The Choi’s Little Sister [Minho]


The Choi’s Little Sister|Drama, Family, Comedy|PG-13

Aku, Choi Minho, maunya jadi adiknya Choi Siwon saja, nggak perlu pake rangkap sebagai kakaknya Choi Jinri juga. Dan kalau boleh jujur, di antara kami tiga bersaudara ini, aku yang paling sial.

Author’s note: tepat sebulan setelah TCLS pertama kali terbit, kini datang bagian yang selanjutnya. Well, happy reading all~

             .          

The Choi’s Little Sister [Minho]

Choi Minho and the others Choi artist

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

“Minho ya,” panggil Siwon pada adiknya.

Orang yang dipanggil—Minho—sedang menunduk menatap koper di kakinya lama. Tampan, tinggi, tegap, dan segala hal yang mendeskripsikan kesempurnaan lain ada dalam sosok dua pemuda ini. Sang kakak berdiri membelakangi adiknya, membalikan wajah untuk memanggilnya.

“Ayo, berangkat,” ulang Siwon.

Minho mengangkat wajah. Mendengus dan nyengir kecil. “Sekarang?”

Siwon mengangguk tegas. Pemuda ini meraih gagang koper cokelatnya, berjalan lebih dulu melewati aula depan rumah megahnya menuju pintu utama.

“Hei, hyung, tunggu,” seru Minho. Ditariknya koper hitamnya mengimbangi langkah sang kakak. Minho menangkap lengan Siwon dan menghentikan langkahnya begitu sampai di depan.

“Tunggu dulu. Aku harus ucapkan salam perpisahan pada adikku tercinta,” Minho nyengir lagi.

Siwon mengangkat alis. “Sulli? buat apa?”

Minho tersenyum lebar sekali. Sangat besarnya senyum itu sampai Siwon paham. “Ah, kau mau pamer sama Sulli karena mau ke Inggris, ya?”

Minho mengangguk.

“Kalau begitu nggak perlu. Yang ada kamu nggak akan berangkat karena Sulli bakal nangis sampai rumah ini gempar. Sudah, ayo berangkat.”

“Aish, hyung. Di situlah seninya! Tangisan Sulli itu ya, wuih, dari lahir sampai sekarang nggak berubah! Seru tuh kalau direkam terus dimasukin ke youtube. Hahha!”

Kajja, Minho.”

The Choi’s Little Sister

Minho pov

CHOI Minho.

Nama yang tertulis di akte kelahiranku. Dengan nama ibu Park Bom dan ayah Choi Seunghyun. Aku dilahirkan sebagai adik Choi Siwon. Sebelum dua tahun berikutnya aku naik pangkat jadi kakaknya Choi Jinri.

Sebenarnya kalau boleh minta, aku maunya jadi adiknya Choi Siwon, nggak perlu pake rangkap sebagai kakaknya Choi Jinri juga. Atau kalau bisa aku yang jadi adiknya Choi Jinri—terus si Jinri jelek ini jadi kakakku (haha). Tapi aku nggak bisa minta.

Kalau pun di akte dan di segala dokumen lain namaku dan nama ayah ibuku dirubah, fakta bahwa aku anak kedua—dan putra terakhir Choi Seunghyun itu kenyataan. Memang begitu adanya. Mau diapain lagi coba?

Dan kalau boleh jujur, di antara kami tiga bersaudara ini, aku yang paling sial.

Ketika pembagian rapot, buktinya. Aku, Siwon hyung juga Jinri sekolah di SD yang berbeda. Eomma mengambil rapot Jinri. Appa pergi ke sekolah Siwon hyung. Sementara rapotku diambil oleh Seungri Ahjussi—sekretaris Appa.

Tahun berikutnya lebih parah. Rapotku diambil oleh Gikwang ahjussi. Oleh SATPAM!

Apa ini bukan sial namanya?

Contoh lain, ketika kami semua pergi ke acara keluarga. Ayahku anak pertama dari dua, tapi ibu anak ke empat dari enam. Jadi keluarga ini besar banget. Dan kalau semuanya ngumpul, yang pasti kita harus salam sama orang yang lebih tua, kan? waktu itu Siwon hyung udah gede, jadi semua orang hormat sama dia. Sulli masih dianggap kecil jadi dia di main-mainin. Sementara aku harus dicium sama tante-tante yang warna lipstiknya lebih merah dari apel.

Bekas lipstik itu nggak ilang sampai besok paginya coba. Bayangin! Diketawain semua sepupu, apalagi di ketawain Sulli! Ya ampun, ini Sulli—anak jelek, kecil, tengik, hidup lagi—yang ngetawain aku, cowok paling keren di sekolah. Ya Tuhan. Dunia ini gila.

