Music and Lyric [chap. 7]


Title : Music and Lyric [chap. 7]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung, Choi Minho, Kim Jong-In and Bae Suzy.

Other cast : Choi Siwon, Lee Donghae, Jessica Jung, Im Yoona, Shinee members, F(X) members, and others.

Type : Chapter

Hallo, kita ketemu lagi🙂 Terimakasih karena setia membaca dan menunggu cerita ini. Harap dimaafkan karena chapter ini selesai lebih lama dari chapter-chapter sebelumnya, maklum, saya juga cuma manusia biasa yang mempunyai kehidupan pribadi seperti kalian-kalian. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian. Selamat membaca🙂

 

Setelah dua minggu lalu Seoul Senior High School digemparkan oleh kedatangan Minho dengan Suzy yang berada dipangkuannya. Hari ini, sekolah ternama itu kembali dikejutkan dengan Minho yang datang sambil menuntun Suzy karena gadis itu masih sulit untuk berjalan.

Beberapa anak yang berjalan di koridor menatap mereka kagum. Melihat Minho yang dengan hati-hati menuntun Suzy menaiki tangga, membuat para yeoja pastibermimpi untuk berada di posisi Suzy saat ini. Tidak peduli apapun yang dialaminya.

Setelah hampir 10 menit menaiki anak tangga yang sebetulnya tidak terlalu banyak itu, akhirnya mereka sampai di depan kelas 3-B. Minho membukakan pintu dan membiarkan Suzy masuk lebih dulu walaupun dengan langkah perlahan.

Minho mengamati keadaan kelas yang semula riuh rendah menjadi senyap ketika dia melangkahkan kakinya memasuki kelas. Dia menghentikan langkah saat matanya beradu pandang dengan mata Krystal yang tadi sepertinya sedang mengobrol dengan Luna dan Sulli.

Minho terpaku, belum pernah dia melihat sorot mata itu. Sorot mata yang sulit diartikan olehnya. Sedih? Marah? Apapun itu, ekspresi tersebut menyatakan ketidaksenangan dan membuat Minho benar-benar terganggu karenanya.

“Suzy-ya!!!

Seruan dari arah depan kelas itu membuat Krystal dan Minho mengalihkan pandangannya satu sama lain. Krystal langsung sibuk dengan ponselnya sedangkan Minho membalikan badan untuk melihat sosok yang baru saja menyeretnya keluar dari perasaan terganggunya tadi. Dilihatnya Jiyeon baru saja memasuki kelas, sepertinya dia baru saja tiba.

Gadis itu langsung mendekati Suzy dan mengerling penuh arti pada Minho. Minho tidak mengindahkan kelakuan Jiyeon. Dia berjalan untuk duduk di kursinya sendiri. Kelas kembali berisik setelah Minho duduk dan menyapa Key.

Tapi tidak begitu dengan Krystal. Dia tidak melanjutkan perbincangannya dengan Luna dan Sulli. Dia hanya merasakan sesuatu yang selama dua minggu ini mengganggunya setiap kali melihat atau mendengar Minho bersama Suzy. Cemburu mungkin? Entahlah. Terlalu dini untuk menyebut itu cemburu.

Should I call her?

Damn it, Kai!Jadi sejak kemarin kau belum meneleponnya?

Kai menggeleng.

Just call her, dude! Ask her to go out with you! Hubungan kalian sudah mulai membaik. Aku yakin dia akan setuju,” ujar Lay untuk meyakinkan Kai.

Kai diam sambil memikirkan ucapan Lay. Memang benar hubungannya dengan Krystal sudah lebih baik sekarang. Tapi, dia ragu hubungan ini berlanjut lebih baik, apalagi kembali seperti dulu.

Lay yang sedang menyisir rambutnya melirik Kai sekilas. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati meja dimana Kai meletakkan ponselnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kai bingung.

Lay tidak menjawab. Dia membuka menu kontak dan mencari nama Krystal disana. Setelah mendapatkannya, dia kemudian menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ditelinganya.

Selama beberapaa saat, hanya terdengar suara sambungan telepon memasuki gendang telinga Lay sampai akhirnya suara gadis itu terdengar di ujung sana.

Yeoboseyo?

Lay langsung menempelkan ponsel itu pada telinga Kai.

Talk to her!” bisik Lay.

Kai membelalakan mata sambil melayangkan tinju ke bahu Lay.

Hallo?” suara Krystal terdengar gusar.

Ask her!” paksa Lay lagi.

“Ehm.. Hai, Krys! Sedang istirahat, ya?” tanya Kai basa-basi, membuat Lay memutar bola matanya kesal.

Iya. Ada apa?

“Hmm.. begini, teman-temanku mengadakan acara sore ini.”

Lalu?

“Kau bisa menemaniku tidak?” tanya Kai ragu.

Ne?

Minho baru saja memberhentikan sebuah taksi ketika dia melihat sosok itu tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Kai.

“Masuklah duluan!” perintah Minho pada Suzy yang hari ini memang akan dia antar pulang, matanya masih sibuk memperhatikan Kai yang sedang melongok ke dalam sekolah. Beberapa saat kemudian, Minho melihatnya tersenyum pada Krystal dan anak-anak lain yang baru saja keluar dari gerbang.

Oppa!” panggil Suzy sambil melongokan kepalanya keluar.

“Ah, iya. Ayo!” jawab Minho lalu masuk ke dalam taksi. Setelah Suzy menyebutkan alamat rumahnya, taksi itu berjalan perlahan melewati Kai yang sedang bertegur sapa dengan Krystal dan yang lainnya.

Minho langsung mengambil ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan untuk Key ketika dia sadar temannya itu ada diantara anak-anak tadi.

To : Kim Kibum

Krystal dijemput Kai?

Beberapa saat kemudian, ponsel Minho bergetar.

From : Kim Kibum

Iya. Tadi Amber bilang kalau Krystal akan menemani Kai entah kemana. Kenapa kau bisa tahu? Kau dimana? Kau jadi pulang dengan Suzy?

 

Minho tidak membalas pesan itu. Dia hanya memutar-mutar ponselnya sambil melirik Suzy yang sedang memperhatikan kakinya yang dibalut perban.

“Masih sakit?” tanya Minho basa-basi, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri. Suzy baru saja akan menjawab ketika tiba-tiba ponsel Minho kembali bergetar.

From : Kim Kibum

Yaa! Neo Gwenchana?

 

Minho menghela napas sebagai jawaban.

“Maaf, ya. Kau jadi harus kesini untuk mengambil contoh tugasnya. Aku benar-benar lupa,” ujar Yoona sambil membuka pintu apartemennya dan menyuruh Siwon masuk.

“Tidak apa-apa. Lagipula rumah kita ternyata dekat. Kenapa kau tidak pernah bilang kalau rumahmu di Doksan juga?” tanya Siwon sambil mengikuti Yoona masuk.

“Kau tidak pernah bertanya,” jawab gadis itu disertai tawa, “Kertas tugasnya ada disana!” Yoona menunjuk sebuah pojojkan dimana terdapat satu buah kotak besar berisi gulungan-gulungan karton.

“Aku ambil sendiri?”

“Ambil saja! Memangnya aku pembantumu!” ujar Yoona bercanda lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.

Siwon tertawa, “Kau ini benar-benar tidak menampakan diri sebagai public figure!

“Maksudmu?”

