The Crazy Engagement Part 2B/End


The Crazy Engagement – Chapter 2B/END

Oh Sehun | Seo Joohyun | Choi Sulli | Lee Donghae | TAO

Oh Family | Seo Family | Jessica Jung

PG-15 | Twoshoot

Han Hyema Storyline & cr-pic to MissFishyJazz

Preview Chapter 2A

“Sejak gadis itu selalu mengajakku ke kedai coklat.” Donghae sengaja memancing Tao untuk membicarakan seorang gadis yang sejak tiga belas tahun lalu ia sukai.

“Oh, terima kasih sudah menjaganya dan semoga bisa untuk selamanya.” Ucap Tao kemudian. Donghae bingung dengan perubahan raut muka Tao yang biasanya sangat antusias jika membahas gadis itu.

“Apa maksudmu? Jangan berkata seakan kau ingin meninggalkannya.” Ucap Donghae kemudian.

“Hyung, aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. Namun tanpaknya aku tidak akan bersamanya. Ini terasa sulit untuk aku jalani. Tapi ternyata aku benar-benar tidak bisa bersamanya.”

“Jangan berbicara berputar-putar. Aku tidak mengerti maksudmu.” Protes Donghae.

“Aku di jodohkan.” Donghae terdiam.

“Kenapa kalian begitu sama?” Runtuk Donghae.

“Apa maksudmu hyung?”

“Seohyun juga di jodohkan.”

*

“Di tengah musim panas bulan agustus dan aku berdiri seperti anak hilang, apa itu membuatmu puas Tuan Oh muda?” Seohyun berkacak-pinggang di depan Sehun yang kali ini tertawa sinis.

“Itu salahmu, kau terlambat setengah jam lebih 24 menit. Kenapa aku tak sekalian menggenapkannya menjadi satu jam saja.” Ucap Sehun sambil berlalu pergi menuju pintu masuk. Sedangkan Seohyun hanya terdiam marah.

“Apa kau senang berjemur matahari?” Tanya Sehun yang sudah berada di dalam rumah. Tangannya memegang kenop pintu agar tetap terbuka.

“Ya!! Sehun!” Teriak Seohyun sambil menghambur masuk ke dalam rumah.

*

“Tolong berikan kepadanya.” Seohyun menerima undangan itu dan betapa terkejutnya bahwa itu undangan pernikahan Sulli.

“Kau akan menikah?” Sulli mengangguk.

“Aku sama sepertimu yang di jodohkan. Jadi beginilah akhirnya aku putus dengan Sehun dan menikah tiga hari lagi.” Terang Sulli. Seohyun hanya terdiam. Ia berangan-angan, ‘Apakah aku akan berakhir sama?’

“Tolong berikan kepadanya.” Pinta Sulli kemudian. Seohyun pun mengangguk. Dari balik hatinya, Seohyun benar-benar merasa iba pada Sulli dan Sehun yang tidak dapat bersatu karena di jodohkan dengan pihak lain. Dan lucunya karena ia juga terlibat dalam hal itu.

Ini benar-benar selesai. Fiuh, makasih buat yang nunggu dan baca sekaligus peluk dan cium buat yang comment. hehe Ditunggu commentnya dan ada satu FF baru yang bakal keluar buat gantiin ini, ah gak sabar buat publish hehe.

HAPPY READING ALL

Hari ini sebuah altar di bangun di sebuah gedung mewah pencakar langit kota Seoul. Sebuah acara pernikahan antara Sulli dan Edison Huang tersiap rapi dengan indahnya.

Di sebuah ruangan Edison Huang yang lebih di kenal dengan nama chinanya –Tao- berdiri sambil mencoba menelepon seseorang. Namun tidak ada jawaban sama sekali.

‘Aku sekarang akan menikah Seo. Dan aku belum membicarakan masalah ini padamu. Kau belum tahu. Dan aku takut kau akan terluka.’

Berulang kali Tao mencoba tapi semuanya sia-sia.

‘Aku benar-benar takut kau terluka. Maafkan aku jika aku terlalu menyedihkan. Sungguh aku mencintaimu lebih dari apapun. Maafkan aku.’

