The Choi’s Little Sister


[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

Sedari lahir hidup Choi Siwon sudah penuh dengan Choi Minho dan Choi Jinri, dua adiknya. Dengan Choi Sooyoung, sang sepupu, maka lengkaplah hidup keluarga sok bahagia ini…

credit cover to: designurcover.wordpress.com

The Choi’s Little Sister

Choi Sulli and the others Choi artist

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

“HYUNG mau minum apa, nih?” seru Minho keras. Pemuda dengan tubuh tinggi itu—ciri khas keluarga—berdiri tegak. Disekelilingnya duduk sekitar tujuh pemuda, berselonjor melepas lelah.

“Yang dingin, Hoo!” seru Eunhyuk, pemuda yang sudah tiduran di rumput hijau. “Yang manis, dingin, Sprite!” sahut Heechul, pemuda lain yang gayanya paling nyentrik.

Minho nyengir lebar. Entah apa yang ada dalam pikiranya, tapi yakinlah bahwa senyum itu cengir-jail-setan-Choi-Minho. “Okee!” angguknya. “Tunggu, ya.”

Dalam sekejap Choi Minho sudah menjejalkan kakinya di dapur. Pemuda itu celingukan, mencari seseorang di dapurnya. “Cari siapa, tuan?” tanya seorang pembantu rumahnya, umur 40 an. Wanita itu sedang memasak di dapur, jelas kehadiran Minho menganggu pekerjaanya.

Cengir setan itu tak lepas dari bibirnya kala Minho menjawab, “Sulli, ahjumma.”

Wanita yang sudah bekerja di keluarganya bahkan sebelum Minho lahir itu berhenti memotong sayur, dan menunjuk pintu di balik dapur. Rumah Minho punya dua dapur. Satu dapur bersih dan satunya lagi dapur yang lebih besar. Biasanya di dapur besar itulah pembantu keluarga Minho memasak. Sementara dapur bersih hanya untuk sekedar saja.

“Di sana, tuh. Dari tadi nona Jinri ngumpet di situ” Hara ahjumma menunjuk dapur kotor. Minho mengangguk dan segera membuka pintunya.

“Ba!” seru Minho, nyengir makin lebar begitu melihat Jinri yang menunduk di dekat tempat cuci piring. Jinri tersentak begitu tahu yang datang Minho, dan gadis manis berambut panjang itu malah jadi tambah cemberut.

“Heh, ngapain masih di sini? Ayo keluar! Temenya Siwon hyung udah dateng semua” cengiran Minho jadi semakin mirip setan—bahkan sudah melebihi cengir setanya Kyuhyun. Jinri diam saja. “Ayo cepet keluaar!” Minho menarik pergelangan tangan Jinri.

“Nggak mau.”

“Kenapa? Nggak usah takut lagi, udah cantik, kok!” yakin Minho, kembali menarik tangan Jinri. Gadis itu tidak bergerak. “Bener nih, nggak mau ke luar? Awas ya, udah ingkar janji. Nanti aku kasih tahu ke Appa kalau kamu—”

Jinri langsung mendekap mulut Minho panik. Pemuda itu nyengir senang, ancamanya berhasil. Jinri menatap Minho dengan alis bertaut. “Pokoknya nggak boleh di foto. Kalau oppa ambil foto aku pake baju ini, kucekik, lho!”

Minho hanya bisa mengangguk. Ditariknya tangan Jinri ke dapur. “Mereka mau sprite, tuh. Sepuluh gelas sama Siwon hyung.” Jinri mengambil dua botol sprite satu liter di kulkas dua pintunya sementara Minho mengambil gelas dan nampan. Keduanya lalu berjalan ke luar dapur menuju halaman belakang rumah.

“Hyung, nih sprite nya. Jangan berebut ya” Minho meletakan nampanya di atas meja, begitu juga Jinri. Tapi sebelum delapan pemuda itu menyerbu sprite, mereka terlanjur terpana melihat Minho datang bersama seorang gadis manis yang juga membawa nampan itu.

“Minho, bawa siapa tuh?” seru Donghae, nyengir kecil sambil mengangkat kedua alisnya, tebar pesona sama si gadis pembawa nampan. “Cantik bener, ueey,” siul Sungmin, jelas menggoda Jinri.

Minho tersenyum sangat lebar, lalu berpaling pada gadis di sebelahnya.

