Love Confession


Title                       : Love Confession

Author                  : Yellowcandy

Cast                       : Lee kikwang (B2ST), Kang Min Young

Length                  : one shot

Genre                   : Romance, friendship

Rating                   : PG-13

HEYLOWW YEOROBUN~~! Ini adalah ff debut (?) author di blog ini, jadi jangan lupa komentar dan like-nya yaaa! ^^ biar author tambah semangattttt xD

ff ini sebelumnya pernah di publish disini jadi jangan heran kalo ngerasa pernah baca😉

Lee kikwang milik Tuhan dan tidak tahu apa-apa tentang ff ini, dan cast yeoja-nya hanya khayalan author.

HAPPY READING~~! ^^

Min young

“Aku.. aku menyukaimu..”

Itu suaraku, iya.. aku baru saja mengungkapkan perasaanku pada seseorang. seorang namja.

Hening

“young-ah.. kau bercandakan?”

Aku menelan ludah, bagaimana mungkin aku bercanda disaat seperti ini? Aku menunduk makin dalam, antara malu dan kecewa, pertanyaan itu seperti sebuah penolakan halus untukku.

“young-ah” suara itu mengusikku lagi, seperti menginginkan jawaban. mengatakan suka saja sudah membuatku malu setengah mati, apalagi menjawab pertanyaan bodoh semacam itu.

“kikwang-ah.. aku serius” kataku pada akhirnya setelah hening menyelimuti agak lama. aku mendongak tapi kembali menunduk setelahnya saat tahu kikwang sedang memandangku seolah tak percaya.

Lagi-lagi hening.

Aku tak percaya akan mengalami kejadian ini dalam hidupku. Menyatakan perasaanku pada Kikwang? Bukankah itu semua hanya ada dalam khayalanku saja? Kenapa aku melakukannya sekarang?!? Aku tak henti-hentinya merutuki diri. Perasaan malu, menyesal, sedih bercampur menjadi satu.

“ah sudahlah.. lupakan saja” kataku cepat. Aku tak bisa membiarkan keheningan ini membunuhku, juga tak ingin merasakan kecewa yang lebih dalam karena –mungkin saja – kikwang menolakku.

Aku berusaha tersenyum saat melihat matanya yang masih memandangku dengan tatapan heran. Walau dalam hati aku merasakan ngilu yang luar biasa, aku berharap dia tidak menyadari itu, biarlah dia menganggap itu lelucon, aku tak punya cukup nyali untuk menjelaskan lebih jauh, lagipula  aku tak ingin stok malu-ku habis hanya untuk namja ini.

Aku menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya meninggalkan kikwang yang masih mematung ditempatnya.

Sore ini diruangan musik, setengah hatiku tertinggal disana.

++

Kikwang

“Aku.. aku menyukaimu..”

Kaget. Aku baru saja selesai latihan dan hampir beranjak pergi saat seorang dihadapanku mengatakan kalimat itu. Kang Min Young.. apa yang dia maksud?

Aku cukup mengenal min young, dia sangat tidak mungkin mengatakan hal itu kan? Dia temanku. ayolah.. tidak mungkin.

“young-ah.. kau bercandakan?” kataku, meminta penegasan, untuk diriku sendiri sebenarnya. Bagaimanapun dia tidak mungkin……….. tapi hey.. mengapa dia diam? Menundukan kepala seolah segalanya memang nyata?

“young-ah..” bujukku, aku hanya ingin tahu. Itu saja.

Lagi-lagi tidak menjawab dan menunduk makin dalam, haruskah aku berjalan ke arahnya dan menaikan dagunya agar bisa kulihat?

“kikwang-ah.. aku serius” suaranya memecah kesunyian diantara kami

Kaget. Lagi.

Aku menahan napas beberapa detik setelah mendengarnya, padahal ini bukan pertama kalinya ada yeoja yang mengungkapkan perasaannya padaku, masih ada sederetan nama yang menyatakan cinta dan yang kutolak. Tapi.. mengapa sekarang lain? mengapa jantungku berdebar lebih cepat seperti ini?

Aku baru akan membuka mulut dan menjawab ucapannya saat dia memotong, “ah sudahlah.. lupakan saja”

Dia tersenyum, membentuk lengkungan bulan sabit di bibir mungilnya, cantik sekali. Aku yang sedari tadi menampilkan muka penuh Tanya hampir saja tersenyum, ya hampir, karena tanpa kusadari ternyata di sudah pergi..

