Music and Lyric [chap. 8]


Title : Music and Lyric [chap. 8]

Author : @Idznimitsali (Idzni Mitsali)

Genre : Romance, Friendship.

Cast : Krystal Jung, Choi Minho, Kim Jong-In and Bae Suzy.

Other cast : Choi Siwon, Lee Donghae, Jessica Jung, Im Yoona, and others.

Type : Chapter

 music and lyric

“Dimana Eomma meletakkan pot itu?” tanya Krystal pelan pada dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling gudang.

“Oh, yeogida!” Krystal langsung menghampiri rak tinggi yang terdapat di pojok gudang ketika melihat pot yang terbuat dari plastik itu disana. Dia berjinjit untuk bisa mengambil pot yang berada di deretan paling atas rak tersebut.

Tapi, memang sial nasib Krystal. Saat tangannya sudah mencapai pot dan hendak menarik benda tersebut, kakinya tidak kuat menahan badannya sendiri dan menyebabkan pot yang dipegangnya menyengol sebuah kotak disebelahnya. Kotak dan pot tersebut jatuh bersamaan menimpa kepala Krystal dan membuat Krystal langsung terduduk di lantai.

“Ah, jinjja!” ucap Krystal sambil mengelus kepalanya yang tertimpa pot, sedangkan kotak tadi sudah memuntahkan segala isinya.

“Apa ini?”

Krystal mengambil barang-barang yang kini berserakan. Terdapat berlembar-lembar foto bertebaran dan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam.

Krystal mengambil foto-foto tersebut dan mengamati momen yang diabadikan disana. Jantungnya seketika berdebar ketika melihat satu demi satu kumpulan foto tersebut. Garis wajahnya menegang ketika membaca tulisan-tulisan tangannya di masing-masing foto.

“Krys?”

Suara Minho terdengar memasuki gudang. Krystal tidak menjawab, lidahnya terlalu kelu untuk bersuara. Pikirannya masih melayang kemana-mana.

“Krys, ada apa?” tanya Minho ketika sampai di dekat Krystal. Krystal masih tidak menjawab. Dia hanya memberikan apa yang tadi dilihatnya pada Minho.

Setelah Minho mengenggam semua foto itu, Krystal mengambil kotak kecil beludru berwarna hitam tadi. Dibukanya kotak tersebut dan membuatnya makin terkejut.

Dia menjatuhkan kotak beludru itu dan menekan kepalanya yang tiba-tiba pusing bukan main dengan berbagai pikiran berkelebat cepat disana.

“Aaaaah,” Krystal mengerang sambil memejamkan matanya. Minho melempar foto-foto yang baru dilihatnya dan menelungkupkan kedua tangannya di wajah Krystal yang sudah pucat pasi.

“Krys, gwenchana?

Krystal tidak sempat menjawabnya karena tubuh gadis itu langsung terkulai di pangkuan Minho.

 

 

“Dia hanya terguncang. Hati dan pikirannya belum bisa menerima memori yang memaksanya untuk mengingat semua itu.” ujar Kim Tae-Hwan, dokter pribadi keluarga Jung pada Jessica dan Minho setelah memeriksa keadaan Krystal yang sekarang terbaring tak sadarkan diri.

Kim Tae-Hwan mengelus bahu Jessica, “Tenanglah, Jess! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Ne. Terimakasih, Ahjussi.” jawab Jessica.

“Ini resep obat penenangnya. Aku tadi buru-buru kesini dan tidak sempat mengambil persediaan yang ada di rumah. Tidak apa-apa ‘kan kalau kau membelinya sendiri?”

“Iya. Tidak apa-apa.” Jessica mengambil kertas yang disodorkan oleh Kim Tae-Hwan.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!”

Ne.

Jessica dan Minho mengantar Kim Tae-Hwan sampai ke depan pintu. Sesaat setelah mobil Kim Tae-Hwan pergi, Jessica langsung mengambil kunci mobil dan dompetnya untuk pergi ke apotek.

“Biar aku saja yang membelinya, Noona.” Minho menawarkan diri.

Aniya. Kau jaga Krystal saja bersama Shin Ahjumma.” Jessica menolak halus sambil tersenyum pada Minho.

“Baikalah. Noona hati-hati, ya!”

Jessica mengangguk lalu pergi meninggalkan Minho dan Krystal.

Setelah mobil Jessica terdengar menjauh, Minho mendekati tempat tidur Krystal. Dia duduk tepat disisi ranjang besar itu sambil mengamati Krystal yang belum sadarkan diri.

Tangannya terulur menyentuh pipi Krystal lembut namun berhenti ketika dia melihat darah di pelipis Krystal.

“Sepertinya terluka karena tertimpa pot tadi,” ujar Minho pelan.

Minho kemudian berjalan ke luar kamar dan kembali beberapa saat kemudian sambil membawa kotak P3K. Dengan hati-hati, dia menyeka darah yang ada di pelipis Krystal dan menempelkan sebuah plester disana.

Setelah selesai, Minho kembali mengamati Krystal. Memandangi gadis yang kurang lebih tiga minggu ini menjadi orang asing baginya, membuat Minho baru menyadari bahwa dia begitu merindukan Krystal.

Dengan kesadaran yang menghilang entah kemana, Minho mendaratkan sebuah kecupan di kening Krystal.

“Mungkin ini terakhir kali aku memandangimu tidur, Krys.”

 

 

Gadis itu baru saja membuka tasnya untuk mengambil buku tugas ketika melihat sepucuk surat berwarna merah muda di dalam sana. Dia mengambil surat tersebut dan membukanya.

‘The most I’m saying is ‘I’. The most I have is ‘LOVE’, and the most I can’t left is ‘YOU’. Would you be my girl?’

 

 

“Oppa, lihat sini!” gadis itu meletakan sikutnya di bahu namja yang baru saja dia minta untuk menatapnya.

