The Choi’s Little Sister [Special!]


The Choi’s Little Sister|Drama, Family, Romance|PG-13

Happy New Year!

.

the-chois-little-sister-special-jpg

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

                                                                                                       .          

The Choi’s Little Sister [Special!]

All Choi Family Casts

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

16.02

OMMO—ommo!”

Choi Minho berdecak kesal. Tangannya yang memegangi pinggang sang ibu langsung diturunkan. Lampu kerlap-kerlip yang sedari tadi berusaha ibunya kaitkan di dekat pohon tak kunjung berhasil.

Memang dasar ibunya yang lucu. Ini acara tahun baruan, bukan ulang tahun Jinri yang kelima atau apa—lagian Minho yakin Jinri sudah cukup besar untuk menolak punya acara ulang tahun yang diadain di rumah pake lampu kerlap-kerlip. Dan yang paling menggelikan, ibunya itu berkeras memasang sendiri sang lampu. Ck.

“Ommo, hei, Minho ya! Jangan kau lepas tanganmu itu. Kalau ibumu ini jatuh bagaimana? Ya!”

Minho menatap jengah ibunya.

“Minho yaa!”

Pemuda itu menghela napas. Anak dan ibu sama saja bawelnya.

“Sudah, eomma turun saja, biar aku yang pasang,” ujar pemuda itu akhirnya. Diangkatnya badan ramping sang ibu turun dari bangku kecil tempat wanita itu tadi berpijak. “Sini,” katanya meraih lampu itu dan langsung dikaitkannya di pohon, tanpa perlu bantuan bangku kecil atau bahkan tangga.

Minho dan ibunya menatap lampu itu puas.

“Nah, gitu kan enak. Coba dari tadi kamu pasang jadi eomma nggak perlu naik-naik bangku segala, kan,” ujarnya sebelum pergi mengecek hal lain. Rasanya Minho sudah mau muntah. Memangnya siapa yang tadi berkeras untuk memasang lampu kerlip itu sendirian? Oh, Ya ampun.

Minho menghela napas. Sealay-alaynya ia—dan selebay-lebaynya Jinri dan Soojung dan Sooyoung digabung menjadi satu, rasanya ibunya masih jauh lebih alay. Wanita yang melahirkannya itu bermaksud merayakan tahun baru bersama teman-teman anaknya di halaman depan rumah. Minho yakin ibunya ingin membaur—dilihat dari sifat ibunya yang supel dan senang bergaul—tapi ayahnya jelas punya maksud tersendiri.

Pemuda itu mengangguk mengangumi teorinya. Choi Seunghyun pasti ingin bertemu pacar anak-anaknya. Minho lalu melipat tangan dan beranjak masuk ke rumah—sesegera mungkin mengabari sang kakak mengenai berita ini.

“Aku sudah putus sama Tiffany,” kata Siwon, mengangkat alis bingung melihat adiknya yang langsung jatuh pingsan.

Dibantu Yoseob ahjusshi, Siwon mengangkat meja yang mana nantinya akan digunakan sebagai tempat menyimpan berbagai makanan dan snack. Diletakkan di tempat paling pinggir, karena rencananya di tengah nanti akan jadi tempat untuk menyalakan kembang api. Dari ekor matanya dapat dilihat Gikwang ahjusshi yang juga sibuk mengangkut meja barbeque, diikuti Hara ahjumma dengan sutilnya.

“Eomma, ini ditaruh di mana?” seru Siwon, memanggil ibunya yang baru saja masuk ke halaman belakang. “Letakkan di situ saja, Siwon ah,” katanya. Siwon mengangguk dan hendak membantu Yoseob ahjusshi mengangkat benda lain kala didengar ibunya memanggil lagi.

“Ah, adikmu yang kecil itu mana? Kok suaranya nggak ada?”

Siwon meringis teringat Jinri.

Sekarang sudah tanggal 31 Desember 2012. Besok tahun baru—atau nanti malam?—tepat sekali. Awalnya acara ini akan diadakan di halaman depan, namun ditolak Jinri mentah-mentah. Akhirnya terlaksanalah di halaman belakang, jelas karena di belakang jauh lebih luas dan lebih nyaman untuk menyelenggarakan acara beginian.

Ibunya memang punya semangat juang yang luar biasa, rela mempersiapkan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain (maksudnya dengan bantuan orang rumah saja). Tahun lalu perusahaan Choihwang mengadakan pesta di halaman belakang juga. Acara besar seperti itu selesai persiapannya dalam kurun waktu 3 hari, karena ayahnya menyewa banyak orang untuk membantu.

Padahal mereka bisa melakukan hal yang sama—menyewa orang juga—dan ibunya tidak perlu lagi repot ke sana-ke mari menyiapkan hal ini.

Tapi itulah istimewanya. Siwon yakin ibunya punya semangat nasionalisme ‘45 yang menggelora di dada.

“Tadi dia ngerengek mau makan rainbow cake,” Siwon angkat bicara. “Minho marahin dia karena Hara ahjumma udah capek nyiapin yang lain—masih mau kue juga dia. Akhirnya Sulli pergi beli kue sama appa.”

Ibunya memutar mata salut. “Anak itu, masih mau kue juga. Ya sudah, tak apa. Teman-temanmu datang jam berapa Siwon ah?”

“Jam delapan, Bibi,” ujar seseorang dari jalan masuk ke halaman belakang. Sooyoung tersenyum dan segera membantu bibinya itu menata hidangan di atas meja. “Tapi menurut analisis detektif Choi Sooyoung, mereka nggak akan datang tepat waktu” lanjutnya.

Bibinya itu tertawa. Sebelum matanya melirik tangan Sooyoung yang berusaha melipat tisu makan dengan cara yang aneh—tisu itu diremasnya. Diremasnya.

