Music and Lyric [chap. 5]


Title : Music and Lyric [chap. 5]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung, Choi Minho.

Other cast : Kim Jong-in, Shinee members, F(X) members, Jessica Jung, Choi Siwon and others.

Type : Chapter

 

“Astaga!! Key Berhenti!!”

Key lagi-lagi menginjak rem-nya spontan ketika mendengar Amber yang berseru serta-merta.  Amber langsung keluar setelah mobil Key berhenti tanpa memberikan penjelasan apa-apa. Key, Luna, dan Jonghyun memandang kepergian Amber dengan tatapan saling tanya.

“Jangan-jangan dia mau mengganggu Krystal dan Minho?” Ujar Jonghyun pelan.

Luna yang tersadar langsung membuka kaca jendela dan melongokan kepalanya, “Amber!! Kau jangan ganggu mere….. Ya Tuhan!!”

Mwol? Mwol? Mwol?” Tanya Jonghyun ketika Luna memekik sambil ikut melongok keluar jendela. (Apa? Apa? Apa?)

Jonghyun membulatkan matanya tak percaya, “Itu kan….”

 

 

“Maaf, kau siapa, ya?” Tanya Krystal bingung sambil berusaha melepas genggaman namja tidak dikenal itu. Genggamannya lembut, tapi kokoh. Namja itu terlihat kaget mendengar pertanyaan Krystal dan sedikit melonggarkan genggamannya.

“Hallo??” Krystal melambaikan tangannya yang bebas tepat di depan wajah si namja karena si namja tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ketika melihat wajah itu lebih dekat, berbagai ingatan tiba-tiba berkelebat dikepalanya. “Maaf, bisa tolong lepaskan genggamanmu?” Tanya Krystal sambil memegangi kepalanya yang terasa pening. “Sakit.”

Sebelum namja itu sadar dari keterkagetannya, sebuah tangan lain sudah menarik Krystal lepas dari genggamannya. Krystal yang sama kagetnya langsung melihat siapa yang menarik tangannya dan membuatnya berdiri dibelakang orang tersebut. Minho.

Saat Krystal turun, Minho memandangi kepergian yeoja itu. Dia langsung berseru spontan menyuruh key untuk berhenti ketika melihat seseorang menarik Krystal.

“Ajjushi..” Ucap Krystal pelan. Bingung kenapa Minho bisa tiba-tiba muncul. Minho tidak menjawab, dia hanya menggenggam jari-jemari Krystal, dan Krystal refleks melakukan hal yang sama.

“Kau siapa? Beraninya menarik Krystal dari genggamanku!” Tanya namja itu sambil menatap Minho menantang.

“Kau sendiri siapa? Kenapa kau menarik Krystal seperti itu?” Tanya Minho dingin.

“Ck. Hei, dengar! Aku tidak punya urusan denganmu. Aku mau bertemu pacarku!” Jawab namja itu sambil kembali menatap Krystal. Krystal tercengang. Tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Apa dia bilang? Pacar?

Namja itu sepertinya bisa membaca pikiran Krystal.

“Krys, jangnan hajima! Aku tahu ini sudah hampir dua tahun berlalu sejak kau meninggalkanku. Tapi bagaimana mungkin kau lupa padaku?” Tanyanya dengan wajah sedih. (Jangan bercanda!)

“AISH! YAA! Kau yang jangan bercanda! Aku tidak meninggalkanmu! Jangankan meninggalkanmu, mengenalmu pun tidak!” Jawab Krystal yang sekarang sudah menggigit bibir bawahnya dan memutar bola matanya kesal. Orang yang sedang meracau yang tidak-tidak kan orang yang sekarang berada didepannya, kenapa jadi dia yang diminta jangan bercanda?

“Aku Kai, Krys. Aku Kai! Pacarmu!” Namja itu berkata sambil memberikan penekanan. Dia melangkahkan kakinya perlahan mendekati Krystal. Tapi Krystal malah memeluk lengan Minho makin erat. Minho yang masih kaget langsung mendorong tubuh Kai yang tidak berbeda jauh dengan tubuhnya tanpa sadar, membuat Kai mundur beberapa langkah.

Kai mendengus kesal lalu mendekati Minho hanya dengan dua langkah, “Aku sudah bilang kalau aku tidak punya urusan denganmu!!” Ujarnya marah sambil melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi Minho. Minho yang tidak siap mendapat bogem mentah itu langsung terhuyung-huyung dan jatuh.

Krystal memekik tertahan ketika dilihatnya darah segar mulai menetes dari ujung bibir Minho.

“Yaa! Neo wae irae!!” Krystal mendorong Kai sebal dan buru-buru berlutut untuk membantu Minho berdiri. (Kau apa-apaan!!)

“Gwenchanha?” Tanya Krystal dan menyentuh pipi Minho. Minho mengangguk sambil tersenyum menenangkan.

Kai yang melihat pemandangan itu merasa gerah dan langsung berkacak pinggang sambil mendengus.

“Jadi dia alasanmu? Dia yang membuatmu menjadi seperti sekarang?” Tanya Kai dengan nada tajam dan bersiap memukul Minho lagi. Tapi belum sempat dia mendaratkan pukulan telaknya, dua orang yang ternyata Key dan Jonghyun sudah menahan tangannya dan menjauhkannya dari Krystal dan Minho.

Amber langsung mendorong tubuh Krystal dan Minho pelan memasuki pekarangan rumah.

“Cepat kedalam!” Ujar Amber. Krystal mengangguk dan cepat-cepat membawa Minho masuk. Membuat Minho bingung. Dia yakin sekali kalau perintah Amber barusan ditujukan untuknya, dia yang seharusnya membawa Krystal kedalam. Tapi kenapa malah yeoja itu yang membawanya kedalam?

“Krys! Krystal! Kau mau kemana? Kita belum selesai bicara, Krys! Jung Soo-Jung!” Kai terus memanggil Krystal. Tapi yeoja itu hanya berjalan memasuki rumahnya tanpa memperdulikan teriakan Kai.

Sesampainya didalam. Krystal meninggalkan Minho di ruang tamu dan berlari untuk mengambil es batu serta kotak P3K yang biasa disimpan didapur. Saat Krystal kembali, dilihatnya Minho sedang memandang keluar lewat jendela besar di sebelah pintu. Krystal menyimpan peralatan yang tadi dibawanya ke meja lalu menarik Minho untuk duduk.