Donghae yang datang ke ruangan itu segera merebut telepon yang di genggam Tao dan memasukkannya ke dalam jas miliknya.

“Acara akan di mulai. Naiklah.” Donghae tersenyum kepada adiknya tulus.

“Baiklah.” Dengan langkah berat Tao berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.

“Oh ya tolong jaga Seohyun.” Ucap Tao sebelum benar-benar menghilang.

“Pasti.”

*

Seohyun dan sekeluarga sampai di tempat pernikahan Sulli. Mereka berada di sana karena ia dan sekeluarga di undang keluarga Choi dalam pernikahan anaknya yang tak lain adalah Sulli.

Seohyun mengenakan sebuah gaun biru muda yang cantik dan anggun. Ia begitu menawan. Ia terus tersenyum Tanpa tahu sang mempelai pria yang akan dinikahkan dengan Sulli adalah pacarnya sendiri.

Sebuah suara berkumandang dari seorang pastur yang mengatakan acara pernikahan akan segera di mulai. Semua hadirin terdiam dan duduk di tempat masing-masing sambil memandang di mana sang pastur berbicara.

Tak lama kemudian sang mempelai pria naik ke atas altar. Semua orang tersenyum senang melihatnya. Namun tak begitu dengan Seohyun yang tiba-tiba saja diam tak bergeming.

‘Apa yang kau lakukan di sini? Jangan katakan kau adalah Edison Huang?’

Seohyun terus memandang Edison Huang –Tao- dengan hati yang merasa sakit perlahan-lahan. Seohyun terus berusaha menahan tangisnya saat Sulli dengan gaun pengantinnya yang cantik datang dari pintu gerbang utama bersama pendampingnya yang tak lain adalah Tuan Choi.

‘Kenapa kita begitu sama Sulli-ah? Kita sama-sama di jodohkan dan sekarang dengan pasangan orang lain. Aku dengan pasanganmu –Sehun- dan kau dengan pasanganku –Tao-. Apa ini hanya sebuah kebetulan?’

Seohyun terus menahan tangisnya saat keduanya mengucapkan janji pernikahan di depan matanya. Bening-bening air mata itu terus memaksa untuk keluar.

                ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Hatiku benar-benar sakit.’

Seohyun tak dapat lagi menahan dorongan untuk menangis. Kini perlahan sebuah sungai kecil mengalir dipipinya saat janji itu sudah selesai di ucapkan dan keduanya berciuman di depan mata Seohyun.

                ‘Kenapa kau tak memberitahuku?’

Seohyun terus menatap keduanya hingga perlahan  ia terisak. Kedua mempelai membalikkan tubuhnya dan Sulli bersiap melemparkan bunga. Bunga itu pun dilempar dan semua orang bersiap merebutkannya. Namun bunga itu terjatuh di depan Seohyun yang sekarang sedang terdiam menangis. Perlahan Seohyun menyadari semua mata tertuju padanya dan segera mengusap air matanya dan mengambil bunga itu. Seisi ruangan bersorak member selamat sedangkan Seohyun hanya tersenym kecut dan terus berusaha menahan tangisnya.

Sulli dan Tao membalikkan  tubuhnya hendak melihat siapa yang menangkap bunga itu. Dan betapa terkejutnya mereka saat bunga itu tepat berada di tangan Seohyun yang sekarang untuk kedua kalinya tak bisa menahan tangisnya saat melihat Tao bersama Sulli yang sedang menatapnya. Sulli yang senang Seohyun datang dan Tao yang terdiam miris melihat Seohyun berada di tempatnya menikah.

‘Seohyun-ah? Kenapa kau di sini? Maafkan aku membuatmu terluka dengan cara seperti ini.’ Sesal Tao dalam, Ia melihat Seohyun menangis sebelum Sehun datang dan memeluknya. Semua hadirin pesta berteriak gembira mengira Seohyun dan Sehun begitu bahagia mendapatkan bunga itu. Nyatanya tidak. Mereka salah sangka.