Mereka ada di halaman belakang rumah Minho. Halaman itu luas, di terasnya ada sepasang kursi dan meja rotan yang desainya menawan. Dipenuhi dengan bunga-bunga yang tertata rapi dan pohon rindang, halaman ini menjadi halaman belakang idaman banyak orang, yang butuh jutaan won untuk perawatanya saja.

“Oh, ini” Minho menarik gadis itu mendekat dan merangkulnya. Jinri tersenyum manis, senang diperkenalkan di depan teman-temanya Siwon. “Kenalin hyung, pembantu baru keluarga kami, Sulli.”

“MWO?!” Jinri menganga kaget, segera melapas rangkulan Minho kasar. “Yah, oppa!” injaknya di kaki Minho.

Sementara Minho meringis kesakitan, Yesung menggigit bibirnya. “Pembantu, masih muda, cantik, tinggi, kulitnya putih bersih, pemberontak majikan pula. Duh, tipe idamanku” gumamnya nggak tahan.

“Aku bukan pembantu, aku ini adiknya Minho oppa!” protes Jinri. Tapi pemuda-pemuda genit ini sudah terlanjur terpesona oleh kecantikan seorang pembantu macam Jinri.

“Siapa yang pembantu?” suara bariton milik seseorang muncul dari balik jalan sempit di samping rumah, jalan pintas dari depan menuju halaman belakang. Serentak semua mata menoleh.

Berjalan dengan gagahnya, Choi Siwon—diiringi Leeteuk di belakangnya. Pemuda dengan badan luar biasa tegap itu menghampiri Minho dan Jinri. “Ada apa?”

“Siwon oppa, masa aku dibilang pembantu sama Minho oppa!” adu Jinri, memasang ekspresi jelek pada Minho.

Siwon lalu menatap Minho yang nyengir lebar kayak kuda. “Kalau adik pembantu, berarti kakaknya tukang parkir, ya.” Sindir Siwon. Bukanya takut, Minho malah senyum makin lebar. “Berarti hyung pemulung, ya. Kau kan kakaknya Sulli juga.”

“Ya ampun, kakak adik berebut pembantu,” celetuk Ryeowook. Gelak tawa langsung membahana (termasuk Minho, dia ketawa paling keras). Tapi sebelum tawa itu berlanjut terlalu lama, suara bariton Siwon memecah segalanya.

“Sulli ah, kau ini pake apaan?” seru Siwon, kedua alisnya mengkerut. Dilihatnya Jinri mengenakan pakaian khas pelayan restoran, baju hitam putih dan celemek berenda. Apalagi dengan rambut panjangnya, nggak salah temen-temenya mengira Jinri ini pembantu.

Jinri meringis, ia tak pernah suka dimarahi Siwon. “Aku kalah taruhan sama Minho oppa, ini hukumanya.  Tadi malam Spanyol kalah, kan?” sahut gadis itu.

Siwon menganga. “Siapa yang bilang, huh? Spanyol juara Euro!menang telak lagi.”

Giliran Jinri yang menganga. “Tapi kata Minho oppa Italia yang menang,” protesnya. Jinri segera bergeser, menatap tajam dua bola mata besar milik kakaknya. “Minho oppa,” geram Jinri.

“Apa? Eh, iya. Aku ada urusan sebentar di luar. Hyung semua, aku duluan—yaaaa” Minho melambai sebelum berlari masuk ke rumah. “Minho oppaaaa!” pekik Jinri, berlari mengejar Minho yang sudah ngacir pergi.

Hari ini pertama kalinya teman-teman Siwon datang ke rumahnya. Sebelum ini mereka memang sudah dekat dengan Siwon, dan juga adiknya, Minho. Mereka juga tahu kakak-adik bertubuh atletis itu punya adik perempuan, tapi namanya Choi Jinri, bukan Sulli. Karena mereka belum pernah bertemu Jinri, jelas mereka mengira Jinri itu pembantu.

“Rumahmu rame banget, ya” puji Leeteuk lalu ikut selonjoran di rumput. Siwon meringis.

Memang rame. Sedari kecil hidup Siwon sudah penuh dengan Choi Minho dan Choi Jinri, dua adiknya. Siwon lahir pertama, tahun berikutnya Minho, dan dua tahun setelahnya hadir Jinri. Tapi karena masuk sekolah terlambat, jadi Siwon sekarang kelas dua, Minho kelas satu sementara Jinri sendiri masih kelas tiga SMP.

