Never Late [Oneshoot]


Tittle : Never Late

Main Cast : Krystal F(x)  a.k.a Jung Soo Jung, Kai EXO-K

Supporting Cast : Amber F(x) , Sulli F(x), Sehun EXO, Suho EXO

Length : Oneshoot

Genre : Romance , Supranatural, Fantasy

Rating : PG-13

Author dan Artwork : Mizuky^_^

A/N : aku mendapatkan ide cerita ini pas tengah malem-__-zz aku lg ga bisa tidur soale.. trs dipikiranku kebayang setan2 gitu gegara nonton Incidious-___-zz , yaudah aku buat FF ini.__.

Warning : hampir memiliki kemiripan dengan 49 days!

 

*** Never Late ***

Author POV

“Tampan..” gumam seorang gadis.

Dia tengah memperhatikan seorang namja yang sedang bercengkrama dengan temannya. Ya , dia selalu rutin melakukan ‘hobi’nya tersebut. Apalagi kalau bukan memperhatikan pujaan hatinya? Dia hanya bisa mengamati saja. Tidak ada secuil keberanian dalam dirinya untuk menyapa orang itu.

Dia..

Dia merasa malu. Merasa tidak pantas. Merasa rendah diri.

PLUK..

Dia merasakan ada orang yang menepuk pundaknya. Dia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya.

“Krystal-ah , mianhae. Aku sudah dijemput oleh Oppaku. Maaf aku tidak bisa pulang bersamamu.” Ujar seorang yeoja yang kira-kira seumuran dengan gadis itu. Dia memakai seragam yang sama dengan gadis tersebut. Dapat disimpulkan bahwa mereka berasal dari 1 sekolah yang sama.

“Gwaenchana , Amber-ah. Aku bisa pulang jalan kaki kok.” Ujar Krystal.

“Ah. Maaf aku tidak bisa menemanimu lagi.” Ujar Amber yang masih merasa bersalah.

“Sudah tidak apa-apa.” Ujar Krystal.

TIN..TIN..

“Amber cepatlah! Oppa masih banyak urusan!” ujar seorang namja yang terlihat tidak sabaran.

Amber mendengus kesal. Dia menyumpahi Oppanya itu. “Yasudah ya , Krys. Aku kesana dulu sebelum diceramahi olehnya. Bye..” ujar Amber.

Krystal tersenyum. Dia memandangi mobil yang ditumpangi oleh Amber dan Oppanya itu hingga mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan.

Gadis itu bangkit berdiri dan menggendong tasnya. Dia berjalan menuju pintu gerbang bermaksud untuk pulang. Kebetulan , sekolahnya dengan sekolah pujaan hatinya berhadapan. Jadi , setiap hari dia bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut.

Dia menghentikkan langkahnya ketika dia melihat ‘pujaan hatinya’ tengah berbicara dengan seorang yeoja dan terlihat sangat akrab.

Bukankah yeoja itu …. Choi  Sulli.. yeoja tercantik di sekolah itu.. batin Krystal.

Krystal menamjamkan indera pendengarannya untuk mendengarkan apa yang tengah mereka bicarakan.

“Kai-ah , ayo dong kau mau kan menemaniku untuk pergi ke Seoul Tower? Mau ya? Ayo dong.” bujuk Sulli.

Namja itu tersenyum tipis. “Kita lihat saja nanti , Sulli-ah.”

“Ya! Tidak bisa! Aku hanya ingin kau menemaniku.” Ujar Sulli. Dia lalu mengerucutkan bibirnya.

Krystal menggeram kecil mendengar percakapan mereka.

“Baiklah. Besok pukul 8 aku akan menjemputmu di rumahmu. Kau tunggu ya?” ujar Kai.

Sulli tersenyum cerah sehingga membentuk sebuah eye smile cantik di matanya.

Krystal mendesah sedih. Dia kemudian melanjutkan langkahnya.

Selama perjalanan , dia terus membayangi wajah Kai.

Apa aku bisa seperti yeoja tadi? Pergi berdua dengan Kai. aahh.. ingin rasanya aku bertukar tempat dengan yeoja tersebut. Krystal pabo.. Krystal pabo.. rutuk Krystal pada dirinya sendiri.

Kau bisa mengajaknya jalan berdua kalau kau memiliki keberanian. Selama ini kau selalu memandanginya saja tanpa ada minat untuk menyapanya. Kau pengecut Krystal. Bagaimana bisa dia melihatmu kalau kau bersembunyi seperti itu? Batin Krystal.

Ya , saat ini Krystal tengah merutuki akan sikapnya sendiri. Dia merasa kesal terhadap sikap pengecutnya.

Dia terlalu sibuk merutuki dirinya sendiri tanpa dia sadari dari arah belakang truk dengan dikemudikan supir mabuk tengah mendekat ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

“Awas nona!!!” teriak salah seorang pejalan kaki untuk memperingati Krystal akan bahaya yang tengah menantinya.

Krystal tersentak. Dia kemudian melihat ke arah ‘pejalan kaki’ tersebut. Orang itu kemudian menatap truk yang semakin medekat ke arah Krystal.

Krystal mengalihkan pandangannya. Dalam sekejap , truk itu menghantam keras tubuh gadis itu hingga mengeluarkan banyak darah segar di sekujur tubuhnya.

Krystal terbujur kaku dengan bermandikan darah segar. Orang-orang yang saat itu tengah berlalu lalang segera mengerumuni tubuh Krystal. Ada beberapa orang yang menangkap supir truk itu ketika ketahuan berniat kabur. Beberapa orang ada yang menelepon ambulans dan polisi. Ada juga yang berusaha memberikan pertolongan pertama. Tetapi itu semua percuma karena gadis itu sudah tidak bernyawa lagi.

Kai yang melihat kejadian itu hanya bersikap acuh. Walaupun begitu, entah kenapa dia merasakan pilu di hatinya ketika melihat kejadian itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia hanya merasakan suatu perasaan sedih yang teramat sangat di dalam lubuk hatinya. Sejurus kemudian , Kai berniat untuk pulang dan memilih untuk menghiraukan perasaannya.