“Dia begitu senang dan menangis. Jadi izinkan kami keluar dari ruangan ini.” Ucap Sehun yang sekarang terus memeluk Seohyun keluar dari ruangan itu Tanpa mempedulikan Sulli dan Tao yang melihat mereka dengan tatapan antara sedih, kecewa, dan bahagia.

‘Terima kasih sudah menerima kenyataan ini Sehun-ah. Jaga baik-baik Seohyun-eonni.’ Ucap Sulli dalam hati.

‘Terima kasih sudah melindunginya di sini. Tapi tetap saja aku tak akan membiarkanmu memilikinya. Siapapun  dan itu bukan dirimu.’ Ucap Tao dalam hati. Dan pesta pernikahan berlangsung kemudian.

Di tengah pesta Tuan dan Nyonya Seo berbincang bahwa rencana keduanya berhasil. Entah rencana apa itu. Namun bisa di pastikan rencana itu berhubungan dalam usaha keduanya menjodohkan Seohyun dan Sehun.

“Aku senang melihat keduanya seperti tadi. Apa ini saatnya membuat rencana pernikahan?” Tanya Nyonya Seo pada suaminya.

“Tunggu suasana keduanya  mereda dulu. Kita tahu keduanya sedang merasakan sakit. Tunggu mereka bisa menerima satu sama lain lebih dari INI.” Ucap Tuan Seo dengan penekanan pada kata INI. Entah apa maksudnya.

*

Seohyun masih sesenggukan di bangku taman dekat acara pernikahan itu berlangsung.

‘Jadi inilah akhir kisah kita berdua. Ah, salah bukan berdua namun berempat.’

Seohyun masih berusaha menghentikan senggukan itu saat Sehun datang.

“Minumlah! Kau akan merasa lebih baik.” Sehun membawakan minuman coklat panas kesukaan Seohyun. Dan Seohyun hanya mengucapkan terima kasih sambil meminum coklat itu dengan terus berusaha menghentikan senggukannya.

“Jika kau ingin menangis. Aku tak apa.”

“Tidak. Aku tidak ingin menangis. Namun air mata ini tetap saja memaksa keluar.”

“Itu berarti kau ingin menangis. Mungkin lebih tepatnya hatimu ingin menangis. Jangan menahannya. Kau akan merasa lebih sakit dari yang sekarang kau rasakan.” Sehun memandang Seohyun dengan perasaan iba yang sama seperti Seohyun rasakan pada Sehun dahulu. Namun bedanya Sehun ternyata tak pernah membenci Seohyun. Dari dulu hingga detik ini. Sehun sedang berusaha membenci Seohyun namun tak pernah bisa.

‘Jangan sepertiku yang merasakan sakit lebih dari yang aku seharusnya rasakan. Aku tak menangis. Namun kau harus menangis. Itu membuatmu menjadi lebih baik.’ Ucap Sehun dalam hati. Ia tahu karena ia merasakannya pada Sulli.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Ucap Seohyun sesaat setelah menghabiskan coklatnya dan sudah berhenti sesenggukan.

“Entahlah. Kita sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu. Toh orang tua kita belum memaksa untuk menikahkan kita.”

“Dan bila itu terjadi?”  Seohyun menatap Sehun Intens. Ia mencari jawaban.

Sehun menggeleng lemah. “Entahlah.”

“Rencana itu?” Tanya Seohyun.

“Aku belum menemukan gadis yang bisa membantu kita. Aku tak tahu apa itu bisa dipakai atau tidak.”

“Tapi itu bisa menghancurkan nama baikmu. Apa kau tak apa?” Tanya Seohyun cemas.

“Aku laki-laki. Aku tak apa-apa. Namun jika itu kamu. Itu adalah sebuah bencana besar Seohyun-ah. Dan aku tidak akan tega melakukannya.” Ucap Sehun sambil memandang Seohyun tulus. Sama seperti pandangannya ketika Seohyun untuk pertama kalinya setelah kejadian tiga belas tahun yang lalu datang ke rumah Sehun.

“Kau benar-benar tak berubah.” Sehun hanya bisa tersenyum walau tersimpan getir di sana.

