(Ficlet) Kisah Romantis


Poster FF Kisah Romantis

Author : @andinarima

Title : Kisah Romantis

Genre : Romance

Main Cast : – Han Ni Chan

 – Kim Joon Myun a.k.a Suho

Support Cast : – Vendish Park

– Jennifer Linn

Rating : Teen

Length : Ficlet (word : 1314)

Author Note : FF and Poster is MINE. Don’t be PLAGIATOR and COPYCAT.

FF ini udah pernah di posting di http://andinarima.wordpress.com

Jangan lupa RCL ya kawan 

^^^

Aku membuka pintu café itu dan menutupnya kembali. Meninggalkan bunyi bel yang masih terdengar. Aku berjalan menuju bangku di sudut café. Menarik bangku dan menghempaskan tubuhku di atasnya. Dari temat ku duduk sekarang aku bisa melihat tiga sudut yang berbeda. Pertama aku bisa melihat pintu keluar masuk café ini, jadi dengan mudahnya aku bisa mengetahui siapa yang masuk dan keluar dari café ini. Kedua aku bisa melihat meja bar café ini, memudahkanku untuk melihat para barista meracik coffee. Yang ketiga aku bisa melihat dengan jelas jalanan di depan café ini, mudah sekali untukku mengetahui perubahan cuaca.

Seorang pelayan menghampiriku.

“Nona Han? Apa kabar? Sudah lama sekali Nona tidak berkunjung kemari?” sapanya.

Aku tersenyum karena pelayan itu masih mengenaliku.

“Annyeong!”

“Nona apa selera Anda masih sama?” Pelayan itu menaikkan satu alisnya.

Aku mengangguk. Pelayan itu mengangguk paham dan tersenyum.

“Baiklah Nona Han, pesanan Anda akan siap lima menit!” Pelayan itu segera berlalu.

Aku menghirup pelan aroma café ini. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kemari hanya untuk menikmati secangkir espresso hangat. Tak lama kemudian pesananku datang. Aku menghisap satu tegukan untuk menikmati hangatnya kopi ini, lalu memperhatikan sekeliling. Suasana nyaman di café ini seakan membawakanku kenangan tentang itu.

Coffee shop itu kedatangan tiga orang gadis. Mereka disambut ramah pelayan café itu karena mereka sudah sangat sering kesana hanya untuk menikmati secangkir kopi hangat sambil berceloteh riang. Ketiga anak SMA itu memesan jenis kopi yang berbeda-beda. Gadis pertama yang berambut hitam panjang memesan segelas espresso hangat. Gadis berkacamata memesan secangkir cappuchino dan gadis berambut pirang sebahu memesan Americano. Pelayan itu pun berlalu setelah mencatat pesanan ketiga gadis manis tersebut.

Ditinggal pelayan ketiga gadis itu mulai meng-gosip. Mulai dari guru yang nyebelinnya super-duper, anak kutu buku yang kalau di-make over bakal terlihat tampan sampai anak-anak borjuis kelas atas yang populer dan juga sombongnya selangit.

“Contohnya ya si Joon Myun itu,” ketus gadis berambut hitam.

“Nichan-a, jangan begitu. Walaupun dia kaya dia tidak seperti yang lain, dia itu ba-ik,” jelas gadis berkacamata yang bernama Vendish.

“Betul, buktinya aja tadi di sekolah dia menolongmu sewaktu kamu hampir jatuh kan?” Linn mencoba mengingatkan bukti kebaikan Joon Myun.

Sebelum Nichan membalas kata-kata kedua temannya, pesanan mereka datang. Nichan tersenyum kepada pelayan sebagai tanda terimakasih.

“Iya, tapi tetap saja dia itu menyebalkan!”

“Menyebalkan darimananya?”

Krek–bunyi pintu café dibuka disertai bunyi lonceng, menandakan ada yang memasuki café. Karena bunyi-bunyian tadi sangat menarik perhatian, mau-enggak-mau ketiga gadis yang sedang berdebat itu melirik sejenak ke pintu. Dan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui siapa yang datang.

