Share Me a Tale [oneshoot]


“Ceritakan padaku semua. Semuanya. Semua yang selama ini hendak oppa sampaikan padaku namun selalu tertahan, ucapkan padaku. Bagi untukku..”

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

Share Me a Tale

Lee Taemin and Choi Sulli

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

D-34

DENGAN langkah tegapnya pemuda itu berjalan. Peluh membasahi wajahnya, memang. Tapi dengan rambut cokelat yang disandangnya justru semakin membuat keren penampilanya. Sneakers terpasang dikakinya dan kaos cokelat yang basah oleh keringat melekat ditubuhnya.

Semua yang melihat tentu paham pemuda itu baru saja selesai berlatih dance seperti biasa. Siapa lagi kalau bukan Lee Taemin, dancer utama kebanggaan grup dan perusahaanya. Jalanya cepat dan tegas, nampak sangat keren dari berbagai sudut pandang.

“Taemin-ssi,” panggil seseorang yang sontak membuatnya mengalihkan pandangan. “Sukses untuk lusa, ya. Fighting!” ujar orang itu lagi.

Taemin mengangguk sopan, tersenyum sebelum kembali berjalan. Dia salah satu staff utama yang mengurus konsernya di Jepang nanti. Konser? Tentu. SHINee akan melaksanakan konser besar di beberapa kota di Jepang beberapa hari mendatang. Ia dan grupnya berlatih keras untuk menyambutnya. Dan atas tujuan itu pula ia berjalan secepat ini.

Dadanya membuncah dan rasanya tak sabar untuk mengabarkan berita ini. Taemin sudah berhari-hari berlatih. Mempersiapkan segala hal, kostum, susunan acara, lagu, tarian, segalanya. Jadi jangan heran kalau hati kecilnya sangat menantikan hari ini.

Pemuda itu menghentikan langkahnya, memutar badan sedikit ke kiri dan tersenyum. “Taemin oppa!” panggil seseorang. Matanya teralihkan. Senyumnya bertambah lebar. “Hei, sini!”

“Sulli ah,” katanya setelah merebahkan diri di sebelah gadis itu. Di Sofa merah ruang tunggu di sebelah ruang manajemen F(x).

Sulli berambut hitam, panjang lurus lembut yang kerap membuat Taemin tidak bisa menahan keinginan untuk tidak menyentuhnya. Kaos putih panjang bergaya terlampir di badanya. Disambung dengan celana jeans hitam dan sepatu. Satu kata untuknya; cantik.

“Oppa, ayo tebak ada apa,” matanya berbinar dan Sulli melipat bibirnya manis. Taemin sontak mengangkat alis heran dan nyengir kecil. “Apa?” sahutnya.

“Aduh, masa oppa nggak tahu. Kami menang! Di M!Countdown hari ini Electric Shock nomor satuuu” serunya bahagia. Senyum terpasang di wajahnya. “Nomor satu, oppa! Satu!”

Sulli bahkan sudah hendak meloncat saking senangnya. Pemuda itu tertawa mellihat gadisnya ini senang. Sudah hampir setahun sejak terakhir f(x) comeback. Kemenangan ini memang dilahirkan untuk mereka.

“Serius?” katanya pura-pura terkejut.

Gadis itu langsung merengut. “Buat apa aku bohong. Eh, jangan bilang kalau oppa nggak tahu,” gerutunya.

Taemin kembali tertawa. Padahal tidak lucu, tapi kalau melihat ekspresi wajah Sulli rasanya tidak bisa tidak tertawa. Ah ini dia. Pemuda itu sengaja datang ke sini untuk menyampaikan tentang konsernya pada Sulli.

“Sulli ah, ingat tidak besok aku mau ke mana?” tanyanya ringan disertai senyum.

Gadis itu—masih dengan senyum di bibirnya—menggeleng pelan. “Molla,” sahutnya. Taemin baru membuka mulut hendak membalas tapi gadis itu keburu berkata lagi.

“Ah, iya. Sooman songsaenim bahkan mengucapkan selamatnya pada kami. Dia datang di backstage, oppa!” kata Sulli. “Dia bilang akan ikut makan-makan bersama manajer nanti malam. Ya ampun, hari ini aku bahkan bertemu denganmu. Sungguh hari yang sempurna.”