Tanpa keduanya sadari Donghae melihat dan mendengar semua itu dari jauh.

‘Sebuah rencana ya? Apa keduanya ingin perjodohan itu batal? Ah sudah ku duga. Mungkin aku bisa mencarikan gadis yang dia –Sehun- maksud. Namun terlebih dahulu aku harus tahu apa rencana itu. Dan memulai rencana seperti tiga belas tahun yang lalu.’ (Ada yang bisa menebak apa maksudnya?)

Donghae pun pergi dari tempat itu meninggalkan Sehun dan Seohyun yang masih terduduk di sana dan memandang langit yang begitu meriah dihiasi bintang yang berkelap-kelip.

*

Seminggu kemudian keluarga Oh mengajak keluarga Seo untuk makan malam bersama. Keduanya bertemu di sebuah restoran elite yang menyediakan makanan dengan harga fantastis dan tak rasional. Selepas makan malam kedua keluarga berbincang-bincang.

“Kami mempunyai sebuah rencana. Apa kalian tahu apa yang kami maksud?” Tanya Tuan Oh. Seohyun dan Sehun saling bertatapan.

‘Apakah ini segera di mulai?’ Seohyun memandang wajah Nyonya Oh yang kelihatan berseri. Seohyun takut melihat wajah itu berubah menjadi menyedihkan seperti di rumah sakit. Ia bimbang. (Beda lo ya dengan GALAU!)

“Pernikahan?” Tebak Sehun dan hal itu membuat kedua orangtua saling tersenyum.

“Kau bisa menebaknya. Ah, apa pendapat kalian?” Nyonya Seo bertanya penuh antusias sedangkan Sehun menghela nafas. Ia keberatan itu sudah pasti. Namun ia tahu Seohyun lebih keberatan darinya. Karena Seohyun  membencinya.

Seohyun terdiam. Rasa iba itu muncul kembali saat untuk kedua kali Seohyun memandang wajah Nyonya Oh. ‘Apa yang harus aku lakukan?’

“Entahlah.” Jawab keduanya berbarengan. Kedua orangtua pun tertawa.

“Bukankah ini suatu pertanda?” Tanya Nyonya Oh pada Nyonya Seo.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Mereka sudah siap.” Balas Nyonya Seo dan hal itu membuat Sehun dan Seohyun saling berpandangan.

“Tunggu apa maksudnya?” Tanya keduanya berbarengan.

“Pernikahan. Apa lagi?”

*

Makan malam pun berakhir. Seperti biasa kedua orangtua menyuruh Sehun mengantar Seohyun pulang. Sekarang keduanya berada di dalam mobil menyusuri jalanan kota Seoul. Dan keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sehun yang sedang memikirkan permintaan kedua orangtuanya. Dan ia memikirkan ibunda tercintanya yang mungkin akan terbaring di rumah sakit lagi jika ia menolaknya. Hal yang sama juga di pikirkan Seohyun namun Seohyun khawatir jika Sehun melakukan rencana itu.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya Sehun sambil mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang.

“Maksudmu?” Tanya Seohyun. ‘Perasaan apa?’

                “Perasaan setelah seminggu yang lalu. Apa lebih baik?” Seohyun mengangguk.

“Yah, lebih baik.”

Sehun tersenyum, “Syukurlah.”

Suasana pun kembali sepi sampai tiba di depan rumah Seohyun. Keduanya keluar dari mobil dan saling berpandangan kikuk.

“Masuklah.” Seohyun pun melangkah memasuki gerbang rumahnya meninggalkan Sehun yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

“Ah tunggu!” Teriak Sehun menghentikan langkah Seohyun. Seohyunpun membalikkan badan.

“Ada apa?”

“Aku akan mencari gadis itu dan melakukan seperti rencana itu.” Ucap Sehun dengan suara bimbang. Seohyun terdiam sebentar. ‘Apa kau mau melakukannya? Mengorbankan dirimu sendiri?’

Seohyun berjalan kembali menuju Sehun.

“Bodoh. Tak ada yang menyuruhmu begitu.”