“Oh, iya. Sooyoung mana?” Sahut Kyuhyun dari sisi lain. Siwon menoleh, mengangkat kedua alisnya, ikut heran akan keberadaan Sooyoung.

The Choi’s Little Sister

Jinri pov

KALA ada yang bertanya siapa namaku, kujawab Sulli. Tapi kalau di suruh menulis di atas kertas, maka akan kuukir Choi Jinri. Sebenarnya sejarah SULli ini agak memalukan. Tapi karena aku baik, maka aku akan berbagi.

Hari itu musim semi cerah. Aku masih pake seragam putih-merah kelas 4. Orang masih memanggilku Jinri. Minho oppa ngajak aku main sepeda di luar. Kami berdua, dibantu satpam rumah, ngeluarin sepeda ke jalan. Tapi karena sepedaku miring, kejatuhanku atas sepeda tak elak terjadi.

“Aww,” ringisku. Hara ahjumma mengucap kata maaf, kembali membersihkan luka di kakiku dengan antiseptik sebelum mengusapnya dengan kapas. “Aduhh,” keluhku, merasakan perih di kaki sementara Minho oppa malah terbahak tak berhenti.

“Orang sakit malah diketawain!” rengutku, memalingkan wajah ke televisi yang menyala di kamarku. Aku duduk di pinggir kasur, menghadap tivi sementara Hara ahjumma mengobati luka akibat jatuh dari sepeda tadi. Minho oppa berdiri di samping kasur, tertawa ngakak melihatku.

“Udah bersih, nona,” Hara ahjumma tegak, tersenyum menenangkan ke arahku. “Lain kali hati-hati kalau naik sepeda, ya. Saya ke dapur dulu,” pengurus utama dapur rumahku itu kembali ke dapur setelah kuhaturkan terima kasih atas bantuanya.

“Hahhha, aneh banget kamu. Baru jalan sebentar gini udah jatuh, katanya mau main. Naik sepeda aja nggak becus,” tawa Minho oppa kembali membahana. “Biarin, jatuhnya aku kan nggak sengaja,” belaku.

“Tetep aja aneh. Hahhaha, Jinri nggak bisa main sepeda huuuu” soraknya lagi. “Iih, nyebelin. Keluar sana!” usirku, melempar Minho oppa dengan bantal ungu ketika tiba-tiba suara melengking lain memenuhi rumah.

“Minho yaaa, Jinri aaahh!” mata hidung mulut sang pemilik suara nongol dari balik pintu kamarku yang terbuka. Makhluk dengan celana putih kaos hijau ini namanya Sooyoung, kakak sepukuku, kelas 6. “Di sini kalian rupanya. Sedang apa?” tanyanya, berjalan mendekat.

Minho oppa yang meringis kesakitan kena lemparan bantalku, menyebrang kamar menghampiri Sooyoung eonni. “Noona, lihat tuh. Si Jinri nggak bisa main sepeda sampe jatuh gitu, hahhhaha” info pemuda itu ke Sooyoung eonni.

“Hah? Jinri jatuh? Coba sini lihat lukanya!” Sooyoung eonni berlutut di dekat kakiku, kubuka kapas yang menutupi luka itu untuk menunjukanya. “Aigoo, kok bisa sampe bisul kayak gini?” ucapnya cemas.

“Bisul?!” pekikku. Nadanya memang khawatir, tapi mengingat sifat dasar Sooyoung eonni, aku langsung meringis kesal. Ya Tuhan, masa kakiku yang indah ini bisulan?

“Bisul? Mwuhahhahha noona, kau jenius. Sekarang kita punya panggilan baru buat Jinri, bisul! Wahhhhaa” Minho oppa pergi keluar kamarku sambil terus ketawa ngakak. Aku langsung berpaling ke Sooyoung eonni dan menatapnya geram. “Kakiku luka. Sekarang malah dibilang bisul sama Minho oppa. Huaaaa, gimana ini eonni?” rengekku.

Sooyoung eonni malah nyengir kecil. Menepuk pundakku ringan seraya berkata, “Maaf, Sul—eh, Jinri. Cepet sembuh, ya. Biar kuhajar si Minho itu.” dia lalu berlari keluar sambil kudengar suaranya yang melengking manggil nama Minho oppa.