“Aku sudah mengundang teman-temanku, bibi, juga teman Siwon, Minho dan Sulli. Dengan rayuan maut, kupastikan mereka akan datang. Kalau mereka nggak datang juga, humn. Tangan ini sudah siap perang,” Sooyoung mengepal tisu makannya dan meninjunya ke atas. “Bersiaplah hei kalian, geng Choi Minho. Kubantai kalau tidak datang.”

Park Bom melirik tumpukan tisu makan yang belum selesai dilipatnya, meskipun sudah ada Jiyeon di sebelahnya membantu, dadanya melirik khawatir. Imajinasinya berkeliaran membayangkan Sooyoung yang melipat semua tisu makannya.

“Ibumu mana, Sooyoung ah? Harusnya daging yang kita pesan sudah sampai sekarang,” ujar ibunda Jinri itu. Sooyoung—tanpa dosa—membuang tisu bulat sempurnanya ke rumput. Perhatiannya teralih.

Gadis itu mengangkat wajah. “Oh, iya. Biar kucari dulu, bibi” dan gadis itu pergi begitu saja, menyusuri jalan ke halaman depan yang padat oleh Jia dan Eunjung yang bolak balik mengangkut hal-apa-itu-yang-Sooyoung-tidak-tahu.

“Eomma!” serunya, memasukkan kepalanya—hanya kepalanya—ke pintu rumah Minho yang besar. Jelas tidak memperdulikan pelayan lain yang bolak-balik di aula depan dari dapur ke halaman belakang. “Eomma, dagingnya sudah datang belum?!” serunya lagi.

Hening.

Ia membalikkan badan dan berjalan menuju rumahnya di sebelah, di mana orang juga masih sibuk berkeliaran. Rasa senangnya mengiringi senyuman.

Acara tahun baruan ini nampaknya akan menyenangkan. Sooyoung sudah menyusun rencana untuk mempermainkan teman-temannya Minho yang menyebalkan dengan kembang api. Anak-anak itu memang sok gaul banget, dan mereka mestinya pantas dapet pelajaran dari Sooyoung. Gadis itu terkekeh sendiri.

“Ih, eonni gila, ya? Ketawa sendiri sore-sore,” suara anak kecil. Sooyoung menoleh dan mendapati Jinri berdiri di depannya dengan bungkusan gede di tangan.

“Siapa yang gila, huh? Aku yang cantik ini masih normal, Sulli sayaaang,” jawabnya. Adik sepupunya itu menjulurkan lidah meledek. Sooyoung sudah mau menyenggol lengannya begitu menyadari ada bungkusan besar itu di dada Jinri. “Apaan, tuh?” tunjuknya.

Senyum Jinri yang dari sananya memang sudah kayak malaikat melebar. “Rainbow cake! Hehhehe. Aku mau makan kue beginian, udah lama nggak nyoba sih.”

Bola mata Sooyoung melebar. Nampaknya Jinri melupakan satu fakta kecil yang sakral.

“Kue? Aih, aihh mana? Mana? Ayo kita makan sekaraaaang!” Sulli tersentak dan menyingkir, berlari ke dalam rumahnya diikuti Sooyoung dari belakang. “Sulli ya! Choi Jinri!”

Jinri berhenti di dapur, memastikan Sooyoung tidak mengikutinya dan meletakkan kuenya yang berbungkus kardus khusus kue itu di atas meja makan. Nafasnya terengah. Sungguh Jinri lupa Sooyoung adalah pemakan segala. Kesalahannya sudah pamer kue di depan Sooyoung. Ini bahaya beneran. Jinri tahu betul tabiat makan kakak sepupunya itu.

Gadis itu menahan napas kala membuka penutup kue warna-warninya. Sesuai dengan namanya, lapisan dalam rainbow cake ini berwarna-warni. Persis mejikuhibiniu. Bentuknya tabung tinggi. Bagian luar sang kue dilapisi dengan krim putih yang dingin menggelora. Segala warna yang tertera di sana membangkitkan hasrat Jinri untuk segera melahapnya habis. Sebelum ia teringat Krystal dan berjanji pada diri sendiri untuk berbagi dengan sahabatnya itu.

“Kuenya mau dimakan sekarang atau ditaruh di halaman, nona?” suara Hara ahjumma mengagetkannya, membuat Jinri menoleh.

“Oh, nggak. Ini mau kumakan nanti kalau Krystal sudah dateng.” Jinri mengangkat kuenya, berjalan melewati Hara ahjumma menuju kulkas dua pintunya, sebelum memasukkan kue itu ke sana. “Jangan bilang ke Sooyoung eonni kalau aku taruh di sini ya, ahjumma. Oke?”

Jinri bersiul sebelum beranjak ke halaman belakang, ke tempat ibunya. Otaknya sudah berfantasi akan memakan kue warna-warinya dengan krim yang dingin seperti es krim itu nanti sendirian—berdua dengan Krystal.

Bibirnya mengukir senyum.

The Choi’s Little Sister

20.28

MATA Sooyoung melebar melihat sebuah motor yang datang melaju memasuki pekarangan depan rumahnya. Kendaraan itu berhenti di halaman depan, tempat yang memang sengaja dipersiapkan sebagai lapangan parkir untuk acara malam ini. Lampu jalannya yang menyilaukan seketika mati kala Sooyoung mendekat.

“Jonghyun ah!” panggil gadis itu riang. Senyum di pikiran dan bibirnya terpajang jelas. Rencana maut dalam otaknya tertata rapi, siap dilaksanakan.

Pemuda itu memarkirkan motornya dan membuka helm. “Oi, noona.”

Senyum Sooyoung mengembang. “Wah, sayang sekali kau terlambat. Onew dan Kibum sudah asyik mainin si Sulli,” dirangkulnya teman adik sepupunya itu dan menggiringnya menuju rumah dan halaman belakang.

“Benarkah?” Jonghyun kecil tingginya hampir setara dengan Sooyoung—wajar keluarga Choi, DNA mereka memang tinggi tulang.