“Hhh!” dengus Nichan. “Kenapa mereka harus datang kesini sih?” Kedua temannya hanya mengangkat bahu.

Nichan memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Tapi suatu musibah terjadi. Beberapa meter dari pintu ia berpapasan dengan Suho–nama panggilan Joon Myun. Bukan cuma itu ketika Nichan bergeser ke kiri reflek Suho mengikuti. Begitu pula kalau Suho ke kanan Nichan tanpa sadar ke kanan.

“Kau menghalangi jalanku,” hardik Nichan.

“Hmm.. baiklah. Begini saja, kau jalan ke kanan dan aku jalan ke kiri. Bagaimana?” usul Suho.

“Kenapa kau yang mengaturku?” lagi-lagi Nichan membalas kata-kata Suho dengan ketusan.

“Oke terserah kau saja!” Suho menghela napas. Ia tak mau lagi berdebat dengan cewek yang disukainya sejak kali pertama bertemu dua tahun yang lalu.

Beberapa saat hanya hening yang menyapa. Nichan sadar terlebih dahulu lalu mulai melangkahkan kaki keluar dari café. Tapi ketika Nichan dan Suho bersisian Suho menyelipkan sesuatu ke tangan Nichan.

Aku tersenyum ketika mengingat itu. Waktu itu yang diselipkan Suho ke tanganku adalah sebuah surat yang mengajakku untuk bertemu dengannya di suatu tempat.

Aku menghabiskan kopiku lalu pergi keluar café setelah sebelumnya tersenyum ramah ke pelayan yang tadi melayaniku. Aku berjalan menuju halte terdekat. Menunggu bis selanjutnya yang akan membawaku ke tempat yang dimana kepingan tempat itu akan menjadi sebuah kenangan.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian bis yang kutunggu datang. Aku naik ke bi situ yang tidak terlalu ramai. Aku memilih duduk di dekat jendela seraya menikmati musim semi. Bunga-bunga di taman kota sudah mulai bermekaran. Sangat cantik. Sangat indah. Sangat elegan. Dan sepertinya bunga-bunga di hatiku juga mulai bermekaran karena sebentar lagi aku akan sampai di tempat tujuanku sore ini.

Akhirnya aku sampai di halte dekat Namsan Park. Inilah tujuanku : Namsan Tower! Tempat gembok cinta sepasang kekasih terpaut. Menyatu oleh cinta dan disatukan oleh pilihan cinta. Tunanganku mengajak ketemuan di Namsan Tower. Mau tidak mau aku harus menuruti keinginannya itu.

Aku berjalan menuju Namsan Tower. Sesampainya di menara gembok cinta ini aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku mau kesini sendirian sementara orang lain berdua dengan pasangannya. Aku seperti orang jomblo yang sedang merenungi nasib di menara romantis ini. Tidaaaaaaaak! Aku menyesal! Sangat menyesaaaaaal!! DEG. Déjà vu…

Sesampainya di rumah, Nichan membuka surat yang diselipkan Suho ke tangannya. Isi surat itu adalah: ‘Aku menunggumu besok pulang sekolah di Namsan Tower. Kalau besok kau tidak datang, aku akan terus berada di Namsan Tower setiap pulang sekolah sampai kau datang menemuiku’.

Nichan menghela napas. “Dia yakin sekali aku akan datang.”

Keesokannya Nichan memutuskan untuk tidak datang. Hari kedua, ketiga, keempat ia juga memutuskan untuk mengabaikan isi surat itu. Di hari kelima Nichan melihat Suho bersama seorang teman-temannya pergi menggunakan mobil masing-masing.

“Ternyata dia sudah lelah menungguku. Hhh… kupikir dia akan tetap menunggu!”

Setelah mengetahui fakta itu Nichan menjadi uring-uringan. Ia kesal terhadap sikap Suho yang mudah menyerah akan cintanya. Dan ia juga marah pada diri sendiri karena telah membohongi perasaannya sendiri. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi.