Sampai lukaku sembuh pun Minho oppa selalu memanggilku dengan sebutan bisul. Meskipun segan, ujung-ujungnya Sooyoung eonni ikutan juga. Bahkan eomma dan appa pun manggil aku bisul, meskipun dibeberapa kesempatan keduanya masih ingat namaku Jinri. Saking menyebalkanya mereka ini, sampai aku bersyukur masih punya orang di rumah yang masih ingat nama asliku (Hara ahjumma, tukang kebun, pengurus rumah, pelayan yang lain, juga pak satpam. Oh, dan Siwon oppa).

Lalu suatu hari di awal musim gugur, ketika aku sedang capek karena kejar-kejaran sama Minho oppa (dia ngeberantakin semua daun gugur yang sudah kusapu susah payah), Siwon oppa menyodorkan secangkir cokelat hangat padaku dan mengajakku duduk di teras halaman belakang.

“Capek, ya, Jinri?” tanyanya, ikut menghirup cokelat miliknya sendiri. Aku melirik Siwon oppa, sebelum memandang tukang kebun. Harusnya Minho oppa kasihan sama tukang kebun yang sekarang menyapu ulang semua daun yang dia berantakin di halaman belakang ini.

“Minho oppa itu nyebelin banget, deh. Apa dia nggak kasihan sama Yoseob ahjusshi yang harus nyapu ulang semua daun. Coba dia ngerasain capeknya nyapu! Huh,” keluhku, meneguk gusar cokelat pemberian Siwon oppa. Cokelat seenak ini jelas Hara ahjumma yang buat.

“Dia itu seneng banget gangguin aku, oppa. Masa sampe sekarang Minho oppa masih manggil aku bisul-bisul. Udah basi lagi.”

Siwon oppa tersenyum kecil. “Minho itu cari perhatian, lagian dia emang nggak ada kerjaan selain gangguin kamu” sahutnya. Aku menatap Siwon oppa kagum. Betapa bedanya abangku yang ini dengan Minho oppa. “Oh, iya, oppa ada ide dengan nama bisul itu, Jinri ah.”

Aku mengangkat alis, tersenyum antusias dan mendekatkan diri ke pemuda yang sekarang kelas 6 SD ini. “Apa? Apa?”

Siwon oppa tersenyum hangat, yang pasti bisa membuat semua cewek meleleh dibuatnya. “Kenapa nggak diganti jadi Seolli—Sulli aja? Si Minho kan sering manggil kamu sul sul gitu” saranya. Aku menganga. Tersenyum sampai semua gigiku kelihatan dan melonjak memeluk Siwon oppa.

“Makasih, Siwon oppa.” Dan pemuda itu mengelus pelan rambutku.

Lalu namaku berubah jadi Sulli. Meskipun Minho oppa masih terus manggil aku sul sul bisul. Tapi, tetap. Rasa terima kasihku untuk Siwon oppa tak terhitung kalkulator.

The Choi’s Little Sister

KULIRIK kanan-kiri. Sekolah sepi. Sekarang jam 4. SMP ku yang tercinta ini sudah memulangkan muridnya sejak dua jam lalu, dan selama itu pula aku menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Sebelum ini ada Jiyoung, sahabatku, yang menemaniku, tapi ia sudah keburu pulang.

Hari ini, kakakku yang menyebalkan, Minho oppa, berjanji hendak menjemput. Karenanya aku menolak Lee Joon ahjusshi, sopirku, untuk mengantar. Dan sialnya, si kodok hijau itu tak juga datang dengan motor hitam besarnya.

Saking kesalnya, baru sadar aku belum menelponya. Jadi kuraih ponsel di kantong dan segera memanggilnya. “Yah! Minho oppa!” seruku kesal begitu nadanya tersambung.

“Hei, Sul. Ada apa? Kalau bukan hal penting jangan bicara. Aku sibuk” dan telponya terputus.

Kutatap ponsel di tangan ini dan ternganga. Maksudnya apa? Memangnya siapa yang tadi pagi mengajukan diri untuk menjemputku? Ck, Minho oppa memang terlahir untuk membuat orang kesal.

Setelah yakin bahwa Siwon oppa dan Sooyoung eonni tidak menjawab telponku, dan butuh waktu lama bagi Lee Joon ahjusshi untuk datang dan menjemput, akhirnya kuputuskan untuk pulang sendiri dengan kereta bawah tanah.