“Mwoga?” tanya namja tersebut yang tak lain adalah kekasih sang gadis.

“Amber! Cepat ambil foto kami!”

Amber yang baru saja akan mengambil foto Sulli dan Taemin langsung berbalik dan memotret dua sejoli tersebut dengan menggunakan polaroid yang digenggamnya. Setelah foto tersebut keluar dari kamera polaroid tadi, Amber memberikan foto itu pada pada gadis yang tadi memanggilnya.

“Ah, ige mwoya? Kenapa Oppa malah menatapku bukan menatap kamera?” gadis itu menghentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibir. Namja tadi mengambil foto tersebut dari tangan si gadis dan tersenyum ketika melihatnya.

“Aku hanya ingin menatapmu, bukan yang lain.

Wajah gadis itu seketika bersemu merah.

 

 

“Oppa!”

Namja itu berbalik dan melihat gadis yang paling disayanginya sedang membidiknya dengan sebuah fokus kamera.

Dia langsung membuat sebuah tanda hati dengan kedua tangannya tepat di depan dada. Si gadis tertawa tapi mengabadikan kelakuan namja tersebut.

Setelah terdengar bunyi klik pelan dari kamera yang digenggamnya, dia menghampiri si namja. Namja itu merangkul si gadis ketika si gadis sudah berada disampingnya.

Gadis itu menunduk untuk mengamati foto yang baru saja diambilnya dan tersenyum.

“Oppa, apa Oppa tahu seberapa besar aku menyayangi Oppa?” tanya si gadis tanpa mengalihkan pandangannya dari foto tadi.

“Seberapa besar?” tanya namja itu.

“Tak tehingga dikalikan tak terhingga,” jawab si gadis lalu mencium pipi namja itu sekilas.

 

 

“Hasil kerja paruh waktu pertamaku,” ucap namja itu bangga sambil memamerkan sebuah benda kecil berwarna putih.

“Wah, iPod baru!”

“Bagus, kan? Aku membeli ini supaya sama dengan milikmu.”

Bagus. Tukar dengan punyaku, ya? Aku mau kita saling mengingat ketika mendengarkan musik. Ya?” gadis itu bertanya manja sambil memeluk lengan si namja.

Namja itu hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Asik!” si gadis berseru kegirangan.

“Tapi pasang ini dulu,” Namja itu mengeluarkan sebuah kertas persegi panjang dan memberikannya pada si gadis. Kertas itu adalah stiker alfabet kecil-kecil berwarna silver. Setiap alfabet mempunyai 10 stiker.

“Sini biar aku pasangkan. Kau juga pasang pada iPod-mu. Pasang menurut inisial nama kita, ya!” Namja itu mengambil iPod putih dari tangan si gadis dan menempelkan huruf alfabet K dan J tepat dibelakang iPod tersebut. Si gadis mengikuti dan menempelkan alfabet yang sama pada iPod merah miliknya.

“Oh, Oppa! Nama kita ternyata mempunyai inisial yang sama!”

Si namja tertegun, dia sendiri baru menyadarinya.

“Tandanya kita jodoh bukan, ya?” ucap gadis itu polos.

 

 

“Kenyang?”

Gadis itu mengangguk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil.

Sang namja memasukan pada lubangnya lalu menyalakan mesin.

“Kita kemana sekarang?” tanyanya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya bingung, “Kemana, ya? Oppa punya ide?”

“Kemanapun asal bersamamu,”

Gadis itu tertawa, “Susah sekali punya pacar tukang merayu.”

Kali ini si namja juga ikut tertawa, “Jadi mau kemana?” ulangnya.

“Jalan saja dulu. Mungkin nanti kita dapat ide,”

Si namja mengangguk lalu menginjak pedal gasnya. Di berbelok dari arah rest area menuju jalan bebas hambatan yang sedang kosong.

“Sayang, pakai dulu seatbelt-nya!” perintah si namja sambil melirik pada gadis itu dan menginjak pedal gas perlahan.

“Aku benar-benar kekenyangan, Oppa,” jawab gadis itu sambil membalas tatapan si namja, “Lagipula jalanan sedang kosong, tidak mungkin akan ad-“

“TIIIIIIIIIN!”

Kedua orang yang ada di mobil tersebut menoleh kebelakang ketika mendengar suara klakson yang berbunyi nyaring. Mereka melihat sebuah truk sedang melaju kencang tepat di belakang mobil yang mereka tumpangi.

Kejadian itu begitu cepat dan tak bisa dihindari. Saat truk itu menghantam keras bagian belakang mobil mereka dan membuat mobil itu maju beberapa meter, si namja sempat mendengar jeritan dari gadis yang tadi duduk disebelahnya.

“Aaaaaaaaaah!!!”

Kemudian segalanya gelap ketika dia merasakan mobil itu berhenti.

 

 

“Aaaaaaaaaah!!!”

Minho yang sedang membuat teh di dapur seketika terlonjak ketika mendengar jeritan Krystal. Minho langsung melempar sendok yang tadi sedang digunakannya untuk mengaduk teh dan berlari menuju kamar Krystal.

Saat dia membuka pintu ruangan itu, dilihatnya Krystal sudah duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk lutut. Napasnya memburu, keringat bercucuran, dan air matanya mengalir.

“Krys?”

Minho menghampiri Krystal yang terisak. Minho menarik tubuh Krystal kepelukannya untuk menenangkan.

“D.. di.. dia be.. nar,” ucapnya terbata.

“Siapa?” tanya Minho sambil mengelus punggung Krystal pelan.

“K.. Kai. Dia benar tentang semuanya.”

Meskipun hal itu sudah dapat diperkirakannya, tetap saja Minho terkejut.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Minho.

