The Choi’s Little Sister [Krystal]


 The Choi’s Little Sister|Drama, Family, Romance|PG-13

Sejak awal bertemu, aku tahu keluarga Choi ini berbeda. Terutama dia.

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

.

The Choi’s Little Sister

Jung Krystal, Choi Minho and the other Choi artists

Standard Disclaimer Applied

2012©Ninischh

Present

.

“KENAPA tuh, muka?” ujar Krystal begitu melihat wajah kusut Jinri memasuki kelas. Jinri, gadis yang dipanggil, tidak menyahut dan malah meletakkan tasnya kasar di atas meja. Itu sebelum ia duduk di sebelah Krystal dan berdecak kesal.

“Kesel banget, ih, Krys!” gerutu Jinri dengan ekspresi kesal terpasang di sana.

Krystal mengangkat alis. “Kenapa?”

“Pagi ini aku berangkat sekolah sama Minho oppa, naik motor jeleknya,” jelas Jinri. Krystal mengangguk. “Terus tahu, nggak? Cuman gara-gara aku bilang dia nyetirnya kekencengan bikin rambut aku kusut, eh aku malah diturunin di tengah jalan. Masih jauh dari sekolah, di tengah jalan pula, Krys!”

Jinri mengepalkan tangannya seolah hendak meninju. “Ih, nyebelin banget sih, jadi orang. Untung mobil Siwon oppa lewat, jadi aku diantarnya sampai sekolah. Nah kalau nggak? Pokoknya nyebelin, nyebelin!” pekiknya.

Bukannya simpati, Krystal justru terkikik menahan tawa.

“Apa yang lucu?” bentak Jinri.

Krystal bungkam.

Tepat satu bulan sejak kedua gadis ini masuk SMA. Jung Krystal dan Choi Jinri belajar di kelas yang sama. Dan sejak pertama bertemu ketika MOS dulu, dua gadis manis ini sudah dekat, hingga membawa mereka duduk bersebelahan di kelas.

“Eh, tunggu. Minho oppa ini yang waktu itu ngegodain aku, kan? Yang kupikir dia manggil aku ‘cantik’ gitu?”

Jinri melirik keadaan kelasnya yang ribut, guru mereka belum datang, sebelum mengangguk. “Uhm. Dia orangnya. Nyebelin banget, kan? Neraka adalah punya kakak seorang Choi Minho.”

“Mau pinnya dong, Ssul,” pinta Krystal, tiba-tiba dengan nada manja.

Jinri tersentak. “Ciee, minta pin Minho oppa, hahhha. Ciee Krystal,” godanya. “Apaan sih, cuman minta pin doang, kok,” semburat merah muncul di pipi Krystal. Jinri tertawa lagi.

“Dia nggak pake blackberry, Krys,” Jinri lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Follow aja twitternya.”

Dibukanya akun twitter milik sang kakak melalui ponsel. “Nama akunnya apa?” tanya Krystal, melirik melalui tangan Jinri pada layar ponsel. Di situ sudah terbuka timeline twitter milik Choi Minho, lengkap dengan ava, bio, juga lokasi yang tertera di sana.

Krystal mengangkat alis. “Eh, eh, liat dong avanya.”

Maka muncullah foto Choi Minho, dengan topi biru dan kaos hitam putih garis-garis, tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya yang berderet rapi.  Minho merangkul seorang pria di awal 40 tahunnya, sang pria nampak begitu bahagia dirangkul oleh Minho. Keduanya berdiri di depan sebuah rumah besar bercat krem, dengan pohon hijau rindang di sekelilingnya.

Foto ayah-anak yang membahagiakan, pikir Krystal.

“Ayahmu masih muda, ya,” pujinya, berusaha menutupi otaknya yang sudah membayangkan tujuh tahun ke depan, di mana Krystal akan menikah dengan Choi Minho, sarapan pagi bersama sang mertua, dengan Jinri dan kakak-kakaknya yang lain. Lalu ada suara tangis bayi memecah di sana. Itu anak mereka. Anak Krystal dan Minho.

Tidak, tidak. Ya Tuhan, apa yang dipikirkan Krystal. Jauh sekali pikirannya berkelana.

“Hah? Ayah?” seru Jinri kaget. Ekspresi tidak sukanya yang lebay bikin Krystal jadi kaget juga.

“Iya, itu yang difoto. Choi Minho dengan ayahmu, kan?”

Jinri menelan ludah. “Aduh Krystal, dia bukan ayahku. Itu mah Gikwang ahjussi, satpam di rumah.  Seragamnya lihat tuh,” ringis Jinri. “Ayahku disamain dengan satpam, huhhu.”

“Eh? Salah, ya? Hahha,” Krystal memperhatikan foto itu lagi. “Lagian ngapain coba dia pasang ava twitter pake foto sama satpam? Kok lucu amat.”

The Choi’s Little Sister

Krystal pov

NAMAKU, Jung Krystal.

Yang itu bohong, soalnya yang betul adalah Jung Soojung. Eh, sebenarnya kedua-duanya itu namaku. Aku gunakan keduanya, sih. Kalau dipikir-pikir ini agak mirip juga ya, dengan Sulli. Di akte namanya Choi Jinri, tapi waktu kenalan sama aku dia ngakunya Choi Sulli. Ngaku-ngaku jadi orang lain. Bukannya itu tindak kriminal?

Eits, jangan salah paham. Nama Krystal ini bukannya berawal dari bisul atau hal-hal menjijikkan semacam itu. Lagian dari namanya aja sudah terhormat. Krystal. Itu bahasa Inggris. Nggak tahu artinya? Tanya gugel translet.