“Semua ini bearawal dariku. Aku tau kau tak menginginkannya. Aku bisa melakukan itu.”

Seohyun memandang Sehun tak percaya. Ia memang tak menginginkannya. Tapi bagaimana dengan Nyonya Oh jika rencana itu di lakukan?

“Tak perlu. Kau tak perlu melakukannya. Aku bisa menerima. Jangan lakukan hal bodoh seperti itu. Ingat bagaimana tanggapan ibumu. Dia benar-benar menginginkan  semua ini.” Ucap Seohyun dengan hati bergetir. Rasa ibanya mengalahkan  semua ego dan bahkan rasa benci pada Sehun.

“Kau membenciku. Aku tahu itu.”

“Aku bisa berusaha untuk tidak membencimu.” Sehun benar-benar tersentuh dengan pernyataan Seohyun. ‘Terima kasih karena kau tak pernah berubah. Tak pernah berubah hati baikmu itu. Terima kasih.’

Sehun menatap penuh rasa terima kasih pada Seohyun dan Seohyun pun membalas yang sama. Di bawah sebuah bulan purnama yang bersinar terang. Keduanya berjanji untuk tidak saling membenci lagi. Ini demi Nyonya Oh –ibunda Sehun- dan demi kebaikan bersama.

*

Mereka memutuskan untuk menerima pernikahan itu dan kedua keluarga senang bukan kepalang.

‘Ini tak akan menjadi sia-sia.’ Nyonya Oh memeluk Seohyun. “Terima kasih anakku.” Ucap beliau sambil menangis bahagia. Dan Seohyun hanya bisa tersenyum kecil.

“Sama-sama ibu.” Nyonya Oh melepas pelukannya dan memandang wajah Seohyun dengan berbinar-binar.

“Ucapkan sekali lagi.” Pinta Nyonya Oh pada Seohyun. Seohyun pun mengulanginya.

“Kalian dengar? Kalian dengar?” Teriak Nyonya Oh. Semuanya mengangguk. “Dia memanggilku ibu. Oh anakku.” Nyonya Oh pun kembali memeluk Seohyun dan kali ini lebih erat.

Sehun yang melihat ini pun tersenyum bahagia.

                ‘Nampaknya kau benar-benar berusaha. Dan nampaknya aku juga tidak perlu berusaha membencimu lagi. Terima kasih.’

Tanggal dan waktu pernikahan sudah di tentukan. Kedua keluarga benar-benar merasa bahagia. Terlebih bagi Nyonya Oh. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sebuah bel rumah memaksa kedua keluarga menghentikan kegembiraannya sejenak.

Sehun pun menuju pintu masuk dan menekan bel pembuka pintu saat tidak melihat siapapun di layar monitor. Dan di saat pintu terbuka. Seorang gadis berambut pirang muncul.

“Maaf kau mencari siapa?” Tanya Sehun. Namun gadis itu tak menjawab dan tidak menggubris pertanyaan Sehun.

“Aku Jessica Jung dan aku di sini untuk membantumu.” Sehun menyerngit tanda ia tak mengerti maksud gadis itu.

“Membantu apa?” Sehun semakan merasa aneh saat gadis itu tak menjawab pertanyaannya dan malah menyeringai.

Semua itu bertambah aneh saat gadis itu merubah mukanya dan mulai menangis terisak di depan Sehun. Gadis itu juga memeluk Sehun dan hal itu membuat Sehun memegang pundak gadis itu dan memaksa gadis itu untuk tidak memeluknya.

“Hei, lepaskan aku Jessica! Lepaskan!” Tanpa Sehun sadar. Ia terlalu keras mendorong Jessica sehingga Jessica terjatuh dan terus menangis menjadi-jadi.

“Kau tega chagi-ya.” Ucap Jessica. Dan hal itu membuat Sehun semakan kesal.

“Kau??!” Tunjuk Sehun pada Jessica. Namun belum sempat Sehun mengatakan sesuatu tiba-tiba saja sebuah suar menghentikannya.a

“Jangan kasar terhadap wanita!” Teriak Seohyun pada Sehun. Sehun pun semakan tak mengerti dengan kondisi yang terjadi.