“Aish, orang itu gila atau apa, sih? Datang-datang langsung meracau yang tidak-tidak.” Ujar Krystal sambil membungkus es batu dengan handuk dan menempelkannya pada sudut bibir Minho yang sedang tenggelam ke alam bawah sadarnya.

“Aaaaah!” Minho mengaduh dan menutup matanya saat merasakan bibirnya ngilu. Krystal buru-buru menjauhakan es batu itu dari bibir Minho.

“Yaa! Ini hanya luka kecil! Kenapa sampai berteriak seperti itu! Membuat kaget saja!” Ujarnya sambil memukul lengan Minho pelan.

“Aku tidak berteriak!” Jawab Minho. “Aku juga kaget tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menempel di bibirku! Kau tidak lihat tadi aku melamun?” Minho mengambil es batu dari tangan Krystal, membuat gadis itu langsung merengut.

“Orang itu benar-benar aneh! Siapa tadi namanya? Kia? Eh, Kai?”

Minho tidak menjawab, dia kembali tenggelam dalam pikirannya.

Krystal juga tidak peduli, dia merebahkan kepalanya disandaran kursi dan memejamkan mata. Saat kedua matanya menutup, berbagai pikiran berkelebat hebat dikepalanya. Beberapa ingatan berusaha masuk dan meminta Krystal untuk mengingatnya. Wajah namja yang baru saja ditemuinya di depan juga berberapa kali terlihat. Tapi yang mampu Krystal ingat sepenuhnya hanyalah kejadian saat kepalanya membentur kaca depan mobil. Napas Krystal langsung tersengal-sengal mengingat itu dan membuat Minho langsung sadar dari lamunannya.

“Krys?” Minho memanggil Krystal sambil menyentuh bahu Krystal pelan. Krystal langsung membuka matanya sambil mengambil satu tarikan napas panjang.

“Gwenchanha?”

Krystal mengangguk sambil membetulkan posisi duduk santai-nya menjadi tegak. “Sedikit pening.” Ujarnya.

“Kau mengingat sesuatu?”

“Ani. Hanya sekilas-sekilas, seperti biasa.”

“Mau aku ambilkan obat?” Tanya Minho sambil beranjak dari duduknya. Krystal langsung menarik tubuh itu untuk duduk kembali dan menggeleng cepat.

“Sini biar aku obati lukamu.” Ujar Krystal mengalihkan pembicaraan.

 

 

“Noona cigeum eoddieyo?” Minho langsung menelepon Jessica tepat setelah tangannya menutup pintu rumah Krystal. Krystal baru saja tertidur. Tadi Minho memaksanya untuk meminum obat karena yeoja itu terus-terusan menautkan alis sambil berkeringat dingin. Sepertinya ingatan tentang Kai benar-benar ingin keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.

Oh, Minho-ya? Wae geurae?” Jessica malah balik bertanya diujung sana.

“Noona sekarang dimana?” Ulang Minho lagi sambil berjalan cepat menuju jalan besar untuk menyetop taksi.

Aku di Paris Bouquette dengan Siwon oppa. Kalian sudah pulang?” Tanya Jessica yang memang tahu bahwa Minho dan Krystal hari ini pergi bersama.

“Tunggu! Aku kesana sekarang.” Ujar Minho sambil masuk ke taksi yang baru saja diberhentikannya.

 

 

“APA?” Siwon yang tadi sibuk bermain game di ponselnya langsung menatap Minho setelah adiknya itu menceritakan kejadian tadi sore.

“Iya, Kai datang.” Ujar Minho lagi sambil membalas tatapan Siwon dan mengalihkan pandangannya sebentar kepada Jessica. Dilihatnya yeoja cantik itu menghembuskan napas panjang.

“Aku tahu dia akan melakukan ini.” Ujarnya pelan sambil memutar-mutar sedotan pada gelas jus jeruknya.

“Maksud noona?” Tanya Minho bingung.

“Sebenarnya….”

 

 

Flashback on

“Oppa!!” Jessica berseru riang dan melompat kecil ketika melihat namjachingu-nya baru saja muncul.

Donghae langsung berjalan cepat menghampiri Jessica dan memeluk yeoja yang sudah hampir 8 bulan ini tidak dilihatnya.

Bogoshipeo.” Ujarnya tepat ditelinga yeoja itu. (Aku rindu padamu.)

Nado.” Jawab Jessica seraya melepaskan pelukannya. (Aku juga.)

 Jessica baru saja akan berkata sesuatu ketika melihat seorang namja dibelakang Donghae tengah melihat kearahnya. Namja itu membuka kaca mata hitam yang dikenakannya, dan tersenyum senang ke arah Jessica. Jessica membelalakan matanya dan mencengkram keras jemari Donghae yang sedang menggenggamnya ketika sadar siapa namja yang sedang melihatnya.

“Sica, ada apa?” Tanya Donghae sambil mengikuti pandangan Jessica. Seorang namja sedang berjalan mendekati mereka dengan wajah gembira.

“Sica noona!” Panggil namja itu ketika sampai dihadapan Jessica dan Donghae. “Tidak disangka bertemu disini. Noona apakabar?”

Jessica yang masih belum pulih dari keterkagetannya tersenyum kikuk, “B.. ba.. baik. Kau?”

“Aku juga baik.”

“Bagaimana kakimu?”

“Sudah sembuh.” Ujarnya sambil memukul pelan pahanya untuk menunjukan bahwa kakinya sudah baik-baik saja.

“Sica?” Donghae yang sadar dirinya tidak dihiraukan langsung memanggil pacarnya dengan nada suara bertanya.

“Ah, mian oppa.” Jawab Jessica, “Hmm..Kai, ini Donghae oppa, pacarku. Oppa, ini Kai, hmm mantan pacar Krystal.”Ujar Jessica ragu. Donghae langsung tersentak mendengarnya, sedangkan Kai memandang Jessica bingung.

Donghae memandang Jessica sesaat dengan tatapan jadi-dia?

