Electric Love


Author     :    Idaayri

Tittle        :    Electric Love

Cast         :    Choi Sulli, Lee Taemin

Other cast :   Kwon Boa, Choi Minho, Kim Jonghyun

Genre       :    Romance

Rating      :    Teenager

Length     :    Oneshoot

A/N          :    Ini adalah FF pertama yang aku publish. Sementara FF ini aku publish di wp pribadiku, di FCL dan di sini. Semoga sih gak panen siders, hehehe. Maaf ya kalau FF ini kurang memuaskan. Oh iya, masih adakah typo? Semoga sih gak ada. Okay aku harap readers mau ngasih komentarnya buat FF-ku ini. Happy reading..

Tidakkah kamu merasakan sengatan cinta yang meluluh lantakkan hatiku menjadi berkeping-keping ini?

Dengan dipenuhi peluh, Taemin menengguk sebotol air mineral yang disodorkan oleh perempuan yang dipanggilnya noona. Ia menoleh sebentar sambil menunjukkan eyes smile.

“Gomawo noona.”

“Nae, aku duluan Taemin-ah. Tunjukkan yang terbaik. Aku sudah tidak meragukan kemampuan dance-mu lagi.” Sahut Boa sambil menepuk pundak hoobae yang jauh lebih tinggi darinya. Wanita yang memiliki suara merdu ini mengambil jaket berwarna silver dan berjalan keluar dari studio tari, meninggalkan Taemin yang sekarang sedang beristirahat sembari mengutak-atik iPhone-nya.

Terdengar bunyi decakkan lidah. Raut muka Taemin seketika berubah. Tatapannya nanar ke arah iPhone, seakan iPhone itu telah merebut segelas banana milk darinya. “Aishh aniya! Ya! Andwae!” teriaknya bak orang gila. Dia mengibaskan tangannya, sambil sesekali membalikkan iPhone dan membuang muka. Taemin menghela napas. Wajahnya murung. “Ya! Kenapa kau menghayati sekali adegan itu! Aish jinjja!” Dengan segera dia menutup situs Youtube yang digunakan untuk mencari potongan kissing scene dari drama To The Beautiful You.

Taemin menghela napas panjang, menahan gemuruh di dadanya. Dilangkahkannya kaki keluar dari studio tari. Masih terlihat gurat kekecewaan di wajahnya. Apa boleh buat. Cinta memang kejam.

Sulli merapikan rambutnya yang telah berganti gaya sekarang. Hatinya dipenuhi perasaan lega setelah menyelesaikan syuting episode terakhir dramanya. “Ahjussi, berhenti di gedung SM.” Ujar Sulli kepada seorang sopir mobil milik SM ent yang diperuntukkan artis-artisnya.

“Kenapa tidak langsung ke dorm Sulli-ya?” Minho yang telah menganggap Sulli sebagai adiknya mulai menunjukkan perhatian.

“Ehmm, aku meninggalkan barangku di studio tari oppa. Jadi aku ingin mengambilnya.”

“Oh, aku tak harus mengantarmu kan? Aku lelah sekali, ingin cepat ke dorm.”

“Gwenchana.” Ucap Sulli seraya membuka pintu mobil yang telah berhenti tepat di depan pintu masuk gedung SM ent. Bohong lagi! Karena dia aku bohong lagi! Aku ingin menemui dia, oppa. Rasanya hatiku hampir meledak saja melihat semuanya. Aku tidak sabar untuk berbicara dengannya. Itu yang ingin kulakukan. Maaf aku berbohong padamu.

Sulli berlari seperti orang kesetanan. Mengedarkan pandangannya, mencari namja yang telah mengusik pikirannya akhir-akhir ini. Hanya dua orang resepsionis yang berjaga beserta satpam di sampingnya yang dapat ditemukan. Keadaan dalam gedung cukup sepi. Sulli melirik jam dinding, jarum pendek mengarah pada angka 12. Waktu telah menginjak tengah malam.

