(Ficlet) When Will We Meet Again?


Author            : @andinarima

Title                : When Will We Meet Again?

Genre             : Romance

Main Cast      :           – Lee Jihae

                                    – Lee Donghae

Support Cast :           – Han Ni Chan

Rating             : Teen

Length            : Ficlet (word : ­­1271)

Author Note   : setelah lama enggak nulis FF akhirnya hadir FF Ficlet pertamaku.

Oh iya mengenai posternya maap ya kalau typo. FF and Poster is MINE

                        FF ini udah pernah di posting di http://andinarima.wordpress.com

Jangan lupa RCL ya kawan🙂

^^^

Gadis berumur 17 tahun itu termenung di depan jendela kamarnya. Pandangannya lurus menembus rintik-rintik hujan. Pikirannya pun tak ditempat. Beberapa saat kemudian bulir bening menetes satu demi satu dari ujung matanya. Kerinduan yang teramat sangat membuatnya tak mampu menahan tangis.

Sudah hampir satu tahun ia tak bertemu seseorang yang teramat penting baginya. Seseorang yang lebih memilih pendidikan di Kota Romantis itu. Paris. Dari Seoul ke Paris itu menurutnya sangat jauh. Kalau di peta dari ujung ke ujung dunia lainnya.

Gadis itu mulai dilanda kerinduan yang tak dapat ditahannya lagi. Ia tahu, sangat tahu malah. Dulu ia yang mendukung orang itu untuk menempuh pendidikan fotografi di Paris. Saat itu ia merasa akan bisa mengatasi rasa kangennya dengan ber-video call tapi beberapa hari ini cowok itu sangat susah di hubungi.

Tok… Tok… Tok…

Suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia menghapus airmatanya lalu membuka pintu. Ternyata Eomma yang mengetuk.

“Sayang, makan malam sudah siap.”

Jihae–gadis itu–menggeleng. “Tapi Eomma aku sedang tidak nafsu makan,” kata Jihae pelan.

Eomma membelai lembut kepala Jihae. “Nanti kamu sakit, Ji-a.”

Nan gwaenchanayo, Eomma.” Jihae memberikan senyumannya untuk mempertegas pernyataannya.

Keurae. Tapi, kalau kamu sudah lapar jangan lupa makan ya.” Setelah menciup lembut puncak kepala Jihae, Eomma berlalu pergi.

Jihae kembali termenung di depan jendela. Hujan di luar sana sudah mulai turun dengan sangat deras membuat Jihae sedikit menutup jendela. Ia merapatkan kardigannya. Suhu semakin turun. Dingin. Sama seperti hatinya yang semakin dingin tak keruan menanti sang pujaan hati kembali.

^^^

Di sekolah pun Jihae tidak terlalu semangat. Kerinduan semakin memuncak tiap harinya. Nichan, sahabat Jihae, sepertinya menyadari perubahan sikap temannya itu. Ia pun–dengan paksa–mengajak Jihae ke atap gedung sekolah untuk berbicara.

Setelah hampir 10 menit mereka hanya berdiri bersandar di tembok pembatas, Nichan buka suara terlebih dulu.

“Kamu kenapa?” Nichan menatap sahabatnya yang masih melamun.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Jihae singkat.

“Aku tidak yakin…” Nichan terdiam lalu melanjutkan, “apa karena Donghae?”

Jihae menoleh lalu menghembuskan napas. “Ani.”

“Dulu bukankah kamu yang mendorong ia untuk pergi ke Perancis? Bahkan ia sudah menolak berkali-kali tapi entah bagaimana caranya kamu membujuk dia, akhirnya namjachingu-mu luluh juga…”

“Dia bukan pacarku,” ralat Jihae.

Nichan menatap Jihae tak percaya. “Mwo? Bukankah kalian saling mencintai? Kenapa tidak pacaran?”

Lagi-lagi Jihae menghembuskan napas.

“Aku ingin dia meneruskan pendidikannya dulu. Setelah ia pulang dari Paris baru aku akan memikirkannya.”

