Egoism [Part 3]


new-egoisM.jpg2

Title                       : EGOISM ( PART 3 )

Cast                       :

–          Fumiko Riyumi (OC)

–          Oh Sehun

–          Xi Luhan

–          Byun Baekhyun

–          Cha Hyunji (OC)

Other cast           :

–          Lee Hyukjae

–          Kajuma Oziro

Genre                   : romance,tragedy,Friendship,school life

Rating                   :  PG

Leght                     :  Chaptered

Author                  :  Ondubu (@intanKoiziro)

Credit By              : Harisa a.k.a Kim Yong Hoon

Post                       : Hai readers, kita ketemu lagi di sini author bawain part 3 nya lhooo #PD tingkat dewa#. Oya seseuai saran dari readers semua author udah berusaha memperbaiki kata-kata dari cerita ini agar kalian tidak bingung lagi saat membaca ceritanya, maklum karena baru belajar buat ff jadinya agak berantakan certianya, dan mohon maaf genrenya author ganti dengan tragedy kemarin salah ketik karena di sini tidak ada unsur fantasy nya. Oleh karena itu terus kasih saran dan kritiknya ya.  Terima kasih sebelumnya kalian udah bersedia baca ff ternista di dunia ini. Disini authornya pake cast jepang karena authornya suka dengan yang berbau jepang, cast ceweknya author yang punya sedangkan EXO Tuhan dan kakek soo man yang punya…hehehe ya udah dari pada banyak bacot mending langsung di baca ke TEEEE KAAAA PEEEE @monggoooo@ ^_^ maaf nunggu lama ^_^!!

~Egoism~

Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Ditatapnya tumpukan buku di hadapannya dengan malas. Masih banyak tugas yang menanti dengan setia yang harus diselesaikannya hari itu juga. Ingin sekali ia buang tumpukan buku itu ke tempat sampah sekarang, jika saja tidak ada tuntutan yang mengharuskannya untuk menyelesaikan tugas yang menurutnya menyebalkan itu. Di  mainkannya bolpoint miliknya seraya tangan kirinya menopang dagunya. Sudah sepuluh menit lamanya dia berdiam diri dan hanya menatap kertas-kertas dihadapannya dengan malas.

Lelaki itupun bangkit dari tempat duduknya, berniat mencari sesuatu yang bisa menghilngkan rasa bosannya. Sejurus kemudian ia mengingat sebuah benda yang menurutnya bisa membantu menghilangkan rasa suntuknya. Iapun merogoh tas sekolahnya untuk mencari benda itu, tetapi nihil benda itu tak kunjung didapatnya. Lelaki itupun beralih pada laci meja belajarnya berharap benda itu ada disana. Dan benar saja lelaki itu berhasil menemukannya. Sebuah benda berukuran sedang berbentuk persegi. Sebuah MP3 yang dibelinya dua tahun lalu.

“akhirnya ketemu juga”. Gumamnya saat menemukan MP3 miliknya. Setelah mengambil MP3 tersebut, lelaki itu kembali menutupnya. Tetapi gerakan tangannya terhenti saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah gelang tangan berwarna biru muda yang terbuat dari sulaman benang. kembali ia membuka laci tersebut dan meraih benda itu.

Ditatapnya lekat-lekat benda tersebut, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Suatu perasaan yang dirasakannya sepuluh tahun yang lalu kini dirasakannya lagi. Sekelebat masa lalu muncul dibenaknya.

‘ini, pakailah!’

‘apa ini?’

‘ini gelang buatan ibuku’

‘kenapa kau berikan padaku?’

‘jika suatu saat nanti kita berpisah, gelang ini akan selalu mengingatkanmu padaku’

‘lalu kau?’

‘aku juga memakai gelang yang sama denganmu’

‘kita tidak akan pernah berpisah. Kita akan selalu bersama, karena kau sahabatku’

Diremasnya dengan kuat gelang tersebut guna menahan perasaan yang membuat dadanya sesak saat ini. kenapa perasaan itu muncul lagi? Kenapa perasaan sepuluh tahun yang lalu itu kembali ia rasakan?. Sehun, lelaki itu berusaha untuk menahan air matanya agar tak keluar. Penyesalan. Ya, rasa penyelasan itu menghampiri dirinya.