Taemin tersenyum. Berarti ia juga berperan dalam membuat hari Sulli sempurna? Hum, bagus. Sekarang giliranya memberitahukan berita bahagianya pada Sulli.

“Besok aku dan member lain akan ke Jepa—“

“—Eh, tunggu. Nichkhun oppa, Zhoumi dan Kyuhyun oppa juga berjanji akan mentraktir kami kalau kami menang. Hehhehe, mereka harus menepati janji itu.” Kata gadis itu.

Taemin tersenyum kecil. “Kau akan minta apa? Es krim?” tebaknya, sekedar merespon. Sulli tersentak, matanya melebar dan rasa terkejutnya tidak bisa tertutupi. “Kok oppa tahu?” tawa Sulli.

“Sulli ya,” panggilnya, menatap kedua bola mata gadis ini. Ruang tunggu ini luas. Sofanya besar, dilengkapi pendingin ruangan, dengan berbagai hiasan cantik di dindingnya. Kemewahan tempat ini tentu mencerminkan kesuksesan f(x) di seluruh Korea, Asia bahkan dunia.

“Ya?”

“Aku… mau bicara sesuatu,” kata Taemin, berhati-hati disetiap kalimatnya. Takut tiba-tiba Sulli memotongnya lagi.

Keduanya memang begini. Sekali bertemu saling bertukar informasi, berita, atau bahkan masalah pribadi yang sedang menganggunya. Hari ini bahkan Taemin sengaja meluangkan waktu untuk bertemu Sulli—hanya sekedar untuk bercerita—dan Sulli juga meluangkan waktu untuk datang. Bukankah gadis itu baru comeback dan jadwal padat menantinya? Sungguh perjuangan panjang.

“Bicara apa?” tanyanya. Sulli lalu melirik jam di tangan, meraih ponsel dan tersentak melihat sesuatu yang tertera di sana.

“Oh, maaf oppa. Satu jam lagi aku ada rekaman wawancara. Bicara lewat telpon saja, ya? Nanti malam aku telpon, oke? Maaf, aku duluan oppa. Manajer sudah menunggu di bawah. Sampai ketemu lagi, dah.”

Dan Sulli berlalu begitu saja. Rambutnya yang berkibar menghilang di balik pintu adalah hal terkahir yang dilihat Taemin.

Perasaan senang Taemin akan konsernya ia pendam sendiri hari itu. Dan rasanya kecewa tak karuan karena rencananya untuk memberitahu Sulli soal konser ini batal. Malamnya Taemin memang menelpon Sulli, tapi mereka hanya bicara sedikit karena keduanya lelah. Jelas Taemin menelponya jam 1 malam, tepat setelah jadwal keduanya usai.

Share Me a Tale

D-23

TAEMIN tersenyum sebelum memasukan ponselnya ke saku. Bagus, Sulli sedang ada di salon. Sebenarnya ia tidak pernah mau menemani seorang gadis ketika mereka sedang di salon—dan ia memang tidak pernah melakukanya.

Tapi pemuda itu punya sejuta cerita untuknya dicurahkan pada Sulli, setelah ia baru pulang dari Jepang. Konsernya sukses diselenggarakan dan menuai banyak pujian di media massa. Orang pertama yang dikabarinya tentu kedua orangtua Taemin, tapi ia ingin cerita semua secara detail pada Sulli saja. Untuk gadis itu.

Sinar blitz menghilang ditelan bumi kala Taemin dan Minho sudah masuk ke mobil van SHINee. Pemuda itu tidak habis pikir bagaimana bisa para fans dan kameramen itu terus ada di bandara ketika mereka datang, tidak ada habisnya pula. Onew, Jonghyun dan Key berada di van berbeda, mereka masih ada jadwal sementara Minho sendiri pulang ke dorm.

Minho melepas kacamata hitamnya dan menghembuskan napas panjang. “Kasur menungguku,” bisiknya lelah. Taemin melirik sekilas ke arahnya dan berpaling pada sang manajer. Pemuda itu bertanya pada manajer apakah ia masih ada jadwal sampai sore nanti.

