I am Not Your Pupet chap 1


im-not-your-puppet

Author             : Alice Appril / Choi Yoora

Cast                 : Park Bom

Choi Seung Hyun/ TOP

Choi Dongwook / Se7en

Other Cast       : Sandara Prak

Kwon Jiyoung

Genre              : Revenge, sad romance, Friendship

Credit              :   mekeyworld@http://chokyulateworld.wordpress.com/

Length             : Series, Chapter

Rating             : 15

Annyeong para readers tercinta, aku kembali membawa FF yang main castnya Bom Eonni dan TOP Oppa, udah lama banget sebenernya aku kepikiran buat pairing mereka. tapi baru buat sekarang setelah diingetin sama temen aku, dia menrequest FF dengan couple mereka jadi aku baru kepikiran buat bikin FF ini.

Ok dari pada banyak cuap-cuap langsung aja, chek this out….

First meeting and First Impressions

 

 

*Park Bom POV*

Cuaca hari ini benar- benar cerah sekali, mungkin itu yang membuatku semangat bekerja. Apalagi melihat semua bunga-bunga di toko ku yang mulai bermekaran. Seperti hari-hari biasanya, aku berdiri di depan semua bunga-bungaku sambil menangkupkan tangan dan memejamkan mata, berharap bahwa hari ini sebagian dari mereka dapat memberi kebahagian bagi setiap pembeli yang datang.

SG1L0911

Toko ini, ah mungkin terlalu berlebih jika disebut toko. Ini hanya stan kecil yang berada di pinggir jalan, aku dan almarhum ibuku yang membukanya. Sudah sejak lama ibuku ingin memiliki stan bunga sendiri, karena dulu beliau bekerja sebagai karyawan di salah satu toko bunga yang lumayan terkenal.

“Nona Bom, pagi ini terlihat sangat ceria, ada apa?” aku menoleh kearah sumber suara, ternyata Ajhuma penjual pernak-pernik perhiasan rambut, yang stannya tepat disebelah punya ku.

Ne Ajhuma, mungkin karena hari ini sangat cerah, hingga aku semangat sekali”

Jawabku sambil tersenyum ramah padanya,

Aku  melihat notes kecilku, disini aku biasa menuliskan semua penjualan bunga-bungaku. Bahkan kadang ada beberapa pesanan dari pembeliku, dan aku tak sungkan untuk mengantarkannya ke rumah mereka. ternyata hari ini ada beberapa bunga yang harus aku antar. Aku segera menyiapkan bunga-bungaku dan membungkus mereka rapi. Tiba-tiba

Bruuk… !!!

Tanpa sadar aku menabrak seseorang.

Cheseonghamida” Ucapku seraya membungkukkan badan berkali-kali,

“Apakah Anda terluka?” Tanyaku sambil menatapnya khawatir

Aniyo, Gwenjhanayo, aku tidak terluka sama sekali”

Jawabnya ramah, sambil tersenyum hangat. Sesaat aku terpana dengannya, bukan karena ketampanannya, walaupun kuakui pria ini memang tampan. Tapi senyumnya itu, seperti menginggatkan aku pada seseorang, yang dulu pernah ada di hidupku.

Chogiyo, chogiyo” pria itu mengibaskan tangannya pelan didepan wajahku, aku kembali tersadar dari lamunanku tadi.

Ne

Pria itu kembali tersenyum, dan kulihat dia mengulurkan tangannya padaku

“Choi Seung Hyun, Imnida” aku memandang tangannya yang terulur padaku, sampai akhirnya aku membalas uluran tangannya.

Naneun, Park Bom Imnida

Pria ini kembali tersenyum manis. “Nama yang cantik”

Aku tersipu dan menundukan wajahku, tak berani menatap wajah tampannya.

“Kau yang menjual bunga-bunga ini?” tanyanya sambil memasuki stanku.

Nde” jawabku singkat sambil mengikutinya,

“Kebetulan sekali, aku sedang ingin memberikan bunga pada seseorang, mungkin kau bisa membantuku nona Bom”

Aku tersenyum dan mengangguk cepat padanya. Akhirnya pagi ini salah satu dari bunga-bungaku terjual, semoga saja ini membawa peruntungan yang baik.

