Twelve O’Clock [Chap.2]


Title  : Twelve O’Clock Chap. 2

Autor  : JungJenong

Cast  : Leeteuk, Taeyeon

Genre  : Romance

Rating  : PG-13

Length  : Chapter

 

twelve o'clock poster

 

[A/N] Don’t be plagiator. Siders? Go to hell!! Typo is human mistake. RCL please…..

 

————Day One————-

11.55 AM

Medical Building, SM University

Aku yakin taruhan kali ini adalah trik empat namja itu. Menggunakan tempat bertemu yang jauh dari kampus dengan target yang tidak jelas pula. Wait, maksudku bukan Kim Taeyeon, yeoja yang menjadi targetku kali ini adalah yeoja gila, tidak jelas, dan absurd. Hanya saja baru kali ini target ku adalah yeoja yang belum direncanakan oleh Donghae. Donghae tidak kenal siapa Kim Taeyeon sebenarnya. Dia hanya menyuruhku mendapatkan yeoja yang memasuki cafe jam 12. Beruntung Kyuhyun menyelamatkanku. Kim Taeyeon adalah hoobae yang dia naungi di kampus.

Dan disinilah aku, di depan gedung kedokteran menunggu Kim Taeyeon. Berdasarkan sedikit informasi yang kudapat dari Kyuhyun, seharusnya yeoja itu sudah keluar jam setengah 11 tadi -kecuali dia mengerjakan tugas yang diberikan asisten dosen sekejam Kyuhyun.

Aku melihat seorang yeoja keluar dari gedung mengenakan jumper bermotif tribal dengan skiny jeans biru serta Satchel bag coklat yang menambah gaya busananya. Okelah, soal style aku akui keren dan cukup modis.

Aku keluar dari mobil Audi A5 ini. Relax, Leeteuk. Benar saja apa yang dikatakan Kyuhyun, Kim Taeyeon bersikap acuh saat melihatku berjalan ke arahnya. Tidak seperti gadis lain yang menjerit-jerit. Gadis ini berbeda.

“Kim Taeyeon kah?” tanyaku padanya.

“Ne.. Ada yang bisa kubantu, Sunbae?” Sunbae, panggilan yang formal untukku. Rata-rata mahasiswi di sini akan memanggilku oppa.

“Bisakah kau ikut denganku?” tawarku padanya.

“Ne?” sepertinya dia cukup bingung atas reaksi ku yang tiba-tiba mengajaknya untuk pergi makan siang.

“Aish.. Sudahlah ikut saja. Aku tidak akan macam-macam denganmu” langsung saja aku menggeret tangannya menuju mobilku. Kubukakan pintu mobil untuknya. Awalan yang bagus, Leeteuk. Buat dia terkesan olehmu. “Jadi, kau jurusan kedokteran?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Begitulah. Appa-ku hanya memberiku dua pilihan. Masuk kedokteran atau management. Kurasa kedokteran tidak terlalu buruk. So, here I am.” jawabnya sambil menggunakan seat-belt.

“Jam 12 lebih 5 menit. Bagaimana kalau kita makan siang bersama. Aku tahu restoran paling enak di sekitar sini.” tawarku sambil menstater mobil. “Tenang saja aku yang traktir”.

Kita berbicara banyak di mobil. Tentang Kyuhyun yang merupakan sunbae terkejam juga tertampan di jurusan kedokteran -itu menurutnya, sampai bagaimana keluarganya. Jujur saja aku merasa nyambung berbicara. Tidak seperti gadis yang aku kencani biasanya, aku merasa nyaman bersama Taeyeon. Entahlah.

 

12.25 PM

Louis Resto and Café

“Kita sampai” ujarku sambil melepas seat-belt yang terpasang. “Sudah lama tidak ke restoran ini” aku memandangi Taeyeon yang sedang melihat kearah bangunan bergaya eropa itu.

“Jadi, kapan terakhir sunbae makan di restoran ini?” Taeyeon melepas seat-belt yang terpasang sambil memandang bangunan restoran dengan wajah tekagum-kagum. “Dengan yeoja chingu-mu kah?”

“Uhuk…” pertanyaan Taeyeon membuatku mati kutu. Dia kini menatapku dengan wajah penasarannya. “Aish.. Sudahlah bukan jawaban yang penting. Oh ya, ayo kita masuk. Aku sudah lapar”

“Ne” hanya jawaban itu yang kudengar dari Taeyeon.