“Jam tujuh kau ada latihan vokal, dan Minho, hey, jam delapan malam nanti kau harus menemui PD Kim.” Ketika Taemin kembali memastikan bahwa ia sampai jam tujuh kosong, manajernya bertanya memangnya Taemin mau ke mana.

“Umhh, menemui… eh, Sulli” sahutnya dengan senyum canggung—yang dikatakan fasnya sebagai senyum malaikat.

Minho yang sudah memejamkan mata langsung duduk tegak mendengar nama Sulli. “Omong-omong soal Sulli, lusa kami sudah bisa mengambil naskah dramanya. Benarkan, hyung?” tanyanya disusul sahutan panjang dari manajer.

“Drama pertamaku, wahhaha” kata Minho lagi. Pemuda itu lalu menatap Taemin. “Dengan Sulli pula. Pengalaman yang tidak akan kulupakan seumur hidup,” katanya, jelas hendak pamer di hadapan Taemin.

Taemin mendesah dan memalingkan wajahnya ke kaca mobil. Di antara semua—Minho dan Sulli—Taemin tentu yang paling sensitif jika keduanya membicarakan drama itu. Kenapa harus Minho SHINee? Kalau mau yang tampan, kenapa tidak sekalian Lee Minho saja? Choi Minho kan kalah pamor darinya.

“Ya, Taemin ah. Jangan ngambek begitu,” ujar Minho, entah mengapa kantuknya menguap sudah. “Hei, dengar. Katanya Exo akan ikut main juga.”

Pemuda itu melirik Minho dan memutar balik matanya. “Exo? K atau M?”

“Dua-duanya, hebat kan. Harusnya SHINee ikut main semua, Soshi, Suju dan TVXQ sekalian. CSJH juga kalau bisa. BoA noona dan KangTa hyung juga. Lengkap sudah.”

Taemin mengangguk besar. “Oh, ya. Jadi nanti kami semua akan ada di tempat syuting di mana kau dan Sulli akan memain adegan. Benar sekali,” angguknya lagi.

Merasa tidak tersindir, Minho melanjutkan. “Kau tahu CNU dari B1A4? Nah gosipnya dia ikut main juga.”

“B1A4?”

“Humn. Haah, tidak sabar menunggu hari pertama syuting. Ingin cepat-cepat membaca naskah, menonton wajahku di televisi, menunggu respon fans. Dua bulan kedepan kelihatanya akan menyenangkan.”

Taemin tersenyum miris. Ia tentu senang Minho—dan terutama Sulli—dapat bermain drama. Apalagi ini project besar. Kalau dramanya sukses, nama Sulli akan terangkat. Dan Taemin tentu ikut senang karenanya. Tapi kalau mainya bersama Minho, kakaknya sendiri, rasanya aneh dan menyebalkan. Ia tak suka.

Mobil van besar itu berhenti. “Nanti kujemput jam enam, ya.”

Taemin memasang tas ranselnya di pundak sementara mengangguk. Kacamata hitam terpasang rapi di wajahnya. “Titip salam untuk Sulli,” kata Minho. Taemin berpaling padanya dan menujulurkan lidah. “Nggak akan” katanya.

Pemuda itu memberi salam sopan sebelum berjalan keluar van. Pintunya langsung tertutup dan mobil itu langsung melaju pergi. Taemin berdiri di sebuah gedung dengan arsitektur alam yang indah. Gedung berlantai tiga ini namanya salon, yang tidak jauh beda bentuknya dengan hotel bintang tiga sekali pun.

Pemuda itu melangkah masuk ke lobi, tidak memperdulikan tatapan ibu-ibu, remaja atau bahkan pegawai salon yang menatapnya penasaran. Pakai kacamata hitam pun orang-orang ini masih bisa mengenalnya. Melihat banyak yang antri di lift, Taemin segera mengambil jalan cepat; tangga.

Di lantai dua pemuda itu bertanya pada seorang pegawai mengenai keberadaan Sulli. Pegawai itu langsung menunjukan padanya sebuah ruangan yang lalu dibuka pintunya oleh Taemin.

