(Oneshot) A Home For My Heart


A Home For My Heart_3456789

Title                      : A Home for My Heart

Author                   : egadorks (Transformasi Park Yoo An)

Rating                   : T, PG-13

Length                   : Oneshot

Genre                    : Romance, Sad, Angst

Main Cast             : Oh Se Hun EXO-K

Seo Joo Hyun SNSD

Sub. Cast               : Oh Hyo Jin (OC), Kim Jong In EXO-K, Im Yoona SNSD

Quote                    : You never make me mad and dissapointed. But, you always make me happy.

Disclaimer            : Ide FF ini muncul saat saya baca ‘RENUNGAN’ di salah satu FP. Semoga suka!

 

Egadorks’s Present

 

Seo Hyun’s PoV

 

Aku menatap pantulan diriku sendiri di depan cermin kamarku. Mengerikan. Aku tampak buruk. Aku tampak hancur dengan rambut kusut, wajah bengkak, mata sembab dan bibir yang kering. Aku tampak seperti mayat hidup saat ini. Kulihat tubuhku, seperti orang yang menderita gizi buruk, kurus kering dan tidak terurus sama sekali.

 

Namaku, Seo Joo Hyun. Aku adalah anak seorang pasangan pengelola perusahaan gula terbesar di Korea. Aku, gadis bodoh yang memiliki keegoisan tinggi yang mengakibatkan diriku sendiri kehilangan semangat hidup yang membuatku lemah seperti saat ini, kehilangan kasih sayang yang selalu menjadi asupan giziku sehari-hari, kehilangan pelukan yang selalu menghangatkan suhu tubuh serta jiwaku, dan kehilangan cinta yang membuatku seolah ingin mati saja. Jujur, aku benci dengan alur kehidupanku.

“Hahhhh….” aku mendesah panjang. Kakiku seakan sudah tidak mampu lagi kusangga untuk berdiri. Tubuhku merosot kebawah. Aku duduk bersimpuh diatas lantai kamarku yang dingin. Entah sejak kapan aku terus membiarkan AC kamarku terus hidup, hingga tubuhku sendiri merasa kedinginan setengah mati. Namun, dingin yang dirasakan tubuhku tidak bisa menandingi hatiku yang dingin yang sedang membutuhkan kehangatan dari seorang lelaki yang dulu pernah meneniku.

 

Flashback

Aku menengadah menatap awan kelabu yang tebal bergelantungan diatas sana. Bulir-bulir air sudah turun dan menari-nari diatas jalan. Aku mendesah panjang.

 

“Kenapa harus hujan seperti ini?” gumamku tak ayal pada diriku sendiri. Jujur, sebenarnya aku sangat menyukai hujan. Setiap hujan aku selalu keluar dan membiarkan tubuhku dikeroyok oleh tetesan-tetesan air hujan. Tapi, tidak kulakukan itu untuk kali ini. Tidak karena kulihat gemuruh halilintar yang membuatku berkali-kali terlonjak kaget sedari tadi.

 

Aku membalikkan badanku dan mendapati bangku kosong dihalte ini. Kulangkahkan kakiku menuju bangku itu. Namun, baru dua langkah

 

TSYARR

 

Suara halilintar mengagetkanku. Aku menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku dan memejamkan mata keras-keras. Aku takut dengan halilintar

 

Tiba-tiba, kurasakan sesuatu yang hangat sedang menekan kedua tanganku yang sibuk menutupi telinga. Aku penasaran dan membuka mata. Mataku membulat sempurna begitu kulihat seorang namja tampan sedang berdiri didepanku sembari menyentuh lebih tepatnya menekan tanganku yang sedang menutupi telingaku ini.

 

“Oppa! Kau mengagetkanku saja!” gerutuku pada namja di hadapanku. Oh Se Hun namjachinguku. Dia melepaskan tangan hangatnya itu. Dan tersenyum manis kearahku.

 

“Kau belum pulang? Apakah sopirmu belum menjemputmu?” tanya Se Hun Oppa.

 

Aku merengut begitu mendengar kata “sopir”. “Mollayo, aku sudah menghubunginya tapi tidak ditanggapi. Huh “ gerutuku kesal.

 

Kulihat Se Hun Oppa terkikik. Dia melepaskan jaket yang digunakannya dan menyampirkannya padaku.

 

“Oppa, kau saja yang pakai jaket ini. Aku tidak membutuhkannya.” Ujarku berdusta padanya. Ehm  jujur aku sendiri sebenarnya merasa kedinginan karena hujan yang cukup deras ini membuat suasana disini juga dingin pula.

 

“Aniyo, aku tidak akan membiarkan yeojachinguku sendiri kedinginan.” Sangkalnya. Dan betul saja, aku memang kedinginan tapi aku tetap tidak tega (?).

 

“Aniyo, aku kan sudah bilang tidak kedinginan Oppa.” Dustaku sekali lagi. Sambil mencoba melepaskan jaket yang telah disampirkan pada tubuhku yang kedinginan ini.

 

“Nona Seo, kau tidak bisa membohongiku seperti itu. Dari kelakuanmu sejak tadi aku tahu kau sedang kedinginan. Aku hanya tidak mau membuatmu jatuh pingsan seperti minggu lalu.” Ujarnya tulus. Ya Tuhan, demi apa tapi namja ini betul-betul manis dan perhatian padaku, jeritku dalam hati.

 

Aku mengangguk-angguk begitu mendengar ujarannya. Ya benar saja minggu lalu aku tidak membawa jaket sebetulnya aku memang tidak pernah membawa jaket dan saat itu hujan deras sama seperti hari ini. Dan itu membuatku jatuh pingsan dan tidak masuk selama dua hari. Huh ringkihnya tubuhku ini.

