Music and Lyric [chap. 6]


Title : Music and Lyric [chap. 6]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung, Choi Minho, and Kim Jong-In.

Other cast : Choi Siwon, Jessica Jung, Shinee members, F(X) members, and others.

Type : Chapter

I’m back :D I’m sorry because you waiting this story for so long. I hope you enjoy it. Happy reading :)

 

Annyeong haseyo, Kai imnida!

Mwo?

“Kau Krystal, kan? Senang akhirnya bertemu denganmu,” ujar namja itu sambil tersenyum.

Krystal tercengang beberapa saat. Tidak menyambut tangan Kai yang sudah terulur ke arahnya ataupun menjawab pertanyaan yang namja itu lontarkan.

Dia benar-benar gila,” batin Krystal sambil geleng-geleng kepala. Dia hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Kai ketika mendengar teriakan Shin Ahjumma dari belakang.

Agassi!! Agassi!!” Krystal berbalik dan melihat Shin Ahjumma berlari terpogoh-pogoh dari gerbang, membuatnya merasa kasihan lalu berjalan kembali ke arah rumahnya.

Waeyo Ahjumma?

“Ini, Agassi men… Ya Tuhan!” Shin Ahjumma tidak melanjutkan kalimatnya ketika dia melihat Kai berdiri di belakang Krystal.

Annyeong haseyo, Shin Ahjumma!” sapa Kai sambil memberikan hormat.

“K… K…Ka.. Kai Doryeonnim?” tanya Shin Ahjumma memastikan.

Ne Ahjumma, ini aku!” Kai tersenyum menjawab pertanyaan Shin Ahjumma. Krystal langsung menautkan alisnya, bingung kenapa dua orang dihadapannya ini bisa saling mengenal. Terlebih kenapa Shin Ahjumma memanggil Kai dengan sebutan tuan muda.

Shin Ahjumma mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya melihat kehadiran Kai.

Ahjumma, wae geurae?” tanya Krystal sedikit gusar karena Shin Ahjumma malah terus menatap Kai.

“Ah, iya, ini, Agassi tadi meninggalkannya di meja makan,” Beliau memberikan sebuah map berwarna hijau muda pada Krystal.

“Ah, benar! Aku hampir saja melupakannya!” Krystal menepuk keningnya lalu mengambil map berwarna hijau tadi dari tangan Shin Ahjumma. Map itu berisi berkas biodata yang akan diserahkannya kepada sekolah untuk di daftarkan ke universitas pilihannya hari ini.

“Ini ipod-nya,” Shin Ahjumma sekarang memberikan benda putih kesayangan Krystal, “Ya sudah, Agassi cepat berangkat, nanti tertinggal bus!” perintah Shin ahjumma.

Ne, gomawo Ahjumma!

Shin Ahjumma mengangguk sambil undur diri. Beberapa kali wanita berumur itu sempat berbalik untuk melihat Kai yang tidak mengalihakan pandangannya sedikitpun dari benda putih yang diberikan Shin Ahjumma pada Krystal tadi. Krystal yang sadar Kai memperhatikan tangannya langsung meliriknya sebal karena merasa terganggu.

“Kenapa?”

“Kau masih menyimpannya?” tanya Kai yang masih belum mengalihkan pandangannya. Masih memastikan apakah benda itu adalah benda yang dikenalnya atau bukan.

Mwoga?

“Itu..” Kai menunjuk ipod yang berada dalam genggaman Krystal.

“Masih menyimpannya?” Krystal mengulang, “Memang kapan aku pernah mencoba membuangnya? Lagipula ini kan punyaku, dan masih bagus. Jadi, untuk apa juga aku membuangnya?” Krystal menjawab sambil berjalan cepat menuju pemberhentian bus tanpa menghiraukan Kai. Shin Ahjumma benar, dia benar-benar bisa tertinggal bus, apalagi jika dia terus meladeni setiap kata yang keluar dari mulut namja ini.

Awalnya Krystal berpikir bahwa Kai akan membiarkannya pergi setelah dia mendapatkan bus, tapi ternyata tidak. Kai malah mengikutinya naik dan duduk disamping Krystal. Krystal tidak bisa menolak, karena seperti biasa, bus sedang dalam keadaan penuh.

Merasa kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun karena Kai terus mengikutinya, Krystal membuka lilitan earphone-nya dan menempelkannya ke telinga. Dia hendak membuka playlist­-nya ketika mendengar Kai kembali bersuara.

“Itu bukan milikmu, Krys. Itu milikku,” ujarnya pelan dengan senyum mengembang. Hatinya sekarang ini sedang melompat gembira. Bagaimana tidak? Benda itu adalah sesuatu yang berarti baginya dan ternyata Krystal masih menyimpannya. Mungkin aja itu bisa mengingatkan Krystal akan dirinya.

“Hah? Jangan bercanda! Bagaimana mungkin ipod ini bisa milikmu? Lihat ini!” Krystal memperlihatkan punggung ipod yang tertempel stiker inisial namanya, “Kau tahu ini? Ini inisial namaku, Krystal Jung! Sudah jelas ini milikku!” Krystal mencibir.

Kai tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Krystal, benar-benar senang ketika melihat stiker yang dulu dipasangnya masih berada disana.

“Kau tahu nama lengkapku?” tanyanya.

“Bagaimana bisa aku tahu? Aneh!”

“Kim Jong-In.”

Krystal tersentak ketika mendengar ucapan Kai. Dia menatap Kai bingung. Benar-benar bingung.

“Itulah yang membuat kita unik, Krys. Inisial nama kita sama. Krystal Jung dan Kim Jong-In.”

Kai merogoh saku jaketnya untuk mengambil sesuatu di dalam sana lalu memberikannya pada Krystal. Krystal bergeming, dia hanya melihat tangan Kai yang mengepal tanpa berniat mengambil sesuatu yang berada di dalam sana. Akhirnya Kai membuka gengamannya dan memperlihatkan apa isinya. Sebuah ipod berwarna merah.

“Apa hubungan ipod ini denganku?”

“Ini milikmu, Krys. Kau ingat kalau kau suka warna merah? Waktu itu kita bertukar, kau bilang kau ingin memakai ipod-ku karena itu adalah has-”

“Kalau kau terus meracau seperti ini, aku tidak segan-segan berteriak bahwa kau penguntit dan aku pastikan kita tidak akan bertemu lagi!” Krystal berkata pelan namun tajam, memotong ucapan Kai yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Arasseo. Mian,” Kai cepat-cepat menjawab kemudian memasukan lagi ipod merah itu kedalam saku jaketnya. Dia tahu, Krystal tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dua tahun menjalin hubungan dengan yeoja itu membuat Kai sangat mengenal Krystal.

Sudah cukup kesedihan yang dia rasakan karena Krystal tidak mengingatnya. Dia tidak ingin kalau Krystal sekarang menolak bertemu dengannya.