“Kau harus hati-hati! Bagaimana kalau ternyata aku ini adalah salah satu sasaeng fans-mu? Lalu, aku menyimpan sebuah penyadap atau kamera tersembunyi ketika kau menyuruhku mengambil gulungan ini?” Siwon mengambil salah satu gulungan kertas berwarna cokelat muda yang dia yakini sebagai gulungan contoh tugas mereka.

Yoona terbahak, “Mana mungkin! Aku tahu kau tidak mengenali siapa aku saat pertama kali kita bertemu. Bagiamana mungkin kau bisa menjadi sasaeng fans-ku?”

“Siapa yang memberitahumu?” tanya Siwon kaget.

“Tentu saja Eunhyuk-ssi. Kau benar-benar menyakiti hatiku!” ucap Yoona sambil memberikan minuman kaleng dingin yang baru saja diambilnya tepat ke perut Siwon.

“Maaf. Tapi, bukannya lebih baik begini, kan? Mengenalmu karena tahu siapa dirimu sebenarnya. Bukan hanya mengenalmu dari balik layar televisi atau layar-layar besar yang lainnya?”

“Ha! Kau pintar sekali membuat alibi!” Yoona mencibir.

“Aku tidak beralibi. Aku senang karena aku bisa mengenalmu sedekat ini,” Siwon menjawab polos sambil membuka kaleng minumannya.

Yoona yakin wajahnya sekarang sudah semerah kepiting rebus setelah mendengar celetukan ringan Siwon. Baru kali ini ada yang mengatakan hal seperti itu padanya, dan dia senang mendengar hal tersebut.

Tiba-tiba pintu apartemen Yoona terbuka. Seorang gadis mengenakan seragam sekolah masuk perlahan diikuti seorang namja.

Eonni, aku pulang!” seru gadis tadi sambil membuka sepatunya.

Siwon membelalakan mata ketika sadar siapa namja yang berada di belakang gadis itu.

“Minho-ya?”

Hyeong?”

“Bagaimana bisa kebetulan seperti ini? Aku tidak menyangka kalau kau adalah kakaknya Minho,” ujar Yoona dari arah dapur.

“Kau sendiri tidak bilang kalau kau punya adik.” Siwon berkata.

“Aku dan Yoona Eonni sebenarnya hanya sepupu,” Suzy yang baru saja keluar dari kamarnya menjawab. Minho langsung berdiri untuk membatu Suzy duduk.

“Terimakasih,” Suzy berkata pelan ketika Minho menuntunnya sedangkan Siwon langsung menatap mereka curiga.

“Iya benar. Orangtua kami tinggal di Nami,” jelas Yoona saat berjalan kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan berisi satu poci beserta empat cangkir teh.

Hyeong dan Noona sudah kenal lama?” tanya Minho.

Yoona tertawa, “Lama darimana? Baru dua minggu ini. Ah, iya! Ternyata aku baru benar-benar menganal kalian di hari yang sama!” ujar Yoona sambil menjentikan jari.

Siwon menautkan alisnya, “Maksudmu?”

Flasback on

“Kau yakin mau belajar Mekanika Teknik denganku? Aku bukan tipe pengajar yang sabar, loh!” tanya Siwon sangsi.

“Kau pikir aku tipe pengajar yang sabar juga?”

Siwon kembali tertawa, kali ini diikuti juga oleh Yoona.

“Joha! Kita bisa bertukar ilmu mulai sekarang,” Siwon menyetujui, “Tapi, kau tidak sibuk dengan kegiatanmu diluar kampus?”

“Aku menolak tawaran-tawaran yang masuk. Kali ini yang tersisa tinggal shooting iklan dan reality show, jadi tidak terlalu sibuk.” Yoona tersenyum senang yang disambut Siwon dengan anggukan pasti.

“Kalau begitu, kita mulai besok bagaimana?”

Yoona sudah akan menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.

“Jamkkanman!” Yoona memberi tanda dengan tangannya dan mengangkat telepon tersebut, “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Ini betul dengan kakak Suzy? Yoona Noona?” tanya suara seorang lelaki di ujung sana.

“Ne. Nuguseyo?”

“Annyeong haseyo, saya Minho, teman sekelas Suzy. Sebelumnya saya minta maaf karena menganggu. Apa Noona sedang sibuk? Kira-kira bisa tidak jika Noona menjemput Suzy sekarang? Suzy tadi mengalami kecelakaan kecil disekolah,” ujar Minho hati-hati.

“Mwo? Kecelakaan? Arasseo, aku pergi sekarang!”

Flasback end

 

—-

 

Ah, begitu. Tapi, ‘baru benar-benar menganal kami’? Maksud Noona?” Minho menatap Yoona bingung.

Yoona tersenyum, “Sebelumnya, aku pernah bertemu dengan Siwon-ssi. Tapi, kami hanya sekedar berkenalan karena dia memberikan handphone-ku yang tertinggal di mejanya. Sedangkan kau, aku sering dengar cerita tentangmu dari Suzy.”

Eonni!” Suzy hampir saja menyemburkan teh yang baru diminumnya ketika mendengar ucapan Yoona.

Waeyo? Memang benar aku selalu mendengar tentang Minho darimu!” Yoona menjulurkan lidahnya dan tertawa-tawa. Senang karena bisa menggoda gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu.

Minho yang menjadi objek pembicaraan mereka hanya menyentuh tengkuknya malu, sedangkan Siwon tersenyum mengerti. Bukan hal yang aneh jika ‘Choi Brother’ diperbincangkan oleh kalangan para wanita. Itulah makanan sehari-hari mereka saat di Amerika. Wajah asia dengan postur tubuh proporsional menjadi hal yang unik untuk dilihat, apalagi diperbincangkan.

Di salah satu sudut restoran makanan cepat saji itu, tampak 4 pan pizza ukuran medium yang kosong dengan sepuluh gelas minuman yang isinya telah tandas diminum sang pemilik. Sepuluh orang tersebut tengah asik bermain truth or dare diselingi tawa yang membahana ketika salah satu dari mereka memilih dare dan mendapatkan tantangan yang sanggup membuat manusia manapun tergelak.

Yaa!Ppalli ka!” perintah Lay pada Tao yang baru saja mendapat tantangan untuk ber-make-up seperti wanita dan meminta tanda tangan kepada polisi yang sedang mengatur lalu lintas tepat di jalanan depan restoran tersebut. (Hei! Cepat sana pergi!)

Krystal terkikik geli ketika melihat wajah Tao. Bagaimana tidak? Wajah tampan tak berdosa itu kini sudah penuh dengan bedak tebal, tak lupa dengan lipstic merah di bibirnya dan eye shadow berwarna senada hasil karya Ji-eun, kekasih Lay yang ternyata seorang model.

Daebak! Kau cantik sekali!” Chen berkata sambil bertepuk tangan.

“Harusnya kau mengenakan pakaian perempuan juga!” ujar Kai yang disambut tawa semua orang.

“Bukan! Harusnya tadi aku pilih truth!” Tao menyesal.

“Sudah terlambat. Ayo cepat!” Kai menarik Tao dan mendorong namja itu untuk menemui polisi tadi.

Dengan berbekal sebuah pulpen dan sepucuk kertas yang diambil dari buku catatan Krystal, Tao berjalan mendekati sang polisi sambil tersenyum canggung. Melihat ekspresi kaget polisi itu membuat kesembilan oknum ini tertawa terpingkal-pingkal. Saat mereka melihat Tao sedang menunjuk-nunjuk mereka sambil berbicara pada si polisi, mereka semua langsung pura-pura tidak mengenali Tao dan asik mengobrol.

