Illusion


illusion

Title: Illusion

Main Cast: Sehun EXO-K | OC

Supporting Cast: Do Kyungsoo EXO-K

Author: Mizuky (@qy_zu)

Genre: Romance, Sad, Friendship, Fantasy

Length: Vignette

Rating: G

 

Sometimes you will need an illusion..

.

.

Angin berdesir membuat bulu kudukku meremang..

Kutatap refleksi diriku diatas riak-riak air yang tidak beraturan.

Ketika kuangkat kepalaku, aku melihat dirimu.

Apakah mata ini benar melihat seorang gadis yang seharusnya telah tiada?

.

.

.

“Sehun, Sehun.. hei, ada apa?” suara melengking milik Kyungsoo membuat Sehun tersadar dari dunianya.

Matanya mengerjap beberapa kali. Mencoba menemukan sebagian nyawanya yang entah menghilang ke arah lain.

“Ya?”

Kyungsoo mendengus. Setelah dia menunggu sekian lama, Sehun hanya memberikannya respon dua kata itu?! Oh, Tuhan. Bunuhlah dia sekarang!

“Kau ini kenapa?!”

Sehun terdiam. Matanya tidak menatap Kyungsoo, kedua kelereng hitam itu ia tetapkan untuk menatap balkon atas sekolahnya.

Mulutnya tak mengucap satu frasa pun. Ia bangkit berdiri, berjalan keluar kelas meninggalkan Kyungsoo yang hanya terpaku menatap punggung temannya.

“Dia itu gila?”

.

.

Balkon Sekolah.

 

Ketika sepatu ordix -nya menjajak lantai kayu itu, angin segera membelai wajah ovalnya.

Tapi, bukan karena kenyamanan yang ditawarkan oleh semilir angin yang membuatnya berhenti. Melainkan sosok seorang gadis cantik yang tengah berdiri melihat ke arah luar melalui celah jendela.

Dia melangkah perlahan. Pandangannya terpaku kepada sosok wanita itu. Tak mampu ia palingkan pandangannya ke arah lain. Hanya kepada gadis itu. Seolah dia memiliki sebuah sihir pelekat. Namun, Sehun cukup menikmati itu. Oh, yeah..

Cantik.

Satu kata yang cukup mewakilkan dari ribuan kalimat pujian yang terpikirkan oleh otaknya.

“Sedang apa kau disini?” ia berhenti tepat di belakang punggung perempuan itu.

Suara desau Sehun tak membuat perempuan itu menoleh. Ia masih sibuk untuk memandangi langit biru yang terjuntai luas di angkasa sana.

Sehun melangkah mendekat. Kini ia berdiri di samping gadis itu. Matanya menatap sang wanita lekat-lekat. Memandangi tiap karya Tuhan dalam bentuk wujud yang indah. Tinggi yang sempurna, lekuk badan yang terbentuk, rambut panjang-hitam yang tergerai, dengan pelengkap kulih putih bersih. Sungguh, ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.

“Kau? Murid baru?” tanya Sehun. Dia merasa asing dengan gadis ini. Meski ia mengenakan seragam yang sama dengannya, namun ia belum pernah melihatnya sekalipun.

“Tidak. Aku murid lama disini,” jawab gadis itu tenang. Matanya masih tak mau untuk menatap Sehun.

“Tapi, aku belum pernah melihatmu sekalipun. Apa kau jarang keluar kelas?”

Gadis itu masih diam tanpa ekspresi. Sehun rupanya masih setia menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari gadis misterius itu.

Tak terpikirkan oleh Sehun bahwa gadis itu akan menghadapkan badan ke arahnya dengan melemparkan senyum yang menurutnya.. Oh, Tuhan! Sangat indah!

“Kau saja yang tak pernah melihatku.”

Sehun masih diam saja. Terpaku dia oleh senyuman gadis itu. Sungguh, Sehun berfikir sepertinya perempuan itu memang memiliki sihir pelekat yang sangat ampuh.

