My Son


My Son

father

A Story was created by Mizuky

Main Cast:

|| Man (Your Bias) ||

|| Woman (Your) ||

Length:

Vignette

Genre:

|| AU, Friendship, Fluff (SLIGHT!), Comedy (SLIGHT!), Family, Fantasy ||

Rating:

|| G ||

Summary:

Inilah cerita mengesankan dari kehidupan seorang remaja yang menjadi seorang ayah baru.

 

+====+

 

Matanya ia biarkan terpejam meski sesekali mengintip sejenak. Ia tak bisa tidur selama ada seorang bayi di sampingnya.

Pukul 12 malam.

Dia ingin tidur. Tubuhnya benar-benar lelah, sungguh. Ketika dinginnya malam terus merayunya untuk merangkak ke tempat tidur, namun sepertinya sang bayi tak ikhlas jika ayahnya beranjak sesentipun darinya.

Pria itu melihat ke arah si bayi. Dilihatnya kedua mata mungil itu tertutup. Ia mendesah lega. Dengan perlahan kakinya melangkah menjauh.

“Oweee, oweeee, oweee…”

Lagi-lagi sang bayi menangis. Dia seperti memiliki sebuah pendeteksi keberadaan ayahnya. Dan itu sangat memuakkan.

“Iya, iya.. cup-cup-cup, sst.. diamlah anak manis. Ayahmu ada disini,” bujuknya.

Ia gendong anaknya di kedua tangannya. Di belainya ujung kepala sang anak untuk mendiamkannya. Mulutnya menyanyikan sebuah lantunan lagu merdu.

Tak berapa lama sang bayi pun diam. Dia lalu menidurkannya kembali di sebuah keranjang.

Di tepuknya pelan ujung kepala sang bayi. Yah, meski melelahkan, namun ia suka memberi perhatian seperti ini kepada anaknya. Terlampau menyenangkan daripada mendapatkan uang satu miliar. Begitulah pendapatnya.

Diintipnya lagi ke arah si bayi. Dia tertidur tenang diantara siulannya.

Ia bisa bernapas lega. Ia beranjak dari tempat itu dengan langkah yang sangat perlahan.

Sebentar, ia mengintip ke arah keranjang. Untung anaknya masih tertidur.

Ia melangkah kembali.

Empat langkah baru berjalan, ditengoknya lagi ke arah si anak. Dan bayi itu masih tertidur nyenyak.

Sampailah ia pada langkah kedelepan dan untungnya telinganya tak mendengar suara tangis, hingga ia memutuskan untuk membaringkan tubuh letihnya diatas busa empuk.

Dilihatnya kembali ke arah ranjang, dan anaknya masih terlelap.

Ia kemudian perlahan memejamkan matanya. Melihat kupu-kupu terbang dan ia terus mengikutinya hingga tibalah di sebuah padang ilalang.

Asri, dengan hembusan angin yang bertiup ke arah kanan. Menghantamnya dengan sentuhan lembut. Ia memutar kepalanya kesana kemari mencari si kupu-kupu menawan.

Betapa tak terkira senang dirinya manakala dapat bertemu kembali dengan si menawan yang dapat terbang itu. Kupu-kupu itu terbang dengan arah tak menentu. Si pria pun mengikuti tiap gerak dan hanya fokus kepadanya.

Hingga ia berhenti di sebuah padang luas. Dirinya tak mengetahui dimana keberadaannya sekarang. Hanya hamparan rerumputan sejauh mata memandang. Lenyaplah si kupu-kupu itu tiba-tiba.

Ia mendesah kecewa.

Namun, tubuhnya tergoyang oleh getaran tanah yang begitu hebat kala itu. Ia panik. Getaran bumi yang maha dahsyat itu seperti ingin terbelah dua, dimana si pria itu serasa terjatuh dikedua lubang itu. Dia segera berlari menjauh sebisanya. Ditengokkan kepalanya ke arah belakang untuk melihat situasi.

Dan, oh! Langit berubah menjadi kelabu, rerumputan yang tadinya elok, kini berubah menjadi monster-monster kecil yang turut mengejarnya.

Ia tak tahu darimana munculnya sebuah monster jelek dengan kedua mata meruncing di kedua ujungnya, dengan satu mata tiga diantara dua yang lain. Telinga yang lancip, mirip seperti telinga seorang kurcaci. Warna kulit yang hijau dan bersisik serta ekor di ujung tubuhnya, ditambah dengan air liur yang terus menetes membuat lelaki itu ingin muntah.

Baru saja ia ingin berhenti karena lelah, monster itu sudah berada tepat dua langkah di belakangnya. Ia terpaksa berlari lagi.

Terus, hingga berada di ujung daratan.

Ia terheran, sejak kapan ada sebuah pohon yang memiliki julur?

Lagipula, oh! Pohon itu ingin menangkapnya! Dia ingin berlari ke arah kiri, namun sialnya julur pohon itu sudah lebih dulu memperangkapnya.