Krystal memandang keluar jendela, tenggelam dalam pikirannya yang memikirkan ucapan Kai.

Dia ingat kejadian sekitar dua bulan setelah dia pulang dari rumah sakit.

 

 

Flashback on

 

“Eonni, dimana Eonni menyimpan gunting kuku?” Krystal sedikit berteriak ke arah kamar mandi sambil mencari-cari benda kecil yang baru disebutkannya di meja rias.

“Di dalam laci meja rias!” jawab Jessica yang sedang menyikat gigi-nya di kamar mandi.

Krystal langsung membuka laci kecil yang tepat berada ditengah-tengah meja rias. Dia mengeluarkan semua isi laci tersebut dan tersenyum ketika menemukan gunting kuku yang sejak 15 menit lalu dicarinya. Dia hendak memasukan kembali semua barang-barang yang tadi dikeluarkannya, kebanyakan adalah pernak-pernik milik Jessica. Tapi, dia menghentikan kegiatannya ketika dia melihat sebuah kotak kecil transparan bertuliskan ipod nano.

“Kenapa tulisannya berwarna merah?” ucap Krystal heran saat tidak sengaja melihat detail barcode yang bertuliskan ‘red’.

“Ada tidak?” tanya Jessica setelah kembali dari kamar mandi sambil melepas ikatan rambutnya.

Ada. Eonni, ini milik siapa?” tanya Krystal sambil mengacungkan kotak kecil tadi.

“Apa itu?” Jessica mendekat dan mengambil kotak tersebut. Wajahnya memucat seketika, “Ah, ini… ini milikku.”

“Benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihat Eonni memakainya?”

“Sudah hilang. Tertinggal di dalam lab saat aku buru-buru pergi,” jawab Jessica cepat sambil melempar kotak tersebut ke dalam tempat sampah.

“Kenapa Eonni gugup seperti itu?”

“Itu… ehm, itu pemberian Heechul Oppa, Krys,” jawab Jessica pelan.

“Heechul Oppa? Mantan kekasih Eonni itu? yang tempo hari menjengguk-ku di rumah sakit?”

“Iya yang itu. Sudah ya, jangan dibahas lagi. Ayo tidur!” ajak Jessica sambil berbaring di tempat tidur.

 

Flashback end

 

 

“Apa mungkin Eonni membohongiku? Ah, tidak mungkin! Eonni, kan, selalu jujur. Kenapa aku malah jadi meragukan Sica Eonni seperti ini? Sudah jelas namja ini yang sedang berbohong!” Krystal membatin sambil melirik Kai yang berada disebelahnya hati-hati. Terlihat kilatan sedih di wajah namja itu.

“Tapi kenapa dia terlihat sangat sedih?”

Krystal langsung menggeleng-gelengkan kepala, berusaha tidak memikirkan ekspresi Kai yang mengganggunya. Usahanya langsung berhasil dengan bantuan ipod yang saat ini memutarkan lagu favoritnya. Lagu pemberian seseorang yang selama ini selalu duduk disampingnya saat pergi dan pulang sekolah. Iya, lagu pemberian Minho.

Cukup lama Krystal termenung memikirkan Minho sampai-sampai tidak sadar sekolahnya hanya tinggal beberapa meter lagi didepan. Padahal lagu David Archuleta yang tadi mengalun sudah lama berganti.

Saat Krystal hendak berdiri, dia baru sadar kalau Kai sudah tidak berada disisinya. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling dan melihat namja itu sudah berada di depan pintu keluar sekarang.

“Kau turun disini juga?” tanya Krystal saat berjalan mendekati Kai.

“Tidak, aku hanya membantumu memencet tombol,” ujar Kai polos sambil menekan tombol merah yang berada di sisi kanan pintu keluar. Krystal tidak menjawab, dia hanya merapikan rok-nya yang tadi terlipat dan bersiap turun.

Beberapa saat kemudian, bus berhenti dan pintu terbuka. Entah kenapa Krystal merasa harus mengatakan sesuatu pada Kai sebelum dia pergi.

“Terimakasih,” ucapnya sedikit enggan sebelum melangkah turun.

“Hati-hati, Krys!” Kai tersenyum lembut sambil melambai pelan. Lagi-lagi Krystal tidak menghiraukannya. Tak sampai semenit setelah Krystal turun, bus tersebut sudah berjalan kembali.

Krystal baru saja akan berjalan memasuki gerbang ketika seseorang berteriak panik dibelakangnya dan terdengar sebuah klakson yang ditekan dengan kekuatan penuh.

“AWAAAAS!!!!”

Krystal membalikan tubuhnya setelah mendengar bunyi klakson tadi menjauh. Dilihatnya seorang siswa Seoul Senior High School menarik seorang gadis yang memakai seragam yang sama di seberang jalan. Sepertinya gadis itu tadi hampir tertabrak.

Krystal dan orang-orang disekitarnya memekik tertahan ketika melihat tubuh si namja yang memeluk gadis itu oleng dan jatuh menimpa aspal. Krystal mencoba memfokuskan matanya untuk melihat siapa kedua orang tersebut. Minho dan Suzy.

Krystal yang panik hendak berlari, tapi tangannya ditahan oleh Park Suk-Jin, satpam sekolah mereka.

“Masuklah!” Perintahnya cepat sambil berlari menghampiri Minho dan Suzy. Krystal melihat Minho bangun dan langsung membopong Suzy yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya.

Park Suk-Jin memberikan tanda bagi para pengendara bermotor untuk menghentikan kendaraan mereka agar Minho bisa membawa Suzy menuju sekolah.

Krystal masih membeku ditempatnya ketika Minho yang melewati dirinya dengan wajah panik. Dia buru-buru tersadar dan mengekor di belakang Park Suk-Jin.

Adegan Minho membopong Suzy yang sedang dalam keadaan kesakitan, mampu mendapatkan seluruh perhatian para siswa kelas X yang menguasai wilayah lantai satu saat mereka berdua memasuki area sekolah. Udara langsung dipenuhi oleh bisikan-bisikan keras mereka, sebagian malah ada yang mengikuti langkah Minho menuju Unit Kesehatan Sekolah sambil mencuri pandang ke arah Suzy yang sudah membenamkan wajahnya di dada Minho.

Sesapainya Minho, Suzy dan Park Suk-Jin didalam, sang perawat penjaga yang terkenal sangat galak langsung menutup pintu tepat dihadapan Krystal. Krystal mendengus kesal lalu bergeser menuju jendela, berusaha melihat ke dalam. Jujur pikirannya kalut saat ini. Bukan, bukan karena melihat Suzy yang tadi sepertinya menahan tangis karena kesakitan. Tapi melihat lengan Minho yang mengeluarkan darah karena tadi menahan tubuh Suzy agar tidak menyentuh aspal.

