A Letter Box


Judul : A Letter Box

Cast : Jang Wooyoung, Lee Ji-eun / IU and Choi Jinri

Support Cast : Im Seulong, Lee Seon-woong / Tablo, Ahn Chil-hyun / KangTa

Genre : Romance

Type : Oneshoot

Poster : Rara Putriey

a-letter-box.jpg

Annyeong haseyo :) For the first time, i make a story instead of SM Entertainment artist. Actually, this story is my second  oneshoot and i put this story in one competition. But, i failed in 35 big finalists :’)

I hope you like this story. Enjoy :)

 

“Rasanya  masih seperti dulu,” ujar Namja itu parau setelah menaburkan bunga di atas makam ayahnya yang baru saja dimakamkan. Seorang gadis belia yang sedari tadi berdiri disampingnya, perlahan menelusupkan jemarinya ke jemari namja itu. Dilihatnya namja itu menitikan air mata.

Meskipun dalam hati mengiyakan perkataan namja yang tak lain adalah kakaknya. Gadis itu hanya diam. Meskipun air sudah sampai dipelupuk matanya, tetap saja dia berusaha menahannya. Dia tidak ingin mengingkari janjinya pada sang ayah yang memintanya untuk tidak menangis.

Namja itu menghembuskan napas panjang sambil menghapus air matanya.

Abeoji, beristirahatlah dengan tenang dan jangan khawatirkan kami! Abeoji harus menjaga Eomma. Aku juga akan menjaga Sulli disini,” ujar namja itu.

“Apa yang Oppa bicarakan?” tanya gadis bernama Sulli itu.

“Aku tidak akan kembali ke Seoul, Sulli-ya.

Sulli menatap kakaknya tidak mengerti.

“Aku akan berhenti kuliah. Aku akan mencari uang untuk biaya hidup kita dan biaya kuliahmu,”

“Aku baru kelas 2 SMA,” jawab Sulli. Mengingatkan sang kakak kalau dia baru akan memasuki bangku kuliah tahun depan.

“Maka dari itu aku akan berhenti. Agar uang yang dikumpulkan lebih banyak.”

“Tapi, waktu itu Oppa sudah menunda kuliah selama dua tahun. Kapan Oppa akan menjadi seorang seniman jika Oppa berhenti kuliah?”

“Aku bisa melanjutkannya lagi nanti. Lagipula, 5 semester bukan waktu yang sebentar. Aku sudah mempunyai dasar-dasar memahat yang lebih terperinci. Aku akan mencoba memahat, dan mungkin aku bisa memasukannya ke galeri temanku di Seoul nanti,” ujar namja itu pelan. Dalam hati, dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya.

“Biar aku yang kali ini menunda kuliah.”

“Sulli-ya, kau ini perempuan. Tidak seharusnya kau menunda kuliahmu jika memang bisa dilakukan. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Appa pasti marah jika dia tahu Oppa berhenti.”

Abeoji akan lebih marah jika dia tahu aku tidak membiayai sekolahmu!” ucap namja itu sambil kembali tersenyum. “selama aku memahat, aku akan menggantikan pekerjaan Abeoji untuk membantu perekonomian kita.”

****

Jam rantai mungil yang melingkari pergelangan tangan kirinya menunjukan waktu 14.27. Gadis itu duduk di kursi rotan di teras rumahnya, menunggu seseorang. Dibawanya sebuah buku sketsa, poci teh dan satu cangkir keramik untuk menemaninya menggambar.

Sekitar 15 menit kemudian, suara motor Vespa yang sangat dikenalinya terdengar di kejauhan. Dia mendongak sambil meletakan buku sketsanya di meja. Dia langsung berlari membuka gerbang dan berdiri manis disana.

Beberapa saat kemudian, motor Vespa tadi berhenti tepat di depan gadis itu berdiri. Sang pengendara membuka tasnya dan mengambil sebuah surat yang ditujukan untuk seesorang bernama Lee Ji-eun.

Annyeong haseyo, Ahjjusi…” gadis itu menyapa riang sambil memberikan hormat pada si pengendara.

Sang pengendara tadi membuka helm-nya perlahan. Dalam hati, dia bingung kenapa gadis itu langsung memanggilnya ‘Ahjussi’.

Terkejutlah gadis itu ketika dia melihat seseorang yang tidak dia kenal sedang menatapnya bingung.

“Ah,  jweisonghamnida… Aku pikir, kau orang yang biasa mengantarkan surat kesini,” ujarnya sambil membungkukkan badan sungkan.

Sang pengendara langsung merubah tatapan bingungnya menjadi senyuman maklum. “Tidak apa-apa. Kau, Lee Ji-eun-ssi?” tanyanya.

Ne…

Namja itu tersenyum senang sekaligus bersyukur karena ini adalah surat terakhir yang harus dia antarkan hari ini. Dia memberikan surat yang tadi diambilnya pada Ji-eun.

Kamsahamnida…” ucap Ji-eun sambil tersenyum manis setelah menerima surat itu.

“Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu,” pamitnya sambil kembali memakai helmnya.

“Sebentar! Kalau  boleh tahu, Ahjussi yang biasanya, pergi kemana?” tanya Ji-eun. Sebelum pengendara itu menjawab, Ji-eun melihat kilatan sedih di kedua matanya.

“Beliau kemarin baru saja meninggal.”

“Ya Tuhan!” Ji-eun menutup mulutnya dengan telapak tangan, “Apa yang terjadi?”

“Beliau memang sudah lama mengidap penyakit paru-paru,” jawabnya pelan.

Ji-eun mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, “Tapi beliau terlihat sangat sehat,”

Namja itu tersenyum. “Beliau memang selalu menutupi keadaan di dalam dirinya,” jawabnya, “Kau mengenalnya?”

Ji-eun mengangguk cepat. “Iya. Ahjussi orang yang sangat baik. Semoga beliau ditempatkan tepat disisi-Nya,”

“Terimakasih,” namja itu menjawab tanpa sadar.

“Kenapa kau berterimakasih?”

“Beliau adalah ayahku.”

“Astaga! Aku turut prihatin,” ucapnya dengan nada sedih.

Dia kembali tersenyum. “Terimakasih,” ulangnya.

Selama sepersekian detik, tidak ada yang bicara. Hanya terdengar desiran ombak dari pantai yang berada tepat dibelakang rumah gadis itu.

“Jadi, kau menggantikan pekerjaannya?” tanya gadis itu basa-basi, mencoba menetralisir kecanggungan yang terjadi.

“Iya, namaku Wooyoung,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Gadis itu menyambutnya dengan hangat.

“Kau sudah tahu namaku,” balasnya, “panggil saja aku Ji-eun,”

Wooyoung mengangguk. “Senang sekali bertemu denganmu, Ji-eun-ssi. Maaf bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku masih punya sesuatu yang harus dikerjakan.”

“Ah, ne.”

“Kalau begitu, aku permisi dulu.”

“Sekali lagi terimakasih Wooyoung-ssi…

Ne, cheonmaneyo. Mari Ji-eun-ssi…” pamitnya sambil menyalakan mesin Vespa tua tersebut.

Ji-eun mengangguk dan memandangi Wooyoung sampai namja itu menghilang di tikungan jalan. Setelah menutup gerbang, dia buru-buru membuka surat yang baru diterimanya dengan senyum mengembang. Tulisan tangan ciri khas seseorang memenuhi seluruh permukaan kertas putih tersebut.