 

Se Hun Oppa menarik tanganku yang sukses membuatku terbuyar dari pikiran-pikiranku. Kami duduk dikursi ini. Aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya hingga menghilangkan celah (?). Kusandarkan kepalaku pada bahunya.

 

“Oppa, kau tidak kedinginan?” tanyaku.

 

“Tidak.” Jawabnya singkat.

 

“Bohong.” Cibirku.

 

Se Hun Oppa menolehkan kepalanya kearahku dan menatapku dalam. Akupun demikian. “Lihat mataku Seo Hyun. Apa ada kebohongan didalam mataku?” tanyanya.

 

“Kenapa harus mata?” tanyaku heran.

 

“Karena mata tidak bisa membohongi. Dari sorot mata, kita bisa tahu, apakah yang memilikinya sedang jujur, berbohong, tulus, tidak ikhlas, dan hal-hal yang lainnya.” Jelasnya sembari terus menatap mataku dalam. Aku menatap matanya pula. Kurasa  tidak ada kebohongan.

 

“Otte? Apakah aku berbohong?” tanyanya.

 

Aku menggeleng pelan. Kusandarkan lagi kepalaku ke bahunya. Aku benar-benar menikmati saat-sata seperti ini. Aku ingin sekali ini berlanjut lama. Tetapi sesuatu datang hingga membuat kami harus segera mengakhiri momen indah saat ini. Aku mendesah kesal saat sesuatu mobil Mercedes itu semakin mendekat.

 

Aku menarik kepalaku yang tadi sempat bersandar pada bahu kekasihku. Kulepas jaketnya yang menyampir manis dibadanku. Tapi tangan lembut itu lagi-lagi menyentuh tanganku. Kutatap dirinya. Matanya. Matanya seolah mengatakan jangan-dilepas-kumohon.

 

Aku mengangguk mengerti. Sebelum aku melangkah memasuki mobil keluargaku aku memeluk Se Hun Oppa singkat dan mengecup bibirnya singkat pula.

 

Flashback End

 

Aku menyentuh bibirku. Menyentuh bibir yang pernah dikecup, dilumat dan dirasakan namja itu. Sedetik setelah itu, aku terdiam. Sedetik kemudian, aku bangkit dari simpuhanku dan berjalan cepat menuju lemari pakaianku.

 

Benda itu. Sebuah jaket berwarna hitam polos. Kuraih jaket itu dan memeluk serta menciumnya. “Aku merindukanmu…” gumamku sambil terisak.

 

Flashback

 

Hari ini adalah hari kelulusan kami sebagai murid Seoul International High School. Sempat kulihat tadi, Se Hun Oppa maju ke panggung menerima penghargaan sebagai peringkat 1 tingkat umum karena telah mendapat nilai tertinggi diantara seluruh angkatan kelas XII. Aku tersenyum, takjub, kagum kepadanya. Sungguh dia namja yang nyaris sempurna. Tampan, baik, perhatian, suka membantu, penyabar, pintar dan bertalenta.

 

Sedangkan aku, walaupun aku mendapat peringkat 7 tingkat umum, tapi aku tidak maju ke panggung karena hanya diperuntukan bagi peringkat 3 besar saja.

 

Setelah acara serah terima itu selesai, aku menemui kedua orangtuaku yang tengah berbincang dengan keluarga Im.

 

Akupun menghampiri mereka. Dan bisa kutemui Im Yoona, sahabatku memelukku erat.

 

“Selamat Hyunnie, kau mendapat peringkat 7!” Ucapnya memberi semangat.

 

“Ne, gomawo Unnie. Kau juga, selamat telah menjadi peringkat 1 kelas XII B.” Ucapku.

 

Kulihat Yoona Unnie mengerucutkan bibirnya. “Yah biarpun peringkat 1 tingkat kelas XII B, tapi aku hanya mendapat peringkat 9 tingkat umum.” Sungutnya.

 

“Kurasa, putrimu dan putriku cukup dekat ya Tn. Seo.” Kata Tn. Im, ayah Yoona.

 

“Tentu saja Appa, aku dan Seo kan memang sudah menjadi sahabat karib sejak kecil.” Timpal Yoona kepada ayahnya.

 

“Aigoo… ne Appa tahu.” Balas Tn. Im.

 

“Ngomong-ngomong, apakah Yoona sudah punya pacar?” tanya ibuku. Bermaksud menggoda Yoona.

 

Kulihat air muka Yoona berubah memerah. Dan kulihat pula Tn. Im dan Ny. Im menyikut lengan Yoona sambil menaik-turunkan alis mereka.

 

“Tentu saja sudah! Pacarnya adalah Kim Jong In.” Begitu Tn. Im mengatakannya, Yoona merengut kesal dan mencubit tangan ayahnya. “Yah walaupun kuakui Kim Jong In sangat bandel, tapi bisa kulihat perubahan besar saat Yoona dan Jong In jadian.” Canda Tn. Im. Yoona semakin kesal.

 

“Appa!! Aku malu!” gerutu Yoona sembari menutupi wajahnya.

 

“Hahaha lucu sekali! Seohyun juga sudah punya.” Kudengar ibuku berbicara seperti itu, sukses sekali membuat diriku sendiri kaget.

 

“Ne, namanya Oh Se Hun, namja yang tadi maju ke panggung karena memperoleh peringkat 1.” Sambung Appaku. Aishhh apa mereka bermaksud menggodaku? Teriakku dalam hati.