Menyebalkan. Menyebalkan. Kenapa semua orang sibuk sendiri. Mentang-mentang Minho oppa sudah masuk SMA dan diijinkan keluar, seenaknya saja dia jalan-jalan. Siwon oppa juga. Dia bahkan nggak menjawab telponku. Huh.

“Oh, selamat datang nona Jinri,” Gikwang ahjusshi, si satpam, keluar dari posnya begitu gerbang besar rumahku terbuka secara otomatis. “Dari mana, nona? Kenapa sendirian? Kenapa masih pakai seragam?”

Normalnya mungkin aku akan tersenyum dan membalas sapaanya. Tapi kali ini tidak. Dasar satpam tua kepo. Pakai nanya-nanya segala lagi. Cih.

“Dari sekolah.” Jawabku singkat sebelum berjalan tergesa-gesa ke rumah.

Sebenarnya jarak dari gerbang utama ke rumahku lumayan jauh. Dalam gerbang ini terdapat dua rumah utama. Yang pertama rumahnya Sooyoung eonni, dimana ia tinggal berdua dengan Bibi Gina, sang ibu. Dan tentunya rumahku. Dibanding rumah Sooyoung eonni, rumahku jauh lebih besar. Jelas, karena kutinggali dengan Minho oppa, Siwon oppa, eomma dan appa. Sisanya tempat pengurus rumahku yang lain tinggal.

Ada beberapa motor dan mobil yang parkir di depan rumahku. Ada siapa?

“Selama datang nona Jinri,” Hwayoung eonni dan Eunjung eonni, pelayan rumahku yang paling muda, datang menyambut begitu aku masuk. Sebenarnya dua orang ini memang bertugas menjaga pintu. Sayangnya sih bukan pintu surga, tapi pintu rumah.

“Humn,” anggukku. Melihat dua orang ini malah membuat darahku semakin kesal. “Itu, ada siapa?” tunjukku pada kendaraan yang parkir tak jauh dari rumah.

“Tuan Siwon dan teman-temanya, nona. Mereka ada di halaman belakang sekarang.” Sahut Hwayoung eonni. Aku tersentak. “Benarkah?” Eunjung eonni mengangguk. “Benar, nona.”

Tanpa sadar kuberikan tasku pada Eunjung eonni dan berlari ke halaman belakang. Di sana memang ramai. Dari balik pintu saja suara ributnya sudah terdengar. Dan ini dia. Semua teman Siwon oppa, yang kemaren dengan lancangnya menyebutku pembantu, sedang tertawa bersama di halaman belakang. Jumlahnya berkurang setengah tapi suara ributnya tetap membuatku kesal.

“Eh, ada pembantu. Hai, Sul!” Donghae oppa menyadari kehadiranku dan melambai. Tapi tak kuhiraukan dan malah melirik ke sana kemari mencari Siwon oppa. “Oi, Siwon! Adikmu tuh,” panggil Sungmin oppa.

Siwon oppa sedang duduk di kursi cokelat besar. Meminum sesuatu sambil bicara dengan seseorang ditelpon dan tersenyum. Pemuda ini sedang menelpon! Oh, bagus sekali. Enaknya ia bersantai di rumah dengan teman-temanya dan menelantarkan adik sendiri di sekolah sendirian. Enak sekali.

“Siwon oppa,” bisikku. Pemuda ini menoleh ke arah Sungmin, sebelum berpaling padaku dan menjauhkan telpon dari mulutnya. “Ya, Sul?”

Bahkan ekspresinya tidak menyiratkan rasa bersalah sama sekali. Tampang polosnya justru tambah membuatku jijik. Oh, Ya Tuhan.

“Silahkan menelpon lagi” kuayun tanganku mempersilahkanya bicara. Siwon oppa mengangguk. “Si Minho nggak jemput kamu lagi, ya? Nanti kalau anak itu pulang bilang, biar oppa kasih pelajaran.” Dan pemuda itu kembali sibuk dengan ponsel pintarnya.

Aku mendengus, membiarkan bibirku kembali turun satu centi. Pemuda ini sadar Minho oppa nggak menjemputku! Harusnya Siwon oppa bergerak dan ganti datang ke sekolahku. Ughh, sial. Pertama kalinya aku benci melihat wajah Siwon dan Minho oppa sekaligus.

“Hat-hati, Sul” seru Ryeowook oppa ketika aku berjalan dan hampir menjatuhkan vas bunga di meja teras. Tanpa sadar mataku menatap siluet seseorang di depan gerbang. Siapa lagi ini yang pulang.