Jessica tidak menjawab, dia malah mengalihakan pandangannya pada Kai yang sudah akan meralat ucapan Jessica, “Kai, senang sekali bertemu denganmu. Tapi maaf kami harus buru-buru pergi, ada yang harus Donghae oppa kerjakan. Iya kan, oppa?” Jessica tersenyum penuh arti pada Donghae.

“Ah, iya. Aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku sekarang. Ayo Sica kita pergi.”Donghae mengiyakan dan merangkul bahu Jessica untuk membawanya pergi.

“Sampai ketemu lagi!” Ujar Jessica sebelum meninggalkan Kai yang masih termangu dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.

Flashback end

 

 

Kai duduk di depan televisi ruang tengah kamar hotelnya sambil mencoba melahap makan malam yang baru saja diantarkan oleh pelayan setengah jam yang lalu. Tayangan berita di televisi tidak berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya selalu kembali kepada kejadian tadi siang. Saat dia mendatangi rumah gadis itu dan berhasil menemuinya. Gadis yang paling dia sayangi. Gadis yang dia kira meninggalkannya setelah mereka mengalami kecelakaan dua tahun silam. Gadis yang sekarang pasti sedang berdua dengan laki-laki yang tadi dia beri bogem mentah.

Saat dia bangun di salah satu rumah sakit swasta terkenal di Belanda dengan kepala dan kaki yang dibebat perban serta gips sekitar dua tahun yang lalu, ayahnya mengatakan kalau Krystal pulang lebih dulu ke Korea. Beliau bilang kalau Krystal pulang karena tidak ingin mendampingi Kai yang saat itu hampir saja lumpuh.

Mendengar hal tersebut, dia marah, dia kecewa pada Krystal. Bagaimana mungkin gadis itu bisa meninggalkannya setelah dua tahun mereka menjalin hubungan? Dia tidak percaya kasih sayang yang selama ini gadis itu berikan berakhir hanya karena keadaannya yang hampir lumpuh.

Sejak saat itu, dia berjanji sesuatu hal pada dirinya sendiri. Dia harus bisa sembuh dan akan datang kembali ke Korea. Kembali untuk menemui Krystal dan meminta penjelasan. Karena seberapa besarpun usahanya untuk membenci dan melupakan gadis itu, tidak membuahkan hasil apa-apa.

Setelah keadaannya pulih sekitar empat bulan lalu, dia meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk pergi ke Korea. Awalnya mereka melarang, tapi Kai meyakinkan mereka dengan mengatakan kalau dia sudah melupakan Krystal dan hanya ingin berlibur sebelum perkuliahan dimulai. Kai seharusnya sudah mengenyam bangku kuliah sejak setahun lalu, tapi karena kecelakaan yang menyebabkannya kakinya patah dan membutuhkan waktu satu tahun untuk penyembuhan, akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk menunda kuliah Kai dan fokus dalam pengobatannya.

Setelah orangtuanya mengizinkan untuk pergi, Kai mendarat di Korea sekitar seminggu yang lalu. Dia langsung datang ke rumah Krystal sejak hari pertama dia sampai di Korea. Padahal hari itu dia juga bertemu Jessica, kakak Krystal, di bandara. Tapi, Krystal selalu tidak ada di rumah. Sampai akhirnya hari ini, hari ke-8, dia berhasil bertemu gadis itu. Bahkan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Amber menceritakan semuanya setelah Key dan Jonghyun menariknya menjauhi Krystal dan laki-laki itu. Amber bilang kalau Krystal tidak pernah meninggalkannya. Ayah Kai-lah yang membawa Kai pergi berobat ke Belanda. Sedangkan Krystal disini, bergelut dengan ingatannya yang hilang.

Tiba-tiba perasaan kesal, marah, dan sedih sekarang menggerogoti dirinya. Kesal karena dia begitu bodoh bisa mempercayai perkataan ayahnya tentang Krystal, padahal dia tahu betul ayahnya tidak menyetujui hubungan mereka. Marah karena dia baru mengetahui kebenarannya sekarang, dan kesal karena saat dia tahu kebenarannya, sudah ada seseorang yang mengisi tempatnya disisi Krystal.

“Krys…” Ucapnya lirih sambil memandangi sebuah ipod berwarna merah disamping remote televisi.

 

 

Minho baru saja menghentikan sebuah taksi yang melintas didepannya dengan perlahan ketika ponselnya bergetar. Minho melompat masuk ke jok penumpang di belakang sambil mengapit ponselnya diantara pipi dan bahunya.

“Ajjushi, Seoul Senior High School, ya! Yeoboseyo..”

Kau dimana?” Suara Key terdengar diujung sana.

“Aku baru naik taksi. Aku terlambat.”

“Aish, ya sudah, cepat, ya! 15 menit lagi kita semua akan berangkat. Dah!” Key memutuskan sambungan telepon.

Minho langsung memasukan ponselnya ke saku celana.

“Ajjushi, tolong cepat sedikit, ya! aku sudah terlambat.” Pinta Minho sopan dan langsung mendapat anggukan dari sang supir. Minho tersenyum senang mendapatkan supir taksi yang pengertian.

Minho memandang keluar sambil menguap lebar. Dia mengantuk sekali pagi ini. Semalaman dia terjaga, sibuk memikirkan tentang Krystal. Entah kenapa kejadian kemarin sore menyita sebagian besar ruangan dikepalanya. Ada sesuatu yang mengusiknya ketika teringat namja yang bernama Kai itu. Ketika melihat sorot matanya yang menatap Krystal lembut. Ketika merasakan aura kebencian saat namja itu melihat Krystal berada didekatnya. Ketika teringat seberapa dalam hubungan mereka berdua sebelum kecelakaan itu terjadi.

Minho benci perasaan ini. Perasaan disaingi. Disaingi dalam hal apa? Minho sendiri tidak tahu.

Ponsel Minho kembali bergetar, menyadarkan dirinya dari lamunan. Kali ini giliran nama Jonghyun tertera di layar ponsel. Minho berdecak sebelum menekan tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.

Yaa! Kau dimana?

Minho geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan kebiasaan Key dan Jonghyun yang tidak pernah berkomunikasi secara baik. Sering sekali Minho mendapat pertanyaan yang sama dari mereka berdua selang beberapa menit, padahal mereka sedang berada di tempat yang sama.

