Let Go…!


Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong

Genre: Tragedy, Hurt

Length: Flash

Let go

Copyright&Crossposting©Goetary

 Yunho dengan tangan gemetar melilit tali berwarna hitam melingkari pergelangan tangan Changmin. Napasnya memburu. Sesuatu yang bergejolak di dadanya tak mereda sama sekali. Ia menyeka jidatnya dengan punggung tangan yang memegang pistol saat peluh berjatuhan disana.

Hyung,” keluh Changmin bingung. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Yunho diam saja. Tak ingin menjawab.

Atau tak sanggup?

Karena lidahnya terasa kering. Sekering jiwanya kini yang tak bisa menerima kenyataan akan kehilangan Changmin. Baginya sekali saja cukup. Jika harus kehilangan lelaki itu sekali lagi maka ia bisa mati.

Yunho mempererat ikatan di pergelangan tangan Changmin sampai-sampai lelaki itu menjerit kesakitan.

Ikatan itu sudah terjalin. Pergelangan tangan Changmin nampak memar. Sementara dahinya berpeluh. Ada kilauan air yang terlihat di pelupuk matanya. Ia menangis. Menangis melihat reaksi berlebihan Yunho setelah mendengar kalau dirinya akan pergi ke Amerika bersama Junsu.

Hyung,” panggil Changmin dengan suara bergetar.

Yunho memandanginya dengan terluka. “Minnie,” bisiknya parau.

Hyung, jangan begini,” ujarnya pahit. “Jangan begini, Hyung. Hanya akan melukaiku. Kau ingin membuatku terluka?”

Yunho menatap Changmin. Seakan sadar kalau ia telah melakukan sebuah kekeliruan.

Karena Changmin yang menangis dihadapannya dengan tangan berdarah akibat ikatan yang terlalu kencang. Changmin yang membuang muka tak mau menatapnya. Bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya ingin Changmin tetap bersamanya. Menjadi miliknya. Tetapi tidak dengan menyakitinya begini.

“Minnie, tanganmu sakit?” tanya Yunho lembut. Changmin mengangkat kepalanya. Menggigit bibir bawahnya dengan ketakutan.

Yunho meraih ujung ikatan. Tapi kemudian melepaskannya lagi. Direngkuhnya tubuh Changmin. Memeluknya dengan erat. Yunho menangis di bahu bidang Changmin.

“Jangan tinggalkan aku,” bisik Yunho. “Jangan tinggalkan aku lagi. Changmin… aku, tak sanggup hidup tanpamu,” isaknya tersedu-sedu.

Ia mengguncang tubuh Changmin kuat-kuat. Dengan sisa tenaga melepas ikatan di tangan Changmin. Mendengar Changmin meringis lega, Yunho merasa hatinya lebih sakit.

Hyung,” panggil Changmin lembut kemudian. “Tidak apa-apa kok,” ujarnya seraya mengangkat tangan, membelai lembut belakang kepala Yunho dan tersenyum lembut sekali. Air mata masih mengalir dari sudut-sudut matanya, namun ia tersenyum seakan Yunho tidak pernah menyakitinya.

“Changmin?” panggil seseorang yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.

“Jejung Hyung?”

Yunho menjauhi tubuh Changmin yang bergerak berdiri. Sesaat Changmin menatap Yunho dan Jejung secara bergantian.

“Kalau kau pergi, aku pasti akan mati!” ancam Yunho.

Tapi Changmin tak menghentikan langkahnya yang tertatih-tatih saat menghampiri Jejung. Dan secepat kilat Yunho mengangkat pistol dan mengacungkannya.

“Yunho! Apa yang kau lakukan!?” pekik Jejung ngeri.

Mata Changmin terbelalak menatap Yunho.

Hyung, jangan begitu…”

Changmin nampak lelah. Dan Yunho bisa merasakannya. “Kalau begitu jangan pergi, tetaplah disini bersamaku. Menikahlah denganku!”

Jejung nampak terluka mendengar ucapan Yunho. “Mengapa?” bisiknya tanpa sadar.

“Karena aku mencintai Changmin, Jungie.”

“Tapi besok kita akan menikah, Yun.”