 

“Ya! Omma, Appa! Jangan menggodaku!!!” rengekku kesal kepada kedua orangtuaku.

 

“Wow, itu hebat sekali.” Komentar Tn. Im dan Ny. Im bersamaan.

 

“Ne, dan kamipun juga menyukainya karena anak itu baik sekali. Sopan dan tata kramanya bagus.” Kata ayahku. Jujur, saat aku mendengar ayahku mengucapkan kata-katanya itu, hatiku serasa senang sekali.

 

“Wah chukae Seo Hyun-ah, aku mendapat namjachingu yang baik.” Entah kenapa Tn. Im menyelamatiku seperti itu. Tak apa toh aku juga senang.

 

Aku mengedarkan pandanganku. Dan berhenti di satu titik. Namja itu sedang bersama yeodongsaengnya, Oh Hyo Jin siswi pintar Seoul International High School yang masih kelas X dan ibunya, Ny. Oh. Bisa kulihat juga Kai Oppa Kim Jong In juga sedang menemani Se Hun Oppa disana.

 

Kusikut lengan Yoona Unnie. Yeoja itu menoleh padaku, mengeskpresikan muka seolah mengatakan ada-apa.

 

“Ayo menemui Se Hun Oppa dan Kai Oppa?” ajakku pada Yoona Unnie. Tentu saja dengan nada pelan. Tidak sopan kan jika aku mengatakannya dengan keras-keras dihadapan orangtua kami masing-masing?

 

“Oddiyo?” tanyanya mencari-cari keberadaan mereka.

 

“Disana. Dengan Hyo Jin dan Ny. Oh.” Jawabku sembari menunjuk kearah dimana Se Hun Oppa dan Kai Oppa berada.

 

Yoona tersenyum kemudian menatapku. “Kajja!”

 

Aku mengangguk. Tapi sebelumnya, aku meminta izin dulu kepada orangtuaku dan orangtua Yoona Unnie.

 

“Appa, Omma, Ahjussi, Ahjumma, saya dan Yoona Unnie ingin pamit untuk menemui teman.” Izinku.

 

“Ne, pergilah.” Ujar mereka serempak.

 

Aku dan Yoona Unnie melangkahkan kaki menuju kearah mereka. Kusapa mereka dan membungkuk kepada Ny. Oh.

 

Kulihat Ny. Oh, ibu Se Hun Oppa mengelus bahuku dan tersenyum.

 

“Ciee~ Omma, ayo pergi. Disini ada dua pasangan yang ingin bermesraan.” Ajak Hyo Jin, adik Se Hun Oppa kepada ibunya. Ibunya tersenyum dan meninggalkan kami.

 

Sungguh, wajah kami berempat saat ini sudah memerah mengalahkan kepiting rebus dan apel fuji.

 

Akhirnya, kami berempat berpencar. Yah tentu saja untuk berjalan-jalan dan bermesraan dengan kekasih sendiri-sendiri. Aku dan Se Hun Oppa memutuskan untuk ke Cafeteria sekolah kami. Sedangkan Kai Oppa dan Yoona Unnie kami tidak tahu.

 

“Oppa! Chukae sudah mendapat peringkat 1!” seruku padanya. Kulihat Se Hun Oppa hanya tersenyum senang.

 

“Oppa, setelah ini, kau akan melanjutkan kemana?” tanyaku pada Se Hun Oppa.

 

“Ehm aku sendiri bingung Seo Hyun-ah. Aku mendapat tawaran beasiswa masuk ke Seoul University dan Chung Ang University.” Jawabnya membalas pertanyaanku.

 

“Oooh, begitu. Bagaimana kalau kau ikut denganku saja Oppa? Aku ingin ke Seoul University.” Kataku.

 

Kulihat, namja dihadapanku tampak menimbang-nimbang. “Ehm, geurae. Aku mau.” Jawabannya langsung membuatku kegirangan.

 

“Asa! Gomawo Oppa!”

 

“Ne. Apapun maumu aku akan menurutinya.” Ujarannya betul-betul membuatku senang.

 

Flashback End

 

Kata-kata itu masih teringat jelas dalam benakku. “Apapun maumu aku akan menurutinya.”. Ya, pengakuannya itu pernah membuatku mengatakan padanya bahwa aku ingin sebuah cincin.

 

Flashback

 

Entah kenapa, tapi banyak yang bilang sejak lulus sarjana, aku menjadi sedikit sensitif dan keegoisanku bertambah. Tapi aku tidak merasa seperti itu. Kini, aku sedang duduk bersebelahan dengan Se Hun Oppa di tepi sungai Han.

 

Wajahku terlihat murung. Sedangkan wajah Se Hun Oppa terlihat senang dan ceria. Bisa kulihat Se Hun Oppa tengah memandangi anak-anak kecil disana.

 

“Oppa, ayo pulang!” ajakku dengan sedikit gusar. Jujur, aku sudah mulai gusar dengannya sejak beberapa hari yang lalu.

 

“Waeyo, Seo Hyun-ah, apa kau bosan?” tanyanya lembut. Mata teduhnya menatap mataku yang sedang berusaha menutupi amarah yang sejujurnya kutujukan padanya.

 

“Aniyo “ dustaku. “Kajja!” erangku.

 

Kulihat ekspresi Se Hun Oppa sedikit berubah. Tapi aku tidak peduli. Akhirnya, dia menurutiku dan kami pulang.

 

Sesampainya aku di rumahku. Aku hanya keluar tanpa mengucapkan sepatah kata. Tak ada rutinitas yang biasanya terjadi jika kami berpisah (?). Maksudku, berpelukan dan berkecupan singkat. Tapi, kali itu tidak. Dikarenakan sikapku kepada Se Hun Oppa yang sedang tidak baik ini.