Sejak saat itu aku nggak pernah dateng kalau ada acara keluarga. Kecuali tante-tante itu nggak pake lipstik lagi—yang rasanya nggak mungkin terjadi.

Aku mulai merasa jauh dari keluarga besar asal ibu—yang banyak jumlahnya itu. Jelas terlihat dariku yang jarang mengunjungi mereka. Satu-satunya sepupu yang dekat denganku adalah Sooyoung noona—yang tinggal di rumah sebelah. Selain bahwa ibunya Sooyoung noona nggak suka nyiumin aku (dan lipstiknya nggak tebel).

Aku juga merasa semakin jauh dengan Appa.

Siwon hyung anak pertama. Appa mempersiapkanya untuk menjadi penerus bisnis sejak kecil. Diajak ke kantor setiap ada kegiatan penting, apabila ada kolega yang datang ke rumah, yang diperkenalkan pertama selalu Siwon. Sementara batang hidungku tidak pernah muncul di pertemuan begituan sekali pun.

Hal itu otomatis memperkecil jarakku dengan Appa. Selain karena pria itu juga jarang ada di rumah.

Awalnya aku biasa saja. Senang malah—mengetahui bahwa aku tak kan meneruskan bisnis rempong ayah. Tapi lama-kelamaan aku kesal. Sekarang justru sudah berubah jadi jengkel.

Appa selalu sibuk bicara dengan Siwon hyung. Mengenai ini, itu, semuanya. Apabila di rumah, yang diajaknya bicara selalu Siwon hyung. Siwon hyung. Siwon hyung. Choi Siwon.

Jadi Choi Minho ini siapa? Rasanya aku masih jadi anaknya Choi Seunghyun juga.

Atau jangan-jangan dia benci padaku? Eh, ini buktinya.

Hari itu Minggu di awal musim gugur, ketika aku kelas lima, selang beberapa hari setelah Jinri mendeklarasikan namanya menjadi Sulli. Setiap hari Minggu malam Senin, keluarga kami wajib mengikuti kegiatan makan malam bersama. Soalnya di hari lain Appa dan Eomma selalu sibuk, jadi hanya inilah kesempatan kami untuk mengobrol ngorol-ngidul.

“—Terus Soohee eonni bilang dia akan manggil aku Sulli, dan janji seumur hidup nggak akan manggil aku bisul,” suara Jinri mengikutiku dari sebelah kiri. Aku baru saja berjalan ke luar kamar menuju ruang makan dan anak ini ngekor di sebelahku.

“Cuman Gikwang ahjussi yang keras kepala. Sudah kukasih tahu sampai berbuih, dia tetep nolak. Gimana caranya supaya dia mau manggil aku Sulli, ya, oppa?”

Turun dari tangga menuju lantai bawah. Aku dan Jinri melangkah bersamaan masuk ke ruang makan. “Aku sudah sogok dia supaya manggil kamu bisul seumur hidup,” jawabku asal.

Jinri berhenti berjalan dan memukul lenganku pelan. “Ish, oppa! Kan sudah kubilang bisul itu nggak ada. Sekarang adanya Sulli. S-U-L-L-I” ejanya. Bodohnya Jinri. Dunia juga tahu Gikwang ahjussi nggak pernah manggil Jinri bisul.

Aku lalu menarik kursi dan duduk, begitu juga Jinri. “Hei, Siwon oppa. Hai, Appa” panggil Jinri detik berikutnya. “Ssul,” sahut Siwon hyung. “Bagaimana sekolahmu, Jinri?” tanya Appa.

Jinri dan aku duduk bersebelahan. Di seberang kami duduk Siwon hyung dan satu kursi di sebelah kanannya kosong, kursi Eomma. Di hadapan itu semua, Appa duduk, memimpin makan.

Aku tak habis pikir, meja makan warna emas ini besar dan panjang. Tapi kursinya hanya terdapat tujuh (biasanya Bibi Gina dan Sooyoung noona juga ikut makan) dan hanya kami sekeluarga inilah yang duduk di sini. Jadi untuk apa dibuat—dibeli meja sepanjang ini? buang-buang uang saja.

“Baik,” senyum Jinri. “Ah, iya. Sekarang namaku Sulli, Appa. Choi Sulli” jelasnya.

Appa mengangkat alis heran. “Oh? Begitu, ya?” reaksinya singkat. “Memangnya ada apa dengan Choi Jinri?”

Aku menggerling Siwon hyung singkat dan nyengir kecil.

“Tidak ada apa-apa sih dengan Choi Jinri. Hanya saja—“

“—Jinri tidak suka namanya. Dia tidak suka nama Choi Jinri pemberian Appa.” Potongku. Baik Jinri atau pun Siwon hyung bersamaan menatapku.

