(Ficlet) Gerimis dan Secangkir Cappucinno


Cover FF Gerimis dan Secangkir Cappuchinno

Author : andinarima

Title : Gerimis dan Secangkir Cappucinno

Main Cast : – Han Yesha

– Lee Donghae

Genre : Sad romance

Rating : Teen

Length : Ficlet kepanjangan (1.423 word)

Credit poster : QuinAegyoMin

Ulzzang : Park Hye Min (Pony)

Disclaimer : Well, aku cuma ingin mengucapkan “Eonniii, kalau kamu ingin memberikanku kritikan super pedas aku siap kok.. FF ini, sumpah aku paling gak bisa ‘ngelihat’ akhir yang menyedihkan. Tapi aku bersyukur, cast namjanya Lee Donghae, karena dia biass aku eonnii *tosh. Eonni komentarmu yang berupa pujian atau kritikan aku akan terima dengan senang hati^^.” Akhir kata, HAPPY READING ELFISHY dan semuanya…

***

Yesha POV :

Aku duduk sendiri di pojok sebuah café dengan aroma kopi yang menguar dari cangkir-cangkir panas. Di meja di depanku sudah terhidang secangkir cappucinno. Jenis coffee kesukaanku. Aku mengangkat cangkir itu lalu menghirup aroma cappucinno itu – yang mampu membuatku rileks – dan meneguk perlahan isi cangkir itu.

Seorang gadis yang duduk sendirian di pojokan sebuah café lalu menatap kosong gerimis di luar sana dari kaca jendela café. Itulah aku. Han Yesha. Entah mengapa aku selalu suka suasana seperti ini. Sangat menenangkan. Apalagi untuk mahasiswi sepertiku, sangat membutuhkan ketenangan seperti ini.

Setelah puas melihat orang-orang yang berlalu-lalang di tengah rintikan hujan, aku mengedarkan mataku ke seluruh sudut café ini. Café ini mungil namun entah mengapa aku langsung betah berlama-lama di sini. Aku amati para waitres yang sibuk melayani para pelanggan. Aku tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain dan memilih sibuk di duniaku saja. Namun mataku langsung fokus ke sosok yang baru saja muncul dari pintu dapur.

Sosok itu langsung mengambil alih semua perhatianku. Sosok itu tak begitu jelas karena aku melihatnya dari arah samping. Walaupun begitu sosok pemuda tinggi itu sangat menarik untuk dipandang. Terbesit keinginan untuk berkenalan dengannya tetapi egoku mengalahkan keinginanku. Aku hanya ingin menjadi pengagum rahasianya. Dan menuliskan semua tentangnya ke dalam sebait puisi.

Terasing dalam kerumunan orang

Terdiam dalam keramaian

Ku acuhkan sekitarku

Hanya aku dengan duniaku

Namun kau telah mengusik diriku

Dan kini kau telah mengalihkan duniaku

Dan hanya terfokus padamu

– pengagum rahasia –

Kemudian aku menutup notesku, memasukkannya ke tas lalu berjalan keluar dari café itu. Sebelumnya aku sempat melirik pemuda itu dan menikmati wajahnya untuk terakhir kalinya di hari ini.

***

“Hhh…” Aku sudah beberapa kali mendesah. Hari ini mata kuliahku sangat padat dan rasanya punggungku sudah sangat pegal. Aku bergegas ke halte bus terdekat dan langsung menaiki bus yang sedang berhenti.

Aku memutuskan untuk turun di halte sekitaran café mungil yang menjual beragam jenis coffee itu. Aku memasuki café itu dan indera penciumanku langsung menangkap bau harum aroma kopi kesukaanku. Aku duduk di pojokan dan seorang pelayan menghampiriku.

“Anda mau pesan apa, Nona?” tanya pelayan wanita itu.

Tanpa melihat menu aku langsung menjawab, “Cappucinno, ya!” seraya tersenyum.

Pelayan itu mengangguk lalu berjalan menuju dapur. Ketika itulah sosok pemuda itu muncul kembali. Mengunci fokusku hanya untuk dia seorang. Tapi aku tak berani terang-terangan menatapnya. Aku hanya sesekali mencuri pandang ke arah dia dan … TING! terpikirlah sebait puisi untuknya

Masih di tempat yang sama

Aku masih menunggumu

Dan tanpa sekalipun mengalihkan pandanganku

Hanya ada kamu

Dan kamu

-pengagum rahasia-

Selesai aku menulis puisi datanglah pelayan memberikan pesanan yang kupinta. Aku tersenyum kecil sebagai tanda terimakasih. Dan setelah pelayan itu hilang dari pandangan, aku kembali memandangi sosok pemuda yang begitu mencuri perhatianku.

