How Nice It Would Be


Title : How Nice It Would Be

Author : Idzni Mitsali

Cast : Find by Your Self

Genre : Romance

Type : Drabble

tumblr_mg331dz49Z1qal2v6o1_1280

Sebagaimana hari kemarin, kemarinnya lagi, dan entah berapa banyak kemarin yang telah lewat, aku duduk di café ini. Duduk hanya untuk menunggu gadis itu datang. Gadis yang tiba-tiba saja menarik perhatianku tanpa sempat kutolak.

“Kring!!!”

Garis bibirku terangkat saat mendengar lonceng di atas pintu café berdering. Aku melirik jam tanganku. Pukul 16.00. Pasti dia.

Aku kemudian mendongakan kepala dan melihat gadis itu baru saja masuk dengan mantel yang ujungnya meneteskan air. Tangannya membawa sebuah diktat yang tadi dia pakai untuk menutupi kepalanya. Ya, hujan memang sudah mengguyur Seoul sejak siang hari tadi.

Gadis itu mencari tempat kosong untuk dia duduk. Wajahnya berbinar saat melihat salah satu sudut café ini kosong. Dia langsung berjalan pelan kesana sambil mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya.

Aku menghembuskan napas berat. Pasti dia menelepon laki-laki itu. Kekasihnya.

Tak ingin melihat wajahnya yang selalu berbinar setiap kali menelepon laki-laki itu, aku berjalan ke arah meja panjang tempat pelayan dan para barista melakukan pekerjaannya. Salah seorang pelayan wanita menyapaku dengan senyuman hangat.

“Satu Russian coffee, tolong berikan pada gadis yang ada di sana, ya?” ucapku sambil menunjuk tempat duduk gadis itu tanpa melihatnya.

“Yang sedang menelepon?” tanya si pelayan.

Aku mengangguk. “Jangan katakan ini dariku. Katakan saja kalian sedang ada promo…”

Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk mengerti. Aku memberikan beberapa lebar won padanya.

“Ambil saja kembaliannya.”

Kamsahamnida,” jawabnya.

Aku kembali ke tempat dudukku sambil tersenyum kecil. Aku perhatikan lagi gadis itu dari balik laptop yang menjadi tamengku setiap kali memperhatikannya. Gadis yang selalu datang tepat pukul empat sore dan menunggu kedatangan kekasihnya.

Aku bisa membaca bibirnya yang mengatakan sesuatu pada lawan bicaranya di telepon.

Arasseo… Hati-hati, Oppa! Ne…”

Gadis itu menutup teleponnya bersamaan dengan datangnya kopi yang tadi aku pesan untuknya. Dia mengerutkan dahi bingung sambil bertanya kenapa pelayan itu memberikannya. Pelayan itu menjelaskan seperti apa yang tadi aku minta. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum senang yang membuatku ikut tersenyum.

Setelah pelayan itu belalu, gadis tersebut membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah novel. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat bahwa buku yang dia baca adalah buku karya Mitch Albom yang berjudul Tuesdays With Morrie. Ah, salah satu buku yang sudah pernah kubaca dan aku suka.

Pandanganku langsung teralihkan saat merasakan ponselku berdering nyaring di samping laptop. Dering yang sanggup membuat semua orang, termasuk gadis itu, menoleh ke arahku. Segera kuambil ponsel itu dan menunduk untuk mengangkat telepon yang ternyata dari teman satu apartemenku.

“Siwon-ah, dimana kau?”

“Ada apa?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Aku di depan apartemen. Aku lupa kalau kunciku tertinggal di dalam tadi pagi…”

Aku merutuk pelan sambil berdecak kesal. Dasar Lee Donghae. Selalu saja mengganggu ketika aku dalam suasana hati yang baik.

Arasseo. Aku pulang sekarang!” jawabku sedikit kesal dan menutup sambungan telepon tersebut.

Aku membereskan laptop dan segala properti yang tadi aku keluarkan saat membunuh waktu untuk menunggu gadis itu datang dan berjalan munuju pintu. Sebelum aku membuka pintu tersebut, aku melirik gadis itu sekilas. Ah, dia sangat cantik ketika sedang tenggelam dalam buku bacaannya.

Selamat tinggal. Sampai ketemu besok,” gumamku pelan.