Selang lima menit kemudian, pintu restoran kembali terbuka dan Tao buru-buru masuk sambil menutupi wajahnya dengan kertas yang sudah dibubuhkan tanda tangan si polisi.

“Sudah!” Tao melempar kertas itu tepat ke tengah meja.

Semuanya kembali tergelak melihat wajah Tao yang sudah memerah karena menahan malu. Krystal membuka ranselnya dan mengambil tissue basah untuk Tao sambil menahan tawa.

Gomawo, Krys,” ucap Tao sambil mengambil tissue basah tersebut dan mendelik kejam kepada teman-temannya.

Setelah Tao selesai membersihkan make-up-nya, dia segera mengambil alih bekas botol air mineral yang sejak tadi mereka jadikan alat undi.

“Siap? Sijak!” Tao memutar botol tersebut bertepatan dengan kata terakhir yang dia ucapkan. Semua orang menahan napas ketika botol itu hampir berhenti. Sembilan orang yang lain langsung menghembuskan napas lega ketika botol tersebut akhirnya berhenti dan tidak tertuju pada mereka, melainkan tertuju pada Krystal.

Truth or dare?” tanya Chen langsung.

Krystal berpikir sejenak sambil menggigit bibir bawahnya, “Kalau aku memilih dare. Aku pasti akan dikerjai habis-habisan,” batinnya.

Truth!” ujar Krystal mantap.

Mereka semua kini sibuk mencari pertanyaan yang bagus untuk Krystal. Tapi, tiba-tiba terdengar suara lembut Ji-eun, “Siapa orang yang paling kau sayangi?”

“Keluargaku,” jawab Krystal polos.

Aish, aniya! Itu berarti banyak orang. Seseorang.” Ji-eun mencoba menjebak Krystal.

“Jessica Eonni!” Krystal berkata pasti.

Semua orang langsung menghembuskan napas kecewa.

Yaa! Ji-eun-ah! Pertanyaan itu tidak seru sama sekali!” Chen memprotes.

“Aku pikir dia akan menjawab Kai,” ujar Ji-eun pelan namun mampu membuat Krystal dan Kai membelalakan mata mereka.

Aish!Mwoya? Kita, kan, hanya berteman. Betul, Krys?” bantah Kai sambil meminta persetujuan Krystal.

Krystal tidak menjawab. Dia hanya menatap Kai yang duduk di sampingnya dengan teliti. Meskipun Kai membantah, entah kenapa gadis itu bisa merasakan dia berbohong. Krystal bisa merasakan ada getar kesedihan dari suara Kai.

Lay yang merasa keadaan mulai canggung langsung mencoba mengambil alih, “Ayo kita mulai lagi! Krys, kau putar botolnya!”

Krystal mengalihakan pandangannya dari Kai dan menerima botol tadi dari Lay. Tanpa banyak bicara, Krystal langsung memutar botol tersebut.

“KAIII!!!! Akhirnya!!!!” Semua orang beseru bahagia saat botol itu berhenti, sedangkan Krystal menatap mereka bingung.

“Kai selalu lolos dari permainan ini,” bisik Ji-eun pada Krystal. Krystal mengangguk mengerti sambil membulatkan mulutnya.

Sebenarnya Krystal sangat mengenal sembilan orang yang ada dihadapannya dan sangat mengenal permainan ini. Tapi, Krystal tidak bisa mengingatnya. Alhasil, Ji-eun dan Kai sejak tadi selalu membisikan sesuatu jika melihat Krystal kebingungan.

Truth or dare?” Lay mengajukan pertanyaan.

Truth!” jawab Kai sambil tersenyum santai.

Semua orang kembali sibuk berpikir.

“Apa hal yang paling kau ingat dan hanya kau lakukan satu kali selama hidupmu?” tanya Tao dengan mata berbinar.

“Ini baru namanya pertanyaan!” Chen menyindir Ji-eun. Ji-eun memberengut karenanya dan menyebabkan Chen mendapat tatapan keji dari Lay.

Kai sedang menautkan alisnya sambil berpikir keras.

“Hal yang paling aku ingat adalah, aku pernah memberikan sebuah cincin berbentuk bintang untuk gadis yang paling aku sayangi.”

Semua mata kini tertuju pada Krystal. Walaupun mereka tidak tahu pasti siapa gadis yang menerima cincin itu, tapi mereka tahu bahwa gadis yang paling Kai sayangi adalah Krystal.

“Siapa gadis itu?” tanya Ji-eun.

Mwoya? Kenapa kau menambah pertanyaan!” Kai protes sambil mengibaskan tangannya, “sudah lupakan! Giliranku yang memutar botol.”

Krystal kembali memperhatikan botol yang baru saja diputar Kai. Kali ini, pikirannya jadi ikut berputar. Ikut berputar karena ada sesuatu yang menelusupi jiwanya saat mendengar pernyataan Kai tadi.

Cincin bintang?” batinnya.

Yaa! Aku belum mendengar cerita langsungmu kenapa kau bisa kenal dengan Suzy!” Siwon menyikut Minho pelan. Mereka baru saja keluar dari apartemen dua gadis yang sedang dekat dengan mereka. Yoona dan Suzy.

“Dia teman sekelasku,” jawab Minho malas.

“Lalu kenapa kau bisa dekat dengannya? Sejak kapan kau suka mengantar dia pulang?”

Hyeong ingat tidak saat aku pulang dengan tangan diperban?”

Siwon menengadahkan kepalanya sambil mengingat-ingat, “Ah, iya aku ingat! Saat Krystal mengantarkan ransel-mu, kan?”

Minho mengangguk, “Pagi harinya, aku menolong Suzy.”

 

Flashback on

Minho baru saja turun dari bus ketika seorang lelaki tua menghampirinya.

“Chogiyo, hansaeng! Apa kau tahu alamat ini?” tanya lelaki tua itu sambil memberikan secarik kertas kepada Minho. (Murid.)

“Ah!” Minho langsung mengenali alamat itu. Itu adalah alamat sebuah apartemen mewah yang memang terletak tidak terlalu jauh dari sekolahnya, “Harabeoji, mau saya antar?” tanya Minho.

Lelaki itu mengangguk senang. Minho kemudian mengimbangi langkah lebarnya dengan langkah pelan lelaki itu.

“Kakek mau menemui siapa?” tanya Minho untuk memecah kecanggungan.

“Cucuku. Dia tinggal disana.”

Minho mengangguk mengerti dan melanjutkan langkah dalam diam hingga akhirnya mereka sampai di depan apartemen tersebut.

Aigoo, kalau tahu sedekat ini, kau tidak perlu mengantarku,” ujar lelaki itu sambil menepuk pelan bahu Minho. Minho hanya tersenyum sambil membungkukan badan.

Tidak apa-apa. Kakek perlu saya antar sampai ke atas?”

“Aniya. Pergilah, nanti kau terlambat. Terimakasih, ya!

Minho langsung undur diri dan berjalan kembali menuju depan sekolahnya. Beberapa meter sebelum Minho sampai di zebra cross, dia melihat Suzy baru turun dari bus dan hendak menyebrang. Tapi tiba-tiba ada sebuah sepeda motor melaju kencang sambil menekan klakson, padahal lampu lalu lintas sedang berwarna merah.