“Anda ingin memberikannya pada wanita ? bagaimana kalau bunga ini” aku mengambil setangkai bunga Gardenia dan menunjukkan padanya.

“Bunga ini menandakan perasaan anda yang sangat menyukai pasangan anda, atau yang ini?”

Aku memutari sisi stanku, mengambil setangkai tulip merah yang cantik dan kembali menunjukkannya.

“Bunga Tulip, maknanya adalah wanita yang anda sukai adalah perfect lover bagi anda, atau mungkin” aku kembali memutar tubuhku dan menunjukkan bunga Aster yang tepat berada di belakangku.

“Bunga Aster, simbol cinta”

Aku menatapnya, dan dia seperti menunjukkan ekspresi takjub.

“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanyanku perlahan padanya, bukan jawaban yang kudapat, melainkan sebuah tawa renyah darinya.

“Kau ini benar-benar semangat sekali Nona, aku bukan ingin memberikannya pada kekasihku, aku ingin memberikan buket bunga pada sahabatku yang hari ini akan bertunangan”

Refleks aku langsung menutup mulutku, menyadari kekeliruan yang aku buat.

Mianheyo, aku pikir…”

“Lagi pula, aku ini belum memiliki kekasih”

Aku mengigit bibir bawahku, sambil merutuki diriku yang sok tau.

“Sekali lagi aku minta maaf tuan” aku kembali membukukkan badanku berkali-kali

Aniyo, tidak perlu minta maaf. Kau tak salah, mungkin aku yang tidak menjelasknnya tadi”

“Tidak tuan, saya yang salah, seharusnya saya tidak asal menebak”

“Baiklah, sudah jangan minta maaf lagi. Sekarang boleh aku tau bunga apa yang kau suka?”

Nde..?” aku mengerutkan keningku bingung. Untuk apa dia menanyakan hal itu, namun aku tetap menunjukan padanya bunga yang paling aku suka.

Dia mengikuti arah jari telunjukku dan membungkukkan badannya untuk mengamati bunga itu.

“Apa nama bunga ini?” tanyanya yang masih terus mengamati bunga dihadapannya.

“Lily” jawabku singkat, aku memutuskan untuk tidak banyak bicara, takut membuat kesalahan lagi. Biarkan saja dia yang memilihnya dan aku akan memberi saran hanya jika dia meminta.

“Bunga ini cantik, kalau begitu aku pilih yang ini saja, bagaimana?” dia menoleh padaku dan meminta pendapatku. Aku tersenyum dan mengangguk tanpa ragu.

“Pilihan yang tepat tuan, bunga lily juga dapat menyimbolkan persahabatan”

Aku membungkus seikat bunga lily yang dipesannya, sambil sesekali mencuri pandang padanya. Aku terseyum sendiri, melihatnya yang masih sibuk mengamati bunga-bungaku. Apa yang membuatku begitu tertarik melihat kearahnya, aku pun juga tidak mengerti. Saat aku tengah menatapnya, secara kebetulan dia juga sedang melihat kearahku. Aku gugup begitu pandangan kami bertemu, namun semua itu hilang begitu dia memberikan senyumnya. Ya Tuhan, senyum itu mengapa begitu mirip.

“Sudah selesai merangkainya nona?” Sejak kapan dia sudah berdiri didepanku, perasaan ku tadi dia masih didepan sana.

“Sebentar lagi selesai Tuan” aku kembali menekuni rangkaian bungaku.

“Bolehkan aku minta satu permintaan?”

Ne, permintaan apa Tuan ?” tanyaku sambil menatapnya bingung.

“Tolong jangan panggil aku Tuan, panggil saja Seung Hyun. Itu lebih baik”

Aku agak bingung dengan permintaannya, bagaimana bisa aku memanggil pelangganku dengan hanya sebutan nama saja.

“Tapi anda pelanggang saya tua, dan biasanya saya selalu memanggil mereka tuan jika laki-laki dan nona atau Ny  jika wanita” aku memberikan penuturan, yang sebisa mungkin tidak menyinggung perasaannya.