“Taemin oppa,” adalah sambutanya ketika membuka engsel pintu. Senyumnya merekah melihat Choi Jinri—atau Choi Sulli, atau apalah, yang duduk di kursi di tengah ruangan.

“Hei. Kau sendirian? Mana Krystal? Vic noona? Luna?” tanyanya bertubi-tubi. Sulli diam menunggu Taemin menanyakan keberadaan Amber, yang rasanya tidak mungkin menemaninya ke salon.

Gadis itu lalu tertawa melihat Taemin menahan kalimatnya. “Oppa nggak nanyain Amber eonni?”

“Haha,” cengir Taemin. Pemuda itu melempar ranselnya ke sofa besar di ruangan itu. Lalu meraih sebuah kursi dan menariknya agar bisa duduk berdekatan dengan Sulli. “Jadi apa kabar?” tanyanya, dan keduanya langsung tersenyum lebar.

Ruangan itu besar, dengan meja rias berkaca besar di salah satu sisinya. Sulli dan Taemin duduk di dekat kaca tersebut, di belakang mereka ada sofa besar beserta satu meja kecil ditengahnya. Catnya putih hangat. Tatananya benar-benar seperti sebuah kamar hotel, indah dan berkelas. Memang bukan salon untuk sembarang orang.

“Mereka semua tadi ada di sini, termasuk Amber eonni. Mereka pergi ke radionya Shindong oppa, barusan” jelasnya. Taemin mengangkat sebelah alis, tetap tidak paham. “Kau tidak ikut? Kenapa?”

Senyum manis Sulli merekah. “Oppa mau… pegang rambutku, nggak?

Pemuda yang bersangkutan semakin dibuat bingung. Menyentuh rambut Sulli? Apa hubunganya dengan tidak pergi bersama member lain mengikuti jadwal?

“Kenapa?”

“Aku mau potong rambut.”

Taemin tersedak. Matanya tanpa sadar membesar dan mulutnya sedikit terbuka kaget. Pemuda itu menatap senyum manis yang terpasang diwajah Sulli sebelum berpaling pada rambut yang ada di kepala Sulli. Rambut hitam itu, yang lembut panjang, yang paling disukainya dari seluruh hal yang Sulli punya.

Sulli mengangkat bahu dan itu sukses menyadarkan Taemin akan bumi. “Peranku di drama ‘To The Beautiful You’ itu gadis yang menyamar sebagai laki-laki. Jadi otomatis aku harus punya rambut pendek seperti laki-laki juga.”

Pemuda itu menutup mulutnya bersamaan dengan menelan ludah. Jadi karena drama itu Sulli akan memotong rambutnya? Ia akan memangkas rambut—mahkota yang selama ini jadi pujaanya demi drama yang akan dimainkanya bersama Minho? Lagi-lagi drama itu. Drama sial yang akan dimainkan Sulli bersama Choi Minho.

“Oppa, kau sudah pernah nonton drama aslinya belum? Jadi ceritanya si peran utamanya itu akan menyamar dan bersekolah di asrama cowok.”

Taemin kembali tersedak. Asrama cowok? Artinya bersama member Exo? Oh, ya tuhan. Kenapa harus Sulli, kenapa harus asrama cowok.

Pemuda itu menggeleng, tidak mau lagi mendengar Sulli membahas tentang dramanya. Tapi gelengan itu diartikan oleh Sulli bahwa Taemin belum pernah menonton dramanya, yang artinya gadis itu akan menceritakan lebih tentang alur ceritanya.

“Sulli ah, konserku di Jepang sukses,” ujarnya. Daripada membicarakan drama sial itu lebih baik bicara tentang kesuksesan konsernya saja, kan?

“Oh, ya? Wah, hebat.” Sahut Sulli. “Eh eh Taemin oppa, kau tahu tidak? Untuk drama ini, aku sekarang sering menemui Min Ah Songsaenim. Kau ingat, kan? guru seni yang mengkhususkan departemen akting di SOPA. Entah kenapa aku jadi dekat denganya gara-gara sering berlatih akting ini.”

