Heart Attack part 2


baca part sebelumnya di http://cinderella3993.wordpress.com/2012/08/23/heart-attack-part-1/#more-113

“jadi kau benar Kim Jonghyun?? waah, ternyata wajah aslimu tidak berbeda dengan fotomu. sama-sama tampan. kenalkan, naneun Yujin, Park Yujin imnida..”, wanita itu menyodorkan tangannya sambil tersenyum padaku yg tak langsung ku sambut. Jujur aku cukup terpana, entah kenapa senyumnyamampu membuatku salah tingkah. Jjong-ah, ada apa denganmu?? segera aku sadarkan diriku dan menyambut tangannya.

“aku tidak perlu menyebutkan nama kan? karna kau sudah tau. tapi,apa aku mengenalmu??”, tanyaku.

ani-ya.. ini pertama kalinya kita bertemu. Aku anak dari Dr. Hyun jae, kau pasti mengenalnya kan?,”

“tentu, bagaimana aku bisa lupa nama dokter pribadiku. tapi beliau tidak pernah bilang padaku kalau punya anak perempuan padahal kami cukup dekat. dan bukankah Dr. Hyun jae terlalu tua untuk menjadi ayahmu??,” aku mencoba untuk membuat joke tapi setelah mendengar kata-kata ku sekilas terlihat raut gelisah diwajahnya.

(Yujin POV)

Sebagai pengidap penyakit parah, sepertinya dia terlalu cerewet.

“ermm, aku memang bukan anak kandungnya jadi wajar kalau dia tidak cerita tentangku. dan tentang kalimat terakhirmu, nanti aku minta beliau yg memberikan jawaban padamu”, kataku dengan percaya diri yg dibuat-buat.

aigoo, aku hanya bercanda dengan kalimat itu, jadi jangan beritahukan ayahmu tentang ini.please..”, rengeknya seperti anak kecil yg sedang minta dibelikan balon. tenang saja kid, aku bahkan tidak mengenal doktermu, hanya mengetahui namanya dari print-an data diri milikmu.

“aku tidak menyangka kau orang yg punya selera humor juga. yaa, bukankah kau mau pulang. kajja, kita mengobrol sambil jalan,” aku berjalan terlebih dahulu, yang langsung disusul dengan langkah besarnya.

“sebenarnya kenapa kau mencariku? apa ayahmu yg menyuruhmu?”

ani-ya. aku mencarimu atas kemauanku sendiri. ayahku sering menceritakan tentang pasiennya yg mengalami masa sulit padahal dia masih sangat muda. lalu dia memberitaukanku data diri tentang dirimu. Jadi aku ingin bertemu langsung dengan orang yg bernama Kim Jonghyun itu.”

“lalu setelah kau bertemu dengan orang yg bernama Kim Jonghyun itu, apa yg akan kau lakukan selanjutnya?”

“aku akan mengajaknya berkenalan dan bertanya ‘apakah kau mau menjadi temanku’?” aku menatapnya dalam-dalam dan menyunggingkan senyum termanis yg ku miliki.

(Jonghyun POV)

“aku akan mengajaknya berkenalan dan bertanya ‘apakah kau mau menjadi temanku’?”

tanyanya sambil menatap lurus kepadaku dan.. kau tau senyumnya mampu mengalihkan dunia, dan angin yg tiba-tiba berhembus lembut dan membuat rambutnya tersibak, membuatnya tampak benar-benar cantik. apakah dia seorang bidadari.

“kau yakin hanya mau menjadi temanku?? ku harap kau tidak akan menyesalinya suatu hari nanti”, kataku sambil tersenyum jahil padanya. tapi sepertinya dia tidak mengerti maksud dari perkataanku, dan hanya mengangguk dengan semangat.

“dimana rumahmu? aku akan mengantarmu pulang”

“kau tau penderita jantung tidak boleh terlalu lelah, jadi kau tidak perlu repot-repot mengantarku segala. mulai sekarang akulah yg akan mengantarmu pulang.”

“bukankah itu terbalik, seharusnya namja yg mengantar yeoja. tapi terserahlah kalau itu maumu”, dan aku baru sadar kalau nyeri di dadaku tadi sudah hilang.