“Uhmn, Tapi aku tahu gimana caranya buat bikin gadis itu tambah nangis,” Sooyoung berhenti berjalan. Jonghyun menatapnya dengan alis penasaran dan Sooyoung membisikan hal itu. Tentang kue itu.

Sooyoung terkekeh melihat dengan mudahnya Jonghyun tertipu. Matilah pemuda itu kena tangis Jinri sepanjang malam. Delapan belas tahun hidup hal yang paling ditakutkan Sooyoung adalah tangisan Jinri. Sungguh, air matanya lebih parah dari tsunami. Well, setidaknya dia bakalan dapet kue itu, hahhaha.

Gadis itu berjalan lagi ke depan, memperhatikan semua kendaraan yang memasuki kompleks rumahnya. Dengan papan jalan di tangan, Sooyoung menjadi penerima tamu. Semua daftar temannya dan bahkan teman ayah ibu Siwon ada di sana. Dan ia sungguh senang bertemu dengan orang baru.

Ia baru saja mengantar Donghae—teman Siwon—ke pekarangan belakang ketika dilihatnya siluet seseorang turun dari mobil. Sooyoung menelan ludah.

Itu Yoona. Im Yoona.

Dada Sooyoung langsung membara melihat gadis itu berjalan menuju halaman belakang dan ia lalu menyapa anak kelas 3 di halaman belakang—teman Siwon, temannya juga.

Marahnya membuncah. Sooyoung pergi, menghampiri Siwon sekali dapat melihat pemuda itu sedang di ruang keluarga rumahnya, mempersiapkan kamera DSLR Nikon D90 yang hendak digunakannya untuk acara kembang api nanti.

“Siwon ah,” desisnya.

Pemuda itu mengangkat wajah. “Hei, Sooyoung. Lihat ini? Kamera yang waktu itu ibumu inginkan di—“

“—Kenapa kau undang Im Yoona?” Siwon mengerutkan alis, Sooyoung memotong kalimatnya.

Setiap anggota keluarga sebelum ini membuat daftar tamu tentang orang-orang yang hendak mereka undang. Dan tak diragukan lagi Siwonlah yang mengundang Yoona datang.

“Apa? Untuk apa aku mengundangnya?” elak Siwon, berpaling dari kameranya di sofa dan berdiri tegak. Menatap sepupunya yang berjalan mendekat dari pintu ruang keluarga.

“Jadi kenapa dia datang tadi? Kalau bukan kau siapa lagi yang mengundangnya?” Sooyoung menelan ludah. Jelas tidak terima temannya diperlakukan seperti ini. “Tidak tahukah kau bagaimana perasaan Tiffany kalau melihat Yoona ada di acara ini bersamamu? Kalian baru saja putus, dan sekarang kau sudah bersama Yoona!”

Siwon mengangkat alis heran. Pemuda itu menelan ludah. “Hei, dengar. Aku nggak pernah ngundang Yoona, dan aku sama sekali nggak punya hubungan apa pun dengannya.” Jelasnya.

Sooyoung memutar alis kesal. “Kau menyebalkan, Siwon ah. Tiffany temanku, dan untuknya akan kuusir gadis sok polos itu dari sini.” Choi Sooyoung memutar badannya kesal. Napasnya memburu. Jalannya cepat dan tidak dihiraukannya kala seruan, “Ya, Choi Sooyoung! Sulli yang mengundangnya, bukan aku!” dari Siwon yang mengejarnya.

Dasar menyebalkan. Benar-benar tidak tahu perasaan wanita.

Ia sudah akan mencarut dengan sumpah serapahnya kala Sooyoung melihat mobil putih meluncur memasuki pekarangan, berhenti di parkiran.

“Yuri yaaa!” panggilnya senang, Sooyoung berjalan menghampiri mobil itu dan menyambutnya.

Telinga Minho berdiri. Tentu, ia pasti tidak salah dengar. Tadi itu nama Yuri disebut. Kalau bukan Kwon Yuri, Yuri mana lagi yang jadi temannya Choi Sooyoung?

Mata Minho bergerak mengikuti Sooyoung yang menuntun Yuri ke halaman belakang, mempertemukan gadis itu dengan teman-teman Siwon yang sudah hadir di sana. Di tengah halaman belakang, mereka sedang menyusun kayu bakar untuk dijadikan api unggun. Rencana dinyalakan setelah kembang api berkobar.

Yuri tertawa kala Leeteuk menyebut satu hal lucu yang tidak didengarnya, dan demi apa pun itu membuat darah Minho beku. Bola matanya melebar ketika Yuri terbahak dan memegang lengan Ryeowook di sebelahnya, senangnya terpancar di mata Yuri.

“Oi,” sesuatu menyodok kepalanya, membuatnya hampir tersungkur ke depan.

Minho membelalak dan membalikkan badan. Dilihatnya Jonghyun habis mendorong kepalanya dengan kayu bakar. “Apaan tuh?” erangnya.

“Si Yuri masih cantik aja, ya,” bisik Jonghyun tepat di telinga Minho. Pemuda itu tersentak, mengikuti arah pandang Jonghyun akan Yuri di tengah halaman. “Berisik kamu,” sahutnya.

Pemuda ini dan gengnya diberi kesempatan oleh ibunda Minho untuk mengangkut kayu bakar dari sisi lain halaman. Syukurnya pemuda-pemuda sok kuat ini menyanggupi—belum sadar betapa banyak kayu yang harus mereka angkut. Jadi ini dia, kuli kayu bakar keluarga Choi di malam tahun baru.

Minho sudah akan melempari Jonghyun dengan batangan kayu di tangannya—kala ia teringat sesuatu.

Apa yang akan terjadi ketika Krystal-nya bertemu dengan Yuri? Yuri sudah ada di sini, dan Krystal pasti akan datang nanti—melihat hubungan persahabatan anehnya dengan Jinri.