Taemin tersenyum kecil. Tak usah bicara tentang drama, ayo bicarakan kosernya saja di Jepang.

“Kemarin aku sudah menemui staff syutingnya. Orangnya ramah dan mereka mengingatkanku tentang beberapa hal di tempat syuting, sudah lama sekali sejak terakhir aku bermain film. Waktu itu aku kelas berapa, ya? Uhmn, enam? Satu SMP?”

Pemuda itu mengigit bibir. Tidak bisakah Sulli bertanya tentang keadaan Taemin dan situasi konsernya?

“Settingnya juga berada di beberapa tempat si Seoul. Kami mengambil sekolah xxxx sebagai setting asramanya. Sekolah itu besar dan luas, benar-benar membuatku tidak sabar untuk memulai syuting.”

Taemin tersenyum kecut sementara napasnya memburu. “Sulli—“

“—Oh, iya lusa kami sudah bisa mengambil naskahnya, oppa! Aigoo, bakal seperti apa skenarionya itu,” Sulli menggigit bawah bibirnya senang. Nampaknya sudah lupa kesedihan bahwa ia akan potong rambut.

Bertolak belakang dengan pemuda dihadapanya. Taemin mendesah berat, ia sudah tahu. Pemuda itu paham Sulli dan Minho akan mengambil naskah mereka besok. Keduanya. Jadi bisa tidak Sulli tidak usah membahas drama itu lagi?

“Kemarin juga—“

“SULLI AH!” bentak Taemin tiba-tiba. Gadis yang berangkutan terkejut, menatap Taemin takut-takut dengan alisnya yang mengkerut. Taemin sendiri kaget. Matanya terbelalak. Ya Tuhan, apa yang baru saja dilakukanya? Membentak Sulli?

“Y…ya, oppa?”

“Ah, maaf. Maaf aku nggak sengaja,” Taemin tersenyum kecut. Rasa bersalah membuncah dadanya. Pemuda ini menarik napas pendek, mengikhlaskan hatinya sebelum berkata, “Kemarin kenapa?

Sulli tersenyum dan kembali bercerita panjang mengenai dramanya. Bahkan setelah pegawai salonya datang dan mentreatmen rambutnya sebelum dipangkas, sampai rambut Sulli tinggal pendek hitam, Taemin masih di sebelahnya.

Mendengarkan cerita sepihak Sulli, dan lagi-lagi, memendam ceritanya untuk diri sendiri.

Share Me a Tale

D-12

“SULLI ah, semangat!” seru Minho menggebu-gebu.

Gadis yang bersangkutan tertawa sejenak, sebelum menautkan alis, mengepalkan tinju dan berseru lantang, “Nde, oppa! Kita nggak boleh kalah sama Yoona eonni dan Siwon oppa!”

“Yuri noona, Changg, Donghae, Sungmin, dan Yunho hyung, kita kalahkan mereka semua, Sulli ah!” sahut Minho lagi tak kalah seru. Sengaja dibesarkan volume suaranya untuk menggetarkan badan dan memicu semangat. Memang itu yang biasa manajemen mereka lakukan sebelum memulai hal besar, konser misalnya.

Neee! Pokoknya lakukan yang terbaik, Minho oppa~” Choi Sulli mengangguk antusias.

Minho ikut mengangguk, sebelum keduanya saling bertatapan dan tertawa. Berdiri di tempat parkir yang agak tersembunyi, Sulli di samping van besar hitam dan Minho yang sedari tadi memang sudah bersiap masuk ke dalam.

Mereka baru saja selesai briefieng sejenak untuk syuting besok. Banyak sekali hal yang harus dilakukan sebelum memulai syuting. Perisapan ini lah, itu lah, pokoknya sampai membuat bahu siapa pun pegal. Termasuk Minho dan Sulli. Langit sudah gelap. Baru saja selesai persiapan untuk hari ini. Dan Minho sudah dijemput dengan van nya sementara manajer Sulli memang sudah siap berangkat sejak tadi.

“Sudah selesai teriak-teriaknya?” tegur seseorang—Onew—yang tiba-tiba muncul kepalanya dari mobil van Minho.