Nah, balik lagi ke Krystal.

Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku Jung Jessica, padahal sebenarnya Jung Sooyeon (nah, itu cewek ngaku-ngaku juga, kan). Tapi dia kakakku, men. Jangan sentuh dia. Masih suci, nggak diobral.

Pertama kali ketemu Choi Sulli waktu MOS dulu. First impression ku… dia cantik banget, gila. Padahal rambutnya udah diiket lima pake pita merah-kuning-hijau-biru-putih, persis lampu lalu lintas. Tapi garis wajahnya, senyumnya. Dan kulitnya itu, lho. Putih bersih. Pokoknya 1oo nilainya.

“Choi Sulli,” katanya, ngulurin tangan buat perkenalan.

Aku ngangkat bibir sedikit. “Krystal, Jung.”

Kami berdua satu kelompok MOS. Kelompok lampu lalu lintas, yang warnanya merah-kuning-hijau-biru-putih. Kami masih lumayan. Dibanding kelompok zebra cross yang mesti pake baju hitam-putih, kayak baju napi. Atau kelompok aspal, yang pake arang di rambutnya.

“Kayaknya pernah denger deh, nama Krystal,” kata Sulli waktu kami semua anak baru lagi dibakar di lapangan tengah. “Iya, kayaknya aku juga pernah denger di mana gitu nama Choi Sulli,” sahutku. Sulli tertawa. Dan cuman gara-gara itu aja kami berdua selalu bersama di kala suka duka, tak terpisahkan.

Semua kakak pengurus OSIS panitia MOS berjejer di depan kami. Banyak banget dah jumlahnya. 30-an mungkin. Mana kami disuruh ngapalin nama mereka lagi. “Banyak banget namanya, Sul. Kamu udah hapal belom?” bisikku. Mataharinya panas, ih.

“Aku kenal beberapa, sih,” katanya. Kenal sama hapal kan beda. Aku coba ngetes. “Beneran? Yang pake topi biru itu namanya siapa?” aku nunjuk kakak OSIS yang paling tinggi dan paling ganteng. Tubuhnya tegap, pake topi biru kaos putih. Disambung celana training olahraga sekolah.

“Oh, itu. Siwon, Choi Siwon,” kata Sulli lancar. Wajar dia hapal, aku juga sengaja nginget namanya. Paling ganteng, sih. “Yang itu?” tunjukku pada cowok necis tubuhnya letoy. Tapi tinggi juga. Wajahnya cantik. “Heechul oppa.”

Nah, udah manggil pake ‘oppa’ aja si Sulli ini. Ternyata dia ini cewek genit, atau fangirl yang kebangeten.  Baru kenal berapa menit coba, dia udah ngefans. Sama cowok alay lagi. Nah, nilaiku akan Sulli berkurang.

Penilaianku ternyata diragukan. Soalnya waktu aku lagi nemenin Sulli ke toilet hari itu, ada kakak OSIS cewek nanya, “Dek, tahu yang namanya Choi Jinri kelompok lalu lintas, nggak?” aku menggeleng. Kakak itu kayaknya kecewa, terus dia pergi. Waktu Sulli udah selesai, aku tanya dia kenal Choi Jinri apa nggak.

“Aku Choi Jinri, Krys. Namaku sebenarnya Choi Jinri,” kekehnya. Terus aku langsung ngerasa bersalah dan ngaku kalau namaku juga Jung Soojung. Ternyata kami berdua sama-sama menyamar, mata-mata.

Dan bukan cuman satu orang yang nanyain gitu. Ada banyak, banyak kakak kelas yang nanyain ke aku yang mana Choi Jinri. Aku baik, selalu kujawab dengan “Itu, sunbae, yang pake kaos pelangi. Rambutnya iket lima, kulitnya putih. Dan namanya Choi Sulli.”

Kepopuleran Sulli tidak berhenti di situ. Besoknya kami di suruh buat buku MOS, dan di buku MOS itu kami harus tulis nama, jabatan, tugas, beserta tanda tangan dari setiap pengurus MOS. Ada waktu khusus yang diberikan bagi kami untuk berkeliling dan minta tanda tangan. Anehnya—waktu aku cek—di buku MOS Sulli sudah ada satu tanda tangan.

Dari Choi Siwon. Jabatannya Seksi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tugas yang diberikan untuk peserta MOS; Senyum setiap hari, bangun tepat waktu dan berbakti pada orangtua. Tanda tangan.

“Kapan kamu minta tanda tangan ini, Sul?” tanyaku, heran liat buku MOSnya yang rapi banget (warna lalu lintas, bisa kebayang warna bukunya Kelompok Aspal).

“Tadi pagi. Emang kenapa?”

Aku ngangkat bahu.

Ternyata memang nggak aneh. Soalnya waktu aku minta tanda tangan sama Siwon sunbae, tugas yang diberikannya adalah ‘Terus berdoa, atur keuangan dengan baik.’ Tahu aja aku lagi bokek. Berbanding terbalik sama tugasnya Taeyeon sunbae yang isinya ‘Rekam video sedang menyanyikan lagu gee. Di kumpul besok.’

“Aku yang nyanyi sendiri, sunbae?” tanyaku. Taeyeon sunbae mengangguk. “Di kumpul besok, ya.” Senyumnya. Aku cuman bisa mendesah pasrah.

Selanjutnya giliran Sulli minta tanda tangan. Taeyeon sunbae melihat buku MOS Sulli sebelum mengangkat kepala melihat wajah Sulli. “Choi Seol-ri?” ejanya.