 

Seo Hyun’s PoV END

 

Author’s PoV

 

Se Hun merasakan hatinya mencelos begitu Seo Hyun tidak menjalankan rutinitas mereka sehabis pulang dari kencan. Bahkan, sekedar mengatakan “Selamat tinggal” atau “Annyeong” pun tidak. Se Hun jadi merasa bersalah sendiri kepada Seo Hyun. Namja itu tahu, Seo Hyun sedang marah padanya. Karena kejadian beberapa hari yang lalu ; Seo Hyun menginginkan sebuah cincin pernikahan, tetapi Se Hun tidak belum bisa membelikan barang mahal itu dikarenakan uang Se Hun yang belum cukup. Tapi, sepertinya yeoja yang dicintainya itu menganggapnya lain (?).

 

Sepulangnya dari rumah Se Hun, namja itu berusaha memikirkan bagaimana caranya agar Seo Hyun tidak marah lagi padanya. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.

 

Author’s PoV END

 

Flashback END

 

“Oppa, jika aku tahu akan jadi seperti itu aku tidak akan pernah bersikap egois dan mementingkan diriku sendiri. Mianhae Oppa. Mianhae.” Aku terisak. Sungguh aku menyesali sikapku kepadanya. Yang pada akhirnya, membuat aku benar-benar harus kehilangannya.

 

Flashback

 

Author’s PoV

 

Seo Hyun tersenyum lebar begitu selesai menjawab telepon dari Se Hun. “Aku memiliki sesuatu yang sangat kau inginkan dan akan kuberikan padamu siang ini.” Itulah kalimat Se Hun yang sukses membuatnya senang.

 

“Jadi, cincin?” tanya Seo Hyun pada dirinya sendiri. “Ya, sudah pasti cincin. Se Hun Oppa tahu aku menginginkan sebuah cincin.”

 

01:00 PM KST

 

Seo Hyun duduk berhadapan dengan Se Hun disebuah cafe. Air mukanya yang tadi bahagia kini menjadi suram dan dingin sekali. Sementara itu, tangan Se Hun mendorong sebuah boneka Teddy Bear ukuran jumbo berwarna putih.

 

Seo Hyun tersenyum hambar. Kemudian, menyambar boneka jumbo itu perlahan. “Jadi ini?” tanya Seo Hyun suaranya bergetar. Antara bergetar karena menahan amarah dan menahan kesabarannya yang sudah benar-benar habis.

 

“Ne, kuyakin kau pasti suka dengan itu.” Ujar Se Hun tersenyum. “Apakah dia murung? Ah nanti dia juga bakal mendapat apa yang diinginkannya.” Batin Se Hun.

 

“Kau tidak marah kan?” tanya Se Hun hati-hati.

 

“Ani.” Jawab Seo Hyun singkat. Namun, didalam dirinya sana, ada sesuatu yang sedang meraung-raung marah.

 

“Kalau begitu, makanlah kue ini.” Tawar Se Hun seraya mendorong piring kecil dengan sepotong mangocake.

 

“Ani Oppa. Aku sudah makan dirumah. Dan aku sudah kenyang.” Sahut Seo Hyun singkat. Se Hun menaikkan alisnya. Dalam hati namja itu, sebenarnya sedikit kecewa.

 

Saat Seo Hyun menyadari Se Hun hendak membuka mulutnya, dirinya cepat-cepat memotongnya. “Sudah Oppa, aku masih ada kerjaan di butik. Annyeong!” Seo Hyun bergegas pergi. Namun, tangan besar Se Hun menahannya. Sebelum menoleh kearah Se Hun, Seo Hyun mendesah kasar sambil memutar bola matanya.

 

“Waeyo?” tanya Seo Hyun sedikit kasar namun memasang topeng dengan ekspresi wajah manis.

 

“Bawa boneka ini. Aku sudah menghabiskan uang gajiku untuk membeli semua.” Pinta Se Hun.

 

“Mau kau menghabiskan uang gajimu bahkan menjual mobilmu sekalipun hanya untuk membeli sesuatu yang tidak kuinginkan lebih baik tidak perlu repot-repot.” Teriak Seo Hyun dalam hati.

 

Seo Hyun lagi-lagi memasang topeng manisnya sebagai penutup rautnya yang sebenarnya sudah berapi-api. Dengan tatapan dingin, Seo Hyun meraih boneka Teddy Bear itu dan tersenyum palsu sekali lagi kearah Se Hun kemudian pergi dari tempat itu menuju mobilnya.

 

Sementara itu, Se Hun lagi-lagi merasa bersalah. “Seo, kumohon jangan marah dulu sebelum kau mengetahui semuanya.” Erang Se Hun.

 

Akhirnya, Se Hun memutuskan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Seo Hyun. Namja itu segera menuju parkiran sepeda kayuh kali itu Se Hun tidak menggunakan mobilnya Dikayuhkan sepeda itu sesuai alur yang ditempuh mobil didepannya mobil yang digunakan Seo Hyun.

 

Dalam mobil, Seo Hyun menatap sebal kearah boneka itu. Yeoja itu terus menerus mendesah hebat begitu menatapi boneka pemberian Se Hun. “Aish! Kukira Oppa akan memberikanku cincin yang kuinginkan. Tapi apa? Kenapa boneka ini yang ia berikan???” Seo Hyun frustasi di dalam jok belakang. Tangannya sudah gatal ingin meninju, meremas, dan mengoyak-oyak boneka itu.