“maafkan aku karena telah mengingkarinya”. Gumamnya pelan.

Drrtt drrtt…

Sehun mengalihkan pandangannya kearah ponsel yang terletak diatas meja belajarnya. Iapun beranjak meraih ponsel tersebut, dan melihat siapa yang telah meneleponnya malam-malam begini. Setelah mengetahui nama yang tertera dilayar ponselnya, Sehun menghela nafas panjang. Dengan ragu ia menekan tombol hijau pada layar touch screen miliknya. Entah apa yang membuatnya merasa ragu untuk menjawab panggilan tersebut.

“yeoboseyo”.

“Oppa. kau belum tidur?”. Tanya seseorang di seberang telepon.

“belum, masih banyak tugas yang harus aku selesaikan hari ini juga”. Jawab Sehun, seraya merapikan buku-buku yang berserakan di atas kasurnya.

“apa aku mengganggumu?”.

“tidak sama sekali, Hyunji-ah”. Jawab Sehun dengan tersenyum samar. Meski sebenarnya dirinya sangat terganggu dengan adanya telepon dari gadis itu, tetapi ia tak tega mengatakannya karena ia tak ingin gadis itu tersinggung nantinya.

>>> 

‘Sehun dan Hyunji pernah menjadi sepasang kekasih’

‘kau menyukai Hyunji?’

Kata-kata itu terus terngiang di telinganya sejak pulang dari café tadi sore. Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Baekhyun benar, ia memang menyukai gadis itu semenjak mereka  satu sekolah saat SMA dulu. Bahkan sampai sekarangpun ia masih menyukai gadis itu. tetapi kenyataannya sekarang sangatlah menyanyikitkan baginya, gadis yang selama ini ia cintai pernah memiliki hubungan dengan sahabatnya sendiri. Jika saja masa lalu bisa terulang kembali, ia akan memilih untuk tidak mengenal gadis itu dan pada akhirnya mencitanya seperti sekarang.

Jika saja Sehun bukan sahabatnya, mungkin ia akan berusaha merebut hati Hyunji agar ia bisa mendapatkan gadis itu. Tetapi Luhan tak sejahat itu, ia tak akan tega menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya demi mengikuti egonya. Apalagi menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri. Itu tak mungkin ia lakukan.

Pandangannya pun menerawang ke langit-langit dinding kamarnya. Seraya kedua tangannya menopang kepalanya. Apa yang akan dilakukannya besok saat melihat gadis itu bersama dengan Sehun?.

“kenapa semua ini harus terjadi?” tanyanya pada diri sendiri.

‘jangan menyakiti dirimu sendiri dan mengorbankan perasaanmu demi orang lain karena itu akan menyakitkan… kejarlah kebahagianmu, hyung’

‘jangan biarkan semuanya terlambat atau kau akan menyesal seumur hidupmu’

Lagi, ucapan Baekhyun sore tadi kembali terngiang ditelinganya. Luhanpun bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak menuju jendela kamarnya. Lelaki itupun memandangi suasana malam kota Seoul  melalui jendela kaca kamar apartemennya. Iapun menghela nafas berat seraya memejamkan kedua matanya, berusaha menenangkan hatinya yang sedikit kacau hari ini. setelah beberapa detik, iapun membuka matanya.

“apakah yang diucapkan Baekhyun benar?”.

“aku tidak mungkin melakukannya”.

~Egoism~

“cepat makan sarapanmu! Sebentar lagi aku ada meeting”. Ucap seorang lelaki tampan yang berumur sekitar 25 tahun, sembari membenahi dasinya.

“kau tak perlu menungguku. Pagi ini aku di jemput oleh temanku”. Jawab Hyunji dengan mulut yang penuh dengan roti. Lelaki itupun mendesah dan mendelik kesal kearah adik perempuannya itu.

“Sehun…”. Sergah lelaki  bernama Hyukjae itu kesal, dan dibalas anggukan oleh Hyunji sambil terus menyantap sarapannya.