Apa kabar hari tuan putri? Aku baru saja selesai menulis lirik lagu untuk mini albumku. Lagu itu adalah lagu duet, nanti akan aku nyanyikan dengan salah satu penyanyi wanita. Tidak apa-apa, kan?Aku harap tidak apa-apa ^^,

Bagaimana lukisanmu? Saat kemarin ayahmu kesini, kami bertemu dan beliau bilang kalau galerimu sedang dikunjungi banyak kolektor. Kenapa kau tidak cerita? Tapi tidak apa-apa. Aku hanya ingin bilang kau benar-benar hebat! Aku bangga sekali padamu.

Aaaaaah, tidak terlalu banyak yang bisa aku ceritakan minggu ini. Aku sudah merasa bosan. Seminggu kedepan aku akan ada ujian tengah semester. Aku tidak bisa berkonsentrasi karena aku merindukanmu. Aku harap bisa pulang secepatnya dan menjengukmu di Jeju nanti.

Jangan tidur terlalu malam, ya! Jangan lupa makan teratur dan menggosok gigi sebelum tidur. Satu lagi dan ini yang terpenting, jangan lupa merindukanku!

Miss you, princess

Love

Prince Charming

Ji-eun tersenyum setelah membaca surat itu. Dia buru-buru masuk ke rumahnya untuk mengambil kertas dan membalas surat tersebut.

****

Dulu, Wooyoung pernah bertanya kepada ayahnya, mengapa beliau begitu bangga menjadi seorang pengantar surat. Padahal, pekerjaan itu sangatlah melelahkan. Kala itu ayahnya menjawab, kau akan tahu jawabannya jika kau melakukan sendiri. Kau akan merasakan kekuatan magis yang menelusupi dirimu ketika melihat senyum menghiasi wajah si penerima surat. Karena, kebanyakan surat akan diterima oleh sebuah kotak yang biasa diletakan di samping pagar dengan bertuliskan nama si pemilik rumah.

Wooyoung tertawa. Sungguh, dia tidak mempercayainya. Tapi, ketika dia melihat gadis itu berdiri di depan gerbang rumah pantainya dengan wajah gembira hari ini, dia akui ucapan ayahnya tempo hari benar. Kekuatan magis yang dulu dibicarakan ayahnya benar-benar ada ketika garis bibir gadis itu melengkung keatas setelah menerima sepucuk surat yang sempat Wooyoung lihat dikirimkan dari Amerika.

Kamsahamnida Wooyoung-ssi…” ucap Ji-eun sambil membungkukan badan.

“Ah, ne, cheonmaneyo…” Wooyoung menjawab cepat.

Gadis itu kembali tersenyum sesaat sebelum masuk kembali ke istana kecilnya. Meninggalkan Wooyoung dengan kekuatan magis yang baru saja menelusupinya.

****

“Surat untuknya lagi. Kenapa selang waktunya selalu dua minggu?” gumam Wooyoung setelah melihat seluruh surat yang harus dia antarkan hari ini. Dia menghitungnya, ada sekitar 23 buah. Dia kemudian menyusunnya berdasarkan alamat yang terjauh, hingga yang terdekat dengan rumahnya, dan surat untuk Lee Ji-eun berada diurutan terbawah.

****

Wooyoung baru saja menghentikan motornya tepat di depan rumah Ji-eun ketika gadis itu membuka gerbang sambil melindungi dirinya dari hujan deras dengan sebuah payung transparan.

“Wooyoung-ssi, ayo masuk dulu!” ujarnya sambil membuka gerbang lebih lebar.

“Ah, tidak usah Ji-eun-ssi, merepo-”

“Hujan semakin lebat. Ayo masuk dulu!” Ji-eun memaksa. Wooyoung masih bergeming ditempatnya sampai akhirnya Ji-eun mendekatkan diri pada Wooyoung dan berbagi payung dengannya. Membuat Wooyoung terlonjak.

“Aku tidak ingin suratku basah, ayo masuk!” ajaknya lagi. Mau tak mau, Wooyoung akhirnya menurut. Dia memasuki pekarangan rumah itu sambil membawa serta motornya.

“Aku tunggu didalam,” ucap gadis itu sambil berlari kecil menuju pintu yang dibuka lebar.

Setelah Wooyoung memarkirkan motornya, dia berjalan pelan memasuki pintu yang tadi dimasuki Ji-eun. Dia memutuskan untuk berhenti disana karena tidak melihat keberadaan Ji-eun sambil memeras ujung-ujung kausnya yang basah.

“Wooyoung-ssi, ayo masuk! Jangan sungkan!” Ji-eun berteriak dari arah dalam. Wooyoung melanjutkan langkahnya dengan ragu. Saat langkahnya sampai di ruang tengah, dilihatnya Ji-eun sedang berdiri di dapur kecil dan tersenyum ke arahnya.

“Itu, kau bisa gunakan handuk itu,” ujarnya sambil menunjuk sebuah handuk berwarna kuning muda yang ada di atas meja.

Wooyoung mengangguk sambil mengambil handuk itu dengan sungkan. Dia melihat banyak sekali lukisan tergantung di rumah ini.

“Anggap saja rumah sendiri. Ahjussi juga sudah sering masuk kesini.” Ji-eun menghampiri Wooyoung sambil membawa sebuah nampan berisi poci dan dua buah cangkir yang dibuat dari tanah liat.

“Tidak apa-apa, duduklah! Sofa ini plastik. Jika basah, hanya tinggal di lap,” ujarnya sambil tersenyum karena melihat Wooyoung tak kunjung duduk.

Wooyoung kembali menuruti permintaan Ji-eun tanpa banyak bicara. Ji-eun kemudian menuangkan teh pada kedua cangkir yang tadi dibawanya, menyebabkan aroma bunga melati langsung memenuhi ruangan itu.

“Ah, iya,” Wooyoung tersadar dan membuka tas selempangnya. Dia mengeluarkan surat dan memberikannya pada Ji-eun.

Ji-eun menyambutnya dengan senyuman hangat. “Terimakasih. Ini, minumlah agar badanmu hangat!” Dia menyodorkan salah satu cangkir pada Wooyoung dan mengambil suratnya.

Tanpa pikir panjang, gadis itu membuka suratnya. Wooyoung hanya diam sambil menyesap teh, membiarkan gadis itu membaca suratnya. Sesekali, Wooyoung melihatnya tersenyum karena isi surat tersebut.

“Ah, maaf, aku malah sibuk sendiri,” ucap Ji-eun setelah sadar bahwa Wooyoung masih berada disana.

Gwenchana…” jawab Wooyoung sambil kembali meminum teh-nya. “Teh-nya enak sekali,”

Kamsahamnida…” Ji-un tersenyum sambil memandang keluar, memperhatikan hujan yang bertindak anarkis membasahi kaca jendela.

“Kau tinggal sendirian?” tanya Wooyoung setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah dan mendapati tidak ada tanda-tanda keberadaan penghuni lain disana.

“Iya. Kedua orang tua-ku tinggal di Seoul. Kau sendiri?”

“Aku tinggal dengan adik perempuanku,”

“Oh, ibumu?”

“Sudah mendahului Abeoji,” jawabnya santai sambil tersenyum. Tapi, sorot matanya menandakan bahwa namja itu masih bersedih.

“Ah, jweisonghaeyo…

Anieyo, gwenchanayo. Itu sudah lama berlalu. Lagipula, bukan kau penyebab ibuku meninggal, kan?” ujar Wooyoung sambil menatap Ji-eun. Dilihatnya gadis itu malah tertunduk lesu, “waeyo?