“Namamu?” tanya gadis itu. Namun, sebelum Sehun menjawab, rupanya mata gadis itu sudah terlebih dahulu menatap name-tag di seragam Sehun. “Oh Sehun..” kemudian matanya kembali berpaling ke arah dua pasang manik hitam itu.

Sehun mengangguk. “Lalu, kamu?”

“Udaranya segar, ya?”

Sehun heran. Bukannya menjawab, justru perempuan itu membicarakan hal lain. Apa dia sedang menolak memberitahu namanya?

Namun, bukan Sehun namanya jikalau ia tak mendapat apa yang ia mau. Ia menatap lagi gadis itu untuk mencari name-tag. Namun, nihil. Tak ada satupun identitas yang terpasang di seragam miliknya.

Sehun mendesah kecewa.

“Kau senang berada di sini?” tanya gadis itu kembali.

Sehun ingin tak menjawab pertanyaannya, namun mulutnya sama sekali tak mau mengikuti kemauan sang pemilik. “Iya.”

“Tempat ini memang sangat nyaman.”

Sehun tertarik dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis itu.

Seringkali ia menampakkan sebuah kekosongan, namun semua itu luntur ketika ia tersenyum seperti tadi. Seolah perempuan itu memiliki dua kepribadian ganda.

“Kau.. suka tempat ini?”

Gadis itu tak segera menjawab pertanyaan Sehun. Ia biarkan Sehun menunggu di dalam seluruh keterheranannya. Dia justru asik bermain dengan jemarinya sendiri.

“Menurutmu?”

“Aku rasa kau suka tempat ini. Kau terlihat nyaman berdiri di atas sini.”

Sang gadis tersenyum kecil mendengar tanggapan Sehun. Namun, sedetik kemudian senyuman itu pudar. Berganti dengan sebuah lengkungan sedih yang tersamarkan oleh kibaran rambutnya.

“Iya, tapi mungkin hari ini adalah hari terakhirku bisa berdiri di atas sini.”

Sehun terpana.

Ia menyadari suatu hal. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan datang secepat ini.

Ia jatuh cinta, dengan gadis itu..

“Hari terakhir? Maksudmu kau akan pindah sekolah begitu?”

Gadis itu lagi-lagi mengacuhkan pertanyaannya. Matanya kini berganti menatap sekelompok anak remaja pria yang sedang bermain sepak bola di lapangan bawah dengan serunya. Ia terlampau asik memandangi tiap ekspresi yang mereka tunjukkan hingga selama sepersekian menit ia melupakan bahwa ada seorang laki-laki yang berdiri disampingnya dengan berwajahkan kusam.

“Lagi-lagi mengacuhkanku,” dengusnya.

Barulah sang perempuan tersadar. Dia lalu menatap Sehun di sebelahnya dengan jenaka. Laki-laki itu menatap dinding coklat di hadapannya dengan mulut yang ia sedikit majukan.

“Maaf, habis kelihatan seru, sih.”

“Apa sih? Hanya bermain sepak bola saja, kok. Tidak seru.”

Sehun merajuk. Membuat sang perempuan menarik kedua ujung bibirnya.

“Kau tinggal dimana?” tanya perempuan itu.

“Aku? Kau mau main ke rumahku? Aku tinggal di kawasan Cheodeog.”

“Haha, tidak. Aku hanya bertanya saja,” gadis itu lalu mengibaskan tangannya, yang lagi-lagi berhasil membuat fokus Sehun bertumpu ke arahnya.

“Lalu, bagaimana denganmu?”

“Rumahku? Aku tidak tahu.”

Heran akan pernyataan yang diberikan sang perempuan. Ingin dia bertanya kembali, namun gadis itu segera memotong hasratnya.

“Aku tinggal tidak menetap.”