Sulli mengangguk. “Atau Choi Jinri, sunbae,” sahutnya. Taeyeon sunbae tersentak. “Kau adik Siwon, kan? Choi Siwon?” pekiknya, bahkan sampai berdiri. “Uhmn,” angguk Sulli senang.

Tunggu. TUNGGU DULU!

Jadi si Choi Sulli ini adiknya Choi Siwon. Ya Tuhan, demi apa pun. Pantas saja rasanya juga aku pernah kenal nama ini. Choi Siwon kan pewaris utama grup Choihwang. Ya ampun, ya ampun. Otomatis Sulli juga termasuk keluarga itu, kan?

Ya Tuhan, ya Tuhan.

Wajar dia udah dapet tanda tangan Siwon sunbae. Dia kan adiknya, tinggal satu atap. Beruntung banget Sulli punya kakak seganteng, sebaik Choi Siwon. Aaakhhh!

“Krys, kamu nggak papa?”

Aku mengerjap. “Hah? Hah, iya Sul. Iya.”

Masa SMA ku nampaknya akan sangat—sangat—menyenangkan.

The Choi’s Little Sister

SEKARANG aku mau buka-bukaan. Bukan buka baju, heh! Mesum!

Tapi mengungkapkan rahasiaku yang paling terdalam.  Sejak pertama kali ketemu Sulli, dan tahu kalau ia adalah adik Choi Siwon, aku jadi semakin tertarik sama keluarganya. Apalagi begitu aku tahu Choi Sooyoung—artis sekolah, yang pamornya lebih terik dari matahari—adalah kakak sepupu Sulli.

Dan yang sangat penting, kakak kelas genit yang waktu itu menggodaku, ternyata adalah kakaknya Sulli juga. Choi Minho.

Boleh ya, aku ngomong jujur. Padahal playboy. Tiap pagi selalu aja ketemu si Choi Minho ini di koridor sekolah lagi jalan sama cewek. Atau ngobrol sama cewek. Atau ketawa sama cewek. Atau apalah yang sama cewek. Dan satu hal pasti, itu cewek nggak pernah sama. Anehnya selalu beda-beda.

Tapi ya ampun, demi apa pun lah yang ada di dunia ini, Choi Minho itu gantengnya emang bikin aku nggak bisa gerak waktu liat dia, natap matanya. Termasuk waktu cowok menyebalkan ini bilang, “Aku kan ngajak Sulli. Ayo pulang, Sul.”

Itu tuh gondoknya nggak tertahankan. Tapi karena terpesona sama matanya Choi Minho yang bulat gede kayak kodok itu aku nggak bisa ngomong apa-apa. Cuman diam. Persis orang bodoh.

Sejak itu aku penasaran banget sama Choi Minho. Jujur (ini rahasia) hampir tiap hari aku stalk timeline twitternya. Meskipun sehari dia cuman ngetweet 3 kali, atau bahkan nggak sama sekali. Mungkin Sulli nggak sadar, tapi sahabatku itu sudah rela berbuih mulutnya menceritakan segala hal (kebanyakan sih keburukannya, dan aib juga *eh*) tentang Choi Minho.

Tapi nggak papa. Setidaknya aku tahu sedikit hal mengenai Choi Minho.

Apa? Nggak, aku nggak suka dia kok. Cuman penasaran aja. Lawak, ih.

“Semalem pasti dia nonton bola,” gumamku menscroll tl Choi Minho ke bawah, untuk melihat tweetnya yang lain.

“Dukung Chelsea1, ya?” komentarku begitu membaca salah satu tweetnya, masih terus aku berjalan. Pulang sekolah. Dan karena ada kegiatan klub (aku ikut klub altetik lho. Jangan salah, tubuhku ini lentur kayak karet) jadi sekolah udah sepi waktu aku pulang.

Aku mengangguk. Sulli pernah cerita, katanya Minho oppa (itu panggilan Sulli, bukan aku) dan Siwon oppa (panggilan Ssul juga) lagi nonton bola, malem-malem. Saking geramnya ngeliat buletnya bola, Minho oppa sampai jongkok di depan tivi dan nonjok-nonjok layar tivi karena Chelsea nggak ngebuat gol sama sekali waktu main lawan Juventus kemarin.

Begitu ada peluit tanda pertandingan selesai, tivi meledak. Keluar asap. Sejak itu di kamar Minho oppa nggak ada tivi lagi, akibat cintanya yang begitu besar pada Chelsea.

“Humn, jadi Choi Minho cinta mati sama Chel—“

TIN!

Ckiiiittt.

Itu suara rem yang ditekan terlalu keras. Jelas rem motor, bukan rem sepeda. Aku tersentak. Merasakan rambutku yang berkibar kala aku membalikkan badan. Ini motor siapa sih, yang nyupir. Padahal jalan luas tapi masih aja mau nabrak aku. Genit.

“Oi, kamu nggak papa?” seru yang nyupir motor. Kayaknya suara ini aku kenal.

Aku ngangkat wajah dan langsung gigit lidah. Itu Choi Minho.

CHOI MINHO!

“Oh, kamu.” Nadanya langsung berubah dingin begitu ngeliat aku. Hah? Padahal tadi kayaknya dia khawatir gimana gitu. “Pejalan kaki jalannya di pinggir, jadi nggak ganggu motor yang lewat, bodoh.”

Apa? Aku dibilangnya bodoh? Anjir. Dia kenal aku aja nggak. Lancang banget, nih.

“Jalan ini luas, Pak Pembawa Motor,” kataku. Choi Minho masih aja duduk di motor gedenya, yang pasti mahal banget itu. Mesinnya nggak dimatiin. “Lagian ini salah siapa? Jalan luas, kok. Kenapa mesti nabrak aku segala? Harusnya minta maaf, bukannya nyalahin orang.”