“AWAAAAS!!!!”

Tanpa pikir panjang, dia berteriak lantang dan berlari sekuat tenaga untuk menarik Suzy. Tubuhnya oleng ketika dia berhasil menarik Suzy dan menyebabkan mereka mendarat di aspal.

“Suzy-ya, gwenchana?”

Suzy sudah akan menjawab ketika tiba-tiba merasakan ngilu di kakinya. Minho melirik kaki gadis itu dan langsung membopong Suzy tanpa mempedulikan tangannya yang terluka akibat bergesekan dengan aspal.

Flashback end

“Itulah kenapa aku merasa bertanggungjawab atas apa yang terjadi padanya. Kakinya terkilir gara-gara aku.”

“Ah, keuraeyo?”

“Iya, dan ternyata apartemennya dekat dengan apartemen kita. Jadi, aku putuskan untuk pergi dan pulang bersamanya. Tapi baru hari ini, karena dia baru masuk lagi hari ini.”

“Aku pikir kau benar-benar berpacaran dengan Suzy. Aku sudah jarang mendengarmu pergi bersama Krystal sekarang.” Siwon memberi tanggapan.

Minho tidak menjawab, dia hanya melanjutkan langkahnya sambil memperhatikan jalanan di depannya.

“Kau menjauhinya?” tanya Siwon.

“Siapa?”

“Krystal.”

Minho mendesah, “Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya menjauh. Tapi tiba-tiba saja terasa ada jembatan diantara kami setelah kejadian itu.”

“Setelah kejadian itu atau setelah Kai muncul?”

Minho mengedikkan bahu dan langsung mendapat tamparan pelan di belakang kepalanya seperti biasa.

Hyeong! Lama-lama aku  bisa bodoh jika terus Hyeong pukul seperti itu!”

Yaa! Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi, kan? Itu berarti kau yang menjauhinya!” Siwon berkata tanpa memperdulikan protes Minho.

Minho tersentak. Dia ingin membantah. Tapi, kata ‘tidak‘ yang seharusnya dia ucapkan hanya sampai di ujung lidah.

Sambil menelan air liurnya, dia mengakui bahwa kalimat kakaknya barusan adalah benar.

Dia menjauhi Krystal. Entah apa sebabnya.

Ice coffee  yang tadi dibelinya baru saja tandas dia minum ketika dia mendengar langkah kaki Jessica mendekat dibelakangnya.

Hari ini, Jessica memaksa Krystal untuk ikut dengannya ke pusat perbelanjaan. Jessica ingin Krystal memilih gaun untuk acara prom nite sekolah Krystal yang akan tiba tiga minggu lagi.

“Krys, kau lebih suka yang mana? Ini atau ini?” Jessica mengacungkan sebuah gaun mini berwarna kuning soft di tangan kirinya dan gaun panjang berwana hijau tua di tangan kanannya.

“Warnanya terlalu mencolok,” jawab Krystal sesaat setelah melihat kedua gaun tersebut.

“Ah, molla!” Jessica melempar kedua gaun itu tepat ke pangkuan Krystal, “Kau pikir dengan kau terus memperhatikan orang-orang diluar sana, kau akan menemukan gaun untuk pesta prom-mu?” omel Jessica sebal. Sejak tadi, hanya dia yang sibuk mencari gaun untuk adiknya itu, sedangkan Krystal sendiri hanya asik memandangi orang-orang yang hilir-mudik dari balik jendela sebuah butik terkenal milik kakak kelas Jessica.

Krystal baru saja akan menjawab ketika melihat Lee Yeon-hee, pemilik butik tersebut, keluar dari ruangan khusus yang biasa menjadi tempat dimana gaun-gaun spesial disimpannya. Dia membawa sebuah gaun selutut lengan panjang berwarna ungu tua dengan lingkar leher yang tinggi dan bagian punggung yang sedikit terbuka. Sederhana namun terlihat begitu menawan.

“Coba pakai yang ini. Aku yakin ini pas untukmu,” ujar Yeon-hee sambil memberikan gaun itu pada Krystal dan mendorongnya masuk ke fitting room.

Krystal sempat melirik kakaknya yang sudah tersenyum senang ketika melihat gaun tersebut sebelum dia memasuki fitting room.

“Besok? Kemana?”

Iya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang sangat penting untukku. Kau bisa?” tanya Donghae.

Jessica memandangi dua tiket pertunjukan yang baru saja dia beli tadi siang sambil menggigit bibir bawahnya bingung.

Jess?

Ne?

Bagaimana?

“Hmm, arasseo, ” jawab Jessica pelan.

Lama hanya terdengar suara napas teratur Donghae di ujung telepon.

Oppa? Wae geurae?

Kau.. tidak mau pergi?” tanya Donghae hati-hati.

Jessica langsung tersentak, “Aniya. Kenapa Oppa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Jawabanmu seperti seseorang yang terpaksa.

“Maaf, aku sedang menggambar. Jadi mungkin terdengar seperti terpaksa,” elak Jessica lalu menyimpan kedua tiket tadi ke meja rias.

Aaaah, aku pikir kau tidak ingin pergi,” ujar Donghae sambil tertawa.

“Tentu saja aku mau. Oppa besok mau menjemput jam berapa?”

Mungkin sekitar jam 9. Oh, iya. Kau jangan memakai high heels, ya!

Arasseo,

Ya sudah, kau lanjutkan tugasmu. See you tomorrow, honey. I love you.

Jessica tersenyum kecil sebelum menjawab, “I love you too.

Setelah sambungan telepon itu terputus, Jessica kembali mengambil tiket pertunjukan tadi.

Niatnya menelpon Donghae tadi sebenarnya untuk mengajak kekasihnya itu menonton pertunjukan teater besok. Tapi ternyata Donghae sudah mempunyai rencana lain untuk mereka.

Jessica mendongak ketika mendengar suara pintu kamar dibuka. Dilihatnya Krystal masuk sambil membawa dua gelas jus jeruk.

Krystal memberikan salah satu gelas untuk Jessica sambil menatap kakaknya itu heran.

“Kenapa wajah Eonni seperti itu?”

“Donghae Oppa besok mengajakku pergi. Padahal tadi aku baru saja membeli dua tiket ini,” Jessica mengacungkan kedua tiket pertunjukan teater tadi pada Krystal.

Krystal tertawa, “Pertunjukan bisa ada lagi lain kali.”

“Tapi tiketnya sayang,” ucap Jessica seperti anak kecil, “Ah, iya. Kau saja yang menontonnya! Bagaimana?”

“Aku?”

“Krys..” Jessica mengguncang pelan bahu Krystal yang masih lelap tertidur.

“Hmmm..” Krystal menjawab tanpa membuka kelopak matanya.

“Sudah setengah 9. Ayo bangun!”

Krystal membuka matanya malas sambil menguap lebar, “Eonni pergi sekarang?” tanyanya ketika dia melihat Jessica yang sudah berpakaian rapi dan modis seperti biasanya. Hanya satu yang berbeda, kedua kakinya tidak dialasi sepasang high heels. Melainkan sepasang sepatu booth.

“Tinggal menunggu Donghae Oppa menjemput. Kau jadi menonton dengan siapa?”

Krystal menggeleng, “Molla.