Tiba-tiba saja Jessica memeluk kaki Seohyun dan terus menangis di sana. Seohyun pun kaget dengan apa yang di lakukan Jessica.

“Tolong jangan menikah dengan ayah bayiku. Jangan lakukan itu.” Seohyun dan Sehun saling berpandangan. Keduanya sama-sama kaget dengan permintaan gadis itu.

“Kau sedang hamil?” Jessica mengangguk. “Dan ayah bayi itu adalah Sehun?” Jessica mengangguk lagi dan hal itu membuat Seohyun Tanpa sadar menangis.

                ‘Kau berjanji tidak akan melakukan rencana itu dan mengapa sekarang kau melakukannya?’

Sehun pun yang merasa tak bersalah pun terus berusaha meyakankan Seohyun agar tidak percaya.

“Aku tidak pernah melakukan itu. Kau harus tahu kalau aku bukan orang seperti itu. Aku bukan .. ” Belum sempat Sehun meneruskan kata-kata itu, sebuah tanparan keras di hadiahkan sang ibu kepada anaknya.

“Kau benar-benar biadap!” Nyonya Oh pun pingsan di tempat dan keadaan semakan memburuk sekarang. Di tambah Seohyun yang kini semakan keras menangis berlari pergi ke dalam rumah dan mengambil tasnya dan pergi menggunakan taksi.

Sehun pun ingin menggotong ibunya ke dalam rumah. Namun Tuan Oh langsung menepis tangan Sehun yang terulur hendak membantu.

“Singkirkan tangan kotormu itu. Ayah kecewa padamu.” Ayah Sehun di bantu kedua orangtua Seohyun membawa Nyonya Oh masuk ke dalam rumah. Keduanya berkata sama pada Sehun. “Kami kecewa padamu. Perjodohan ini BATAL!”

Mereka masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras. Sehun tercekat di sana. Jessica bangkit dan berkata “Tugasku sudah selesai.” Dan dia pun melenggang pergi sambil mengusap air mata palsunya itu.

                ‘Aku tak melakukan apapun. Ini semua bukan rencanaku! Siapa yan tega melakukan semua ini?’

Sehun pun pergi dari rumah dan ingin menyepi di suatu tempat.

*

Jessica yang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik pun berjalan menuju sebuah café kecil. Di sana ia hendak menemui seseorang yang menyuruhnya melakukan semua itu. (Hayo tebak siapa?)

Di sana ia bertemu dengan Donghae yang lagi-lagi sedang memotret pemandangan di balkon café. (Siapa yang berhasil menebak?)

“Bayaranmu di atas meja Miss Jung.” Ucap Donghae Tanpa menoleh. “Aku sudah melihat aktingmu. Kau berbakat dan aku pun juga begitu. Ah apa aku harus membuka jasa penghancur hubungan orang lain?” Lanjutnya lagi sambil memfoto sebuah pemandangan di depannya.

Namun tak ada jawaban dari Jessica. Dan itu membuat Donghae menoleh. Saat Donghae menoleh. Sebuah pukulan mendarat mulut di pipi Donghae. Donghae pun Tanpa sadar menjatuhkan kameranya.

“Kau benar-benar keterlaluan! Apa salahku padamu, hah?” Teriak Sehun yang sekarang berada di depan Donghae yang jatuh tersungkur di pinggir balkon. Sedangkan Jessica selain mendapatkan uang dari Donghae. Ia juga mendapat uang dari Sehun untuk bercerita segalanya. Termasuk tugas yang di berikan Donghae.

“Ya!! Kenapa kau memukul wajah tanpanku? Dan ah kameraku?” Donghae membalas teriakkan Sehun dan memandang miris pada kameranya yang jatuh.

“Ya!!” Balas Sehun kesal. “Jawab pertanyaanku!”

Donghae menatap Sehun kesal. “Hh, sebenarnya kesalahanmu padaku hanya satu. Namun sekarang menjadi tiga.”