Choi Minho berdecak, mengedikkan kepalanya. “Udah, minggir sana. Aku mau pulang.”

Aku hampir aja menganga, kalau nggak sadar aku masih punya sopan santun. Dia kakak kelas, kakaknya Sulli. Ternyata orangnya emang nggak sopan banget. Sok ganteng. Nyebelin. Playboy. Iyuuuwhh, kamseupay. Nilaiku berkurang akan Choi Minho.

“Nggak minta maaf, ngatain aku bodoh pula. Lancang banget,” bisikku kecil. Choi Minho kayaknya denger, dia ngangkat alis. “Huh? Kayaknya aku denger kamu sebut namaku waktu jalan tadi, deh. Fansku, ya? Penasaran denganku, ya?”

Mukaku langsung merah. Dia denger aku sembut namanya tadi! Huanjir. Aku harus ngomong apa. Aishh. Geer banget dia, meskipun itu emang kenyataan.

“Kamu temennya Sulli, kan? yang kemarin geer ngira aku mau ngajak kamu pulang itu, kan?” cengir Choi Minho. Dia nyengir. Ngeledek aku. Tapi kok ganteng banget. Ekspresiku pasti kayak orang sangat bloon sekarang.

“Siapa namamu?” katanya. Aku narik napas pendek. “Krystal, Jung.” Choi Minho nahan senyum. Aku malu banget, sumpah. Ya Tuhan. Harus ngomong apa?

“Kok semacam bedak, ya?”

Choi Minho mendengus sebelum menjalankan motornya melewatiku, dan pergi.

Apa katanya? Namaku semacam bedak? Bedak? Sial. Ini namanya pencemaran nama baik. Setelah sukses merubah nama dari bisul menjadi Sulli, haruskah aku merubah nama juga gara-gara ini? Krysdak? (Krystal-bedak? Krystal-dedak2? Iyuh).

Sialan.

Malamnya aku ngemention Choi Minho dengan tulisan, ‘Done! Unfollowed!!!! @ChoiMinho12’.

The Choi’s Little Sister

CEWEK itu bodoh. Contohnya (aku ngelirik Sulli) bukan, bukan Sulli contohnya. Tapi aku sendiri. Aku memang mention gitu ke Choi Minho, tapi nyatanya aku lupa mencet tombol keramat berupa unfollow. Jadi intinya, aku nggak ada ngeunfollow dia. Yang ada sekarang Choi Minho malah ngefollow aku.

Choi Minho follow aku, man! Ini rekor, soalnya following Choi Minho cuman 129 dan followersnya 5.3443 akun. Aku nggak ngapalin angka itu kok, Cuman inget aja.

Sekarang masalahnya adalah, gimana aku harus ngadepin Choi Minho? Terang-terangan bilang aku unfollow dia, padahal nyatanya aku belum unfollow sama sekali. Bisa terbayang tawa setan pemuda itu membahana di rumah Sulli kemarin malam. Mau taruh di mana wajah cantikku ini?

Ngomong-ngomong soal rumah Sulli, sekarang aku lagi otw ke sana. Capek habis maraton di sekolah, Sulli ngajak aku ke rumahnya. Buat main sekalian numpang minta minum, kan. Ini sesuatu yang baru buatku, soalnya kami ke rumah Sulli naik kereta bawah tanah. Naik kendaraan umum!

Luar biasa. Sebagaimana yang kita ketahui melalui berbagai drama Korea yang kita tonton, anak presiden direktur perusahaan besar, seperti Choihwang ini contohnya, nggak akan pernah mau naik kendaraan umum. Palingan naik mobil mewah atau motor gede (poke Siwon sunbae dan Choi Minho), atau setidaknya, taksi.

Tapi cewek cantik rambut panjang sahabatku ini ngajak ke rumahnya naik kereta bawah tanah! Okesip, aku sukses terpesona. Ternyata jalan dari stasiun ke rumah Sulli nggak begitu jauh. Gerbang rumahnya warna cokelat tajam, besar dan tinggi menjulang. Di dinding pagarnya tertulis besar nama ayah Sulli, Choi Seunghyun. Lalu nama istri dan seluruh penghuni rumah di balik gerbang besar ini.

Eh, tunggu.

“Sooyoung sunbae juga tinggal di sini?” ujarku heran, herannya double. Soalnya gerbang besar ini tiba-tiba terbuka secara otomatis. “Uhm, tapi kami beda rumah.” Sahut Sulli, berjalan mendahuluiku. “Ayo, Krys,” ajaknya.

“Wah, nona Jinri ngajak temen, ya,” sambut seseorang, muncul dari pos satpam menyambut kami. Aku tersenyum manis dan mengangguk, lalu membungkuk sopan. “Halo, apa kabar?” ujarku. “Aigoo, sopan sekali,” katanya.

Ahjussi, ini Krystal. Krystal, ini Gikwang ahjussi,” kata Sulli. Aku mengangguk paham. Nampaknya ia satpam yang baik. Aku suka, ih. “Aku siap melayani temannya nona Jinri, nona Krystal. Panggil aku kalau butuh bantuan,” kata Gikwang ahjussi. Aku tertawa.

Buat apa coba rumah Sulli pake satpam segala, rempong banget. Tapi itu sebelum aku sadar seberapa luas rumahnya. Ternyata untuk mencapai rumah Sulli itu sendiri, kami masih harus menyusuri jalan panjang. Di sekeliling jalan aspal ini terdapat pohon-pohon pinus yang rindang. Hijaunya mengangumkan. Sakit mataku terobati akibat melihat lautan klorofil.