“Mimpi. Aku bermimpi. Tapi di dimimpi itu, aku tahu siapa yang ada disebelahku saat kecelakaan dulu. Itu tandanya bukan mimpi, kan? Itu kebenarannya, kan?”

Tepat saat pertanyaan yang diajukan Krystal selesai, Jessica datang dengan kantung plastik kecil berisi obat penenang Krystal ditangannya. Jessica langsung menghampiri Krystal dan Minho sambil tersenyum lega.

“Ah, syukurlah kau sudah sadar.”

Eonni pembohong!”

Perkataan Krystal langsung membuat Jessica mematung. Begitupun Minho yang baru saja melepas pelukannya pada Krystal langsung menatap Krystal tak percaya.

“A… ap… apa maksudmu, Krys?” tanya Jessica gugup.

Eonni bohong saat Eonni bilang aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kai. Iya, kan?” tanya Krystal dingin.

Jessica tersentak.

Apa Krystal sudah ingat semuanya?” batinnya.

“Aku tidak percaya Eonni membohongiku.” Krystal tetap mempertahankan nada suaranya.

“Krys, aku….” Jessica kebingungan sendiri menjawab perkataan Krystal.

Minho langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Jessica.

“Sebaiknya Noona tunggu diluar. Nanti kita bicara,” ujar Minho pelan sambil mengambil plastik kecil yang dibawa Jessica.

Walaupun sebeneranya Jessica ingin menolak, tapi tidak ada gunanya karena Minho mendorongnya pelan untuk keluar.

Sesaat setelah Jessica keluar, Minho mendekati Krystal.

“Krys, minum obat dulu, ya?” Minho menyentuh bahu Krystal yang pandangannya tertuju ke luar jendela.

“Aku baik-baik saja,”

“Kau butuh penenang. Hanya untuk malam ini. Mau, ya?”

 

 

Jessica sedang duduk gelisah di ruang tengah ketika akhirnya Minho keluar dari kamar Krystal. Jessica langsung menghapiri Minho dengan pandangan cemas.

“Krystal sudah tidur?” tanyanya.

Eo,” Minho menjawab sambil mengangguk. Dia menuntun Jessica untuk kembali duduk di sofa ruang tengah dan mengajaknya bicara.

Noona, sebenarnya apa yang terjadi?”

Mwo? Kenapa kau bertanya padaku? Aku yang harusnya bertanya padamu, Minho-ya. Apa yang terjadi?”

“Maksudku, kenapa Krystal bisa bilang kalau Noona membohonginya?” tanya Minho sambil menatap Jessica lekat-lekat.

“Apa dia sudah ingat semuanya?”

Minho mengangguk.

Jessica menghela napas panjang, “Minho-ya, apa aku salah karena menyembunyikan hubungan Kai dan Krystal dulu? Aku hanya tidak ingin Krystal kembali bersedih karena Appa masih menentang hubungan mereka. Apa aku salah?”

“Tidak ada yang bisa disalahkan ataupun dibenarkan dalam keadaan ini.” Minho berkata bijak.

“Lalu aku harus melakukan apa sekarang? Krystal sepertinya sangat marah padaku.”

Noona tenang saja, nanti aku akan mencoba bicara pada Krystal. Tapi untuk kali ini, biarkan Krystal sendirian dulu. Biarkan dirinya tenang,” Minho mengelus pelan punggung Jessica yang duduk tapat disisinya. Jessica mengangguk sambil tertunduk lesu.

Minho melihat jam besar yang tergantung diruangan itu. Pukul 20.25. Jessica yang mengikuti pandangan Minho langsung meminta sesuatu pada namja itu.

“Bisakah kau tidur disini malam ini? Aku takut terjadi sesuatu pada Krystal. Dengan keadaan kami yang seperti sekarang, akan lebih baik jika kau ada disisinya.”

Minho diam beberapa saat lalu kemudian mengangguk.

“Baiklah,” ujarnya yang membuat Jessica tersenyum lega.

“Kau tidur dikamarmu. Aku akan tidur di kamar Siwon Oppa.

 

 

“Aku punya sesuatu untukmu,” ucapnya pada gadis itu.

“Apa?” tanya gadis itu penasaran.

Namja tersebut merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam.

Gadis itu membukanya dan mulutnya menganga lebar ketika melihat isinya.

“Oppa, ini..”

“Happy Anniversary, honey.”

Namja itu kemudian menyematkan benda bulat indah yang berada dalam kotak kecil tadi di jari manis si gadis.

 

 

Krystal terbangun ketika dia merasakan seseorang menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Dia langsung melihat tangan kirinya yang tadi ditutupi selimut dan menghembuskan napas saat tidak melihat cincin tersebut.

Setelah dia menenangkan diri karena mimpi tadi, dia menurunkan kakinya dari tempat tidur. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu melangkah keluar kamar.

Krystal melangkah keluar tanpa tahu kemana tujuannya. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu gudang. Krystal memegang kenop pintu besi yang terasa dingin karena hawa malam itu dan membukanya.

Sesampinya di dalam, dia melihat kotak yang tadi dijatuhkannya masih berada disana. Tapi semua barang yang tadi berserakan sudah rapi dan berada di dalam kotak tersebut.

Dengan langkah pelan, Krystal mengambil kotak tersebut dan membawanya menuju taman belakang yang biasa dia pakai untuk mengobrol dengan Minho saat Minho masih tinggal disana.

Setelah duduk di kursi taman itu, Krystal kembali mengeluarkan benda-benda yang tadi membuatnya terkejut hingga hilang kesadaran.

Sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam, lembaran foto, sebuah polaroid putih, sisa stiker berbentuk alfabet, surat-surat beramplop berwarna merah muda dengan tulisan tangan khas seseorang, bahkan hingga potongan tiket pertunjukan ada disana.