Author POV end

***Never Late***

Krystal POV

Aku terdiam , mencoba mencerna apa yang tengah terjadi kepadaku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh tubuhku.

Kenapa tidak ada luka? Seingatku , seharusnya aku sudah meninggal karena tertabrak truk itu tadi. Tapi kenapa.. bahkan luka pun tidak ada. Apa yang terjadi? Batinku heran.

Aku tertarik dengan kerumunan orang-orang tersebut. Beberapa aku mendengar seruan shock dari orang-orang yang berkerumun tersebut. Aku kemudian menghampiri mereka.

“Kasihan sekali gadis itu. Padahal dia masih muda sekali. Wajahnya juga cantik , tapi dia harus meninggal dengan cara yang tragis.” Ujar –yang pastinya adalah- seorang namja yang kira-kira sudah berumur.

Meninggal? Siapa? Batinku bertanya-tanya.

Aku melangkah mendekat. Entah kenapa aku merasa aneh tubuhku bisa menembus beberapa orang disini. Aku meneguk ludah. Perasaanku mulai tidak membaik. Aku melihat ada Eomma dan Appa yang tengah menangis. Mereka duduk disamping tubuh seseorang. Aku terheran.

Aku kemudian melangkah mendekat dan betapa terkejutnya aku begitu mengetahui wajah dari sosok yang tengah terbaring kaku tersebut dengan bermandikan banyak darah segar.

“TIDAK.. TIDAK MUNGKIN.. INI.. TIDAK.. TIDAK MUNGGKIINN..” teriakku frustasi. Aku menjambak rambutku  frustasi.

“BUKAN.. ITU PASTI BUKAN AKU!! APPA , EOMMA.. ITU BUKAN AKU.. AKU MASIH HIDUP!! AKU DISINI!! KENAPA KALIAN TIDAK MENGHIRAUKANKU?!!!” seruku. Aku terus mengibas-ngibaskan kedua tanganku di depan wajah Appa dan Eommaku. Berulangkali juga mereka terus mengacuhkanku. Aku berinisiatif untuk memegang tangan Eommaku. Betapa terkejutnya aku ketika tanganku menembus tangan Eommaku. [maksudkan?-__-zz]

“TIDAAAAAKKK…..” teriakku frustasi.

Kemudian aku berlari keluar dari kerumunan orang itu. Aku menatap nanar paramedis yang tengah membawa tubuhku ke dalam ambulans.

“Kalau itu benar-benar aku , lalu aku ini sebenarnya apa? Arwah?” tanyaku bingung. Aku jatuh terduduk. Tubuhku sangat lemas sekarang ini.

“Tidak perlu takut.”

Aku mendengar sebuah seruan. Aku mengedarkan pandanganku untuk mengetahui siapa yang berbicara tadi. Keningku berkerut ketika tidak mendapati ‘orang tersebut’. Semuanya terlihat sibuk dengan kecelakaan yang menimpaku. Sejurus kemudian aku bergidik ngeri.

“Kau tidak perlu takut. Yang perlu kau ketahui sekarang adalah kau sudah meninggal. Terimalah itu. Kau masih memilki urusan di dunia ini , oleh karena itu kau diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusanmu hanya dalam waktu  10 hari. Ingat 10 hari! Tidak lebih. Dan satu lagi yang hanya bisa melihatmu adalah seorang namja yang bernama Kim Jong In.”

Setelah selesai berbicara , suara itu sudah tidak terdengar kembali.

Aku terdiam beberapa saat.

10 hari.. jadi , aku masih memiliki kesempatan? Batinku.

Aku bimbang. Apakah aku harus mengikuti ambulans itu atau berjalan ke arah berlawanan? Tapi aku masih tidak sanggup melihat tubuhku yang sudah terbaring kaku seperti tadi. Aku juga tidak sanggup melihat air mata yang dikeluarkan oleh orang tuaku. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke arah yang berlawanan.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Aku terus berjalan tak tentu arah.

Bukankah aku arwah sekarang? Jadi aku tidak perlu takut untuk tersesat bukan?

Eh.. tunggu sebentar.. itu.. namja itu..

Aku kaget. Entah kenapa ada secuil perasaan gembira di hatiku ketika bertemu dengannya. Langsung saja aku berjalan mendekatinya.

Aku mengekor di belakangnya. Entah kenapa aku merasa sangat senang sekali. Aku bersyukur kalau aku sudah meninggal sekarang. Lagipula dengan meninggalnya aku , beban yang harus aku tanggung selama hidupku menjadi berkurang.

“Tampan..” gumamku. “Kau selalu terlihat tampan Kai-ah. Meskipun aku hanya melihatmu dari samping saja , tetapi di mataku kau selalu terlihat tampan.”

Krystal POV end

*** Never Late ***

Author POV

Kai merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi. Meskipun dia berusaha bersikap cuek dengan mendengarkan lagu-lagu yang keluar dari Ipodnya, tetapi tetap saja dia merasa ‘risih’. Dia berhenti sebentar. Krystal yang mengikutinya pun turut menghentikkan langkahnya. Kening gadis itu berkerut.

“Aneh.. tidak ada siapapun di sekitar sini.” Gumam Kai setelah berulangkali dia mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati seseorang yang tengah memperhatikannya.

Pemuda itu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya kembali. Dia merasakan bulu kuduknya meremang. Terlebih lagi jalan yang tengah dilewatinya sedang lengang.

Apa aku membuat takut Kai? batin Krystal setelah melihat ‘gelagat’ Kai.

Krystal terus mengikuti Kai hingga ke rumahnya. Dan ketika dia sampai di kamar Kai , dia bimbang antara masuk atau tidak. Sebab dia tahu kebiasaan orang yang setelah melakukan suatu aktifitas yang melelahkan dan baru pergi ke kamarnya adalah tak lain dan tak bukan , berganti baju. Oleh karena itu akhirnya Krystal memutuskan untuk menunggu saja di luar.

.

.

Setelah beberapa lama menunggu , akhirnya Krystal memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Kai. Tentu saja dia tidak menyentuh gagang pintu karena dia lemah untuk menyentuh benda-benda yang ada di dunia ini. Dia tidak tahu apa penyebabnya. Oleh karena itu , Krystal masuk dengan menembus pintu kamar pemuda itu.