Oh, tidak. Tidak. Minho tahu betul bagaimana sifat Krystal dan bahkan tak sanggup membayangkan bencana apa yang akan terjadi begitu Yuri bertemu dengan Krystal. Ia harus menyingkirkan Krystal—atau Yuri, dari sini. Eh, tunggu. Kenapa tidak ia saja yang menyingkir? Choi Minho pintar.

Brak!

Minho menjatuhkan seluruh kayu di pergelangannya dan langsung bersitatap dengan Jonghyun.

“Apa?”

“Kita… Ayo pergi beli kembang api, Jonghyun ah. Pake motorku saja,” dengan mata bulat besar ia sukses mengelabui Jonghyun untuk ikut beli kembang api dengannya (entah keluarga ini atau Jonghyun yang memang gampang dikibulin).

Sebelum pergi Minho menyempatkan matanya melirik ekspresi Yuri di sana, dan tahu bahwa darahnya masih berdesir kala melihat wajah Yuri, Minho yakin ini salah. Ia memang harus kabur.

Maka pergilah dua sejoli ini menuju garasi rumah Minho, bersusah-payah Minho ambil jalan putar hanya agar ia tidak melewati halaman tempat api unggun untuk bertemu Yuri.

“Tunggu sebentar, aku ambil kunci motor,” Minho lihat Jonghyun mengangguk dan sempat-sempatnya teman Minho itu berjalan menuju dapur.

Benar, ia harus pergi dari sini. Tak ingin raganya melihat pertengakaran antara dua gadis seksi emosional ini di rumahnya. Dan sebagai biang kerok, Minho yakin solusinya adalah kabur.

Oppa mau ke mana?”

Oh, crap. Suara lembut nyaring ini, yang sedari lahir terus membuat hidupnya tak tenang. Minho menarik napas, siap memasang senyum tertampan ketika membalikkan badan dan menatap Jinri.

“Aku mau beli kembang api, Sulli ya. Tolong bilang eomma, oke?”

Tanpa bisa Jinri balas kalimatnya, pemuda itu sudah keburu lari dengan jaket dan helm menuju pintu depan. Jinri mengerutkan alis. Rasanya baru kemarin ayahnya, Siwon, Gikwang ahjusshi dan Minho sendiri pergi berempat membeli kembang api. Bahkan mereka membeli kembang api terbesar yang dijual di Seoul.

Jangan-jangan kakaknya itu terkena amnesia atau apa?

Jinri menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ah, tidak. Apakah Minho sakit, amnesia, bangun tidur terlambat, kena marah eomma, semua itu bukan urusannya. Toh pemuda itu juga tak mengurusinya balik.

Gadis ini tersenyum, menatap pantulan tubuhnya di cermin dapur dan meneruskan perjalanan menuju kulkas. Ia baru saja mandi dan berganti pakaian—jangan tanya kenapa Jinri mandi jam delapan malam—dan dengan pakaian serapi ini ia sudah siap. Untuk menunggu datangnya Krystal sambil makan kue.

Masih senyum, Jinri meraih kenop pintu kulkas. Dilakukan semuanya dengan slow motion, tak ingin kehilangan momen makan-kue-nya satu pun. Pintunya terbuka dan kuenya tak ada.

Kuenya tak ada.

Jinri menelan ludah. Matanya melebar. Seluruh kulkas itu dibongkarnya mencari keberadaan kue warna-warninya yang luar biasa itu. Hey, siapa yang tidak ingin makan rainbow cake dengan ukuran sebesar laptopmu sendirian? Jinri saja mau apalagi Sooyoung.

Sooyoung.

Ia berhenti mencari dan mengangkat wajah. Kue itu tak ada di kulkas. Dan satu-satunya oknum yang tahu keberaan sang kue hanyalah ayahnya, Hara ahjumma, dan Sooyoung. Dua nama itu tak mungkin, karenanya dengan kecepatan cahaya Jinri sudah ada di halaman belakang, berdiri di pintu masuknya mencari keberadaan sang kakak sepupu.

“Hei, Sul,” seseorang panggil namanya. Ia menoleh, Onew dan Kibum—teman Minho—berdiri dengan kue warna-warni di masing-masing tangan. Dengan piring kue kecil dan sendok.

Matanya copot. Itu kuenya. Itu kue Jinri!

“Kueku!” pekiknya, dalam sekali gerakan meraih mangkuk kue Onew dan Kibum paksa. Ditatapnya kedua teman kakaknya itu sangar. “Yah! Di mana kalian dapat kue ini? enak saja main makan kue orang tanpa izin!”

Onew dan Kibum saling berpandangan heran. “Hey, Sul, kue ini ada di atas meja di sana itu. Kau ini apa-apaan?”

“APA?” Jinri mengalihkan pandangannya, menemukan kue pelanginya di atas meja yang tinggal seperempat lagi. Gadis itu menarik napas. Ya ampun, ya ampun. itu kuenya. Kuenya. “Ya! Siapa yang menaruh kueku di situ?” bentaknya.

Jinri tahu Onew dan Kibum sedang menahan tawa, lebih dari dua tahun mengenal tabiatnya, Minho oppa dan gengnya memang suka menganggu hidup Jinri. “Bukan aku, Sul, tenang. Itu si Jonghyun.”

Mulutnya turun tiga senti—ah tidak, tidak. Hampir sepuluh centi malah. Gadis itu membalikkan badan dan berjalan lurus menuju kuenya. Pantas tadi Minho berbohong hendak beli kembang api. Ia dan Jonghyun berusaha kabur darinya rupanya. Tunggu saja pembalasanku, pikir Jinri.

Tangannya sudah lima meter lagi mencapai kue, ketika dua pasang tangan memotong kue itu di hadapan Jinri, menaruhnya di atas piring kecil dan melahapnya habis. Jinri mengangkat wajah tak tahan.

“Wah, ada pembantu. Ahjumma, tolong belikan rainbow cake ini lagi ya, aku masih mau lagi ahjummaa~”

Jinri menelan ludah menatap ekspresi menjijikan Eunhyuk—salah satu teman Siwon. Di sebelahnya ada Yoona yang tersenyum manis. “Kudengar kue ini milikmu, enak sekali, Sulli ya. Thanks, ya,” senyumnya.