Sekarang Krystal ingat betul semua barang tersebut. Apalagi ketika dia melihat foto-foto itu. Foto-foto yang menjelaskan tentang seseorang. Kai. Iya, namja yang selama ini dia anggap berbohong karena mengatakan bahwa dia adalah pacarnya. Namja yang sangat dia sayangi dulu, bahkan mungkin sekarang. Dia sendiri tidak tahu. Hanya saja ada sebuah perasaan membuncah didalam dirinya ketika mengetahui hal itu.

Krystal melihat sebuah foto yang tadi belum sempat dilihatnya. Foto itu mengabadikan sosok dirinya yang tengah dipeluk erat oleh Kai sambil tersenyum lebar ke arah kamera. Perasaan hangat dan rindu tiba-tiba menelusupinya.

Tangannya bergerak untuk mengambil kotak beludru yang sudah dapat dia tebak isinya. Saat membuka kotak tersebut, dia tidak kaget dan hanya mengeluarkan cincin berbandul bintang yang tadi dimimpikannya.

Dia langsung mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.

“Tuuuuut… Tuuuuut… Tuuuuut…”

Lama yang terdengar hanya suara sambungan telepon. Hingga akhirnya suara serak bangun tidur seseorang terdengar.

Yeoboseyo?”

O… Op… Oppa…” ucap Krystal gugup.

 

 

“Drrrrtttt… Drrrrtttt… Drrrrtttt…”

Getar ponsel itu membangunkan seorang namja dari tidurnya. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya yang tadi dia letakan sembarangan di meja kecil samping tempat tidurnya.

Aish, jinjja! Siapa yang menelepon sepagi ini, sih!”

Akhirnya dia menemukan benda berbentuk kotak itu dan langsung menekan tombol jawab tanpa melihat siapa yang menelepon.

Yeoboseyo?”

Tak terdengar apapun diujung sana.

Yeoboseyo?” ulangnya.

O… Op… Oppa…

Namja itu mengerenyitkan alisnya lalu melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponsel.

Soojung.

Astaga!” batinnya.

Oppa… Kai Oppa…

Kai membelalakan mata mendengar dua kata terakhir yang diucapkan Krystal.

“K… Krys?” tanyanya tak kalah gugup.

 

 

Minho yang memang masih terjaga langsung bangkit dari rebahannya ketika mendengar suara seseorang membuka pintu gerbang. Minho melirik jam tangannya yang belum sempat dia buka sejak masuk ke kamar ini. Pukul 02.15.

Dengan kepala yang berdenyut karena belum sempat beristirahat, Minho menyibak tirai jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halam depan. Dilihatnya Krystal tengah berdiri di depan gerbang dengan seorang namja yang sepertinya baru saja berlari entah darimana. Walaupun namja itu menutup kepalanya dengan hoddie, Minho bisa mengenalinya.

Kai.

Kedua orang itu hanya saling tatap selama beberapa menit hingga akhirnya Krystal membuka mulutnya dan membuat Kai tersenyum. Minho tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Krystal karena jarak yang lumayan jauh.

Kai langsung menarik Krystal kedalam pelukannya. Membuat Minho yang memandangi mereka langsung lemas bukan main.

Krystal tidak menolak, Krystal juga tidak berontak seperti apa yang dilakukannya saat pertama kali bertemu Kai. Dia malah membalas pelukan itu. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Kai dan membiarkan dirinya menangis dipelukan namja itu.

“Hatimu sudah menjadi buktinya, Krys.” Minho berkata lirih.

Dengan berat hati, Minho menutup kembali tirai jendela kamarnya dan berjalan gontai menuju tempat tidur. Minho menarik bantal yang seharusnya menjadi alas kepalanya dan membenamkan bantal tersebut ke wajahnya sambil merentangkan diri di atas tempat tidur.

Malam ini, dia harus merelakan seseorang yang entah sejak kapan singgah dihatinya. Meskipun orang itu sangat berarti baginya, dia tahu bahwa hati dan kebenaran akan selalu menang.

Hati Krystal sudah menang. Begitupun kebenaran tentang hubungan Krystal dan Kai dulu. Mereka sudah memang sekarang.

 

 

Agassi…, Agassi bangun!!” Shin Ahjumma mengguncangkan bahu Jessica pelan yang masih terlelap. Jessica menggeliat sambil membuka matanya sedikit dan menatap tanya Shin Ahjumma.

Waeyo, Ahjumma?

“Ada Kai Doryeonnim di ruang makan bersama Krystal Agassi.”

“Apa?” Jessica membelalakan matanya seketika.

“Iya. Saya juga tidak tahu kapan Kai Doryeonnim datang. Tapi mereka sedang sarapan sekarang dan sepertinya Kai Doryeonnim akan mengantar Krystal Agassi ke sekolah.”

Jessica buru-buru bangkit dari tempat tidur dan berjalan cepat ke dalam rumah. Sesampainya dia di pintu ruang tengah, dia memang melihat Krystal dan Kai tengah melahap sarapan mereka di meja makan.

Jessica langsung berbalik untuk menemui Minho. Dibukanya pintu kamar Minho sedikit keras dan melihat namja itu tidur dengan kepala ditutupi bantal.

“Minho-ya…” Jessica memanggil Minho sambil mengambil bantal yang menutupi wajah Minho. Dilihatnya Minho tertidur dengan kening berkerut dan keringat yang menetes dari pelipisnya.

“Minho-ya…” panggil Jessica lagi. Kali ini dia memanggil sambil menyentuh kening Minho karena heran kenapa Minho mengeluarkan keringat. Hawa panas langsung terasa ketika tangan Jessica menempel di kening Minho.

“Minho-ya, kau kenapa? Kenapa badanmu sepanas ini?” suara Jessica yang sedikit memekik membuat Minho terbangun dari tidurnya.