Gadis itu mendekati Kai yang sedang mengambil ponselnya yang tergeletak di salah satu meja.

Author POV end.

*** Never Late ***

Kai POV

Perasaan itu lagi.. batinku kesal.

Ya , apalagi kalau bukan perasaan yang merasa sedang diintai. Perasaan risih. Entah kenapa aku masih terbayang dengan kejadian itu. Kecelakaan. Aku tidak tahu. Berulang kali aku sudah melihat kecelakaan lalu lintas seperti tadi bahkan lebih tragis , tetapi aku tidak pernah merasakan perasaan ‘hilang dan sedih’. Aneh memang. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Terlebih lagi aku tidak kenal dengan orang yang tertabrak tadi.

Aku memang aneh.

“Kai-ssi..”

Deg..

Jantungku berdebar. Siapa yang memanggilku?

Seperti sebuah suara. Suara perempuan remaja. Siapa? Tapi aku tidak mempunyai saudara perempuan. Aku kemudian menolehkan kepalaku.

Dan betapa kagetnya aku ketika ada seorang perempuan mengenakan baju seragam. Yang membuatku bertambah kaget , dia.. yeoja tersebut mirip dengan yeoja korban kecelakaan tersebut.

“OMONA!!!” pekikku tanpa sadar.

Kai POV end

*** Never Late ***

Author POV

“OMONAA!!!” pekik Kai.

Krystal tersentak.

“Kkkk.. kau.. bukankah kau yang kecelakaan tadi? Ke… kenapa.. kenapa kau ada disini?!” tanya Kai tergagap.

Jari telunjuknya kanannya mengacung ke arah wajah Krystal. Sedang tangan kirinya menumpu badannya supaya tidak jatuh. Kaki pemuda itu gemetar hebat.

Krystal tersenyum. “Kau tidak perlu takut kepadaku seperti itu , Kai-ah. Boleh bukan aku memanggilmu seperti itu?” kemudian gadis itu tersenyum cerah. Dia memandang sekeliling  kamar pemuda itu. Kemudian gadis itu duduk di tepi ranjang milik Kai.

Kai tercenung. Dia sudah tidak kaget lagi. Dia kemudian melangkah mendekati Krystal.

“Kau.. bagaimana bisa? Bukankah kau seharusnya sudah.. tapi kenapa bisa ada disini?” tanya Kai heran.

Krystal menatap Kai sejenak. “Ya , seharusnya memang aku sudah meninggal. Tetapi aku diberi kesempatan untuk menyelesaikan urusan di dunia ini. Ya , meskipun hanya 10 hari saja.” Ujar Krystal. Kakinya digerak-gerakkan ke depan dan ke belakang secara bergantian.

“Urusan? Urusan apa itu?” ujar Kai. Kemudian pemuda itu menarik kursi untuk duduk di samping gadis tersebut.

“Urusan denganmu.” Ujar Krystal singkat.

“Denganku? Apa? Aku saja tidak mengenalmu.” Ujar Kai heran.

“Ehem. Baiklah.” Kemudian Krystal mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kai. Dia sepertinya lupa kalau dirinya sudah meninggal. “Krystal imnida.”

Kai lalu mengulurkan tangannya bermaksud untuk membalas uluran tangan Krystal. Tetapi, tentu saja tangannya hanya menembus tangan Krystal. Ada suatu sensasi yang ia rasakan ketika tangannya dengan tangan gadis itu hampir bersentuhan.

“Ah, maaf. Aku sering lupa kalau aku ini sudah menjadi arwah sekarang.” Ujar Krystal. Dia lalu menarik tangannya kembali.

“Lalu, apa urusanmu denganku?” tanya pemuda tersebut.

Krystal nampak berfikir sejenak. “Urusanku denganmu ialah yaitu untuk memberitahukan perihal perasaanku sesungguhnya. Saranghaeyo , Kim Jong In.” Ujar Krystal. Tidak tersirat keraguan dimatanya. Dia menatap Kai dengan pandangan intens.

Kai tersentak. “Bagaimana bisa?”

“Kau tahu anak remaja SMP yang selalu melihatmu dari kejauhan. Seorang remaja yang hanya bisa menatap pujaan hatinya tanpa ada keberanian untuk menyapanya terlebih dahulu.” Ujar Krystal.

“Ternyata gadis itu kau?!!” seru Kai.

Krystal tersenyum.

Cling..

Tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Kai menganga beberapa saat. Dia masih sulit untuk mencerna itu semua.

“Kemana hilangnya gadis itu?” pemuda itu lalu berdiri. Dia memandang sekelilingnya. “Lama-lama aku bisa gila!!” serunya.

*** Never Late ***

@Kim Family’s Home

20.45

Kai tengah mengambil botol minuman dari dalam kulkasnya. Dia merasa haus sekali setelah mengerjakan beberapa tugas sekolah.

KLAP..

Dia menutup pintu kulkas.

Dia tidak menyadari kalau Krystal tengah berdiri dibelakangnya. Jadi, begitu dia berbalik..

Tadaaaa~

“HYAAAAAA……” jeritnya tanpa sadar. Botol yang dipegangnya jatuh keras membentur lantai.

Kai tersentak. Dia mundur selangkah dan menyenderkan punggungnya di badan kulkas. Jari telunjuknya mengacung ke arah Krystal.

Seluruh keluarga yang merasa terganggu dengan teriakan Kai, langsung datang menghampirinya.

Mereka melihat Kai tengah menunjuk.. angin..

Eh..

Pasalanya mereka tidak melihat siapapun yang tengah berdiri di depan Kai. Tetapi, mereka melihat raut wajah ketakutan dari pemuda itu. Sontak saja mereka merasa heran.

“Hyung, ada apa? Kenapa kau berteriak seperti tadi? Dan.. hyung.. kau menunjuk siapa?” tanya sang adik. Dia memandang heran ke arah Kai.

“Kai, kau sakit? Kenapa tingkahmu aneh sekali?” tanya Sang Ibu.

“Kai.. kau baik-baik saja ‘kan?”