“Oh! Onew oppa, anyeoong” sapa Sulli ramah, sekilas membungkuk memberi hormat. “Hei, Sulli. Apa kabar?”

“Yah, ternyata ada kau. Mana yang lain?” tanya Minho, ikut terkejut mengetahui keberadaan Onew. “Mereka sudah pulang. Kau juga mau pulang tidak?” kata Onew balas bertanya. Minho mendesah dan nyengir kecil.

“Ya sudah, aku juga pulang, ya Minho oppa, Onew oppa. Anyeo—“

“Ehh, tunggu Sulli. Tunggu sebentar,” Onew kini menjulurkan seluruh badanya ke luar van. Pemuda itu masih duduk di mobil tapi badanya menghadap ke arah Minho dan Sulli yang berdiri di samping van. Pemuda itu menatap Minho dan Sulli bergantian sebelum berkata, “Ini tetang Taemin…”

Share Me a Tale

The-D

HARI ini hari besar. Tentu saja, 18 Juli, dimana seluruh Korea bahkan Dunia merayakanya. Apalagi kalau bukan ulang tahun Lee Taemin, salah satu member dari grup paling fenomenal saat ini. Sejak dari membuka mata sampai sekarang—jam 3 sore tepatnya—selalu saja ada yang mengucapnya selamat. Orangtuanya, keluarganya, member SHINee, temanya, manajer, staff, dan yang paling heboh—fans nya.

Rencananya Taemin memang akan menyelenggarakn sebuah acara di gedung perusahaan untuk merayakan ultah ini. Dan karena alasan itulah, member SHINee ribut bicara ini itu mengenai hal ini. Segalanya sudah siap, artis SM yang lain juga menyempatkan waktu untuk datang.

Tapi tidak termasuk Sulli—dan oh, bahkan Minho. Minho memang mengucapkanya selamat melalui telpon, namun Sulli tidak mengucapkanya apa pun. Tidak telpon, tidak bertemu secara langsung. Hebat.

“Berapa orang yang datang? Seratus? Wuih, ini tidak ada apa-apanya dibanding ulang tahunku tahun lalu,” bangga Jonghyun, ketika ia, Taemin, Onew dan Key sedang bersiap di ruang manajemen SHINee untuk memulai acara.

“Orang yang datang memang sengaja dibatasi, bodoh. Kalau terlalu banyak memangnya kau sanggup mengaturnya?” sahut Key, sedang membereskan sesuatu di antara kardus-kardus barang.

Onew yang duduk di sofa bersama Jonghyun dan Taemin yang berdiri, hanya ada mereka di ruang itu. “Kalau begitu kau kalah dengan Kyuhyun hyung, Jjong. Tadi dia pamer betapa fans yang datang di acara ultahnya ribuan orang lebih.”

Jonghyun mendecak lebay. “Heh, tentu saja. Dia merayakanya ketika konser, kan? Pastinya yang datang banyak, yam” yang tadinya duduk santai, Jonghyun langsung duduk tegak.

“Kalian ingat hadiah yang diberikan Minho padaku tahun lalu? Pajangan itu? Hahhaha, bentuknya norak sekali. Jadi kuberikan pada nenekku dan dipajangnya dirumahnya. Memang cocok untuk orang tua, selera Minho itu” kata Jonghyun lagi.

Taemin langsung teringat hadiah yang juga diberikan Minho padanya tahun lalu. Eh, tunggu, hadiah apa? Ia bahkan lupa saking banyaknya hadiah yang datang.

“Aku lupa hadiah dari—“ perkataan Taemin terpotong oleh Key.

“—Ha! Selera Minho memang kuno, sudah kubilang! Kalian lihat gaya rambutnya yang baru? Yang hitam itu? Benar-benar cocok dengan imagenya!” seru Key. Rambut Minho yang dicatnya untuk drama itu? Nah, Taemin jadi teringat Sulli.

“Hyung, Sulli juga po—“

“Oh, iya aku lihat! Wahahhaha, sudah lama sejak rambutnya hitam begitu. Jadi teringat era kita debut dulu. Waktu itu rambut kita hitam semua, kan?” Jonghyun menyahut. Karena rambutnya yang selalu mirip jamur, Taemin jadi disebut si rambut jamur. Ah, bahkan sampai sekarang model rambutnya tetap begitu.