“Aku di taksi. Sebentar lagi sampai.” Jawab Minho sambil memberi arahan pada supir untuk berbelok dan menutup teleponnya. Tak sampai lima belas menit, taksi itu berhenti di depan sekolah.

Minho segera keluar setelah memberikan beberapa lembar won dan sedikit tip pada supir taksi tersebut. Tapi sebelum kakinya melangkah melewati gerbang, terdengar suara klakson mobil yang sepertinya ditujukan untuknya. Minho kemudian berbalik untuk melihat siapa yang membunyikan klakson tersebut. Dilihatnya mobil Chevrolet biru milik Jessica berada beberapa meter dibelakangnya.

Jessica yang berada dibelakang kemudi tersenyum pada Minho. Beberapa saat kemudian Krystal keluar dari pintu belakang dengan tergesa-gesa menghampiri Minho.

“Kau terlambat?” Tanya Minho saat Krystal sampai dihadapannya.

“Kau juga?” Krystal balik bertanya. Minho mengangguk cepat dan menarik tangan Krystal untuk segera memasuki gerbang.

Hari ini, mereka akan menggelar bakti sosial dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah.

Sesampainya didalam, mereka melihat tinggal dua bus yang ada disana, dengan Victoria dan Leeteuk sonsaengnim yang berdiri berdampingan  sambil berkacak pinggang. Mereka berdua segera berlari menghampiri kedua guru mereka tersebut.

“Jweisonghamnida, sonsaengnim. Kami terlambat.” Ujar mereka berbarengan sambil menundukan kepala meminta maaf. Victoria sonsaengnim mengangguk cepat dan langsung mendorong mereka pelan untuk segera masuk ke dalam bus.

“Leeteuk sonsaengnim, kami duluan tidak apa-apa?” Tanya Victoria.

“Iya, pergilah lebih dulu. Aku menunggu muridku yang lain.”

Krystal masuk lebih dulu dan langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana Amber duduk. Tapi ternyata Amber sudah duduk bersama Luna. Sedangkan Sulli sudah duduk bersama Taemin sambil asik memakan cokelat.

Amber memandang Krystal dengan pandangan bersalah, sedangkan Luna memandang Krystal dengan padangan memohon sambil memberikan isyarat dengan matanya. Krystal mengenali isyarat itu. Dia melihat Jonghyun duduk dibelakang kedua yeoja itu bersama Luhan. Pasti tadi Jonghyun sudah akan duduk disamping Luna, makanya Luna langsung menarik Amber untuk duduk bersamanya.

Krystal mengangguk sambil tersenyum menenangkan dan kembali berbalik untuk mencari tempat kosong. Tapi ternyata tempat kosong itu hanya ada di samping Minho, dan berada tepat didepan pintu masuk.

Krystal mendekati Minho tapi tidak langsung duduk. Minho menoleh dengan pandangan bertanya saat merasakan seseorang berdiri disampingnya. Krystal hanya diam memandang Minho. Setelah mencerna diamnya Krystal selama beberapa detik, Minho berdiri dan menarik tangan Krystal untuk berjalan bersamanya menuju kursi ketiga yang diisi oleh Suzy dan Jiyeon.

Diam-diam, Krystal menyunggingkan senyumnya. Senang karena Minho selalu mengerti apa kemauannya hanya dengan melihat mata dan ekspresi wajahnya.

Suzy dan Jiyeon yang tadi sibuk dengan cermin dan bandonya menatap Minho dengan pandangan kaget.

“Ada apa oppa?” Tanya Suzy sambil tersenyum pada Minho yang menurut Krystal dibuat-buat. Yeoja ini memang memanggil Minho dengan panggilan oppa sejak mereka pertama kali bicara yang entah kapan tepatnya. Minho juga sepertinya tidak terganggu dengan hal itu.

“Suzy-ya, bisa tidak kalau kalian pindah duduk di depan?” Tanya Minho halus sambil memberikan senyum memikatnya.

“Duduk denganmu??” Suzy langsung gembira dibuatnya.

“Tidak, kau tetap duduk dengan Jiyeon. Aku ingin tidur, aku mengantuk sekali pagi ini, tapi aku tidak bisa tidur jika duduk di depan. Mau, kan?”

Walaupun Krystal tahu bahwa Minho berlaku manis pada Suzy semata-mata demi mendapatkan tempat duduk untuknya, entah kenapa dia sekarang merasa kesal. Kenapa Minho harus meminta tempat duduk Suzy? Padahal kan ada tempat lain.

Suzy menimbang-nimbang sebentar sambil memainkan rambutnya, membuat Krystal tambah kesal. Jiyeon kemudian membisikan sesuatu ke telinga Suzy yang membuat yeoja itu tersenyum gembira.

“Baiklah!” Dia akhirnya menjawab sambil beranjak dari kursi tersebut, dan tak lupa membawa serta tas-nya yang Krystal yakini berisi make-up dan segala perlengkapan kewanitaan yang lain.

“Terimakasih, Suzy-ya. Kau baik sekali.” Ujar Minho sambil membawakan tas Suzy menuju tempat mereka duduk sekarang.

Krystal menghempaskan pantatnya di kursi yang baru saja ditinggaljkan Jiyeon dengan sedikit keras, membuat Key dan Suho yang duduk di belakangnya keheranan.

“Krys, ini kursi bus. Bukan sofa. Duduklah pelan-pelan!” Ujar Suho sambil membuka camcorder­-nya. Krystal hanya diam, tidak menggubris perkataan Suho.

Key melongokan kepalanya kedepan dan membisikan sesuatu pada Krystal, “Kau kesal, ya, Minho berlaku baik pada mereka?”

Krystal langsung membalikan badannya, “Tentu saja tidak!” Elaknya, “Itu bukan urusanku. Terserah dia mau berlaku baik pada siapapun juga.”

Beberapa saat kemudian, Minho kembali dan langsung duduk disamping Krystal.

“Kenapa kau harus meminta tempat duduk Suzy?” Tanya Krystal langsung.

“Memangnya kenapa?” Minho malah balik bertanya.

“Masih ada tempat yang lain.”