Duar!

Rasanya ada yang meledak di kepalanya. Jinri membalikkan badan, siap menumpahkan keluh kesahnya ketika Krystal datang nanti. Kepalanya tertunduk, sadar ia masih mengenakan sandal kamarnya di halaman. Tubuhnya lunglai.

Bahkan ketika Siwon berkata, “Hey, Sul, kamu kenapa?” yang tidak diperdulikannya. Gadis itu terus berjalan jauh.

Siwon mengerutkan alis melihat ekspresi adiknya, ia sudah hendak mengejarnya ketika matanya berpaling menatap Yoona di depan meja hidangan. Gadis itu sedang memakan kue, Siwon menolehkan kepalanya dan menyadari itu rainbow cake idaman Jinri—yang sudah habis digilas. Pemuda itu menghela napas melihat Eunhyuk yang tertawa di sebelah Yoona.

Lagi-lagi mereka mempermainkan Jinri. Kali ini pasti ulang Sooyoung, karena Siwon yakin diantara mereka, yang tahu Jinri pergi membeli kue kan hanya keluarganya sendiri—kecuali Krystal, ya.

Pemuda tinggi tegap itu menunduk menatap kabel ditangannya, sebelum dilanjutkannya pekerjaan yang tadi tertunda. Jam sembilan acaranya adalah menonton film, dilanjutkan dengan menyalakan api unggun sambil bakar-bakaran. Kalau ada yang punya games maka mereka bisa main. Sebelum jam setengah duabelasnya mereka nyalakan kembang api.

Ponselnya berbunyi dan seketika Siwon menoleh. Diraihnya sang ponsel, dan ia menghela napas lelah.

Sooyoung berbuat ulah (lagi). Gadis itu mencaruti Siwon di timeline twitternya. Meskipun tidak langsung memention, tapi nama ‘Choi Siwon’ tertera di tweet itu.

Isinya tentang Siwon pria jahat tukang selingkuh, dan nama Yoona juga ada di sana.

Pemuda itu menghela napas, menatap bintang di langit. Ya tuhan, demi apa pun bukan ia yang mengundang Yoona. Lagipula hubungan mereka berdua tidak begitu dekat, hanya sebatas teman satu OSIS saja. Sudah.

“Aku nggak tahu apa hubunganmu dengan Siwon, tapi yang jelas, tolong jauhi sepupuku itu. Meskipun dia sudah putus dengan Tiffany, tapi mereka masih berhubungan dekat. Sebagai orang luar mestinya kau tidak usah menganggu.”

Suara Sooyoung.

Siwon menyipitkan matanya dan mendapati Sooyoung berdiri berhadapan dengan Yoona di pojokkan, jauh dari keramaian, tapi dekat dengan posisi Siwon. Cepat sekali Yoona berpindah dari Eunhyuk ke Sooyoung.

“Jadi sebelum apa pun terjadi, sebaiknya kau pulang,” lanjut Sooyoung. Harus Siwon akui ekspresi Yoona ketika bicara dengan Sooyoung nampak tenang dan biasa. Sungguh tegar. “Kau tidak ingin bertanggung jawab atas hilangnya eye-smile Tiffany yang menawan itu, kan?”

Sooyoung menorehkan kepalanya ke arah Tiffany di sisi lain halaman, sedang bercanda dengan Yuri dan Onew.

“Kenapa aku harus? Aku kan tidak punya hubungan khusus dengan Siwonmu.”

Pemuda itu berdecak kesal. Kenapa pula Yoona harus membela dirinya? Payah gadis-gadis ini. Mereka membuat malam tahun barunya yang menyenangkan menjadi sial begini.

Siwon bangkit berdiri, hendak berjalan mendekat dan memutuskan untuk melerai keduanya.

Mereka tidak tahu. Sungguh Yoona, dan bahkan Sooyoung, mereka mempermasalahkan hal yang tidak perlu. Sekeras apa pun usahanya, Siwon tak kan pernah jadi dengan Yoona. Secinta apa pun Yoona dengan Siwon, atau pun sebaliknya. Tak kan bisa. Jadi usaha Sooyoung sia-sia saja.

Dan mereka dengan sombongnya memperebutkan Siwon, tanpa tahu fakta yang sebenarnya terjadi.

Ia sudah terikat, sungguh.

The Choi’s Little Sister

23.07

“YA, dia berusaha menjauhiku, Sul,” Krystal mendesah kesal. Sahabat Jinri itu mendengus, sungguh merasa senang kala film New Year’s Eve yang tahun lalu diliris dan dimainkan oleh Zac Efron—oh, sungguh, pemuda tampan—itu selesai di putar. Mereka memasang layar besar, ditemani gelapnya lagit malam menonton film itu di halaman belakang.

Jinri yang diajak bicara diam saja. Sejak Krystal datang jam delapan lewat tadi, gadis itu terus saja merengut. Diajak bicara diam, digodain tidak tertawa. Diusilin pun tidak peduli. Aneh.

“Hey Sul, kamu kenapa, sih?”

Jinri menatapnya jengah. Gadis itu mendesah. “Dia nggak ngejauhin kamu, Krys. Dan kenapa kamu nggak tanya ke dia aja sendiri? Aku lagi kesel nih,” Jinri melenggang kayak orang bodoh dan berjalan menuju mereka yang sedang menyiapkan api unggun. Nampak tidak bersemangat.

“Ugh, Sul, gimana aku mau ngomong sama dia, orangnya aja ngejauhin aku terus,” Krystal mengejar Jinri dan berjalan di sebelahnya. “Hey, Sul. Sulli!”

Krystal berhenti berjalan kala Jinri tidak memperdulikannya, gadis itu justru terus berjalan dan sibuk dengan api unggun bersama orangtuanya dan beberapa teman kakaknya. Ia memutar bola matanya kesal. Sahabat yang tidak bisa diandalkan.