 

“Ahjussi, tolong berhenti sebentar.” Seo Hyun meminta sopirnya berhenti di tengah jalan itu.

 

Sementara di belakangnya, Se Hun mengerem sepedanya. Namja itu sama sekali tidak berinisiatif untuk mendahuluinya. Se Hun melongo heran mendapati mobil Seo Hyun berhenti ditengah jalan, padahal lampu lalu lintas masih jauh di depan sana dan sedang menyalakan warna hijau. Dilihatnya salah satu pintu mobil itu terbuka. Se Hun penasaran. Dan, sesuatu yang besar berwarna putih berpita merah yang kelihatan menggemaskan dihempaskan begitu saja dari dalam mobil dan ditinggalkan tergeletak di jalan raya itu.

 

Se Hun merasakan sakit yang sangat amat dalam hatinya. Namja itu berusaha menahan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung dan ingin segera bergulir melewati pipinya. Sejenak ditatapnya mobil Seo Hyun yang menjauh. Akhirnya, Se Hun mengayuhkan sepedanya lagi, dirinya menimbang-nimbang ingin mengambilnya atau tidak. Karena, jalan lumayan ramai karena dilalui truk-truk besar serta mobil pribadi sementara boneka itu tergeletak di tengah jalan.

 

Se Hun menyandarkan sepeda kayuhnya dekat dinding sebuah toko disana. Namja itu hendak mengambil boneka itu. Saat boneka itu sudah berhasil diraihnya, tiba-tiba

 

BRAK

 

Namja itu tertabrak sebuah truk pengangkut air mineral. Tubuhnya terhempas cukup jauh dari posisinya tadi. Darah sudah mengucur dari tubuhnya. Bahkan namja itu tidak bisa merasakan bagian bawah tubuhnya. Dan semuanya gelap.

 

3 Jam Setelah Itu

 

Seo Hyun, Tn. Seo, Ny. Seo, Oh Hyo Jin dan Ny. Oh berkumpul di bangsal salah satu bangsal rumah sakit Seoul Hospital.

 

Tampak Tn. Seo dan Ny. Seo yang duduk di bangku sambil menatap kosong kearah lantai dengan tidak percaya. Sementara Ny. Oh menangis meraung-raung didepan ruangan ICU yang sedang ditempati Se Hun. Tampak disampingnya, Oh Hyo Jin menenangkan ibunya dan merangkulnya.

 

Sementara itu Seo Hyun, yeoja itu tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Yeoja itu kini tengah duduk di ayunan taman rumah sakit sambil memeluk boneka pemberian kekasihnya.

 

“Oppa, maafkan aku…” kalimat itu sedari tadi terucap di bibirnya. Matanya sudah sangat bengkak. Yeoja itu merutuki perbuatannya. Merutuki perbuatannya yang membuang boneka pemberian Se Hun ke tengah jalan yang berujung namja itu tertabrak sebuah truk.

 

“Oppa, mianhae mianhae mianhae… Kumohon Oppa, cepatlah sadar aku ingin meminta maaf padamu.” Suara yeoja itu semakin melemah diiringi isakan. Ditelungkupkannya wajahnya itu dibalik Teddy Bearnya.

 

Hingga seorang wanita cantik, datang mengampirinya. Yeoja itu Im Yoona.

 

“Seo Hyun-ah.” Sapa Yoona dengan suara sedih.

 

“Unnie.” Sapa Seo Hyun balik.

 

Yoona meraih ayunan disamping Seo Hyun dan mendudukinya. Sejenak, bisa didengarnya suara desahan nafas Yoona. “Seo, aku kecewa padamu.” Kata-kata Yoona sukses membuat Seo Hyun terhenyak sekaligus terkejut. “Aku betul-betul tidak menyangka kau sampai egois seperti itu.” Yoona mengalihkan pandangannya kearah Seo Hyun. Menatap sahabat karibnya sejak kecil yang sudah dianggapnya seperti saudara kandungnya sendiri dengan tatapan tajam. Matanya juga sama seperti Seo Hyun, berair. “Dulu kau mengajariku untuk menghargai seseorang. Menghargai sikapnya, tingkahnya, keputusannya, PEMBERIANNYA.” Yoona memberi penakan pada kata terakhirnya. “Tapi apa? Kau yang mengajariku seperti itu ternyata tidak bisa melakukannya.” Ucapan Yoona bagaikan bumbu pedas baginya. “APA YANG ADA DIDALAM DIRIMU? KAU BERUBAH!” nada ucapan Yoona meninggi.

 

Seo Hyun menangis. “Mianhae Unnie.”

 

“KAU TIDAK PERLU MEMINTA MAAF PADAKU. AKU TIDAK MARAH PADAMU. KAU JUGA TIDAK BERBUAT SALAH KEPADAKU. TAPI AKU KECEWA PADAMU. KAU BERBUAT SALAH KEPADA KEKASIHMU SENDIRI. DAN KESALAHAN ITU SANGAT FATAL!”

 

Kalimat-kalimat Yoona benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah. Dalam dirinya sendiri, Seo Hyun juga menyalahkan dirinya sendiri karena keegoisannya.

 

Sementara itu pula, mereka yang sedang menunggu Se Hun, tiba-tiba dikejutkan dengan keluarnya seorang dokter dari ruang operasi. Mereka memasang raut berharap berharap semoga Se Hun baik-baik saja. Namun,

 

“Mianhae. Kami sudah berusaha. Tapi, Tn. Oh Se Hun tidak bisa diselamatkan.” Ucap dokter itu dengan prihatin. Ny. Oh langsung pingsan seketika. Hyo Jin, Tn. dan Ny. Seo kaget. Mereka juga menangis. Tak percaya.