Sulli mengarahkan kakinya menuju lift yang berada di sudut ruangan. Belum sempat di menekan tombol apa pun, tiba-tiba lift sudah terbuka. Seorang perempuan berusia 26 tahun keluar dari lift. Sulli terlonjak, kaget melihat siapa yang barusan berada dalam lift. Boa eonni, pasti tadi sehabis latihan untuk perform Only One besok. “Annyeong haseyo” Sulli membungkuk 90 derajat. Boa balas membungkuk sambil tersenyum. Sungguh canggung suasana saat itu, seuntas senyum diberikan Sulli dengan rasa penuh keterpaksaan. “Eonni, aku duluan. Ada perlu.” Ujar Sulli secepat kilat, memilih berlari meninggalkan Boa yang sepertinya sudah siap dengan berbagai pertanyaan basi yang biasa orang-orang lontarkan untuk dramanya. “Aneh sekali anak itu.” Gumam Boa sembari berlalu.

Sulli kehabisan napas, dia membungkuk sambil memegangi lututnya. Dia memilih menaiki tangga untuk menghindari senior yang akhir-akhir ini telah berhasil membakar hatinya. Berkat tangga ini kini dirinya telah berhasil sampai di lantai tiga. Percuma saja, orang yang dicarinya juga tak kunjung menampakkan muka. Dengan tenaga yang masih tersisa, akhirnya dinaiki lagi tangga yang akan membawanya ke lantai empat.

Taemin mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Keadaan senyap. Tak seorang pun berada di lantai empat kecuali dirinya. Sayup-sayup terdengar bunyi langkah kaki. Taemin menaikkan satu alisnya, rasa penasaran beserta curiga terlihat jelas. Taemin memutar langkahnya menuju tangga, membatalkan niatnya untuk menggunakan lift.

Tap tap tap, Taemin menggelengkan kepalanya. Berjalan mencari sumber suara. Tangga! Dari anak tangga itu. Setengah mengendap Taemin menghampiri anak tangga. Seketika terlihat gadis berperawakan tinggi itu menaiki tangga dengan tatapan lesu. Belum juga dia menyadari kehadiran Taemin .

Taemin menuruni tangga dengan cepat. Berharap dapat menggapai gadis yang selama ini membuat tidurnya tak nyenyak. Derap kakinya terlalu keras membuat Sulli terlonjak. Sulli menatap ke atas dengan tatapan kaget. Jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya. Taemin oppa. Entah ada angin apa Sulli bergegas berbalik arah, dan dengan cepat menuruni tangga.

“Ya! Sulli-ya! Chakkaman!” teriak Taemin berusaha mengejar langkah Sulli. Bagaimana bisa Taemin melepaskannya. Tidak lagi! Itu tak akan terjadi lagi! Secepat apa pun Sulli berlari, Taemin tetaplah bisa menyeimbangkan langkahnya. Kini mereka telah berjalan beriringan di tangga.

“Choi Sulli, kau ini kenapa?”

“Hey! Tidakkah kau dengar aku?”

Sulli tetap berjalan dengan cepat, tidak menggubris perkataan Taemin. Menganggapnya angin lewat saja. Entah mengapa dia menjadi seperti ini. Dia tak tahu rasa apa yang melandanya sehingga dia tak ingin bertatap muka dengan lelaki semanis Taemin. Bukankah tadi aku ingin menemuinya? Kenapa aku malah lari? Bahkan sekarang aku masih lari!  Ah kenapa kakiku tak bisa berhenti. Ayolah berhenti Sulli. Tidak bisa! Ahhh bagaimana ini?!

Kesabaran Taemin habis. Sedari tadi tak sedikitpun kata-katanya digubris Sulli. Taemin meraih pergelangan tangan Sulli. Menariknya agar bidadari dalam mimpinya ini tak melarikan diri lagi. Ragu-ragu Sulli menatap Taemin. Sulli menelan ludahnya. Jika tangannya tak digenggam oleh Taemin, mungkin seketika itu dirinya akan jatuh, meleleh karena pesona Taemin. Bola mata Sulli mengarah pada tangannya yang digenggam Taemin. Taemin juga mengikuti arah mata indah itu.

“Ehh, mianhe” Taemin melepaskan genggamannya. “Hey, jangan pergi lagi!”

Jangan pergi lagi. Apa tadi dia bilang? Aku tak tuli kan?

Sulli tak sanggup menatap Taemin. Ia merutuki ketololannya yang kabur dari Taemin tadi. Sikap  Sulli menunjukkan sekali bahwa dia sedang salah tingkah.

“Uhhmm Sulli-ya” ucap Taemin pelan.

“Nae?”