“wah, rumahmu dekat sekali. tidak terasa kita sudah sampai. sana masuk, istirahat yg cukup. sampai ketemu besok chingu

“ya.. hati-hati di jalan noona

“hyaa, kenapa kau bisa tau kalau aku lebih tua darimu? apakah keriput-keriputku sudah mulai terlihat?”, ekspresi wajahnya lucu sekali saat itu, sepertinya semua wanita selalu takut menjadi tua.

“aku tidak melihatnya dari wajahmu tapi dari caramu berbicara, kau tidak terlihat seperti anak-anak SMA labil yg sering kutemui di sekolah. baiklah, sampai bertemu besok noona. aku masuk dulu”

(Jonghyun eomma POV)

hari sudah gelap tapi kenapa anak itu belum pulang juga. apa terjadi sesuatu padanya. Ponselnya pun tertinggal di meja makan tadi pagi.

“aku pulang”, itu dia, aku segara menghampirinya dan ingin mengintrogasinya. tapi aku batalkan saat melihat bibirnya yang pucat. dia pasti kedinginan.

“kemana saja kau ini? cepat bersihkan dirimu, makan, minum obat dan lalu istrahat.

kkerre.. arasseo..” tapi ada yg  lain dari jonghyun, ada senyuman tersungging di bibirnya. dia mencium pipiku dan segera berjalan ke kamarnya sambil bersiul-siul. sepertinya dia juga lebih bersemangat daripada biasanya.

ya eommoni,anak dokter hyunjae tadi siang menemuiku di sekolah. kau tau, dia sangat-sangat cantik,” kami sudah berkumpul di meja makan saat ini.

“hei, Jjong jelek.kukira kau sudah tidak tertarik pada wanita”,anak perempuanku memang dekat dengan jonghyun,tidak seperti aboeji dan hyung-nya. tapi kulihat suamiku sedikit tertarik pada pembicaraan ini karna kuliat dia mengalihkan pandangannya dari makanannya ke arah jonghyun. hmm sebentar, tadi dia bilang apa?

eomma tidak tau kalau Dr. hyunjae punya anak perempuan nak”

“memang dia bukan anak kandung, eommoni. jadi wajar saja Dr. hyunjae tidak pernah cerita pada orang lain. hya noona, kau kira aku gay sehinga tidak tertarik pada wanita. aku normal noona.tenang saja, aku akan memperkenalkannya pada kalian”, senyum terus mengembang di wajah anakku. Hal yang ku syukuri tapi entah kenapa perasaanku malah menjadi gelisah.

(Yujin POV)

Aku berjalan melewati lorong yang hening ini, dan melihat sesosok namja yang sangat kukenal. Dialah senior yang mengajakku untuk menjadi dokter disini. Orang yang sangat perhatian, dan menjadi semangatku saat aku terpuruk. Tapi kini dia duduk termenung, membuatku ingin melakukan apapun yang bisa membuatnya bersemangat kembali. Dialah alasanku menemui anak yang bernama Jonghyun itu. Aku dekati dia dan duduk disampingnya.

“ jangan terlalu lama melamun. karna saat melamun, jiwamu keluar dari ragamu dan jika terlalu lama, bisa-bisa dia lupa untuk kembali ke tempatnya”, aku mencoba mencairkan suasana. Dia menoleh padaku dan memberiku senyuman yang hanya sekilas. Matanya sayu, ingin aku memeluknya.

“rasanya lebih baik kalau jiwaku terperangkap di dunia khayalku. Semua akan menjadi sesuai apa yang kita mau. Benarkan?” katanya sambil memandang kosong ke depan.

“tapi pasti ada yang sedih jika kau menghilang dari dunia ini”, kataku sembari tersenyum kecut.

“siapa? Kau?”

‘ya.. aku’ sayangnya jawaban itu tidak untuk disuarakan. Aku hanya menyunggingkan senyumku padanya. Oiya, aku baru teringat akan rencanaku.

“jun sunbae, seandainya ada pasien penyakit jantung yang datang kemari dan membutuhkan donor jantung, apa yang akan kita lakukan? Tidak ada yang menyuplai kita”

“kita masih punya kakek tua yang sedang kita rawat di IGD kan?”

“maksudmu, kita akan memakai jantungnya?”

“bukan hanya jantungnya tapi juga seluruh organ yang dapat dimanfaatkan. Memang itu kan alas an kita tetap merawatnya. Lagipula dia sudah tidak mungkin untuk hidup lebih lama lagi dan tidak ada keluarga yang menanggung pembiayaannya. Sebenarnya aku merasa menjadi orang yang jahat”, dia semakin menundukkan kepalanya.