Kemarin Krystal memang menerima tiket yang ditawarkan Jessica. Tapi dia belum tahu akan pergi dengan siapa.

“Ajak Minho saja kalau begitu,” ujar Jessica ringan.

Krystal terdiam beberapa saat, “Sepertinya dia sibuk.”

“Apa yang biasa dia lakukan hari minggu seperti ini? Paling-paling dia pergi ke minimarket nanti siang.” Jessica tertawa mendengar ucapannya sendiri. Tawanya langsung terhenti saat mendengar suara klakson mobil dari luar. Jessica berjalan menghampiri jendela dan menyibak tirainya. Dilihatnya Ford Kuga silver milik Donghae terparkir manis tepat di depan pintu rumahnya.

“Donghae Oppa sudah menjemput. Aku pergi dulu, ya! Cepat mandi dan telepon Minho! Bye, Krys!”

Krystal hanya memandangi kepergian kakaknya dengan tatapan kosong. Beberapa saat kemudian, terdengar suara mesin mobil yang menjauh.

Krystal mengambil ponsel yang dia simpan di nakas kayu tepat di samping tempat tidur. Dia membuka menu kontak dan mengetik sebuah nama.

Krystal tidak langsung menekan tombol hijau saat menemukan nama tersebut. Dia malah menggigit ujung ponselnya. Bingung apa yang harus dia lakukan. Krystal kemudian melirik meja belajarnya, tempat Jessica meletakan dua tiket pertunjukan itu semalam.

Dalam keadaan setengah yakin, Krystal akhirnya menekan tombol hijau tersebut.

Minho baru selesai mandi dan sedang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk ketika melihat pantulan ponselnya yang menyala di cermin. Dia membalikan badan dan berjalan menuju tempat tidurnya untuk mengambil ponsel tersebut. Kedua alisnya langsung bertaut ketika melihat nama yang tertera disana.

Minho menyimpan handuknya dan mengangkat telepon tersebut.

Yeoboseyo?

Oppa, sebenarnya kita mau kemana, sih?” tanya Jessica gusar ketika dia melihat sebuah bukit yang berada tepat di hadapannya.

Donghae tidak menjawab, dia hanya menuntun gadis itu untuk ikut naik bersamanya. Tangan kirinya mengenggam sebuah buket bunga yang tadi khusus dia rangkai sendiri sebelum menjemput Jessica.

Setelah beberapa menit menaiki bukit tersebut. Jessica melihat hamparan rumput hijau dengan angin sepoi-sepoi. Jessica langsung menutup matanya dan merentangkan tangan, merasakan angin tersebut menelusupi tubuh dan membuat rambutnya yang dibiarkan tergerai berkibar.

Ketika dia membuka matanya, dia melihat Donghae sudah berada di ujung bukit. Disana terdapat sebuah batu nisan besar. Jessica mematung saat Donghae menyimpan buket bunga yang tadi dibawa namja itu disana lalu bersujud memberi hormat. Jessica tidak mendekat, dia hanya memandangi Donghae dari tempatnya tadi berdiri. Lama dia melihat Donghae memejamkan mata, seperti sedang berdoa.

Setelah Donghae membuka matanya, dia melirik Jessica dan tersenyum lembut. Dia menggerakan tangannya, memberikan isyarat agar Jessica mendekat.

Perlahan, gadis itu melangkahkan kakinya. Dia sudah bisa menebak itu makam siapa. Dua bulan setelah mereka resmi berpacaran, Donghae menceritakan bahwa ayahnya sudah meninggal. Melihat Donghae yang tadi bersujud memberikan hormat dengan sorot mata sedih dan berdoa dengan khusyuk, membuat Jessica yakin bahwa makam itu adalah makam ayah Donghae.

Jessica berdiri tepat di belakang kekasihnya. Jujur, dia sangat gugup saat ini.

“Ayah, sepertinya dia takut pada ayah,” ujar Donghae sambil menarik Jessica agar berada sejajar dengannya.

“A.. an.. aniya!” Jessica menjawab sambil memukul Donghae pelan, membuat namja itu tertawa.

Abeoji, ini Jessica. Gadis yang sering aku ceritakan.” Donghae berbicara pada batu nisan tersebut. Seolah-olah dia tengah berbicara langsung pada sang ayah.

Annyeong haseyo, Jessica imnida,” sapa Jessica sambil memberikan hormat.

“Maafkan aku karena baru mengenalkannya pada ayah sekarang. Bagaimana? Dia secantik yang aku bicarakan, bukan?” tanya Donghae lagi pada batu nisan tersebut.

Jessica tersenyum malu sekaligus tersentuh. Baru kali ini Jessica dibawa oleh seseorang untuk diperkenalkan pada orangtua orang tersebut. Walaupun tidak bertemu secara langsung. Biasanya dialah yang membawa mereka pada ayah dan ibunya.

Jessica melirik Donghae yang kini melingkarkan tangannya ke bahu Jessica.

“Kalau Abeoji ada disini dan melihatmu sekarang, beliau pasti akan memujiku karena mendapatkan gadis secantik dirimu. Dia pasti bangga padaku. Betul, kan, Yah?”

Ajusshi pasti bangga pada Oppa. Bukan karena adanya aku. Tapi karena Oppa menjadi anak laki-laki yang kuat.”

Donghae tertawa, “Abeoji lihat? Dia lebih jago merayu ketimbang aku!”

Jessica mendengus tapi kemudian tertawa juga.

“Aku tidak merayu! Aku bicara kenyataan!” bantah Jessica.

Donghae berhenti tertawa, “terimakasih,” ucapnya lembut dan kembali memejamkan mata sambil menggenggam erat tangan Jessica. Jessica membalas genggaman tersebut sambil ikut menutup matanya.

Ahjussi, meskipun aku baru kali ini bertemu dengan Ahjussi, aku senang sekali. Aku mau berterimakasih karena Ahjussi sudah membesarkan Donghae Oppa hingga menjadi seperti ini. Laki-laki yang baik dan juga bertanggungjawab. Aku harap Ahjussi merestui kami. Lain kali, aku akan sering datang kesini. Sekali lagi terimakasih, Ahjussi.

Jessica membuka mata dan menatap Donghae yang ternyata sudah menatapnya lebih dulu dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Apa?” tanya Jessica.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Donghae. “Kita pergi sekarang?”

“Kemana? Kenapa buru-buru?”

“Aku mau mengajakmu ke tempat lain.”

Krystal melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul 13.25. Pertunjukan sudah mulai 25 menit yang lalu.

Krystal menghentakkan kakinya kesal, “Dia kemana, sih?” omelnya.

Omelan tersebut bekerja layaknya mantra. Beberapa menit kemudian, Krystal melihat namja yang sejak tadi ditunggunya muncul tepat di pintu gerbang gedung pertunjukan. Setelah melihat keberadaan Krystal, dia berlari untuk menghampiri Krystal.

Mian. Aku terlambat,”

Suzy keluar dari kamarnya ketika dia mendengar suara Yoona yang tengah tertawa dari ruang tengah. Dia melihat Yoona sedang bercanda dengan seseorang disampingnya. Tawa Yoona langsung berhenti ketika dia menyadari kehadiran Suzy.

Annyeong, Suzy-ya!” sapa namja yang duduk di sebelah Yoona.

Annyeong, Siwon Oppa!” balas Suzy sambil menyunggingkan senyumnya.

“Baru bangun?”