“Tidak, Appa! Bukan begitu. Aku suka kok! Hanya saja… Minho oppa,” gadis ini menatapku ragu. Mana berani dia membuka kedok sendiri kalau sekarang dia punya bisul. Aigoo, kasian anak ini.

“Awas-awas panas,” Eomma datang dari dapur dengan semangkuk pasta tom yam buatanya sendiri. Eomma memang sengaja memasak sendiri sekali seminggu, karena di hari lain ia tidak bisa memasak untuk anaknya. Begitu sih yang dibilangnya.

“Wanginya sedap,” puji Siwon hyung. Eomma terkekeh sementara membuka celemek dan menaruhnya di rak dekat meja. Ketika wanita itu duduk, Hara ahjumma dan Jiyeon noona datang membawa lauk lain di atas meja.

Kami berdoa bersama sebelum memulai makan. Jangan bertanya, tapi di sini kami makan sambil berkoar.

“Eomma, kau tau tidak,” ujarku sok misterius. Tanganku meraih tom yam yang mengepul tersebut dan menuangkan kuahnya ke dalam mangkuk. Kulihat Jinri kesulitan melakukannya, jadi kutarik tom yam itu ke arah Jinri.

“Hmn?” sahut Eomma. “Kemarin aku dan Jinri main sepeda. Terus Jinri jatuh dan—”

“—NGGAK! Aku nggak punya bisul!” pekik Jinri. Gadis itu melirik Eomma panik. “Jangan percaya kata Minho oppa, Eomma. Dia bohong, aku nggak punya bisul!”

Aku menaruh sendok di meja dan terkikik. Anak ini lucu banget, aku bahkan belum ngomong apa-apa.

“Huh? siapa yang bilang kamu punya bisul, Jinri?” ujarku sok polos. Kutatap wajah Jinri dengan alis terangkat.

Jinri menganga, sadar baru ditipu. Gadis kelas empat SD ini mengangkat tangan hendak memukulku—kebiasanya jika kesal, memukulku, melempariku. Dan tanganku tanpa sadar terangkat menahanya, efek terlalu sering dipukul Jinri.

Tapi tangan Jinri—atau tanganku?—menyenggol sendok dan mangkuk tom yam yang tadi kutarik mendekat ke arah Jinri. Dan—

PRANG!

“JINRI!” seruku. Suara mangkok yang pecah di lantai. Tapi bukan itu masalahnya. Tom yam yang masih panas itu tumpah ke piama Jinri. TUMPAH KE PIAMA JINRI!

Ya ampun, apa yang kulakukan?

“Jinri ya,” panggilku. Menendang kursi menjauh dan memelototi sekujur piamanya yang basah. Kusentuh bajunya itu. Panasnya luar biasa. Ya Tuhan, Jinri harus ganti baju. Ia harus ganti. Cepat.

“Ya ampun, anakku!” pekik Eomma. Dihampirinya Jinri dan dibukanya kancing piama Jinri. “Ayo dibuka, buka bajunya, nak. Hara ahjumma! Tolong bawakan handuk!” paniknya.

“Ah, ah, Eomma, panas. Oppa… panas,” keluhnya. Tanganya bergerak-gerak panik. “Tenang, Sul,” Siwon hyung datang membantu Jinri membuka bajunya.

“Minho ya, apa yang kau lakukan?!” seru Appa geram. Suaranya membuat Eomma dan Siwon hyung berhenti bekerja, berpaling menatapku, sebelum kembali mengurus Jinri. Sementara aku tersentak.

Appa datang ikut membantu Jinri dengan handuk basah, Hara ahjumma juga Jia noona datang dengan baskom air. Lalu pembantu lain ikut berdatangan. Eomma membawa Jinri ke atas, ke kamarnya. Aku mengikuti dari sebelah Jinri. Tapi seseorang mendorongku menjauh.

Appa mendorongku menjauh.

Aku kembali terhenyak. Appa yang mendorongku menjauh. Kenapa Appa mendorongku mejauh? Karena takut aku kembali menyakiti Jinri-nya?

Aku menghela napas, menelan ludah. Sebegitukah? Aku tahu selama ini Appa tak pernah suka padaku. Selain karena aku ‘cadangan’ (Siwon hyung kan penerus utama bisnisnya), nilai ujianku juga tak pernah bagus. Tapi hanya karena itu? setidak suka itukah Appa padaku?

Semalaman aku diam. Duduk di tengah kasurku, menatap lurus ke pintu kamar. Berharap ada yang masuk dan memberiku kabar mengenai Jinri. Mengenai Appa.