 

“Yeobo, aku akan mengatakan ini kepada Seo.” Ucap Tn. Seo. Ny. Seo mengangguk.

 

Lain cerita, Seo Hyun semakin mengeratkan pelukannya pada teddy bear itu. Hingga sesuatu menarik perhatian mereka berdua.

 

Will you marry me?” sebuah suara lucu muncul dari boneka itu. Dan sedetik kemudian, sebuah kertas jatuh dari kantung boneka itu.

 

Seo Hyun dan Yoona memandangnya heran. Seo Hyun mengambil surat itu.

 

Annyeong Nona Seo! ^^ Hehe ini aku Oh Se Hun, pangeran yang sejak dulu menempati hatimu kekeke…

 

Ehm, bagaimana aku mengatakannya? Begini saja, Seo aku meminta maaf karena beberapa hari yang lalu aku belum bisa membelikan cincinmu. Tapi aku sudah membelikanmu! Hehe, dan cincin itu ada di kantung teddy bear ini.

 

Seo Hyun mengernyit. Dirogohnya kantung kecil pada boneka teddy bearnya dan benar saja. Ada dua cincin lebih tepatnya cincin pernikahan yang kini tengah digenggamnya. Sekali lagi Seo Hyun merutuki dirinya sendiri.

 

Dan sudah tahu bonekanya bilang apa? “Will you marry me.”

Ehm, jadi, lewat boneka itu, secara tidak langsung aku ingin melamarmu Seo. Jadi, maukah kau menjadi pendamping hidupku? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku ingin kita berdua mengurus rumah tangga dan memiliki malaikat-malaikat kecil yang lucu. Jadi, kumohon, maukah kau menjadi istriku? Maukah kau menjadi ibu bagi anak-anakku kelak? Aku tebak pasti ya! Hahaha

 

Maaf Seo aku telah membuatmu marah beberapa hari yang lalu. Maaf pula aku melamarmu dengan cara seperti ini. Jujur, aku merasa aku tidak jantan. Hehe,

 

Sudah dulu ya Seo? Aku bingung mau menulis apa. Maklum saja, aku tidak pandai merangkai kata-kata. Annyeong! ^^ Semoga kau menerima lamaranku.

 

Your Knight

 

 

Oh Se Hun

 

Aku menangis membaca surat itu.

 

“Lihat tidak seharusnya kau membuang boneka itu. Bahkan Se Hun sudah membelikanmu cincin itu. Hanya untukmu.” Kata Yoona. Suaranya sudah sedikit melembut. Kurasakan tangannya memeluk tubuhku.

 

“Unnie, maafkan aku.”

 

“Jangan minta maaf padaku. Kau tidak memiliki salah apa-apa padaku. Minta maaflah pada Se Hun.” Kata Yoona. Yeoja itu tersenyum kearah Seo.

 

Tiba-tiba, Tn. Seo datang menemui putrinya. Seo Hyun heran karena melihat raut wajah ayahnya yang sedih. Seo Hyun menghampiri ayahnya yang berdiri tidak jauhd darinya duduk tadi. “Waeyo, Appa?” tanya Seo Hyun.

 

“Seo, Appa harap kau bisa rela dan tabah.” Ujar Tn. Seo seraya memeluk tubuh anaknya.

 

Sementara itu, Yoona yang berada dibelakangnya mengerti dengan maksud kata Tn. Seo. Yeoja itu menitikkan air matanya. Baginya, apa yang diderita Seo Hyun juga menjadi deritanya juga. Karena yeoja itu sudah seperti keluarganya sendiri.

 

“Maksudmu apa , Appa?” tanya Seo Hyun suaranya bergetar. Dalam hati, yeoja itu berharap semoga apa yang diterkanya tidak benar dan tidak akan pernah terjadi.

 

“Se Hun “ Tn. Seo tidak sanggup melanjutkan katanya. Tidak sanggup karena nantinya putrinya sendiri akan sedih.

 

“Appa, jangan bilang kalau “ ucapan Seo Hyun tergantung begitu saja. Berubah menjadi tangisan meraung-raung. “Andweeee! Andweeeeeee! Se Hun Oppa!!!” Seo Hyun meronta-ronta dalam pelukan ayahnya.

 

Author’s PoV

 

Flashback END

 

Seohyun’s PoV

 

Bahkan saat itu aku belum sempat meminta maaf padanya. Namja itu sudah pergi jauh dari dunia ini. Sudah dua tahun tapi aku tetap belum bisa memaafkan diriku sendiri. Aku terlalu egois. Terlalu bodoh. Andai saja aku bisa memutar waktu dan memperbaikinya. Tapi, aku tahu itu mustahil tidak akan mungkin terjadi.

 

Kalau saja aku tidak membuangnya. Aku pasti tahu surat itu dan cincin itu. Dan aku pasti akan menerima lamarannya. Dan pastinya pula kami sudah hidup berumah tangga dengan bahagia.

 

“Babbo babbo babbo!” aku memukul-mukul badanku sendiri. “Oppa, aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu.” Gumamku masih dengan tangisan.

 

Beberapa menit setelah itu, aku duduk di kursi putih sembari memeluk teddy bear pemberian Se Hun dua tahun lalu sebelum dia pergi meninggalkanku. Aku melongok ke bawah. Bisa kulihat seluruh keluargaku sedang berbincang-bincang di taman. Entah apa hanya perasaanku, tapi aku merasa rumah sedikit berubah. Pantas saja. Aku jarang keluar rumah setelah kematian Se Hun. Yang kulakukan hanya menangis, bergumam, melamun dan tidak mau makan.