Aku membukakannya pintu mobil lalu menggandeng tangannya “ladies first” ucapku saat membuka pintu restoran. “Kau pesan apa, Taeng?” tanyaku setelah seorang pelayan membawa daftar menu ke meja.

Spaghetti dan green tea” Taeyeon menutup buku menu lalu memberikannya pada pelayan itu.

“Mohon ditunggu sebentar. Pesanan akan saya antar. Terima kasih” pelayan itu berjalan menjauh setelah aku menyebutkan pesananku.

“Kau tau, Taeng? Sepertinya tersasa canggung apabila kau memanggilku sunbae” ucapku menatap matanya. Astaga mata itu! Mata coklat-yang aku yakini dia sedang tidak menggunakan soflens, entah kenapa ada sinar di mata nya yang mampu membuatku betah untuk menatapnya.

“Ehem” kurasa Taeyeon mulai merasa risih aku melihatnya seperti tadi. Oke Leeteuk! Sadarlah! Dia hanya sementara di hidupmu. “Lantas aku harus memanggilmu apa? Oppa? Ahjussi? Haha” tawa Taeyeon membuat mukaku berubah jadi masam.

“YAA!! Aku tidak setua itu. Aish.. Kau ini” gerutuku. “Kupikir oppa bagus. Kau harus memanggilku oppa karena aku lebih tua darimu.”

“Lantas apa bedanya aku dengan yang lain?” pertanyaan apa ini? Kenapa pertanyaan ini bisa keluar dari bibir Kim Taeyeon. Tidak salah bicarakah dia?

“Maksudmu?”

“Maksudku, panggilan oppa biasanya dilontarkan oleh teman-temanku yang ‘cinta-mati’ padamu. Seperti ini ‘LEETEUK OPPA!! KAU SANGAT TAMPAN’” ujarnya sambil menirukan cara fans ku memanggil. Wajahnya sangat lucu saat menirukan gaya itu. Tanpa sadar, aku tertawa dibuatnya. “Lantas perbedaanku dengan mereka apa? Aku bukanlah fans fanatikmu. Haruskah aku memanggilmu oppa?”

“Fans fanatik? Berarti kau mengakui kalu kau fans-ku tapi kau tidak sefanatik temanmu begitu? Woaaah.. aku baru menyadari kalau seorang Kim Taeyeon adalah fans dari pangeran kampus, Park Jungsoo.”

“Aish.. bukan begitu. Kau narsis sekali. Baiklah aku akan memanggilmu Leeteuk oppa. Bukankah ‘oppa’ tidak hanya paggilan ’fans-idola’ melainkan juga panggilan ‘kakak-adik’?”

Ne, kau benar”

Seorang pelayan yang tadi mencatat pesanan kami membawa hidangan yang kami pesan. “Ada yang bias saya bantu lagi?”

“Tidak. Terima kasih”

“Ehmm.. spaghetti ini sangat enak.” Ujar Taeyeon memuji spaghetti yang dia pesan “Green tea-nya juga enak, tidak terlalu pahit.”

“Apa kubilang, restoran ini memang enak. Oh ya, sepertinya kau begitu terkagum oleh arsitektur bangunan ini.”

“Sebenarnya, saat aku lulus high school, aku ingin sekali masuk jurusan design atau arsitek. Tapi appa melarangku”

“kenapa?”

“Yahh… Alasan sepele beliau ingin aku untuk meneruskan perusahaannya. Sebenarnya aku menolak. Tapi, appa tetap bersikukuh. Atau memberiku pilihan lain yaitu masuk kedokteran. Yasudah, daripada aku masuk management tapi tidak tahu apa-apa lebih baik aku masuk kedokteran. Lagian ada Jiwoong oppa.”

“Jiwoong?” siapa dia? Pacar Taeyeon kah?, ucap Leeteuk dalam hati.

“heem.. Dia oppa-ku yang sedang study di US”

“Ohh..” aku hanya dapat ber-oh ria. Kufikir dia sudah punya tunangan. Beruntung kau, Teuk. “Dan kalau boleh tahu, apa nama perusahaan ayahmu?”

“Kim Corp.” jawabnya santai. MWO?! Kim Corp. bukannya memasuki 10 besar perusaahan besar di Korea. Sadarlah, Teuk. Lawanmu ini gadis kaya. Tidak seperti gadis yang kau bayangkan sebelumnya. Gadis miskin dengan beasiswa.

Lantas kalau dia mendapat beasiswa, berarti dia benar-benar gadis berprestasi mengingat seleksi beasiswa sangatlah ketat. Oke Leeteuk, korbanmu kali ini benar-benar hebat.