“Aku baru sadar kalau aku tidak pernah mendengar Ahjussi bercerita tentang kehidupannya. Padahal, selama ini aku selalu menceritakan segalanya padanya. Aku merasa bersalah.”

Wooyoung kembali tersenyum. “Bukan salahmu. Abeoji memang orang yang pendiam. Tapi, beliau sangat suka mendengar orang lain bercerita. Memangnya beliau benar sering kesini?”

“Lumayan. Beliau kadang menemaniku melukis atau mendengarkanku bercerita sambil minum teh. Beliau orang yang sangat ramah…”

“Apa yang kau ceritakan?”

Ji-eun meminum teh-nya sebelum menjawab. “Banyak. Tapi lebih sering mengenai surat yang baru aku terima.”

“Kalau aku boleh tahu, surat itu dari siapa?” tanya Wooyoung polos. Tapi seketika langsung tersadar, “Ah, maaf, aku bertanya terlalu banyak.”

“Tidak apa-apa. Lagipula sudah lama tidak ada yang mengajakku bicara. Yah, aku sendiri memang tidak mempunyai banyak teman. Paling, aku hanya berbincang di telepon dengan ibuku. Biasanya ada Ahjussi yang mengajakku bicara.”

“Baiklah, kalau kau tidak keberatan, aku bisa menjadi temanmu,” ujar Wooyoung tanpa sadar.

“Kau akan menyesal telah mengatakannya,” jawab Ji-eun sambil tertawa. “Aku orang yang banyak bicara.”

“Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Kita bisa berteman selama tempat yang kita pijak masih sama, kan?” Wooyoung berusaha meyakinkan Ji-eun. Entah kenapa, Wooyoung merasa ingin lebih mengenal gadis itu.

Ji-eun memandang Wooyoung sesaat sambil menimbang-nimbang.

“Baiklah. Cerita akan dimulai dari sini. Pertanyaanmu soal pengirim surat itu akan mengawali semuanya. Kau siap?” tanya Ji-eun. Wooyoung mengangguk sambil menyimpan cangkir teh yang sedari tadi dipegangnya.

“Surat itu dikirimkan oleh kekasihku yang sekarang tinggal di Amerika,” Ji-eun memulai, “kau kenal dia?” Ji-eun menunjuk sesuatu yang berada di meja telepon tepat di samping Wooyoung duduk.

Mata Wooyoung mengikuti kemana telunjuk Ji-eun mengarah dan melihat sebuah foto disana. Foto itu mengabadikan momen Ji-eun bersama seorang namja berperawakan tinggi kurus sedang membelakangi sebuah bianglala sambil tersenyum lebar ke arah kamera.

“Dia….” Wooyoung tidak melanjutkan kalimatnya ketika sadar siapa namja tersebut.

Ji-eun tersenyum. “Iya, dia Im Seulong.”

Wow! Aku baru saja berteman dengan kekasih dari seorang penyanyi terkenal!” ucap Wooyoung takjub.

“Aku tidak suka julukan itu,” Ji-eun mengerutkan keningnya tanda tidak setuju, “Aku tidak suka berada di bawah bayangan orang lain.”

Okay, Sorry. Biar aku ralat. Wow! Aku baru saja berteman dengan gadis yang tidak bangga mempunyai kekasih seorang penyanyi terkenal!” Wooyoung berkata sambil membelalakan mata, membuat ekspresi seolah benar-benar terkejut. Ji-eun tertawa dibuatnya.

“Itu lebih baik,” ujar Ji-eun setelah menghentikan tawanya, “Oh iya, sebelum dilanjutkan, aku harus mengingatkanmu. Kau tidak boleh membocorkan hubunganku dengan Seulong Oppa. Kami pacaran diam-diam. Mengingat dia adalah seorang artis. Mengerti?”

Wooyoung mengangguk. Ji-eun kembali meneruskan ceritanya.

“Kami selalu punya jadwal sendiri ketika mendapat surat balasan. Dua minggu. Tepat hari rabu.”

Aaaaah, itu menjawab pertanyaanku kenapa kau selalu berada di depan gerbang ketika surat itu sampai.”

“Sebetulnya ada alasan lain,” ucap Ji-eun.

“Kenapa?”

“Rumah ini tidak mempunyai kotak surat.”

“Benarkah?”

Ji-eun mengangguk. “Kalau kau tidak percaya, kau bisa lihat nanti saat kau pulang.”

“Baiklah,” Wooyoung menyetujui, “kembali lagi ke ceritamu. Kalian sudah berapa lama berpacaran?”

“Kurang lebih dua tahun. Tapi, setahun belakangan kami menjalani hubungan jarak jauh setelah aku pindah kesini dan dia pindah ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda karena karir.”

“Kau sendiri kuliah?”

“Aku lulus lebih cepat,” jawabnya tanpa ada unsur menyombongkan diri.

Aaaaah, lalu, kenapa kau pindah?”

“Aku pindah karena membutuhkan suasana baru untuk mencari inspirasi.”

“Aku rasa, kau memilih tempat yang tepat.”

“Ayahmu pernah mengatakan hal yang sama padaku,” ucap gadis itu sambil tersenyum hangat, “aku rasa kalian benar-benar mirip.”

“Baru kali ini ada yang mengatakan hal tersebut. Sepertinya, kau sangat mengenal ayahku.”

“Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi sepertinya tidak. Buktinya, aku tidak tahu bahwa dia mempunyai seorang anak lelaki,” jawab Ji-eun sambil mengerucutkan bibirnya.

Wooyoung sudah akan menjawab ketika gadis itu bertanya lagi.

“Bagaimana kalau kau menggantikannya bercerita?”

Ne?”

“Aku akan menjadi pendengar yang baik,”

Wooyoung hanya menatapnya bingung.

“Ayolah! Hujan sepertinya masih lama berhenti, kau harus bercerita! Kalau tidak, kita pasti mati bosan,” paksa gadis itu.

Setelah diam beberapa saat, akhirnya Wooyoung membuka suara.

“Ceritaku tidak se-spektakuler ceritamu,” ujarnya memulai.

“Hei! Sudah aku bilang aku tidak suka julukan seperti itu!” Ji-eun mencela sambil menatap Wooyoung kesal.

Hahaha… Aku bercanda Ji-eun-ssi. Boleh aku teruskan?”

“Boleh, asal tidak membawa-bawa kekasihku!”

Wooyoung mengangguk, “Aku tinggal dengan adik perempuanku bernama Sulli. Sebenarnya, tiga tahun kebelakang aku tinggal di Seoul untuk kuliah. Tapi aku memutuskan untuk berhenti saat kemarin Abeoji pergi.”

“Kau kuliah jurusan?”

“Seni memahat. Aku…..”

Percakapan itu berlanjut hingga waktu menunjukan pukul 7 malam. Setelah Wooyoung memutuskan untuk pulang karena takut Sulli mengkhawatirkannya.

“Ji-eun-ssi, terimakasih banyak untuk teh dan acara bincang-bincangnya. Semoga kita bisa mengobrol lagi lain kali,” ujar Wooyoung saat Ji-eun mengantarnya sampai di gerbang.

“Sama-sama. Semoga masih ada lain kali, ya.” Ji-eun tersenyum.

Wooyoung mengangguk. “Kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Wooyoung sambil menghidupkan mesin motornya.

“Hati-hati Wooyoung-ssi…

Sebelum Wooyoung keluar, dia sempat melihat bahwa rumah itu memang tidak mempunyai sebuah kotak surat.