“Kenapa kau menghindariku akhir-akhir ini?” tembak Taemin langsung.

Deg! Sulli merasa tersudut. Kebingungan melanda sekarang. Alasan apa yang akan diberikan pada Taemin saat ini.

“A a aniyaa! Aku tidak menghindarimu kok.”

Taemin melemparkan senyum kecut. Senyum yang sama sekali tidak ingin dilihat Sulli. Entah mengapa hatinya terasa tertohok dengan senyum kecut itu.

“Sulli-ya, kau tak pernah membalas sms-ku ataupun e-mail yang kukirim. Bahkan setiap kali aku menelponmu kau selalu mereject. Apakah kau dibuat sesibuk itu oleh dramamu?” Taemin menekankan kata DRAMAMU, terlihat nada tak suka di sana.

Sulli menarik ujung bibirnya, bukan bukan! Bukan untuk memberikan senyuman indah beserta eyes smile-nya, melainkan untuk menunjukkan smirk-nya. Cukup kesal Sulli oleh perkataan yang barusan dilontarkan Taemin. Perkataan tadi sedikit mengusik hatinya.

“Anggap saja aku memang sangat sibuk. Apalagi untuk mengurusi hal-hal tidak penting seperti itu.”

“Mwo? Tidak penting? Aku tak salah dengar kan?”

“Kurasa pendengaranmu masih baik.”

“Hah! Kau tak seperti Sulli yang kukenal. Baru sebentar bergaul dengan teman-teman baru dalam dramamu kau sudah seperti ini.”

“Taemin-ah! Bisakah kau berhenti membahas tentang itu?”

Sulli selalu dihantui rasa bersalah pada Krystal setiap mengingat drama ini. Rating rendah drama ini juga cukup membuatnya didera rasa malu.

Tidakkah cukup bagi Taemin selalu mengusiknya dengan sms juga e-mail yang menunjukkan rasa tidak sukanya. Mengapa harus Taemin? Dikala semua orang memberinya support, menepuk pundaknya hanya untuk mengatakan fighting. Mengapa Taemin tak ada disaat dia sedang membutuhkan dukungan seperti ini.

“Bagaimana aku bisa berhenti mempertanyakan sesuatu yang telah membuatmu berpikir bahwa aku tak penting?!”

“Apakah selama ini kau berpikir bahwa kau penting untukku? Saudara bukan, pacar juga bukan. Berhenti mengaturku” Sulli tak tahu mengapa cerca itu bisa meluncur begitu saja dari bibirnya.

Jleb! Terasa ribuan pedang ditusukkan ke jantung Taemin bersamaan. Sesuatu seperti menembus masuk kulitnya. Mengoyak paksa hatinya. Kata-kata tadi.menyakitkan. Bahkan sepertinya perlu menambahkan kata sangat! Yah, sangat menyakitkan. Apakah selama ini Taemin salah mengira. Lalu apa arti perhatian Sulli selama ini? Hanya untuk memberinya sebuah harapan kosong? Atau memang dirinya yang terbang terlalu jauh. Menyombongkan diri, berpikir bahwa selama ini dirinya berarti. Ternyata, kenyataan sangat menyakitkan. Bagai terhempas dari gedung bertingkat. Sendi-sendi Taemin kaku. Jika bukan karena gengsi, mungkin air matanya akan mengucur deras sekarang juga.

Sulli merasakan perubahan yang terjadi. Taemin terdiam cukup lama setelah kata-kata tadi terucap kekecewaan terpancar jelas. Sulli menggigit bibirnya. Khawatir memang, tapi untuk mengucap maaf saja terasa berat.

Remuk, benar-benar remuk. Taemin ingin pulang sekarang. Ia hanya ingin merabahkan dirinya dalam keempukan kasur. Hanya ingin memejamkan matanya untuk melupakan luka yang disayat begitu dalam.

Sulli hanya bisa diam, memandangi bayangan Taemin yang semakin menjauh. Matanya terasa panas, sesuatu menghalangi penglihatannya. Air matanya menetes. Penyesalan yang terdalam sedang dirasakannya sekarang.

Taemin-ah, gwenchana? Mianhe. Lupakan kejadian kemarin. Bisakan?