“Tapi yang mudah hanya tempat duduk Suzy. Kau tahu dia menyukaiku. Tidak mungkin kan bagi seorang perempuan untuk menolak permintaan dari laki-laki yang disukainya?” Ujar Minho bercanda yang malah mendapat pukulan keras dari Krystal.

 

 

Mereka sampai di tempat tepat ketika jam menunjukan pukul 11 siang. Udara sejuk seketika menerpa wajah mereka saat mereka berjalan turun dari bus. Krystal langsung melakukan peregangan, 2 jam duduk di dalam bus membuat otot-ototnya terasa kaku.

“Krys! Lihat sini!” Ujar Suho yang berada di hadapannya sambil memegang camcorder. Krystal langsung menurunkan tangannya yang tadi terangkat ke atas.

“Yaa! Bagaimana bisa kau mengambil gambarku saat sedang seperti tadi!” Krystal menghentakan kakinya sebal. Sedangkan Suho hanya tertawa sambil masih terus mengarahkan camcorder-nya pada Krystal. Dia senang melihat Krystal jika sedang seperti itu. Menurutnya, Krystal sangat cantik jika sedang marah.

“Supaya natural!” Jawab Minho sambil meletakan tangannya di bahu Krystal dan mengajak yeoja itu masuk. Krystal hanya mengerucutkan bibirnya sambil mengikuti kaki Minho melangkah.

Kunjungan bakti sosial ini dibagi menjadi dua tempat, yaitu sebuah panti asuhan dan sebuah panti jompo. Kelas 3-A sampai dengan kelas 3-C mendapat jadwal kunjungan ke panti asuhan ini, sedangkan kelas 3-D sampai dengan 3-G mendapat jadwal kunjungan ke panti jompo yang memang membutuhkan lebih banyak tenaga disana.

Suasana ramai menyambut mereka ketika menjejakan kaki di halaman panti yang ternyata cukup besar tersebut. Anak-anak berumur sekitar 5 sampai 9 tahun sedang berlarian disana bersama siswa kelas 3-C yang tadi berangkat lebih dulu.

Seorang gadis kecil berumur sekitar 7 tahun berlari cepat ke arah mereka dan tanpa sadar menubruk Minho yang sedang memandang berkeliling.

“Ah, gwenchana?” Minho langsung berlutut khawatir ketika dilihatnya gadis kecil itu terduduk dan memegangi lututnya.

“Yaa! Ajjushi! Makanya hati-hati!” Ujar Krystal dan ikut berlutut, “Gwenchana?” Krystal mengusap pelan kepala gadis itu.

Gadis itu diam tak menjawab. Tapi perlahan dia membuka telapak tangannya.

“Astaga!” Wajah Minho langsung panik ketika melihat lutut gadis itu yang berdarah karena mencium tanah dengan banyak kerikil.

Minho melihat ke arah Krystal yang sedang menyentuh luka itu.

“Tidak terlalu dalam. Sakit?”

Gadis itu mengangguk takut-takut.

“Ajjushi, gendong dia sampai ke kursi taman yang ada disana!” Pinta Krystal sambil menunjuk kursi taman yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.

Minho mengangguk dan dengan cekatan menggendong gadis itu. Krystal mengikuti dibelakang mereka. Dia baru menyadarai bahwa bahu Minho terlihat sangat bidang.

Ireumi mwoya?” Tanya Minho mencoba mengajak anak itu bicara. (Siapa namamu?)

“Lee Yeon-Jae imnida.”

“Nama yang indah.” Puji Minho.

Cih, bahkan anak kecil saja dia rayu!” Krystal mencibir sambil melayangkan tinjunya ke udara.

Sesampainya Mereka di kursi taman yang tadi ditunjukan Krystal, Minho mendudukan Yeon-Jae disana sedangkan Krystal kembali berlutut dan membuka ranselnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Minho keheranan ketika melihat Krystal mengeluarkan botol minum dan satu buah kotak kecil yang Minho tidak tahu apa isinya.

Krystal tidak menjawab, dia hanya membuka sendal Yeon-Jae dan tutup botol minumnya. Dia hendak menumpahkan air itu ke lutut Yeon-Jae tapi urung. Dia kembali mencari sesuatu di ranselnya. Setelah beberapa saat, tangannya keluar dengan memegang sebuah lolipop.

“Yeon-Jae-ya, eonni akan membersihkan lukamu. Ini mungkin sedikit sakit, tapi tidak apa-apa. Kau makan ini saja, ya? Jangan hiraukan kakimu!” Krystal memberikan lolipop itu pada Yeon-Jae dengan senyuman. Yeon-Jae menyambutnya dengan anggukan cepat. Terlalu senang karena mendapatkan lolipop yang ukurannya cukup besar untuk dia makan sendiri.

Minho membantu Yeon-Jae membuka plastik lolipop tersebut sambil memperhatikan Krystal yang sedang menumpahkan air minumnya pelan-pelan ke kaki Yeon-Jae. Yeon-Jae menutup matanya saat lukanya terasa perih, tapi dia tetap tidak bersuara.

“Wah, Yeon-Jae-ya, kau ternyata lebih kuat dari oppa ini!” Ujar Krystal sambil melirik Minho. “Kau lihat luka di sudut bibirnya itu?”

Yeon-Jae mengangguk dengan tatapan ingin tahu.

“Kemarin eonni membantunya mengobati luka itu, dan kau tahu? Dia berteriak keras sekali sampai-sampai membuat eonni terlonjak kaget!” Krystal berkata dengan nada meyakinkan, membuat Minho langsung memelototinya. Minho hendak protes tapi tiba-tiba dia mendengar tawa kecil dari mulut Yeon-Jae.

Tak urung, Minho akhirnya membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan kedua gadis dihadapannya itu.

“Nah sekarang, eonni akan memasang ini di kakimu.” Krystal memperlihatkan sebuah plester dengan gambar notnada yang baru saja dia keluarkan dari kotak kecil tadi lalu membuka kertas perekatnya. Usahanya sedikit terhalang karena rambut panjang yang menutupi area bedah kecilnya.

Tanpa di duga, Minho berjalan ke belakang Krystal. Dia menyelusupkan jari-jemarinya ke rambut Krystal yang tadi menghalangi gadis itu untuk melakukan kegiatannya dan memegangnya, membuat rambut Krystal terlihat seperti sedang diikat satu.