“Apanya yang harus dipikirkan? Bukannya beberapa hari ini kamu sudah uring-uringan terus menunggu tanggal 4 September–tanggal yang ia janjikan untuk kembali ke Seoul?” Nichan mengingatkan.

“Aku… aku tidak tahu, Ni-a.”

“Lee Jihae-ssi, kamu tidak boleh menyerah! HWAITING!” Karena melihat muka murung sobatnya itu, Nichan mencoba memberinya semangat. Dan terciptalah senyum yang akhir-akhir ini sangat langka di bibir mungil Jihae.

^^^

4 September

“Ji-a, ayo cepetan. Nanti kalau terlambat, otte?” Nichan yang sudah gemas dengan keleletan Jihae mulai menggerutu.

“Iya, ini juga sudah siap kok. Kajja!”

Hari ini adalah tanggal kepulangan Donghae kembali ke Seoul. Tanpa disadarinya Jihae berdandan secantik mungkin. Ia berharap akan mendapat respon dari cowok yang sudah lama ditunggunya itu.

Sesampainya di Bandara Incheon, mereka–Jihae dan Nichan–langsung menuju pintu kedatangan. Menurut jadwal tak lama lagi pesawat Air France akan mendarat di lapangan udara Incheon.

Lima menit, empat menit, tiga menit, dua menit dan disanalah cowok tinggi itu berada. Ia hanya membawa koper kecil dan backpack saja. Matanya seperti mencari seseorang. Mungkin penjemput. Dan mata coklat itupun bertabrakan dengan mata yang menatapnya intens. Ia berjalan menuju tempat dimana kedua gadis sudah menunggunya.

Annyeong,” sapa Jihae terlebih dahulu. Ia tersenyum manis.

Sebelum Donghae membalas sapaan itu, ada seorang petugas hotel–mungkin yang sudah di reservasi oleh Donghae, mengampirinya. Cowok itupun menyerahkan kedua tasnya lalu sedikit memberi tip. Ahjussi itu sudah cukup jauh ketika Donghae memanggilnya.

Ahjussi, apa semuanya sudah siap?” tanya Donghae.

Ahjussi itu tersenyum. “Iya, Tuan. Semuanya sudah siap. Tuan hanya tinggal datang kesana saja.”

Donghae ikut tersenyum. “Baiklah. Gamsahamnida, Ahjussi!”

Donghae kembali berjalan menuju Jihae dan Nichan.

“Donghae Oppa, tahu tidak kalau Ji-a itu udah kangen berat sama kamu?” ujar Nichan tiba-tiba yang membuat Donghae dan Jihae menatapnya.

Jinjja?”

Nichan mengangguk. Jihae hanya bisa menunduk malu ketika tatapan yang dirindukannya kembali menatapnya. Donghae tersenyum.

“Nichan kau bawa mobil, kan?”

Nichan tersenyum mengerti. “Baiklah aku akan pulang. Bersenang-senanglah!”

Kini hanya tingal Jihae berdua dengan Donghae. Donghae menyadari perubahan sikap Jihae ketika Nichan membocorkan sedikit rahasianya. Ia pun memutuskan untuk menggengam jemari gadis itu.

Jihae tersentak. Ia menoleh dan mendapati cowok tampan di depannya sedang tersenyum manis.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!”

“Kita ke sana naik apa?” Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Jihae membuat Donghae tertawa pelan.

Sebelum Donghae menjawab, ada seseorang yang mengantarkan motor putih Donghae ke hadapan mereka berdua.

Donghae mengambil motornya lalu memberikan sebuah helm putih kepada Jihae.

“Pakailah!”

Jihae memakai helm tersebut dan langsung menaiki motor besar itu. Angin malam yang menerpa tubuh Jihae membuat tangannya dingin. Ketika tanpa sengaja Donghae menyentuh permukaan kulit tangan Jihae ia tersenyum di balik helmnya. Dengan gerakan lembut namun memaksa ia memasukkan kedua tangan Jihae–bergantian–ke dalam saku jaketnya.