Sulli mencari nama Taemin di kontak ponselnya. Tinggal satu langkah lagi. Ragu sedari tadi, Sulli masih memandangi tombol send. Ia menghela napas berat. Ditekannya tombol send. Saat itu juga Sulli merasa telah menggadaikan harga dirinya hanya untuk sebuah pesan singkat.

Satu menit berlalu, Sulli masih menganggap wajar jika Taemin belum membalas sms-nya. Mungkin dia belum membacanya.

Dua menit

Waktu terasa merangkak. Lama sekali rasanya. Mengapa Taemin tak kunjung membalas pesannya.

Lima menit

Sulli mulai gelisah

Lima belas menit

“Taemin-ah apa kau sengaja mengabaikanku hah?!”

Setengah jam

Ada rasa sesal telah mengirim sms pada Taemin tadi. Entah kenapa Sulli sungguh gengsi melakukan ini semua. Apalagi mengatahui bahwa Taemin tak kunjung membalas pesannya.

Satu jam

“Kau benar-benar!” Sulli tak bisa tidur nyenyak malam ini. Semalaman ia hanya bisa membolak-balikkan badan di ranjang. Ia menanti agar hari esok segera datang. Karena dia ingin waktu segera mengizinkannya berlari.

Sepasang kaki dengan sepatu flat berjalan perlahan menuju sebuah pintu yang tertutup rapat. Rok dengan panjang di atas lutut sedikit bergoyang karena langkahnya. Sedikit mengambil napas sembari merapikan masker dan topi sebelum menekan bel.

“Sulli-ya!”

Sulli terlonjak kaget. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Dilonggarkan topinya, terlihat jelas pemuda tinggi berotot yang kini mengambil posisi di sampingnya.

“Ya! Minho oppa. Tidak lucu tahu.” Sulli memukul lengan Minho sembari memajukan bibirnya.

Minho hanya tertawa. Minho menekan beberapa nomor di dekat pintu. Kode yang selama hanya anggota SHINee yang tahu. Tanpa izin dari si pemilik Sulli langsung menginjakkan kaki.

“Ah oppa. Bagaimana kau masih bisa mengenaliku? Apa penyamaranku kurang?” cerocos Sulli, menyerbu Minho dengan berbagai pertanyaan. Yang ditanya hanya tersenyum tanpa menjawab. Sulli mendudukan diri di sofa yang terletak di ruang tamu. Ia melepas topi dan masker yang menghalangi pernapasan juga penglihatannya tadi. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Sedikit berubah.”

Minho meletakkan segelas air di meja. Dia melirik Sulli sambil tersenyum tanpa dosa. “Minumlah.”

“Hah? Hanya air putih? Aish pelit sekali!” Sulli protes, namun tak urung dia meminum suguhan yang diberi tuan rumah juga. “Oppa, kemana lainnya?” Alasan! Yah hanya alasan. Bukan itu sebenarnya pertanyaan utama. Hanya satu orang yang ingin ditanyakan.

“Jinki hyung sedang belajar masak ayam, Jjong hyung aku tak tahu kemana dia, kalau Key biasa lah kalau tak ada jadwal begini pasti dia menghabiskan waktu dengan Amber.” Jawab Minho dengan menirukan gaya menghitung.

“Taemin?”

“Oh iya! Tadi Taemin bilang dia ke kantor SM. Katanya ada CF yang harus dikerjakan bersama dancer SM lainnya.” Jawab Minho tanpa curiga.

Sulli hanya membulatkan bibirnya sehingga menghasilkan huruf “O” dengan jelas. Dalam hati sebenarnya dia menyembunyikan keresahan. Masihkan ia sanggup melihat Taemin menatap, menggenggam, membelai perempuan lain. Tidakkah cukup dengan BoA saja.  Bagaimana jika di CF ini kejadian seperti itu terulang.

“Hey! Kenapa melamun?” celetuk Minho, menyadarkan Sulli dari lamunan. Belum sempat Sulli menjawab, tiba-tiba sesuatu berbunyi dari saku Minho. Minho segera menekan tombol hijau.

“Yoboseyo… Ah iya aku lupa… Jam berapa ini… Nae nae aku segera pergi… Baik tuan putri hehehehe! Minho menutup telponnya. Sulli menaikkan sebelah alisnya, kecurigaan Sulli mencuat.

“Siapa lagi kalau bukan…” Minho menggantung ucapannya, sengaja membuat Sulli penasaran.