Gadis dengan celana selutut, beserta kaos putih yang dilapisi jaket ini mengedarkan pandangannya. Di sekitar api unggun diletakkan gelondongan kayu besar, persis orang kemping. Ayah Jinri di sana beserta Siwon, juga kakak OSIS yang Krystal ketahui bernama Leeteuk dan Donghae yang membantu menyalakan api unggun. Disekitarnya juga duduk berderet kakak kelasnya.

Jarak tempat duduknya dari api unggun lumayan jauh, mengingat kalau terlalu dekat panasnya bisa terasa. Krystal mendesah melihat geng artis sekolah—kelompoknya Sooyoung—duduk di sana sambil tertawa dengan beberapa kakak kelas temannya Siwon. Ada beberapa kakak OSIS yang hadir di sini, termasuk Im Yoona yang katanya mirip dengan wajahnya.

Minho dan geng berandalannya juga ada di sana, makan sambil membantu ibunda Jinri menyiapkan barbeque. Entahlah, sejak Krystal datang ia lihat mereka makan terus. Krystal mendesah dan melirik Amber yang juga asyik menyalakan api unggun.

Dan ia sendirian di sini.

Krystal memutar bola matanya kesal. Ia memalingkan wajah, tahu betul tadi ada orang yang meliriknya. Ia bersitatap dengan Choi Minho, sebelum pemuda itu memalingkan wajah dan kembali sibuk dengan api unggun.

Lihat, kan? Pemuda itu bahkan memalingkan wajah darinya!

“Mau?”

Ia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Kwon Yuri yang menyodorkan jagung bakar ditangannya. Krystal mengangguk, meraihnya dan ikut duduk di sekitar api unggun di sebelah Yuri. Gadis ini dulu pernah jadi teman dekat kakaknya, ketika kelas satu dulu. Sekarang nampaknya mereka pisah kelas dan tak sedekat dulu lagi.

“Terima kasih, sunbae,” bisiknya. Yuri tertawa. “Sama-sama. Omong-omong kakakmu mana? Kok nggak ikut ke sini?”

Ia meringis merasakan jagung bakar yang manis namun hambar di lidahnya. “Malam tahun baruan sama pacarnya.” Sahut Krystal.

“Oh, masih betah sama Heechul rupanya, Jessica itu,” Yuri mengangkat wajah dan bertemu pandang dengannya. “Kudengar sekarang kau pacaran dengan Choi Minho, ya?”

Krystal hampir tertohok melihat Minho yang memperhatikan ia dan Yuri dari kejauhan. Ketika matanya bersitatap dengan Minho, pemuda itu langsung memalingkan wajah dan tertawa dengan Kyuhyun, padahal jelas nggak tahu apa hal yang lucu.

“Eh, hehhe, iya, sunbae,” sahutnya canggung. Oh, betapa Krystal berharap Amber atau Jinri ada di sampingnya sekarang. Meskipun Amber akan ngomongin tentang betapa ia suka film New Year’s Eve itu nggak jelas dan Jinri yang bakalan diam saja. Setidaknya Krystal dekat dengan mereka, daripada Yuri.

Ia mengangkat wajah dan melihat Minho (lagi-lagi) memperhatikannya diam-diam dari jauh. Pemuda itu kenapa sih? Kenapa nggak langsung datengin Krystal saja?

“Aku cinta pertamanya Choi Minho, Krys.”

Krystal tersentak, membalikkan mata dan menatap Yuri sanksi. Yuri tertawa—menyadarkan Krystal betapa cantik gadis ini ketika tertawa—dan terhenyuk. Baru ia akan menjawab pernyataan Yuri kala suara Leeteuk mengentikannya.

“Nah, sebelum kembang apinya terbang di kepala kita,” ujar pemuda itu, entah kenapa suaranya yang lantang terdengar begitu besar. “Ada yang mau menyumbangkan suaranya untuk didengar?”

“Aku! aku!”

Bahkan sebelum Leeteuk menyelesaikan kalimatnya, Onew dan Jonghyun berebut berdiri di dekat api unggun dan siap menyanyikan lagu andalan mereka. Siwon yang berdiri di sebelah Leeteuk tertawa melihat kelakukan teman-teman adiknya, tidak heran mereka dekat dengan Minho, dilihat dari karakter mereka yang tidak begitu berbeda.

“Appa panggil Gikwang dan Yoseob untuk bantu menyelakan kembang api,” bisik ayah Siwon ditelinganya. Sang ayah menepuk pundaknya ringan dan berlalu.

Siwon juga hendak bersiap dengan kembang apinya, di sisi lain halaman, kala dilihatnya lagi-lagi Yoona dan Sooyoung berseteru di balik api unggun, jelas tidak menikmati kekonyolan Onew dan Jonghyun ketika keduanya bernanyi.

Ia menghela napas. Memang benar Siwon yang harus turun tangan untuk mengatasi Sooyoung ini.

Jadi diambilnya langkah tegapnya hingga sampai pada dua gadis cantik ini.  “Sooyoung ah,” panggilnya. Gadis yang paling tinggi menoleh, menyadari keberadaan saudara sepupunya itu. “Yoona ya.”

“Oh, hai Siwon,” sapa Yoona ramah yang lalu membuat Sooyoung mendelik pada gadis itu.

“Kenapa kalian tidak ikut acara api unggunnya?” tanyanya ramah, pura-pura tidak mengerti. Siwon memalingkan matanya bergantian pada dua gadis ini. “Atau kembang api? Hey, aku tahu betapa kau suka kembang api, Sooyoung ah.”

Sooyoung tertawa kecil.

Yoona diam memperhatikan dua orang ini.

Siwon menarik napas. Nampaknya basa-basi tidak perlu bagi mereka berdua. “Oke, dengar. Yang mengundang Yoona datang ke acara ini adalah Sulli, bukan aku,” tekannya. “Yang memberitahumu mengenai acara ini Sulli, kan?—Yoona mengangguk—Lagipula aku tidak punya hubungan apa pun dengan Yoona.”