“kau masih berhubungan dengannya?”. Tanya Hyukjae ketus sambil meraih segelas susu dan langsung meneguknya sampai habis.

“ne…kau masih tak suka dengannya?”. Titah Hyunji yang tak kalah ketusnya. Gadis itu benar-benar tak mengerti kenapa kakaknya itu masih membenci Sehun.

“aku…”. Belum sempat menyelesaikan kalimatnya suara bel apartemennya berbunyi yang mau tak mau membuatnya harus menyimpan kata-katanya. Dengan cepat Hyunji bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu.

Senyuman Hyunji merekah saat melihat Sehun datang untuk menjemputnya pagi ini. Sehunpun membalas dengan senyuman, sementara Hyukjae terlihat tidak senang dengan kedatangan Sehun pagi itu. lelaki itupun bergegas memakai jas hitamnya  untuk langsung berangkat kerja.

“jangan diam saja! Cepat berangkat! Sebentar lagi kau akan terlambat”. Ucap Hyukjae ketus dan langsung melangkah keluar tanpa menatap adiknya yang saat itu tampak mengernyitkan alisnya heran akan sikap kakaknya yang masih saja membenci Sehun semenjak kejadian itu. Saat akan melangkah ke luar, Hyukjae melirik Sehun tajam melalui ekor matanya. Terlihat raut kebencian di wajah lelaki itu. Sehunpun hanya tersenyum kaku, ia tahu bahwa kakak laki-laki gadis itu sangat membeci dirinya di karenakan kesalahan yang tak sengaja ia buat empat tahun yang lalu.

>>> 

Luhan melangkahkan kakinya menuju kelasnya dengan langkah gontai. Matanya begitu sayu dan membentuk kantung mata akibat tadi malam ia harus begadang untuk mengerjakan tugas yang begitu banyak dari dosen.

Hyung…”.

Luhan memutar badannya saat sebuah suara memanggilnya. Sebuah suara yang taka sing lagi baginya, ya suara itu milik Baekhyun. Lelaki itu memaksakan diri untuk tersenyum saat melihat Baekhyun berjalan bersama dengan Sehun dan Hyunji. Hatinya seketika mencelos saat melihat Sehun dan Hyunji bergandengan tangan. Rasa sakit yang begitu menyakitkan kini melanda hatinya, ingin rasanya dirinya lari dari kenyataan yang ada dihadapannya saat ini. Tetapi untuk apa ia lari? Hal itu tak akan membuat hatinya membaik, bahkan akan membuat dirinya semakin sakit karena berusaha untuk lari dari kenyataan.

YA! Kenapa kau melamun?”. Teriak Baekhyun seraya menepuk pundak Luhan. Lelaki itu akhirnya teradar dari lamunannya.

“eh…aku tidak melamum kok?”.

Oppa, kenapa wajahmu pucat? Kau sakit?”. Tanya Hyunji khawatir saat melihat wajah Luhan yang terlihat pucat. Luhan hanya tersenyum kikuk dan menggeleng pelan.

“aku tidak kenapa-kenapa. Hanya kelelahan saja karena tidur terlalu larut”.

“pasti kau bermain game semalaman, iya kan Hyung?”. Tanya Baekhyun asal.

“sudah ku bilang jangan memanggilku Hyung! Lagi pula aku hanya mengerjakan tugas sampai larut malam”. Jawab Luhan dan mendaratkan jitakan ke kepala Baekhyun. Lelaki itupun mengaduh kesakitan dan mengelus kepalanya.

“sudahlah! Lebih baik sekarang kita masuk kelas, sebentar lagi kuliah akan di mulai”. Ucap Sehun menengahi keduanya agar tidak berkelahi.

Merekapun berjalan menuju kelas kecuali Luhan yang masih berdiam diri ditempatnya berdiri sekarang. Menatap tangan Sehun dan Hyunji yang saling bertautan. Iapun memegang dadanya yang saat itu terasa sakit seraya menghela nafas berat. Apakah setiap hari ia akan seperti ini jika melihat mereka berdua terus bersama? Sepertinya ia harus berusaha untuk menerima kenyataan ini.