Benar, dia meninggalkanku.

Sore ini di ruangan musik, seseorang meninggalkanku dan pernyataan yang tak sempat kusampaikan..

Min young

Aku tersengal dan beberapa kali terbatuk, jantungku menderu cepat dan napasku memburu. Harusnya aku tahu kalau aku bukan pelari yang baik.

Bibirku terasa asin, aku tidak ingat kalau aku berlari sambil menangis. Jangan bertanya mengapa aku menangis, karena aku juga tidak tahu pasti alasannya. Apa karena respon kikwang yang tidak terlalu baik atau karena malu dan menyesal telah dengan bodoh mengungkapkan perasaan suka? Entahlah.. tapi rasanya, dadaku sakit sekali. hatiku sakit.

Lee kikwang adalah teman pertama-ku, dia orang pertama yang menyapa di hari pertama kepindahanku ke sekolah ini, dan semakin lama aku berteman, semakin aku jatuh hati padanya. dia spesial, aku yakin semua setuju denganku, bukan hanya karena wajahnya yang tampan dan senyumnya yang sangat menawan, tapi juga karena kebaikan dan ketulusannya pada seseorang. Aku yakin, Tidak perlu waktu yang lama untuk seorang yeoja menyukai namja ini, dan bodohnya akulah salah satu dari yeoja itu.

Kikwang

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku menyadari kalau gadis itu sudah pergi, aku berlari keluar ruangan, mengedarkan pandangan dengan liar ke setiap sisi koridor. tidak ada.

Dengan langkah cepat, aku menilisik setiap sudut disekolah, dia baru pergi beberapa menit yang lalu, tak mungkin pergi jauh kan? Tapi lagi. tidak ada.

Dari lobby aku berbelok menuju gerbang sekolah, dan disanalah dia, gadis dengan rambut sepunggung dan mata coklat itu disana, berlari kencang ke arah timur. Aku berlari, mendadak mendapatkan semangat yang entah kudapat darimana, padahal aku baru saja berlari untuk pelajaran olahraga tadi siang, tapi aku tidak merasa cape sama sekali.

Aku sampai di mulut gerbang, tapi tak kutemukan dia disana. Apa dia sudah naik mobil atau bis?

Aku berhenti di depan gerbang sekolah dengan napas terengah-engah, memikirkan Min Young yang tak bisa ku kejar dan pernyataan yang mungkin menjawab ucapannya tadi. Aku bahkan lupa, apakah tadi dia meminta jawabanku atau tidak.

Min young

“apa yang terjadi?” pertanyaan eomma menyadarkan lamunanku, lihat.. aku bahkan tidak sadar kalau ternyata aku sudah sampai.

“tidak ada apa-apa” balasku. Aku berjalan menuju kamar dan meninggalkan eomma dengan muka bertanya-tanya. Setelah di kamar dan melihat cermin, barulah aku sadar, ternyata aku memang sangat berantakan. Bibir pucat, mata sembab, dan bernapas dengan tidak teratur, pantas saja eomma menanyaiku begitu rupa.

‘Ya cermin, apa aku cantik?’ aku melontarkan pertanyaan itu pada pantulan diriku sendiri.

Detik berikutnya aku menggeleng keras. tentu saja aku tidak cantik, kalau memang cantik mungkin kikwang menyukaiku dari dulu.

Aku membuang napas dengan kasar, untuk kesekian kalinya aku katakan ‘aku benci diriku’

++

Sebuah ketukan keras di pintu membangunkanku, aku membuka mata dengan berat lalu meregangkan otot tangan juga kaki. Hoammm berapa lama aku tertidur tadi?

Ketukan itu kembali terdengar, sekarang ditambah teriakan eomma, “min young, min young” aku mengucek mata dengan sebelah tangan, awalnya aku tidak berpikiran untuk membukakan pintu, terlebih dengan keadaanku yang super berantakan ini, tapi karena aku mendengar nada khawatir eomma, jadilah dengan sedikit malas kubuka pintu.