****

“Kenapa dia tidak ada?” ucap Wooyoung heran ketika tidak melihat Ji-eun berdiri di depan gerbang atau diteras rumahnya. Wooyoung kemudian menekan bel yang berada tepat di pinggir gerbang dan langsung mendengar pintu rumah itu dibuka. Dilihatnya Ji-eun keluar dari sana sambil sibuk berbicara di telepon. Gadis itu menggerakan tangannya, mengisyaratkan Wooyoung untuk masuk sambil masih berbicara dengan seseorang di ujung sana. Wooyoung mengangguk dan membuka gerbang tersebut.

Setelah memarkirkan motornya, Wooyoung berjalan masuk. Dia melepas sepatu kets-nya dan mengambil sebuah sandal rumah yang sudah 2 bulan ini dia gunakan saat memasuki rumah ini.

Kalimat ‘semoga ada lain kali’ yang waktu itu Ji-eun dan Wooyoung janjikan ternyata memang ada. Setelah acara perbincangan mereka tempo hari, mereka kembali berbincang di pertemuan berikutnya, berikutnya, dan juga berikutnya. Wooyoung ternyata tidak hanya menggantikan posisi ayahnya sebagai pengantar surat, tapi juga sebagai teman baik bagi Ji-eun.

Gwenchanayo, Appa. Besok aku akan membelinya sendiri.”

Wooyoung mendengar suara Ji-eun ketika dia sudah menutup pintu. Seperti biasa, dilihatnya Ji-eun sedang menyiapkan teh di dapur kecilnya. Wooyoung menghentikan langkahnya. Entah kenapa dia sangat suka melihat Ji-eun yang selalu fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya. Entah ketika dia melukis, membaca atau membalas surat yang dikirimkan kekasihnya, bahkan ketika gadis itu sedang membuat teh.

“Wooyoung-ssi!” panggil gadis itu yang ternyata sudah menutup teleponnya.

Ne?” Wooyoung menyahut cepat.

“Kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Ji-eun sambil membawa dua cangkir teh dan sepiring brownies yang masih mengepulkan asap menuju tempat Wooyoung berdiri.

“Ah, anieyo,” jawab Wooyoung. “ini surat dari pangeranmu,” Wooyoung memberikan surat untuk Ji-eun.

Gomawo.” Ji-eun menerimanya lalu duduk di sofa.

“Siapa yang menelepon?”

“Ayahku,” jawabnya sambil membuka isi amplop putih tersebut.

Wooyoung membiarkan gadis itu tenggelam dalam surat dari Seulong seperti biasanya. Dia mengambil sepotong browniesdan melahapnya sambil menunggu Ji-eun selesai membaca.

“Dia akan mengusahakan pulang minggu depan,” ujar Ji-eun gembira sambil menutup suratnya.

Wooyoung mengangguk. “Baguslah. Sepertinya tuan putri yang satu ini sudah sangat merindukan sang pangeran,” ujarnya bercanda.

Ji-eun tertawa sambil geleng-geleng kepala. Walaupun dia sudah sering mendengar Wooyoung memanggilnya tuan putri dan menyebut Seulong sebagai pangeran, dia masih tetap merasa bahwa julukan itu sangatlah lucu.

Wooyoung sendiri mengambil julukan tersebut karena menganggap pasangan ini konyol. Di dunia yang sudah serba seluler ini, mereka memilih untuk berkirim kabar menggunakan surat. Alasannya, supaya lebih klasik.Wooyoung langsung terbahak ketika mendengar jawaban itu dari mulut Ji-eun.

Sejak dulu, Wooyoung menganggap surat cinta itu hanya ada dalam dongeng. Ketika seorang tuan putri berdiam diri di kamar sambil memandangi langit, menunggu sang ajudan mengetuk pintu dan membawakan sepucuk surat dari pangeran di negeri seberang. Persis seperti yang Ji-eun lakukan. Walaupun gadis itu tidak hanya berdiam diri di kamar sambil memandangi langit. Tetap saja Wooyoung menganggapnya sama.

“Oh iya, tadi aku dengar besok kau akan pergi. Kemana?” tanya Wooyoung.

“Besok rencananya aku mau membeli alat-alat lukis.”

“Aku antar, ya?”

****

“Ya ampun, aku baru ingat kalau toko ini tutup setiap hari kamis.” Ji-eun menepuk keningnya saat mereka sampai di toko alat-alat lukis langganan Ji-eun dan toko tersebut tutup.

“Kau ini pelupa sekali!”

Ji-eun tersenyum tidak enak.“Maaf ya, sudah jauh-jauh mengantar ternyata tokonya tutup.”

“Tidak apa-apa. Jadi sekarang kita pulang?” tanya Wooyoung.

“Jangan. Tidak ada yang bisa aku lakukan dirumah. Cat air-ku kan habis. Bagaimana kalau kita ke rumahmu?”

Hah?”

“Kenapa? Tidak mau? Kau curang sekali! Selama ini kau selalu ke rumahku. Kenapa aku tidak boleh ke rumahmu!” Ji-eun mengerucutkan bibirnya sebal.

“Bukan begitu. Tapi…”

“Tidak ada tapi! Ayo sekarang kita kerumahmu!” ujar Ji-eun sambil mengapit lengan Wooyoung tanpa sadar, membuat namja itu seperti tersambar aliran listrik.

****

“Jadi kau yang namanya Sulli? Wah, ternyata kau lebih cantik dari yang dibilang Oppa-mu. Dia sering membicarakan tentangmu,” ucap Ji-eun saat sampai di rumah Wooyoung dan bertemu dengan Sulli.

Kamsahamnida, Eonni. Oppa juga sering membicarakan Eonni.”

“Benarkah? Tapi bukan sesuatu yang buruk, kan?” tanya Ji-eun sedikit keras. Berharap ucapannya terdengar oleh Wooyoung yang tadi pamit menuju kamarnya untuk menyimpan jaket dan tas-nya.

“Tentu saja tidak!” Wooyoung menjawab cepat mendahului Sulli. Membuat kedua gadis itu tertawa.

Eonni duduk saja dulu. Aku mau membuatkan minum,” ujar Sulli sambil berjalan menuju dapur. Alih-alih menuruti permintaan Sulli, Ji-eun malah berjalan pelan menuju kamar yang tadi dimasuki oleh Wooyoung. Tapi sebelum dia mencapai kamar itu, dia melihat sebuah ruangan tanpa daun pintu yang menarik perhatiannya. Dia memasuki ruangan tersebut dan seketika terpana ketika melihat isinya.

Bonggol-bonggol kayu beserta segala perkakas memahat ada disana. Tapi bukan itu yang membuatnya terpana. Sebuah kayu yang sudah diukir menjadi seeokor burung elang berdiri kokoh tepat di pojok ruangan tersebut. Pelan-pelan dia menghampiri ukiran tersebut dan menyentuhnya.

Lama dia hanya diam sambil mengagumi setiap detail yang diukir disana.

“Ji-eun-ssi,” Suara Wooyoung menyadarkan Ji-eun dari keterkagumannya dan langsung menurunkan jemarinya yang tadi menelusuri ukiran tersebut.

“Wooyoung-ssi, kau yang membuat ini?”

Wooyoung mengangguk pelan.

Ji-eun sungguh tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memandangi ukiran itu dengan tatapan kagum.

Oppa! Eonni! Minumannya sudah siap!” ujar Sulli dari arah ruang tengah.

“Ayo kita kedepan!” ajak Wooyoung sambil menyentuh Ji-eun.

“Sebentar! Boleh aku memotret ini?”

“Untuk apa?”

“Jawab dulu, boleh atau tidak?”

“Boleh.”