‘apa mereka sekarang sudah pacaran?’

~Egoism~

“Hei, pemalas cepat bangun! Sudah jam berapa ini, huh?”. Seorang wanita paruh baya tampak berusaha membangunkan seorang gadis yang sedang tertidur lelap di balik selimut yang mengahangtkan dirinya. Merasa usahanya tak kunjung berhasil untuk membangunkan gadis itu, wanita itu lantas menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu dengan paksa. Gadis itupun menggeliat.

“sebentar lagi Bu. Aku masih mengantuk”. Gadis itupun menarik kembali selimut yang tadi sempat di tarik oleh ibunya itu.

“sampai kapan kau akan tidur, huh?”. Tanya wanita itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“…….”

Hening. Tak ada jawaban dari gadis itu, ia malah tidur dengan nyenyak dan membenamkan kepalanya ke dalam selimut. Wanita itu akhirnya geram dengan sifat anaknya itu. Seketika sebuah ide terlintas dibenaknya, iapun tersenyum licik sambil manggut-manggut.

“baiklah…keberangkatanmu ke Seoul akan ibu batalkan”. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia langusng beranjak keluar dari kamar anaknya yang berdisain biru muda itu.

Sejurus kemudian gadis itu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan melemparnya ke sembarang tempat.

YA! Jangan di batalkan Buu!”. Teriak gadis itu sembari melompat dari tempat tidurnya dan mengejar ibunya yang telah meninggalkan kamarnya. Tak peduli akan keributan yang ia perbuat gadis itu berlari menuju lantai bawah untuk menemui ibunya sambil terus berteriak meminta agar ibunya tidak membatlkan keberangkatannya ke Seoul pagi ini.

YAA! Fumiko. Jangan berteriak seperti itu!. Sahut ayahnya dari arah dapur yang kala itu sedang membaca Koran sambil menyesap secangkir teh.

“Bu, aku mohon jangan batalkan keberangkatanku ya”. Mohon gadis bernama Fumiko Riyumi itu sambil merajuk pada ibunya agar permohonannya dituruti.

Ibunya menghela nafas dan menghentikan aktifitas mencuci piringnya, dan memutar badan menghadap Yumi yang terus berusaha merayu dirinya.

“SEKARANG CEPAT MANDI, GANTI PAKAIAN, SIAPKAN BARANG-BARANGMU DAN SUSUL KAKAKMU YANG SUDAH BERANGKAT TERLEBIH DULU”. Bentak ibunya sembari berkacak pinggang. Gadis itupun terkejut dan terjengkakng ke belakang, ia bergidik ngeri melihat ibunya yang begitu menakutkan jika sudah marah seperti itu. Secepat kilat Yumi berlari menuju kamar untuk bersiap-siap berangkat ke Korea. Sementara ayahnya hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan istri dan anaknya yang tidak pernah berubah dari dulu.

>>> 

Sehun memutuskan untuk keluar dari kelas dan membolos saat kuliah sedang berlangsung. Bukan karena pelajarannnya yang membosankan tetapi melainkan moodnya yang hari ini sedang tidak baik, dan juga ada sesuatu yang saat ini sedang menganggu pikirannya sejak tadi malam. Saat ini lelaki itu sedang berada di atas atap gedung kampus. Sehun merebahkan tubuhnya di bangku yang terdapat disana dengan posisi menghadap langit.

Tangannya merogoh kantong celana mengambil sebuah gelang tangan yang ia temukan di laci mejanya malam itu, di tatapnya lekat-lekat benda tersebut. Perasaan itu muncul lagi dan membuat nafasnya terasa sesak. Ada rasa kerinduan yang ia rasakan akan sosok yang telah meninggalkannya enam tahun lalu.

“sedang apa kau sekarang? Apakah kau baik-baik saja?”. Katanya sambil menatap gelang tersebut. Setelah itu ia mengalihkan pandangan menatap langit yang begitu cerah saat itu.

Boghosipoyo”. Gumam lelaki itu sembari memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.

“sudah kuduga kau pasti berada disini”.