Sejak saat pertama kali aku melihat sosoknya, kuputuskan untuk menjadi pelanggan tetap café ini. Selain untuk menikmati secangkir cappucinno, aku juga ingin melihat wajahnya yang tampan itu. Bagiku ia adalah sosok misterius. Tapi aku sangat senang bila ia melayani pelanggan dengan ramah dan tersenyum.

***

Donghae POV

Sudah dua minggu berlalu sejak café tempatku bekerja kedatangan pelanggan baru. Gadis itu, menurutku sangat unik. Ia menyukai gerimis dan cappucinno. Mengapa aku bisa tahu? Karena aku penasaran dengannya makanya aku mengamati gadis itu. Gadis itu setiap kali datang selalu memilih duduk di bangku di pojokan café. Menikmati waktu sendirinya, mungkin..?? Ia selalu mencuri pandang ke arahku dengan tatapan lembutnya. Risih? Sebenarnya, iya. Tapi aku menyukai tatapan lembutnya.

***

Ini sudah bulan kelima, tapi tetap saja ia tak muncul juga. Aku merindukan semua tentang gadis itu. Tatapannya yang lembut. Senyumnya yang manis. Wajahnya yang imut. Semuanya!

Tapi aku sudah tak pernah melihatnya lagi beberapa bulan terakhir ini. Kemana dia? Apa dia sudah ada yang punya? Babo, seharusnya aku mengungkapkannya sejak dulu. Hhh, kalau begini terus aku bisa menyesal seumur hidup.

Gadis manis, kemanakah engkau menghilang? Aku sungguh rindu padamu. Sangat.

***

Yesha POV

Maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu, namun aku juga takut. Aku takut, perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Aku takut kau malah tidak tahu kalau aku ada. Aku takut kamu membenciku jika aku mengungkapkan perasaanku ini padamu.

Tapi kalau aku boleh sedikit saja egois, aku ingin aku menjadi milikmu sepenuhnya. Selamanya! For ever!

Aku selalu berdoa, jika aku memang jodohmu kita akan disatukan bagaimana pun caranya. Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengatakan perasaanku kepadanya karena … aku sudah tak kuat lagi untuk memendamnya. Bantu aku!

***

Malam ini adalah malam tahun baru. Terpikir di benakku sebuah bait puisi sebagai pengantar perasaanku padamu. Sebait puisi di malam tahun baru dan keesokannya akan aku tunjukkan padamu.

Keesokan harinya, aku sudah siap dengan dress biru selutut dan boots putih. Rambutku yang panjang kubiarkan tergerai dengan hiasan bando biru. Kusampirkan tas selempangku di bahu dan aku siap berangkat ke suatu tempat. Tempat yang akan menjadi saksi sejarah percintaanku.

Sepanjang perjalanan, bibirku tak henti-hentinya tersenyum. Hatiku pun begitu senang. Sebelum menyeberang jalan, aku menarik napasku lebih panjang untuk menenangkan hati ini. Dag.. dig.. dug.. langkah demi langkah aku menyeberang jalan. Namun aku baru ingat aku tidak melihat lampu lalu lintas. Dan sebelum aku sempat mendengar teriakan seorang laki-laki, dari arah kananku ada truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. Aku hanya bisa menutup mata dan telingaku….. dan aku serasa terbang di langit.

Saat aku membuka mata, yang kulihat hanya cahaya putih!

***

Donghae POV

Beberapa hari terakhir firasatku sedang buruk. Aku seperti tak punya tenaga lagi setelah gadis itu tak pernah mampir ke tempatku bekerja. Aku yang frustasi, kalau sedang tak ada pelanggan aku selalu duduk ditempat gadis itu biasa duduk. Memesan cappucinno dan melihat keluar jendela. Selalu seperti itu setelah firasatku memburuk.

Lagi, hari ini kebiasaan itu kulakukan. Melihat keluar jendela, tepatnya halte di seberang café ini. Seketika itu juga aku melongo. Gadis itu… gadis itu ada disana! Terbalut dengan dress biru langitnya ia siap menyeberang. Aku bergegas keluar café dan berjalan cepat untuk menyusul dia. Namun detik sebelumnya sahabatku menarik bajuku. Ia menunjuk ke sebelah kiriku. Ada truk disana yang siap menerjang gadis manisku. Aku berteriak namun semua itu… terlambat!