“bukan kita yang jahat sunbae tapi dunia inilah yang terlalu kejam. Memaksa kita melakukannya”, aku berusaha meyakinkannya sekaligus diriku sendiri.

“tapi kenapa tiba-tiba kau membicarakan ini? Cuma pasien-pasien penyakit ringan saja yang mau datang kesini”

“tenang saja, aku yang akan membawanya. Aku pergi dulu sunbae

(Jonghyun POV)

Sudah beberapa hari ini, aku sangat menantikan bel pulang. Dan seperti hari-hari sebelumnya, yujin noona selalu menungguku di depan gerbang. Aku menghampirinya yang melambaikan tangan sembari tersenyum manis padaku.

“lama menungguku noona?”, dia menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum.

yah, Jonghyun-ah. Apa kau tidak bosan setiap hari hanya ke sekolah dan kembali ke rumah? Hari ini kebetulan aku membawa mobil, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?”, tawaran yang menyenangkan tapi eomma belum tentu mengijinkan. Kalau aku tidak izin nanti ia khawatir karna aku belum pulang.

“jangan lama-lama berfikirnya. Kajja..”, ia menarik tanganku dan mendorongku masuk ke mobilnya. She’s like a kidnapper but I don’t mind. Sebenarnya aku memang bosan untuk berdiam diri di rumah.

Kita sudah mengunjungi berbagai tempat, dari tempat main game, ke pasar tradisional, ke toko pernak-pernik, juga jajan di pinggiran jalan (pasti eomma akan marah besar jika mengetahuinya). Tapi yang pasti hari ini aku benar-benar senang. Sekarang kita sedang duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati udara segar.

gomawo noona. Ini adalah hari dimana untuk pertama kalinya aku merasa sangat senang setelah hidupku  divonis tidak akan lama lagi”

ne cheonma.. lagipula tidak ada yang benar-benar tau akan seberapa lama kita hidup di dunia ini. Yang aku tau, kita harus memanfaatkan dengan baik waktu yang ada”, dia mengacak rambutku.

“makanya kau harus bertahan hidup supaya kita bisa mengisi hari bersama-sama terus. Sugestikan bahwa kau akan terus hidup dan ikuti prosedur pengobatan yang harus dijalani”, tambahnya. Yang membuatku jadi berfikir.

 

(Jonghyun eomma POV)

Kemana anak itu,belum pulang juga padahal sudah selarut ini.  bahkan ponselnya pun tidak aktif. Kudengar suara mesin mobil diluar, dan segera aku berlari keluar rumah.

hyaa, Jonghyun-ah.. darimana saja kau ini?”, kulihat seorang gadis keluar dari tempat pengemudi.

jeosonghamnida ahjumma. Ini salah saya karna mengajak jonghyun pergi tanpa izin terlebih dulu”, kata gadis itu sembari menunduk berulang kali.

“aishh, kau tidak perlu melakukan itu noona. Mianae eommoni, aku tidak menghubungimu dulu dan membuatmu khawatir. Tapi tenang saja, lihatlah aku baik-baik saja kan. Malahan aku lupa kalau aku adalah pasien yang hampir mati”, jonghyun memelukku manja, dan inilah yang membuatku tidak tega marah padanya.

eommoni,kenalkan ini anak Dr. Hyunjae yang waktu itu Jjong ceritakan. Yujin namanya. Dia cantik kan?”, gadis itu mengulurkan tangannya.

“senang bertemu denganmu nak. Tapi aku tidak suka jika kau ‘menculik’ jonghyun seperti ini lagi”

eommoni… sudahlah,bukan dia yang salah”, ya terus saja membelanya Jjong.

“sekali lagi saya minta maaf. Dan saya pamit dulu ahjumma”,gadis itu terlihat sangat sopan, tapi aku merasa ada yang tidak benar padanya. Aku pandangi sampai dia masuk mobil dan tak terlihat lagi.

eommoni.. aku berubah fikiran”, aku menghentikan langkahku, menunggunya melanjutkan kalimatnya.

“aku.. memutuskan untuk operasi”

To be continued..

9 thoughts on “Heart Attack part 2

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s