“Krys!!!”

Krystal seketika menoleh dan melihat Luna, Sulli, dan Taemin berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sepertinya kegaduhan yang diciptakan siswa kelas X tadi langsung sampai di telinga siswa kelas XII. Terbukti karena bukan hanya mereka bertiga yang turun untuk mengecek keadaan korban insiden tadi, tetapi hampir 20 persen siswa kelas XII telah hadir disana.

Gwenchana?” tanya Luna khawatir ketika melihat keringat yang menetes dari pelipis Krystal.

“Bukan aku yang terluka,” Krystal mengibaskan tangannya cepat, “Minho dan Suzy.” Krystal menunjuk ke arah UKS.

Mereka semua langsung melihat kedalam UKS yang tidak terlalu besar tersebut. Mereka melihat sang perawat sedang melepas sepatu Suzy dengan hati-hati.

“Aaaah!!” Terdengar suara rintihan Suzy sampai keluar. Sulli yang paling tidak bisa melihat orang lain kesakitan langsung mundur sambil menarik Taemin. Tinggalah Krystal dan Luna yang melihat kedalam.

Sekarang sang perawat sedang mencoba membuka kaos kaki Suzy. Terdengar lagi rintihan dari gadis itu. Kali ini lebih nyaring. Bukan, bukan rintihan, melainkan teriakan.

“Sepertinya pergelangan kaki Suzy keseleo,” ujar Luna pelan

Krystal mengangguk dan langsung tersentak saat melihat tangan Suzy menggenggam tangan Minho erat dengan air mata yang berlinang.

Tanpa sadar, tangan Krystal terangkat untuk menekan dadanya.

Ada sesuatu menusuk Krystal tepat ditengah paru-parunya, membuatnya sesak. Bukan pisau, apalagi jarum. Sesuatu itu seperti stalagtit yang jatuh dari atap-atap gua. Kasar, tajam dan runcing. Sesuatu itu makin terasa menyakitkan ketika dilihatnya Minho mencoba menenangkan Suzy sambil balik mengenggam tangan gadis itu.

Apa ini? Jangan bilang kalau aku….. Ah, tidak! Bukan! Ini bukan apa-apa!” Krystal tidak melanjutkan pemikiran awalnya. Meskipun hatinya memaksa, dia tetap tidak ingin mengakuinya.

 

Yeoboseyo..

“Yaa ikan teri! Dimana kau?” tanya Siwon langsung ketika mendengar suara Eunhyuk menyapanya di seberang sana sambil berjalan pelan menuju studio perancangan.

Tempat tidur. Huaaaaah… waeyo?” tanyanya malas. Siwon yakin betul Eunhyuk sedang menguap lebar saat mengatakannya.

Aish, bukannya kita sudah janji akan mengerjakan tugas bersama pagi ini? Kau tidak ingat kita harus mengulang gambar yang kemarin?”

Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh dari speaker telepon genggam Siwon.

“Aaaaah, jinjja!” Mendengar Eunhyuk mengumpat seperti itu membuat Siwon langsung tahu bahwa sesuatu yang tadi jatuh adalah sang pemilik telepon genggam tersebut, “Siwon-ah, jinjja mianhae. Aku lupa,” ujar Eunhyun pelan.

Siwon menghela napasnya sambil membuka pintu studio dengan sedikit keras, “Ah, kau ini selalu sa-” Siwon menghentikan ucapannya ketika melihat seorang gadis di dalam studio. Siwon mematung selama sepersekian detik ketika melihat pemandangan itu. Sebagian wajah yang bercahaya karena pantulan sinar matahari yang baru saja beranjak dari peraduannya.

Siwon-ah, wae geurae?” tanya Eunhyuk heran karena tidak mendengar ceramah Siwon.

“Nanti aku telepon lagi. Cepatlah datang!” jawab Siwon singkat dan segera menutup teleponnya.

Siwon melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul 7 lewat 15 menit.

Apa yang dia lakukan sepagi ini?” batinnya.

Setelah menutup pintu dibelakangnya, Siwon berjalan pelan mendekati gadis yang sedang menggambar di salah satu meja gambar dekat jendela dengan earphone terpasang di kedua lubang telinganya. Keningnya berlipat saking seriusnya dia menekuni kegiatannya.

Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Im Yoona.

“Yoona-ssi..” panggil Siwon seraya menyentuh pundak Yoona. Gadis itu terlonjak kaget dan membuat pensilnya bergerak ke arah yang tidak seharusnya.

“Ah, jweisonghaeyo, Yoona-ssi!” Siwon buru-buru meminta maaf sambil mengambil penghapus yang tadi tersenggol Yoona dan hampir jatuh.

“Oh, Siwon-ssi! Jinjja gabjagiya!” Yoona tertawa sambil mengusap dadanya. (Benar-benar mengagetkan.)

“Maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu,”

Ah, anieyo, gwenchanayo,” jawab Yoona sambil melepas earphone-nya.

“Apa yang kau lakukan sepagi ini?” tanya Siwon sambil meletakan ransel dan tabung gambarnya di meja yang berada tepat disebelah Yoona.

“Kau baru saja bertemu dengan buronan,” ucap Yoona sambil mengerling ke arah Siwon.

“Maksudmu?”

“Iya, hari ini aku menjadi seorang buronan. Aku kabur dari manager-ku,” jelas Yoona ringan sambil mencari-cari sesuatu dalam kotak pensilnya.

“Memangnya apa yang membuatmu sampai kabur?”

“Aku sedang malas shooting. Lelah. Lagipula, aku sedang ingin menggambar,” jawab Yoona sambil mengacungkan pensil dan menunjuk kertas hambarnya.

“Aaaah, begitu.” Siwon mengangguk-angguk mengerti.

“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan?”

“Aku tadinya berencana mengerjakan tugas bersama Eunhyuk. Kami harus mengulang mata kuliah axonometri. Maklum, kami tidak ahli menggambar. Tapi, sepertinya gagal. Dia baru saja bangun,” Siwon berkata dengan nada kecewa. Berbeda dengan Yoona yang malah tertawa tertahan.

Waeyo?

“Ah, jweisonghaeyo. Bukan maksudku tertawa diatas penderitaanmu. Hanya saja, jika mendengar nama Eunhyuk-ssi, aku selalu ingin tertawa,” ujar Yoona seraya menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.

“Memangnya ada apa? Ah, maaf, daritadi aku hanya mengulang-ulang pertanyaanku,” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung sendiri kenapa sejak tadi hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Tidak apa-apa. Hmm, sebenarnya, Yuri menyukai Eunhyuk-ssi. Aku tidak mengerti kenapa dia bisa terpikat dengan orang semacam dia. Makanya aku selalu tertawa jika mendengar nama Eunhyuk-ssi, Hahaha…” Yoona kembali tenggelam dalam tawanya.