 

Kutatapi boneka itu. “Teddy-ah, aku ingin bertemu dengan orang yang membelimu.” Gumamku pada boneka itu.

 

“Seo Hyun ah.” Sayup-sayup kudengar suara seorang namja memanggilku. Kuedarkan pandangan mataku tapi tak kutemukan siapapun.

 

“Seo Hyun ah.” Suara itu terdengar lagi tapi kali ini lebih jelas.

 

“Seo Hyun ah.” Tunggu dulu, aku serasa mengenal suara itu.

 

“Oppa “ suaraku tercekat saat mata sembab nan merahku melihat seorang namja berdiri dibelakangku. Tampak tampan dengan tubuhnya yang bersinar dan pakaian serba putih.

 

“S Sehun Oppa “ suaraku lagi-lagi tercekat. Air mata sudah menyeruak ingin keluar dari mata bengkakku ini.

 

“Ne ini aku Seo Hyun “ suara lembutnya menggetarkan hatiku untuk segera memeluknya.

 

“Oppa!” cepat-cepat aku memeluk namja itu. Namun yang kurasakan hanyalah dingin.

 

“Seo-ah, aku melihatmu tampak kacau dari atas sana. Itu membuatku sakit.” Katanya. Sementara aku mengabaikan kata-katanya dan terus menangis dalam pelukannya.

 

“Kau yang membuatku menangis Oppa.”

 

“Mianhae.” Suaranya melemah.

 

“Aniyo! Aku yang seharusnya minta maaf Oppa. Mianhae, karena akulah penyebab kau meninggal.” Ujarku meminta maaf. Akhirnya, setelah dua tahun aku bisa mengatakan maaf kepadanya, walau dengan cara seperti ini (?).

 

Se Hun memandang wajahku. Menatapinya. “Seo Joo Hyun, kau bukanlah penyebabku meninggal.”

 

“Tapi Oppa, kalau saja aku tidak membuang teddy itu “ ucapanku terpotong begitu kurasakan telunjuk Se Hun Oppa menekan bibirku. Walaupun yang kurasakan adalah dingin. Wajahnya semakin mendekat kemudian mengecup lembut dahiku lama.

 

“Oppa, kau tidak marah padaku waktu itu?” tanyaku begitu ia telah melepaskan kecupannya.

 

“Aku tidak pernah marah padamu Seo-ah.”

 

“Wae?” tanyaku.

 

“Sebanyak dan sebesar apapun kesalahan yang pernah kau perbuat padaku, aku tidak akan pernah marah. Karena aku mencintaimu.”

 

Mataku memanas. Ingin menyeruak keluar air-air ini.

 

“Tapi “ lagi-lagi jarinya menekan bibirku mengisyaratkanku untuk diam.

 

“Sttt sudahlah, itu bukan kesalahanmu. Aku yang salah. Aku tidak terus terang kepadamu saat aku sudah membelikanmu cincin. Tau tidak? Aku meminta direktur untuk menambah gajiku, diganti dengan gajiku untuk bulan selanjutnya. Hanya untuk membelikanmu cincin dan kejutan yang ternyata malah berakhir menjadi tangisan. Jika saja aku tidak menyerah tidak menyerah untuk melawan maut, kita pasti sudah bahagia. Jadi, kau tidak bersalah. Aku yang salah. Aku tidak berterus terang, aku yang lemah yang menyerah menghadapi maut.” Kata-katanya membuatku tersentuh. Aku menangis.

 

“Aku tidak tahan melihat Oppa menyalahkan dirimu sendiri. Jelas-jelas aku yang salah.”

 

“Aku lebih tidak tahan melihatmu selalu menangis dari atas sana Seo. Apa yang membuatmu seperti ini? Kumohon, jangan menangisiku, relakan aku, aku ingin kau kembali seperti dulu.” Ucapannya membuatku ingin menangis lagi.

 

“Ketahuilah Seo, biarpun aku pergi, aku selalu ada didekatmu. Aku selalu ada di hatimu. Aku selalu mengawasimu. Jadi kumohon, berubahlah seperti dulu. Jujur aku sangat resah di surga jika kau seperti itu. Jebal.” Kata-kata Se Hun Oppa membuatku menunduk dan merenung lebih dalam.

 

“Baiklah Oppa.” Kataku, aku tersenyum begitu juga Se Hun Oppa.

 

“Baiklah. Kalau begitu berjanjilah padaku. Yaksok?” Ujarnya, nadanya setengah bergetar. Menahan tangis mungkin.

 

“Yaksok.” Aku berjanji. Aku telah berjanji. Mulai sekarang aku akan berubah. “Tapi Oppa, kumohon temani aku.” Pintaku.

 

“Apapun yang kau minta akan kuturuti. Tapi, aku tidak bisa berlama-lama. Gwenchana?”

 

Aku mengangguk mantap. Kembali lagi aku memeluknya.

 

11:58 PM KST

 

“Waktuku menemanimu akan habis sebentar lagi Seo” ucap Se Hun Oppa. Mengingatkan.

 

Aku tersentak. Namun, setelah itu kusandarkan lagi kepalaku pada dada bidangnya.

 

“Oppa, setelah ini kau akan pergi?” tanyaku. Sebetulnya maksudku adalah aku tidak ingin dia pergi.

 

“Aku tidak akan pergi. Aku akan mengawasimu. Aku akan selalu berada didalam hatimu.” Jawabnya tenang.