“Oh, Noona? Ada apa?” tanyanya pelan.

Yaa! Harusnya aku yang bertanya kenapa! Badanmu panas sekali!”

“Benarkah?” tanyanya sambil menyentuh keningnya sendiri, “Ah, mungkin karena aku baru tidur jam 4 pagi.” Minho bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggung di sandaran tempat tidur. Kepalanya benar-benar pusing saat ini.

“Jam 4 pagi? Apa kau tahu kapan Kai datang?”

“Kai datang? Memang dia ada disini?” dustanya. Jujur dia tak ingin melihat orang itu sekarang. Tidak hanya Kai, Krystal juga. Hatinya sudah cukup sesak dengan apa yang dilihatnya beberapa jam yang lalu.

“Iya. Dia sedang sarapan dengan Krystal. Aku belum menemui mereka. Tadinya aku mau menemui mereka bersamamu. Tapi sepertinya tubuhmu terlalu lemah untuk melakukannya.” Jessica duduk di sisi tempat tidur sambil menghembuskan napas.

“Aku pikir, lebih baik jika mereka tidak tahu aku disini.” ujarnya mencari alasan, “kalau Noona masih belum berani berhadapan dengan Krystal, sebaiknya Noona pura-pura tidur saja.”

Jessica menyetuji kata-kata Minho dan kembali ke kamar Siwon untuk memberi tahu Shin Ahjumma karena wanita itu masih berada disana untuk membereskan tempat tidur yang semalam dipakai Jessica.

Beberapa saat kemudian, dia kembali ke kamar Minho.

“Aku sudah bilang pada Shin Ahjumma,” ucap Jessica sambil menatap Minho khawatir. Namja itu terlihat sangat lemas, “kau sebaiknya tidak datang ke sekolah dulu hari ini.”

Minho mengangguk lemah, “Bisakah Noona mengantarku pulang? Nanti saja saat Krystal dan Kai sudah pergi.”

 

 

“Benarkah?” Lay yang baru saja akan melumat pretzel-nya bertanya takjub.

“Iya. Aku masih tidak percaya hingga sekarang,” jawab Kai dengan pandangan kosong.

 

 

Flashback on

 

Kai berlari keluar dari kamar hotelnya menuju rumah krystal yang memang tidak terletak terlalu jauh dari sana setelah Krystal meneleponnya dan hanya mengucapkan namanya.

Kai akhirnya sampai di depan rumah Krystal dengan napas memburu. Walaupun jarak antara hotel dan rumah Krystal tidak terlalu jauh, berlari di pagi buta dengan pikiran yang kacau tetap saja terasa melelahkan bukan?

Kai melihat Krystal sudah duduk di depan teras.

“Soojung-ah…”

Panggilan lembut itu membuat Krystal terlonjak dan menengadahkan kepalanya yang tadi menunduk. Krystal langsung bangkit dari duduknya dan membuka pintu gerbang.

Tak ada yang bicara, apalagi mendekat ketika pintu setinggi bahu Krystal itu dibuka. Mereka hanya saling tatap dengan pandangan yang sulit diartikan masing-masing.

“Oppa, aku ingat semuanya.”

Perkataan tersebut bekerja layaknya mantra imperio dalam serial Harry Potter. Kai langsung memeluk Krystal tanpa banyak bicara.

“Maaf,” ucap Krystal yang kini sudah terisak.

Kai membelai lambut Krystal lembut, “Untuk apa kau minta maaf?”

“Maaf karena aku melupakan Oppa.”

“Kau sudah kembali mengingatku. Itulah yang terpenting, dan itu sudah cukup,” jawab Kai sambil mencium puncak kepala Krystal.

 

Flashback end

 

 

“Jadi kalian hanya kembali seperti itu saja?”

“Maksudmu?”

“Kau dan Krystal sudah kembali berpacaran?”

Kai menggeleng sambil menyeruput americano-nya, “Kami belum membicarakan itu.”

Lay menghembuskan napas. Kesal dan bingung karena sahabatnya ini selalu mengulur-ulur waktu. Diliriknya Kai yang kini tengah melamun.

 

 

Ada seseorang yang tidak dilihat Krystal seharian ini. Entah karena dia sibuk berbincang dengan teman-temannya mengenai Kai, entah karena orang tersebut tidak masuk sekolah.

Dia baru menyadari hal itu ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan Suzy dengan Jiyeon.

“Minho kemana?” tanya Jiyeon pada Suzy.

“Tadi Siwon Oppa meneleponku, katanya Minho Oppa sakit. Dia baru pulang tadi pagi entah darimana.”

Krystal langsung menanyakan sesuatu pada Luna yang duduk di sebelahnya, “Minho dan Suzy sudah pacaran?”

Mwo? Jinjja?

Krystal berdecak. “Itu pertanyaan, Luna-ya. Bukan pernyataan.”

“Hahahaha… maaf. Belum. Eh, maksudku tidak, mereka tidak pacaran. Memang kenapa?”

Aniya. Tidak ada apa-apa,” jawab Krystal sambil memperhatikan Suzy.

Hubungan mereka sepertinya sudah semakin dekat.”

 

 

“Aku rasa kau harus meminta maaf pada kakakmu,” ucap Kai saat dia dan Krystal berjalan beriringan setelah Kai menjemput gadis itu di sekolah.

“Kenapa jadi aku yang harus minta maaf? Bukan aku yang berbohong.” Krystal menjawab acuh.

“Soojung-ah, Sica Noona tidak membohongimu. Dia hanya tidak mengatakan semua kebenarannya. Dia hanya menyembunyikan. Kau ingat ‘kan bagaimana kedua ayah kita menentang hubungan ini?” Kai menelan air liurnya ketika mengatakan dua kata terakhir. Hubungan ini? Memang sekarang mereka punya hubungan apa?