Jinjjayo? Wah, ternyata mereka sudah punya perasaan yang sama.”

Ne?

“Iya. Eunhyuk juga menyukai Yuri-ssi. Kau ingat saat aku mengembalikan ponselmu tempo hari? Dia-lah yang menyuruhku untuk mengembalikannya padamu agar dia bisa mengobrol dengan Yuri,” tutur Siwon.

“Wah, daebak! Mereka hanya tinggal tunggu waktu yang tepat.”

Siwon mengangguk mengiyakan.

“Oh, iya, tadi kau bilang kalau kau tidak bisa membuat axonometri?” Yoona memastikan.

“Lebih tepatnya, aku memang tidak bisa menggambar,” jawab Siwon sambil mengeluarkan sebuah kertas kosong dan sebuah kertas yang sudah penuh dengan coretan tinta merah yang Yoona yakini adalah coretan hasil koreksi disen mereka dari tabung gambarnya.

“Kau tidak bisa menggambar? Lalu kenapa kau masuk arsitektur?” tanya Yoona tidak mengerti.

“Aku bisa dikatakan ahli dalam mata pelajaran fisika dan matematika,” jawab Siwon sungkan, “dan aku memang tertarik dengan arsitektur. Makanya aku bisa lolos dalam tes seleksi masuk kampus ini,” ucap Siwon sambil menyunggingkan senyumnya.

“Oh, begitu. Bagaimana kalau kita tukar jasa?” usul Yoona sambil memandang Siwon penuh harap. Sedangkan Siwon memandangnya penuh tanya.

“Aku lumayan ahli dalam hal menggambar,” lanjut gadis itu menjawab pertanyaan tak terucap Siwon.

“Iya aku tahu. Saat kau memberikan tugasmu pada Soo-Man Sonsaengnim dihadapanku tempo hari, seketika aku tahu kalau kau sangat ahli. Bagaimana mungkin seorang awam bisa mengerjakan tugas dalam waktu dua hari tanpa pengulangan?” Siwon tersenyum menggoda.

Yoona membalasnya dengan senyuman simpul, “Tapi setiap orang pasti punya kelemahan, kan? Nah, aku lemah dalam hal Mekanika Teknik.”

Jinjjayo?

I’m serious. Jika kau lihat daftar nilai kuis-ku dalam mata kuliah Mekanika Teknik, aku pastikan kau akan menemukan angka berbentuk kursi, telinga, bahkan yang paling buruk, angsa. Aku lemah dalam hal berhitung,” Yoona mengerucutkan bibirnya.

Siwon langsung tertawa terbahak-bahak. Merasa gadis dihadapannya ini mempunyai selera humor yang cukup baik.

Setelah Siwon berhenti tertawa, Yoona mulai bicara lagi, “Jadi bagaimana?”

“Kau yakin mau belajar Mekanika Teknik denganku? Aku bukan tipe pengajar yang sabar, loh!” tanya Siwon sangsi.

“Kau pikir aku tipe pengajar yang sabar juga?”

Siwon kembali tertawa, kali ini diikuti juga oleh Yoona.

Joha! Kita bisa bertukar ilmu mulai sekarang,” Siwon menyetujui, “Tapi, kau tidak sibuk dengan kegiatanmu diluar kampus?”

“Aku menolak tawaran-tawaran yang masuk. Kali ini yang tersisa tinggal shooting iklan dan reality show, jadi tidak terlalu sibuk. ” Yoona tersenyum senang yang disambut Siwon dengan anggukan pasti.

“Kalau begitu, kita mulai besok bagaimana?”

Yoona sudah akan menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berdering nyaring

Jamkkanman!” Yoona memberi tanda dengan tangannya dan mengangkat telepon tersebut, “Yeoboseyo?

 

 

“Permisi, ini kelas Choi Minho?”

Krystal yang tadi sedang memandang lurus keluar jendela langsung menoleh ke arah pintu kelas ketika samar-samar mendengar suara khas milik perawat penjaga UKS, apalagi saat nama Minho disebutkan.

Krystal memang sedang tenggelam dalam pikirannya tentang Minho. Beberapa jam yang lalu, Victoria Sonsaengnim memberitahukan bahwa Minho mengantarkan Suzy pulang. Sebetulnya kakak perempuan Suzy datang menjemput. Tapi, karena badannya tidak bisa membopong Suzy sampai ke tempat parkir, membuat Minho akhirnya kembali turun tangan.

Victoria Sonsaengnim juga bilang bahwa Suzy menolak untuk pergi ke dokter jika Minho tidak ikut mengantarnya. Berhubung tidak ada kegiatan berarti disekolah, Minho akhirnya menurut setelah kakak Suzy memohon dan Victoria Sonsaengnim mengizinkan.

“Iya, betul!” jawab Sohee yang memang sedang berdiri di depan pintu.

“Ini ransel miliknya. Bisakah kalian mengantarkan ini padanya?” tanya si perawat sambil mengacungkan ransel Minho yang sepertinya hanya berisi sebuah buku karena terlihat sangat ringan.

Key sudah mengacungkan tangan dan hendak menjawab ketika dilihatnya Krystal sudah mendekati pintu.

“Biar saya yang memberikannya,” ujar Krystal sambil mengambil ransel Minho dari tangan perawat tadi.

“Loh, Krys? Bukankah kalian sudah tidak satu rumah?” tanya Sohee sambil memandang Krystal heran.

“Aku akan bertemu dengan kakak Minho hari ini,” dusta Krystal pada Sohee dan perawat tadi.

“Baiklah, saya permisi.” Perawat tadi undur diri yang langsung dijawab Krystal dan Sohee denga anggukan.

 

 

“Ting tong… ting tong…”

Krystal sudah memencet tombol kecil berbentuk lonceng yang berada tepat di samping pintu apartemen Choi brother. Tapi, tidak ada tanda-tanda ada orang didalam sana.

Krystal memutar tubuhnya dan bersandar di pintu. Pikirannya langsung sibuk berpikir mencari jawaban kenapa Minho belum pulang. Padahal, jam sudah menunjukan pukul 4 sore.

Ajjushi, kau benar-benar menyusahkan!” Krystal merutuk sambil menyimpan ransel berwarna abu-abu milik Minho tepat di depan pintu. Dia kemudian membuka tasnya lalu mengeluarkan kotak kecil yang berisi peralatan P3K dari sana. Diambilnya dua buah plester persediannya dan menyimpannya di atas ransel Minho.

“Semoga lukamu cepat sembuh,” ujar Krystal pelan dan berjalan gontai keluar dari bangunan tersebut.

 

 

Krystal tidak langsung pulang setelah meninggalkan apartemen Minho. Dia memutuskan untuk melepaskan keluh-kesah sambil meminum ramuan kopi favoritnya di salah satu kedai yang dia temui tidak jauh dari apartemen Minho.