Jihae merasakan pipinya memanas. Untuk menghilangkan kegugupan itu ia mencoba untuk mengedarkan pandangannya. Untuk sesaat ia terkejut, karena Donghae membawanya ke tepian Sungai Han.

Donghae memarkirkan motornya. Lalu menuntun Jihae ke sebuah restoran Perancis yang ada di dekat sana. Ternyata Donghae sudah memesan sebuah meja untuk makan malam mereka berdua di lantai dua restoran itu. Meja yang dipesan Donghae langsung berhadapan dengan Sungai terpanjang di Korea itu. Kerlap-kerlip lampu di sepanjang Sungai Han menambah keromantisan yang memang sudah tercipta diantara Jihae dan Donghae.

Disela-sela makan malam mereka, datanglah seorang perempuan dengan biola di tangannya disusul si penyanyi pria. Dengan perlahan dimainkanlah intro sebuah lagu. Detik berikutnya suara merdu si pria terdengar. Lagu itu sepertinya berbahasa asing karena Jihae tak mengerti apa artinya lagu tersebut. Mungkin karena perubahan mimic wajah Jihae terlalu kelihatan Donghae menjelaskan :

“Itu lagu berbahasa Perancis.”

Jihae masih terlihat bingung. “Terus arti bagian reff nya apa?”

Lagi-lagi Donghae memberikan senyuman yang mampu membuat Jihae luluh seketika.

“Kurang lebih artinya Saranghaeyo. Nolyongwonhi saranghaeyo (Aku mencintaimu. Aku cinta kamu selamanya).”

Jihae speechless.

Setelah lagu selesai Donghae memutuskan untuk mengajak Jihae ke tepi Sungai Han. Di tepian Sungai Han Jihae mencoba menjaga jarak dari cowok-tampan-yang-hari-ini-mampu-membuat-nya-menjadi-pendiam. Padahal Jihae biasanya banyak omong, tapi entah sihir apa yang dipakai cowok itu yang mampu meredam omongan Jihae.

Di belakangnya Donghae mengamati kelakuan gadis itu. Dari gelagatnya sepertinya ia gelisah. Entah sudah keberapa kalinya Donghae tersenyum hari ini. Tapi senyuman kali ini benar-benar sempurna tercetak di bibirnya. Hari ini ia akan menyatakannya. Menyatakan apa yang harus dinyatakan. Menyatakan apa yang ditunggu gadis itu.

Donghae berjalan menghampiri Jihae. Ia berdiri di samping gadis itu.

“Aku punya hadiah untukmu.” Donghae merogoh kantong celananya dan mengeluarkan kotak berbahan beludru warna merah. Ia menyodorkannya ke Jihae. “Bukalah!”

Dengan perlahan Jihae membuka kotak itu… dan ia sangat terkejut mendapati sebuah perhiasan yang menurutnya sangat berkelas itu. Perlahan ia mengambil perhiasan itu. Kalung dengan liontin berbentuk love. Di dalam love itu ada tulisan 사랑. Jihae memandang cowok yang berdiri di sampingnya itu.

“Ini buat aku?”

Donghae mengangguk. “Aku bantu pasangkan.” Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu ia mengambil kalung itu dan memasangkannya ke leher indah Jihae. Bukan cuma itu saja, ia juga memeluk Jihae dari belakang membuat pipi gadis itu merona.

“Kalau kamu sudah lulus, maukah kamu bertunangan denganku?” bisik Donghae.

Saat-saat yang sudah lama dinantikan Jihae. Pertanyaan itu membuat Jihae tak mampu menyembunyikan tangis bahagianya. Dengan cepat ia melepas pelukan Donghae dan berbalik memeluk cowok itu.

“Aku… aku mau!” kata Jihae lirih.

Disaksikan oelh keindahan Sungai Han, mereka larut dalam kebahagiaan. Di sepanjang sisa malam itu mereka tak henti-hentinya tersenyum bahagia.

^^^

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s