Kekagetannya melihatku tak bisa ia sembunyikan –lihat saja matanya yang terbelalak, memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dengan gerakan cepat eomma menempelkan kedua tangannya di pipiku dan mengelusnya lembut, “kau sakit?”

Terenyuh dengan perbuatan dan perkataannya, aku hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Lagipula mana mungkin aku bercerita tentang aku-mengungkapkan-cinta-pada-seorang-namja.

“kau habis menangis?” dia memperhatikan mataku yang sembab dengan teliti. kali ini aku tak bisa berbohong, aku mengangguk pelan kemudian melepaskan tangannya di pipiku.

“aku lapar” kataku sambil berlalu ke dapur. perutku menggonggong minta diisi dan saat membuka kulkas, aku menemukan setoples kimchi disana. Oops. Melihatnya saja membuat Perutku bernyanyi riang.

Eomma duduk tepat disampingku, mengambil remote tv dan memindahkan channel yang sedang kutonton. Aku berharap dia tidak berusaha bertanya lebih jauh tentang mengapa aku menangis. Dengan mata terpaku pada layar tv dia bergumam pelan, “tadi temanmu menelpon”

kunyahanku berhenti beberapa saat, “siapa? Jihyun?” tidak akan ada temanku yang lain yang menelpon ke rumah, ya kecuali Jihyun.

“bukan, dia bilang ponselmu tak bisa dihubungi” eomma berhenti sebentar dan mengalihkan tatapannya dengan curiga padaku, membuatku bergeser ke belakang.

“seorang namja. namjachingu-mu?”

Glek. Mungkin aku sudah memuntahkan kimchi-ku kalau saja aku masih mengunyahnya. Kikwang kah?

“eo, jadi benar namjachingu-mu..”

“bukan” sergahku cepat, terlalu cepat malah. Sadar dengan reaksiku yang berlebihan aku menambahkan, “pasti temanku”.

Karena tak ingin ditanya lebih jauh, aku memutuskan untuk kembali ke kamar –dengan alasan ada tugas yang harus kukerjakan – dan mengunci pintu, pertanyaan tadi kembali terulang, ‘siapa namja yang berani menelpon ke rumahku?’

Demi mendapat jawabannya, aku merogoh saku kemeja sekolahku, mengacak isi tas, mencari-cari ponsel yang sejak tadi tak kubuka sama sekali. Ah ketemu!

15 missed calls

From  : kikwanyooong

++

Kikwang

Bukankah aku sudah bilang kalau ini bukan pertama kalinya ada yang mengatakan suka padaku? Lalu mengapa…… erghh.. Kau membuatku gila Kang Min Young..

Kang Min Young. dia gadis yang sangat pendiam di hari pertama aku bertemu dengannya, dia anak baru  dan kebetulan sekelas denganku waktu itu. awalnya aku tak ada niatan untuk berteman dengan gadis itu, pertama karena aku tak bisa berteman dengan orang sembarangan –maksudku, aku tak berteman dengan orang baru, dan kedua karena aku tak begitu suka penampilannya yang agak sedikit berbeda. tapi ternyata penilaianku salah, dia menyenangkan, sangat menyenangkan sampai aku berani mengubah pandanganku tentangnya, dan segala hal buruk yang sempat kupikirkan dihari pertamanya itu. kami berteman dengan baik, mengikuti club yang sama dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan semua orang yang berteman, jadi siapa yang sangka dia akan menyatakan perasaan suka padaku?

Baiklah, sejujurnya perasaanku pun mulai berubah. aku tak tahu kapan tepatnya perasaan “hanya teman” ini berubah, juga tak tahu apa sebenarnya yang kurasakan padanya. tapi itu dulu, sekarang aku yakin, aku sadar kalau selama ini aku juga memang menyukainya, aku selalu menghalau perasaan itu dan menganggapnya angin lalu karena merasa tidak mungin seorang teman menyukai temannya sendiri, tapi ternyata aku salah, dan Min Young-lah yang menyadarkanku. Ya, kejadian tadi sore membuatku yakin –bahkan lebih yakin – kalau aku juga punya perasaan yang sama terhadapnya.

Sejak tadi sore aku tak bisa sejenak saja memikirkan hal lain, Min Young dan perkataannya terus menerus berputar-putar di kepalaku. dan parahnya, ketika aku mencoba menghubungi ponselnya dia tak menjawab semua panggilan itu, jadilah dengan terpaksa aku menelpon ke telepon rumahnya.