Ji-eun tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dari saku-nya dan memotret ukiran tersebut.

“Ayo!” ujarnya setelah mengambil gambar tersebut dan berjalan mendahului Wooyoung.

Mereka sampai di ruang tengah dan melihat Sulli sedang memotong bolu kukus.

“Kau bisa membuat kue?” Ji-eun langsung duduk dan memandangi Sulli.

Sulli tersenyum, “Sedikit-sedikit. Silahkan!”

Ji-eun langsung mengambil sepotong bolu kukus tersebut dengan antusias dan menggigitnya.

“Enak sekali!” puji Ji-eun yang membuat Sulli tersipu. Wooyoung yang melihatnya hanya tersenyum sambil menyalakan televisi dan duduk di sebelah Ji-eun.

“Aku dengar, Eonni pandai membuat kue?” tanya Sulli sambil memandang Ji-eun, “Oppa jarang sekali makan malam jika pulang dari rumah Eonni. Oppa bilang, Oppa sudah makan kue banyak sekali,”

“Dia menjadikanku tong sampahnya!” ujar Wooyoung bercanda.

Ji-eun tertawa acuh sambil mengambil cangkir teh yang tadi disodorkan Sulli. Dia sudah akan meminum tehnya ketika suara televisi membuat tubuhnya seketika menegang.

Penyanyi terkenal Im Seulong, yang baru-baru ini mengeluarkan single terbarunya bersama Sunny SNSD, diduga mempunyai hubungan serius dengan salah satu personil Wonder Girls, Ahn So Hee. Hal ini diketahui setelah foto mereka saat makan malam di salah satu restoran terkenal di US beredar luas.

Layar televisi yang semula menampilkan gambar sang presenter, kini berubah menjadi potongan gambar yang menampilkan sosok Seulong bersama gadis cantik yang sedang duduk berhadapan sambil bercengkrama. Foto lainnya menampilkan foto Seulong yang menutup wajahnya dengan syal sambil menggandeng gadis tadi berjalan menuju mobil.

Meski hal ini sudah beredar baik di media cetak maupun media elektronik. Kedua belah pihak belum mengkonfirmasikan apa-apa. Hal ini kemungkinan besar benar adanya mengingat Im Seulong dan Wonder Girls yang memang sedang berada di Amerika untuk waktu lama.

Wooyoung melihat tangan Ji-eun yang menggenggam cangkir teh bergetar hebat. Dengan sigap dia langsung menyentuh lengan itu dan mengambil cangkir tadi. Dia melirik Sulli sekilas lalu memberikan isyarat agar dia masuk ke kamarnya. Sulli yang bingung hanya bisa menuruti perintah tak terucap itu sambil memandang Ji-eun dengan tatapan ingin tahu.

“Ji-eun-ssi, gwenchana?”

“Wooyoung-ssi, aku pamit pulang dulu,” ujar Ji-eun pelan sambil mengambil tas dan mantelnya. Tapi sebelum dia sempat melangkah, Wooyoung menarik tangannya.

“Tunggu! Aku ambil jaket dulu!”

****

Tak ada yang bicara selama perjalan menuju rumah Ji-eun. Gadis itu berjalan pelan dengan tatapan kosong. Seolah dia hanya berjalan sendirian.

Wooyoung sendiri tidak mengatakan apa-apa. Terlalu riskan untuk mengatakan sesuatu kepada orang yang baru saja menerima kabar buruk. Makanya dia hanya diam sambil sesekali melirik Ji-eun, berharap gadis itu menyunggingkan senyumnya. Menganggap berita tadi hanyalah rumor belaka.

40 menit perjalanan yang mereka lalui sampai akhirnya tiba di rumah Ji-eun. Wooyoung membukakan pintu untuk Ji-eun dan mempersilahkannya masuk.

“Ji-eun-ssi..”

Na gwenchana. Pulanglah! Kasihan Sulli di rumah sendirian. Terimakasih sudah mengantarku,” jawab Ji-eun sambil berjalan pelan tanpa menoleh lagi kebelakang.

****

Keesokan harinya sepulang Wooyoung bekerja, dia memutuskan untuk melihat keadaan Ji-eun. Tapi ternyata gadis itu tidak ada di rumah. Seluruh jendela ditutup, bahkan tirainya tidak ada yang tersibak. Beberapa kali dia mengetuk pintu, tetapi tetap tidak ada jawaban dari dalam. Dia juga sempat menghubungi ponsel Ji-eun, tapi tidak aktif.

Karena khawatir, dia duduk di kursi taman yang berada di teras rumah tersebut hingga malam menjelang. Dia baru yakin bahwa Ji-eun memang tidak ada di rumah setelah lampu taman tak kunjung menyala.

“Kemana dia?”

****

Wooyoung akhirnya melihat Ji-eun setelah seminggu berlalu. Ji-eun baru saja turun dari sebuah mobil mewah dan tersenyum gembira kepada seseorang di dalam sana. Wooyoung tidak bisa melihat siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut. Tapi dilihat dari senyum mengembang di wajah Ji-eun, dia sudah tahu siapa seseorang itu.

Perlahan, Wooyoung melangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu.

****

Malam itu Wooyoung terjaga sambil menatap langit-langit kamarnya. Pemandangan yang dia lihat tadi sore menyita sebagian besar isi kepalanya. Perasaannya campur aduk. Ada perasaan yang nyaris tak bisa dia tahankan.

Mendadak dia merasa bodoh. Dia mengambil bantal yang tadi menjadi alas kepalanya lalu membenamkan wajahnya pada bantal tersebut.

Dalam benaman bantal itu, untuk pertama kalinya dia menyadari, dia telah jatuh cinta pada Ji-eun.

****

Wooyoung sedang mengaduk ramuan kopi-nya ketika dia melihat headline koran pagi ini. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya.

 

Im Seulong dan Ahn So Hee akhirnya mengakui bahwa mereka menjalin sebuah hubungan serius.

 

Oppa, sepertinya hari ini aku akan pulang mal—”

“Jangan lupa kunci pintu sebelum pergi!” Wooyoung memotong perkataan Sulli yang baru saja keluar dari kamar. Wooyoung buru-buru menyambar jaketnya dan melesat pergi.

“Kenapa dia?” tanya Sulli pelan sambil memandang kepergian kakaknya.

****

“Dia tidak boleh tahu soal berita ini,” batin Wooyoung, “Karena berita simpang siur tempo hari saja, dia sudah menghilang selama seminggu. Apa yang akan dia lakukan jika dia melihat ini?”

Wooyoung memacu motornya dengan kecepatan penuh. Berharap dia lebih cepat datang dari pengantar koran. Tapi ternyata dia salah. Sesampainya dia di rumah Ji-eun, dia melihat gadis itu sedang terpaku di depan pintu dengan koran ditangannya.

Dia memarkir motornya dan berjalan pelan menghampiri Ji-eun. Gadis itu menoleh dan menatap Wooyoung bingung.

“Apa yang kau lakukan sepagi ini?” tanyanya dengan nada suara yang dia usahakan terdengar tenang. Tapi Wooyoung tahu, gadis itu hampir saja meneteskan air mata.

Wooyoung tidak menjawab, dia hanya mengambil koran dari tangan Ji-eun, menggulungnya dan melempar koran tersebut ke arah tong sampah.

“Tidak apa-apa. Aku sudah putus dengannya,” ujar Ji-eun.

“Apa?”

Kali ini Ji-eun yang tidak menjawab, dia menundukan kepalanya dalam-dalam sambil berusaha menahan tangisnya.