“Rambutku—“

“—Tak pernah kusangka ternyata seletah Replay itu Victoria noona debut juga. Waktu itu bahasa koreanya masih belum lancar, benar kan?” potong Key, lagi. Sekarang Taemin menatap Key dan Jonghyun yang mengobrol seru.

Ia ingin ikut dalam obrolan juga! Kenapa kalimatnya terpotong terus. Bagaimana ia bisa bicara kalau kedua orang ini tak memberikanya kesempatan untuk ngomong. Hah!

Hari ini ulang tahunya, hari spesialnya! Tapi meskipun ratusan fans datang menyesaki acara ulang tahunya, Taemin tetap merasa kesal. Selain ia tidak diberi kesempatan untuk bicara, ternyata sampai Taemin menutup mata pun Sulli tak menghubunginya sama sekali.

 Share Me a Tale

D+3

SUDAH lebih dari lima hari Minho terus berada di tempat syuting, tidak pulang barang sekedar untuk istirahat. Jadi Taemin simpulkan pemuda itu—dan Sulli tentunya—tidur di tempat syuting, dan keduanya pasti bekerja sangat keras sampai tak sempat untuk pulang sekali pun.

Dan karena hari ini jadwal Taemin tidak padat, ia—atas dorongan keras Onew—pergi bersama leadernya itu mengunjungi tempat syuting. Alasanya ingin mengunjungi Minho, memberikanya makanan padahal ayam itu mereka beli di toko pinggir jalan.

Benar kata Sulli, mereka mengambil setting di sebuah sekolah yang besar dan nyaman. Sangat asri karena terdiri dari banyak pohon, sekaligus ramai karena banyak sekali orang berlalu-lalang di berbagai tempat.

“Oh, Onew-ssi, Taemin-ssi,” panggil seorang staff muda membuat kecanggungan Taemin dan Onew akan tempat yang sibuk ini sirna. Keduanya lalu membungkuk, memberi salam, dan staff itu mengantarkan mereka ke tempat Minho.

“Yaah, Taemin ah! Onew hyung!” seru Minho begitu sosok keduanya nampak. Kelihatanya seluruh kru sedang istirahat, buktinya mereka sedang duduk-duduk di taman sambil tertawa bersama.

“Hei, selamat ultah bro,” datang-datang Minho langsung merangkul Taemin akrab. Yang dirangkul hanya tetawa. “Ngapain kalian ke sini?”

“Tujuan kami mulia, bersyukurlah kami datang. Nih, oleh-oleh,” Onew lalu menyodorkan bungkusan ayam itu pada Minho. Pemuda itu lalu tetawa. “Yaah, ini sih ayam yang dijual di pinggir jalan,” protesnya.

“Masih syukur dikasih, kalau nggak mau balikin lagi, sini!” seru Onew berusaha merebut bungkusan itu. Tapi Minho mengelak dan memasang ekspresi meledek pada Onew.

“Ngomong-ngomong, pemain yang lain mana hyung? Kok staff semua,” Tanya Taemin, menatap sekeliling mereka yang dipenuhi staff-staff. Sejauh matanya melihat ia nggak menemukan salah satu aktor atau pun aktris lain yang bermain drama disekitar situ.

Minho dan Onew lalu saling bertatapan, bertelepati. “Sulli ada di salah kelas xxx di gedung itu, cari aja,” tunjuk Minho pada gedung bercat biru pucat kehitaman tak jauh dari mereka.

Taemin mengangkat alis. Rasanya tadi ia tidak menyebutkan nama nama Sulli, tapi pemuda itu tetap berjalan. Gedung itu luas. Benar-benar sekolah elit. Cat di dalamnya putih bersih. Masih banyak juga staff yang berlalu-lalang di dalam gedung, dan beberapa dari mereka sesekali menyapanya.

Pemuda itu berjalan ke sana ke mari, menghampiri setiap kelas. Menyapa dan bertanya hal ringan mengenai syuting ini pada staff-staff yang lewat. Sampai pemuda itu menemukan sesosok gadis berkaus putih rambut pendek manis tengah memasuki sebuah kelas. Segera Taemin kejar gadis itu dan ia langsung masuk ke dalam.