***

Aku terkejut ketika melihat gadis itu datang lebih dulu keesokan harinya. Dia sedang asik membaca di tempatku kemarin duduk ditemani secangkir cafe latte dan sepotong red berry delight. Sial. Padahal tempat duduk itu adalah tempat yang paling pas untuk memperhatikan orang-orang sekitar.

Akhirnya aku memilih duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu. Setelah menyimpan ransel, aku berjalan menuju meja kasir untuk memesan peppermint mocha. Saat aku kembali ke tempat dudukku, lonceng di atas pintu café berdering dan masuklah seorang namja. Ah, si namja beruntung. Ya, kekasih gadis itu.

Dia tersenyum kecil saat melihat gadis itu tengah menyesap cafe latte­-nya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah dia baca. Dia berjalan perlahan mendekati gadis itu. Saking asiknya gadis itu membaca, dia tidak sadar bahwa kekasihnya baru saja melewatinya dan sekarang tengah berdiri di sampingnya.

Namja tersebut kemudian menggelitik pelan pinggang gadis itu yang membuat dia terlonjak kaget. Gadis itu langsung tertawa sambil memukul keras bahu namja beruntung tersebut. Si namja meringis pura-pura kesakitan sambil menggeser duduk kekasihnya.

Andai yang menemanimu tertawa disana adalah aku. Andai akulah yang selalu kau tunggu setiap hari. Pasti akan terasa sangat menyenangkan.

Sesaat kemudian pesananku datang. Aku mengalihkan pandanganku dan mengucapkan terimakasih pada si pelayan. Saat aku kembali memperhatika dua sejoli itu, kulihat mereka sekarang sedang saling berhadapan. Wajah si gadis tampak sedih sedangkan mata namja itu menyiratkan kekhawatiran.

Apa yang terjadi?

Namja itu mengelus lembut puncak kepala si gadis dan berusaha menenangkannya sambil menggenggam erat jemari gadis itu. Entah sejak kapan, tapi aku sudah terbiasa membaca gerak bibir gadis itu ketika dia bicara.

“Apa Oppa tidak bisa datang untuk menjenguknya?” tanyanya sambil menatap si namja dengan pandangan berharap.

Sesaat namja itu hanya diam sambil mengalihkan pandangannya.

Oppa…

Namja itu menggeleng sebagai jawaban. “Sebaiknya aku antar kau pulang sekarang.”

Gadis itu mengangguk sambil memasukan bukunya ke dalam tas. Namja tersebut menggenggam erat tangan si gadis saat mereka berjalan melewatiku dan keluar dari café. Setelah menutup pintu sebelah kana Subaru Forester-nya, namja itu menghela napas dan berjalan untuk kemudian duduk di balik kemudi.

Ah, aku benci rasa penasaran ini.

***

Lagi, Seoul diguyur hujan hari ini. Beruntung aku sampai di café sesaat sebelum hujan turun. Aku menghembuskan napas dan menghempaskan harapanku untuk bertemu dengan gadis itu hari ini. Namja itu pasti menjemputnya di kampus. Tidak mungkin dia membiarkan kekasihnya pergi saat sedang hujan yang bertidak anarkis ini.

Aku mengeluarkan laptop dan membuka lembar kerja excel untuk menyelesaikan pekerjaanku sebagai akuntan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Aku baru saja mengambil dokumen yang rekan kerjaku berikan tadi pagi saat seseorang tiba-tiba menepuk pundakku pelan. Aku menoleh dan seketika terkejut saat melihat gadis itu berdiri di hadapanku. Ya, gadis itu. Gadis cantik itu.

Dia tersenyum canggung sambil menatapku. “Apa aku boleh duduk disini?” tanyanya, “Kau duduk sendirian, kan?”

Aku masih tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Tuhan memang sedang dalam mood yang baik waktu menciptakan gadis ini.

Gadis itu menyentuh tengkuknya kikuk. “Aku hanya sebentar. Tidak ada tempat duduk kosong. Orang-orang juga tidak ada yang duduk sendirian…” ucapnya menjelaskan.

Aku mengangguk sambil  mengambil ransel yang tadi aku simpan di atas meja. Gadis itu berterimakasih dan duduk di hadapanku.

“Maaf kalau aku menganggumu,” ucapnya sambil menyimpan tasnya.

Sekali lagi aku tidak berkata-kata. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Senyum yang aku yakini pasti sangat kaku. Ah, sial!