Kini semua keluarga meragukan akan tingkat kesadaran pemuda itu. Kai langsung tersadar.

Kyrstal terkikik geli. Dia menjulurkan lidahnya bermaksud meledek pemuda itu.

“Tap.. bukan. Aku baik-baik saja. Tapi, apa kalian tidak melihat ada Krystal disana?” ujarnya sembari mengacungkan telunjuknya ke arah tempat Krystal tengah berdiri.

Krystal geleng-geleng kepala. “Percuma saja, Kai-ah. Mereka tidak bisa melihatku atau mendengarku.” Ujarnya.

Kai terdiam. Dia masih shock.

“Krystal? Krystal siapa, Kai-ah?” tanya Eomma Kai.

“Itu.. dia.. dia yang bernama Krystal.” Ujarnya. Jarinya masih tetap menunjuk gadis itu.” Kai menatap sebentar ke arah keluarganya lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah gadis itu. Dia bermaksud untuk memberitahukan keberadaan Krystal.

Keluarganya sulit mempercayai perkataan Kai. Mereka saling menatap satu sama lain.

“Tapi, Kai disini tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kita berempat.” Ujar Appa Kai.

“Hyung, kalau kau stress karena pelajaran atau diputus pacarmu tidak usah sampai gila begitu Hyung. Hidup itu harus dibawa santai.” Ujar Sang Adik.

Seketika, mata Kai melotot ke arah adiknya itu. Dia menurunkan jari telunjuknya. “Apa kalian tidak melihat ada yang lain disini?” ujarnya heran.

“Percuma saja, Kai-ah.” ujar Krystal.

Kini semuanya mulai was-was. Mereka khawatir akan tingkat kewarasan dari salah satu anggota keluarganya itu.

“Tapi disini memang tidak ada apa-apa, Kai-ah.” ujar Appanya.

Krystal tersenyum menang. “See?” ujarnya. Lalu..

Tring..

Dia menghilang. Kai mengerjap-ngerjapkan matanya berulangkali mencoba mencerna hal itu.

Lagi?

Dia menghilang secara tiba-tiba, dan lagi?

“What the Hell??!!!!” ujarnya frustasi.

Tubuhnya melemas. “Appa, Eomma, Saeng, sepertinya aku harus pergi tidur.” Ujarnya. Dengan langkah lesu, dia meninggalkan keluarganya berjalan menuju kamarnya.

Tuan dan nyonya Kim serta adiknya, hanya bisa menatap heran Kai.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Kai sudah berbaring di ranjang tidurnya. Dia memegang dahinya.

Tidak panas. Apa aku sudah mulai gila? Batinnya.

Dia kemudian membalikkan badannya menuju sisi kiri ranjangnya.

Lalu…

“Hyaaaaaaaaaaaaaa………” pekiknya.

Dia langsung bangkit berdiri menjauhi ranjangnya ketika dia melihat Krystal tengah berada disamping kiri ranjangnya. Pemuda itu mulai mengatur jantungnya yang terus berdebar. Anggota keluarga yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar teriakan dari arah kamar Kai.

Krystal kemudian mendudukkan badannya. Dia tersenyum cerah.

“Annyeong, Kai-ah.” ujarnya.

“Kau! Kenapa bisa ada disini?!! Menyebalkan! apa kau tahu gara-gara kau aku dianggap gila oleh keluargaku hah?!!” ujar Kai marah.

“Bisa saja. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu.” Ujar Krystal.

“Tapi, caramu salah. Kalau aku memiliki penyakit jantung, bisa-bisa aku akan mati dengan cepat karenamu.” Ujar Kai.

Krystal terkekeh. “Tapi, sekarang buktinya kau baik-baik saja ‘kan?”

Kai mendengus. “Iya sih. Tapi, tetap saja. Menyebalkan.” gerutunya. Dia kini duduk di salah satu kursi yang tersedia dan menghadap ke arah gadis tersebut. Kai sudah mulai bisa menenangkan debaran jantungnya untuk kembali normal.

Cantik. Batinnya tanpa sadar. Seulas senyum terukir di bibir tebalnya[ya ampun saya kok jujur amat yaa?-__-zz]

“Sudah sejak kapan kau menyukaiku?” tanya pemuda itu untuk memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Sejak kapan? Hhmmm…” gadis itu terlihat tengah berfikir sejenak. “Mungkin sejak aku kelas 1 SMP.” Ujar Krystal. Dia lalu memandang Kai.

Kai bergumam pelan.

Suasana menjadi hening. Krystal lalu membaringkan badannya di atas ranjang.

“Krys…” belum selesai Kai memanggil nama gadis itu, Krystal sudah menghilang terlebih dahulu.

Kai mendengus kesal. Dia kemudian berjalan menuju ranjangnya dan mulai menuju ke alam mimpinya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

10.30

10A, Kai’s Classroom..

Kai te    rlihat mengusap rambutnya frustasi. Dia terus melihat deretan kata-kata itu tanpa tahu apa jawabannya. Dia terus memandang intens ke arah kertas itu.

Ya, saat ini di kelasnya sedang ada ulangan mendadak. Apalagi materi ulangan itu adalah materi pelajaran yang paling dibenci oleh Kai, yaitu SEJARAH!

Kai terlihat frustasi untuk menjawab deretan soal-soal itu. Berulangkali dia mencoba mencuri-curi pandang dengan temannya untuk meminta jawaban, tetapi sialnya Jang Sung Sonsaengnim terus saja memperhatikannya yang membuat gerak-geriknya menjadi terbatas.

“Jawabannya tahun 1995.” Bisik sebuah suara.

Kai terlonjak kaget. Dia langsung menolehkan kepalanya menuju ke arah kanan belakang untuk melihat siapa yang berbisik ke arahnya.

Kai membelalakkan matanya ketika dia melihat Krystal tengah tersenyum konyol ke arahnya.

“Ada apa Kai-ah? Kau terlihat frustasi karena tidak bisa menjawab soal-soal itu hingga membuatmu bertingkah aneh seperti itu?” tanya Jang sung Sonsaengnim.

