

***

Desain klasik Eropa begitu kental terasa saat sebuah kereta kuda berwarna hitam legam dengan ukiran bunga berwarna merah darah memasuki halaman sebuah rumah bergaya kerajaan klasik Eropa.

Seorang lelaki dan perempuan turun darinya. Mereka adalah Goonghwa dan Donghae yang telah menempuh perjalanan jauh dari daratan padang safana Tribita menuju rumah singgah pelajar Tribita. Keduanya berdampingan masuk kedalam rumah itu didampingi kedua Peri Beva .

Ketika pertama kali mereka menjejakan kaki di rumah itu. Semua orang memandang mereka penuh rasa jijik.

“Kenapa mereka memandang kita seperti itu?” Tanya Goonghwa

“Karena pakaian kita, pakaian manusia” Jawab Donghae

“Memangnya kenapa, ada yang salah?” Donghae tersenyum kecil

“Oh aku mengerti kita berbeda, benar bukan? Hh.. lalu apa yang kalian pakai kalau bukan pakaian-em-manusia?” Goonghwa mengatakan hal itu terasa sangat aneh baginya. Ia belum terbiasa atau mungkin belum bisa menerima apa yang terjadi dalam hidupnya selama beberapa hari terakhir ini. Namun yang pasti ada nada keraguan di dalam kalimat yang ia lontarkan.

Melihat hal itu Donghae hanya bisa tersenyum “Jika kau belum terbiasa, bilang saja pakaianku”

“Oh iya maksudku begitu ”

“Ternyata kau sangat polos” Donghae tertawa kecil “Kami biasanya memakai pakaian seperti mereka” Jawab Donghae disertai lirikan pada segerombolan anak laki-laki yang sedang asik mengobrol.

“Pakaian hitam dengan jubah? Itu konyol. Memangnya seperti film penyihir yang sering ku tonton di televisi?”

“Aku memang penyihir. Dan kau berada di dunia yang kau anggap konyol Miss Han. Terserah anda saja jika tak percaya.” Donghae terus berjalan  diikuti Goonghwa yang terus mengikuti dibelakangnya. Keduanya terhenti di sebuah pintu yang terbuka. Nampak sebuah ruangan dengan desain unik dan bergaya klasik tentunya.

“Kamu pasti Goonghwa.” Seseorang menyambut mereka berdua dan keduanya di persilahkan masuk. Ruangan yang mereka masuki benar-benar unik. Ruangan dengan sudut yang berbentuk segitiga dengan lantai porcelin dan dinding marmer dengan ukiran unik. Waw menakjubkan.

Goonghwa menoleh setelah didapatinya seorang pria paruh baya dengan pakaian hitam mengkilap dan jubah berwarna merah darah ada di dekatnya.

Pria itu berambut klimis dengan rambut putih beberapa diantaranya. Bermata kuning dengan lekuk tajam. Kulitnya putih pucat. Tubuhnya tinggi tegap tetapi agak rapuh. Usianya mungkin 50-60 tahun.

“Em-Ya saya Goonghwa” Jawab Goonghwa tergugup

“Duduklah..” Laki-laki itu berjalan ke kursinya. Sedangkan Donghae dan Goonghwa hanya mengikuti perintahnya. Suasana sejenak hening… Laki-laki itu hanya memainkan pena bulunya dan menggerak-gerakannya di sebuah lembaran daun usang kering.

“Han Goonghwa.” Ucap laki-laki itu terputus membuat Goonghwa mulai memandangi wajah laki-laki itu.

“Perkenalkan saya Prof.Yonsama, Ketua Pengadilan Tinggi Tribita sekaligus pemilik rumah singgah pelajar ini.” Tuan Yonsama mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan diterima senang hati oleh Goonghwa “Senang bertemu anda, Tuan Yonsama.”

“Kau pasti sudah mengenal saya-kan, Tuan Lee?” Pandangan Prof.Yonsama beralih pada Donghae.