Begitu masuk, Taemin tersentak karena pintunya langsung menutup dan lampunya padam dalam sekejap. Panik, ia berbalik dan berusaha menggedor pintu. Tapi niat itu tidak terlaksana karena telinganya mendengar suara jernih milik Sulli bergetar di seluruh ruangan.

Saengil chukkae hamida… Saengil chukkae hamida uri Taemin, sangeil chukkae hamida~”

Satu, ah tidak, tiga buah lilin kecil menyala di atas sebuah kue kecil seukuran genggaman tangan. Kue itu terletak di atas meja kelas, yang dibelakangnya berdiri gadis manis kaos putih yang tadi di kejarnya. Gadis itu tersenyum, dan tanpa sadar Taemin bergumam, “Sulli ah.”

“Taemin oppa, selamat ulang tahun yang ke dua puluh,” ucapnya manis. Rasa kesal Taemin karena gadis ini tidak mengucapkan apa pun pada hari ulang tahunya menguap. “Maaf karena tidak bisa hadir pada acara ulang tahunmu, kemarin” nah, benar kan.

“Maaf juga karena hanya segini yang bisa kusiapkan. Kue ini bahkan aku beli di toko dekat sini, hahha,” katanya lagi. “Nah, sekarang, ayo tiup lilinya.”

Kue itu sungguhan kecilnya. Mungkin kalau dengan Shindong, Sooyoung atau bahkan Changmin, dalam sekali gigitan kue itu sudah habis ditelan. Tapi Taemin tetap menghargai usaha Sulli dengan meniup lilinya.

Taemin lalu duduk di kursi di sebelah meja, meraih sebuah buku yang terbungkus rapi di samping kue. “Untukku?” tanyanya.

“Humn,” angguk Sulli. “Maaf karena aku egois, selalu aku saja yang bercerita, sementara aku tidak memberikanmu kesempatan untuk bicara. Jadi buku catatan ini kupersembahkan untuk oppa. Jikalau aku tidak ada di sana untuk mendengar, kau bisa tulis cerita itu di sana untuk kubaca nantinya. Apa namanya? Ah, iya. Diari.”

Tanganya menilik buku itu lembut, ukuranya tidak terlalu besar. Lumayan tebal. Desainya tidak terlalu imut, tapi juga dewasa. Pilihan yang pas untuk karakter Taemin yang manis tapi tidak ingin dianggap manis (?)

“Aku masih punya waktu sampai…” Sulli melirik jam di pergelanganya. “..Jam 5 sebelum syuting kembali dimulai. Nah, ayo mulai.”

Hening.

Satu detik. Lima detik.

Sepuluh detik.

“Hah?” Taemin mengangkat wajah heran. “Ngapain?”

“Ya, ampun oppa. Ayo cerita. Aku akan dengar,” Sahut Sulli. Masih tidak paham, Taemin nyengir kecil. “Cerita apaan?”

“Ceritakan padaku semua. Semuanya. Semua yang selama ini hendak oppa sampaikan padaku namun selalu tertahan, ucapkan padaku. Bagi untukku. Share me a tale.”

Taemin melempar senyum kecil pada gadisnya itu, sebelum mulai bicara panjang.

End.

Selamat ulang tahun untuk pangeranku, Lee Taemin. Tetap sukses untuk segalanya. Jangan berhenti berusaha, terus bersemangat. Taemints di sini akan terus mendukung. Happy birthday 20th!

Sebenarnya ini ff udah lama, hahhha. Tapi sebagai pembuka, saya post ff ini aja. Ulang tahun Taemin kan tiada henti =p

Mind to keep support Taemin with giving author a comment?

Ninischh

7 thoughts on “Share Me a Tale [oneshoot]

  1. Aish, kok aku ngerasa author satu ini sering mengangkat ide-ide sederhana bahkan yang tak terpikirkan untuk dijadikan cerita. Keren keren! Tapi dari ide sederhana itu jadi wow bgt gitu. Keren thor!

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s