Krystal membeku beberapa saat saat menyadari apa yang dilakukan Minho.

“Krys, ayo cepat!” Ujar Minho mencairkan kebekuan Krystal.

“Ah, iya.” Krystal langsung menempelkan plester yang sudah dipegangnya ke lutut Yeon-jae.

“Sudah!” Ucap Krystal senang.

“Sepertinya kau cocok jadi dokter anak atau perawat.” Celetuk Minho. Krystal diam tidak menjawab.

Yeon-Jae meluruskan kakinya untuk melihat hasil kerja Krystal. Dia tersenyum ketika melihat plester itu sempurna menutupi luka di lututnya.

“Terimakasih eonni.”

Krystal menangguk sambil mencoba berdiri.

“Ajjushi! Kau bisa lepaskan rambutku sekarang!” Ucapnya dengan posisi setengah berdiri karena tangan Minho yang masih berada dikepalanya.

Minho yang ingin bercanda dengan Krystal malah lebih meninggikan pegangannya pada rambut Krystal.

“Yaa! Ajjushi! Lepaskan rambutku!” Krystal protes lalu memukul pelan perut Minho, membuat namja itu akhirnya melepaskan pegangannya sambil tertawa-tawa.

Krystal hanya menatapnya keji sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan.

“Eonni..” Panggil Yeon-Jae yang masih duduk di kursi taman sambil memperhatikan mereka.

“Wae Yeon-Jae-ya?”

“Memangnya oppa ini paman eonni, ya? Kenapa eonni memanggilnya ajjushi?” Tanya Yeon-Jae lugu.

Krystal tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap Minho yang masih memegangi perutnya. Minho yang sadar sedang diperhatikan langsung mengalihakn pandangannya pada Yeon-Jae.

“Dia bilang oppa terlihat tua. Makanya dia memanggil oppa seperti itu. Padahal oppa kan tidak setua itu. Iya kan Yeon-Jae-ya?” Minho meminta persetujuan Yeon-Jae.

Yeon-Jae mengangguk cepat. “Iya. Oppa lebih pantas jadi kekasih eonni. Kalian cocok.”

Perkataan Yeon-Jae membuat kedua orang itu salah tingkah. Minho langsung mengalihkan pandangannya dari Krystal sedangkan Krystal kembali berlutut dihadapan Yeon-Jae.

“Yeon-Jae-ya, kau ini masih kecil. Belum saatnya kau membicarakan masalah seperti itu!” Krystal memberi nasehat, “nah sekarang ayo sana kembali bermain dengan teman-temanmu!” Krystal menurunkan Yeon-Jae dari kursi dan Yeon-Jae seketika langsung melesat pergi menemui teman-temannya.

Krystal dan Minho mengikuti kemana kaki Yeon-Jae melangkah dalam diam sampai akhirnya Krystal bersuara.

“Anak jaman sekarang, sudah pandai bicara soal kekasih.” Krystal geleng-geleng kepala sambil menyentuh tengkuknya. Perkataan gadis kecil itu sanggup membuatnya gugup.

“Mungkin umur Yeon-Jae hampir sama seperti saat kau bilang kau menyukai hyeong.” Minho menjawab sambil melirik Krystal yang langsung membeku di tempatnya.

“I..It.. Itu kan hanya leluconku waktu kecil!” Ujar Krystal sewot.

“Eonni! Kau tidak boleh dekat-dekat dengan Siwon oppa! Dia milikku!” Ujar Minho sambil berkacak pinggang. Menirukan suara dan gaya Krystal saat dulu memarahi kakaknya sendiri karena mendekati Siwon.

Krystal membelalakan matanya, tak percaya Minho mengingat hal itu dan malah menirukannya. Minho yang mengerti jalan pikiran Krystal langsung melesat lari sebelum yeoja itu sempat mendaratkan sebuah aksi pada tubuhnya.

“Yaa! Ajjushi! Kesini kau! Beraninya mempermalukanku seperti itu!” Krystal berlari mengejar Minho yang sudah berada jauh di depannya sambil tertawa-tawa.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka secara diam-diam.

 

 

Hey darling!”

“Ne eomma. Waeyo?” Jessica yang sedang menonton langsung mengecilkan volume televisi ketika tahu yang menelepon adalah ibunya.

“Kau sedang kuliah?”

“Tidak. Hari ini jadwalku kosong. Aku sedang menonton di rumah. Eomma dimana?”

“Eomma sedang menunggu appa-mu selesai meeting. Membosankan sekali. Setiap hari eomma hanya menunggunya meeting dan meeting.” Keluh ibunya sambil menghela napas.

Jessica tersenyum, “Suruh siapa eomma mau di ajak kesana?” Ucapnya menyalahkan. “Memangnya appa tidak merencanakan liburan?”

“Justru itu eomma meneleponmu, Jess. Eomma dan appa sepertinya baru akan pulang dua bulan lagi.”

Jessica menautkan kedua alisnya, “Loh? Memangnya eomma dan appa mau pergi kemana lagi?” Tanyanya bingung karena seharusnya, kedua orangtuanya pulang bulan depan.

“Entahlah, appa-mu merahasiakannya.” Nyonya Jung berkata malu-malu.

“Eiiii, eomma dan appa ini memang tidak pernah melihat umur.” Jessica geleng-geleng kepala.

“Appa-mu yang masih bertingkah seperti bocah SMA!”

“Eomma juga sama saja! Selalu cemburu tidak karuan!” Jessica masih mencoba mendebat ibunya, “Jadi saat acara perpisahan Krystal, eomma tidak ada?”

“Itu pula yang mau eomma bicarakan. Nanti kau harus mendandaninya yang cantik! Jangan biarkan dia merusak pengalaman sekali seumur hidupnya itu!”

“Dia memang sudah cantik eomma.”

“Maksud eomma, buat dia menjadi sosok yang lebih lebih lebih cantik!” Nyonya Jung menekankan.

“Ne, arasseo. Ehm.. Eomma, aku mau memberitahukan sesuatu.”

“Apa itu? Kau dilamar Donghae?” Eomma-nya berkata langsung.

“Eomma wae irae!! Tentu saja bukan!!” Jessica kelabakan sendiri menjawab ucapan ibunya.

“Hahaha…, lalu apa?”