Suasana hatinya kacau sekali hari ini. Bukan hanya karena dia tahu bahwa Minho belum pulang dari acara mengantar Suzy yang sudah berlalu hampir 7 jam. Tapi juga karena dia tiba-tiba mengingat cara Minho menenangkan Suzy tadi pagi. Krystal mengerti sekali cara itu. Cara yang sama ketika Minho menenangkan Krystal saat dia tenggelam, saat Krystal mengalami shock trauma, dan saat Kai datang secara tiba-tiba dengan menarik Krystal.

Entah kenapa Krystal benar-benar membenci perasaan ini. Dia benci dengan perasaannya yang langsung kacau saat melihat Minho dengan orang lain.

Ada apa dengaku!” batin Krystal sambil sibuk mengacak-acak rambutnya.

Krystal baru saja akan duduk ketika dia melihat dua orang namja yang sedang berbincang-bincang memasuki kedai.

Ya Tuhan, kenapa dunia begitu sempit!” rutuknya setelah sadar siapa namja yang baru saja datang tersebut. Kai.

“Krys?” ucap Kai langsung saat tak sengaja beradu pandang dengan Krystal. Krystal buru-buru mengalihkan pandangannya dan duduk di salah satu kursi kosong di sudut kedai.

Krystal dapat melihat dengan ekor matanya bahwa Kai berjalan ke arah tempat duduknya sesaat setelah berbicara dengan temannya yang sedang memilih pesanan.

“Hai, Krys! Sedang apa disini?” tanya Kai berbasa-basi sambil menarik kursi dihadapan Krystal.

“Tentu saja minum kopi!” jawab Krystal masih tetap mempertahankan sikap ketusnya terhadap namja itu.

“Maksudku, kenapa kau pergi sejauh ini dan sendirian?”

“Tadi aku mengunjungi temanku. Kau… tidak mengikutiku, kan?” Krystal bertanya hati-hati. Bingung karena lagi-lagi dia bertemu dengan namja ini.

“Tentu saja tidak! Aku juga baru mengunjungi temanku,” Kai menunjuk namja yang tadi datang bersamanya dan sekarang sedang berjalan menghampiri mereka dengan membawa dua cup kopi.

Namja itu tersenyum ketika sampai tepat dihadapan Krystal dan Kai.

“Hai, Krys!” sapanya ramah sambil duduk disamping Kai.

Krystal menjawab dengan anggukan sopan. Padahal dia tidak tahu siapa namja itu.

“Kau ingat dia?” tanya Kai kaget. Karena Krystal menjawab sapaan itu. Krystal tidak berlaku ketus seperti yang dia lakukan padanya.

Krystal menggeleng pelan dan tersenyum sungkan pada namja tadi.

“Kai-ya, aku pikir kau bercanda. Krystal benar-benar hilang ingatan?” bisik namja itu pada Kai.

Walaupun namja itu berbisik, jarak antara dia dan Krystal yang tidak terlalu jauh menyebabkan Krystal bisa mendengar dengan jelas pertanyaannya.

Kai yang tahu Krystal bisa mendengar pertanyaan temannya langsung merasakan suasana menjadi canggung. Kai tidak menjawab pertanyaan temannya. Dia malah menatap Krystal dan bersiap memperkenalkan temannya pada Krystal.

“Krys, ini Lay,”

Annyeong haseyo, jweisonghamnida,” ujar Krystal bersamaan. Jujur dia merasa tidak enak kepada namja bernama Lay ini. Sepertinya, Lay mengenalnya dengan cukup baik.

“Untuk apa kau meminta maaf, Krys?” tanya Lay sambil tertawa tertahan, “Pasti karena kau tidak mengingatku, ya? Tenanglah! Aku bukanlah seseorang istimewa yang ada di kehidupan lamamu. Walaupun, aku juga sedih mendengar keadaanmu setelah kecelakaan itu,”

Krystal menautkan alisnya, tidak mengerti apa maksud ucapan Lay. Sedangkan Kai langsung menyambar kopi yang ada di hadapannya untuk menetralisir keterkagetannya saat Lay mengucapkan ‘seseorang istimewa yang ada di kehidupan lamamu’.

“Krys, kau benar-benar tidak mengingat Ka-”

“Lay, kau bukannya harus pergi menemui kekasihmu?” Kai langsung memotong perkataan Lay yang sudah mengarah ke pembicaraan yang lebih dalam. Kai rasa belum saatnya Krystal ditanya soal hubungan mereka mengingat reaksi Krystal pada kejadian beberapa hari ini.

Lay melihat Kai sekilas, lalu langsung tersadar, “Ah, iya benar. Aku harus bertemu pacarku. Untung saja kau mengingatkan. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu, Krys. Sampai ketemu lagi!” ujarnya seraya berdiri.

“Ah, ne,” jawab Krystal pelan sambil ikut berdiri untuk memberi salam.

“Aku tinggal sebentar, ya? Aku antar dia ke depan dulu,” Kai langsung menarik Lay keluar dari kedai.

Krystal kembali duduk sambil memperhatikan kedua namja yang masih berdiri di depan pintu kedai tersebut. Krystal melihat tangan Lay terulur lalu menepuk-nepuk pelan bahu Kai yang malah tertunduk lesu. Tak lama kemudian Kai sudah kembali berada dihadapan Krystal dengan senyum hangatnya.

“Krys, maafkan Lay, ya. Dia memang suka bicara asal.” Kai duduk sambil lalu meminum kopinya.

Krystal tidak menjawab. Jujur, saat ini dia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Kai. Di satu sisi dia kesal karena namja ini datang tiba-tiba dan mengaku sebagai kekasihnya. Tapi di sisi lain, dia melihat namja ini memang berkata yang sesungguhnya. Terlebih lagi karena ada sebuah perasaan yang selalu ingin menyeruak keluar dari hati dan pikirannya ketika berhadapan dengan Kai.

So, tell me what happen to you today!” Kai berkata sambil menepuk tangannya sekali, membuat Krystal tersadar dari diamnya.

“Hah?”

“Bukankah tadi pagi kita sudah sepakat untuk memulai dari awal? Kita juga sudah berkenalan, kan?”

“Lalu?”

“Awal mula pertemanan yang baik adalah dengan cara menceritakan apa yang terjadi hari ini pada satu sama lain. Jadi, hari ini kita saling bercerita!” jelasnya antusias.

Krystal menghembuskan napasnya. Malas meladeni Kai yang sudah menatapnya dengan wajah ingin tahu.

“Krys, ayolah! Oke, paling tidak jangan jawab pertanyaanku hanya dengan satu kata!” Kai memohon.

“Aku bilang aku tidak mau!” jawab Krystal sambil mengambil cup kopi-nya. Dia tidak sengaja memandang Kai yang sekarang sedang menyeringai.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Krystal urung menyeruput latte-nya.