Ia tak bisa lepas. Seperti ada lem perekat yang sangat kuat. Dia hanya pasrah ketika dilihatnya monster itu sudah berdiri di hadapannya.

Oh, Tuhan.. maafkan aku kalau memiliki banyak salah. Tolong, terimalah aku disampingmu.

Ia hanya bisa berdoa.

“Grraaaooo…” monster itu mengeluarkan desisannya tepat di wajah lelaki itu.

Bau! Dia makan apa sih?!

Bau yang teramat sangat langsung menyebar ke seluruh hidungnya.

Namun, bukan bau itu yang membuatnya ketakutan.

Monster itu hendak memakannya!

“Aaaaaaaaaa…..”

 

+===+

 

“Aaaaaaaaaa…..” pria itu terbangun dari tidurnya.

Setengah sadar. Baru ketika nyawanya terkumpul sepenuhnya, dia menyadari bahwa anaknya menangis.

Dia menggeram kecil sambil mengacak rambutnya.

Oke, bersyukur dia hanya mendapatkan mimpi buruk seperti tadi. Tapi, tadi adalah mimpi yang tidak nyata! Dan ia terbangun karena tangisan anaknya, dan itu merupakan MIMPI BURUK YANG NYATA!

Dengan langkah malas ia berjalan menuju anaknya. Namun, lagi-lagi ia mencium bau yang menyengat. Sama persis dengan bau mulut monster jelek itu.

Dan ketika ia sudah menggendong si anak, barulah ia mengetahui suatu fakta.

“Oh, Tuhan! Minhoon! Jangan bilang kalau kau-!!” segera ia periksa popok si anak yang masih terus menangis.

Dan benar saja apa yang menjadi duganya.

Bau tidak sedap itu rupanya berasal dari sisa pembuangannya. Oh, Tuhan!

Lelaki itu agaknya sedikit -ah, tidak. Sangat!- enggan untuk menggantinya.

“Bagaimana ini?! Minhoon! Anak nakal!”

Dibaringkannya si anak diatas tempat tidur. Ia berlari pergi menuju belakang, meninggalkan si anak sendiri dengan rasa ketidaknyamanannya.

 

+===+

 

Dia kembali.

Tidak dengan tangan kosong rupanya. Dengan dua pelindung tangan dari plastik dan penjepit jemuran di hidungnya, ia siap untuk menggantikan popok sang anak.

Ia meringis. Hidungnya terasa sedikit sakit dijepit begitu. Namun, resiko untuk mencium bau tak sedap tak mau ia ambil. Alhasil, perlahan dibukanya popok si anak. Baru saja melihat sedikit bercak kecokelatan di lembaran putih itu, segera menaikkan pergemulan asam lambungnya. Ia mual. Ingin muntah saat itu.

Dengan sisa kemantapannya, ia buru-buru melepas popok itu dan segera membuangnya ke tempat dirimu biasa menempatkan. Tak luput kedua sarung tangan plastik itu ia buang tanpa melihat ke arahnya.

Segera pria itu kembali ke anaknya yang masih saja menangis. Ia bawa kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

“Pcak.. pcak..” sepertinya sang anak ingin bermain dengannya.

“Ini tengah malam, Minhoon! Jangan nakal! Jangan mencipratkan ayah begitu, dong. Ayah malas untuk mengganti baju,” bicaranya kepada sang anak yang tentu saja tak akan paham dengan bahasanya.

Yah, jadilah pakaiannya basah di beberapa bagian.

Ingin marah, namun anak itu tak berdosa. Ia masih polos. Entah mengapa wajah Minhoon terlalu manis. Rasa marah yang tadinya memuncak, kini lenyap tak berbekas.

Ia sangat menyayangi Minhoon, apapun tingkah lakunya yang menyebalkan.

Setelah bersih, ia lantas mengeringkan tubuhnya. Ia gendong kembali anak itu menuju istananya.

Meski rasa kantuk itu masih tetap terasa, ia senang melihat gelak tawa dari Minhoon. Lebih syahdu dibanding lagu apapun.

“Tidur, ya.. sudah malam. Beristirahatlah jagoan kecil ayah.”

Dan benar saja, anak itu tertidur kembali. Ia lelah. Pria itu berjalan lunglai menuju tempat tidurnya.

Ia baringkan tubuhnya diatas per busa. Syndrom malas sepertinya sedang menyerangnya. Terbukti ia tidak berganti pakaian sama sekali. Langsung saja teridur pulas.

Hanya hitam di pikirannya. Tak ada lagi rerumputan asri, tak ada kupu-kupu, dan yang paling penting tak ada monster lagi.

Kiranya pukul dua pagi, ia sudah terlelap.

.

.

Pagi Hari..

 

Silau merintis masuk kedalam kelopak matanya. Membuat matanya perih akan sinar yang datang bertubi-tubi.