“Ehm.. Kai pulang eomma.”

“MWO?” Nyonya Jung seketika memekik dari seberang sana.

“Iya. Tapi eomma jangan bilang-bilang appa dulu! Kata Minho, Krystal tidak mengingatnya. Aku tidak tahu ini akan berlanjut kemana. Tapi yang jelas, aku akan mengatasinya dibantu Siwon oppa dan Minho.” Jessica menjelaskan panjang.

“Suruh saja Minho cepat-cepat mengutarakan perasaannya pada Krystal!” Celetuk nyonya Jung yang membuat Jessica terbelalak.

“Mana bisa begitu eomma! Lagipula kita tidak tahu Minho menyukai Krystal atau tidak.” Sanggah Jessica.

“Kau mungkin tidak tahu, tapi eomma tahu! Ah, Jess, appa-mu sudah keluar. Nanti kita bicara lagi soal ini. Eomma tutup dulu teleponnya, ya? Baik-baik disana!”

“Ne eomma. Eomma juga!”

 

 

Konsentrasi penuh Siwon yang sedang menggambar di kertas yang ada dihadapannya terpecah ketika seseorang mengetuk pintu studio. Begitupun dengan seorang pria setengah baya yang tadi sedang memperhatikan Siwon menggambar. Beliau mendongakan kepalanya ke arah pintu sambil sedikit mendelik, merasa terganggu.

“Masuk!” Pria itu berkata sedikit keras. Berharap seseorang yang mengetuk itu mendengarnya.

Perlahan pintu dibuka. Sejumput rambut panjang bergelombang dengan warna cokelat kemerahan milik seorang gadis muncul disana. Dia tersenyum lebar ketika melihat orang yang dicarinya ada di dalam.

“Sonsaengnim!” Ujarnya sambil berdiri tegak. Memperlihatkan tubuh rampingnya yang dibalut oleh pakaian sederhana. Sebuah kemeja berwarna kuning soft dan sebuah light blue jeans panjang. Sepasang flat shoes dipilihnya menjadi alasnya untuk berpijak.

“Oh!” Pria tadi langsung mengumbar senyumnya, “Ayo masuk!”

Yeoja itu berjalan pelan sambil beberapa kali menganggukan kepala kepada para mahasiswa yang merasa terganggu dengan keberadaannya. Dia juga menganggukan kepala saat berada disamping Siwon karena dosen mereka tadi, yang bernama Lee Soo-Man, sedang berada dihadapan namja itu.

Cantik. Itulah kata pertama yang terlintas dikepala Siwon ketika melihat gadis itu lebih dekat.

Siapa dia?” Ujarnya dalam hati.

“Ada apa Yoona-ya?” Tanya Lee Soo-Man yang membuat Siwon mendapatkan jawaban dari pertanyaanya.

“Saya mau mengumpulakan ini…” Dia menyimpan ponsel yang digenggamnya di meja gambar Siwon dan membuka tabung gambar yang bersandang dibahunya. Dia mengeluarkan sebuah karton berwarna putih dan langsung memberikannya pada dosennya itu.

“Tugas yang mana ini?” Lee Soo-man bertanya bingung sambil membuka gulungan itu.

“Tugas yang sonsaengnim berikan dua hari lalu. Perancangan menara.”

Siwon langsung terbelalak dibuatnya. “Dia telah menyelesaikan tugas yang diberikan dua hari lalu? Rajin sekali.

Lee Soo-Man tersenyum ketika melihat gambar yang ada di karton tersebut, “Bagus. Kau selalu bekerja dengan bagus!” Pujinya.

“Ah, anieyo sonsaengnim. Itu semua karena sonsaengnim yang mengajari saya.” Ujarnya mengelak.

Lee Soo-Man kembali menggulung karton itu, “Baiklah. Terimakasih, ya, sudah mengumpulkannya dengan cepat walaupun kau sibuk, kau selalu melakukannya.”

“Ne sonsaengnim. Kalau begitu saya permisi dulu.” Dia memberikan hormat pada Lee Soo-Man dan mengangguk singkat pada Siwon sebelum akhirnya keluar dari studio.

“Dia mengerjakan tugas dengan cepat dan tanpa pengulangan? Hebat sekali! Bahkan aku saja yang mengerjakannya dalam waktu seminggu selalu mengulang lagi.” Ucap Siwon pelan dan berusaha kembali berkonsentrasi pada tugasnya. Dia memang paling buruk dalam soal menggambar. Padahal jurusan yang diambilnya adalah arsitektur.

Baru saja dia akan membuat sebuah garis, tiba-tiba terdengar suara bel berdering.

“Ya, pelajaran kita hari ini dicukupkan sekian.” Ujar Lee Soo-Man dan langsung bergegas keluar studio.

“Siwon-ah! Kajja!”

Siwon yang sedang memasukan alat gambarnya ke tempat pensil melihat ke sebelahnya. Dilihatnya Eunhyuk sudah berdiri disana.

“Sejak kapan ponselmu berubah jadi warna merah muda?” Tanya Eunhyuk sambil mengambil ponsel yang ada di meja.

“Hah? Itu bukan milikku!” Jawabnya sambil merebut ponsel yang digenggam Eunhyuk.

“Lalu milik siapa?”

“Gadis yang tadi datang.”

“Hah? Benarkah? Ini milik Yoona?” Eunhyuk histeris seketika.

“Yaa! Kenapa kau sehisteris itu? Iya aku rasa itu miliknya. Tadi aku melihatnya menyimpan itu di meja ketika membuka tabung gambar.”

“Ayo cepat kita kembalikan! Aku tahu dia berada dimana sekarang!” Eunhyuk menarik Siwon dengan serta merta yang untungnya sudah memasukan semua peralatannya ke dalam tas menuju kantin.

“Dia angkatan berapa?” Tanya Siwon ketika dilihatnya Eunhyuk sedang tersenyum sendiri.

“Kau benar-benar tidak tahu dia? Kau sudah hampir setahun di Korea dan kau tidak mengenalnya??” Eunhyuk terbelalak tak percaya.

“Sejak kapan aku memperhatikan sekitar?” Ujar Siwon cuek.

Eunhyuk menghela napas, tak habis pikir dengan temannya ini. Orang pertama yang dia kenal paling cuek adalah Siwon.