“Kalau begitu jangan anggap aku sebagai pelangganmu”

Aku mengerutkan kening, kenapa laki-laki ini semakin membuatku bingung. Sebenarnya apa yang dia maksud, mengapa terkesan bertele-tele sekali.

“Bagaimana, kalau aku menjadi temanmu”

Ucapnya mulus keluar dari bibirnya. Dan seketika langsung membuatku terpaku, bukan karena kaget dia mengajakku berteman, hanya saja, kejadian ini aku pernah mengalaminya. Saat seseorang datang ke toko, tersenyum manis padaku, dan mengajakku berteman. Sungguh ini bukan pemandangan yang asing bagiku.

“Nona Park, kau tak apa-apa?” tanyanya sambil menepuk pundakku pelan. Aku kembali tersadar dari pikiranku tadi. Baiklah Bom mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja. Kau tidak boleh mengingatnya lagi.

“Jika itu maumu, baiklah kita berteman” lagi-lagi dia mengulurkan tangannya kearahku. Aku memandangnya sebentar dan membalas uluran tangannya dan lagi-lagi dia tersenyum.

*****

*Seung Hyun POV*

Aku kembali menusuri jalan, sambil sesekali melirik buket bunga lily yang terletak manis di bangku sebelahku. Aku tersenyum sendiri, mengingat pertemuan pertama kami. Ya harus kuakui dia memang gadis yang cantik, ramah dan sopan. Tidak sulit untuk menaruh hati padanya. Hanya saja dia bukan tipikal gadis yang bisa dengan mudah ditaklukan. Tapi aku tak akan menyerah, melihat dari gerak-geriknya tadi, sepertinya dia juag tertarik padaku. Akan ku pastikan, aku bisa mendapatkannya dalam hitungan beberapa bulan.

I am singging my blue…

Pikiranku buyar begitu mendengar suara ringtone ponselku. Aku langsung mengambilnya, tertera disana siapa yang menghubungiku.

Yobboseo”

“Ya…!!! Kau Choi Seung Hyun, ada dimana kau sekarang” suara teriakkan seorang gadis tepat saat aku mendekatkan ponsel di telingaku.

“Aku masih dijalan, kenapa kau beteriak begitu? Membuat orang tuli saja” umpatku

MWO!!! Ya Tabi bodoh, kau tak tau ini sudah jam berapa? Acaranya akan segara dimulai dan kau belum juga datang?” refleks aku langsung menjauhkan ponselku, saat wanita disebrang sana kembali berteriak dengan volume yang lebih tinggi dari yang tadi.

“Sebentar lagi aku juga akan datang, Dara~a. kau tenang saja, tak akan ada satu acara pun yang aku tinggalkan”

“Cepat datang dan tunjukkan wajahmu dihadapanku, Arraseo

Klik sambungan terputus. Yeoja ini tak berubah sejak dulu, selalu saja bicaranya lepas dan semaunya sendiri. Aku menatap nanar layar ponselku.

Baiklah, sesuai permintaannya aku menggas mobilku lebih cepat dari yang tadi. Aku tak mau mengecewakannya, dengan datang terlambat ke acara yang sudah dinantikannya sejak lama.

Bagitu sampai, ternyata acaranya baru dimulai. Hutf… untunglah, aku tidak akan mendapatkan caci maki, dari wanita yang sekarang dengan manisnya, duduk di deretan meja paling depan.

Dia terlihat bahagia sekali, di tambah dengan gaun biru muda dan heels yang senada dengan dekorasi ruangan ini.

Sandara, ya itulah nama gadis yang aku ceritakan. Dia sahabat baikku sejak SMA dulu,  aku yang terkenal dingin dan enggan banyak bicara dapat berteman dengan dia yang ramah dan bawel itu, memang agak aneh. Tapi entah mengapa dia bisa membuatku nyaman.

Aku terus memperhatikan Dara, dari tempatku berdiri sekarang. Kini dia berjalan kedepan sambil menggandeng seorang pria disampingnya. Senyum bahagia terpancar selalu dari raut wajahnya.