“Kalau kau mau menangis, menangislah!” ujar Wooyoung pelan.

Tak lama kemudian, dia mendengar Ji-eun terisak.

Dengan segenap perasaan yang membuncah, dia menarik lembut tubuh Ji-eun kedalam pelukannya. Mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala gadis itu, membuat gadis itu menangis lebih keras.

Baru kali ini dia memeluk seorang gadis selain Sulli. Dia mendekap Ji-eun dengan erat. Diam-diam, dia berdoa pada Tuhan semoga dia masih bisa memeluk gadis ini lagi.

****

Wooyoung memberikan segelas air putih untuk Ji-eun yang sudah kurang lebih satu jam menangis.

Kamsahamnida,” ucap Ji-eun seraya mengambil gelas tersebut dan meminumnya. Setelah merasa lebih tenang, dia menghembuskan napas panjang.

“Minggu lalu, aku langsung dijemput Eomma ketika orang tua-ku melihat berita itu. Appa marah besar dan sudah bersiap terbang ke Amerika saat aku sampai di Seoul. Tapi aku menahannya dan meminta izin agar aku pergi menemui Seulong Oppa sendirian.” Ji-eun menelan ludah ketika mengucapkan 3 kata terakhir. Nama lelaki itu terasa sangat menyakitkan ketika dia mengucapkannya.

Appa mengizinkan. Akhirnya aku terbang ditemani bawahan ayahku,” lanjutnya, “Sesampainya disana, aku langsung menuju apartemennya. Kebetulan gadis itu juga ada disana.” Ji-eun tertawa tertahan. Berharap getar suaranya tidak disadari oleh Wooyoung.

“Dia menyuruh gadis itu pulang dan mengajakku bicara. Dia mengaku kalau dia sudah mempunyai hubungan dengan gadis itu kurang lebih lima bulan,” ucap Ji-eun sambil melirik Wooyoung yang sudah membuka mulutnya tak percaya.

“Dia meminta maaf dan memberikanku kebebasan untuk memutuskan apa yang akan terjadi dengan kami. Aku memutuskan untuk mengakhirinya.”

“Kau tidak mengatakan apa-apa setelahnya?”

Ji-eun menggeleng.

“Lalu kedua orang tua-mu?”

“Mereka kaget bukan main dan mengkhawatirkanku. Tapi aku bilang kalau aku akan baik-baik saja setelah kembali kesini. Makanya, kemarin mereka berdua sengaja mengantarku. Biasanya aku diantar oleh suruhan Appa.”

“Jadi yang mengantarmu kemarin adalah ayahmu?”

Ji-eun mengangguk.

Semalaman kau tidak bisa tidur karena memikirkan orang yang ternyata adalah ayahnya? Kau benar-benar bodoh, Choi Wooyoung!” Wooyoung merutuk dalam hati.

“Kenapa kau tidak memberiku kabar? Aku kebingungan setengah mati ketika kau menghilang! Aku terus kesini sepulang kerja dan kau selalu tidak ada!” Wooyoung memarahi Ji-eun serta merta.

Jinjjayo?

“Tentu saja! Aku pikir kau sudah melakukan hal yang tidak-tidak!” Wooyoung mendelik sadis yang malah membuat Ji-eun tertawa.

“Terimakasih,” ucapnya.

“Untuk?”

“Untuk mengkhawatirkanku, dan untuk datang hari ini.”

Wooyoung langsung menyentuh tengkuknya, salah tingkah mendengar ucapan Ji-eun.

“Mulai sekarang, aku berhenti jadi tuan putri yang menunggu surat dari pangeran,” ucap Ji-eun sambil menunduk. Rambut cokelat dan halus yang tergerai menutupi wajahnya,  membuat Wooyoung mati-matian menahan keinginan untuk menyelipkannya kebelakang telinga gadis itu.

“Tapi bukan berarti kau berhenti datang kesini, ya!” Tiba-tiba gadis itu sudah menatap Wooyoung, membuat Wooyoung lagi-lagi salah tingkah.

“Apa?”

“Iya. Kau tidak boleh berhenti datang kesini. Aku juga akan sering ke rumahmu nanti. Oh iya, soal pahatan burung elang-mu, itu pesanan atau hanya iseng?“

“Iseng. Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” jawab Ji-eun sambil menyunggingkan senyum.

****

Dua hari kemudian, mereka berdua kembali bertemu. Lebih tepatnya, Ji-eun menemui Wooyoung di rumahnya. Namja itu baru saja bangun ketika melihat Ji-eun duduk di ruang tengahnya dan sedang berbincang dengan Sulli.

“Oh? Kau sudah bangun?” tanya Ji-eun saat melihat Wooyoung keluar dari kamarnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya bingung lalu menghampiri kedua yeoja tersebut.

“Kau ingat tidak, tempo hari aku mengambil gambar ukiranmu?”

Wooyoung mengangguk sambil menguap lebar.

“Kemarin aku mengirimkan foto itu kepada kurator di galeri teman Appa, tempatku biasa memamerkan lukisanku. Beliau bilang, beliau menyukainya dan ingin mengambil ukiran itu untuk dipamerkan,”

Wooyoung memandang Ji-eun dengan tatapan kosong, sedangkan Sulli sudah membelalakan matanya tak percaya.

“Sebentar, aku cuci muka dulu. Sepertinya aku mimpi,” ujar Wooyoung sambil beranjak pergi. Tapi Ji-eun segera menarik lengan namja itu.

“Jangan hanya cuci muka, cepatlah mandi! Chil-Hyun Ahjussi sedang menuju kesini untuk mengambil ukiran itu,” ujar Ji-eun menyebutkan nama sang kurator.

Aaaaaaaah!!! Oppa! Akhirnya impianmu terwujuuuud!!” Sulli berteriak bahagia yang membuat Ji-eun tersenyum, sedangkan Wooyoung masih berdiri di tempatnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Cepat mandi sana!” Ji-eun mendorong pelan lengan Wooyoung yang tadi ditariknya.

Tapi, serta merta lengan Wooyoung terentang, dan Ji-eun terpana ketika dia sudah ada dalam rengkuhan namja itu.

Beberapa detik kemudian, pelukan itu melonggar, lalu lepas. Dilihatnya Wooyoung tersenyum, “Terimakasih,” ucapnya.

“Sama-sama,” jawab Ji-eun pelan. Tidak yakin apakah Wooyoung mendengarnya. Namun, dia yakin degup jantungnya terdengar saat Wooyoung mendekapnya tadi, sebagaimana dia juga mendengar degup jantung namja itu.

****

“Kau itu sebenarnya ingin jadi pelukis atau jadi koki?” tanya Wooyoung ketika melihat Ji-eun sedang menata panganan kecil di dapurnya.

“Tidak tahu, mungkin aku sudah mulai bosan melukis,” jawabnya sambil meletakan kue soes yang baru dia angkat dari oven di sebuah nampan berwarna perak.

Wooyoung berniat mencomot kue soes yang masih hangat tersebut ketika dia mendengar pintu rumah Ji-eun dibuka. Ji-eun dan Wooyoung menoleh ke arah pintu. Mereka melihat seorang lelaki berbadan tegap dan seorang wanita cantik memasuki rumah. Wooyoung mengerutkan kening bingung, tapi tidak dengan Ji-eun.

Eomma!! Appa!!” teriak gadis itu sambil berlari kecil menuju ruang tamu.

Wanita tersebut langsung berjalan cepat menghampiri Ji-eun, meninggalkan suaminya yang sedang menutup pintu. Saat Wooyoung melihat wajah wanita itu, dia merasa pernah melihatnya tapi entah dimana.