Kai mengalihkan tatapannya menuju Jang Sung Sonsaengnim. Dia terlihat salah tingkah.

“Aaa.. sepertinya iya Jang Sung Sonsaengnim.” Ujar Kai. Seluruh teman-temannya memandang aneh ke arah Kai.

Kai segera –berpura-pura- memfokuskan kembali pikirannya ke arah soal-soal tersebut.

Mata lelaki itu mlirik Krystal sekilas dengan menyiratkan sebuah arti agar Krystal mendekat ke arahnya.

“Kau yakin?” bisik Kai superpelan.

“Kau tidak percaya padaku?” ujar Krystal kesal. Dia melingkarkan tangannya di pinggannya.

“Aku percaya.” Bujuk Kai. Karena tidak mempunyai solusi lainnya, akhirnya Kai menuliskan jawaban yang diberikan Krystal.

Ya, gadis itu lumayan membantunya.

Krystal terpaksa terus memberikan jawaban soal-soal tersebut karena terus dibujuk oleh Kai.

“Selesai.” Gumam Kai senang. “Untung saja ada kau.” Gumam Kai kepada Krystal. Dia tersenyum ke arah gadis itu. Tak disadarinya, Jang Sung Sonsaengnim terus memperhatikan gerak-geriknya dengan pandangan heran.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Break Time..

Canteen School..

“Kai, jajan bareng yuk?” ajak temannya.

“Tidak. Terima kasih.” tolak Kai halus. Dia terus memandang ke arah Krystal yang tengah berkacak pinggang kesal karena harus menunggu Kai.

“Iya. Bareng sama kita-kita ajah.”

“Ah. Tidak perlu. Sudah ada yang menungguku. Aku pergi dulu ya..” tolak Kai sekali lagi.

“Oh.. mau menemui Sullimu ya? Haha. Temui dia sana!” goda salah satu teman Kai.

Kai hanya melengos.

“Temui dia gih.. haha.”

Kai melangkah pergi tanpa menghiraukan gurauan teman-temannya.

Kai melangkah mendekati Krystal tanpa memperdulikan bisikan-bisikan genit dari Sulli.

“Banyak fans ya?” tanya Krystal sinis ketika Kai sudah duduk di hadapannya.

“Biasa, resiko orang tampan.” Ujar Kai percaya diri. Krystal memandang jijik ke arah Kai. Kai terkikik geli melihat respon dari gadis itu.

“Eh.. kalau tidak salah seorang siswi dari sekolah seberang ada yang meninggal ya?”

Krystal dan Kai tertarik dengan pembicaraan tersebut.

“Iya. Kasihan sekali. Dia meninggal karena kecelakaan bukan?”

“Iya. Tragis sekali bukan? Padahal siswi itu cantik lho.”

“Ya namanya juga hidup, Sung Jin.”

Krystal kini sedang memandang jari-jarinya dan tengah memainkannya.

“Kry…” sekali lagi, belum sempat Kai memanggil nama Krystal, tetapi gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.

“Tsk. Enak sekali jadi hantu. Bisa muncul tiba-tiba dan juga bisa menghilang tiba-tiba. Tsk.” Gerutu Kai.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

“Kapan ya aku akan bisa merasakan indahnya alam ini lagi?” gumam gadis itu.

Ya, saat ini Krystal tengah berada di sebuah bukit dengan hamparan rerumputan yang indah. Dia berdiri dibawah salah satu pohon yang lumayan rindang. Dia terus berdecak kagum akan keagungan Sang Maha Kuasa.

Gadis itu lalu mencoba untuk menyentuh batang pohon tersebut.

Karena memang dia sudah bukan makhluk dari dunia ini, tentu saja tangannya tidak bisa menyentuh batang pohon tersebut meskipun dia sudah berusaha beberapa kali untuk mencobanya. Dia masih tidak mempercayai kalau dia merupakan arwah.

“Tidak mungkin..” gumam gadis itu yang masih saja tidak percaya.

Krystal terduduk lemas. Dia memandang kosong ke arah hamparan langit cerah.

“Aku sudah meninggal.. apa yang aku rasakan?” gumam gadis itu tak jelas. “Apa aku senang? Atau sedih?”

“Aku senang, karena aku bisa dekat dengan pujaan hatiku. Tapi.. aku belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Masih banyak hal-hal yang ingin aku lakukan di dunia ini.” ujar gadis itu.

Dia menatap ke arah langit cerah siang itu. “Lalu, apa hanya begini saja yang harus aku lakukan? Tidak ada hal lain?”

“Haaaahhh~” gadis itu menghela nafas panjang. “Ternyata waktu 10 hari cukup lama juga.”

Dia terdiam sejenak lalu memejamkan matanya. Cukup lama dia seperti itu hingga tanpa disadarinya langit sudah berganti menjadi berwarna kegelapan dengan bintang-bintang dan bulan sebagai penghiasnya.

“Uwaaaaahhhh~” gadis itu terbangun dari tidur panjangnya. Dahinya mengkerut, pertanda dia merasa heran atas yang terjadi pada dirinya.

“Ini.. kenapa langitnya sudah gelap? Apa jangan-jangan ini sudah malam? Dan tadi itu.. berarti aku sedang tertidur?” ujar gadis itu heran. Dia lalu menggaruk belakang kepalanya. “Apa hantu juga bisa tidur? Aneh..” gumamnya.

CLING..

Kemudian dia pergi menghilang dari tempat itu.

.

.

CLING..

Krystal kini tengah berada di sebuah jalanan kompleks salah satu perumahan elite. Gadis itu melihat ke sekelilingnya sebentar. Dia merasa kenal dengan lingkungan di sekelilingnya. Tapi, entah kenapa dia merasakan amnesia mendadak.

“Ini.. sebentar daerah rumah ini seperti mengarah ke rumah..”

Tap..

Langkah kaki gadis itu berhenti di depan salah satu pekarangan rumah seseorang yang bisa dibilang cukup elite dengan desain rumah ‘minimalis’nya.

“Kai..” gumam Krystal.

Gadis itu menahan nafasnya ketika dia melihat Kai dengan seorang yeoja tampak sedang bermesraan. Yeoja itu tampak bergelayut manja di lengan Kai. Sedangkan Kai sepertinya tampak jengah dengan kelakuan si yeoja tersebut.