Jiyoung, pria yang sekarang tengah menatap Dara dengan penuh cinta. Dia juga merupakan sahabatku. Aku, Dara dan Jiyoung. Kami adalah sahabat karib yang sampai sekarang masih selalu bersama. Kebersamaan kami itulah yang membuat cinta mereka tumbuh. Jiyoung memang orang yang supel, jadi tidak sulit baginya untuk beradaptasi dengan Dara, yang memilki sifat yang bisa di bilang ajaib itu.

Kini mereka tengah bertukar cincin, aku tersenyum merasakan kebagiaan mereka. Benar Seung Hyun, mereka sahabatmu dan mereka juga pantas untuk bahagia. Selayaknya sahabat, kau pun harus ikut bahagia. Dara melihatku dan tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku, disaat yang sama Jiyoung pun melakukan hal yang sama. Aku membalas lambaian tangan mereka. Dara memberikan kode agar aku mendekat. Awalnya aku enggan tapi melihat tatapan mematikan darinya, buru-buru aku menuruti kemauannya.

“Seung Hyun~a,” Jiyoung langsung menyapaku, begitu aku medekat.

“Ya kau, hampir saja kau terlambatkan tadi? Coba kalau aku tak menelpon mu. Aku pastikan kau akan datang terlambat” sudah kuduga, terlambat atau tidak, wanita ini pasti akan berkata begini.

“Dara~a, yang terpenting dia datang sekarang kan”

Chukae, Aku turut bahagia” ucapku sambil menyerahkan bunga lily padanya dan tak menghiraukan omelan Dara barusan. Mereka tersipu malu saat aku menyalami mereka.

“Ya… Ya… jangan melakukan hal bodoh itu dihadapanku, membuat aku mual”

“Cih, kau ini tidak pernah bisa melihat aku bahagia” protes Dara.

“Nona Bawel, kalau aku tak senang dengan kebahagianmu, untuk apa aku datang kesini dan menyalamimu barusan?”

Saat Dara ingin membalas ucapanku, Jiyoung terlebih dahulu memotongnya.

“Sudah hentikan kalian ini, apa tidak bisa melihat situasi jika ingin bertengkar” jika aku dan Dara sudah saling mengejek, maka hanya Jiyounglah yang mampu menghentikan kami.

“Hei kau” panggilku sambil menyentil pelan dahi Dara. Refleks dia langsung menyentuh dahinya, sambil meringis pelan.

“Jangan bertingkah kekanakkan lagi, kau harus bisa bersikap dewasa dan menunjukkan bahwa memang kau pantas menjadi istri seorang Kwon Jiyoung”

“Kami baru bertunangan, jangan menasehatiku seperti aku sudah menikah Seung Hyun~a” aku menatapnya lesu, sahabatku ini, pura-pura bodoh, atau memang benar-benar bodah.

“Memangnya apa tujuanmu setelah bertunangan ini? Membajak sawah?” Dara melirikku kesal, sedangkan Jiyoung tersenyum geli.

“Untuk menikah kan? Wanita menikah itu, harus bersikap dewasa dalam mendahapi berbagai hal. Dan agar kau tak kaget setalah menikah nanti, maka dari sekaranglah kau belajar menjadi wanita dewasa Dara~a”

Dara dan Jiyoung terpaku menatapku, mungkin mereka takjub mendengar kalimat itu dariku yang notabene, tidak mau banyak bicara untuk hal-hal yang tidak penting. Aku juga bingung dari mana aku dapat kata-kat seperti itu.

“Seung Hyun~a, Neo Gwenjhana?” Tanya Jiyoung padaku. Aku tersenyum canggung.

“Sudahlah, intinya aku turu bahagia dengan pertunangan kalian”

*Author POV*

Bom tengah melayani seluruh pembelinya, hari ini seperti yang sudah di duga Bom, bahwa hari ini akan mendatangkan keberuntungan bagi dia dan toko bunganya. Terlihat dari sejak pagi tadi, toko bunga Bom sama sekali tak pernah sepi dari pembeli. Sehingga itu membuat Bom sedikit kewalahan, karena harus melayani pembeli sendirian. Setelah beberapa saat, akhirnya Bom bisa sedikit beristirahat, karena pembelinya telah selesai dilayaninya. Di tengah kelelahan dan peluh dikeningnya, terbesit rasa senang dihatinya sehingga membuat dirinya menyunggingkan senyum manisnya.