Krystal melanjutkan langkah dalam diam. Memikirkan kata-kata Kai. Iya, sekarang dia ingat semuanya. Dia ingat bagaimana ayahnya dan ayah Kai menentang mereka, dan dia juga ingat seberapa sering dia menangis dulu karena masalah ini.

“Beli es krim, yuk?” ajak Kai sambil menarik tangan Krystal menuju minimarket yang terletak beberapa langkah lagi dari mereka.

Pelayan wanita yang berjaga langsung menyapa mereka dengan ramah saat Kai membuka pintu. Kai tersenyum sambil membawa Krystal menuju box pendingin. Kai mengambil es krim cokelat dan satu es krim lemon. Tangannya berhenti ketika melihat Krystal mengambil es krim kacang hijau.

“Kau mau yang itu?” tanyanya.

Krystal mengangguk. “Iya. Memang kenapa?”

“Kau biasanya mengambil es krim lemon,”ujar Kai memasukan lagi es krim lemon yang tadi diambilnya, “sejak kapan kau suka kacang hijau?”

Krystal menggeleng pelan, “Entahlah. Aku rasa, sejak seseorang membelikanku es krim kacang hijau.”

Entah kenapa saat mendengar itu, Kai langsung tahu siapa seseorang tersebut. Dia bisa menebak dengan tepat. Minho.

Apa dia benar-benar sudah merubahmu sedemikian banyak, Krys?” batinnya sambil memandangi Krystal yang sudah mendahuluinya ke meja kasir.

 

 

Butuh waktu dua hari bagi Minho untuk bisa kembali ke sekolah setelah kesehatannya yang menurun. Bukan saja untuk menyembuhkan tubuh, tapi hati serta pikirannya yang ikut melemah karena suatu faktor yang tidak bisa dideteksi oleh dokter manapun. Kedatangan Minho disambut riuh oleh anak-anak lelaki yang sejak dua hari lalu sudah merencanakan untuk bermain futsal bersama tapi selalu batal karena Minho yang sakit.

“Jadi hari ini kita bisa bertanding melawan kelas sebelah?” tanya Luhan antusias.

Minho baru saja akan mengangguk ketika tiba-tiba Suzy muncul di kerumunan anak-anak lelaki yang sedang mengerubungi Minho.

Andwae! Minho harus istirahat dulu!”

“Yaa! Sejak kapan kau jadi manager kehidupan pribadi Minho?” Key bertanya sambil memelototi Suzy yang sekarang sudah merangsek duduk di sisi Minho.

Minho tertawa mendengar pertanyaan Key.

“Aku hanya membalas budi baiknya ketika kemarin aku sakit,” jawab Suzy.

“Sambil menyelam makan ikan!” celetuk Suho dari belakang yang membuat wajah Suzy langsung merah padam.

Minho semakin tertawa dibuatnya. Melihat Suzy yang sudah tertunduk malu membuat Minho jadi ingin ikut menggodanya.

“Sudah! Sudah! Kalian tidak lihat wajahnya sudah semerah itu? Jangan sampai kalian membuat penggemarku ini menyesal karena melindungi idolanya.”

Oppa!!” Suzy memukul Minho pelan yang membuat semua orang kini tertawa terpingkal-pingkal. Jarang sekali Suzy bertindak seperti itu, malu-malu kucing di hadapan seseorang.

Gelak tawa itu membuat Krystal yang tadi sedang mendengarkan iPod-nya dengan volume penuh mendelik kesal.

“Harusnya aku yang ada di posisi itu,” ucapnya pelan tanpa sadar.

“Kau bilang apa, Krys?” Amber bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang tengah dia baca.

“Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Mereka berisik sekali.” Krystal menjawab datar.

 

 

Ahjumma mau kemana?” Krystal yang sedang menonton televisi bertanya pada Shin Ahjumma yang sedang berjalan dari ruang cuci dan setrika sambil membawa sebuah jaket.

“Ke kamar Minho. Mau menyimpan jaket ini,” jawabnya sambil mengacungkan jaket tersebut.

Krystal mengerenyitkan dahi. “Itu punya Minho? Kapan dia kesini?”

“Waktu itu bukannya dia datang bersama Agassi?” Shin Ahjumma bertanya bingung.

“Ah, maja!” Krystal terkekeh karena dia lupa.

“Dia meninggalakan ini saat esok paginya pulang. Dia pulang mengenakan jaket Tuan Jung.”

Krystal menghentikan tawanya. “Esoknya? Jaket Appa? Kenapa?”

Dilihatnya Shin Ahjumma menepuk keningnya sendiri.

Ahjumma…

Shin Ahjumma yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan Krystal langsung menghampiri gadis itu.

“Malam itu dia menginap, dan entah kenapa pagi harinya badannya sangat panas. Makanya dia pulang menggunakan jaket tebal milik tuan.” jelas Shin Ahjumma.

“Dia menginap untuk apa?” tanya Krystal dengan suara pelan.

“Tidak tahu. Sica Agassi yang tahu.”

 

 

Ruang makan yang lumayan besar itu diselimuti suasana canggung. Jessica dan Krystal masih saling bungkam. Tapi, karena rasa penasaran Krystal pada apa yang dikatakan Shin Ahjumma membuat gadis itu akhirnya menanggalkan gengsi yang selama dua hari ini menutupi dirinya.

Eonni, mianhae.

“Hah?” Hanya itu yang bisa Jessica katakan karena tidak menyangka Krystal akan berbicara padanya.

“Maaf karena aku marah pada Eonni. Seharusnya aku tidak seperti itu.”

“Krys, harusnya aku yang minta maaf padamu.”

Aniya. Eonni tidak salah. Aku yang salah. Ucapan Kai Oppa membuatku sadar kalau aku bersikap keterlaluan.”