Sebulir kristal cilik meleleh di pelupuk mata gadis itu.

“Sulli dan Kai.. kalian..” Krystal merasa sakit di dalam dadanya. Seperti dihantam oleh berbagai paku tak kasat mata di ulu hatinya.

CLING..

Krystal lebih memilih untuk menghilang daripada terus melihat kejadian yang akan membuat hatinya pilu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

“Kemana dia?”  ujar Kai.

Pemuda itu tengah mondar mandir di dalam kamarnya. Dia gelisah karena sudah empat hari ini, Krystal tidak pernah mengunjunginya lagi. Entah kenapa, dia merasa ada yang kosong ketika gadis itu tidak ada disampingnya.

“Aku rindu kepadanya.” Ujar Kai lesu. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya kasar ke arah ranjang tidurnya.

BLUSSHH..

Kai kemudian memejamkan matanya. Dia menyesal kenapa saat Krystal ada disampingnya, dia tidak menanyakan alamat dan keluarga gadis itu.

Dia benar-benar rindu kepada gadis itu.

“Sepertinya aku harus mencari tahu tentang gadis itu.”

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.–.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

“Satu.. dua.. tersisa tiga hari lagi sebelum aku benar-benar lenyap dari dunia ini.” gumam Krystal.

Saat ini gadis itu tengah berada di sebuah ruangan gelap. Dia memandang kalender yang terpasang di dinding ruangan tersebut. Dia mengambil sebuah foto yang berpigura dengan motif imut bergambar Teddy Bear. Dia tersenyum ketika melihat foto itu. Ya, itu merupakan foto keluarganya. Gadis itu sedang berada di kamar pribadinya.

“Apa waktuku akan segera berakhir?” gumam gadis itu. Kemudian Krystal meletakkan foto tersebut ke tempat semula. Gadi itu lalu melangkah maju dan menembus pintu untuk menemui kedua orang tuanya.

Krystal melangkah menuju Ruang Tamu, dimana kedua orang tuanya sedang saling berbincang-bincang berdua.

“Eomma.. Appa..” gumam Krystal lirih.

“Yeobo, menurutmu Soojung kecil kita sedang apa ya di surga sana?” tanya Nyonya Jung.

“Dia pasti sedang berbahagia di surga sana  dan sedang bermain dengan para malaikat, yeobo.” Ujar Tuan Jung.

“Tapi, tetap saja aku masih tidak menyangka uri soojungie cepat sekali pergi dibanding kita.” ujar Nyonya Jung lesu.

Tuan Jung lalu mengusap kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang. “Kau tidak boleh begitu! Nanti Soojung kita tidak akan tenang kalau melihatmu seperti ini.” ujar Tuan Jung.

Krystal tak kuasa menahan tangisnya. Dia merasa gagal melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak. Dia masih belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

“Soojungie.. biar bagaimanapun, kau harus menjadi malaikat cantik di surga sana.” Harap Nyonya Jung kepada Krystal.

“Pasti.. pasti Eomma.. Soojung pasti akan menjadi malaikat cantik.” Ujar Krystal dengan suara yang gemetar.

*** Never Late ***

11.30

Kai’s Classroom..

2 days goes to Krystal’s End Day..

Kai menatap kosong ke arah jendela koridor luar. Untungnya saat itu, gurunya sedang tidak bisa mengajar dikarenakan sedang sakit.

Beberapa hari ini Kai selalu terlihat tidak bersemangat. Tatapannya selalu kosong dan dia selalu tidak bisa fokus. Oleh karena itu, akhir-akhir ini nilai pelajarannya selalu menurun. Teman-temannya menjadi heran dikarenakan perubahan drastis dalam diri Kai. Tetapi, Kai selalu memilih bungkam ketimbang harus menjawab beberapa pertanyaan dari teman-temannya itu.

“Kai.. Hei, Kai..” ujar salah seorang namja sembari menoel (?) pelan pundak pemuda itu.

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

10 menit..

Pemuda itu tidak juga merespon panggilan dari beberapa teman-temannya itu. Dia bagai mayat hidup saat ini.

“KIM JONG IN!!!” teriak Sehun yang sepertinya mulai kehilangan kesabaran. Sontak saja seisi kelas langsung menoleh ke arah mereka.

Kai terlonjak kaget setelah mendengar suara lengkingan cempreng di telinga kanannya yang –mudah-mudahan-tidak- membuat telinganya rusak.

“Ada apa?” tanya Kai dengan suara datar sembari menatap kosong ke arah Sehun yang mulai naik darah.

“Kau.. sebenarnya ada apa denganmu, Kim Jong In?!! Kau ini seperti mayat hidup! Kau ada masalah? Kalau ada, kau bisa menceritakannya kepadaku! Kau anggap apa aku ini?!!” ujar Sehun kesal.

Kai menghela nafas sebentar. Ini sesuatu yang rumit untuk dijelaskannya. Dia bahkan masih ragu tentang perasaannya itu.

“I’m Well, Sehunnie. Ahh.. I must to go for refresh my mind..” ujar Kai. Pemuda itu lalu beranjak pergi meninggalkan sahabatnya yang tengah geleng-geleng kepala tersebut.

.

.

@Balkon Sekolah..

Kai menumpukan beban tubuhnya pada kedua tangannya yang diletakkannya dia atas sebuah jedela kayu besar yang terbuka. [bisa bayangin kan? Agak rumit sih kalau dituangkan di kata-kata]. Dia memejamkan matanya mencoba meresapi keheningan dan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Dia merasa rindu akan wajah gadis itu. Dia rindu matanya serta tatapannya, hidungnya, bibir tipisnya, kulit mulusnya, wajahnya, rambut bergelombangnya, suaranya bahkan suara desahan nafas gadis itu. Dia rindu akan semua yang ada pada diri gadis itu.

“Krystal.. kemana perginya kau? Kau tidak mungkin bukan meninggalkanku secepat ini? Kau masih banyak memiliki dosa terhadapku.” Gumam Kai lemah.

“Kai..”