Sehun terkejut saat mendengar sebuah suara yang sangat tiba-tiba dan itu sudah mengganggu aktifitasnya. Lelaki itupun membuka matanya dan bangkit dari posisinya, guna melihat siapakah yang telah mengganggunya itu.

“sedang apa kau disini?”

“seharusnya aku yang bertanya seperti itu, sedang apa kau kesini Byun Baekhyun?”.

Baekhyun tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “kau di panggil Song songsaenim…lagi pula kenapa kau membolos?”. Tanya Baekhyun dengan tatapan menyelidik, karena baru kali ini ia melihat Sehun membolos dari kuliah yang ia tahu selama ini sahabatnya itu tidak pernah untuk membolos dalam pelajaran.

“aku sedang tidak ada mood untuk belajar”. Jawab Sehun sarkatis. Baekhyun hanya mangangguk mengerti .

“kau duluan saja! Nanti aku menyusul”. Lanjut Sehun dan berbalik badan membelakangi Baekhyun. Baekhyun mengendikkan bahunya pertanda ia tak ingin ambil pusing dengan sahabatnya itu. tetapi saat lelaki itu akan berbalik meninggalkan Sehun tak sengaja matanya menangkap sebuah benda yang dibawa oleh Sehun, benda yang taka sing lagi baginya. Matanyapun menyipit berusaha melihat dengan jelas benda tersebut.

‘kau sedang membuat apa?’

‘gelang’

‘untuk siapa?’

‘seseorang…bagaimana bagus tidak?’

‘ehmm…bagus’

“gelang itu kan…”. Gumam Baekhyun saat ingat akan benda tersebut. Ternyata gelang itu diberikan pada Sehun?. Batinnya. Merasa bahwa Baekhyun masih berada disana, Sehun menoleh kebelakang menatap Baekhyun yang saat itu terlihat mematung ditempatnya berdiri…lebih tepatnya lelaki itu sedang memperhatikan dirinya. Sehun mengernyitkan alisnya bingung.

“kenapa kau masih disini?”. Tanya Sehun tiba-tiba yang membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya. Lelaki itu terkesiap dan salah tingkah, ia takut jika Sehun tahu apa yang sedari tadi yang menjadi pusat perhatiannya.

>>> 

Luhan tak henti-hentinya merutuki dosen yang telah menyuruhnya membawa tumpukan buku kimia menuju perpustakaan. padahal sepulang kuliah hari ini ia ada janji dengan Baekhyun untuk bermain game di rumahnya. Begitu banyak buku yang Luhan bawa sehingga jalannya sedikit terhuyung dan beberapa kali pula Lelaki itu hampir terjatuh.

Luhanpun sampai di depan perpustakan, dan ia berusaha untuk membuka pintu menggunakan siku tangannya agar knop pintu terbuka. Tetapi itu sangat susah mengingat kedua tangannya membawa banyak buku. Lelaki itu berdecak kesal. Tetapi tiba-tiba pintu terbuka begitu saja, diapun menghela nafas lega dan langsung masuk kedalam perpustakaan.

“tunggu…yang membuka pintu tadi siapa?” tanya pada diri sendiri. Luhan menoleh ke arah pintu guna melihat siapakah orang yang telah berbaik hati telah membantunya, tetapi nihil tak ada orang di sana. Tak ingin mengambil pusing lelaki itupun berbalik menuju rak-rak buku.

Tetapi saat ingin berbalik

Tiba tiba…

Annyeooong…”

“AAAaaa…”

Spontan Luhan menjatuhkan semua buku yang ia bawa ke lantai akibat terkejut karena seseorang tiba-tiba muncul dan berteriak dihadapannya.

YAAK…kenapa kau mengagetkanku, huh?”. teriak Luhan emosi terhadap orang yang telah mengagetkannya barusan. Sementara pelaku hanya menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.

Mianhe Oppa. Aku hanya ingin membantumu saja”. Jawab Hyunji santai, dan langsung memunguti buku-buku yang berserakan di lantai. Luhanpun ikut menyusul membereskan buku yang tampak berserakan.