“Kayaknya wajah Gikwang ahjussi familiar,” bisikku begitu kami jalan menjauh. “Dia kan yang ada di avanya Minho oppa, Krys,” sahut Sulli. Aku mengangguk.  “Oh, iya.”

Selama ini aku tahu Choihwang itu salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan. Tapi begitu melihat rumah Sulli yang wow banget ini, bikin aku makin sadar betapa BESAR kekayaan keluarga Sulli.

Ternyata memang ada dua rumah utama di kompleks ini. Yang pertama rumah Sulli, yang satunya rumah Sooyoung sunbae. Nampaknya di antara pepohonan ini masih ada rumah lain, kata Sulli itu rumah pembantunya yang ngebantuin di rumah Ssul.

Aku matung waktu pintu rumah Sulli kebuka.

Ada pembantu yang ngebukain pintunya, mamen! Dengan baju maid gitu terus pake bilang “Selamat datang nona Jinri,” pula. Tiba-tiba kebayang rumahnya Goo Joonpyo di film BBF itu. Ini persis rumahnya! Sulli gila, keren banget!!

“Ayo, masuk, Kryss. Kamu aneh banget hari ini, ih,” Sulli ngeret aku ke dalam rumahnya. Aku hampir nggak bisa ngomong apa-apa waktu Sulli ngajak aku ke ruang keluarganya, ngelewatin ruang tamu dan aula depan. Wow! Wow! Aku speechless deh, sumpah.

“Krys? Masih hidup?” wajah Sulli tiba-tiba muncul di mataku.

“Hah? Apaan sih, masih hiduplah” gurauku. Sulli tertawa. “Kamu haus, kan? aku ambilin minum, ya. Mau minum apa?”

Aku ngangkat bahu. “Jus mangga?”

Itu cuman asbun, tanpa aku tahu bahwa Sulli bener-bener ke dapur dan ngebuat jus mangga saat itu juga. Tapi waktu itu aku belum tahu, jadi aku diem aja.

Ini dia, ruang keluarga rumahnya Sulli. Warnanya serba kuning keemasan, memang agak mencolok, tapi kesan mewahnya nggak pernah lari. Begitu masuk, yang menyambutku adalah sebuah jendela besar dengan gorden cokelatnya yang diikat di sisi kanan kiri jendela. Di sebelah jendela di atas rak kecil, berdiri tivi yang layarnya tipis gitu. Ukurannya nggak terlalu besar (kupikir Sulli bakal punya tivi super gede, dia kan banyak duit).

Tiga sofa mengelilingi meja di depan tivi. Meja kecil ini beralaskan karpet yang waktu aku sentuh itu lembutnya bikin geli. Aku membalikkan badan. Ternyata di balik sofa yang kududuki, bergantung foto keluarga dengan baju hitam putih di dinding.

Dua orang yang duduk di tengah itu pasti kakek nenek Sulli. Udah tua, sih. Terus di samping kiri kakeknya, ada pria tampan merangkul wanita di sampingnya. Si wanita dengan senyum cerah menggandeng tangan gadis kecil di kirinya. Di depan pasangan itu berdiri dua anak laki-laki imut. Di sisi lain mereka, berdiri wanita lain. Senyumnya lesu namun menenangkan. Kedua tangannya di pundak anak perempuan di depannya.

Di foto itu semua perempuan mengenakan baju putih, sementara yang laki-lakinya dengan baju hitam. Jadi perbedaannya nampak. Aih, Sulli pasti gadis kecil yang digandeng itu. Choi Minho juga masih kecil. Imut banget sih, cowok itu (waktu kecil).

Eh, tunggu. Tapi kok Sooyoung sunbae cuman sama ibunya aja? Ayahnya kok nggak ada di foto, ya?

“Ssul udah pulang belum, noona? Oi, Choi Sulli!”

Aku langsung duduk tegak. Sarafku tegang. Itu suara Choi Minho! Ya, Tuhan, aku lupa. Aku lupa kalau ini rumahnya Choi Minho juga. Duh, gimana nih? Aku harus ngapain?

“Sulli?”

Bibir kututup rapat. Suara itu makin dekat. Choi Minho pasti jalan ke sini. Huh. Hah. Tenang, Krys. Dia nggak bakal nyium kamu, kok. Ya, ampun! apa yang kupikirin. Choi Minho nggak mungkin lah nyium aku. Krystal, kamu bodoh banget, sih.

“Ada siapa, nih? Cari Siwon hyung, ya?”

Choi Minho berdiri deket sofa yang aku dudukin. Oke, aku berdiri dan nunjukkin diri aja. Lagian dikiranya aku siapa, kegenitan banget nyari kakak kelas sampai ke rumahnya segala.

Aku berdiri dan membalikkan badan, berhadapan sama Choi Minho.

TUNGGU, TUNGGU!

Aku nggak tahu kenapa Choi Minho ikutan nganga, tapi kalau dalam kasusku, aku pantas kaget.

Si Choi Minho ini berdiri di depanku, rambutnya basah. Wajahnya basah. Semuanya basah, sampai ke lantai-lantainya pun basah. Dan dia cuman pake boxer doang. Demi apa pun. DIA TELANJANG DADA DI DEPAN AKU!

JKSHASJKDHAKDJGASJDGJAKD!!!!!

Maksudnya apa, ini?

Aku menelan ludah, buru-buru nutup mata pake tanganku. “Akh, pelecehan seksual!” pekikku, langsung membalikkan badan dan duduk lagi. Ya Ampun, ya ampun. Apaan ini? Ngapain Choi Minho ke sini, nggak pake baju lagi!