Sooyoung memutar bola matanya gusar, tidak tergoyah oleh pernyataan Siwon.

“Dia benar, Sulli yang mengundangku, bukan Siwon,” Yoona tersenyum ramah pada Sooyoung dan Siwon. Entah senyum palsu atau benar-benar tulus dari hati. “Jadi boleh aku permisi? Suara Onew dan Jonghyun adalah favoritku,” lanjutnya, menggerling dua pemuda gila yang tengah berpadu suara itu.

Yoona mengangkat bahu, tersenyum lagi pada Siwon sebelum berlalu meninggalkan keduanya.

Gadis di hadapan Siwon ini menghela napas. “Kau membelanya,” tegas Sooyoung pada dirinya sendiri.

“Nggak,” geleng Siwon, menghadap badannya penuh pada Sooyoung. “Aku membelamu. Maaf sudah mengacaukan moodmu, seharusnya malam tahun baru ini menyenangkan,” ucap Siwon, membuat Sooyoung mengangkat alis terkejut.

“Dari kecil bibirmu memang pandai merayu, ya. Dasar playboy,” gerutu Sooyoung. Siwon lalu menatapnya geli, dan tanpa sadar keduanya sudah tertawa. “Selamat tahun baru, Siwon ah. Maafku untuk tweet tadi sore.”

Gelengan Siwon akan kepalanya terlihat. “Sama-sama. Tapi simpan maafmu untuk Sulli. Dia lebih butuh,” ujarnya, sebelum berbalik meninggalkan Sooyoung menuju api unggun lagi. Tepat ketika matanya bersitatap dengan Tiffany yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

Siwon tersenyum dan mengangguk pada Tiffany, membuat gadis itu tertawa dengan matanya.

Sepeninggal Siwon, gadis dengan rambut panjang sepinggang ini melangkah menuju api unggun. Mengedarkan pandangannya mencari Jinri, siap menerima konsekuensi akan kesalahan yang dibuatnya. Ia sudah membayangkan mendengar Jinri meraung dan menangis di depannya, kala gadis itu muncul. Sedang sendirian dan minum cola.

“Sul,” panggilnya, langsung berdiri di depan Jinri dan nampak membuat gadis itu terkejut.

“Apa?”

Sooyoung tertawa. Ketus sekali adik sepupunya ini berucap. “Hei, lihat eonni dong,” katanya lagi. Bibir Jinri merengut. Gadis itu berdecak sebelum berhadapan dengan Sooyoung. “Apaan?” ulangnya.

“Maaf,” ucapnya canggung. Jinri menatapnya, membaca raut wajahnya. “Maaf untuk kuemu.”

Sooyoung menunduk, sesekali melirik Jinri untuk melihat ekspresinya. Belum sempat adik sepupunya ini membalas, Sooyoung mendekat dan meraih Jinri dalam pelukannya. “Selamat tahun baru Sulliku sayaang, semoga tahun ini kau lebih tabah ketika kujahili.”

Sooyoung tertawa dan melepas pelukannya, lalu berlari menjauh. “Ya, eonni! Doa macam apa itu!” gerutunya.

Jinri menghela napas. Mudah kesal, mudah merajuk, tapi juga mudah memaafkan. Tentu, itulah alasannya kenapa orang-orang ini nggak ada kapok-kapoknya menjahili Jinri. Gadis manis ini memang baik hatinya.

“Maaf,” suara itu—menggema bagai suara tabuhan gendang ditelinganya. Jinri menelan ludah, mendengar suara langkah kaki mendekat. Gadis itu membalikkan badan dengan mata jengah.

“Maaf, Sulli, ya. Sungguh bukan itu maksudku. Kau tahu kami, kan? itu hanya main-main, okay? Lagipula dengan banyak uang yang kau punya kau bisa membeli sepuluh bahkan seribu kue yang sama nanti.”

Jinri menarik napas dan mendengus, sungguh memandang Jonghyun, Onew dan Kibum—atau Key—yang berdiri berderet di hadapannya seperti ini beneran menyenangkan.

Mata gadis ini berputar.

“Oke, kami akan belikan kue yang sama untukmu nanti. Sip? Deal?”

Mereka akan meminta maaf dan bertanggung jawab atas kuenya. Senangnya Jinri tak tertahankan, beneran, deh. Tahu betul ketika ia merajuk, semua akan berada di bawah kontrolnya.

“Janji?”

Ketiga pemuda teman baik Minho sejak SMP ini saling berpandangan, memikirkan betapa uang yang harus mereka kumpulkan untuk membeli rainbow cake besar di toko yang sama seperti yang Jinri beli. Well, itu bukannya toko murahan, mengingat Choi Seunghyun yang membayarnya.

Ketiganya menggigit bibir. “Janji,” ucapnya.

Jinri tersenyum senang. Sungguh manis senyumnya sampai suara kembang api pertama membahana di telinganya, tepat ketika ketiga pemuda sialan ini melempar air cola dingin tepat ke wajahnya. Ke wajah Jinri!

Oh, tidak.

Gadis itu mengangkat wajah, mengelap mukanya kasar dan siap merajuk lagi. Lalu dilihatnya tiga babi ini tertawa dan meraih lengannya, mengajaknya untuk menyalakan kembang api lain di langit malam.

“Selama tahun baru, Sulli ya! Hehhehehhe.”

The Choi’s Little Sister

KRYSTAL menatap gelisah pada pemuda yang sedang menghidupkan kembang api dengan­­ korek beberapa meter di hadapannya. Sudah lebih dari duapuluh pesan dan misscall dikirimnya pada pemuda itu, tak satu pun dibalas atau pun diangkatnya. Krystal tahu Minho pasti melihat pesannya, meskipun tak satu pun dibalas pemuda itu.