“Leeteuk oppa? Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan wajah khawatir. Aku banyak masalah, Taeng. Apa lagi yang menyangkutmu. Terlalu banyak kejutan hari ini, jawabku dalam hati.

I’m okay.” Jawabku singkat dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

 

05.00 PM

Star City Apartment Parking Lot

Gomawo, Leeteuk oppa for nice lunch” ujarnya dengan wajah tersenyum. Aku memarkirkan mobilku di apartemen Star City sekitar satu kilometer dari gerbang kampus.

You’re welcome. Kapan-kapan aku bias mengajakmu ke restoran lain yang lebih enak.”

“Dan lain kali aku yang mentraktirmu. Oke?” tawarnya.

“Tidak usah. Aku tidak terbiasa apabila seorang yeoja mentraktir namja.”

“Aish.. Tidak usah begitu. Sekali lagi gomawo.” Taeyeon keluar dari mobilku lalu berlari-lari kecil memasuki gedung apartemennya. Setelah tidak terlihat lagi batang hidungnya, aku mengambil handphone-ku lalu menekan beberapa nomor.

“Lee Ahjussi?” ucapku pada orang disebrang telefon

“……..”

“Bisakah kau mencari tahu tentang data diri mahasiswi bernama Kim Taeyeon?”

“……..”

Ne, dia jurusan kedokteran.”

“……..”

“Oh iya, dia juga salah satu pewaris Kim Corp.”

“…….”

“Aku membutuhkan datanya besok”

“…….”

Gomawo, Lee Ahjussi” *klik* sambungan telefon terputus. Perlahan aku melajukan mobil ini menjauhi gedung apartemen yang terbilang mewah itu.

 

06.00 PM

Leeteuk’s Apartment

Kurebahkan tubuhku di kaur king size ini. Haaah… Hari yang melelahkan. Kim Taeyeon. Such a beautiful and interesting girl. Kutelusuri Kim Corp. melalui google. Baris pertama terlihat official website dari Kim Corp. sendiri. Let’s open it, Leeteuk.

Vision, Mission, History, Staff Organization, Branch Companies” aku membaca Header website tersebut. “Mungkin History” gumamku. Kugerakkan pointer kearah kata history. Dan benar saja nama Kim Taeyeon terdapat pada paragraf ketiga.

Perusaahan yang bergerak di bidang medis ini berdiri pada tanggal 7 Maret 2005. Walaupun tergolong baru, Kim Corp. dapat menerobos pasar internasional dalam waktu tidak kurang dari 2 tahun. Dengan tekat kuat dari Kim Ki Hwan, Kim Corp. telah membangun beberapa rumah sakit di beberapa Negara, seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand, Indonesia, USA, dan masih banyak lagi.

Selain membangun rumah sakit, Kim Corp. juga menciptakan obat untuk penyakit Kanker dan Lupus1 dengan bantuan dari beberapa ilmuan dan dokter internasional. Harga obat yang ditawarkan pun tidak tergolong mahal.

Selain terkenal sebagai pemimimpin yang dikagumi bawahannya, Kim Ki Hwan juga merupakan seorang pemimpin keluarga yang bijaksana. Terbukti dengan suksesnya kedua anaknya, Kim Jiwoong dan Kim Taeyeon. Kim Jiwoong yang kini sedang melanjutkan kuliah S2-nya di USA sedangkan Kim Taeyeon lebih memilih berkuliah di SM University jurusan kedokteran.

Setelah kuyakini paragraf selanjutnya tidak terdapat data tentang Kim Taeyeon, aku menutup laman Google Chrome. Hanya informasi itu yang diberikan oleh website perusahaannya. Tapi, kalau difikir-fikir, mungkin ini salah satu alasan Taeyeon mengambil jurusan kedokteran. Karena perusahaan ayahnya bergerak di bidang medis.

Kunyalakan shower di kamar mandi. Penatku serasa hilang terbawa aliran air menuju lubang pembuangan.

“Haah… What a long day

 

———-Day 2———-

 

“Tolong hentikan taruhan ini, Siwon” ujar seorang yeoja pada namja di sampingnya. Mereka kini sedang berada di mobil Range Rover Sport milik Siwon. Raut wajah yeoja itu tampak serius menatap bola mata kekasihnya

“Ini sudah perjanjian, Tiff. Bahkan aku tidak tahu kalau kau ada di café yang sama denganku saat itu” jawab namja yang dipanggil Siwon dengan wajah frustasi.