Lelaki yang tadi menutup pintu membalikan badannya dan tersenyum lebar melihat Ji-eun. Wooyoung terlonjak ketika melihat wajah lelaki itu. Wooyoung langsung tahu dimana dia pernah melihat ibu Ji-eun. Dia pernah melihatnya di televisi ketika beliau mendampingi suaminya yang bernama Lee Seon-woong. Menteri Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan.

Wooyoung termangu. “Jadi, Ji-eun adalah anak seorang…. Menteri?” batinnya.

“Wooyoung-ssi!” Wooyoung langsung menoleh mendengar panggilan tersebut dan melihat keluarga kecil itu sedang menatapnya.

“Sini!” suruh Ji-eun yang langsung membuat Wooyoung berjalan tanpa sadar.

Eomma, Appa, ini Wooyoung-ssi. Pemahat yang kemarin aku bicarakan. Wooyoung-ssi, ini ayah dan ibuku.”

Annyeong haseyo!” sapa Wooyoung sambil memberikan hormat.

“Jadi ini yang selalu kau ceritakan?” tanya Nyonya Lee pada anak gadisnya. “Kau tidak bilang dia semuda ini.”

“Memang Eomma pikir, dia setua apa?”

“Habis kau selalu menyebutkan namanya dengan akhiran –ssi. Jadi, Eomma pikir dia sudah berumur,”

Wooyoung tersenyum. Sekarang dia tahu dari siapa Ji-eun mewarisi kepolosan dan kecerian yang selalu membuatnya kagum.

Lee Seon-woong tertawa mendengar ucapan istrinya dan berjalan mendekati Wooyoung. Beliau mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Wooyoung.

“Karyamu sangat artistik,” ujarnya ketika Wooyoung menyambut tangan itu.

Kamsahamnida,” jawab Wooyoung sambil menatap kedua bola mata lelaki itu. Kedua bola mata yang sama seperti milik Ji-eun.

****

Wooyoung memperhatikan Tuan dan Nyonya Lee yang sedang asik bercengkrama di taman belakang. Sayup-sayup, dia mendengar bahwa mereka sedang merencanakan kemana mereka akan berlibur pada akhir tahun ini. Dia kemudian melirik Ji-eun yang sedang mempersiapkan peralatan untuk makan malam.

Sesuatu mengusik pikiran serta hatinya. Pelan-pelan kenyataannya terungkap. Inilah realitasnya. Tapi, kenapa realitas ini baru terungkap ketika hatinya sudah mulai tergugah? Ketika kesempatan baru saja muncul di depan mata?

“Wooyoung-ssi, ayo duduk. Aku panggilkan Appa dan Eomma dulu.” Ji-eun membuyarkan lamunan Wooyoung.

“Ji-eun-ssi, maaf, aku harus pulang. Aku lupa kalau aku sudah janji akan membatu Sulli mengerjakan tugas seni-nya,” ujar Wooyoung asal sambil mengambil tas-nya.

“Makan saj-”

“Ayo antar aku menemui kedua orang tua-mu untuk pamit,” potong Wooyoung sambil menarik Ji-eun agar berjalan lebih dulu.

****

Ji-eun mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu jati itu beberapa kali. Terdengar suara derap langkah seseorang di dalam sana. Suara itu berhenti bertepatan ketika pintu yang tadi diketuknya terbuka.

Annyeong, Sulli-ya!” sapa Ji-eun riang ketika melihat Sulli muncul di depan pintu.

“Ji-eun Eonni! Ada apa kesini? Ayo masuk dulu,” ajak Sulli sambil membuka pintu lebih lebar. Ji-eun mengangguk lalu memasuki rumah itu.

“Wooyoung-ssi ada?”

“Ah, Oppa belum pulang. Ada apa Eonni mencarinya?”

“Seminggu ini dia tidak memberi kabar. Padahal orang-orang galeri meneleponnya terus-menerus. Aku mengkhawatirkannya. Aku takut dia sakit,”

Oppa baik-baik saja,” jawab Sulli ragu. Sebenarnya, dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan kakaknya. Kakaknya itu memang tampak uring-uringan seminggu terakhir ini. Sulli juga tidak bertanya karena dia sedang sibuk dengan ujian akhir semesternya.

“Aku merasa dia menghindariku,” ucap Ji-eun pelan.

“Memangnya kalian bertengkar?”

Ji-eun menggeleng. “Itulah yang membuatku bingung,” ujarnya sedih.

“Ya sudah, Eonni tunggu saja sampai Oppa pulang. Aku ke kamar dulu sebentar untuk mengambil buku.”

****

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Tapi namja itu belum juga pulang. Ji-eun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Eonni hati-hati, ya!” ujar Sulli saat mengantar Ji-eun ke depan pintu.

“Kalau dia pulang, bilang kalau aku mencarinya,”

“Pasti!”

****

Tepat pukul 21.30, Wooyoung sampai di rumah. Sulli langsung berlari dari kamarnya menuju ruang tengah untuk melihat keadaan kakaknya. Kakaknya itu tampak lelah dan… sedih.

Oppa, tadi Ji-eun Eonni kesini. Dia menu-”

“Iya aku tahu. Aku baru saja mengantarnya,” jawabnya sambil berjalan pelan menuju kamar.

“Kalian bertemu dimana?”

“Tidak bertemu. Aku membuntutinya,”

Mwo? Oppa, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sulli sambil menghampiri kakaknya.

“Kalau dia datang lagi, bilang aku pergi keluar kota atau kemanapun. Pokoknya jangan biarkan dia menunggu. Arasseo?”

Sulli tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Dia hanya memandangi punggung kakaknya yang menghilang dibalik pintu kamar dengan kening berkerut.

****

Ji-eun melihat kalender yang dia letakan tepat di samping lemari es. Dia menghitung tanggal-tanggal yang sudah dia coret dengan spidol berwarna merah. 31. Tepat satu bulan. Kesabarannya benar-benar sudah habis. Rindunya sudah tak terbendung lagi.

Setelah berusaha menemui Wooyoung di rumahnya tempo hari, Ji-eun mencoba berbagai cara untuk bertemu dengan namja itu. Meneleponnya, mencarinya di kantor, bahkan menyuruh orang tuanya mengirimkan sesuatu untuknya lewat pos, berharap namja itu muncul untuk memberikannya. Tapi, yang mengantarkan itu adalah orang lain.

Ji-eun berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas dan bergegas pergi menemui namja itu bagaimanapun caranya.

****

Wooyoung sedang membuka sepatu saat melihat adiknya sedang menonton televisi ketika dia sampai dirumah. Wooyoung menatapnya curiga. Tidak biasanya adiknya ini bungkam jika dia pulang.

“Ada apa?” tanyanya.

Ne? Ani,” jawab Sulli. “Aku sedang menonton. Jangan mengganggu!” suruhnya sambil terus menatap layar televisi.

Wooyoung memandangnya acuh sambil berjalan menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu dan menyalakan lampu, dia tercengang melihat Ji-eun sudah duduk di ranjangnya sambil menatapnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Siapa yang mengizinkanmu masuk?” tanya Wooyoung panik. Tak menyangka gadis yang selama ini dia hindari nekat muncul dikamarnya.

“Untuk menemuimu. Sulli. Aku memohon padanya untuk mengizinkanku masuk,” jawab Ji-eun sambil berdiri. “Kau kemana saja?”