Ibunya bilang kalau Min Young mungkin tidur dan ini sudah hampir 3 jam… apa dia masih tidur? Aku menimang-nimang ponselku, telepon sekarang atau tidak ya, telepon.. jangan..telepon.. jangan..

Akhirnya aku menekan tombol hijau di benda pipih itu, mendekatkannya kekuping dan dalam hati berdoa agar gadis itu menjawab teleponku kali ini.

*tut*

*tut*

*tut*

Entah berapa kali aku mendengar bunyi tut pendek itu sampai akhirnya kudengar tut yang panjang, dia masih tidak menjawab. Baiklah.. aku akan menunggu sampai besok saja.

++

“mau berangkat bersama?” tanyaku sambil menyunggingkan senyuman, aku harap senyumanku ini bisa membuat Min Young  tak bisa menolak ajakanku hehehehe.

Hari ini aku sengaja berangkat sangat pagi.  iya benar, aku datang kerumahnya dan menawarkan tumpangan untuknya, bukan karena alasan asal-asalan, aku datang agar bisa menyelesaikan hal kemarin, tidurku tak tenang karena terus memikirkannya.

Dia tampak ragu, memandangku, motorku dan tanah secara bergantian.

“ayolah..” ajakku lagi dengan ekspresi muka memelas. berhasil! Dia menganggukan kepala dan mengambil helm yang sedari tadi kusodorkan padanya.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya menggas motorku. rencana yang sudah kupikirkan semalaman tampak nyata saat ini, akan kubuat ini berjalan lebih cepat.

Min Young

Jangan Tanya seberapa kagetnya aku saat melihat Kikwang dan motornya terparkir manis di depan rumahku. Napasku tiba-tiba saja menjadi berat dan aku sampai lupa bagaimana cara bernapas dengan baik. Melihatnya dengan senyumannya yang seperti ini membuatku seperti… melayang (tidakkah aku terlalu berebihan?), tapi kejadian kemarin……. Aish urat Maluku kembali tersambung.

Aku tak mungkin menolak ajakannya, jarak rumahnya ke rumahku tidaklah dekat, bagaimana mungkin aku setega itu dengan menolak permintaan “bersama”nya? Yaa.. walau itu artinya aku harus menelan harga diri dan rasa maluku bulat-bulat.

Kikwang membawa motornya dengan santai, harusnya –dan biasanya – aku menikmati perjalanan pagi kami, tapi tidak kali ini. Aku sadar ada yang berubah diantara kami, dan aku tak menyukai perubahan itu. tiba-tiba saja perasaan sesal merayapi hatiku. Kenapa harus aku yang merusak pertemanan ini?

Saat motor berbelok tajam, aku kaget dan mengeratkan peganganku di ujung jaketnya. Dan barulah aku sadar, ini bukan jalan menuju sekolah. Aku terlalu larut dengan lamunanku hingga tak menyadari kikwang membawaku ke jalan yang bukan menuju sekolah.

“kikwang-ah.. bukankah ini jalan yang salah?” tanyaku dengan hati-hati.

Aku mendengar dia mengatakan sesuatu, tapi karena suara bising di sekitarku aku tak bisa mengerti ucapannya. Apa dia lupa jalan yang benar?

“HAH?” kataku dengan sedikit berteriak

“TAK APA-APA KAN KALAU KAU MEMBOLOS SEHARI?”

Untuk apa???! Aku hanya bisa mempertanyakan hal ini dalam hati karena mulutku tak berjalan dengan baik untuk menanyakannya langsung, seakan mulutku ini terkunci dan yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk seperti orang bodoh.  Aku tak peduli dia akan membawaku kemana, karena yang penting saat ini adalah aku bersamanya dan aku punya kesempatan untuk menjelaskan kejadian kemarin. aku akan memintanya melupakan kata-kata bodohku kemarin, akan memintanya tidak berubah dan pertemanan kami tidak berubah. Aku tidak ingin merasakan perasaan malu dan ingin menghindar hanya karena dia tahu perasaanku.. walau aku tahu itu akan sangat menyakitiku, aku yakin aku bisa menahannya. Asal bersamanya, walau selamanya hanya sebagai teman, aku tahu aku akan baik-baik saja..