Changmin menoleh pada Jejung yang berada disampingnya, penuh rasa bersalah. Suara Jejung bergetar ketika mengucapkan kata demi kata pada Yunho. Tapi Yunho terlihat tidak perduli.

“Aku mencintai Changmin, Jungie…”

“Tidak!” pekik Jejung. “Kau mencintaiku. Kau hanya mencintaiku Jung Yunho! Bukan Changmin, bukan siapa pun. Hanya aku, Kim Jaejoong!”

Yunho mengangguk patuh, tapi semakin mencengkram pistol yang berada ditangan.

Jejung merangkak maju, tapi Changmin dengan sigap meraih siku lelaki itu. Menahan Jejung tetap di tempatnya.

“Maaf…”

Jejung menangis. Ia menatap Yunho dengan perasaan terluka. “Tapi aku ini milikmu. Seharusnya kau menginginkanku, bukan Changmin.”

Yunho memejam matanya sembari menarik pelatuk perlahan-lahan.

“Aku tidak mencintaimu, Yunho Hyung. Tidak pernah sekali pun.”

Matanya berkaca-kaca. Akhirnya, ujarnya dalam hati. Changmin menjawab pertanyaannya. Menjawab permintaan terakhirnya. Lelaki itu tidak mencintainya, ia tahu itu. Tapi ia berpura-pura tak tahu, dan pada akhirnya siapa yang sebenarnya sedang ia bohongi?

Yunho menatap Jejung lagi. Dengan mata sendu yang hampir tertutup, “aku minta maaf sudah menyakitimu Jungie… Aku akan membayarnya mulai sekarang… Kau tak perlu bertemu lelaki brengsek seperti aku lagi… Suatu hari nanti, kau pasti akan bahagia.” Yunho bicara terbata-bata, jari telunjuknya mendorong pemicu semakin dalam.

Dengan susah payah menahan ketakutan di dalam dirinya Yunho menarik sudut-sudut bibirnya agar bisa menyerupai senyuman. Satu senyum saja sebagai salam perpisahan untuk Jejung dan Changmin. Namun tak berhasil. Ia malah menangis. Tubuhnya tergoncang dan tanpa sengaja peluru meluncur dari dalam pistol tanpa suara.

Mata Yunho membelalak kaget karena ia bisa melihat ekspresi terluka di mata Changmin saat peluru berdesis masuk ke dalam tengkoraknya.

Padahal ia tak pernah ingin menyakiti Changmin. Tidak dengan sengaja. Juga tak pernah ingin ada mati, dengan cara begini. Bukan seperti ini.

Tapi semua sudah terlambat.

Jejung masih menangis. Tak lagi sudi menatap wajah Yunho.

Namun saat ia merasakan tubuh Changmin menegang, Jejung segera mengangkat kepalanya dan menyaksikan hal terakhir yang ingin dilihatnya.

Tubuh Yunho perlahan kehilangan keseimbangan. Tangannya yang memegang pistol terkulai ke samping tubuhnya. Ia tersungkur ke tanah yang lembab. Dengan darah bercucuran dari dahi dan mulutnya.

Kalut, Jejung berhambur memeluk Yunho. Meski ia tahu, Yunho tak menginginkannya. Karena seperti yang dikatakan oleh Yunho sebelumnya, ia menginginkan Changmin. Bukan dirinya. Jadi sudah pasti, Yunho pasti ingin Changmin yang memeluknya sekarang.

Yunho menghembuskan napasnya untuk terakhir kali. Membiarkan tubuhnya terbuai oleh isakan Jejung yang tak ada habis-habisnya. Sementara Changmin mematung diam tak bergerak.

Bukan karena tak tega. Bukan pula karena ia tak perduli. Changmin memutar tubuhnya dan berjalan pergi dari sana, karena ada sesuatu yang terasa perih di dalam tubuhnya. Ia tak tahu apa itu. Tidak pula ingin tahu.

Namun setitik air mata jatuh di pipinya tanpa seijinnya. Dan Changmin hanya bisa memacu langkahnya, supaya Jejung tidak mendengar suara tangisan darinya.

Karena bagaimana pun juga, ia hanya ingin menangis untuk beberapa saat setelah lelaki yang dicintainya memilih untuk pergi dengan cara yang begitu tragis.

-The End-

3 thoughts on “Let Go…!

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s