Akhirnya aku tertidur karena terlalu lama menunggu. Esok paginya aku langsung minta maaf ke Jinri, ada Eomma menemaninya di sana. Jinri tentunya memaafkanku dengan senang hati. Aku juga mencari Appa tapi ia tak ada. Sudah berangkat kerja.

Eomma bilang tidak apa, tapi aku tahu setelah ini hubunganku dengan Appa tidak pernah sama lagi.

The Choi’s Little Sister

SETELAH melalui 11 jam perjalanan, kami tiba di Inggris dengan selamat sentosa. Jam empat pagi dan badanku pegel semua.  Ternyata ayahku pintar. Sampai di London Heathrow Airport sudah ada mobil yang membawa kami menuju hotel.

Untungnya masih pagi, jadi semua orang rambut pirang ini nggak ada yang ngeliat tampang kusutku. Sampai di hotel aku langsung merebahkan diri di kasur. Sialnya aku dan Siwon hyung satu kasur. Tapi karena aku capek banget, aku belum sadar hal itu.

Aku bangun jam tiga sore, di atas kasur di sebelah Siwon hyung. Mataku berkeliling dan aku terkesiap.

Kamar yang aku tempati ini, hotel ini, besarnya dua kali lipat kamarku di Korea Selatan. Dan mewahnya berkali-kali lipat. Meksipun didominasi warna abu-abu, tapi sekali lihat aja aku tahu perabot ini bukan murahan.

Aku cuci muka. Membuka pintu dan sadar ternyata ayah menyewa satu suite untuk kami. Belum puas rasa kaget ini, aku keliling hotel dan makin terkesiap. Dari cara berpakaian pengunjungnya saja aku tahu tempat ini bukan hotel biasa.

Appa sukses bikin aku sadar betapa banyak uang yang ia miliki selama ini.

Ngaca dan sadar aku cuman pake sweater dan celana Levi’s, aku malu. Jujur ini pertama kalinya aku malu pakai baju yang aku suka. Bahkan ada pelayan di sini yang natap aku sangar. Aku datengin aja pelayan itu dan kami malah ngobrol. Pelayan aneh. Sebelas-duabelas deh sama si Gikwang di rumah.

Balik ke kamar—atau suite—atau apalah itu, ayahku sudah rapi dengan jas hitamnya. Itu jas yang biasa dia pake ke kantor, tapi entah kenapa kali ini kelihatan lebih rapi. Dan bikin aku sadar ternyata Choi Seunghyun itu ganteng juga—meskipun udah berumur.

“Minho ya. Mandi, ganti baju” panggil Appa, menggerling setelan di atas kursi. Aku mengangkat alis. “Aku harus pakai itu juga?”

Appa mengangguk singkat. Aku mengangkat bahu, meraih setelan itu dan membawanya ke kamar. Ketemu Siwon hyung yang narsis lagi ngaca di depan lemari.

“Gantengnya,” sindirku, meraih handuk sebelum berdiri di sampingnya di depan kaca. Eh, tinggiku dan Siwon hyung hampir sama rupanya.

“Emang ganteng.”

Aku tertohok. Tuh kan, narsis. “Buat apa sih pakai jas segala? Resmi banget,” gerutuku. Duduk di atas kasur. Siwon hyung masih sibuk ngerapiin dasi kupu-kupunya. “Kita udah di Inggris. Harusnya kita jalan-jalan, hyung. Mau ngapain pakai jas, sih?”

“Tujuan awal kita ke Inggris bersama Appa,” Siwon hyung berbalik menatapku. “Adalah mengadakan pertemuan bisnis dengan pimpinan perusahaan lain di seluruh dunia. Hari ini ada meeting santai, lalu dilanjutkan dengan pesta.”

Siwon hyung menggerling sweater dan jeans yang kutanggalkan. “Kamu mau malu-maluin nama besar Choihwang dengan pake ‘itu’?”

Aku mendesah dan segera mandi lalu berganti pakaian.

Choihwang itu nama grup yang dipimpin ayahku. Sudah empat generasi grup ini berganti kepemimpinan. Yang pertama buyutku. Kakekku. Turun ke suami bibi Gina—sebelum cerai—dan sekarang lanjut ke Appa. Untungnya pewaris berikutnya adalah Siwon hyung.

Aku nggak suka berbisnis. Buang-buang waktu ngurusin hal-hal rempong beginian.

“Rambut tuh disisir dulu,” tegur Siwon hyung begitu aku selesai. Aku menepis tangan Siwon hyung yang tadinya mau mampir di kepalaku. “Aku ganteng alami,” ujarku. Kakakku ini terkekeh.