“Aku tidak tertawa, aku tersenyum.”

“Kalau kau menyunggingkan senyummu, itu sama saja kau tertawa!” Krystal tetap mendebat Kai. Kai malah tambah menyeringai lebar mendengar jawaban Krystal.

“Kau menyebalkan!” ujar Krystal acuh.

“Kau sadar tidak? Tadi aku memintamu untuk tidak menjawabku hanya dengan satu kata, dan kau langsung melakukannya?” tanya Kai sambil memandang gadis dihadapannya dengan lembut.

Krystal diam beberapa saat. Tanpa sadar, sudut bibirnya sudah terangkat terangkat. Hatinya mau tidak mau menyetujui ucapan Kai. Krystal buru-buru mengalihkan pandangannya keluar agar Kai tidak melihat senyum yang tidak bisa dia kendalikan.

Tapi sayang, Kai melihat senyum itu. Senyum yang dia rindukan. Senyum yang selama ini selalu gadis itu berikan hanya untuknya.

Aku tahu kau akan mengingatku, Krys..” batinnya sambil terus memandangi Krystal.

 

 

Siwon baru saja keluar dari kamarnya ketika pintu depan dibuka. Dia melihat Minho sedang melepas sepatunya dengan wajah lelah dan lengannya yang dibebat perban.

“Apa yang terjadi dengan tanganmu?” Siwon berkata panik sambil menghampiri adiknya.

“Ceritanya panjang, Hyeong. Tapi tenanglah, hanya beberapa jahitan kecil. Nanti saja ceritanya, ya? aku lelah. Aku ke kamar dulu,” jawab Minho sambil berjalan pelan menuju kamar tanpa persetujuan kakaknya.

Siwon hanya diam sambil memandangi adiknya memasuki kamar yang tepat terletak di depan ruang tengah.

Minho sudah akan menutup pintu ketika dia melihat ransel-nya yang baru dia ingat tertinggal sudah ada di atas tempat tidurnya.

Hyeong, siapa yang mengantarkan ransel-ku?” tanya Minho sambil melongokan kepalanya keluar.

Molla. Saat aku datang tadi, ransel-mu sudah ada di depan pintu,Siwon berkata acuh sambil mengambil air mineral dari dalam lemari es.

Minho kembali masuk ke kamar dan langsung berbaring setelah menutup pintu. Beberapa saat kemudian Siwon masuk sambil membawakannya sebotol air mineral dan dua potong pizza.

“Makan dulu, kau pasti belum makan, kan? Oh, iya, tadi di atas ransel-mu ada itu,” Siwon menunjuk sesuatu yang tergeletak di atas meja belajar Minho. Minho mendekatinya sambil menerka-nerka apa benda tersebut.

Minho seketika terpaku ketika melihat dua buah plester berbentuk not balok ada disana. Plester yang sangat dikenalnya.

 

 

“Jadi, besok pagi aku jemput, ya?” tanya Donghae pada Jessica setelah menginjak pedal rem-nya tak jauh dari gerbang rumah kekasihnya tersebut.

Jessica mengangguk, “Aku masuk, ya? Terimakasih banyak untuk hari ini!” ucapnya sambil tersenyum simpul.

Jessica sudah akan membuka pintu ketika Donghae menarik tangannya.

“Kenapa?” tanya Jessica bingung.

“Aku lupa sesuatu,”

Donghae melepas seatbelt­-nya dan melingkarkan tangannya di pinggang Jessica. Dia mendekatkan bibirnya ke arah kepala Jessica dan mengecup lembut puncak kepala  gadis itu.

Jessica menutup matanya ketika sadar bahwa Donghae menciumnya agak lama. Donghae melepas kecupannya dengan menjauhkan wajah Jessica sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya di kedua belah pipi tirus tersebut.

“Kenapa wajahmu semerah itu?” tanya Donghae ketika melihat wajah Jessica yang sudah semerah kepiting rebus.

Oppa menciumku lama sekali,” jawab Jessica sambil mengalihkan pandangannya ke belakang mobil.

Donghae tertawa mendengar jawaban Jessica. Tapi tawanya langsung terhenti ketika telapak tangan gadis itu membekap mulutnya. Dia lalu menggerakan tangannya yang bebas untuk menggapai kunci mobil Donghae dan mematikan mesinnya.

Donghae yang tidak mengerti langsung menyingkirkan tangan Jessica yang tadi membekapnya, “Ada apa?”

“Sttt..!!” Jessica menempelkan telunjuk ke depan mulutnya dan menunjuk ke belakang. Donghae mengikuti arah tangan Jessica dan melihat Krystal sedang berjalan dengan seorang namja. Namja yang mereka temui di airport tempo hari.

Ketika Krystal dan Kai melewati Ford Kuga silver yang berisi Donghae dan Jessica, Jessica langsung menyentuh kepala Donghae sambil menyuruhnya untuk menunduk.

Krystal dan Kai sampai di depan gerbang rumah Krystal. Krystal membuka gerbang, bersiap untuk masuk. Tapi, badannya membalik dan dia menatap Kai yang sedang tersenyum simpul ke arahnya. Dari cara bibir Krystal bergerak, Jessica tahu bahwa adiknya itu baru saja mengucapkan ‘terimakasih’ dan ‘hati-hati di jalan’. Sesaat setelah Krystal memasuki pekarangan rumah, Kai berjalan kembali menyusuri jalan yang tadi dilaluinya bersama Krystal dengan senyum yang masih mengembang.

Setelah dirasa aman, Donghae kembali duduk tegak lalu menatap Jessica penuh tanya.

“Kenapa kita harus bersembunyi?”

“Aku juga tidak tahu. Refleks,” Jessica menyeringai sambil memberikan kunci mobil Donghae. Donghae langsung menyentil pelan kening kekasihnya tersebut dengan gemas.

“Kau ini selalu saja bertindak aneh-aneh!”

“Tapi, Oppa tetap menyukainya,” Jessica menjawab manja sambil memeletkan lidahnya, “Sudah, ya, aku masuk sekarang!”

“Eh, nanti dulu! Kau melupakan sesuatu!”

Mwoga?

Donghae menujuk pipi sebelah kanannya sambil mengerucutkan mulutnya. Meminta Jessica menciumnya.

“Aaah! Dwaesseo! Aku keluar sekarang, Oppa hati-hati, ya!” jawab Jessica seraya membuka pintu. Dia menunggu Donghae menjawab pernyataannya. Tapi, namja itu malah memasukan kunci mobil ke lubangnya dengan ekspresi kesal. (Lupakan!)

Oppaaa….” Jessica memanggil Donghae manja. Donghae menatap lurus kedepan. Tidak mengindahkan panggilan Jessica.

“Ah, Oppa jinjja!” Jessica merutuk sebal lalu masuk kembali ke mobil. Dia mencium pipi Donghae sekilas lalu buru-buru keluar dan menutup pintu.