“Namanya Im Yoon-Ah. Biasa dipanggil Yoona. Dia satu angkatan dengan kita. Tapi, dia tidak pernah masuk ke kelas. Dia seorang model. Kau akan melihat wajahnya terpampang di baliho-baliho besar yang ada di jalan jika kau sedikit peka.” Eunhyuk mencibir.

Siwon hanya mengangguk-angguk mengerti, “Pantas saja tubuh dan wajahnya sempurna.”

Eunhyuk menghentikan langkahnya ketika dia melihat Yoona yang sedang bercengkrama dengan seorang gadis. Dia langsung menarik tangan Siwon dan membisikan sesuatu.

“Siwon-ah, kau kembalikan itu pada Yoona! Aku mau mengobrol dengan orang yang ada di hadapannya.”’

Siwon yang langsung mengerti apa maksud Eunhyuk mengangguk dan berjalan mendekati Yoona.

“Cogiyo.” Ujar Siwon ketika sampai di hadapan Yoona. Yoona yang tadi sedang tertawa-tawa dengan gadis yang Eunhyuk maksud langsung menghentikan tawanya dan menatap Siwon ingin tahu.

“Annyeong, Yuri-ssi!” Eunhyuk menyapa gadis dihadapan Yoona tersebut. Gadis itu menajawab dengan senyuman ramah.

“Ini. Kau meninggalkannya di studio.” Siwon memberikan ponsel berwarna merah muda yang jadi terlihat kecil karena telapak tangannya yang besar.

“Ah!” Yoona langsung mengambil ponsel itu dari tangan Siwon.

“Yoona-ya, kau selalu saja ceroboh seperti itu!” Yuri menegur.

“Hehehe.. Mian.” Jawabnya sambil tersenyum lebar pada Yuri, “Ah, terimakasih, ya, hmm…?”

“Siwon. Choi Siwon.” Siwon mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Yoona dan tersenyum.

“Ah, terimakasih Siwon-ssi. Aku Yoona. Im Yoona.” Ujarnya sambil menyambut uluran tangan tersebut.

 

 

Suho terbangun ketika bus yang mereka tumpangi melewati sebuah polisi tidur. Dia melirik kesebelahnya, dilihatnya Key sudah tertidur pulas dengan posisi yang tidak terkontrol.

Dia menarik tirai disebelah Key. Hari sudah malam. Dia kemudian berdiri dan melihat hampir seluruh penumpang bus tertidur kelelahan. Kecuali Sohee yang duduk di kursi paling belakang yang sedang mendengarkan musik serta Taemin yang sedang memandangi Sulli tertidur.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Suho. Dia mengambil camcorder yang baterainya sudah merah. Menyalakannya dan mengambil semua gambar anak-anak dari bangku belakang.

Dimulai dari Sohee yang sedang memandang keluar, dilanjutkan dengan baekhyun, lalu Taemin yang malah tersenyum lebar ketika ketahuan membelai rambut Sulli.

Suho sudah tak sanggup lagi menahan cengirannya ketika dia tiba di bangkunya dan Key. Posisi Key sekarang sudah semakin tidak karuan dengan kaki berselonjor bebas karena Suho beranjak dan mulut terbuka. Suho buru-buru berjalan kedepan agar tidak meledakakan tawanya.

Ekspresinya langsung berubah menjadi senyuman lembut ketika dia melihat Krystal yang tertidur di bahu Minho dengan berbagi earphone. Tangan Krystal memegang ipod yang terhubung dengan earphone, sedangkan tangan Minho memegang komik yang dia baca sebelum tidur.

“Kenapa kalian membuatku iri setengah mati hari ini?” Ujar Suho sambil memperhatikan camcorder-nya yang mengabadikan moment Krystal dan Minho.

 

 

“Eonni aku pergi, ya!” Krystal berteriak dari halaman tepat ke arah jendela kamarnya.

Tidak ada jawaban dari Jessica. Dia yakin kakaknya itu masih tidur. Dia melanjutkan langkahnya menuju gerbang dan membukanya. Dilihatnya seseorang sudah ada disana. Namja. Namja yang beberapa hari lalu mengaku sebagai kekasihnya.

“Pagi Krystal!” Sapa namja itu ramah.

Krystal mendengus, “Ada apa kau kemari?” Tanyanya ketus.

“Ehm.. Aku mau meminta maaf padamu soal kemarin.”

Krystal menutup gerbang dibelakangnya, “Ya sudah aku maafkan.” Dia kemudian berjalan acuh, bersiap meninggalkan namja itu.

Namja itu malah menjajarkan langkahnya dengan Krystal, “Kita bisa mulai dari awal lagi?” Tanyanya.

Krystal menghentikan langkah dan mengerutkan dahinya, “Maksudmu?”

“Annyeong haseyo, Kai imnida!” Ujarnya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum lembut.

 

To be continue🙂

DON’T FORGET TO RLC! KAMSAHAMNIDA😀 SEE YOU NEXT CHAPTER!

 

4 thoughts on “Music and Lyric [chap. 5]

  1. waaaaaaahhhh akhirx chap. 5 di pubLish ugha
    DAEBAK nui ffx !!!!!
    chap.6 nya di tnggu yha and jngan Lma” yha !!!!! ^_^

  2. KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!
    Ya ampun ya ampun, jantungku (?)😆🙄 Kai gak boleh sebaik itu donkz >___< Onnie kan cintanya ama Kai, klo Kai sebaik itu ke Krys, ntar Onnie malah ngerestuin Krys balik kedia😦 Klo udah gitu, Minong gimana donk??
    Yaaaaah mimit👿 kenapa malah Yoona? Kenapa bukan Yuri ato Tiffany aja? Bukan Onnie gak suka ama Yoona sih, cuman lebih suka Siwon ama Tiff ato Yuri🙄 :P:
    Chap6 jangan lama2 pliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiz:mrgreen:

    • gimana yaaaaaa? ayo coba mantapkan hati jadi eonni lebih milih krys sama minong apa kai?😀
      hahahaha mian eonni, dari dulu aku suka siwon yoona sama eunhyuk yuri, dan sebenernya, aku ngga begitu suka tiff huhuhu mianhae😦

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s