“Hehehe… Iya.” Suzy menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Merasa canggung sekaligus malu karena baru bangun disaat matahari sudah mencapai tempat tertingginya.

“Aku pikir kau ikut pergi dengan Minho.”

Ne? Memang Minho Oppa pergi kemana?” tanya Suzy bingung. Seingatnya, kelas 3-B sedang tidak mengadakan acara apa-apa hari ini.

“Tidak tahu. Aku tidak bertanya banyak karena buru-buru kesini. Dia hanya bilang kalau dia akan pergi dengan teman-temannya,” jawab Siwon sambil menggambil penggaris, bersiap melanjutkan tugas tugas rendering-nya.

Suzy terdiam, “Apa mungkin dia pergi dengan Krystal?” batinnya.

“Paling-paling dia pergi dengan teman-teman lelakinya. Sudah jangan berprasangka buruk padanya!” goda Yoona yang langsung disambut tawa Siwon.

Anieyo! Aku tidak berpikir macam-macam.  Kalaupun dia pergi dengan teman perempuannya juga tidak apa-apa. Aku, kan, bukan siapa-siapanya dia.” Suzy menjawab pura-pura acuh.

“Kau tidak pandai berbohong padaku, Suzy-ya!” Yoona mencibir, “Sudah sana sarapan dulu! Di meja makan ada sandwich. Siwon-ssi membawakannya tadi.”

Ne.” Suzy menjawab singkat dan melangkahkan kakinya ke dapur sambil terus memikirkan kemana perginya Minho.

Suho sedang berkutat dengan laptop-nya ketika dia mendengar bel berbunyi. Dia langsung berlari turun untuk membukakan pintu. Tapi sesampainya di bawah, ternyata ibunya sudah membukakan pintu lebih dulu dan mempersilahkan orang yang tadi membunyikan bel untuk masuk.

“Suho-ya!!” Ibu Suho berteriak sambil menengadah ke atas untuk memanggil Suho.

Mwoya Eomma?” Suho yang sudah berada di anak tangga paling bawah bertanya pada ibunya sambil tersenyum kocak.

“Ahahaha.. Eomma pikir kau masih di atas. Ya sudah, Eomma masuk dulu,”

Suho mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu dan tersenyum senang ketika melihat orang yang tadi ditunggunya sudah datang.

“Kenapa kau datang lama sekali!” Suho malah mengomeli orang tersebut.

“Rumahmu jauh! Aku juga baru kali ini datang kesini. Sudah bagus aku mau datang!” balas orang tersebut sambil mendelik Suho kesal.

“Hahaha.. Aku bercanda Minho-ya. Kau memang sedang tidak ada acara hari ini?”

“Tidak. Saat kau menelepon, aku baru saja selesai mandi. Tapi tidak tahu mau pergi kemana,” jawab Minho.

Suho meneleponnya tadi pagi. Dia meminta Minho datang ke rumahnya karena ada suatu masalah editing yang berkaitan dengan film dokumenter kelas mereka.

“Kau sudah mandi jam segitu? Aneh sekali. Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak akan mandi seharian jika tidak kemana-mana.”

Yaa! Jangan bilang kalau hari ini kau belum mandi?” Minho menunjuk Suho keji.

“Tentu saja sudah. Tadi aku mengantar Eomma ke supermarket.”

“Oh begitu. Baguslah. Ya sudah, ayo kita bereskan film dokumenter itu! Apa yang tidak bisa kau kerjakan?”

“Aku selalu gagal memasukan backsound.”

Hah?” Minho menatap Suho tak percaya, “Kau menyuruhku jauh-jauh kesini hanya untuk memasukan lagu?”

Suho mengangguk polos.

Aish!” Minho merutuk yang malah membuat Suho tertawa.

Ford Kuga Silver itu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang berada di daerah Mokpo.

Oppa, ini kan…” Jessica tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat rumah itu. Dia pernah melihat sebuah foto di ponsel Donghae yang mengabadikan momen Donghae, kakaknya, dan kedua orangtua mereka tepat di depan rumah ini. Saat Jessica menanyakan foto itu diambil dimana, Donghae menjawab bahwa itu adalah rumahnya.

Donghae tersenyum, “Ayo kita keluar!” ajaknya.

Lagi-lagi Jessica merasakan kegugupan seperti saat di makam ayah Donghae tadi.

Donghae yang sudah berada di luar mobil menatap Jessica yang tidak bergerak sama sekali. Namja itu kemudian berjalan ke pintu tempat Jessica duduk dan membukanya.

Wae? Kaja!

Donghae langsung menarik pelan Jessica untuk segera keluar dari mobil. Setelah Jessica turun, mereka berjalan beriringan menuju rumah tersebut. Sesampainya di depan pintu, Donghae memencet beberapa tombol pada kunci elektronik yang berada disana. Terdengar bunyi ‘klik’ pelan dan Donghae membuka daun pintu tersebut.

Jessica langsung disuguhkan dengan ruang tamu yang tertata rapi saat memasuki rumah tersebut. Kesederhaan langsung terpancar dari sana karena ruangan itu didominasi dengan warna coklat.

Donghae membuka sepatunya dan memakai sandal rumah yang biasa dia pakai. Dia kemudian mengambil sepesang sandal rumah berwarna merah muda yang sepertinya baru.

“Pakai ini!” perintahnya sambil meletakan sepasang sandal itu tepat di depan kaki Jessica.

“Ini baru?” tanya Jessica.

Donghae mengangguk, “Tidak mungkin, kan, kalau kau memakai sandal kakakku?”

Jessica tertawa dan langsung menutup mulutnya, “Maaf.”

“Tidak apa-apa, Eomma pasti sedang dibelakang. Ayo kita kesana!”

Donghae berjalan lebih dulu lalu diikuti Jessica. Jessica memandang sekeliling dan kagum dengan tatanan sederhana yang terpancar dari setiap sudut rumah. Tapi ada beberapa sudut dimana Jessica bisa merasakan kesepian disana.

Mereka sampai di taman belakang. Donghae tersenyum senang ketika melihat seorang wanita tengah duduk di meja taman sambil menggunting tangkai tangkai bunga mawar.

Eomma!”

Jantung Jessica langsung berdegup kencang seperti habis berlari puluhan kilometer mendengar panggilan Donghae. Dia meraih tangan Donghae, menahannya untuk mendekati wanita yang dia panggil ibu itu. Donghae malah tersenyum dan menarik Jessica untuk ikut bersamanya.

“Oh, Donghae-ya. Kau sudah pulang?” tanya wanita tersebut sambil berbalik. Betapa terkejutnya dia ketika melihat anaknya tidak pulang sendirian, “Nugueyo?” lanjutnya sambil menatap Donghae ingin tahu.

Annyeong haseyo. Jessica imnida,” Jessica menyapa nyonya Lee sambil tersenyum kikuk.

“Aaaaaaaah,” nyonya Lee langusng tersenyum senang, “Ini? Jessica yang ini?”

Donghae menjawab pertanyaan ibunya dengan anggukan pasti.

Jinjja yeppeota.”

Ahahaha.. Anieyo,” jawab Jessica sungkan.

Eomma sedang mengurus tanaman lagi? Eiii, sudah aku bilang jangan sering-sering berada diluar. Udara sedang tidak bagus akhir-akhir ini.” Donghae mengoceh sambil memberi tatapan tidak suka. Dia menarik ibunya untuk berdiri dan menuntun beliau untuk masuk ke rumah.