Yoseob ahjusshi dan eonnideul pelayan menatapku heran begitu aku berjalan dengan geramnya ke depan rumah. Menyongsong siapa pun itu yang datang. Sebuah lamborgini berputar di depan dan berbelok di rumah sebelah. Sooyoung eonni.

“Sooyoung eonni!” seruku, berlari kepayahan karena terhambat rok SMP ku. Akhirnya pulang juga gadis ini. Mobil hitam itu berputar sekali sebelum berhenti tepat di depan kediamanya. Dua pelayan rumah Sooyoung eonni membukakan pintu untuknya sebelum orang yang kupanggil keluar.

Mungkin nada panggilku terdengar senang, karena begitu keluar Sooyoung eonni tersenyum ke arahku dan malah melambai. Dengan celana jeans, kemeja cokelat muda ketat, syal kepanjangan dan kacamata hitam yang dipakainya, Sooyoung eonni seperti melambai pada fans. Di sini, aku fansnya.

Eh, kayak dia punya fans aja. “Hei, Sul!” serunya senang. Aku membungkuk, ngos-ngosan berusaha mengatur napas. “Selamat datang nona Sooyoung,” sapa dua pelayan tadi. Nah, ini juga dua gadis penjaga pintu rumah (neraka).

“Nona Jinri, anda tidak apa-apa?” keduanya bahkan bicara bersamaan. Aku mengangkat wajah dan meringis, sebelum menggeleng. “Eonni.. Sooyoung eonni dari.. hah… dari mana?”

Mobil hitam tadi sudah pergi di bawa pelayan dan diparkir di dalam. Sooyoung eonni berjalan menghampiriku seraya membuka kaca mata hitamnya. Diangkatnya kedua tanganya yang penuh dengan tas. Oh, habis belanja rupanya.

“Jessica dan Tiffany mengajakku pergi. Aku tidak bisa menolak,” seolah itu merupakan hal wajar. “Kau tahu, kan. Jessica dan Tiffany, temanku.”

Teman. Pergi belanja.

“Tadi aku menelponmu,” kataku. Biasanya jam jemputku di sekolah merupakan pengetahuan wajib seluruh penghuni rumah. Karena aku nggak kayak Minho oppa yang bawa motor, seperti Siwon oppa yang mengendarai mobil sendiri. Dan Sooyoung eonni yang biasanya nebeng temen.

Aku. Harus. Dijemput.

“Oh, ya. Tadi tempatnya ramai banget. Jadi aku tuli sesaat selain suaraku dan suara baju-baju ini yang minta dibeli,” Sooyoung eonni mengaet lenganku. “Jadi maaf ya, Sul. Bukanya hari ini Minho menawari untuk menjemputmu?”

Eh, anjrit. Sooyoung eonni sadar, tahu betul aku nggak ada angkutan pulang dan dia malah asyik-asyik ngobrol sama baju. Okesip. Ini namanya penghinaan lahir batin.

“—Eeh, mau lihat yang tadi kubeli, nggak? Parfum kesukaanmu, Joy itu, ada produk baru, lho. Namanya—”

“—Nggak, eonni. Makasih.” Dan aku segera pergi meninggalkan Sooyoung eonni yang mengangkat alisnya heran.

Semuanya menyebalkan. Benar-benar sial. Aku juga mau pergi jalan ke sana-ke mari seenaknya sendiri seperti Minho oppa. Main dengan teman-teman seperti Siwon oppa dan Sooyoung eonni. Dan semua itu akan terjadi kalau saja aku tidak nyangkut di sekolah selama dua jam menunggu jemputan. Argghh.

Aku pingin cepet-cepen SMA. Menyelesaikan ujian kelulusanku. Pergi menghadiri acara perpisahan SMP. Dan memakai seragam mewah SMA secepatnya. Tapi kalau itu terjadi aku akan kehilangan Jiyoung…

Ah, tidak. Jiyoung dan aku harus satu sekolah nantinya.

Pokoknya ini semua harus selesai cepat. Jadi bisa kulihat apa yang dilakukan ketiga saudara menyebalkanku itu di sekolah. Apa yang mereka lakukan, teman seperti apa yang mereka punya. Aku harus cepet-cepet SMA!

“Nona Jinri, mau kemana, Non?”