“Tentu saja Tuan. Semua orang di Tribita pasti mengenal anda. Terlebih para pelajar tentunya.” Prof.Yonsama mengangguk sambil tersenyum “Terima kasih.”

“Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik Tuan Lee. Aku ucapkan terima kasih” Prof.Yonsama mulai kembali menggerak-gerakkan pena bulunya.

“Itu sudah menjadi tugas saya Tuan Yonsama. Lagi pula ini amanat dari Prof. Sooman” Jawab Donghae.

“Aku tahu. Setidaknya aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.” Timpal Tuan Yonsama.

“Siapa Prof. Sooman Donghae?” Goonghwa yang dari tadi terlihat bingung mulai mengeluarkan segala pertanyaan yang sudah bersarang dibenaknya.

“Seorang yang mengirimmu kesini Miss Han. Dia Dewan Kementrian yang mengetahui asal-usul mu. Setidaknya itu yang ku tahu” Jawab Prof.Yonsama

“Dia? Apa itu benar? Bisakah aku bertemu dengannya? Tolong aku ingin mengetahui siapa diriku sebenarnya.” Goonghwa memandang Tuan Yonsama penuh harap.

“Kau tak mengenalnya, maksudku kau tak pernah bertemu dengannya?” Prof.Yonsama memandang Goonghwa heran. Goonghwa menggeleng.

“Tentu saja Prof.Yonsama, dia baru disini. Baru 5 hari lalu, ia mengetahui kenyataan ini” Donghae berusaha menjelaskan.

“Oh, maafkan aku Goonghwa. Aku tak tahu. Dan aku tak bisa membantumu. Sekarang semua orang tidak ada yang mengetahui keberadaan Prof.Sooman, dia menghilang. Entahlah” Prof.Yonsama menggedikkan bahunya dan mulai melanjutkan aktifitasnya.

“Tuan?” Seakan membaca situasi Prof.Yonsama menjelaskan lebih lanjut.

“Kemarin ketika aku bertandang di Kediamannya. Dia sudah tidak ada. Aku hanya menemukan beberapa surat bergeletakan dilantai dan beberapa barang pecah belah yang sudah tak berbentuk. Aku tidak tahu. Lebih baik kau lupakan masalah ini Goonghwa. Itu akan membebani pikiranmu” Goonghwa terdiam. Bagaimana dia tidak memikirkannya, Prof.Sooman adalah satu-satunya orang yang mengetahui siapa dirinya, pikir Goonghwa.

“Apa pendapatmu tentang Tribita, Goonghwa?” Prof. Yonsama bertanya pada Goonghwa seakan mencoba menggeser pembicaraan. Goonghwa memandang Prof. Yonsama dan menjawab “Maksud tuan daratan ini?” Prof. Yonsama mengangguk “Tentu saja”

“Sebenarnya saya baru kemari dua kali. Ketika saya bermimpi dan sekarang. Jadi saya belum berani untuk berpendapat Tuan” Jawab Goonghwa

“Kalau begitu tentang tempat ini, rumah singgah ini” Perintah Prof. Yonsama

“Mungkin satu kata ‘Unique’ Tuan Yonsama” Prof. Yonsama menyerngit “Maksudmu?”

“Lihat saja gaya bangunan, arsitekturnya, seni, dan barang-barangnya serta jangan lupakan ukiran-ukirannya” Prof.Yonsama mengangguk “Yah kau benar Miss Han. Rumah singgah ini memang sengaja dirancang sedimikian rupa. Rumah ini seperti..”