Aku menutup pintu suite dan mengekor di belakang Appa dan Siwon hyung. Mereka berdua sibuk membicarakan hal yang nggak aku ngerti—dan memang aku nggak mau ngerti. Ngekor gini kok aku jadi inget Jinri. Dia kan hobinya ngekor juga.

Sampai di ruang meeting, sudah berkumpul semua pebisnis ini. Jumlahnya tidak sampai lima puluh. Pertemuan ini pasti berskala internasional. Nampak dari perbedaan wajah orang Eropa, Amerika, Asia bahkan Afrika.

Setiap peserta duduk di sofa cokelat yang sudah disusun sedemikian rupa. Ini The Ritz London, hotel yang sudah jadi matahari saking banyak bintangnya. Empat jempol aja nggak cukup. Di luar ruang meeting ini saja berdiri banyak bodyguard, petugas keamanan, satpam dan sejenisnya. Kesimpulannya, ini perkumpulan orang penting.

Meeting dimulai. Setiap kami memakai translation headsets agar dapat memahami apa yang orang lain bicarakan. Di sini semua memakai bahasa negaranya masing-masing. Untuk menghargai perbedaan dan budaya.

Aku duduk di kiri Appa. Di sebelah kanan Appa baru duduk Siwon hyung.

Nguap. Mataku berair. Aku nggak ngerti apa yang bule-bule ini omongin. Meskipun sudah ditranslet ke bahasa Korea lewat translation headsetsku.

Jariku mengetuk-ketuk pegangan sofa. Bosan. Makin cepat. Makin cepat kuketuk. Makin cep—Appa menangkap jemariku. Meredam ketukanku. Oke. Aku diam sekarang.

Kakiku pegel. Pantatku sakit. Boleh kali ya, jalan-jalan sebentar?

Aku hendak bangkit—tapi Appa menarik tanganku. “Duduk, Minho ya,” perintahnya tegas sebelum kembali fokus pada pembicaraan. Aku mendengus sebelum kembali duduk.

Ini meeting, semua di sini bicara. Appa sudah beberapa kali berdiri dan mengungkapkan pikirannya. Hebatnya, semua di sini nampak salut pada Appa.

“Silahkan, Tuan Siwon Choi dari Choihwang, Korea Selatan.”

Suara moderator di telingaku, yang sudah diterjemahkan dengan bahasa Korea.

Huh? Siwon hyung mau ngomong juga?

“Terima kasih atas kesempatanya. Di negara asal saya, Korea Selatan, inflasi perekonomian—“

“Inflasi itu apa, Appa?” potongku. Ayahku nampak begitu serius memperhatikan Siwon hyung. Terusik dengan pertanyaanku. Dijawabnya, “Kenaikan.”

Aku mengangguk. Nggak paham. Siwon hyung masih bicara dengan istilah-istilah aneh yang digunakanya. “Biaya peluang itu apa?” tanyaku lagi. “Elastisitas itu maksudnya elastis, ya? Kayak permen?”

Appa menjawab semua pertanyaanku singkat. Tapi tetap nggak jelas.

“Kalau kurva permin—“

“Diam dan dengarkan saja, Minho.” Tegasnya.

Aku langsung diam. Memangnya salah kalau bertanya? Aku kan nggak ngerti. Dari tadi kok kayaknya aku salah terus di mata Appa.

Setelah dua jam pertemuan ini berakhir. Kakiku tambah pegal, dan mataku tak kuat menahan bosan. Rasanya seperti surga begitu meeting ini selesai dan dilanjutkan dengan perjamuan di hall sebelah.

“Sudah makan begini aku kembali segar,” kataku pada Siwon hyung. Sudah jam tujuh malam. Ternyata yang tadi menghadiri pertemuan hanya pria saja. Di pesta ini muncul istri-istri pengusaha itu. Membuatku bertanya kenapa Appa tidak mengajak Eomma saja.

Siwon hyung terkekeh. “Pikirmu hanya makan saja,” ujarnya. Aku dan Siwon hyung berdiri jauh dari keramaian di ujung Hall, sementara Appa sibuk bicara dengan pengusaha dari negara lain.

“Permisi, Tuan Choi,” panggil seseorang. Sontak kami berdua membalikan badan. Orang Amerika—atau Kanada?—dengan setelan mahal dan pemuda yang lebih muda berdiri di sebelahnya. Anaknya mungkin.

“Saya Zhoumi ___ dari Kanada, dan keponakan Saya, Henry Lau,” katanya dalam bahasa Inggris. Pemuda tinggi ini menjabat tangan Siwon hyung, begitu juga keponakanya.

Mau bertemu Siwon hyung rupanya. Kenapa manggilnya pakai nama ‘Choi’, bisa-bisa aku salah paham kan.