“Memang apa yang dia katakan?”

“Dia bilang, Eonni tidak membohongiku. Eonni hanya tidak mengatakan yang sesungguhnya terjadi. Maafkan aku. Aku salah.”

Jessica diam. “Ternyata Kai memang masih ada di hati Krystal. Tak pernah berubah,” ujarnya dalam hati.

Eonni mau memaafkanku, kan?” tanya Krystal.

“Tentu saja. Aku sudah tidak tahan kita perang dingin selama dua hari!”

“Jadi, sekarang kita baikan?”

Jessica mengangguk sambil tersenyum lembut pada Krystal.

Gomawo, Eonni.

“Untuk apa kau berterimakasih? Aneh sekali!” jawab Jessica sambil tertawa.

Eonni, aku mau tanya sesuatu. Berjanjilah untuk mengatakan yang sebenarnya!”

Jessica mengangguk pasti, “Mwoga?”

“Saat aku pingsan tempo hari, Minho menginap, kan?”

Jessica langsung tersedak mendengar pertanyaan Krystal. Dia terbatuk-batuk hingga membuat Krystal harus menuangkan air putih.

“Itu artinya benar,” simpul Krystal, “lalu, kenapa dia bisa sakit?”

Jessica masih belum bisa menjawab karena tenggorokannya sakit. Dia hanya menggelengkan kepala karena dia juga tidak tahu apa yang menyebabkan Minho demam hari itu.

“Badannya demam. Dia bilang kalau dia baru tidur jam empat pagi.” Jessica menjawab setelah merasa tenggorokannya kembali normal.

Mwo?

“Sepertinya begitu. Memang kenapa?”

Berarti, dia tahu saat itu Kai Oppa datang?

 

 

“Krys, kita makan dulu, yuk!” ajak Luna sambil mengapit tangan Krystal yang sedang memasukan iPod-nya ke tas.

“Luna-ya, mianhae. Aku sudah janji dengan Kai Oppa hari ini akan pergi dengannya. Besok saja bagaimana?”

Terlihat guratan kesedihan di wajah Luna dan yang lainnya.

“Ya sudah tidak apa-apa. Kau hati-hati, ya!” Sulli menjawab sambil tersenyum.

Krystal mengangguk.

“Ayo pergi sekarang! Kau ikut ‘kan, Krys?” Taemin yang baru saja muncul bertanya.

Sulli menggeleng. “Krystal akan pergi dengan Kai.”

“Minho mana?” tanya Amber saat hanya melihat Taemin, Key dan Jonghyun disekitar mereka.

“Dia pergi dengan Suzy. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan,” jawab Key.

“Kata-katamu rancu sekali.” Amber menanggapi.

“Rancu? Maksudmu?”

Sesuatu yang ingin dibicarakan itu terkesan sangat personal, Key.”

“Lebih rancu mana jika aku katakan kalau Minho dan Suzy akan bertemu kakak Suzy untuk membicarakan sesuatu?” tanya Key menantang.

Mwo?

“Tadi Minho mengatakannya seperti itu!”

“Minho seperti mau melamar Suzy saja.” celetuk Jonghyun sambil berdiri di samping Luna

Krystal yang baru saja akan mengenakan tasnya membeku beberapa saat.

Aish! Ada apa denganku, sih?” Krystal merutuki dirinya sendiri.

 

“Sejak tadi kau hanya memandangi makananmu. Ada apa, sih?” tanya Kai sambil menyentuh tangan Krystal yang berada tidak jauh dari tangannya.

Ne? Ah, aniya. Tidak ada apa-apa,” dalih Krystal sambil tersenyum menenangkan. Tapi, Kai tahu betul Krystal menyembunyikan sesuatu.

Krystal sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan. Kenapa suasana hati dan keadaan pikirannya selalu kacau setiap kali Minho tidak ada atau mendengar Minho sedang bersama Suzy. Dia masih belum menemukan penyebab pasti kenapa hal itu terjadi.

Begitu juga saat ini. Kepalanya tak henti-hentinya menanyakan satu hal, “Minho dan Suzy sedang apa?

Krystal melirik Kai yang ternyata sedang memeriksa ponselnya.

Mau dilanjutkan tidak makannya?tanya Kai setelah selesai menyelesaikan urusannya.

Krystal diam beberapa saat lalu menggeleng.

“Ya sudah. Ayo kita pergi!”

“Kemana?”

 

 

“Ya Tuhan! Untuk apa Oppa membawaku kesini?”

Krystal terbelalak ketika mereka turun dari taksi dan mendapati dirinya sudah berada di pintu gerbang Everland.

“Tadi aku mengecek table time dan jadwal film di bioskop. Tapi tidak ada film horor. Makanya aku membawamu kesini.”

Krystal mengerutkan dahi tidak mengerti. Kai tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Krystal untuk masuk dan menaiki atraksi berupa perahu kayu besar yang digoyang kesana-kemari bernama Columbus Adventures.

 

 

Oppa, di acara prom nanti, Oppa pergi dengan siapa?” tanya Suzy saat mereka sedang menunggu kedatangan Yoona di apartemen.

“Aku? Tidak tahu. Aku belum memikirkannya.”

Bohong. Jawaban itu tentu saja bohong. Minho sebenarnya akan mengajak Krystal. Tapi, sepertinya gadis itu akan pergi dengan Kai. Berbeda dengan acara prom sekolah-sekolah lain, Seoul Senior High School memang memperbolehkan acara itu dihadiri oleh orang umum untuk menjadi pasangan prom para siswa.

“Kalau pergi denganku bagaimana?”

Minho tertegun. Dia tidak menginginkan untuk pergi setelah apa yang dia pikirkan tadi. Tapi, dia juga bukan termasuk orang yang tega menolak permintaan seorang gadis.