Bom berjalan menuju sebuah pigura besar, yang di gantungnya dekat dnegan meja kasir. Dia menatap sosok dirinya dan sang ibu yang tersemat didalam pigura itu. Perlahan dirinya kembali tersenyum.

“Eomma, lihatlah hari ini pembeli kita banyak sekali, aku sampai-sampai kewalahan melayani mereka” ucapnya sambil terus memandang gambar ibunya disana. Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari gadis ini, meninggal karena penyakit jantungnya yang sudah akut, sehingga beliau memilih menyerah pada penyakitnya dan meninggalkan Park Bom putri semata wayangnya seorang diri.

“Sepertinya aku harus mempekerjakan seseorang untuk membantuku di toko Eomma” celotehnya lagi, iya benar dulu jika ada ibunya, Bom tidak mungkin akan merasa kelelahan seperti ini.

Ceritanya pada sang ibu terhenti begitu mendengar pintu tokonya terbuka, Bom kembali memasang senyumnya dan siap menyambut tamunya.

“Selamat Datang!!!” senyum yang tadi menghias wajah cantik Bom, seakan menghilang begitu melihat siapa yang datang ketokonya saat ini. Mimik muka Bom berubah menjadi dingin dan mengacuhnya seakan-akan tidak ada yang datang tadi.

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin membeli bunga ?” tanyanya acuh tanpa memandang lawan bicaranya.

“ Bom” sapa laki-laki yang kini masih terus mengamati Bom.

“Jika kau tak ada keperluan maka pergilah! Aku sedang sibuk”

Pria itu menghela napas panjang, begitu sesak dadanya saat ini. Namun sekuat tenaga di abaikannya, agar dapat menemui gadis yang sedari tadi masih mengacuhkannya.

“Aku ingin bicara, bisakah kau melihatku dan memandang mataku sebentar saja” pinta Pria itu.

Bukan Bom tak ingin melakukannya, dia ingin sekali bahkan bukan hanya memandang pria itu. Bom justru ingin berlari kepelukannya, mendekap erat pria itu, serta merasakan aroma khas dan kehangatan yang selalu di berikannya pada Bom. Tapi sekarang apa daya, dia sama sekali tak bisa melakukannya lagi.

“Aku mohon Bom sekali saja” ucapnya lagi, kali ini Bom menyerah dan mau menatapnya.

“Ada apa? Bukankah tak ada lagi yang perlu di bicarakan?” tanya Bom begitu dia melihat pria yang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu. Sejujurnya Bom tak mampu melihat manik mata pria ini, karena disanalah Bom dapat melihat bagaimana rapuhnya pria dihadapannya ini.

ku mohon Dong Wook, jangan tunjukkan wajah seperti itu’

“Aku ingin tau mengapa? Aku ingin tau bagaimana? Aku ingin tau semuanya, sehingga kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita Bom?”

Hal ini lagi yang ditanyakan Dong Wook padanya, justru membuatnya semakin merasakan sakit.

“Sudah kukatakan, jangan kau menanyakan hal yang sama lagi” jawabnya sambil kembali membelakangi Dong wook.

“Tapi aku ingin tau kenapa? Apa salahku?” pekik Dongwook

“Ini bukan tentangmu Wook~a, tapi ini tentang aku” jawab Bom masih dengan nada yang datar.

“Apa maksudnya?” Bom tak mengubris pertanyaan Dongwook, dan memilih untuk berjalan menuju meja kasirnya.

Merasa diabaikan, Dongwook menghampiri Bom dan menarik lengan gadis itu agar berbalik melihatnya. Sejenak Bom kaget dengan apa yang baru saja dilakukan Dongwook. Tubuhnya terhimpit antara meja kasir dan badan Dongwook, sehingga dia tak bisa menghindar, mereka saling bertatapan, seakan-akan itu merupakan sarana komunikasi yang baru,

“Katakan Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Dongwook dengan lembut.

Bom kembali pada kesadarannya yang tadi sempat teralihkan dengan tatapan lembut Dongwook.

“Kita tidak bisa bersama Wookie~a, mengertilah!!!”

“Apa alasannya?”