Suara itu. Tidak mungkin.

Kai menggeleng tidak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya.

“Sepertinya aku mulai gila karena terlalu rindu kepadanya sampai berhalusinasi mendengar suara gadis itu.” Gumam Kai sembari terkekeh pelan.

“Kai Oppa..”

Deg..

Tidak mungkin. Kemudian pemuda itu menolehkan kepalanya ke arah kanan –letak sumber suara- dan betapa terkejutnya ketika dia melihat ada seorang yeoja yang tengah berdiri di hadapannya sembari tersenyum cerah ke arahnya.

Segera saja, tanpa pikir panjang Kai langsung berhambur ke arah Krystal dan berniat ingin memeluk gadis itu. Dan ketika dia memeluk Krystal, tangannya seperti menembus sebuah udara padat tetapi hampa dan kosong [paham? Aku sendiri yg buat ga paham sama kalimat ini-___-zz]

“Oppa lupa ya kalau aku sudah meninggal? Aku ini arwah.” Ujar Krystal sembari terkekeh pelan. “Sepertinya kau terlalu merindukanku hingga tidak mengingat hal itu.” Ujar Krystal.

Kai terlihat salah tingkah dikarenakan keagresifannya. “Hehe..” ujar Kai sembari tertawa konyol ke arah gadis itu.

“Oppa..” kemudian gadis itu mengambil jarak lebih mendekati Kai. Dia ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Kai.

“Hmm…”

“Oppa tahu bukan kalau aku bukan merupakan makhluk dari dunia ini?” ujar Krystal. Kai tidak mengerti akan alur pembicaraan Krystal.

“Iya. Oppa tahu. Memangnya ada apa?” tanya Kai.

“Ini merupakan hari kedua terakhirku berada di dunia ini. Jadi, besok merupakan hari terakhirku berada di dunia ini.” gumam Krystal lirih yang sukses membuat Kai melebarkan matanya.

“MWO?!!!!” pekik Kai.

Krystal tersenyum. “Oleh karena itu, aku ingin meminta maaf kalau aku selalu membuatmu susah dan membuatmu seperti dianggap orang gila. Maafkan aku.” Ujar Krystal.

“Ya! Bagaimana bisa?!! Kenapa secepat itu?” ujar Kai lemas. Baru saja dia bertemu dengan gadis yang sangat dirindukannya, tetapi sepertinya dia harus bersiap kehilangan gadis itu lagi. Bahkan mungkin dia bakal kehilangan gadis itu selama-lamanya.

“TIDAK! TIDAK MUNGKIN!!!” pekik Kai tanpa sadar berusaha mengenyahkan pikiran tersebut dari dalam pikirannya.

“Ada apa, Kai-ah?” tanya Krystal khawatir.

“Jadi kau akan pergi? Baru saja aku bertemu denganmu, tetapi aku sudah harus merelakanmu pergi. Kenapa baru sekarang kita harus bertemu?” sesal Kai.

Krystal menunduk. “Aku sudah meninggal, Kai-ah. Tempatku sudah bukan lagi disini.”

“Ya, tapi kenapa? Tidak bisakah kau untuk tinggal lebih lama lagi bersamaku?” pinta Kai.

Mungkin ini sedikit terdengar gila. Mana ada seorang manusia yang meminta kepada arwah untuk menemaninya? Tapi, itulah perasaan Kai. Dia sudah terlanjur memiliki perasaan lebih terhadap gadis itu.

“Maaf Oppa. Tapi itu tidak bisa. Kita sudah berbeda alam!” ujar Krystal.

“Tap.. Tapi..” Krystal sudah menyela terlebih dahulu perkataan Kai sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan perkatannya.

“Maaf Oppa, sepertinya aku harus pergi.” Ujar Krystal dan..

CLING..

Gadis itu menghilang. Kai hanya bisa menatap kosong pemandangan yang ada di hadapannya itu.

Pemuda itu menghela nafas sebentar.

 

*** Never Late ***

The Final Day for Krystal Jung..

Krystal menatap air danau di hadapannya. Air danau itu tampak berwarna seperti pelangi karena terbiaskan oleh cahaya matahari. Hari ini merupakan hari terberat untuknya. Ya, hari ini merupakan hari terakhir dirinya berada di dunia ini.

Krystal menghela nafas sebentar.

“I’m ready to leave this world..” gumam gadis itu.

Perlahan, tubuhnya sedikit memudar. Gadis itu memejamkan matanya.

“Krystaaaaaalll….” seru sebuah suara. Krystal membuka matanya. Dia menatap kaget ke arah seorang pemuda yang tengah berlari ke arahnya.

“Jangan pergi.. kumohon!! Jangan pergi!! Aku berjanji akan melakukan apapun asalkan kau tetap berada disini!!” ujar Kai. Dia kini sudah berada di hadapan gadis itu.

Krystal menangis.

Dia menggeleng kuat. “Tidak bisa, Kai-ah. Aku tetap harus pergi. Berjanjilah kepadaku gunakanlah waktumu sebaik-baiknya. Jadilah orang yang berguna. Jangan pernah menyia-nyiakan waktumu. Dan satu lagi, tolong sukailah pelajaran sejarah. Jangan kau membenci pelajaran itu. Karena biar bagaimanapun, kita tidak bakal bisa hidup sampai detik ini jika tidak ada sejarah di masa lalu.” Ujar Krystal.

“Aku akan berjanji untuk melakukan semua permintaanmu jika kau ada disampingku. Kumohon, Krystal-ah!!” ujar Kai. Air matanya kini sudah mulai meleleh dari pelupuk kedua matanya.

“Maaf.. aku tidak bisa..” perlahan tubuh Krystal sudah memudar. “BERJANJILAH PADAKU UNTUK MELAKUKAN SEMUA PERMINTAANKU.” Seru Krystal.

“Jangan pergi.. Kumohon Krystal!! Jangan pergi..” seru Kai. Percuma saja dia berusaha berteriak sekuat apapun agar Krystal kembali kepadanya, karena kini Krystal sudah tidak lagi berada di dunia itu. Gadis itu sudah tenang, pergi menuju sisiNya.