“Ngapain kamu ke sini?” katanya. Bukannya pergi, malah jalan mendekat.

Aku nutup mata rapat-rapat, berusaha menutupi hasratku melihat wajah seksi Choi Minho yang basah dan dadanya yang kotak-kotak itu.

“Pergi sana, pergi!”

Choi Minho mendengus. “Harusnya kamu yang pergi. Ini rumah siapa, siapa yang ngusir,” ujarnya lagi. Aku diam. Bener juga, sih. Sotoy banget ya, aku. “Lagian ngapain kamu pake ke sini, segala? Nyari aku, ya?”

Kututup rapat bibir (dan mata juga). Noh, narsisnya keluar.

“Nggak… nggak, aku nggak nyari kamu, kok,” belaku, berusaha menguatkan suara. Cepatlah datang, Sulli yaa. Selamatkan aku dari siksaan kakakmu yang ganteng ini.

“Terus ngapain?”

Dadaku udah kayak pacuan kuda. Semoga Choi Minho nggak denger suaranya yang dag dig dug ngebut. Aku harus ngapain? Duh, Sulli lama banget bikin jus mangganya.

“Oppa, ih jorok banget, sih. Jadi basah, kan lantainya,” suara gerutuan menyelamatkanku. Itu suara Sulli. Sulli, malaikatkuuu.

Segera aja aku bangkit dan ngebuka mata. Sulli datang membawa nampan dengan jus mangga di atasnya, berdiri dengan tatapan jijik di sebelah Choi Minho.

“Kasian Jiyeon eonni ngepelnya. Mandi sana!” seru Sulli lagi, berusaha berjalan tanpa menyentuh air di lantai. “Iya, yang mulia,” Choi Minho sempat-sempatnya melempar air dari wajahnya ke Sulli.

“Ih, jorok!”

Dan Choi Minho juga sempat melirikku.

Sulli meletakkan nampannya di atas meja. Padahal pembantunya banyak. Kenapa Sulli bela-belain bikin sendiri jusnya? Baik banget dia.

Aku menghela napas lega begitu Choi Minho hilang dari pandangan. Lain kali kalau ke sini, aku harus lebih berhati-hati. Berkeliaran setan telanjang dada yang gantengnya nggak karuan.

“Sulli, tadi malem kamu minjem ponsel oppa, kan? ada di mana?”

Siwon sunbae masuk ke ruang keluarga, rambutnya basah. Dadanya juga sama-sama kotak. Tapi bukan pake boxer, dia cuman pake handuk buat nutupin ‘kemaluannya’. CUMAN PAKE HANDUK!

“Di kamarnya oppa, aku taruh di rak buku.”

Oh my god, oh my god. Kenapa di rumah ini semuanya pada hobi telanjang dada?

Aku pingsan.

The Choi’s Little Sister

TERNYATA memang sudah menjadi kegiatan rutin Choi Minho untuk mencuci motor gedenya setiap hari Minggu pagi. Dan tadi itu dia basah-basahan karena habis nyuci motor. Sementara Siwon sunbae (bukan habis nyuci mobil, juga) habis mandi.

Siwon sunbae masih punya sopan santun, ya. Waktu dia tahu ada aku, Siwon sunbae minta maaf karena nggak pake baju dan buru-buru pergi. Sungguh berbanding terbalik dengan Choi Minho, yang pede aja ngomong sama aku, tanpa maaf pula.

“Eonni, ayolaah,” ujar Sulli manja, bergelayut di pintu mercedes hitam tempat Sooyoung sunbae sudah duduk nyaman. “Eonni kan bisa minta temen-temen eonni jemput ke sini,” pinta Sulli lagi. Ketahuan cewek ini sering banget ngerengek di rumah, hmnn.

Aku yang berdiri tidak jauh dari mobil itu jadi ngerasa nggak enak. Sudah jam 3 sore, capek seharian main di sini, waktunya aku pulang. Dan Sulli ngerengek minta Lee Joon ahjusshi, sopirnya yang udah siap buat nganter Sooyoung sunbae pergi, untuk sekalian nganterin aku pulang.

“Sooyoung eonni yang baik, yang kucintaa, ayolaah. Kasian nih, temenku mau pulang nggak ada yang nganterin,” kata Sulli lagi.

Aku meringis, berjalan mendekat ke mobil. “Nggak usah, Sul. Maaf udah ngerepotin sunbae, aku nggak papa kok, pulang sendirian.”

Sooyoung sunbae mengangkat bahu dan nyegir. “Tuh, temenmu aja nggak papa. Ya udah, aku duluan ya Krystal, baik-baik Ssul!” dan mobil Sooyoung sunbae berlalu melewati pekarangan rumah Sulli.

Sebenarnya bisa aja aku minta jemput Jessica eonni, kakakku, atau minta tolong appa menjemputku. Tapi nggak papa sih, tadi aja Sulli naik kendaraan umum. Berarti aku juga bisa, kan?

“Ck, gimana nih, Krys? Masa kamu mau nginep di sini, hehhe,” si Sulli malah ketawa. Pikirannya kok sempit banget, yak.

“Ayo, bareng.”

Aku tersentak dan berpaling. Kami berdua kembali berjalan ke rumah Sulli (tadi itu di depan rumahnya Sooyoung sunbae), dan Choi Minho sudah siap dengan motor gedenya di depan garasi rumah Sulli. Lengap dengan jaket cokelat dan helm hitam. Dia pasti mau pergi.