“Senang berkenalan,” sahut kakakku ramah. “Ini adikku, Choi Minho.”

Aku tersenyum dan membungkuk singkat, ikut menjabat tangan kedua pemuda ini. “Senang bertemu denganmu,” ujarku juga dalam bahasa Inggris. Sebagai formalitas.

“Kalian bersaudara? Wah, suatu kehormatan bisa bertemu dengan pewaris Choihwang,” kata om Zhoumi ini. Ya ampun, pewarisnya kan Siwon hyung, bukan aku.

“Argumenmu dalam pertemuan tadi luar biasa. Aku kagum. Kukatakan pada Henry untuk memperhatikanmu, kau patut di contoh. Mengenai kenaikan saham itu juga…”

Oke, ini bukan obrolanku. Aku berjalan menjauh dan mencicipi hidangan lain. Aku bertemu beberapa pelayan dan mengobrol lagi.

Aku sedang makan zuppa soup ketika kudengar ada yang bicara dengan bahasa Korea. Siapa lagi kalau bukan keluargaku. Aku membalikan badan dan melihat Appa tidak jauh dibelakangku.

“Kemari, Siwon ah,” panggil Appa. Siwon hyung mendekat dan Appa membisikan sesuatu ditelinganya. Siwon hyung menggeleng sebagai jawaban.

“Maaf,” sahut Appa mengumbar senyum pada sepasang suami-istri di depanya. “Perkenalkan putraku, Choi Siwon. Siwon, ini Nichkhun Horvejkul dari Thailand dan istrinya, Victoria Song. Mereka pemilik Gooseung dan sekarang tinggal di Korea Selatan.”

Siwon hyung ikut tersenyum dan menjabat tanganya.

Aku membalikan badan dan mendesah. Lihat? Yang Appa perkenalkan adalah Siwon hyung, pemuda itu dan selalu dia. Tujuan awalku ikut Appa ke Inggris adalah liburan. Memang Appa yang mengajakku, tapi tidak kubayangkan akan begini jadinya. Sial.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Pikiran mengenai Appa dan Siwon hyung kembali menghantuiku. Berapa hari pertemuan ini akan berlangsung? Kami akan tinggal seminggu di Inggris. Kalau tujuh hari penuh itu kuhabiskan mengikuti pertemuan dan pesta semacam ini, enaknya aku pulang saja.

Aargh, Sial. Aku nggak bisa tidur. Mana Siwon hyung ngoroknya keras banget lagi.

Aku turun dari kasur, berdiri merenggangkan badan dan penasaran melihat lampu ruang tamu suite yang masih nyala. Aku keluar dan tanpa sadar berucap, “Appa.”

Ayahku mengangkat wajah dan menoleh. “Minho ya. Sini,” ajaknya. Appa duduk di kursi cokelat sambil membaca buku. Kulirik jam, pukul setengah satu. Tengah malam begini.

Aku berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan Appa. Kursi ini terletak di depan jendela besar dengan tirai hitam mewahnya. Kalau pagi cahaya matahari pasti menerobos terik lewat sini.

Appa melepas kacamata dan menutup bukunya. Ia lalu bangkit dan berjalan masuk ke kamarnya. Aku mendengus. Aku di suruh ke sini terus dia pergi begitu saja? Enak banget.

Aku tidak jadi berdiri begitu Appa kembali duduk di depanku. Dia membawa kardus kecil warna warni. Sesuatu tertulis di sana. Kutajamkan mata ini. Namanya… monopoli?

Monopoli? Appa ngajak aku main?

Pria ini membuka kardusnya. Membuka permainanya di atas meja dan mengeluarkan semua uang palsu dan kartu-kartunya. Ia benar-benar mengajakku main?

“Pilih yang mana?” tanyanya, menunjukan pion berbentuk mobil dan motor padaku. Tentu aku pilih yang motor. Appa pasti tahu.

Aku membantunya menyusun semua. Appa lalu menjulurkan tanganya padaku. “Ayo suit,” katanya. Aku terkekeh.

“Appa dapat ini darimana?” tanyaku begitu dadu mulai dikocok.

Appa menggerakan pionya tujuh langkah dan menatapku. “Ketika Appa bilang salah seorang anak Appa suka bermain angka, seorang pengusaha asal Malaysia malah langsung memberikan ini tadi sore. Dia menitipkan ini untuk anak Appa itu, katanya.”

Pasti yang dibicarakanya ini Siwon hyung (lagi). Ugh.

Aku terdiam.

“Ini untukmu, Minho ya” katanya, mengangkat wajah dan menatapku. Aku terkesiap dan balas menatap Appa. Pendengaranku pasti eror.

“Bermain itu boleh, asal belajarnya jangan ditinggalkan.” Nasihatnya. Lalu tersenyum.