Belum sempat Prof.Yonsama berbicara, Goonghwa memotong. “Menggambarkan karakter anda, bukan?” Prof.Yonsama mengangkat alisnya beberapa detik sebelum ia tersenyum dan berkata “Teruskan”

“Angkuh dan disiplin tentunya. Pecinta seni dan memiliki keramah tamahan yang luar biasa menyenangkan. Dan tentunya dermawan. Walau ada sedikit kesombongan dibalik semua itu” Prof.Yonsama tersenyum kecil “Setidaknya itu menurutku” Lanjutnya

“Kau pembaca karakter yang baik Miss Han” Puji Prof.Yonsama “Tapi kau melupakan satu point penting Miss Han” Goonghwa dan Donghae memandang Prof.Yonsama seksama.

Lalu Goonghwa dan Prof.Yonsama berbicara bersama “Estetika dan tata krama” Lalu setelah menyadari hal yang yang terjadi mereka tertawa.

“Sudah Kuduga” Prof.Yonsama berkata. Lalu ia menggerakkan tangannya kembali menulis beberapa kalimat yang ia telantarkan. Setelah menunggu sekian menit, ia menghentikan aktifitasnya dan memandang Goonghwa.

“Malam sudah datang. Jamuan makan akan segera dihidangkan. Sebaiknya kalian istirahat”

Tuan Yonsama memainkan tangannya dan seketika itu juga kertas yang baru saja ia tulis sudah terbungkus rapi layaknya surat yang sudah siap untuk dikirim.

“Bawa ini Goonghwa, Kau akan membutuhkannya suatu saat nanti” Tuan Yonsama memberikannya kepada Goonghwa “Apa ini tuan?”

“Surat rekomendasi untuk kau masuk dalam mata pelajaranku. Sampai bertemu disana. Dan satu lagi ada hal yang ingin aku sampaikan namun aku hanya dapat menuliskannya. Bacalah dan mengertilah” Tuan Yonsama mengalihkan pandangannya jepada Donghae.

“Dan kau Donghae. Temani dia dan lindungilah dia. Jadilah teman atau bahkan sahabat yang baik untuknya, bisakah?” Pinta Tuan Yonsama pada Donghae.

Donghae diam sejenak. Lalu menatap Goonghwa yang sekarang sedang menatapnya intens. “Bisakah?” Ulang Tuan Yonsama.  Donghae tetap menatap lekat Goonghwa. Lalu tersenyum kemudian. “Tentu saja” Katanya masih dengan memandangi Goonghwa yang berbinar matanya terharu.

“Terima kasih” Terlihat senyum tulus Donghae dan Tuan Yonsama. “Goonghwa semoga kau nyaman berada disini”

“Aku akan berusaha”

“Baiklah, ayo kalian berdua istirahatlah. Bukankah besok kalian melanjutkan perjalanan ke Tryvalasc, eum?” Goonghwa dan Donghae mengangguk. Mereka berdua hendak meninggalkan ruangan saat Tuan Yonsama memanggil mereka kembali. “Jangan lupa jamuan makan pukul 9 malam” Ingatnya.

Keduanya tersenyum dan berkata “Baiklah, terimakasih Tuan”

***

FLASHBACK_END

Goonghwa masih terdiam di kamarnya, tepatnya kamar yang ia tempati di rumah singgah ini. Setelah membersihkan diri yang lebih memilih diam memandang ke luar jendela, dimana terdapat padang rumput nan luas yang di tumbuhi beberapa pohon besar yang ia sendiri tidak tahu apa namanya. Ia menghela nafas panjang. Dilihatnya buku peninggalan ibunya yang sama sekali belum dijamahnya. Perlahan jari-jarinya menyentuh setiap inci-sisi-buku itu.

Buku berwarna hitam kecoklatan dengan ukiran-ukiran yang Goonghwa sendiri tidak tahu apa namanya. Banyak sulur-sulur disisi depan dan belakang. Dan itu seperti membentuk pengunci yang sangat kuat.

“Ah..terkunci, bagaimana aku bias membukanya?” Goonghwa mengacak rambutnya. Didalam hatinya yang terdalam, ia ingin sekali mengingat satu hal kecil saja tentang dirinya.