Minho mengangguk bertepatan dengan pintu apartemen yang dibuka. Mereka melihat Yoona baru saja sampai dengan membawa wajah yang masih penuh dengan riasan karena model cantik itu baru saja menyelesaikan shooting iklan kosmetik terbaru.

“Oh, Minho-ya? Kalian sedang apa?” tanya Yoona sambil membuka sepatu hak tingginya.

Oppa menunggu Eonni,” jawab Suzy.

“Menungguku? Ada apa?”

 

 

Setelah berkeliling menaiki hampir seluruh wahana yang berada di Everland. Mereka beristirahat sebentar sambil meminum minuman kemasan yang mereka beli sesaat setelah mereka menaiki rollercoaster dengan tukikan tercuram di dunia. Krystal tak henti-hentinya berteriak gembira sambil menggenggam tangan Kai saat menaiki itu.

“Sudah enakan?”

“Aku baik-baik saja.” Krystal menjawab sambil menatap Kai yang malah tertawa.

“Bukan karena naik rollercoaster, Soojung-ah. Tapi karena disini,” Kai menunjuk dadanya sendiri, “sudah baikan?”

Krystal mengerutkan dahinya tidak mengerti.

“Aku tahu ada sesuatu yang harus kau keluarkan dari sana. Walaupun aku tidak tahu apa, tapi aku harap saat tadi kau berteriak-teriak, kau mengeluarkan segala keluh-kesahmu juga dalam teriakan itu.”

Krystal terdiam. Krystal tidak pernah berpikiran sejauh itu. Krystal hanya berpikir bahwa Kai ingin pergi ke taman bermain bersamanya. Bukan ingin membuatnya melepaskan kegundahan hatinya.

“Tadinya, aku tidak mau membawamu sampai sejauh ini. Aku hanya mau mengajakmu menonton film horor. Kau juga pasti akan berteriak kencang ‘kan saat melihat itu? Tapi, tidak ada film horor yang tayang di bioskop saat ini. Maaf membuatmu lelah, ya.” Kai mengusap lembut puncak kepala Krystal.

Kai selalu bertindak seperti orang dewasa yang menjaga Krystal. Seperti seorang kakak yang menjaga adik kecilnya. Seperti seorang namja yang melindungi kekasihnya. Itulah yang membuat Krystal menyukai Kai dulu.

Krystal tak sanggup mengatakan apa-apa. Dia hanya menyelipkan tangannya di lengan Kai dan menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.

“Terimakasih,” hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Krystal. Tapi, terimakasih saja sudah cukup membuat Kai tersenyum.

 

 

“Minho-ya, ayo kita-”

“Maaf Key, aku harus pergi dengan Suzy. Ada urusan. Aku duluan semuanya!”

Key menghembuskan napas kesal sambil memperhatikan Minho dan Suzy yang menghilang di balik pintu kelas. Sejak dua hari kemarin, Minho selalu susah untuk diajak pergi kemanapun sepulang sekolah. Alasannya satu, pergi dengan Suzy.

Tidak pernah ada yang mengetahui secara spesifik mereka pergi kemana, ataupun melakukan apa. Tidak Jiyeon. Tidak juga Key dan yang lainnya. Padahal, sudah dua hari ini Key dan yang lainnya selalu meluangkan waktu sepulang sekolah untu sekedar makan sambil berbincang-bincang. Posisi Minho digantikan oleh Kai yang selalu mengantar jemput Krystal ke sekolah.

“Hari ini kita kemana?” tanya Luna.

“Kemana saja yang penting bersamamu,” jawab Jonghyun yang membuat semua orang tergelak.

 

 

Krystal baru saja sampai di rumah sekitar pukul delapan malam dengan diantar Kai. Dia memasuki kamar dan melihat Jessica tengah sibuk dengan merancang gaun malam di boneka manekinnya.

“Baru pulang?” tanya Jessica saat Krystal meletakan tasnya di atas meja.

“Iya. Tadi pergi dulu dengan teman-teman. Eonni pulang jam berapa?”

“Tadi jam lima.”

Krystal membuka lemari pakaiannya dan mengambil sepasang baju tidur ketika Jessica menghentikan kegiatannya.

“Krys, besok kau mau pergi kemana?”

“Sepertinya akan mengantar Kai Oppa membeli sepatu. Tadi dia memintaku mengantarnya. Kenapa?” tanya Krystal sambil membuka ikatan rambutnya.

“Besok aku akan bertemu ibunya Donghae Oppa lagi. Tapi, aku lupa kalau Siwon Oppa besok ulang tahun. Bisakah kau mampir ke apartemennya sebelum pergi dengan Kai? Aku sudah menyiapkan kado untuknya atas nama kita.” Jessica menunjuk sebuah kotak berukuran 50×30 di atas meja rias.

Arasseo. Besok aku akan mengajak Kai Oppa untuk mengantarkan itu.”

Jessica tersenyum senang, “Gomawo. Oh, iya. Jangan lupa bawa jaket Minho juga.”

Krystal mengangguk sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.

 

 

Oppa jangan ikut naik. Tunggu disini saja, sisini susah lagi mencari taksi. Aku tidak lama.”

Kai mengangguk mengiyakan dan membiarkan Krystal naik ke apartemen Minho sendirian.

Tak sampai lima menit. Krystal sudah sampai di depan pintu apartemen Minho dengan membawa serta kotak hadiah yang dititipkan Jessica. Dia memencet bel sambil tersenyum dan menunggu pemilik apartemen membukanya.

Tepat saat Krystal memencet bel untuk kali kedua. Pintu kayu itu terbuka. Krystal yang tadi sudah memasang wajah ceria langsung menghilangkan senyum tersebut ketika melihat siapa yang membuka pintu.

“Krystal?”

 

To Be Continue🙂

One thought on “Music and Lyric [chap. 8]

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s