Eomma baru keluar sebentar,” bantah nyonya Lee sambil mengapit lengan Jessica yang langsung kaget bukan main.

“Bagaimana mungkin baru keluar sebentar tapi sudah ada belasan tanaman yang Eomma urusi?” Donghae menunjuk belasan pot kecil berisi bunga-bunga yang sudah nyonya Lee potong batangnya.

Aigoo, lihatlah, Jess! Anak macam apa dia? Dia sering memarahiku seperti itu,” adu nyonya Lee pada Jessica.

Aish, bukan begitu! Eomma, kesehatan Eomma sedang tidak baik. Jika ditambah-”

Arasseo, arasseo! Kau benar-benar cerewet!” Nyonya Lee memukul pelan bahu Donghae dan membuat Jessica tertawa. Sungguh pemandangan yang indah melihat mereka saling debat seperti itu. Jessica benar-benar melihat sisi kedewasaan Donghae hari ini.

“Makan dulu, yuk?”

Krystal memalingkan wajahnya untuk menatap orang yang baru saja mengajukan pertanyaan tersebut.

“Kita belum makan siang, Krys. Ya?” bujuknya.

“Kemana?” tanya Krystal enggan.

“Makan ramyeon bagaimana? Di dekat sini ada kedai ramyeon yang biasa kita kunjungi dulu.”

Meskipun enggan, Krystal tidak bisa berkutik ketika dia merasakan perutnya meronta-ronta. Dia akhirnya mengangguk dan mereka berjalan pelan menuju kedai yang ternyata hanya terletak beberapa ratus meter dari tempat pertunjukan tadi.

Sesampainya disana, mereka memilih tempat yang berada di sudut kiri kedai. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pelayan yang tadi berdiri di dekat meja kasir menghampiri mereka dengan dua buah buku menu ditangannya.

Annyeong haseyo. Silahkan,” ujar pelayan tersebut sambil menyodorkan buku menu yang dibawanya. Matanya langsung membulat ketika melihat mereka, “Oh? Kai-ssi? Krystal-ssi?”

Kai yang baru saja akan membuka buku menu ikut terkejut, “Hyu-bin Hyeong?”

“Wah, jinjja oraenmanieyo!” seru pelayan yang bernama Hyu-bin itu bersemangat.

“Iya. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Hyeong apa kabar? Tidak disangka ternyata Hyeong masih bekerja disini,” ujar Kai.

Hyu-bin mengangguk, “Tempat ini sudah seperti rumah keduaku. Krystal semakin cantik saja. Hahaha.. kalian sudah lama tidak kesini. Kemana saja?”

Krystal yang dipuji hanya tersenyum samar. Dia tidak ingat siapa namja tersebut.

“Sebetulnya dua tahun ini aku ada di Belanda. Baru sebulan kemarin aku kembali,” jelas Kai.

“Aaaaah, begitu? Jadi kalian pacaran jarak jauh? Hebat sekali masih bisa bertahan hingga sekarang.”

Kai dan Krystal sama-sama tersentak. Kai langsung melirik Krystal yang twajahnya sudah merah padam.

“A..an.. anieyo Hyeong,” Kai berusaha mengelak. Panik melihat ekspresi Krystal, “Hyeong, kami pilih makanan dulu, ya?”

“Ah, iya. Kalau sudah akan memesan, panggil aku, ya!” ucap Hyu-bin sambil kembali berjalan menuju meja kasir.

Setelah Hyu-bin menghilang dari hadapan mereka, Kai mencoba menyentuh tangan Krystal yang berada tidak jauh dari tangannya.

“Krys-”

“Jangan bicara!” ujar Krystal pelan sambil menarik tangannya. Kesal. Iya, itulah yang dia rasakan sekarang. Kesal karena lagi-lagi masalah yang tidak bisa diingatnya kembali diungkit, atau mungkin terungkit? Apapun itu, dia tetap tidak menyukainya.

Kai menelan air liurnya dan kembali tenggelam dalam buku menu. Pikirannya kacau.

Kenapa aku membawa Krystal kesini!” rutuknya dalam hati.

“Aku pulang naik bus.”

Perkataan Krystal membuat Kai yang baru saja akan menyetop sebuah taksi membatalkan niatnya.

“Ya sudah, ayo kita ke halte bus!” ajak Kai.

Mereka berjalan beriringan dalam diam menuju halte bus. Krystal sama sekali tidak mengatakan apa-apa setelah kejadian di kedai ramyeon tadi, Begitupun dengan Kai. Dia terlalu sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk memperbaiki keadaan sampai-sampai tidak sadar bahwa diamnya mereka malah membawa petaka yang lebih besar.

Tepat saat mereka sampai di halte bus, bus jurusan rumah Krystal sampai. Krystal langsung bersiap naik tapi urung dan malah berbalik untuk menatap Kai.

“Tidak usah mengantarku. Rute kita beda, kan? Terimakasih,” ujarnya pada Kai.

Kai ingin menolak, tapi dia tahu bahwa Krystal masih kesal padanya.

“Maaf,”

“Jangan dibahas. Aku pulang dulu.” Krystal menaiki bus tersebut tanpa menatap Kai lagi.

“Hati-hati, Krys! Terimakasih untuk tiket pertunjukannya.” Krystal sempat mendengar ucapan Kai sebelum pintu bus menutup.

Setelah mendekatkan dompetnya pada mesin pembaca T-money-card, Krystal duduk tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sejak dia bicara dengan Kai tadi. Orang tersebut beranjak dari duduknya dan mendekati tempat duduk Krystal.

“Krys..” panggilnya sambil menyentuh bahu Krystal. Krystal yang baru saja akan mengambil iPod-nya menoleh.

Ahjussi?

Iya. Seseorang tersbut adalah Minho. Minho tersenyum dan langsung duduk di sebelah Krystal.

“Darimana?” tanyanya basa-basi.

“Ah, itu, aku dari..” Krystal tidak mengerti kenapa dia jadi gugup seperti ini.

“Pergi dengan Kai, ya?” Minho membantu Krystal menyelesaikan kalimatnya.

Krystal mengangguk singkat, “Kau darimana? Kenapa bisa naik bus ini?”

“Aku dari rumah Suho.”

“Aaaahn begitu.” Krystal mengangguk-angguk mengerti. Memang hanya bus inilah yang menuju rumah Suho yang terletak di daerah selatan.

“Kenapa wajahmu muram seperti itu? Bukannya kau baru saja pergi dengan Kai?” tanya Minho.

Krystal tidak kaget mendengar pertanyaan Minho. Dia tahu, jika dia sedang kesal, ekspresi mukanya langsung menampakkan itu, dan Minho bukanlah lagi orang asing yang tidak mengerti ekspresi tersebut.

“Aku kesal padanya.”

“Kenapa?”

Krystal akhirnya menceritakan kejadian di kedai ramyeon tadi pada Minho.

“Bukan sepenuhnya salahnya, Krys,” Minho menasehati.

“Iya aku tahu. Tapi tetap saja aku kesal! Dia tidak punya bukti apa-apa untuk menunjukan perkataannya dan perkataan orang-orang yang tidak aku kenal sama sekali!” ujar Krystal sambil mengerucutkan bibirnya.

Buktinya hanya ada pada hatimu, Krys.” batin Minho.