Choi Minho mengedikkan kepalanya, menunjuk kursi kosong di motornya. “Temenmu ini mau pulang kan, Sul? Ikut sama oppa, aja.”

Menelan ludah. Baru aku sadar nada bicaranya Choi Minho yang berubah kalau ngomong sama Sulli. Waktu denganku nadanya kasar dan sok, tapi ketika dengan Sulli—memang kasarnya nggak hilang—tapi nada melindungi yang tersirat di sana terbaca jelas. Jadi bikin aku penasaran gimana nada bicaranya waktu ngomong sama Siwon sunbae, yang notabene ganteng, baik, sopan, dan sempurna itu.

Sulli menganga sesaat. Ekspresi kagetnya yang terbaca jelas bikin aku bingung. Kenapa?

“Kamu mau ikut, nggak?” tuh kan ngomongnya kasar.

Aku mengangguk samar. Sadar Choi Minho nggak melihat anggukkanku, maka kubilang dengan yakin, “Iya, ikut.”

Choi Minho mengangkat bahu dan menyerahkan helm (yang ternyata sudah disiapkannya). Selama aku masang helm, Choi Minho melirik Sulli sekilas dan (aku yakin betul) pasti tahu penyebab rasa kagetnya Sulli yang aneh (sampai sekarang Sulli masih matung. Duh, sahabatku yang golay3).

“Oppa mau nganterin Krystal, pulang?” tanya Sulli heran. Choi Minho bergumam ngingau. “Iya, Sulieee,” katanya.

Aku juga ngerasa aneh, sih. Tumben Choi Minho ini baik banget. Sebenarnya aku juga penasaran, tapi jujur lebih gede rasa terharu dan senengnya karena diajak Choi Minho pulang dibanding rasa herannya.

Mesin motor ini udah nyala. Aku naik ke atasnya (syukurnya aku pake celana jeans). Choi Minho ngegas.

“Makasih ya, Sul. Jangan ngigau terus, aku pulang dulu,” salamku. Sulli tersenyum canggung, masih dengan ekspresi anehnya. Nampaknya Choi Minho mencibiri adik manisnya ini, karena Sulli balas memonyongkan bibirnya dan tertawa.

Dengan iringan suara klakson, motor gede ini melaju.

Kulihat melalui spion, Sulli melambai dari depan rumahnya yang super gede. Choi Minho juga mengklakson Gikwang ahjusshi di pos satpam.

“Rumahmu di daerah mana?”

Jalanan sepi. Oh, iya lupa. Ini kan kawasan elit. Rumahnya gede-gede, wajar sepi.

“Di Sangsum-dong4,” aku langsung ngejelasin secara detil rumahku. Choi Minho nampak mengerti, ia mengangguk. “Aku juga mau ke daerah sana,” katanya.

Aku jarang banget naik sepeda motor, tapi harus kuakui Choi Minho ini bawa motornya enak banget. Nyaman dan aman. Terasa klop begitu saja.

Aku berusaha megang jok motor ketimbang baju Choi Minho sebagai pegangan. Agak sulit sih, meskipun di beberapa rem tanpa sengaja toh aku megang bajunya juga. Ini cuman antisipasi akan jantungku yang udah mau copot saking cepetnya dia berdetak. Aku deg-deg kan sumpah, demi apa pun.

Aku di bonceng Choi Minho, woy, hahha. Kok lucu, ya.

Ada lampu lalu lintas di persimpangan nggak jauh dari rumah Sulli, motor berhenti. Tepat di sebelah kiri kami, ada toko buku yang di rak luarnya memajang koran dan majalah. Paman pemilik toko sedang membersihkan debunya dengan kemoceng, sekaligus menyapa pembeli yang masuk ke toko buku.

Choi Minho mengklakson paman tersebut—kalau aku nggak salah orang. Ternyata memang benar, soalnya waktu paman ini noleh, Choi Minho ngeklakson lagi disertai senyum.

“Ahjusshi!” panggil Choi Minho. Paman tersebut nampak terkejut melihatku, lalu ikut nyengir dan berseru, “Hoi, nak!”

Pemuda ini mengangguk sopan dan tersenyum begitu motor ini berjalan lagi. Choi Minho menyapa paman pemilik toko buku di pinggir jalan. Mereka saling kenal. Dan ia mengangguk sopan. Sopan.

“Tadi itu siapa?” tanyaku lancang.

Beberapa detik berlalu sebelum, “Kang Minhyuk ahjusshi, paman pemilik toko buku,” sahutnya. “Kenapa?”

Aku mengerutkan alis. Menelan ludah. “Kok bisa kenal?”

Choi Minho mendengus. “Aku tinggal di daerah sini dari lahir,” jawabnya. “Aku hebat, kan? nggak kayak kamu, tetangga sebelah rumah aja nggak kenal.”

Aku hampir saja memukul Choi Minho kesal—sadar hal ini lah faktor pendukung kenapa Sulli ternyata suka mukul, gara-gara Choi Minho.

Tapi wajar, sih. Aku memang nggak kenal tetangga sebelah rumah. Dan Choi Minho bisa deket sama bapak-bapak pemilik toko buku yang lumayan jauh dari kawasan rumahnya. Menelan ludah, lagi. Nada bicaranya tadi nggak kedengaran sombong. Malah bikin aku kagum.

Kagum sama Choi Minho.

Aku mengangkat wajah. Tunggu. TUNGGU.

“Eh, eh, kenapa lewat sini? Harusnya tadi belok di situ!” seruku kaget melihat Choi Minho membawa motornya lurus saja. Kupikir ia sudah paham letak rumahku, ternyata ia salah jalan juga.