‘Andai saja aku tak pernah mengalami amnesia. Andai saja aku bias mengingat semuanya. Andai saja orangtuaku masih ada disampingku. Aku tak akan sesusah ini, sebingung ini, apa yang harus aku lakukan?’ Teriak hati Goonghwa yang perlahan-lahan mulai runtuh pertahanannya.

*

Ketukan pintu membuyarkan sedikit angan-angannya yang telah pupus dan tak akan pernah terjadi.

Ketukan kedua membuatnya bangkit perlahan dari duduknya. Goonghwa menyabet tas yang berisi perkamen dan memasukan buku peninggalan ibunya. Sejenak ia merapikan  pakaiannya dan mulai beranjak menuju pintu.

Ketukan ketiga ia sudah berada di depan pintu. Ia menghela nafas sejenak dan perlahan membuka pintu. Terlihat Donghae yang sedang memandanginya di depan pintu sambil tersenyum.

“Kau sudah siap?” Goonghwa mengangguk

“Ayo” Donghae menjentikan jarinya, sedetik kemudian portal yang sama saat mereka hendak ke Tribita muncul. Donghae menggandeng tangan Goonghwa. Lalu keduanya masuk ke dalam portal dan menghilang.

***

Semilisir angin menerpa daratan Tryva. Musin semi telah banyak membawa perubahan. Bunga-bunga mulai menghiasi bukit-bukit kecil yang terbentang luas. Dan diantaranya ada pepohonan yang hanya ada satu atau dua buah dengan daun ungu yang begitu indah serta tak lupa semak-semak hijau dan dendalion yang tumbuh disekitarnya. Sungguh ini luar biasa.

Namun tiba-tiba saja keadaan berubah. Angin mulai berputar cepat dan membentuk sebuah lingkaran hitam. Dedauanan yang terhempas turut mengitarinya. Angin kian cepat dan cepat sampai putarannya bergerak imbang di samping pohon besar tua yang begitu teduh dan dari sanalah Goonghwa dan Donghae muncul.

Goonghwa terdiam di tempat sementara Donghae menghirup udara sekitarnya yang mulai kembali tenang.

“Selamat datang di Bukit Tryva” Ujar Donghae sesaat setelah keadaan kembali seperti semula.

“Indahnya” Puji Goonghwa lalu perlahan ia bergerak turun dari bukit pohon teduh menuju sebuah bangunan yang menurutnya “Menakjubkan, tempat apa ini?” tanyanya antusias.

Donghae hanya tersenyum dan memberi kode ‘inilah tempatnya’ dan Goonghwa nampak terkejut.

Goonghwa kembali melihat bangunan yang menurutnya mirip kastil kerajaan dari pada ‘inilah tempatnya’, setidaknya itu menurutnya.

“Benarkah?” Donghae mengangguk “Apa ada yang salah?” Tanya Donghae.

“Bukit ini dan.. kastil ini adalah…” Ucapan Goonghwa terputus “Benar Trvalasc Skola, tempat tinggal dan sekolah barumu” Donghae menjelaskan.

“Benarkah?” Mata Goonghwa berbinar memandang daratan bukit nan luas yang ditengahnya terdapat bongkahan batu kotak yang menyusun sebuah kastil megah dengan enam menara utama. Warnanya pucat dan berumur ratusan tahun pastinya. Gaya bangunannya mirip sekali dengan arsitektur kerajaan eropa jaman dahulu, sungguh menakjubkan pikirnya.

“Ayo”  Ajak Donghae. Keduanya mulai melangkah memasuki gerbang kastil Tryvalasc Skola. Suasana terasa sepi. Hanya lampu temaram di lorong-lorong kastil yang setia menemani.

“Kemana kita akan pergi?”  Tanya Goonghwa yang merasa lorong ini terlalu panjang dan tak ada ujungnya.

“Kita akan menemui Tuanku Yang Mulia. Dia adalah kepala sekolah disini.” Ujar Donghae kemudian.