Listen to me, Babe. Aku nggak akan peduli siapa target taruhan Leeteuk-ssi kali ini kalau saja targetnya bukan Kim Taeyeon. Dia sahabatku sendiri, Siwon. Aku nggak tega lihat dia tersakiti” lanjut gadis yang disapa Tiff itu. “Aku takut dia akan jatuh hati pada Leeteuk-ssi. Dia akan merasakan sakit yang mendalam bila dia mengetahui kalau dia hanya dimanfaatkan oleh Leeteuk.”

“Hey, aku yakin Taeyeon tidak akan semudah itu jatuh cinta pada Leeteuk.” Siwon berusaha setengah mati menenangkan yeojachingu-nya itu. Walaupun ia sendiri tidak yakin apa yang dikatakannya benar mengingat Leeteuk adalah seorang casanova kampus yang memiliki berjuta pengalaman dalam menaklukan hati wanita.

“Tapi aku mengenal Taeyeon sejak sekolah dasar. Dia adalah orang yang mudah tersanjung oleh perhatian orang lain.” Ucap Tiffany dengan nada gusar.

Siwon mendekatkan tubuhnya ke Tiffany. Ia merengkuh tubuh Tiffany agar Tiffany bisa merasakan kehangatan yang diberikan Siwon. Mereka terdiam. Keduanya sama-sama kalut dalam pikiran masing-masing. Siwon yang tak tega dengan keadaan Tiffany yang seperti ini. Ia sendiri tahu, bagaimana Tiffany menyayangi sahabatnya itu. Tapi apalah yang bisa Siwon perbuat, toh taruhan itu sudah terlanjur disetujui oleh mereka.

Sedangkan Tiffany, ia masih berfikir bagaimana cara agar Taeyeon tidak jatuh hati pada Leeteuk. Haruskah ia member tahu Taeyeon tentang taruhan ini?

Siwon melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Tiffany yang sedikit bengkak. “I’m sorry, Babe.” Hanya kalimat itu yang mampu Siwon ucapkan. Ia menggenggam tangan Tiffany erat, menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan gedung apartemen Tiffany.

***

08.15 AM

Hard Rock Café

Leeteuk berjalan santai memasuki Hard Rok café, tempat ia dan Lee Ahjussi berjanjian bertemu untuk membicarakan masalah semalam yang ia tanyakan. Leeteuk sengaja dating lebih awal dari waktu ia janjian. Sekalian melepaskan penat, pikirnya. Seperti biasa saat ke café, ia lebih suka memilih tempat duduk di sebelah jendela besar yang membagi dua antara ruangan outdoor dan indoor café.

Samar-samar, ia melihat pria paruh baya dengan garis mata yang tegas yang sangat tertera diwajahnyadari balik jendela besar café sedang keluar dari BMW hitam yang ia kendarai kesini. Pria tersebut menatap Leeteuk dan membungkukkan badan. Leeteuk membalasnya dengan anggukan kepala sebagai tanda salam.

Pria itu memasuki café dan berjalan ke arah Leeteuk. “Maaf mengganggu waktu Anda, Lee Ahjussi. Silahkan duduk.” Leeteuk berdiri dan mempersilahkan pria tersebut duduk dihadapannya. Lee Ahjussi, tangan kanan appa Leeteuk sejak lama. Bahkan Leeteuk sendiri mengenal Lee Ahjussi sejak ia masih sekolah dasar.

Gwenchana, Leeteuk-ah. Kau sudah kuanggap anakku sendiri.” Ujar Lee Ahjussi pada Leeteuk. Mereka berdua sudah terbiasa berbicara non-formal di luar kantor. Ia sudah menganggap Leeteuk sebagai anaknya sendiri. Begitupula sebaliknya. Leeteuk sedari kecil harus menerima kenyataan bahwa ayahnya adalah pengusaha sukses yang hanya memiliki sedikit waktu bersamanya. Tidak enak memang, tapi beruntung ada Lee Ahjussi yang biasa menemani Leeteuk bermain atau mengantarkannya berpergian. “Apakah ini soal taruhan dan yeoja lagi?” lanjut Lee Ahjussi dengan senyum penuh arti.

“Haha… Mereka menawariku lagi. Dan tentunya aku menerima tawaran tersebut.” Lee Ahjussi tahu betul siapa ‘mereka’ yang Leeteuk maksud. Dan secara tidak langsung, ia sering member informasi tentang gadis yang akan menjadi ‘korban’.

“Dan sekarang, gadis bernama Kim Taeyeon yang menjadi giliran?”