“Bagaimana ini?”

Minggu–hari ketujuh.

Hari ini Nichan memutuskan untuk pergi ke Namsan Tower, hanya untuk memastikan. Tapi entah mengapa ada keinginan untuk tampil cantik. Ia pun membongkar isi lemarinya. Dan terpilihlah baju yang saat ini sudah ia pakai.

Blus putih dipadu celana panjang hitam. Blazer coklat tua dengan bunga-bunga putih kecil di bagian pinggangnya sebagai sentuhan terakhir. Sepatu boots dengan warna senada blazer ia pakai sebagai alas kakinya. Rambutnya yang panjang ia curly ditambah bandana putih. Sangat manis di musim semi yang indah ini.

Dengan langkah sedikit ragu ia berjalan menuju halte bis. Ternyata bisnya sudah menunggunya. Ia pun memilih tempat duduk di dekat jendela. Tak lama bis berhenti di halte dekat Namsan Tower.

Sesampainya di Namsan Tower, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa? Karena yang datang kesini yang sudah punya pasangan semua!! Sedangkan dirinya? Hanya sendirian. SENDIRIAN. Seperti seorang jomblo yang sedang merenungi nasib sialnya. Ia menyesaaaaaaaaaaaal. Sangat MENYESAL!!!

Nichan pun berbalik arah karena ia tidak mau berlama-lama ada disana. Apalagi ia tidak melihat Suho.tetapi pas ia berbalik badan ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

“Jangan pergi. Gidarigo isseulkkeoyo (Aku menantikanmu),” orang itu berbisik pelan.

Walau pelan dan wajahnya tak terlihat Nichan sudah tahu pasti orang itu siapa.

“Suho-a…”

“Aku mohon jangan pergi lagi…”

“Tapi…”

“Saranghaeyo.”

Nichan terdiam setelah mendengar kalimat itu. Ia menelan ludah sebelum membalas ucapan itu.

“Na..do… saranghaeyo, Oppa!”

Aku kembali tersenyum. Kenangan itu tiba-tiba saja hadir kembali. Dulu aku menyesal dan SEKARANG PUN AKU MENYESAL karena datang kesini SENDIRIAN… LAGI!! Kemana sih laki-laki nyebelin itu? Laki-laki yang membuatku datang kemari SENDIRIAN untuk yang kedua kalinya? Tidak tahukah ia kalau cewek paling benci pergi ke tempat romantis SENDIRIAN? Seperti orang yang tidak laku-laku. Ciih, itu bukan aku banget.

“Chagi, sudah lama menunggu?”

Aisshi, suara orang yang menyebalkan itu. Akhirnya dia datang juga. Dan dengan seenaknya saja dia duduk di sampingku lalu merangkulku. Aku tepis saja tangannya dan berdiri.

“Sudah lamaaaaaaaa sekali,” sahutku asal.

Cowok itu terdiam. Baguslah, acara ngambekku berhasil. Kalau sudah begitu pasti dia akan menuruti apapun permintaanku, hehehe.

Kulihat dari sudut mataku ia berdiri.

“Chagi…”

Rasanya aku ingin melampiaskannya sekarang juga.

“Oppa tahukan kalau akau benci kesini SENDIRIAN LAGI?” teriakku. Biarkan saja orang-orang terganggu dengan sikap kekanak-kanakkanku.

“Ah… mianhae, Chagi.”

Aku membuang muka saat ia menatap mataku.

“Bagaimana kalau kita makan bibimbap, bulgogi dan kimchi? Ah sebagai hiasannya nanti aku belikan bunga lili putih untukmu. Bagaimana Ni-a?”

Sialan, cowok ini selalu tahu apa yang kusukai. Tanpa sadar aku tersenyum dang mengangguk. “Kajja.” Aku menarik tangannya.

Kurasakan ia mencium lembut puncak kepalaku.

***

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s