“Itu baru namanya pacarku!” ujarnya setelah menekan tombol untuk membuka kaca jendela. Jessica melihat Donghae sudah tersenyum puas.

“Ya sudah cepat sana pulang!”

Arasseo. Sleep well my ice princess!

Jessica yang tadi cemberut langsung tersenyum kecil mendengar ucapan Donghae. Dia suka setiap kali Donghae memanggilnya seperti itu.

Bye, Jess.”

Bye!” Jessica melambaikan tangan. Memandangi mobil itu mejauh hingga hilang di tikungan jalan. Tanpa menunggu lebih lama, Jessica masuk ke dalam rumah.

Saat dia membuka pintu, dia bisa mendengar suara televisi menyala di ruang tengah. Jessica melanjutkan langkahnya dan memasang ekspresi seolah tidak tahu apa-apa . Dilihatnya Krystal sedang menatap lurus ke arah televisi masih dengan seragam lengkap.

“Krys? Kau baru pulang?” tanya Jessica sambil duduk tepat di samping Krystal.

Krystal mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jessica.

“Darimana?”

“Tadi bertemu teman,” jawab Krystal pelan.

Jessica yang sadar kelakuan adiknya sangat aneh langsung memegang bahu Krystal, “Ada apa?” tanyanya.

Eonni, Eonni tidak pernah bohong padaku, kan?” Krystal malah menjawab pertanyaan Jessica dengan pertanyaan lagi. Jessica memucat seketika.

Eonni..

Jessica memainkan rambut Krystal sebelum menjawab pertanyaan tersebut, “Kadang kala, kebohongan bisa dilakukan jika memang itu adalah cara terbaik.”

“Jadi, Eonni pernah membohongiku?”

Jessica diam. Otaknya sedang berpikir keras.

Bukannya Krystal tidak pernah menanyakan tentang Kai? Aku hanya menutupi hubungan mereka. Bukan membohongi Krystal bahwa Krystal tidak pernah mempunyai hubungan dengan namja itu, kan?” tanyanya untuk diri sendiri.

Eonni pernah membohongiku tidak?” Suara Krystal kini terdengar seperti tuntutan.

“Tidak. Tentu saja aku tidak pernah membohongimu,” jawab Jessica sambil meyakinkan dirinya sendiri, “Memangnya ada apa?”

Krystal menghela napas lalu menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, “Ada seseorang yang mengaku kalau dia pacarku,”

Mwo? Siapa?” tanya Jessica kembali berpura-pura.

“Dia bilang namanya Kai. Sebetulnya aku tidak percaya. Tapi entah kenapa, hari ini ekspresi wajahnya selalu murung setiap kali aku bilang kalau aku tidak mengenalnya. Oh, iya, satu lagi. Dia bilang kalau ipod yang ada padaku sekarang adalah miliknya. Sedangkan milikku ada padanya, berwarna merah,”

Apa yang harus aku lakukan?” batin Jessica.

“Ah, sudahlah! Aku yakin dia yang berbohong.” Krystal mengambil kesimpulan sendiri, “Eonni tadi bertemu dengan Siwon Oppa tidak?”

Ne? Ah, tidak. Hari ini aku pergi seharian dengan Donghae Oppa,” jawab Jessica cepat. Dalam hati dia bersyukur karena Krystal telah mengganti topik pembicaraan.

Eonni tadi pergi kemana? Ayo cerita padaku!”

“Masa kau mau mendengar cerita acara kencanku dengan Donghae Oppa? Tidak sopan sekali!” Jessica berkata bercanda.

“Ayolaaaaaah!”

“Baiklah, baiklah. Aku akan bercerita setelah kita mandi,”

Arasseo. Aku mandi duluan!” ucap Krystal sambil melesat masuk ke kamarnya. Meninggalkan Jessica yang sebetulnya masih memikirkan pertanyaan Krystal tadi.

 

 

Krystal memasuki ruang kelasnya yang tidak bising seperti biasanya. Tenyata, anak-anak sedang berkumpul mengerubungi satu meja. Termasuk Amber dan Key yang notabene tidak suka mengerumun, apalagi untuk mendengar gosip. Krystal berjalan melewati Amber menuju mejanya untuk menyimpan tasnya disana. Amber yang sadar seseorang melewatinya langsung mengalihkan pandangan. Dia tersenyum pada Krystal dan mendekati sahabatnya itu.

“Ada apa?” tanya Krystal sambil melepas tasnya.

“Itu, Jiyeon sedang menceritakan kejadian Suzy dan Minho kemarin. Dia tadi malam menjenguk Suzy dan Suzy menceritakan segalanya.”

“Oh,” Hanya itu yang dikeluarkan mulut Krystal tanpa sedikitpun memperlihatkan ketertarikannya untuk mendengar cerita tersebut. Padahal, dalam hati, dia ingin sekali mendengarnya.

“Krys, mau kemana?” tanya Key yang ternyata sudah ikut keluar dari kerumunan tersebut.

“Ke kantin. Membeli minum,” ucap Krystal sambil berjalan pelan keluar. Tapi tiba-tiba dia menabrak seseorang yang langsung menarik tangannya ketika Krystal hampir saja terjatuh.

Krystal menengadahkan kepalanya dan melihat Minho berdiri di hadapannya.

“Ah, mian,” ucap Krystal pelan dan langsung menegakan badannya.

“Mau kemana?” tanya Minho sambil melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Krystal.

“Ke kantin. Aku pergi dulu, ya.” Krystal langsung berjalan cepat menuju kantin tanpa memperdulikan Minho yang masih memandanginya.

Tanpa pikir panjang, Minho langsung melepas ranselnya dan melemparnya sembarangan lalu mengejar Krystal keluar.

“Krys!!” panggil Minho sedikit keras yang membuat Krystal menghentikan langkahnya dan membalikan badan.

“Aku ikut!” lanjut Minho sambil berjalan lebih cepat menghampiri Krystal.

Setelah langkah Minho sejajar dengan Krystal, gadis itu melanjutkan langkahnya dalam diam. Tidak berniat memulai percakapan.

Sesampainya di kantin, Krystal membeli sebotol air mineral dan satu kaleng minuman sari kacang hijau lalu memberikannya pada Minho.

Gomawo,

Krystal hendak berjalan kembali ke kelas ketika Minho menariknya untuk duduk. Mau tak mau, Krystal menurut.

“Kemarin kau mengantarkan ransel-ku ke rumah, ya?” tanya Minho sambil membuka minumannya.

“Kemarin kau pulang jam berapa?” Krystal malah balik bertanya.

“Jam 8 mungkin. Aku lupa,” jawabnya, “Kau datang dengan siapa?”

“Kenapa baru pulang selarut itu? Bukannya seharusnya kau sudah pulang semenjak siang?” Krystal masih menjawab pertanyaan Minho dengan pertanyaan lagi.