GOONGHWA POV

Aku memasuki sebuah gerbang hitam dengan berbagai ukiran aneh menghiasinya. Suasananya begitu sepi dan pengap. Tempat ini begitu menyeramkan. Aku melirik Donghae yang berjalan didepanku. Ia terlihat berbeda. Wajahnya terlihat kelegaan dan kegembiraan. Aku selalu berpikir apa yang ia lakukan?

“Ini adalah rumahku” lontarnya.

“rumah?”

“Ya, sebuah rumah yang begitu nyaman. Aku yakin kau pasti akan betah disini” Donghae masih tetap saja tersenyum sampai ia menunjuk ke arah kanan tepat disamping lorong gelap dengan sedikit cahaya lilin.

“Jangan pernah kesana, itu tempat berbahaya bagi siapapun” Titah Donghae,

Aku menautkan alisku “Lagian siapa juga yang akan pergi ke tempat gelap seperti itu”

“Aku hanya memperingatkanmu” lanjutnya lagi dan mendorongku berbelok ke kiri dan disanalah terlihat suasana yang sebenarnya.

“Ini baru yang namanya sekolah, bukan?” Selorohku dan Donghae hanya memandangku dengan tatapan ‘lalu kau pikir ini tempat apa?’

“Tempat yang ‘unik’” ucapku akhirnya dan ia pun terus berjalan didepanku. Kalau dilihat-lihat wajahnya dan ekspresinya lucu juga. Tapi dia tak begitu pintar namun ia ‘unik’. Haha.

“Tryvalasc Akademy, apa benar ini tempatnya?”

“Ya” Jawabnya singkat “apa ada yang salah?” lanjutnya.

“tidak, hanya saja aku baru mengunjungi sekolah seperti ini.” Langkah Donghae terhenti dan ia menoleh kearahku. Aku terdiam saat ia menatapku dengan kedua bola mata hitamnya. Tatapannya seolah berkata ‘lalu kau pikir ini tempat apa?’

“Kemana kita akan pergi?” jujur aku tak suka tatapannya. Tatapan penuh penekanan, ia terlihat begitu berbeda. Dan hanya inilah caraku untuk mengubah tatapannya yaitu dengan mengalihkan pembicaraan.

Ia mengubah tatapannya dan bergerak kembali didepanku. “Ikuti saja aku” ucapnya dan terus berjalan. Aku bergerak disampingnya berjalan menyusuri setiap langkahnya sampai menuju sebuah ruangan mirip ballroom yang indah.

“Tempat apa ini?”

“Semacam ruang rekreasi para siswa disini. Kita akan bergerak ke atas.” Aku mengikuti Donghae dengan hati gusar ‘apa yang mereka lakukan?’

Semuanya memandangku, maksudku mereka –siswa di sini- aku tak tahu apa yang mereka tatap. Tuhan, kenapa dengan tatapan mereka itu? Kenapa seakan memojokanku? Oh aku tahu sekarang.

***

Tryvalasc Skola

AUTHOR POV

“Pandangan yang sama” Gumam Goonghwa lirih namun masih dapat didengar Donghae. “Kau nampaknya sudah tahu apa yang mereka maksudkan” Sahut Donghae yang sedang berjalan di depan Goonghwa.

Goonghwa berdecak “Pakaian eum manusia?.. hh.. apa tidak ada hal lain yang bias mereka bicarakan huh?” Goonghwa Nampak kesal. Donghae tersenyum. “Hanya hal itu yang Nampak bukan?”

“Aku mengerti” Goonghwa masih Nampak kesal dipandangi dengan tatapan seperti itu. “Ikuti saja aku dan kau akan tahu bagaimana caranya tatapan itu berhenti padamu” Ujar Donghae tanpa menoleh ke belakang-tepatnya tanpa menoleh ke arah Goonghwa- dimana Goonghwa sedang berjalan mengikuti Donghae.