Appa memberikan ini padaku. Dan ia tersenyum. Appa kenapa? Ada apa dengan keberuntungan hari ini? Lagian aku kan nggak suka main angka.

Aku mengangguk semangat dan balas tersenyum. “Akan kujaga. Terima kasih, Appa.”

Sejak hari ini, setiap Minggu malam Senin, sehabis makan malam, aku dan Appa rutin bermain monopoli. Berdua.

The Choi’s Little Sister

“OI,” seseorang menepuk pundakku. Aku melirik melewati spion motor. “Hey, Kunci,” sapaku. Masih mengeluarkan motor dari parkiranya sebelum berpaling pada orang ini.

“Kunci, kunci. Kamu tuh kodok,” ledek orang ini—Kibum, temanku. “Heh, nanti malem jadi, kan?” ingatnya.

Aku menyalan mesin motor sembari bertanya, “Sekarang hari apa, sih? Kalau Minggu malem Senin aku nggak bisa,” tolakku.

“Sekarang hari Senin, bodoh. Jadi bisa, ya? Jangan lupa dateng. Jam tujuh,” katanya lagi sebelum berlalu begitu saja.

Aku mendengus. Oh, iya Hari ini Senin, tepat awal semester. Artinya sekarang aku kelas 2 SMA (hahaha). Jangan tanya gimana aku bisa naik kelas. Itu dilarang.

Pantas hari ini banyak wajah baru berkeliaran di sekolah. Mereka murid baru kelas satu, kan? Wah patut dijadikan bahan percobaan, nih. Aku harus mulai bergerak mencari mangsa. Ah iya, artinya harus hati-hati juga. Jangan sampai ada yang berusaha nyakitin Jinri.

Omong-omong soal Jinri, akhirnya dia SMA juga. Sekolah di sini denganku, Siwon hyung juga Sooyoung noona. Hari pertama dia sekolah. Harus diabadikan, nih.

Aku mengoper ke gigi satu dan mulai berkeliling lapangan parkir sekolah. Kubawa motor ini ke depan gerbang, tempat di mana siswa yang tidak membawa kendaraan langsung pulang. Termasuk adikku yang nyebelin itu.

“Noona, hoi,” sapaku. Sooyoung noona lewat di depanku dengan teman-teman ceweknya. Sebenarnya temen-temen Sooyoung ini cantik-cantik. Tapi mereka kecentilan, aku nggak suka.

“Hei, Minho,” sahutnya. Aku menganggukan kepala. “Mau ke mana, noona? Lihat bisul, nggak?”

Berangkat tadi Jinri ngerengek minta aku anterin pulang. Dan aku terlanjur janji.

Sooyoung noona menggeleng. “Biasalah, kau tahu kan aku mau ke mana. Nggak tuh, mungkin masih di dalem,” jawabnya. “Aku duluan coy, dadah,” lambai Sooyoung noona. Aku mengangguk saja.

Siwon hyung bawa Audi Q3 hitam. Sooyoung noona selalu—selalu—nebeng dia kalau berangkat sekolah. Sekalian numpang eksis pake mobil kece. Tapi kalau pulang dia nebeng temenya. Biasanya belanja dulu. Belanja, iya bener. Belanja.

Ah, itu dia bisul. Aku langsung nyengir lihat dia pakai seragam SMA ini. Rasanya lucu aja. Adikku yang paling kecil, yang manja, yang tiga bulan lalu masih nangis parah gara-gara kutinggal ke Inggris. Lucu banget.

Rambut hitam panjangnya digerai. Jinri jalan berdua sama temenya, sambil sesekali tersenyum dalam obrolan. Tunggu, kok Jinri jadi kelihatan cantik gitu, ya? Akh, iya. Dia kan anak Eomma. Ibuku kan wanita paling cantik sejagat.

“Hey, cewek,” godaku ketika Jinri lewat. Adikku itu menoleh dan langsung merengut—sadar betul itu suaraku. Tapi temen ceweknya—yang juga ikut noleh—malah pasang tampang sangar dan nyeremin. Seolah aku pencuri.

“Pulang bareng abang yuk, cantik,” godaku lagi. Wajah Jinri udah kayak tomat. Mungkin dia malu, ini hari pertamanya sekolah di SMA tapi malah dipermaluin kayak gitu. Adikku yang malang.

“Hah? Abang?” seru temenya Jinri itu sengit. Ekspresinya seolah kayak aku mau memperkosa dia aja.

Aku mengangkat alis heran. “Apa?” kataku bingung.

“Kamu ngajak aku pulang bareng?” ujar cewek temenya Jinri ini dengan nada melecehkan. Siapa juga yang ngajak cewek ini. Geer banget dia.