Aku berlari menerobos kerumunan yang mengelilingi seorang gadis. Aku ternganga dan tak sanggup menahan tangisku. Dress birunya kini sudah memerah karena terlalu banyak darah. Sahabatku dengan baiknya menelpon ambulans dan tak lama kemudian membawa gadis ku ke rumah sakit terdekat.

Di ruang tunggu UGD, aku merasa cemas dan tidak sabar menunggu kabar dari siapapun tenaga medis yang berada di dalam ruangan tersebut. Menantinya dengan cemas. Aku melirik tas milik gadis yang ternyata bernama Han Yesha itu. Tanpa sengaja aku melihat sebuah notes kecil berwarna biru. Dengan enggan kubuka perlahan. Dan aku terkejut. Disana banyak sekali puisi yang ditujukan untukku. Yang terbaru tanggal 31 Desember kemarin. Aku membacanya…

Gerimis, yang mengantarkan aku padamu

Cafe yang menyuguhkan minuman favoritku

Dulu hanya ada aku dan duniaku sendiri

Namun di cafe ini, aku menemukan sesosok pria yang sangat membuatku penasaran

Sosok yang berhasil mengalihkan ketidakpedulianku terhadap sekitarku

Sosok yang berhasil mencuri hatiku saat pertama kali bertemu

Apakah kau tahu, sejak pertama jumpa “Aku telah jatuh cinta padamu”

Aku tidak berusaha mengungkapkan perasaanku

Aku memilih diam dan memendamnya dalam hati

Karena aku sudah sering terjatuh karena cinta

Dan aku tak mau terjatuh lagi

Jadi aku putuskan untuk menjadi pengagum rahasiamu

Biarkan hati ini yang tahu bahwa aku mencintaimu

Disini aku selalu menunggu hatimu menyambutku

Apakah kau berpikir aku menyesal?

Tidak. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu dan mencintaimu

Aku tak tahu apakah kita berjodoh?

Hanya Tuhan yang mempunyai kuncinya

Namun aku putuskan untuk datang menemuimu

Mengantarkan perasaanku padamu

Tak peduli nantinya akan terluka atau terbalas

Aku hanya ingin kau tahu

Itu saja

Dari seorang pengagum rahasiamu, bahwa AKU MENCINTAIMU.

Yesha “Pengagum Rahasia”

Aku kembali meneteskan airmataku, lalu segera kuhapus dengan kasar. Hati ini bukannya semakin lega, malah semakin sesak saja.

Sreet..Pintu ruang UGD terbuka, dokter dan perawat yang tadi berada di dalam ruangan tersebut akhirnya keluar. Aku pun menghampiri dokter untuk mengetahui keadaan Yesha.

“Apakah Anda yang mengantar pasien yang berada di dalam ruangan tersebut?” tanya Dokter.

“Iya benar. Apakah saya sudah diperbolehkan menjenguknya?” Kurasakan suaraku bergetar ketika bertanya.

“Silahkan. Namun jangan terlalu lama diajak mengobrol karena pasien baru saja dalam keadaan stabil dan memerlukan istirahat yang cukup setelah berhasil melewati masa kritis.” jelas Dokter. Aku mengangguk dan Dokter pun meninggalkanku.

Aku berjalan perlahan memasuki ruang UGD itu. Melihat gadis itu terbaring lemah di atas ranjang semakin membuatku perih. Aku mendekat dan… aku lihat ia terkejut ketika aku menyapanya.

“Kamu?” kudengar ia bertanya lirih. Aku mengangguk dan duduk di kursi di sebelah ranjang Yesha.

“Yesha-ya, sebaiknya kau tidak terlalu banyak bicara…”

“Sst.. aku.. hanya ingin … mengucapkan… aku mencintaimu.. pangeranku… sampai kapanpun .. itu,” bisiknya lemah. Lalu ia tersenyum, namun senyuman itu lama-lama memudar, nafas melemah, dan mata mulai terpejam. Aku yg msh belum bisa menerima kenyataan, segera memanggil dokter, dan saat aku kembali semua sudah terlambat. Yesha sudah tidak bernyawa lagi. Aku berjalan menghampiri ranjangnya, dan memeluknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya

Yesha-ya, aku juga akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku. Tulisan-tulisanmu akan ku simpan selalu. Love you…

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s