“Begitulah.” Jawab Leeteuk singkat. “Oh ya, apakah Ahjussi sudah mendapatkan informasi? Aku semalam sempat membuka google. Dan baru tahu kalau ternyata dia adalah salah satu pewaris Kim Corp..” lanjut Leeteuk.

“Aku sudah mendapat sedikit informasi tentangnya” jawab Lee Ahjussi sembari mengeluarkan map merah dari tas hitamnya. “Hey, aku seperti mata-mata yang kau kirim saja, Leeteuk-ah.”

“Haha.. Seperti itukah? Tapi, memang sepertinya iya.” Leeteuk membuka map merah dan membaca dengan teliti setiap kata yang tercantum. “Tiffany Hwang? Bukankah dia pacar Siwon? Jadi, dia sahabat Kim Taeyeon?”

“Ya, dia pacar Siwon-ssi.” Jawab Lee Ahjussi. “Dan kabarnya, orangtua Taeyeon adalah sahabat dekat orangtuamu.”

“Mwo? Jinjjayo?”

“Hmm…” Lee Ahjussi mengangguk yakin.

***

09.20 AM

Medical Building, SM University

Seprti yang sudah Taeyeon perkirakan, hari ini pasti dia akan menjadi bahan obrolan satu kampus karena ‘kencan’-nya dengan Leeteuk. Bukan kencan kalau bisa dibilang. Hanya makan siang istimewa yang belum pantas disebut sebagai kencan.

Banyak bisikan-bisikan mahasiswi kampus yang membicarakannya. Taeyeon pun sedikit risih ditatap sinis oleh mereka. Biarlah mereka membicarakanku, toh bukan seperti itu keadaannya, pikir Taeyeon. Ia melangkah cepat menuju ruang kelasnya.

“Hey, Kim Taeyeon!” suara Sooyoung terdengar jelas di telinganya saat ia memasuki kelas. Taeyeon mencari-cari sumber suara. Dan disanalah Sooyoung, di bangku nomor tiga dari depan. Sebelahnya ada bangku kosong yang sengaja Sooyoung pesan untuk Taeyeon. “Waah… Aku tidak menyangka kau akan menjadi ‘teman-kencan’ Leeteuk” ujar Sooyoung setelah Taeyeon duduk disebelahnya.

“Itu tidak seperti yang mereka pikirkan, Soo” Taeyeon mengeluarkan buku dan alat tulis lainnya dari dalam tas putihnya. “Kami hanya makan siang biasa.”

“Jinjjayo? Aku tidak bisa percaya begitu saja, Tae. Kalian berdua seperti menjalin sebuah hubungan khusus. Dari cara dia mengajakmu makan siang di depan gedung. Aku yakin kalian pasti ada sesuatu.” Sooyoung menatap Taeyeon dengan ekspresi yakin.

“Tunggu, bagaimana kau bisa tahu kalau dia mengajakku makan siang di depan gedung? Aku sepertinya tidak melihatmu.” tanya Taeyeon.

“Kau saja yang tidak sadar ada aku karena ada Leeteuk. Sepertinya duniamu sudah teralihkan, Tae” ujar Sooyoung. “Aku berada di belakangmu saat Leeteuk mengajakmu. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu pulang bersama. Tapi aku sepertinya kedahuluan Leeteuk. Ya sudah, terpaksa aku pulang dengan Yoona.”

“Jinjja? Mianhae aku tidak tahu. Lagian baru kemarin aku mengenalnya.” Taeyeon melirik Sooyoung sekilas.

“Duniamu sudah benar-benar teralihkan, Tae. Haha..” Sooyoung tertawa lepas yang dibalas pukulan oleh Taeyeon.

“Sudah kubilang bukan seperti itu.” Kata Taeyeon samar.

 

To Be Continued….

Jelekkah? Pendekkah? Maaf buat lama updet. Hihi…Urusannya sih sepele Cuma karena males ngetik. Padahal ide udh ada sejak lama. Alasan lainnya karena banyak tugas, les, dan tambahan yang mengganggu. Segini dulu deh ya.. Next chap insyaallah lebih panjang. Don’t forget comment and like after read ^^ You also can follow my twitter @JungJenong or @vaniamalia. Gomawo

P.S. style Taeyeon di hari pertama itu kayak poster ff di atas ya…

[1] Lupus, kelainan sistem imun berlebihan yang menyebabkan inflamasi di bagian tubuh tertentu.

4 thoughts on “Twelve O’Clock [Chap.2]

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s