“Mau cepet-cepet SMA!!” pekikku keras-keras. Eh, tunggu. Aku bicara dengan siapa?!

“Hah? Nona Jinri mau ngapain, Non?” tanya suara itu lagi. Aku menoleh dan nyengir panik. Gikwang ahjusshi. Satpam ini kepo banget, sih. Dari tadi nanya-nanya terus.

Aku langsung merengut. Ternyata tanpa sadar kakiku sudah melangkah sampai ke depan gerbang lagi. Sebenarnya ada tiga satpam yang berjaga di gerbang utama ini. Yang lainya ada yang bertugas di depan rumahku dan Sooyoung eonni, atau di tempat lain. Tapi diantara semuanya si Gikwang ahjushhi ini yang paling bawel.

“Aku mau pergi, ada urusan” putusku akhirnya. Dari pada diam di rumah sendirian. Enakan aku pergi saja.

“Mau pergi ke mana, non? Sebaiknya ajak Lee Joon ahjusshi, nanti nona nggak ada yang nganter pulang kayak tadi.” Sial. Kata-katanya kok nyindir banget, ya? “Lagian kok seragamnya nona Jinri belum diganti?”

Nah, kan. Sewot banget si Gikwang ini. Malu, aku mengerucutkan bibir dan mendesah. Merengut dan berbalik berjalan ke dalam rumah.

Akhirnya sepanjang sore kuhabiskan di kamar sambil merenung, dan tanpa sadar tertidur. Aku belum pernah satu sekolah dengan Siwon atau pun Minho oppa. Dan keduanya juga tidak pernah bersekolah di tempat yang sama, kecuali sekarang. Dulu Sooyoung eonni satu SMP denganku. Tapi hanya setahun, karena tahun berikutnya ia sudah masuk SMA.

Aku mendesah. Pokoknya SMA nanti aku akan satu sekolah dengan Siwon oppa, Sooyoung eonni dan Minho oppa. Apa pun yang terjadi.

Sampai jam tujuh malam, barulah ada yang membangunkanku. Seseorang mengetuk pintu dan bilang kalau sekarang waktunya makan malam. Artinya aku harus turun ke bawah.

Setelah berganti pakaian, membersihkan diri dan menyisir rambut, aku pergi ke lantai dasar. Aku pergi ke ruang keluarga dan bertemu dengan Siwon oppa juga Sooyoung eonni. Keduanya duduk berhadapan di sofa merah besar di dekat figura besar foto keluarga.

“Hey, Sulli ah.” sapa Sooyoung eonni begitu aku masuk. Tanpa di suruh, aku duduk di sofa lain di ruang itu.

“Ngambek nih, ye” tegur Siwon oppa. Aku merengut, yang malah membuat pemuda dengan kaos polo hitam itu semakin merasa menang. “Jadi mau cepet-cepet SMA, nih?”

Reaksiku yang berlebihan memberikan jawaban ‘ya’ pada pertanyaan Siwon oppa. Dari mana dia tahu? Ukh, pasti Gikwang ahjusshi yang koar-koar.

Aku diam.

“Ini yang punya masalah kok belum datang-datang. Si Minho ke mana, sih?” Sooyoung eonni meraih remot di tengah meja dan menyalakan tivi di ujung ruangan.

Siwon oppa tersenyum kecil. “Sebenarnya tadi oppa udah mau jemput kamu. Tapi anak-anak itu datang minta minum. Kalau nggak dikasih nanti mereka marah, kan.” jelasnya. Aku mengangkat wajah sedikit.

“Bohong,” protesku. “Kenapa nggak nyuruh Lee Joon ahjusshi jemput aku saja.”

“Masalahnya tadi Lee Joon ahjusshi lagi nganterin aku, Sul. Maaf,” Sooyoung eonni tersenyum padaku dan menyodorkan sesuatu di atas meja. “Sebagai permintaan maaf” ucapnya.

Parfum Joy keluaran terbaru. Jadi ceritanya aku disogok, nih?

Kusambar parfum merek berekelas itu. “Permintaan maaf tidak diterima,” kulihat Sooyoung eonni tersentak. “Soalnya di sini yang salah Minho oppa.”

“Sul—“

“—Kalian itu enak banget. Jalan ke sana-ke sini, pergilah, mainlah. Sementara aku, pulang sekolah aja repot nunggu jemputan. Makanya aku pengen cepet-cepet SMA. Aku nggak mau kalah sama kalian,” jelasku.