“Naik ke sini” Donghae memberi petunjuk untuk berjalan menaiki tangga di salah satu menara kastil.

“Bagimana caranya?”

“Kau akan tahu nanti” Jawab Donghae “Belok ke kanan pintu besar ujung dengan symbol Tryva” Petunjuk selanjutnya.

Donghae melangkahkan kaki terlebih dahulu menulusuri lorong panjang dengan beberapa lukisan yang bergerak seakan hidup. “Mereka?” Goonghwa tergagap “Benar” Jawab Donghae seakan tahu apa yang Goonghwa maksudkan.

“Kau akan terbiasa nantinya” Ujarnya. Langkah Donghae berhenti ia mulai mengetuk pintu.

“Ini ruangannya?” Tanya Goonghwa yang dijawab anggukan oleh Donghae. Perlahan pintu terbuka dan sesorot sinar putih mulai tersiar dari ruangan itu.

“Kau duluan” Perintah Donghae “Eh Aku?” Donghae mengangguk. Goonghwa menatap lekat sorotan sinar yang berasal dari ruangan yang akan ia masuki. Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Goonghwa masuk ke ruangan itu dengan langkah agak ragu. “Kau akan baik-baik saja” Ujar Donghae.

Satu kesan yang bias diambil dari ruangan ini. Gaya bangunan yang sama dengan aslinya. Maksudnya sama-sama arsitektur eropa abad pertengahan. Tepatnya mirip Museum Vatican di Roma namun agak lebih modern dengan beberapa sentuhan seni mahakarya yang sangat menakjubkan.

Lampu yang begitu benderang mulai meredup. Sedikit temaram tepatnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara batuan bergeser yang ternyata dinding-dinding bagian depan mulai bergerak maju sehingga membuat ruangan ini bergetar. Dinding-dinding yang maju tersebut tiba-tiba saja membelah menjadi dua dan membentuk sebuah lorong hitam pekat.

Sesosok pria jangkung melangkah keluar darinya. Jubahnya putih melayang terbang ke gantungan jaket yang terletak di meja kayu tua nan artistic. Mirip meja oval di gedung putih. Sangat tua namun cukup kuat. Beberapa barang terlihat bergerak sendiri.

Pria itu cukup tua memang. Wajah oval dengan sedikit kerutan disekitar mata. Kulitnya pucat. Bahkan sangat pucat. Donghae membungkuk memberikan salam dan dibalas oleh anggukan pria itu.

“Aku sudah menunggu kedatangan kalian berdua, duduklah” Ujarnya ramah. Beliau berjalan terlebih dahulu menuju meja kerjanya dan mulai menatap Goonghwa yang masih bergeming ditempatnya.

“Siapa dia?” Tanya Goonghwa. Donghae memandang Goonghwa. “Jawaban semua pertanyaanmu” Donghae berjalan terlebih dahulu. Sementara Goonghwa masih bergeming ditempatnya. “Hai, kemarilah” tegur Donghae. Goonghwa masih tetap diam. Nampaknya ada hal yang menggangu pikirannya. “Hai” Tegur Donghae  sekali lagi. Goonghwa menoleh “Baiklah”

Keduanya-Donghae dan Goonghwa-duduk berhadapan dengan pria yang sedari tadi masih memandang Goonghwa dengan-takjub-tidak percaya.

“Aku kenalkan beliau adalah..” Belum sempat Donghae berbicara, pria itu memotongnya.

“Saya Prof. Cristian Arculenta, Kepala sekolah di Tryvalasc Skola. Selamat datang Goonghwa”

“Anda tahu nama saya?” Tanya Goonghwa heran.

“Banyak yang tahu tentangmu disini, rata-rata dari mereka adalah teman ibumu dan sebagian lainnya adalah pengagumnya” Prof. Cristian menyudahi penjelasannya dan mulai memainkan tangannya. Sebuah kertas bergulung coklat terbuka dan ia mulai memainkan tangannya dan sebuah pena bulu bergoyang sendiri tanpa digerakkan.