“Kyaa, Krys, lihat ini!” Jinri melenggang di depannya dengan kembang api kecil di tangan—itu, kembang api dengan tangkai yang berkerlip jika dibakar dan akan habis tidak sampai satu menit. Kembang api yang cocok untuk gadis macam Choi Jinri.

Krystal tertawa melihat sahabatnya berubah dalam sekejap, dan alasan konyolnya untuk merubah moodnya dalam kurun waktu sedekat ini.

“Amber hyung, punyaku lama matinya, hahha” tawa Jinri lagi, pamer di depan Amber yang sedang menyalakan kembang api roket yang akan meluncur indah di langit. “Heh, itu belum ada apa-apanya dengan punyaku. Lihat ini Sul, lihat.”

Amber menghitung mundur satu dua tiga sebelum meluncurkan kembang apinya dilangit. Merah menyala bagai komet berputar di sekeliling mereka. Mengelilingi halaman belakang rumah Jinri sebelum buyar dengan cara yang indah. Amber dan Jinri menganga melihat cantiknya kembang api itu, sementara Krystal hanya bisa tersenyum.

Gadis itu menoleh lagi pada Minho, tepat ketika pemuda itu juga menatapnya balik. Mereka bertatapan sejenak sebelum Krystal mendesah.

“Bodoh!” desisnya, menggerakan mulutnya pelan-pelan agar Minho bisa membaca gerak mulutnya. Pemuda itu mengerutkan alis sebagai respon, mengangkat bahu dan pergi berlalu.

Jung Soojung mengela napas untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana ia bisa meyakinkan pemuda itu jika bicara dengannya saja Minho tak mau?

Akhirnya Krystal meraih ponsel, mengetik pesan pada pacarnya untuk yang kesekian kalinya jam dua belas malam itu. Yang dikirimnya ‘Beruntung Yuri sunbae disukai olehmu. Ia gadis yang luar biasa.’

“Krystaaal! Ayo kita bantai Jonghyun oppa, nantang main kembang api tuh dia,” Jinri meraih lengannya dan membawanya menjauh. “Siap, Sul? Kita luncurkan yang ini!” seruan Amber membahana di telinga Krystal membuat gadis itu terbawa atmosfer dan tertawa.

Ponselnya bergetar.

Ia melirik Minho di seberang sana yang sedang joget konyol dengan Eunhyuk dan Donghae, yakin pemuda itu yang mengiriminya sms. Krystal meraih ponselnya dan terdiam.

‘Maaf, Krystal.’

Gadis itu mendengus. Sungguh ini bukan masalah besar. Kenapa pemuda itu mesti lari darinya begini? Menyebalkan. Dasar cowok payah. Ganteng dan sok keren pula. Bagaimana Krystal bisa menahan hatinya untuk tidak terus menyukai lelaki payah ini?

Ia menarik napas panjang. Dilihatnya langit malam bertabur bintang nampak semakin lengkap dengan hadirnya puluhan kembang api dari kompleks rumah keluarga Choi ini. Di sini ia bersama sahabatnya, dan pacarnya yang luar biasa.

Syukur apa yang tidak bisa Krystal panjatkan untuk tahun ini?

Dan tentu hatinya berharap rasa syukur ini bisa terus ia ucapkan sampai tahun dua ribu tigabelas mendatang. Merasakan bahagia yang meledak tenang dalam tubuhnya. Diraihnya sang ponsel sebelum tersenyum dan mengetik balasan untuk Choi Minho.

‘sama-sama. Selamat tahun baru juga untukmu, Minho oppa.

End

Happy new yeaaar~ hope God will bless us this year =)

Sebenarnya euforia tahun baru sudah lama lewat, dan ff sudah dipost di blog pribadi saya. Tapi rasanya belum lengkap kalau nggak dipost di sini juga, so here we goo :3

Next chapter will be The Choi’s Little Sister by Choi Siwon. Please look forward to it, okay? Hehhehe. I love you!

15 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Special!]

  1. haha ngakak banget bacanya yg bikin ngakak kenapa member beast jadi ahjussi terus bias gue TOP jdi abeojji nah si hara jdi ahjumma haha bener2 deh lucu ditunggu next chap nya pasti seru deh hwaiting thor!!!

  2. Choi family aneh2. . . Jonghyun berubh plos gtu y? Mau ja dikibulin sma sooyoung & minho…klo blh ksh usuln bhsny lbh diprhls lg soalny da bbrp kt yg krang enk klo diucpkn sprti ‘bungkusn gede’ mgkn bsa gnti dgn ‘bngksn bsar’, ‘sudah kya’ mgkn dgnti dgn ‘sudh sprti’. . .tp smwny kttp sma alur crtany yg kocak bgt hahaha eomma ny minho segaul apa y? Smgt bgt nyiapin smwny sndri? Dan satu lagi. . .amber koq jd namja y? Amber hyung td q bca, apa emg typo?. . .tp daebbak bkn senyum2 gje bcanya fighting

    • haloo, wah makasih atas masukannya, ya, menjadi koreksian saya ke depannya untuk menulis lebih baik lagi, dan hati-hati tentunya.😉

      saya sudah percah coba untuk menulis demikian, seperti ‘bungkusan besar’ dll. hanya saja rasanya kurang sreg sama tema cerita part yang ini. mungki di chap berikutnya akan diusahakan. hehhehhe nggak koook, amber masih cewek tuleeeen. itu mah sengaja si Sulli iseng aja manggil dia hyung gitu =p

      well, overall makasih udah baca yaaa. thank youuu~

    • huh? memangnya siapa yang bilang bakalan ada taemin? *pasang muka polos*
      dengan siapa yaaa? hehhe mohon ditunggu kelanjutannya aja dehh thanks for reading sayy😉

  3. wah baru baca mian kayaknya telat banget ya .-.
    sumpah soo emang gak salah punya julukan evil princess😀
    ceritanya bagus banget dan konyolnya juga dapet
    good job!
    next part ditungguin🙂

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s