“Hah? Aku kan ngajak Sulli. Ayo pulang, Sul,” ajakku, mengedikan kepala. Jinri mencibir tapi tetep bergerak juga.

“Aku duluan ya, Krys.” Kata Jinri. Tapi temenya ini malah narik tangan Jinri, mencegahnya pergi. “Jangan mau pulang sama orang nggak dikenal, Sul. Lagian kecentilan banget sih, ngegodain adik kelas. Pulang sama aku aja yuk, Sul.” Ajaknya.

Hah? Orang nggak dikenal?

Jinri meringis. “Dia kakakku, Krys. Kalau pun dia macem-macem sama aku, tinggal lapor ke Appa, kok. Hehhe. Dadah,” Jinri melambai pada temenya dan langsung naik ke motorku.

Ekspresi kaget cewek ini waktu tahu aku kakaknya Jinri itu bloon banget.

Aku mendengus begitu kami menjauhi sekolah. “Cie yang akhirnya SMA,” gurauku. “Hari pertama sekolah, malah ketemu cewek aneh. Siapa tuh namanya?” ujarku.

“Dia nggak aneh, oppa. Namanya Jung Krystal.”

Jung Krystal.

Cewek aneh. Okesip.

End.

Saya merasa ff ini jelek sekali L Maaf juga kalau ini terlalu OOC ya, hehhe. Kalau ada yang mau protes, silahkan.

Ah iya, saya juga buka Q&A untuk fanfic The Choi’s Little Sister ini. Dibuka sesi pertanyaan mengenai keluarga Choi. Pertaanyan apa saja boleh asal yang logis, ya. Contohnya, ‘Berapa umur Gikwang ahjussi di sini?’ atau ‘Berapa luas seluruhnya rumah keluarga choi?’ dan lain sebagainya.

Well, silahkan bertanya. Dan terima kasih sudah membaca. Thankyouuu~

*Gooseung itu nama perusahaan roti di film Baker King Kim Tak Goo, dan Choihwang itu cuman bual-bualan aja ._.

19 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Minho]

    • halo, thanks for reading before😉
      ukhmm, ini bukan berchapter-chapter sayang, kayak kumpulan oneshoot gitu dengan keluarga choi ini sebagai tokohnya. oneshoot berikutnya karakternya bukan minho lagi, tapi masih bersangkutan dengan keluarga choi dan pasangan mereka *eaa

      btw silahkan baca TCLS yang sebelumnya yaa😉 okesip thankyu. ditunggu yaaaa

  1. ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮ lucu deh minho ama sulli,, owh yaa yg cerita’a sooyoung udah ada belum?

    • haloo, wah yang Sooyoung belum ada nih, tapi bakalan ada nantinya. mau reqeust couplenya sooyoung juga boleh😉

      well, thanks for reading, yaa. mohon ditunggu yang berikutnya, thankyou!

  2. kakak beradiknya udah rukun😀
    next chap ditunggu (kalo bisa soo yah)

    boleh request couplenya soo nggak?
    aku lagi pengen soo sm kai nggak gt luhan😀 *lagi suka EXO nih*

    Mian klo kepanjangan
    Daebakk😀

  3. Okay aku udah siap beberapa pertanyaan hehehehehe..
    1. Bayaran si Gikwang berapa?
    2. Suami Bibi Gina (alias babenya Soo) tuh siapa?

    Soal komentarnya….. Ini diaaaa
    Menurutku FF ini enak dibaca. Ringan. Tapi walau gitu tetep sih feel-nya dapet.
    Ditunggu karya lainnya Ninis!

    • Hei Idaa~
      uhmn, kalau dirupiahin bayaran Gikwang ini satu bulannya nggak sampai satu juta. tapi karena dia udah lama banget kerja di sana, di kasih tempat tinggal, dapet makan, jadi dia nggak peduli. lagian keluarga choi udah berasa kayak keluarga dia sendiri =)

      pertanyaan kedua kayaknya dijawab nanti aja yaa, waktu TCLS yang bagiannya Sooyoung, hehhe. thanks for reading hunn❤

    • uhohoho setuju deh sama kamu. Sulli emang enak hidupnya *kalau dari pandangan kita*
      kalau masalah couple mohon ditungu saja. hehhe makasih udah mau baca dan komen, ya. thankyou!

  4. tadi aku kira itu cerita minsul😀
    author, pengen ceritas minsul dong😀 ada gak?
    ceritanya yang ini keren😀
    ngakak pas sulli di panggil bisul, aduhhhh kasian😄

    tapi jangan jadiin sulli adik minho dong😥 pen nya sih di jadiin pasangan hehhe :p

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s