“Krystal.”

“Kau tahu eoh?”

Sulli melipat tangan. Tampak kesal memang. Bisa-bisanya Minho meragukan kemampuannya sebagai mata-mata. Apalagi kalau hanya memata-matai Krystal, itu tak sulit. Bukankah ia dan Krystal satu dorm?

“Oh iya Sul,” ucap Minho seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal. “Boleh aku minta tolong?” Belum juga Sulli menjawab Minho sudah melanjutkannya “Bisakah kau jaga dorm-ku? Karena akhir-akhir ini banyak sasaeng fans yang mencuri masuk, bahkan mereka tahu kode pintu rumah Sul. Bisakan? Tidak lama kok.”

Sulli mengangkat alisnya. Bagaimana bisa dia disuruh menjadi penjaga rumah sedangkan tuannya pergi kencan. Posisi dirinya lebih tinggi dari pembantu SHINee. Sulli sudah mengeram, mulutnya serasa ingin menyemburkan kata-kata penolakan. Namun otaknya bekerja lebih cepat. Teringat kembali tujuannya ke sini untuk bertemu Taemin. Kalau dia pulang berarti dia harus kembali lagi. Tahulah, resikonya sangat besar. Apalagi kalau sampai diketahui publik. Lagi pula apa salahnya juga tinggal di sini untuk beberapa jam. Tak susah.

“Okay!”

Minho sedikit kaget dengan jawaban Sulli. Benarkah gadis ini mau? Wah mimpi apa semalam. Dengan senyum cerah Minho mengambil ponselnya dan memasukkan ke saku lagi.

“Gomawo Sulli-ya, aku pergi.” Minho menutup pintu, tawanya meledak di luar. Dia tak menyangka niatnya mengerjai Sulli akan berjalan semulus ini. “Sulli, hahahahaha. Jinjja pabo.” Minho tertawa lepas sambil memegangi perutnya.

Empat jam lewat, Sulli mulai bosan hanya duduk di sofa sambil membaca komik yang ditemukannya di bawah meja. Tentu saja komik Minho. Akhirnya dia memutuskan untuk tiduran di sofa sambil memainkan handphonenya. Ia pun hanya menekan asal pada keypad,tak tahu apa yang akan dilakukannya.

Sulli menengok jam pada layar handphone. Tertera angka 10:45 PM. Sulli mulai menggerutu. Ingin sekali dia mengumpat pada Minho yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Apa saja sebenarnya yang dilakukan dengan Krystal. Kenapa lama sekali. Belum ada seorang pun yang pulang pula. Sulli benar-benar tak ingin harapannya bertemu Taemin kandas.

Sulli hanya memutar-mutar handphonenya saja untuk mengatasi rasa bosan yang mulai merasukinya. “Setengah jam lagi kau belum pulang! Aku cekik besok kau oppa!” ungkapnya kesal yang tentu saja ditujukan pada Minho. Sulli kembali meneguk segelas air minum yang tadi disuguhkan Minho. Tidak haus sebenarnya. Hanya untuk mengatasi rasa bosan.

Mendadak ada sesuatu yang melesak ingin keluar dari tubuh Sulli. Ia berdiri sambil merapatkan kakinya. Kemudian berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. Kamar mandi! Dimana? “Aish! Dorm ini sudah banyak berubah. Tuhaan tolong aku.Sulli masih saja berjalan mengintari dorm yang tak bisa dibilang sempit ini. Kini dia pun telah sampai pada ruangan dengan desain sederhana. Televisi flat tertata apik di sudut kanan. Kemudian tak jauh dari televisi itu terdapat sebuah computer yang Sulli yakin pasti member SHINee harus bergantian menggunakannya. Tak ada waktu untuk mengamati ruangan ini terlalu detail.

Sulli kembali meneruskan langkahnya, sampai dia melihat sebuah pintu yang penuh dengan stiker ayam. Sulli mencoba membuka daun pintunya, gagal! Pintu itu dikunci. Sulli kemudian membalikkan badan, ternyata di depannya juga terdapat pintu. Namun Sulli tak tahu pintu itu akan menghubungkannya dengan ruang apa. Yang pasti dirinya hanya ingin menemukan kamar mandi. Pintu itu pun menjadi sasaran keduanya. Ia memutar daun pintu itu pelan. Yeah, tak dikunci.