“Aku Yoona. Im Yoona…” dia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

Nama yang indah.

“Si… Siwon. Choi Siwon…” jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Tangan gadis itu terasa sangat lembut menyentuh telapak tanganku.

Selama beberapa menit, hening menyelimuti kami. Dalam hati aku merutuki diri sendiri karena tidak bisa mengatakan apa-apa di depan gadis ini. Ah, di depan Yoona. Ya, sekarang aku tahu namanya.

“Siwon-ssi, kau sering kesini, ya?” tanyanya memecah sepi. Pertanyaanya membuatku melayang. Dia tahu aku sering ke café ini?

“Iya,” jawabku pelan, “Bagaimana kau tahu?”

“Aku juga sering kesini. Aku selalu melihatmu ada setiap kali aku datang…”

Setelahnya, kami berbincang ringan. Mengenai pekerjaanku dan kuliahnya. Ternyata dia mahasiswi jurusan farmasi di Universitas khusus wanita, Hanyang.

“Ah, kita belum pesan minuman. Kau mau pesan apa?” tanyaku yang sudah lebih relaks.

“Hmm…, irish coffee?” tanyanya dengan wajah menggemaskan. Ya Tuhan. Ini benar-benar hari terindah dalam hidupku.

Arasseo, tunggu sebentar, ya.”

Aku kemudian berjalan ke meja kasir untuk memesan irish coffee, espresso dan raspberry macarons. Aku memutuskan untuk ke toilet sebentar sebelum kembali ke tempat dudukku. Aku butuh mencuci muka.

Sekitar lima menit kemudian aku kembali dan mendapati bahwa gadis itu sudah tidak duduk sendirian. Namja itu sudah datang. Mereka berdua duduk membelakangiku. Ternyata benar apa kata pepatah, sesuatu yang indah kadang pergi lebih cepat.

Di satu sisi aku enggan menemui namja itu. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin meninggalkan gadis itu. Akhrinya aku memutuskan berjalan pelan-pelan mendekati mereka. Bagaimana pun, itu tempat dudukku, kan? Jika mereka ingin berdua, cari saja tempat yang lain.

“Ehm…” aku pura-pura membersihakan tenggorokanku sambil  duduk di hadapan mereka. Mereka yang sepertinya sedang berbicara serius langsung terlonjak.

“Maaf mengganggu,” ucapku.

“Ah, anieyo, Siwon-ssi. Gwenchanayo…” jawab Yoona sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belajang telinga. “Ah, kenalkan, Oppa ini Siwon-ssi… Siwon-ssi, ini Seulong Oppa…”

Namja itu mengulurkan tangan sambil tersenyum. Senyum hangat yang sama seperti milik Yoona. Aku merutuk dalam hati. Bukankah lelaki dan wanita yang mempunyai kemiripan itu biasanya jodoh?

“Aku Im Seulong. Senang berkenalan denganmu…” ujar namja itu saat menjabat tanganku.

“Siwon. Choi Siwon,” ucapku mantap.

Sebentar! Siapa tadi namanya? Im Seulong? Im Seulong… dan Im Yoona?

Seolah bisa membaca pikirankku, Yoona tersenyum. “Dia kakakku. Kakak Sulungku,” ucapnya.

THE END

 

Holla! Gimana nih drabble ini? Jelek ya? Hmm… harap maklum ya. Dibuat mendadak karena lagi kesemsem sama lagu Lunafly yang judulnya sama kaya judul FF ini. Mudah-mudahan bisa menjadi obat bagi para YoonWonited yang kangen dengan couple ini. Jangan lupa untuk tinggalkan komentar. Kamsahamnida🙂

4 thoughts on “How Nice It Would Be

  1. kirain donghae yang jadi pacarnya yoona.
    pas yoona lagi nelpon onnie mikirnya pasti si donghae pacarnya temen yoona, yah mungkin jess lagi sakit dan yoona selalu maksa donghae untuk ketemu dia meskipun sebenernya yoona ama donghae saling suk😆 *korban sinetron korea*:mrgreen:
    its daebak😛 semoga ada lanjutannya🙄
    anyway, pas banget yah, onnie lagi jatuh cinta berat ama lunafly, apalgi Yun😳 *ketularan yuni shara, suka ama brondong😆 *

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s