“Ada,” gumam Wooyoung pelan. “Sebentar, aku ke bela-”

Yaa Choi Wooyoung!” potong Ji-eun yang membuat Wooyoung menelan air liurnya. Baru kali ini dia mendengar Ji-eun berbicara seemosinal itu.

“Kenapa kau menghindariku?” dia mendekati Wooyoung dan menatap kedua mata namja itu. Wooyoung tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak sanggup membalas tatapan itu.

“Apa yang salah?” tanya Ji-eun dengan suara lebih lembut. Tapi Wooyoung tetap saja bungkam.

“Choi Wooyoung jawab aku!” Ji-eun menarik lengan namja itu, meminta penjelasan.

“Ini yang salah.” Wooyoung akhirnya menjawab.

“Apa?” Ji-eun memandangnya tidak mengerti, “kita?”

“Tidak pernah ada kita Ji-eun-ssi,”

Ucapan Wooyoung terdengar seperti halilintar di telinga Ji-eun.

“Sebaiknya kau pulang dan jangan mencar-.”

Plak!

Tanpa sadar, tangan Ji-eun sudah mendarat di pipi namja itu.

“Apa ini? Kau bilang kita bisa bersama selama tempat yang kita pijak masih sama. Lalu apa yang terjadi?” tanya Ji-eun dengan nada suara bergetar.

“Kita tidak berpijak di tempat yang sama. Kau itu tuan putri, dan selamanya akan seperti itu. Pulanglah, tunggu pangeranmu datang!” Wooyoung berkata pelan sambil masih tetap tidak memandang Ji-eun.

“Lalu bagaimana jika tuan putri ini jatuh cinta pada ajudannya?”

Wooyoung terkesiap. Mencoba mengerti apa arti ucapan Ji-eun. Walaupun dia sudah tahu, hatinya selalu tahu.

Wooyoung tertawa tertahan, “Tidak ada yang membuat dongeng seperti itu.”

“INI BUKAN DONGENG CHOI WOOYOUNG! INI REALITASNYA!” Ji-eun berteriak marah sambil terisak.

Wooyoung menggeleng, “Bukan. Realitasnya, kau adalah anak seorang Menteri. Pelukis yang mempunyai masa depan cemerlang. Mahasiswi terbaik karena lulus lebih cepat. Sedangkan aku? Aku hanya pengantar surat, dengan mimpi muluk-muluk menjadi seorang seniman. Karyaku yang dipajang digaleri tak kunjung terjual. Bahkan, aku tidak lulus kuliah. Apa yang akan orang lain bicarakan dibelakangmu dan ayahmu?”

Appa tidak mempermasa-”

“Ayahmu memang tidak mempermasalahkannya. Ayahmu bahkan sangat ramah. Itulah yang membuatku merasa semakin terpinggir. Keluarga kecilmu terlalu sempurna untuk aku masuki.”

Lama yang terdengar hanyalah isakan Ji-eun dan napas Wooyoung yang memburu.

Gadis itu tertawa sambil menghapus air matanya, “Ternyata selama ini aku salah. Kau terlalu rendah menilai. Bahkan menilai dirimu sendiri!” ujar Ji-eun sambil berbalik untuk mengambil tasnya, “Asal kau tahu. Karyamu sudah terjual sebulan lalu. Saat aku datang kesini.”

Ji-eun menyelipkan selembar kertas di tangan Wooyoung yang ternyata adalah sebuah cek dengan nama galeri Ahn Chil-hyun. Setelah itu, Ji-eun keluar dari kamar Wooyoung dengan sesuatu yang remuk dihatinya.

Ditempatnya, Wooyoung termangu. Banyak kata terlanjur terucap dan membuatnya menyesal sekarang. Dia ingin menahan gadis itu. Tapi, ketidakpercayaan dirinya benar-benar menang hari ini.

****

Hampir genap 2 minggu, nama itu tak pernah muncul lagi di layar ponselnya. Sosoknya tak pernah lagi terlihat di rumahnya. Bahkan, Sulli tidak pernah menyebutkan lagi namanya.

Ada kekosongan yang Wooyoung rasakan. Walaupun enggan mengakui, dia kehilangan Ji-eun. Dia merindukan gadis itu. Dia ingin bertemu dan meminta maaf.

Tapi bagimana?” pikirnya.

Tak sengaja, Wooyoung melihat batang kayu yang teronggok di pojok ruangan. Mendadak, Wooyoung mempunyai ide untuk merealisasikan keiinginannya.

****

Ji-eun baru saja akan mengunci pintu gerbangnya ketika dia melihat sesuatu yang ganjil tepat disamping dia berdiri. Sebuah kotak surat yang terbuat dari kayu kamboja bertengger manis disana. Dia mengerutkan keningnya dan mengedarkan pandangan untuk mencari siapa yang memasangnya. Tap, dia tidak menemukan siapapun.

Dia kemudian membuka kotak itu. Terdapat sebuah surat didalamnya. Ji-eun membuka surat itu perlahan dan mengeluarkan secarik kertas kecil dari sana.

Mungkin tidak masalah jika tuan putri jatuh cinta pada ajudannya. Tapi, bagaimana jika sang ajudan ternyata mempunyai perasaan yang sama? Akankah kesalahannya diampuni?

 

Setelah membaca itu, Ji-eun seketika tahu siapa yang membuat kotak surat ini. Dia yang semula akan membeli alat lukis langsung berjalan ke arah berlawanan. Menuju rumah Wooyoung. Tapi sebelum dia berjalan lebih jauh, dia mendengar suara motor Vespa yang sangat dikenalnya di belakang. Dia membalikan badannya dan melihat seseorang yang sudah sebulan ini tidak ditemuinya berada disana.

Namja itu menghentikan motornya dan berjalan pelan menghampiri Ji-eun. Sesampainya dia dihadapan Ji-eun,  mereka hanya menatap satu sama lain tanpa ada yang bicara.

Wooyoung yang jengah akhirnya membuka suara, “Kenapa kau baru membukanya? Aku sudah meny-”

Ucapan Wooyoung terhenti ketika Ji-eun melingkarkan tangannya di pinggang Wooyoung. Wooyoung mengerjapkan matanya kaget. Tapi beberapa saat kemudian, dia membalas pelukan itu.

“Kau menyebalkan!” ucap Ji-eun pelan.

“Bukankah semua pengawal memang menyebalkan bagi seorang putri?” jawab Wooyoung tepat ditelinga Ji-eun. Membuat gadis itu tersenyum ketika merasakan hembusan napas hangat di tengkuknya.

“Memang. Apalagi untuk pengawal sepertimu! Yang menyuruh tuan putri pergi dan baru muncul hari ini.”

“Maaf,” ujar Wooyoung sambil membelai rambut Ji-eun.

“Akan aku maafkan dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Kau harus menjadi pengawalku seumur hidup!” Ji-eun menatap Wooyoung menantang. Namja itu tidak menjawab. Dia hanya mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis itu.

“Dijawab dengan itu cukup?” tanya Wooyoung dengan senyum jahil. Dilihatnya wajah Ji-eun sudah bersemu merah.

“Mendekapku saja sudah menjadi sebuah jawaban,” jawab Ji-eun.

Wooyoung tersenyum sambil mengeratkan pelukannya dan mengangkat tubuh mungil itu ke udara.

THE END

                       Maafkan karena mungkin cerita ini mengecewakan kalian. Aku sedang berusaha supaya bisa menulis oneshoot karena hasil oneshootku biasanya jelek ._. Silahkan tinggalkan komentar kalian :) Don’t be a silence reader, okay? Because, i really hate it. Gomawo *bow*

2 thoughts on “A Letter Box

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s