“Belokan yang tadi!”” kataku lagi, menepuk pundaknya, takutnya dia nggak paham. Nyalat baget ni cowok, motornya masih dibawa lurus juga. Bukannya muter terus belok. “Choi Minho!” seruku panik. Cowok ini nggak bisa denger, ya?

“Udah, diem aja. Lewat sini lebih cepet.”

Aku sudah hendak membantah lagi, tapi kuurungkan niat itu. (Akhirnya) Aku berpegangan sama bajunya Choi Minho juga. Bersandar di balik punggung cowok tegap ini, merasakan hembusan angin mengibarkan rambutku, aku merasa nyaman. Dan hangat.

“Enak ya, yang nyender,” sindirnya tiba-tiba.

Aku tegang. Langsung kulepas peganganku.

Suara tawa Choi Minho yang renyah membuatku jadi kesal. Cowok ini ternyata memang menyebalkan.

“Kok kamu bisa tahu jalan ini?” ucapku, baru sadar kami sudah mencapai kawasan rumahku. Choi Minho benar-benar memilih jalan yang lebih cepat dari yang biasa aku lalui. Sepuluh tahun tinggal, aku bahkan belum pernah melewati jalan ini.

“Aku tahu semua jalan di Seoul,” bangganya. Mana mungkin. Aku tertawa mengejek. Saat itu aku memang nggak percaya, tapi dikesempatan lain bibir Choi Minho akan terbukti berkata benar.

“Oh, ya?”

Choi Minho tertawa lagi, membuatku sadar ternyata dia orang yang ramah. Sudah berapa kali ia tertawa selama bicara dengaku kali ini?

“Nggak percaya?” tantangnya. Motor ini berbelok. Nah, rumahku sudah dekat. “Lain kali kuajak keliling Seoul, ke tempat yang belum pernah kamu datangi,” katanya.

“Janji?”

Tertawa (lagi).

Dalam suara tawanya yang menenangkan itu aku tersenyum.

Aku menyukainya. Wajahnya yang tampan luar biasa. Mata kodoknya yang menggelikan. Kata-kata kasarnya yang menyebalkan. Ramah kalimatnya. Hangat punggungnya.

Aku suka Choi Minho.

Dan nampaknya perjalananku untuk mendapatkan hati Choi Minho masih sangat, sangat, sangaaat panjang sekali. Tentunya aku butuh bantuan Sulli untuk melakukannya. Hehhhe.

Sulli yaaa, bantu aku, oke?

End.

Thankyouu for reading, hehhhe =)

Selanjutnya ada Siwon dan Sooyoung. Which one do you choose?

I love you! Thankyuuu soooo muuuuuuch for reading hehhhhhhehehehhehehe =^,^=

Note      :

Chelsea f.c = klub sepakbola asal London, Inggris

Dedak   = makanan bebek, unggas, semacamnya.

Golay   = semacam alay/lebay yang berlebihan.

Sangsum-dong  = Salah satu distrik di Seoul, Korea Selatan.

26 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Krystal]

  1. akhirnya ff ini update juga \^^/
    ceritanya makin kocak aja nih
    aku tetep nunggu yang soo eonni loh🙂
    kalo bisa yg waktu itu request-an couple soo eonni di kabulin yah😀
    ok segini aja dulu
    FIGHTING !!! *updatenya jangan lama-lama ya ;)*

  2. waaaa… demi apa.. baru baca pertama aja udah kocak abis😀
    ahaha😄 disini kesan ‘dinginnya’ Krystal ilang ._.
    ahaha😄 pokoknya keren ah😀 seru😀
    besok wajib baca serial the choi’s little sister ahh😀
    ahaha😄 aku menunggu update-annya😄

    • heii ahhha ketawa mulu, nih. segitu lucunya kah? thankyou yaa hehhe.
      orang luar mungkin melihat krystal dari sisi dinginnya, belum liat ‘dalemnya’ krystal yang keren abis. well, silahkan baca, thankyou for readingg juga sebelumnyaaa =)

  3. daebak~ wah krystal takjub banget sama rumahnya keluarga choi, kekeke~~
    sooyoung dulu ya thor, hehehe😀
    sekalian couplenya soo sama kyuppa… ^_^

    • iya, maklum baru pertama kali ngeliat dia terharu (?) liat rumahnya Sulli yang wow banget itu hehhe.
      untuk yang berikutnya itu masih rahasia, siwon atau sooyoung duluan yaa, hmnn:/ ehehhe pokoknya ditunggu aja deh kelanjutannya. thankyou yaaah

  4. Huahahahahah… ini lucu lohhhh … seru cerita nya
    – krystal yg terpana kecantikan sulli
    – heran kok bisa sulli tau detail siwon n Minho ..terutama pas sulli dah dpt tanda tangan siwon ..
    – dgn polos nya blg ga kenal choi jinri
    – dgn sukses terkejut begitu tau sulli adik siwon n Minho … mahluk yg di sukai nya heheh
    – krystal panik liat Minho nongol di depannya hanya dgn celana .. alias telanjang dada .. belum lgsiwon yg cuma berhanduk ria di bagian bawah nya … ahhhh mau donk di posisi krystal…
    – krystal pabo … ” done unfollow ” tp .. blm nge unfollow … malah di follow back Minho ..heheh
    – asik nya krystal di anterin pulang Minho dgn naik motor ….cuit cuit …..
    – cit kemajuan nih .. Minho akur sama krystal … pakai ajak keliling seoul lg

    Tp salut bgt sama keluarga choi … kaya raya terpandang tp merakyat n ramah ….

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s