Sekilas Sulli mengamati ruangan itu, terdapat dua ranjang. Ia berjalan sampai di sudut kamar, betapa girang hatinya. Di depannya teronggok pintu dengan tulisan ”OUR BATHROOM”. Tanpa ketuk pintu terlebih dulu Sulli langsung memasuki ruangan yang ia yakini dapat menjadi tempat menuntaskan panggilan alamnya.

“Sepatu wanita, siapa yang bawa perempuan malam-malam begini?” Pemuda itu bergumam sembari melepas alas kakinya, “yang playboy kan Cuma Minho hyung. Dulu Hara, terus Yuri noona, Krystal juga, habis itu Sulli-ku juga ikut diambil pula.”

Lelah membuat Taemin buru-buru melangkahkan kaki menuju kamar. Namun pemandangan yang di ruang tamu menyita perhatiannya.  Sebuah tas slempang hitam bersandar rapi di sofa. Satu lagi handphone yang Taemin tak ketahui siapa pemiliknya juga tergeletak di atas meja. Rasa penasaran juga jiwa evil yang mulai ditularkan oleh Kyuhyun membuatnya mengambil handphone itu.

Taemin menggenggam handphone itu sembari berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di depan pintu, Taemin merasa sedikit aneh. Mengapa pintu kamar terbuka? Ataukah Jonghyun hyung sudah pulang. Didengarnya baik-baik, ada suara gemricik air dari kamar mandi.

“Hyung, kau sudah pulang eoh?”

Brak pletak! Bunyi berbagai benda jatuh terdengar dari kamar mandi. Suara panggilan itu membuat gadis yang menumpang di kamar mandi orang ini terkejut. Hingga tak sengaja sikunya menyenggol kotak berisikan peralatan mandi itu. Sabun, botol shampoo,bagai benda lain  pasta gigi dan berbagai benda lain tercecer di lantai. Sulli mengeram kesal, dibereskan benda-benda itu ke tempat semula. Namun sebuah buku kecil yang ikut jatuh beserta peralatan mandi itu berhasil menangkap perhatiannya. Buku secara tak sengaja terbuka. Sebuah foto yang tertempel di buku itu terlihat sangat familiar bagi Sulli.

Ini baru kissing scene pertama! Aku tak tahu ada berapa kissing scene lagi. Kenapa harus Sulli! Kenapa harus Minho hyung! Aissh, aku bisa gila kalau begini. Menahan cemburu. Iya, aku cemburu kepada dua orang yang sangat kusayangi. Namun aku bisa apa?! Kurasa sudah telat untuk menyatakan perasaanku pada Sulli. Setelah ini pasti Sulli jadi target berikutnya Minho hyung.

Sulli membuka halaman depan buku itu. Terpampang sebuah nama tertulis rapi beserta tanda tangan yang amat Sulli kenali. Di bawahnya terdapat tulisan berhuruf kapital “DILARANG MEMBUKA BUKU HARIAN INI KECUALI PEMILIK SAHNYA: LEE TAEMIN”

Sulli tercengang dengan apa yang barusan dibacanya. Sungguh ia tak menyangka akan sejauh ini. Lagipula pemuda itu sungguh ceroboh menaruh benda sepenting ini di kamar mandi.

Sedangkan di balik pintu kamar mandi itu, seorang pemuda juga tak kalah terkejutnya. Handphone yang tadi dengan usil diambilnya ternyata berhiaskan sesuatu yang sungguh membuat jantungnya berdegup kencang. Ketika Taemin mencoba menekan tombol pembuka kunci, Wallpaper itu membuka matanya yang mulai mengantuk.

“Hah?! Jadi ini handphone Sulli. Lalu perempuan yang kesini itu Sulli. Berarti yang di kamar mandi itu….”