Goonghwa terdiam agak lama.

“Anda mengenal ibuku?”

“Ya, tapi tak cukup mengenalnya” Prof. Cristian tersenyum kecut dan berkata “Maafkan aku, aku tahu kau ingin mengenal ibumu lebih dari sekedar cerita orang lain. Maafkan aku”

“Tak apa” Goonghwa terdiam kembali

“Aku cukup tahu tentang keadaanmu. Kau menderita amnesia, dan kau tak tahu apa jenismu. Tapi kurasa kau akan menemukannya seiring dengan berjalannya waktu. Ingat Goonghwa, setiap makhluk di dunia ini punya cara tersendiri untuk menemukan jati dirinya.” Prof. Cristian memandang Goonghwa dengan wajah menabahkan.

“Bagaimana anda tahu semua itu?”

“Sudah ku katakan bukan, banyak yang sudah mengetahui dirimu. Semenjak ke empat perkamen mengubah nama yang tertulis didalamnya secara otomatis dan semenjak itulah banyak yang mengetahui kaulah anak Emma Losiana Wood yang menghilang”

“Emma Losiana Wood?” Goonghwa bingung dengan nama ibunya, bukankah ibunya seorang yang yang lahir dan di besarkan di Korea? Hal itu yang dikatakan Paman Han padanya.

“Itu nama yang digunakan ibumu disini. Nama aslinya adalah Lee Nayoung, tapi semenjak ia tinggal di London dan menikah dengan ayahmu yang merupakan makhluk yang hidup di Bradford maka nama ibumu di ubah seiring waktu.” Ucap Prof. Cristian.

“Di sini kau akin menemukan banyak makhluk dari berbagai negara Miss Wood, bolehkah aku memanggilmu demikian?”

Goonghwa tercenung sesaat, “Wood?”

“Itu nama belakang ayahmu. Tunggu, apa kau tak tahu bahwa kau punya nama lain?” Goonghwa mengangguk.

“Oh aku mengerti, ternyata masih banyak hal yang belum kau ketahui. Biar saya jelaskan. Nama Koreamu Han Goonghwa, itu karena sejak kecil kau ikut dengan paman tirimu, Han Jiyoung. Dia seorang penyihir, namun ia lebih memilih kehilangan kekuatannya dan menikah dengan manusia bernama Choi Soora. Ayahmu berkebangsaan inggris dan ia tak mempunyai nama Korea. Jadi Han di depan namamu, hanya sebagai hal formal yang dilakukan di dunia manusia. Ibumu bernama Lee Nayoung, dan mempunyai nama lain Emma Lee, semenjak menikah dengan ayahmu namanya otomatis berubah menjadi Emma L Wood. L disini bukan Lee tapi Losiana, karena ia ingin kau memakai nama itu sebagai namamu.”

“Lalu siapa nama ayahku?” Tanya Goonghwa kemudian,

“Aku tak bisa menyebutkannya. Ayahmu sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan kami sebut namanya, itu sudah ketentuan Tryva putriku,” Ucap Prof. Cristian. Sebuah tanaman di dekatnya mulai bertambah tinggi dan memekarkan bunganya. Dan pandangan Prof. Cristian tertuju pada bunga itu.

“Apa maksud anda?”

“Bukankah ayahmu menghilang? Kemungkinan besar ia berada di dunia antara tempat para Temnot berada. Entah di culik atau bersembunyi dari sesuatu. Tapi itu yang aku tau, dan hokum Tryva berlaku bagi setiap makhluk yang berada di dunia antara, tidak di ijinkan menyebut namanya. Jika menggunakan nama belakang  tak apa. Tapi secara keseluruhan itu di larang, karena akin membahayakan nyawanya.” Prof. Cristian masih memperhatikan bunga itu. Tangannya membuka laci meja dan mengambil beberapa serbuk emas dan menaburkannya di atas bunga itu.