Sehun tak lagi mempermasalahkan ungkapannya karena seluruh perhatiannya tersita oleh tatapan kaku milik perempuan misterius itu.

“Kenapa kau bisa memiliki mata indah itu?” gumamnya.

Sang perempuan itu tersentak lalu menoleh ke arah Sehun. Didapatinya pria itu tengah menunduk malu dengan mulut yang bergerak-gerak tak jelas.

“Hm, aku tidak tahu. Mungkin itu sudah takdirku.”

“Kau penyanyi?” tanya Sehun lagi.

Oke, mungkin dia harus mengendalikan mulutnya itu agar tak bertanya hal yang memalukan lagi.

Namun, ia tak bisa. Seolah otak dengan seluruh inderanya tak bisa bekerja sama. Mulutnya melontarkan kata-kata yang ia pikirkan begitu saja meski otak sudah memberi titah untuk tidak mengutarakannya. Semua karena gadis itu. Karena, sihir ampuhnya.

“Kenapa kau bisa bertanya hal itu?”

“Suaramu indah. Aku suka suaramu.”

“Haha..” gadis itu tertawa.

Terdengar merdu memang karena didukung oleh pita suara yang berkualitas. Namun, itu bukan sebuah jenis tawa yang indah. Terkesan seperti tawa bahagia.. namun, seolah mati.. dan kaku.

“Terima kasih sudah menyukai suaraku. Tapi, aku bukan seorang penyanyi. Maaf mengecewakanmu.”

Sehun termangu. Dia baru menyadari kalau ada yang sedikit janggal pada diri perempuan itu. Kulitnya memang putih bersih.. namun, setelah ditilik kembali.. terlihat lebih ke arah putih pucat.

“Kk-…”

Perempuan itu sedikit kaget ketika didengarnya bunyi gemuruh lonceng.

Waktuku sudah tiba.

Ia menghela nafasnya berat. Sedikit tak rela ia harus pergi meninggalkan Sehun sendiri. Meninggalkan pujaan hatinya.

Ia senang di akhir sisa waktunya, ia bisa bercakap-cakap dengan pria itu.

Setidaknya Tuhan mau berbaik hati mengabulkan doa terakhirnya.

“Sehun..”

Pemuda itu agak kaget bercampur senang ketika perempuan itu menyebut namanya.

“Ya..”

“Kau penasaran dengan namaku?”

Sehun segera mengangguk karena memang benar ia penasaran dengan nama gadis misterius itu.

“Namaku Rena, Rena Jung. Seorang gadis yang terlahir dari darah campuran, ayah orang Amerika sedangkan ibu orang Korea.”

Sehun tersentak. Perlahan, kakinya sedikit bergetar. Menahan perasaan yang bergemuruh di jiwa.

Rena? Jung Rena?

Tak pernah ia mendengar nama siswi di sekolahnya yang bernama Rena. Menurut ingatannya yang diambang batas, tak ada seorang siswi di sekolahnya yang merupakan anak blasteran.

“Kau tak tahu? Baiklah.. Jung Hyemi..” gadis itu menunggu reaksi dari Sehun. Dan benar saja, sesuai dugaannya, Sehun kini hanya diam dengan mulut yang terbuka lebar. Nampak seperti orang bodoh. “Kau pasti tahu sekarang siapa aku.”

Sehun terpaku. “Kau.. bagaimana bisa? Bukankah kau..”

“Meninggal maksudmu? Ya, aku ini arwah. Oh Sehun.. aku mencintaimu. Tak penting apakah aku ini arwah atau tidak, namun hati dan perasaanku adalah hati dan perasaan manusia. Aku mencintaimu. Sejak pertama kali kulihat wajahmu. Aku orang yang terus mengirimkanmu origami burung di lokermu. Kau ingat?”

Sehun terdiam.

Gadis itu.. si pengirim origami.

“Kenapa aku baru tahu sekarang? Rupanya aku sudah jatuh cinta kepadamu sejak lama,” ungkap Sehun.