Minho mengerutkan dahinya, bingung kenapa Krystal bertingkah seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka. Tapi, akhirnya dia menjawab juga.

“Kakak Suzy memintaku menjaga Suzy. Dia ada urusan mendadak dan tidak bisa ditinggalkan. Maklum, mereka hanya tinggal berdua,”

Jujur, Krystal merasa terusik ketika mendengar Minho mengatakan, ‘menjaga Suzy’.

“Kaki Suzy tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

“Kakinya keseleo. Aku menarik tubuhnya terlalu keras kemarin saat dia hampir tertabrak.”

“Lalu tanganmu?”

“Ah, ini?” Minho menyentuh lengannya, “Tidak apa-apa, hanya beberapa jahitan kecil. Maaf plester pemberianmu belum aku pakai. Aku masih harus menggunakan perban,”

Krystal mengangguk singkat lalu beranjak dari duduknya, bersiap berjalan menuju kelas.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Krys!” tahan Minho.

Krystal kembali menghaentikan langkahnya.

“Iya, kemarin aku yang mengantarkan ransel-mu.”

“Sendirian?”

Krystal diam beberapa saat. Dia meminum air mineralnya sebelum menjawab, “Tidak. Aku datang bersama Kai,”

Aku pasti salah dengar,” batin Minho

“Siapa, Krys?” tanya Minho memastikan.

“Kai.” Krystal menjawab singkat, padat, namun jelas.

Tidak ada yang salah dengan pendengaranmu Choi Minho! Krystal bersama Kai kemarin.” Minho memberitahukan dirinya sendiri.

“Mau kembali ke kelas atau masih mau diam disini?” tanya Krystal, membuat Minho tersadar.

 

 

Di ruang kedap udara yang tidak terlalu besar itu, tampak enam orang sedang memperhatikan kedua temannya yang sedang memegang mikrofon dan menyanyikan sebuah lagu ballad yang sangat legendaris.

Hari ini, Seoul Senior High School memulangkan para siswa lebih cepat dari biasanya karena akan mengadakan rapat pleno. Makanya, Krystal dan kawan-kawan memutuskan untuk berkaroke ria sambil merayakan hari jadi Sulli dan Taemin yang sebenarnya jatuh hari kemarin.

Minho dan Taemin tak kuasa menahan tawa ketika melihat Jonghyun yang ditemani Key, mengalunkan lirik lagu ‘What Can I Do’ yang dipopulerkan oleh The Corrs sambil memandangi Luna. Minho juga bisa mendengar Krystal yang duduk di sebelahnya bersenandung sambil menggoda Luna yang sepertinya sudah mulai membuka hati untuk Jonghyun.

What can I do to make you love me… What can I do to make you care…” Suara Jonghyun yang memang enak untuk didengar memenuhi ruangan tersebut.

Minho baru saja akan mengambil orange juice yang tadi dipesannya ketika merasakan ponselnya bergetar. Dia mengeluarkan benda kecil tersebut dan berjalan keluar untuk menerima panggilan dari nomor yang baru saja kemarin dia masukan dalam kontak ponselnya.

Beberapa saat kemudian Minho kembali. Tapi, dia tidak kembali untuk duduk dan melanjutkan menyaksikan teman-temannya menyanyi. Dia kembali untuk mengambil ranselnya. Jonghyun langsung menghentikan usaha menarik hati Luna ketika melihat Minho yang berdiri di sebelahnya sambil menggendong ransel.

Guys, i’m so sorry. I have to go now,” pamit Minho.

“Kau mau kemana?” tanya Taemin.

“Aku harus menjaga Suzy. Tadi kakaknya menelepon, dia ada kuliah, dan memintaku untuk menemani Suzy. Dia takut terjadi apa-apa karena Suzy tidak boleh banyak bergerak dulu,” jelas Minho.

Krystal lagi-lagi merasa terusik ketika mendengar kata, ‘menjaga Suzy’. Diam-diam, Krystal melirik Minho yang masih berdiri tepat dihadapannya. Mencari sesuatu, mencari semacam petunjuk entah apa. Dia sendiri tidak mengerti. Tahu-tahu Minho meliriknya balik. Cepat-cepat Krystal membuang muka ke sembarang arah.

“Ya sudah, hati-hati dijalan, ya!” ujar Sulli sambil melambai pada Minho.

Napas Krystal seketika tertahan ketika pintu kecil itu terbuka dan Minho pergi meninggalkan mereka semua dengan langkah buru-buru.

“Dia berkelakuan aneh sekali,” ujar Jonghyun sambil mencomot nachos.

“Dia hanya merasa bersalah. Bagaimanapun, Suzy mengalami keseleo karena dia menarik Suzy, kan?” timpal Key.

“Tapi kalau Minho tidak menarik Suzy, bisa jadi luka Suzy sekarang lebih parah. Kata Suk-Jin Ajusshi, motor yang hampir menabrak Suzy memang sedang dalam kecepatan diatas rata-rata,” Sulli berkata panjang lebar.

“Ah, sudah jangan dipikirkan! Ayo kita nyanyi lagi!” ajak Jnghyun sambil memutar ulang lagu The Corrs tadi.

Krystal tak yakin apakah teman-temannya tersebut menyadari perubahan dalam dirinya. Dalam hati, sungguh dia berharap otot tangannya yang berubah tegang tidak terdeteksi.

What can I say to make you feel this… What can I do to get you there…” Jonghyun bernyanyi sambil menghampiri Luna yang segera berpindah duduk sebelum namja itu bertindak macam-macam padanya. Gadis itu mungkin sudah sedikit membuka hatinya. Tapi dia masih belum bisa menerima cara Jonghyun setiap kali berusaha menarik perhatiannya. Dia merasa cara namja ini norak.

Because the power is not mine… I’m just going to let it fly…

Kali ini Krystal menyetujui lirik lagu tersebut. Seperti merapal mantra, Krystal mengulang-ulang lirik tersebut dalam hati dan pikirannya.

Because the power is not mine… I’m just going to let it fly…

 

To be continue🙂

I really appreciate your comment. Please give me some feedback for this story and don’t forget to click ‘likes’ button if you loves this. Kamsahamnida😀

14 thoughts on “Music and Lyric [chap. 6]

  1. Annyeong…
    Saya reader bru…
    Slam knal..

    Ffny keren.. Seru…
    I2 jdiny bkalan cnta segi 4 y?
    G sbar dgn klnjtanny..
    Cpet d.lnjutin y eonnie…
    Hwaiting..

  2. Onnie udah mantepin hati nih zuky chan, onnie maunya kai aja🙂
    Kan dari sononya emang bias onnie kai bukan minong🙄
    Tapi yaaaaah~ pemeran utamax kan minong ma krys😆
    Kai ama nuna aja *kecup kai*

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s