Aku mengikuti jalanan yang kami lewati, tak mau lagi melamun dan melupakan kenyataan aku sedang berada di atas motor dan dibawa ke tempat yang-entah-dimana.

Semakin lama, semakin aku bisa menebak akan dibawa kemana perjalanan ini. Benar, tak salah lagi, dia membawaku ke Yongsan-gu. Tapi untuk apa?

Saat motor terparkir, aku melihat bangunan museum nasional seoul berdiri kokoh di hadapanku, tanpa mengalihkan pandangan aku bertanya pelan, “untuk apa membawaku kemari?”

Kikwang mengeluarkan senyumnya yang khas, mata sipitnya tenggelam dan meninggalkan segaris lengkungan disana, senyum kesukaanku.

“ya, kau lupa?”

“eh?”

Lupa apa? Aku berusaha mengingat, museum…museum… museum.. semakin aku berusaha mengingat semakin otakku kosong.

Tepat saat aku melihat kikwang mengedipkan sebelah matanya, aku menangkap sekelabat bayangan..percakapan.. ah aku ingat!! Tapi…

“tidak mungkin kau– “

“kkajja, setelah ini kita masih punya perjalanan yang lebih melelahkan” potongnya sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dengan gerakan cepat dia menarik tanganku dan memaksaku masuk, padahal hari masih sangat pagi.

“ya, tunggu” aku berhenti dan menghempaskan cengkramannya di tanganku. Dia menoleh dan kembali mencengkram pergelanganku. Aish

“maksudmu kau–“

“eo, kau-lah orangnya” potongnya cepat, dia tersenyum lembut padaku lalu melanjutkan. “orang pertama”

Aku tak bisa menyembunyikan senyum. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perutku, kalau saja aku lupa bumi punya gravitasi, mungkin aku akan meyakini kalau saat ini aku sedang melayang.

Tarikan halus di tanganku menyadarkanku, “ppali, kita tak punya banyak waktu, N seoul tower tak terlalu dekat dari sini”

“ah~ ne” aku menggamit lengannya, dan tersenyum di tiap langkahku..

Ah. Cinta

++

Kalau tidak salah saat itu musim semi, aku sedang bercengkrama dengan teman se-club ku yang juga sahabatku – kikwang, jihyun, dongwoo.

Entah datang darimana tiba-tiba saja jihyun mengajukan pertanyaan aneh pada kami, “kalian ingin membawa pacar kalian kemana saat kencan pertama?”

Aku terdiam ikut memikirkan jawaban, kemana ya??

“tapi aku tak punya pacar” tukas dongwoo yang mengangetkanku tapi kemudian diikuti anggukan kompak dariku dan kikwang.

“aish! Kalau begitu orang yang ingin kau jadikan pacar” jihyun mendecakkan lidah, dan tampak menunggu jawaban kami bertiga.

“maksudmu… orang yang kau sukai?” tanyaku, diam-diam aku melirik kikwang yang berada tepat disampingku. Tidak! aku tidak boleh menyukainya.. kami teman..

 “sama saja” tukas jihyun

“aku..” kikwang mengangkat suara, membuatku menoleh dan terfokus padanya, “aku akan membawa gadis yang kusukai ke museum nasional seoul”

“HAH?” kami memberi respon yang sama dengan serempak

“kau aneh” kataku.

“tapi itu keren… dan langka” dia menyunggingkan senyumannya dengan bangga. Keren?

Aku mendehem pelan kemudian ikut berbicara, “aku ingin ke N seoul tower dan membuat gembok cinta  seperti yang dilakukan banyak pasangan lain”

“huu kau terlalu banyak menonton drama” cibir kikwang

“tapi itu romantis” kataku sambil memeletkan lidah, “daripada kau ke museum” cibirku

“tapi itu –“

“aneh”

“..langka”

“aneh”

“YA! KALIAN BERHENTILAH!!”

~~END~~

I really do appreciate your comment.. ^^

7 thoughts on “Love Confession

  1. ohh.. iyaa pantesan rasa2nya kaya pernah baca🙂 ternyata pernah di posting di soff toh🙂
    aku udah komen lo disana🙂 haha.. #ehBenerGaYa?
    tp, ini FF seru loh😀 aku suka😀 romancenya bener2 kerasa😀

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s