Dia hanya diam, menatap Sehun dengan sejuta pandang tanya. “Apa maksudmu?”

“Aku jatuh cinta oleh tulisan penyemangatmu. Setiap hari aku selalu berusaha untuk mencari tahu siapa pengirim itu, tapi aku tak pernah menemukannya. Hingga suatu hari.. tepatnya pada Hari Rabu tanggal 27 April. Aku berdiri sejak pukul enam pagi di balik tiang itu hanya untuk mengetahui siapa pengirim origami itu. Tapi, sejak hari itu aku tak pernah tahu. Tak ada lagi origami penyemangat yang datang kepadaku.”

Gadis itu meneteskan cairan kristal bening. Tak diduganya bahwa selama ini perasaannya tidak tertolak.

“Tanggal 27 April aku kecelakaan.”

“Kau siswi di sekolah ini?”

Perempuan itu mengangguk. “Aku sudah bilang kepadamu.”

“Tapi, aku sama sekali belum pernah melihatmu.”

“Aku tidak pernah keluar kelas. Aku siswi yang pendiam.”

Tenggorokan gadis itu tercekat ketika ada sebuah suara halus dan berat yang membisikkan kalau waktunya sudah habis. Perlahan kedua manusia itu menyadari bersama-sama bahwa tubuh gadis itu perlahan memudar.

“Sehun, maafkan aku. Waktuku sudah habis. Terima kasih kau sudah mau membalas perasaanku. Aku benar-benar lega sekarang. Terima kasih. Aku senang. Tidak, sangat senang! Terima kasih sudah mau mencintaiku, Oh Sehun.”

Sehun tak mampu bergerak. Seolah seluruh tubuhnya membeku kala itu. Ingin ia menarik tangan gadis itu agar tak pergi. Ingin ia teriak dan memohon kepada Tuhan agar diberi sedikit perpanjangan waktu.

“Jangan! Kumohon jangan pergi!” tangannya ia ulurkan untuk meraih tangan gadis itu.

Bukannya ia merasakan sebuah sentuhan kulit, namun hanyalah sebuah kehampaan yang ia rasakan.

“Aku menyesal membuatmu baru mengetahui semua ini. Andai aku berani menunjukkan siapa aku, mungkin kita tak akan berakhir seperti ini. Aku menyesal, Sehun.”

“Aku mencintaimu, Hyerim! Aku mencitaimu, Hyerim! Aku mencintaimu, Hyerim!” begitulah ia terus berteriak hingga tubuh gadis itu menghilang seutuhnya.

Sehun jatuh terduduk.

“Harus berapa kali aku katakan bahwa aku mencintaimu hanya untuk membawamu kembali?!”

Ia menangis. Tak apa.

Seluruh emosi, rasa tak rela, kasih sayang, cinta, kecewa, kesal, amarah, ia pertaruhkan di dalam setitik kristal cair itu.

 

Tik..

Tik..

Tik..

Pluk..

 

Sehun menengadah. Dilihatnya sebuah kertas origami burung berwarna merah jatuh di hadapannya.

Ia mengambilnya. Mendekapnya erat.

Aku akan mengingatmu, Hyerim. Mengingatmu sebagai cinta pertamaku. Mengingatmu sebagai penyemangatku.

.

.

Cinta tak melihat obyek.

Cinta itu subyektif. Tak tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta, karena perasaan yang memegang peranan, bukan otak ataupun akal.

Tak akan ada yang dapat menghapus cinta. Karena, cinta itu sebuah hal permanen yang melekat di hati kita.

Without all we knows, a human sometimes will need an illusion.

.

.

.

| E N D |

Maaf yah kalau jelek ‘_’)a maklum aku ga bsa buat fic main cast OC T.T terima kasih sudah mau berkomentar dan membaca cerita ini xD kkekekkee~~

2 thoughts on “Illusion

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s