“Baiklah. Aku akan menuruti semua permintaanmu, Krystal-ah. Aku akan mulai menyukai Sejarah seperti permintaanmu. Aku harap kau menjadi bidadari cantik di surga sana agar kita bisa bertemu di saat waktunya.” Gumam Kai. Perlahan dia mengusap air matanya. Pemuda itu lalu menghadapkan kepalanya ke arah danau. Dia menatap kosong ke arah air danau yang mengalir dengan tenang dan indahnya.

.

.

A few Years later…

“Ya, aku mengerti Suho Hyung. Tugas itu akan segera aku kirimkan ke e-mail Hyung. Tunggu sebentar lagi.” Ujar seorang pemuda.

“Ya, cepatlah Kai-ah. Kita sangat membutuhkan hal itu sekarang juga untuk membokar kasus Nuklir yang melibatkan Negara kita.” ujar suara seberang.

“Arrasseo, Hyung. Aku sedang menyadap satelit komunikasi milik CIA. Ini lumayan sulit, Hyung.”

“Baiklah. Aku percaya kau bisa.”

KLIK..

Sambungan telepon terputus.

“Aaaaahh…” erang pemuda tersebut. Dia berada di ShinShoow Cafe. Saat ini pemuda itu sudah  menjadi salah satu agen rahasia keamanan Korea Selatan.

“Aah.. lama-lama otakku bisa menjadi keriting kalau terus-terusan melihat sederet simbol tidak jelas ini.” gumam Kai jenuh. Dia lalu beranjak pergi dan berniat menuju ke meja kasir untuk memesan sebuah Cappuchino untuknya.

Karena tidak memperhatikan sekeliling, akhirnya pemuda itu menabrak seorang gadis.

BRUAAKK…

Di pertengahan perjalanannya, pemuda itu tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga sang gadis terjatuh cukup keras ke arah lantai.

Kai merasa tidak enak. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu bangkit berdiri. “Gwaenchana? Mianhae.” Ucap Kai tulus.

Gadis itu menerima uluran tangan Kai. “Ah, nan gwaenchana. Gamshamnida.” Ujar gadis itu. Gadis itu lalu menyibak rambutnya yang lumayan menutupi sebagian wajahnya. Kai tercenang kaget ketika melihat wajah gadis itu. Tangannya menggenggam erat tangan gadis itu.

“Krystal…” ujar Kai tidak percaya. “Ini benar kau, Krystal-ah?”

“Krystal? Maaf ahgassi sepertinya anda telah salah orang. Nama saya adalah Han Soo Jung.” Ujar gadis itu. Dia lalu menepiskan tangan Kai.

“Han SooJung? Tidak mungkin! Tapi kalian berdua sangat mirip…” Gumam Kai tidak percaya.

 

=END=

Kyaaaaaa…. FINALLY, IT’S FINISH! >O<

Haaah.. capek juga bikin FF ini-__-zz aslinya aku udah buat FF ini sejak 5 hari yang lalu dan terus kesimpen di draft FFku di lepie-___zz tapi akunya males mau ngetik FF ini-___zz

Masalahnya ini FF panjang sekali-___-zz melelahkan -__-zz

Sebenarnya aku pengin bikin FF ini kaya Incidious >o< ada misteri2nya gitu loh.__.zz tp, kenapa malah jadinya romance ga jelas kaya gini? ToT GAGAL T.T

HAHAHAHAHAHAHAHA… #efekstressbikinffini >.<

Aku juga berharap mudah2an ngga ada typo nyelip di FF ini >o< buat FF ini butuh perjuangan loh >_< meskipun sangat jelek.

Yaudah, aku banyak bacot banget yaak? Daripada baca curhatan ga penting ini, mending kalian meninggalkan komentar😉

Terima kasih🙂

20 thoughts on “Never Late [Oneshoot]

  1. berharep g ad typo? perlu di bantu itung?😄 itu aja kritikkan, selebihnya ff ini bagus tp mang melenceng dr byangan sih (misteriyanggagal).. hwaiting adikku yg cantik yg plg kusayang…. :-*

  2. hahaha, typo doang.. baxk fktor external yg menyebabkan typo,cnth kyboard leppy error, ato word yg settinganx english (qta ngetik bisa terxta jdx bias).. iya,makasih y saeng /nyosorpipizuzu/

  3. kerennn bangeet sampe mau nangis bacanya ,walaupun hampir sama kayak 29 days tapi berhubung ini yang meranin kai sama krystal jujur aja sukaaa bangeet😀 daebakkkk (y) kalau bisa sih berharap shiper nya minstal tapii sama ajaa sama sama ngenaa :p

    • haha😄 iyaakan km mengakui juga kalau FF ini hampir mirip 49 days >__< #gubrak..
      haha😄 wah, km kaistal shipper ya? ^^ samaan kita😄 wkwk😛
      wah, minstal ya? aku udah pernah buat sih.. makany ini mencoba berubah haluan jadi kaistal🙂
      ngomong2, terima kasih sudah berkomentar^^

    • yah, maklum~namanya juga ff pertama🙂 hehehe pastilah banyak kekurangan x)
      TAPI, KAMU BACA INI TIGA KALI?!! demi apaaaa? O.O aku yg buat, cukup baca sekali aja, pengen ketawa kok ya -_-

  4. huaaa….
    daebak banget ffnya,
    sampe sedih bacanya.
    hehe….😀
    bikin ff kaistal lagi dong!
    beneran deh jadi suka sama kaistal shipper…

  5. Ff nya keren , yah memang ff unnie selalu keren .-. Cuman ada beberapa kata yang kurang baku sama diksi nya harus ditingkatkan lagi/? Tp secara keseluruhan bagus kok . Malah kok aku ga nemuin typo -,- terbawa feel mungkin xD

    • Waduh, makasih ya.. pujianmu terlalu tinggi buat aku😳
      Yah, mohon maklum namanya juga ff lama, belum aku perbaiki dan dulu perkembanganku beda sama sekarang.. hehe :p

      Makasih ya, typo-nya ada banyak kok. Feel? Aku bingung.. feel apa? Perasaan biasa deh -_- tapi makasih ya😀

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s