Setelah semua buku tertata rapi dan telah berada di raknya masing-masing, mereka berdua lantas meninggalkan perpustakaan. Mereka berdua sepakat untuk mengunjungi café yang berada didekat kampus, karena Luhan ingin mentraktir Hyunji karena gadis itu telah membantunya di perpustakaan tadi.

Sesampainya di café mereka berdua memesan makanan dan minuman masing-masing. Suasana café saat itu tidak terlalu ramai karena hari itu adalah waktu berakhirnya perkuliahan. Luhan dan Hyunji duduk dekat jendela café yang langusung dapat melihat suasana luar café. (?)

“kenapa kau belum pulang?”. Tanya Luhan seraya menyesap bubble tea.

“Park songsaenim memberikan kuliah tambahan untuk kelasku. Makanya aku pulang agak terlmabat, dan kebetulan aku melihatmu tampak kesusahan membawa banyak buku. Dan aku putuskan untuk menolongmu”.

Setelah pembicaraan tersebut mereka berdua melanjutkan menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka masing-masing. Disela-sela makan Luhan mencuri waktu untuk melirik Hyunji, hari ini gadis itu begitu cantik, pikirnya. Sejurus kemudia ia teringat akan sesuatu, sesuatu yang mengganggu pikiran selama dua hari ini. lelaki itu ingin sekali menanyakan kepada gadis itu, apakah sekarang dirinya dan juga Sehun sudah menjadi sepasang kekasih?.  Tetapi itu sangatlah tak sopan, bagaimanapun juga itu semua bukan urusannya. Jadi untuk apa ia mengetahui hal itu? kalaupun nantinya ia tahu, bukankah itu akan membuat hatinya sakit?. Tetapi apa salahnya jika kita mengetahuinya? Toh, dengan begitu kita bisa berusaha untuk merelakan orang yang kita cintai bersama dengan orang lain. Pikirnya.

Luhanpun memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu. tetapi kenapa rasanya sulit sekali? Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah kata. Rasa gugup menyerangnya kali ini. Antara siap dan tidak siap untuk mendengar jawaban dari gadis itu.

“Hyunji-ya…”. Panggil Luhan ragu.

“hemm”. Gumam Hyunji menjawab pertanyaan Luhan tanpa melihat wajah lelaki itu yang tampak memerah karena gugup.

“a…aku ingin menanyakan sesuatu padamu?”.

“kau ingin menanyakan apa?”. Jawab Hyunji seraya mengentikan aktifitas makannya sambil memperbaiki posisi duduknya, bersiap mendengar pertanyaan dari lelaki itu.

“kau dan Sehun…apa kalian…berpacaran?”. Akhirnya kata-kata itu berhasil keluar dari mulut lelaki itu walau harus sekuat tenaga mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal itu. luhan harap-harap cemas menunggu jawaban dari Hyunji yang sekarang tampak terkesiap atas pertanyaan yang dilontarkan Luhan. Raut wajah gadis itu tidak dapat dimengerti, ia diam tapi beberapa deti kemudia gadis itu tersenyum dan bersiap menjawab pertanyaan lelaki itu.

Hyunji menggeleng pelan. Perasaan lega dirasakan oleh Luhan melihat Hyunji mengegelengkan kepalanya yang berarti bawha diantara Hyunji dan Sehun tak ada hubungan apa-apa melainkan hanya sebatas teman.

“kami tidak pacaran”. Ucap Hyunji sambil mengaduk-aduk minumannya. “tapi aku berharap kita berdua kembali seperti dulu. Sampai sekarang aku tak bisa melupakannya. Dia begitu berarti bagiku, sehingga aku rela kembali lagi ke Seoul hanya untuk melihatnya lagi”.

Baru saja hatinya merasa lega, kini hatinya mencelos untuk kesekian kalinya. Kini hatinya kembali sakit, sekujur tubuhnya terasa lemas. “kau masih mencintainya?”.

“sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya, walaupun Sehun tak lagi mencitaiku”.

Sirna sudah harapan lelaki itu untuk bisa mengambil hati gadis itu, karena hati gadis itu hanya untuk Sehun seorang. Penantiannya selama ini terasa sia-sia. Apa tak ada lagi ruang di hatinya untuk orang lain selain Sehun?. Apa dia tak menyadari bahwa ada orang lain yang lebih mencintainya?.