“Maaf,” bisik seseorang. Berdiri di pintu ruang keluarga, Minho oppa. Masih dengan seragam SMA. Tuh kan, dia pasti main seharian.

“Maafin aku, Jinri ah.” Minho oppa berjalan ke arahku dan menyodorkan sesuatu, sebuah kotak. Aku mengangkat wajah. “Untukku?” dan pemuda tinggi ini mengangguk.

Sementara Minho oppa duduk di sebelah Siwon oppa, aku membuka kotak ini dan terkesiap. “Kyaa, es krim Sulli ah! ayo kita makan!” semangat Sooyoung eonni yang ikut mengintip. Aku mengangguk, senang tak tahan.

“Permintaan maaf diterima?” ujar Siwon oppa. Aku menatapnya, sebelum berpaling pada Minho oppa yang pura-pura sibuk nonton tivi. “Es krimnya diterima. Tapi lain kali jangan lupa jemput aku, yah! Minho oppa!” serukku.

Pemuda yang bersangkutan tersenyum kecil. Lalu menatapku dan menjulurkan lidah mengejek. “Lain kali kalau butuh tumpangan, telpon Siwon aja. Dasar bisul, kerjanya nebeng terus.”

“Heh! Nggak jadi kumaafkan, lho!”

The Choi’s Little Sister

SAAT ini dihadapanku ada satu mangkuk es krim paling menggoda sekota Seoul. Harganya sukses membuatku berjingit ngeri dan lokasi pembelianya pun bukan di sembarangan tempat. Tapi karena ini es krim, makanan paling enak sedunia, dan gratis, maka aku tak kan segan.

Satu-satunya yang membuat alisku mengkerut heran adalah, yang mentraktir ini eomma ku. Wanita paling sibuk se-Seoul. Yang kalau diperhatikan cantiknya sukses membuatku menahan napas (Untungnya cantik itu mewaris padaku).

Eomma, ige mwoya?” jujurku. Wanita cantik ini berhenti mengigit es krim dan tersenyum. “Es krim, Jinri. Bukanya ini favoritmu?”

Iya, aku suka es krim. Tapi ditraktir tiba-tiba oleh orang yang bahkan pulang ke rumah jam sebelas malam setiap hari itu anehnya luar biasa. Ada apa? Untuk apa? Alasanya apa?

“Ada apa, eomma? Ini buat apa?” tanyaku. Baru tiga sendok kusuap rasa penasaran ini menghentikanku.

“Eomma ingin makan dengamu saja, tidak boleh, ya?”

“Tapi kenapa denganku saja? Kenapa tidak ajak Minho oppa dan Siw—“ tubuhku tegang. “Oh, iya! Tadi Minho oppa dan Siwon oppa sudah siap-siap mau berangkat—“

“Eits, Sul!” eomma menarik tanganku. Aku sudah berdiri dari kursi, bersiap pergi. “Mereka… sudah berangkat, Sul,” ringis eommaku.

Aku terperangah. “Eomma! Aku kan mau ikut juga ke Inggris! Aku mau pulang, aku mau siap-siap. Aku mau berangkat juga! Aku..”

“Jinri ah, Choi Jinri! Hei, dengerin eomma dulu sayang,” aku kembali duduk. Napasku memburu. “Siwon dan Minho kan sudah SMA. Tunggu sampai kamu SMA, ya? Tahun depan, oke?”

Baiklah. Niatku bulat. Pokoknya aku mau cepet-cepet SMA!!!

End.

Haloo, apakah memuaskan? Khehekkehe. Rencananya saya mau buat beberapa oneshoot yang ceritanya saling berkaitan, dengan anggota keluarga choi ini sebagai peranya =3

Di oneshoot yang berikutnya akan muncul couple dari member keluarga ini, jadi kalau ada yang mau request couplenya, sangat dipersilahkan.

Well, thanks for readiiing~

Ninischh

34 thoughts on “The Choi’s Little Sister

  1. “Karna aku baik, jadi aku akan berbagi” *GUBRAK*
    kirain pas minho pulang sambil minta maaf dengan membawa es krim itu karna dia abis kecelakaan kek, ato kerja sambilan gara2 mau beliin sulli es krim ato karna sulli lagi ulang tahun ato karna si minong udah insap sering ngejailin sulli😮
    onnie suka bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet >_____________________________<

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s