“Mwo?” Sehun memandang Donghae tak percaya. “Apa karena kau mau membantu sahabatmu –Tao- bukan berarti kau harus melakukan rencana menyebalkan itu. Untuk tiga belas tahun atau sekarang!” Lanjut Sehun lagi.

“Ah ternyata jala** itu berbicara banyak padamu. Dan sebenarnya tidak ada sangkut-kaitnya dengan hal itu. Hal itu hanya kamuflase saja. Aku bukan orang seperti itu. Jangan mudah percaya.” Ucap Donghae yang sekarang berdiri berhadapan dengan Sehun.

“Yang pertama, kau selalu unggul di mana pun kau berada dan aku muak melihatnya. Entah itu saat di kelas atau tentang teman. Kau bahkan memiliki teman banyak dan aku tidak. Dan gadis bernama Seohyun itu Cuma bagian dari hal kecil yang tak pernah aku perhitungkan. Aku hanya berpura-pura membantu Tao.” Sehun tak percaya dengan alasan konyol yang di buat oleh Donghae.

“Masalah kecil seperti itu?”

“Bagi seorang anak-anak itu masakah besar. Begitu pula dengan kalung itu. Kalian berdua bahkan sampai saling benci hingga sekarang bukan?”

“Ya!! Kau?!” Sehun mulai geram dengan hal-hal yang di katakan oleh Donghae.

‘Jadi kalung itu juga bagian dari rencanamu? Kau benar-benar biadap!’

Tak peduli dengan tanggapan Sehun. Donghae terus melanjutkan perkataanya.

“Yang kedua dan ketiga. Kau memukul wajah tanpanku dan membuat kameraku rusak. Apa kau tak tahu keduanya sangat berharga untukku sekarang!” Sehun semakan tidak percaya dengan alasan yang di buat Donghae.

“Kau Gila!” Teriak Sehun sambil meninggalkan Donghae yang menatap kameranya dengan tatapan kasihan.

*

Di sisi lain. Seohyun terus terisak di bawah sebuah pohon yang berada di sebuah taman yang entah apa namanya. Seorang pria menghampirinya dan menanyakan apa dia membutuhan sebuah bantuan? Namun Seohyun berkata tidak. Pria itu semakan memaksa dan hal itu membuat Seohyun kesal dan berdiri hendak melihat wajah pria itu.

Namun betapa terkejutnya melihat siapa pria yang datang. Dia adalah Tao dengan senyum kekhawatiran.

“Apa dia menyakitimu?” Tanya Tao kemudian duduk di sebelah Seohyun yang sekarang menghentikan isakannya. Ingin sekali Seohyun memeluk Tao di saat hatinya sedang kacau seperti ini. Entah perasaan apa yang membuatnya menangis hanya karena seorang Sehun. Namun ia tak bisa melakukannya. Tao bukan miliknya lagi. Tao sudah menjadi milik orang lain.

Seohyun tak menjawab pertanyaan Tao. Sedangkan Tao yang sudah tahu kenapa Seohyun menangis hanya bisa tersenyum miris.

                ‘Apa kau mulai mencintainya? Aku memisahkan kalian kembali dan lagi-lagi kau menangis seperti ini. Apa dia sungguh berarti untukmu? Sungguh aku minta maaf telah menyakitimu dengan cara seperti ini. Kau layak untuk bahagia dan aku menghancurkan semuanya.’

“Maafkan aku.” Ucap Tao yang membuat Seohyun menoleh dan menatap wajah Tao.

“Apa maksudmu?” Tao pun menceritakan semuanya tentang kejadian yang baru saja Seohyun alami yang sejujurnya di lakukan Donghae Tanpa persetujuannya dan kejadian tiga belas tahun yang lalu yang memang di lakukan oleh keduanya.

Seohyun yang tak percaya menghadapi kenyataan ini hanya bisa terdiam tak percaya. “Oppa?!”

Tao pun mengeluarkan sebuah kalung. Kalung yang menjadi awal kebencian yang tumbuh antara Seohyun kecil dan Sehun kecil.