“aku mengerti perasaanmu…apa kau tidak berusaha untuk membuka hatimu untuk orang lain?’’. Tanya Luhan berharap bahwa masih ada kesempatan untuknya untuk merebut hati gadis itu.

molla…”

Luhan berjalan dengan langkah terhuyung menuju apartemennya. Kepalanya terasa berat, begitu banyak yang ada dipikirannya. Tetapi hal yang mendominasi pikirannya saat ini adalah seorang gadis yang telah membuat hatinya terpuruk. Pandangannya kosong menatap jalanan didepannya. Sekuat tenaga ia melangkahkan kakinya menyusuri trotoar menuju apartemennya. Di pegang kepalanya dengan tangan kirinya karena rasa sakit yang ia rasakan.

YA! Kau tak apa-apa?”. Tanya seseorang yang membantu menopang tubuh Luhan yang hampir terjatuh. Luhan berdiri dan membenarkan posisinya. Lelaki itu tersenyum kepada seseorang yang telah menolongnya walaupun wajah orang itu tidak terlalu jelas karena pandangannya sedikit kabur.

“terima kasih”. Ucap Luhan dan kembali melanjutkan langkahnya. Sementara orang yang menolongnya tampak khawatir melihat keadaan Lelaki tampan itu. orang itupun memperhatikan punggung Luhan yang semakin menjauh dengan langkah yang terhuyun.

“apa orang itu baik-baik saja?”.

~Egoism~

Baekhyun berjalan dengan susah payah dengan membawa keranjang yang berisi bola. Dia di tugaskan oleh Kim Myungsoo yang merupakan ketua club sepak bola di kampus itu untuk membawa bola-bola itu ke lapangan, karena hari itu ia dan juga tim clubnya akan berlatih untuk turnamen bulan depan.

Baekhyun tak hentinya menggumam meruti Myungsoo yang telah seenaknya menyuruhnya untuk membawa bola-bola sialan itu seorang sendiri. Kalau saja lelaki itu bukan ketua club, dia akan menghabisi riwayatnya sekarang juga.

“kau butuh bantuan, tuan?”

Sebuah suara mengehentikan langkahnya, Baekhyun menghela nafas lega akhirnya ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya. Lelaki itupun memutar badannya menghadap seseorang yang akan menawarkan bantuan untuknya.

Ne, aku sangat memerlukan ban….”.

Ucapan Baekhyun terhenti saat melihat orang yang berdiri didepannya dengan tersenyum. Orang yang telah menawarkan bantuan terhadap dirinya.

“kau…”.

To Be continue

Kyaaaa….akhirnya FF ini selesai juga. Setelah beberapa bulan lamanya akhirnya FF ini rampung juga. Maaf karena FF ini kemunculan sangat lama -_- mungkin empat bulan lamanya FF ini ngadat. Sebenarnya author ga berniat buat ngelanjutin FF ini, karena author udah kehabisan ide buat ngelanjutin jalan ceritanya harus gimana. Tetapi karena ada seseorang yang udah ngasi masukan n saran dan jugaaaaaaa udah bersedia ngasi jalan cerita yang pada akhirnya ide yang tadinya ga ada malah muncul begitu aja setelah dapet pencerahan dari dia.

Dan yang pertama aku ngucapin GOMAWOOOOO RISAAA karena udah ngasi aku ide lagi n nyemangatin aku buat ngelanjutin FF ini lagi, yang udah rela ngemention aku nanyain apa FF nya udah jadi apa belum? N udah nyempetin ngoreksi setiap penulisan ceritanya. Lagi sekali aku ucapain makasi banyak buat HARISA yang udah ngebantu aku sampe part ini selesai^^

Dan untuk kalian yang udah menyempatkan diri untuk membaca FF ini, mohon di RCL ya kalo ga sempet comment  ninggalin like juga ga apa-apa…heheheheh

See you….kamshamnida *bow*

2 thoughts on “Egoism [Part 3]

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s