Karena ada orang lain yang terluka melihat kebersamaan kita’ jawab Bom didalam hatinya,

“Bomi~a” panggilnya lembut.

Merasakan genggaman Dongwook melemah, tanpa menyia-nyiakannya Bom pun mendorong tubuh Dongwook menjauh. Hingga Bom dapat menghidar.

“Jawab aku Nona Park!!!” Dongwook kembali meninggikan suaranya.

Perlahan Bom menarik napas panjang, sebelum dia menjawab pertanyaan Dongwook tadi

“Karena aku…” Bom kembali mengantungkan kalimatnya. Melihat Bom seperti itu membuat Dongwook frustasi.

“Demi Tuhan Park Bom. tolong jawab pertanyaanku!!!, kau ingin melihat aku gila?!!” Teriak Dongwook sambil mengacak rambutnya.

“Karena aku tidak bisa berdiri disampingmu lagi, aku tidak bisa menemanimu lagi. dan jika kau tanya mengapa. Itu semua karena aku sudah bosan dengan hubungan kita dan juga Kau”

Ucap Bom yakin.

Bagaikan ribuan mata pisau menancap tepat dijantungnya, begitu mendengar jawaban itu yang meluncur manis dari wanita yang dikasihinya.

Mworago?

“Iya Dongwook~a, aku bosan dengan semua ini, apa itu sudah cukup memberikan jawaban yang kau inginkan ?” Bom memberanikan diri menatap manik mata Dongwook. Untuk menyakinkan pria itu pada jawabannya.

Maldeo Andwe, kau itu mencintaiku, bagaimana mungkin kau dapat mengatakan hal seperti itu” ucap Dongwook dengan rasa tak percaya.

“Cinta ? mungkin iya mungkin juga tidak Dongwook~a, harus ku akui saat bersamamu dulu itu memang menyenangkan, tapi aku juga tak bilang bahwa itu berarti aku mencintaimu kan?”

Dongwook diam menatap wajah cantik gadis dihadapannya. Hatinya berdenyut merasakan perih. Masih tetap tak percaya, akan apa yang baru saja didengarnya. Bom tak sampai hati melihatnya seperti itu, dia menghidari tatapan Dongwook, sebelum akhirnya, dia mengeluarkan air mata saat selesai mengucapkan kalimat menyakitkan itu, pada pria yang masih dicintainya.

“Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, pergilah !!!”

Merasa sudah cukup dengan apa yang di dapatkannya hari ini. Dongwook memutuskan untuk pergi. Baru beberapa langkah dia berjalan, kakinya kembali berhenti.

“Selama ini aku masih beranggapan bahwa ini mimpi buruk…” ucapnya tanpa membalikan badan untuk menatap Bom.

“Tapi hari ini… kau telah membuatnya menjadi terasa begitu nyata, dan demi apapun ini sungguh menyakitkan”

Blaaaam …!!!

Begitu mendengar pintu tokonya ditutup, Bom terlihat lemah, bahkan kakinya tak lagi kuat menopang berat badannya. Hingga dia jatuh terduduk. Hatinya begitu sakit mengingat kejadian barusan, Bom ingin berlari kearahnya dan mendekap sambil memohon, bahwa apa yang dikatakannya tadi itu bohong. Dan yang sebenarnya adalah dia juga sanagt mencintai Dongwook sepenuh hatinya.

~TBC~

Annyeong Readers semua…. Hehehe kali ini aku membawa FF khusus keluarga YG Familiy, hihihi bisa dilihatkan cast sama other castnya, semuanya dari YG, maaf ya kalo Ffnya agak aneh dan gak jelas. Soalnya aku juga gak jelas gimana caranya tiba-tiba dapet ide buat FF ini. So keep RCL…

11 thoughts on “I am Not Your Pupet chap 1

  1. FF YG Family & BigBang pertama yg aku baca..🙂
    alasan terkuat gara” main cast-nya TOP..
    ceritanya keren,, penasaran sama next part-nya,, ^^

    • pertama jinja…. wuah, padahal banyak loh ff bigbang yang lebih bangus dari punya aku, hehehe, tapi makasih ya udah bacaaaa…
      ok… ditunggu aja🙂

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s