Klik! Taemin dengar kasar membuka daun pintu. Pemandangan yang hampir membuatnya mati berdiri terpampang jelas di matanya. Sulli yang sedang berjongkok sambil membaca sesuatu. Sulli yang kaget melihat seseorng sudah berdiri di depannya spontan ikut berdiri. Buku harian itu masih melekat di tangannya. Bola mata Taemin mengarah ke tangan Sulli. Otomatis Sulli mengikuti gerakan bola mata itu. Refleks Taemin menarik buku itu dari genggaman Sulli dan melemparnya keluar kamar mandi. Taemin menelan ludahnya, sepertinya sesuatu buruk baru saja terjadi. Sulli pun tak kalah kagetnya mendapati handphone-nya berada di tangan Taemin. Ia ingat kemarin malam ia baru saja mengganti wallpaper handphone karena galau yang membuncah. Sudah tentu galau karena Taemin tak membalas pesannya. Sama halnya Taemin, Sulli juga spontan merebut handphone itu. Dimasukannya ke saku lagi benda yang telah membuka kartunya itu.

Keduanya benar-benar dalam kondisi yang tak mengenakan kala itu. Masing-masing merasa malu yang luar biasa. Bunyi detak jantung mereka sampai terdengar satu sama lain.

“Mia..”

“Mia..”

Ucap mereka hampir bersamaan. Niat mereka hendak memecah keheningan malah menimbulkan kecanggungan.

“Mianhe” ucap Sulli kemudian.

“Untuk?”

Sulli melangkah mendekat. Dengan satu langkah dapat membuat jarak mereka cukup dekat. Sulli menyentuh dada Taemin. “Maaf sudah membuat luka di sini.”

Taemin menggenggam tangan Sulli di dadanya. Ia menarik tubuh gadis itu mendekat. Taemin memeluk Sulli, seakan tak mau kehilangan lagi. Tak ada sepatah kata pun terucap. Kejadian tadi sudah cukup mewakili semua rasa yang ingin diungkap selama ini.

“Sulli! Taemin! Kalian sedang apa malam-malam begini berdua?” suara lelaki berotot itu membuat Sulli dan Taemin terlonjak kaget. Entah sejak kapan datangnya makhluk terpendek di SHINee ini. Matanya dibuat-buat menampakkan rasa curiga. Ia memandang sekeliling kamar mandi yang cukup berantakan karena ulah Sulli tadi. Pelukan mereka juga sempat terlihat tadi.

“Ahaaa! Jangan-jangan… Ngapain hayoo!” ucap Jonghyun dengan tatapannya yang menggoda.

Sulli dan Taemin saling berpandangan.

“Tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”

Sepertinya mereka akan mendapat masalah baru setelah ini.

15 thoughts on “Electric Love

    • Ini Vania yaa?
      Sebenernya bukan Jjong yg yadong, lebih tepatnya yang nulis tuh FF.
      Eh btw jangan panggil thor thor thor thor, kan kita udah kenal nih *sok kenal* panggil aja kakak atau apa gitu.Thanks ya komentarnya🙂

  1. hey ida, sori baru komen skrng yaa kheke.

    Padahal itu taelli udh mau ngelakuin, ada jjong pula… Aish #ekh. Dua org ini, cemburuan aja, haha.

    Good job nih, empat jempol deh. Cuman mau nanya, apa hubungannya antara judul dgn cerita, ya? Kok aku bingung ya
    well, keep writting, okay? Terus brkarya yaaa, trutama bikin ff taelli. =p
    fighting!

    • Baiklah….
      Electric love, nah bayangin aja kalo cinta ada listriknya. Lah ga tau kenapa aku mikirnya listrik=kesetrum. Pernah cemburu kan? Cemburu itu diibaratkan kesetrum. Gituuuu Nis..
      Eh btw itu maksud kamu mau ngelakuin apa sih *sok gak ngerti* wkwkwkwkwkwkwk😀
      Makasih ya komen dan dukungannya^^

  2. only say : daebak
    taelli ^^, i really like them
    banyakin, cerita mereka dr berbagai genre eonn, ok ^^
    keep your creation !! and keep continue the story about them !🙂

  3. Wah mian terlambat baca ^^v
    Unnie kejam bngt bilangin jonghyun makhluk terpendek di Shinee emang bener sih kekeke
    Suka pas liat taelli yg saling cemburu gitu bagus deh eon ff nya q beri 20 jempol utk unnie hehehe ^^

  4. Uwaa so sweat.
    Annyeong, aku new reader disini, salam kenal.
    Aku juga TaeLli shipper loh *gak nanya* (-_-)

    Ceritanya bagus thor. Keep writing TaeLli’s story ne! Ditunggu karya selanjutnya, Faighting!🙂

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s