Minho tersenyum lalu mengacak rambut Krystal lembut, “Ya sudah, jangan kesal lagi. Aku antar kau pulang. Nanti kita mampir ke supermaket dan membeli es krim kacang hijau.”

“Itu kan kesukaanmu!”

“Tapi kau juga suka, kan?” Minho meledek.

Aku suka karena kau suka,” jawab Krystal dalam hati.

“Hati-hati dijalan, Oppa. Terimakasih untuk hari ini.” Jessica melongokan kepalanya ke jendela mobil Dongahe dan tersenyum manis.

Donghae membalas senyum itu, “Aniya. Aku yang seharusnya berterimakasih. Ah, iya kau lupa sesuatu!”

Donghae memencet tombol kunci bagasi lalu keluar dari mobilnya. Dia berjalan ke belakang mobil dan mengeluarkan sebuah tanaman dari sana.

“Ah, iya! Hampir saja aku lupa,” Jessica menghampiri Donghae dan mengambil tanaman tersebut dari tangan kekasihnya. Tanaman bunga mawar pemberian ibu Donghae.

“Kau tahu tidak apa artinya warna ungu?” tanya Donghae ketika meneliti warna bunga mawar itu.

Jessica menggeleng, “Memang artinya apa?”

“Bunga mawar ungu itu melambangkan cinta pada pandangan pertama dan perlindungan orangtua. Jika Eomma memberikan bunga pada seseorang, pasti Eomma punya maksud tersendiri.”

Jessica termangu, tak sanggup berkata apa-apa. Hari ini dia merasa lebih banyak diam. Bukan karena kesal, tapi lebih karena tersentuh akan berbagai hal yang dilaluinya hari ini.

“Ayo sana masuk! Tolong dirawat mawarnya, ya! Oh, iya. Kalau bisa, langsung pindahkan ke pot yang lebih besar,” pinta Donghae sambil mengelus pipi Jessica lembut. Jessica mengangguk dan menatap Donghae.

Oppa, terimakasih.”

“Sama-sama. Aku pulang dulu.”

Donghae kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Sebelum dia menginjak pedal gas, dia membuka kaca mobil dan melambai pada Jessica.

Setelah mobil Donghae menghilang, Jessica masuk ke rumah dengan hati masih berdebar-debar. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Krystal dan Minho dari ruang tengah. Jessica mempercepat langkahnya dan melihat dua orang itu tengah asik tertawa-tawa karena acara reality show yang ditayangkan di televisi layar datar dihadapan mereka sambil memakan semangkuk eskrim bersama.

“Oh, Noona!” Minho menyapa Jessica ketika pandangannya tidak sengaja melihat ke arah Jessica. Jessica tersenyum dan menghampiri mereka.

“Bunga dari siapa?” tanya Krystal saat melihat tangan Jessica yang menggenggam erat pot bunga mawar tadi.

“Ibunya Donghae Oppa,” jawab Jessica sambil tersenyum simpul.

Mwo? Jadi, Donghae Oppa mengajak Eonni bertemu orangtuanya?” Krystal menatap Jessica tak percaya.

Jessica mengangguk sambil tetap menggulung senyumnya.

“Wah, daebak!

“Hehehe… kalian sedang sibuk tidak?”

“Tidak, memangnya kenapa?” tanya Krystal sambil meletakan sendok eskrimnya.

“Tanaman ini harus dipindahkan ke pot yang lebih besar. Kalau aku tidak salah, Eomma masih menyimpan beberapa pot di gudang. Bisa tidak kalau kau ambilkan? Aku mau ganti baju dulu.”

“Kalau bukan dari ibunya Donghae Oppa, Eonni pasti tidak akan mau memindahkannya,” Krystal meledek Jessica yang memang tidak pernah mau berurusan dengan hal-hal kotor, apalagi tanah.

Jessica hanya tertawa mendengar ledekan Krystal.

“Ya sudah aku ambilkan.”

Krystal kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju gudang. Jessica juga sudah beranjak dari duduknya dan bersiap ke kamar ketika dia sadar sesuatu. Dia kemudian melihat arah Krystal pergi. Adiknya itu sudah tidak terlihat.

Jessica langsung duduk di sebelah Minho, “Bagaimana pertunjukannya? Seru tidak?”

Minho mengerutkan dahi, “Pertunjukan? Pertunjukan apa?”

Giliran Jessica yang mengerutkan dahinya, “Bukannya kalian pergi menonton pertunjukan tadi siang?”

Ne? Aniya. Aku bertemu Krystal di bus.”

“Lalu Krystal menonton dengan siapa?”

“Ah, mungkin dengan Kai. Tadi saat Krystal naik bus, aku memang melihat dia bersama Kai,” ujar Minho.

“Kai? Kenapa dia pergi dengan anak itu? Aku, kan, menyuruhnya untuk pergi denganmu.”

Sesuatu menghunus hatinya ketika mendengar kalimat terakhir Jessica.

Jadi harusnya yang pergi dengan Krystal itu… Aku?” ucapnya dalam hati. “Tapi kenapa Krystal malah mengajak Kai?

Jessica kembali beranjak dari duduknya, “Aku ke kamar dulu, ya,” ujarnya.

Minho mengangguk singkat sambil terus berpikir.

Sepuluh menit berlalu dan pertanyaan itu masih tidak bisa dijawabnya. Minho akhirnya memutuskan untuk menyusul Krystal ke gudang untuk menanyakan hal tersebut.

Sesampainya di gudang, Minho melihat Krystal tengah terduduk dengan pot berukuran sedang dan sebuah kotak berada disebelah kirinya. Kotak tersebut terbuka dan memuntahkan segala isinya. Dilihat dari posisi dan keadaannya, sepertinya kotak tersebut jatuh dari rak yang berada tepat diatas kepala Krystal.

“Krys?” Minho memanggil Krystal yang sedang melihat sesuatu di tangannya. Walaupun ruangan ini sedikit gelap, Minho tahu bahwa wajah Krystal memucat.

“Krys, ada apa?” tanyanya sambil mendekati Krystal. Krystal tidak menjawab. Dia hanya memberikan apa yang tadi dilihatnya pada Minho. Sesuatu itu ternyata kumpulan foto-foto. Minho sendiri juga memucat ketika melihatnya.

To be continue🙂

Gimana? Pasti pada kesel ya lebih banyak HaeSica moment-nya disini? Hahaha mianhae, kenapa banyak HaeSica moment disini sebetulnya supaya benang merahnya tetap ada dan juga bikin kalian tambah penasaran dan tetap menunggu kelanjutannya.

Silahkan tinggalkan komentar kalian. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Kamsahamnida🙂

6 thoughts on “Music and Lyric [chap. 7]

  1. onnie tunggu aja lanjutannya deh🙂
    entah kenapa part ini agak ngebosenin, abis onnie gak begitu minat sama peran yang lain. onnie maunya kaiminstal aja😆

  2. Eonni, jujur aku kesel karena banyak moment HaeSica.. Ditambah aku ga suka sama couple itu.. Bukan ngebash loh.. dasarnya memang ga terlalu suka…

    Aku penasaran soal kotak yang diliat Krystal, apa isi kotak itu barang-barang waktu dia pacaran sama Kai? Dan apa maksudnya ingatan Krystal-Eonni bakal balik lagi dalam waktu singkat?Jadipenasaran, chap depan upload kilat

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s