“Aku benar-benar minta maaf.” Tao pun memeluk Seohyun untuk terakhir kalinya. “Untuk kesalahanku di masa lalu, kesalahan tak pernah memberitahumu, kesalahan telah menyakitimu, dan kesalahan hyungku yang membuatmu menangis. Untuk semua itu aku meminta maaf atas namaku dan namanya.” Ucap Tao sebelum pergi meninggal Seohyun yang kembali menangis. Menangis karena ia telah membenci Sehun selama ini.

*

Sehun berjalan menuju rumahnya saat ia bertemu Seohyun di depan gerbang rumah.

“Aku ingin meminta ma .. ” Ucapan Sehun terhenti saat Seohyun langsung mengenggam tangannya.

“Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah tahu semuanya.” Ucap Seohyun yang membuat Sehun Tanpa sadar langsung memeluk Seohyun. Dan hal itu membuat Seohyun kaget. “Terima kasih.”

Sehun pun melepaskan pelukannya. “Ayo hadapi bersama-sama.” Seohyun pun hanya bisa mengangguk. Sejujurnya Seohyun masih kaget dengan reaksi yang Sehun berikan padanya barusan –pelukan-.

*

“Jadi kalian berdua selama ini berpura-pura bertunangan?” Tanya Tuan Oh kaget. SeHyun –Sehun & Seohyun- memutuskan untuk jujur dari awal. Mereka tak mau membuat sebuah kebohongan yang mungkin akan berakhir menyedihkan.

“Kejadian tadi hanya sebuah rencana pembatalan pertunangan?” Tanya Tuan Seo tak kalah kaget dari Tuan Oh.

“Namun kalian berdua tetap mau melanjutkan perjodohan ini?” Tanya Nyonya Seo dan Nyonya Oh secara berbarengan.

SeHyun mengangguk pasti dan mereka saling menggenggam tangan menunggu hal apa yang akan menimpa keduanya akan kejujuran yang mereka lakukan.

Namun hal yang terjadi selanjutnya membuat SeHyun menatap kedua orangtua mereka dengan tatapan aneh. Kedua orangtua  tertawa hebat dan mereka bahkan tak bisa berhenti tertawa. Kalian ingin tahu kenapa?

“Apa yang kalian tertawakan?” Tanya Sehun bingung. Seohyun pun tak kalah bingung.

“Oh ini benar-benar drama yang menarik.” Ucap Nyonya Seo di tengah tawanya.

“Drama?” Tanya Seohyun bingung. Kedua orangtua menghentikan tawa mereka.

“Apa kalian piker kami bodoh?” Tentu saja SeHyun langsung menggeleng cepat.

“Apa maksud kalian?” Tanya Sehun tambah tak mengerti.

“Baiklah kami jelaskan. Bukan hanya kalian yang berpura-pura, kami pun begitu.” SeHyun  semakan tak mengerti maksud kedua orangtua mereka.

“Oh kenapa kalian tak paham. Yang pertama Nyonya Oh tak pernah sakit. Itu hanya pura-pura.” Ucap Tuan Seo. SeHyun pun hanya bisa terdiam shock. ‘Pura-pura?’

“Dan yang mengenai kejadian hari ini kami juga pura-pura tidak tahu. Padahal kami tahu semua rencananya.” Ucap Tuan Oh bangga. Sedangkan SeHyun bertambah shock. ‘Pura-pura? Lagi?’

“Ya!!” Teriak SeHyun berbarengan. “Kalian benar-benar tega!” Ucap SeHyun berbarengan lagi.

“Tapi kalian senang bukan?” Sehun dan Seohyun saling berpandangan dan tersenyum.

-oo0oo-/The End

Akhirnya selesai juga TCE Part 2B/END-nya. Semoga kalian benar-benar suka. Dan maaf jika banyak typo dan feelnya belum dapet. Dan apakah kalian bisa mengerti isi cerita dengan baik? Saya harap begitu. Dan apakah ini masih kurang panjang? Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat lebih panjang dan ternyata kepanjangan –menurut saya-. Karena seharusnya ini twoshoot dan saya membuatnya menjadi threeshoot. Terlepas dari cuap-cuap yang saya berikan, tolong berikan RCL untuk perbaikan FF saya kedepannya. *Deepbow

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s