 

“Oppa, biarkan aku dalam posisi seperti ini. Aku aku ingin tidur dalam posisi seperti ini, walaupun mungkin sebentar lagi kau hilang tapi jebal.” Pintaku. Nada suaraku sedikit bergetar.

 

“Baiklah.” Katanya menuruti.

 

Ding ding ding ding ding ding ding ding ding ding ding ding

 

Jam bandul dirumahku berdentang sebanyak dua belas kali. Aku mendongakkan kepala. “Oppa…” suaraku terisak. Aku menyadari sebentar lagi, dia akan pergi.

 

“Seo, waktuku sudah habis “

 

“Sebentar saja.” Rengekku air mataku sudah keluar.

 

Se Hun Oppa menghapus air mata itu dan menatapku lembut. “Aku ingat sewaktu dulu aku bertemu denganmu, yeoja manis. Waktu itu aku langsung jatuh cinta padamu. Kai mengenalkanku padamu, karena kau adalah sahabat Yoona, kekasihnya. Dan kita semakin dekat lalu kita menjalin asmara. Kau tahu, sejak saat itu aku yakin sekali kau memang tercipta untukku. Aku selalu ingin melindungimu dan menjagamu. Seperti kau seorang princess dan aku seorang knight yang akan selalu menjaga sang princess.”

 

“Aku suka dengan itu.” Komentarku. Kemudian dia tersenyum.

 

“Seo Joo Hyun, aku meminta satu hal untukmu sebelum aku benar-benar pergi.” Ucap Se Hun Oppa, suaranya semakin bergetar diiringi dengan isakan-isakan. Tapi tak kulihat air matanya.

 

“Apa itu Oppa?” tanyaku.

 

“Kumohon katakan padaku kau mencintaiku.” Pintanya.

 

Aku tersenyum lembut dan mengatakan kata-kata yang dimintanya “Oh Se Hun, aku mencintaimu. Nan jeongmal SARANGHAEYO.” Sengaja kuberikan penekanan pada kata terakhir. Tepat saat aku menyelesaikan kata-kataku, namja itu mencium bibirku pelan. Sementara itu, aku merasakan dingin yang menyentuh tubuhku. Tapi, aku tidak peduli.

 

Setelah cukup lama berciuman. Se Hun Oppa kembali memelukku. Isakannya sekarang lebih terdengar daripada tadi. Dan kurasakan sesuatu yang bahkan lebih dingin yang sedang menyentuh tubuhku jatuh mengenai ubun-ubunku. Menangiskah dia?

 

Kutengadahkan kepalaku. Dan ya. Dia menangis.

 

“Seo-ah, tidurlah. Aku tidak akan kemana-mana. Ingat aku selalu mengawasimu. Dan tepati janjimu untuk berubah. Arraseo?” tanya Se Hun Oppa kepadaku. Menatapku dengan senyuman serta matanya yang sudah banyak mengeluarkan air mata.

 

Aku mengangguk. Perlahan aku memeluknya lagi. Akupun terlelap.

 

Keesokan harinya…

 

Aku bangun dan tak mendapati Se Hun Oppa berada di sampingku. Aku mengerucutkan bibirku, namun sedetik kemudian aku tersenyum. “Aku sudah berjanji dan akan menepatinya.”

 

Ya, aku tidak boleh terus bersedih seperti ini. Aku harus memikirkan keluargaku yang terus-menerus khawatir dan sedih dengan perubahanku. Dan akupun juga harus mengerti bahwa Se Hun Oppa tidak akan tenang di atas sana. Kupikir, menangisi orang yang telah tiada tidak akan ada gunanya. Tetap saja orang itu akan pergi.

 

Aku beringsut dari ranjangku. Kubuka kenop pintu dan mulai keluar dari kamar. Saat sampai di beranda, aku tersenyum melihat suasana rumahku. Para pelayan tampak sibuk di bawah sana. Sementara kedua orangtuaku sedang sarapan di bawah. Aku memutuskan untuk turun ke bawah dan menyapa mereka.

 

“Selamat pagi semuanya! Seo Joo Hyun telah kembali!” seruku. Semua penghuni yang ada disiti terkecuali aku tentunya terdiam. Menatapku dengan tatapan bahagia, takjub, heran, terharu dan lain-lainnya yang bercampur aduk menjadi satu.

 

Kulihat kedua orangtuaku beranjak dari kursi meja makan mereka, dan menghampiriku. Aku memeluk mereka dan menangis. “Maafkan aku Omma, Appa, aku membuat kalian khawatir.”

 

Bisa kulihat seluruh pelayan memandang haru kearah kami. Ada pula beberapa pelayan yang menangis ikut tersentuh dengan momen ini.

 

Seohyun’s PoV END

 

Sehun’s PoV

 

Aku senang melihat pemandangan ini. Aku senang melihatnya beserta keluarganya dan orang-orang yang ada disana bahagia. Rasanya aku sudah mulai tenang semenjak ‘kunjunganku’ tadi malam. Rasanya aku juga sangat senang bisa berkomunikasi dengannya lagi, dengan yeoja yang sangat kucintai, disamping Ommaku dan Hyo Jin. Walaupun kesempatan itu hanya datang sekali saja. Tapi, aku sangat bersyukur.

 

“Seo Hyun-ah, terimakasih sudah menepati janji kita. Aku berjanji akan selalu mengawasimu dan menjagamu. Aku mencintaimu.” Gumamku.

 

Semoga dia benar-benar menepatinya.

 

Sehun’s PoV END

 

THE END

2 thoughts on “(Oneshot) A Home For My Heart

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s