“Lalu siapa namaku yang lain?”

“Losiana Emily Wood, Losiana Wood. Oh nama koreamu juga unik, Han Goonghwa berasal dari kata Moon Goonghwa, Bunga Nasional Korea. Kau secantik bunganya.” Ujar Prof. Cristian sambil memandangi bunga yang berada di sisinya itu.

“Kau bisa gunakan Goonghwa Wood, bila kau mau.” Lanjut Prof. Cristian.

Goonghwa kembali terdiam, Emma Losiana Wood itulah nama ibunya yang selama ini ia tak tahu. Goonghwa Wood. Itulah nama yang Goonghwa pilih. Ada banyak nama yang ia punya tapi mengapa ia tak boleh memakai nama Han di depan namanya. Apa karena paman tirinya yang bukan bagian dari dunia ini lagi? Hal itu yang menjadi pikiran Goonghwa selanjutnya.

“Tak perlu kau anggap jadi beban, bersenang-senanglah” Prof. Cristian berpaling dari bunga yang berada di sampingnya. Entah apapun itu namanya dan kembali menekuni gulungan kertas coklat yang terus ditulisi Pena bulu secara ajaib. Sehingga suasana hening menyeruak di dalam ruangan yang memang mempunyai aura dingin ini.

Keheningan ini nampaknya sengaja. Mungkin Prof. Cristian sengaja melakukannya untuk membuat Goonghwa berfikir akan kehidupannya selanjutnya di Tryvalasc.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja pintu menjeblak terbuka. Aura dingin semakin menjadi. Dua orang datang dengan jubah berbeda. Wangi darah langsung menusuk hidung. Mereka laki-laki dan perempuan dengan jenis yang sama. Perempuan menggunakan jubah berwarna merah namun ada sedikit ukiran silver dijubahnya dan yang laki-laki menggunakan jubah seperti yang dipakai Donghae yaitu merah namun ada warna emas yang terukir indah dijubahnya.

Seisi ruangan menatap ke arah mereka kecuali Goonghwa yang seakan memiliki firasat buruk. Derap suara langkah terus mendekat. Goonghwa masih mematung ditempat, firasat itu semakin menjadi.

“Tuanku, kami mendengar sebuah kabar baik hari ini. Apakah kita kedatangan tamu?” Suara berat laki-laki terus menemani derap langkah yang terus mendekat ke Goonghwa.

Prof. Cristian yang diajak bicara hanya terdiam tak menjawab. Ia menatap menyelidik pada dua orang pengganggu yang asal berbicara di depan tamunya. Sedangkan Donghae nampaknya juga tak berniat ikut campur.

“Apakah tamu kita adalah perempuan itu?” perasaan Goonghwa semakin tak menentu. Ia mulai takut.

“Kau …. Pasti Han Goonghwa. Putri satu-satunya keluarga Wood yang masih tersisa dan mengalami amnesia. Aku benar bukan tuanku?” Prof. Cristian lagi-lagi tak menjawab

“Sungguh menarik” Ia melanjutkan ucapannya.

Tiba-tiba saja derap langkah itu berhenti tepat dibelakang Goonghwa. Sedetik kemudian Goonghwa merasakan kepala seseorang berada disamping telinganya seakan hendak membisikkan sesuatu.

 >>>> TBC >> Waiting to [4th] The One >> By Han Hyema >>>>

Apakah ini benar-benar bagus? This is GOOD? NOT TO BAD? or NG? Semoga semuanya suka dengan karya saya yang satu ini. Sekali lagi saya mohon buat ada yang comment karena jika tidak saya tidak menjamin akan melanjutkan karya saya yang satu ini. This is my favorite story, so please don’t make me cry?

4 thoughts on “[Series] The One – Chapter 3

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s