Ia ingin tidur. Tak tahukah orang bahwa dirinya hanya menginginkan itu?!

Ia kini berganti posisi. Merebahkan diri sedikit miring ke arah kanan dengan berpelukan kepada sebuah guling.

“Sst.. sudah pagi. Kau tak mau bangun?”

Samar-samar ia mendengar suara perempuan.

Ia berpikir untuk mengacuhkannya. Toh, kamu sedang berada diluar kota. Tak mungkin kamu pulang tanpa memberitahunya.

Kalau begitu, suara tadi.. mengapa mirip sekali dengan suaramu?

“Sayang..”

Barulah suamimu tersadar. Ia bangun dalam sekejap, meski mata yang sesekali terpejam.

“Kau sudah pulang?” tanyanya dengan suara desau.

Kamu mengangguk. Lantas tersenyum kepada sang suami.

“Iya, kau tak senang?”

Lelaki itu segera menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku sangat senang sekali,” serunya. Tak diduga, ia memelukmu erat sekali. Seperti tak ingin melepasmu lagi.

“Aku rindu padam.. hacchi!!”

Barulah ingin menyampaikan puitis manis, suamimu bersin. Buru-buru kau mendorongnya pelan.

“Kau sakit? Oh-ya, Tuhan! Badanmu panas sekali!!” pekikmu setelah kau memeriksa suhu tubuh suamimu.

Ia hanya meringis saja, dengan tangan yang mengusap hidung. “Hachi!”

“Kau flu? Ya tuhan!”

“Iya, semalam habis memandikan Minhoon.”

Barulah kau tersadar terhadap keadaan anakmu. “Ah, ya, Minhoon!” kau lantas berlari menuju tempat tidur anakmu.

Dipegangmu dahi Minhoon. Dan benar saja, anak itu pun mengikuti jejak ayahnya, terserang flu dan demam.

“Minhoon, ya ampun. Kau sakit!” kamu lalu membawa Minhoon ke peribuan. Mengayunkannya pelan dengan rasa cemas.

“Kamu bodoh! Masa memandikan bayi malam-malam?! Lihat, dia sakit ‘kan?”

Suamimu hanya mendengus kesal. “Bukannya diperhatikan atau berterima kasih, malah memarahiku. Aku juga sakit.”

Biarin. Obatmu ‘kan murah, hanya beli di warung saja. Sedangkan obat Minhoon mahal. Yasudah aku ke dokter dulu, takut demamnya bertambah parah.”

“Hei, kau tak mengajakku?!”

“Tidak usah! Jangan lupa ganti baju, terus bekas popoknya dibuang, lalu beli obat. Uangnya ada di laci atau syukur-syukur pakai uangmu,” suruhmu. Lalu kau segera pergi keluar menuju mobil yang terpakir di garasi.

“Huh, kalau sudah punya anak, suami dilupakan. Dasar!”

Yah, beginilah nasib buruk seorang ayah penyayang.

 

.

.

.

| E N D |

 

okeh, maaf aku buat ff jelek untuk kesekian kalinya u,u

ohya, disini kalian bisa bayangkan castnya itu kalian dan bias. Kalau aku sih bayangkan yg jadi istrinya aku, terus suaminya si Myungsoo xD okeh, dengan kata lain aku istri yang galak O.O #frustasi #nyiletnyilettangan.. Aku istri yg baik kok u,u

Jujur aku bikin ff ini dari beberapa inspirasi:

1. Pas interview Myungsoo.

Interviewer: Goals for future?

Others: Get more better than now..

But, Myungsoo..

Myungsoo: Be a good father and husband..

Kalian tahu.. Itu Myungsoo! Aaaaaaaaaaa…. sumpah ya, aku kesengsem banget pas baca itu >.<

syg ga dpt videonya atau gifny T.T oh, my Myungsoo T.T

okeh, akhir kata, makasih bgt udh mau ngluangin waktu untuk failed fic ini dan untuk berkomentar :’)

4 thoughts on “My Son

  1. MIZU~~~~
    yang begini dibilang failed? FFmu itu bagus bagus, kamu dapet kata kata yang NGEH! gitu dari mana sih? iri deh….
    ahuehuehue, kalo aku bayanginnya aku istrinya, Sehun yang jadi suamina… AAA~~~ SEHUN~~~~
    dengan nama anaknya, kenapa aku malah inget sama Minho ya?
    BENERAN ITU MYUNGSOO BILANG BEGITU?!
    SWEET ABIS SI MYUNGSOO!!!! AAARGGHHH!!!! MYUNGSOO!!!!

    • EEH kak Lin kok bisa nyasar sampe sini ;__; hehe..
      aduh makasih banyak kak lin, tapi suer aku ngerasa ini failed, trs gimana dongg ;AA; hehe.. iri? kenapa musti iriin aku kak? -_- masih banyak author yang karyanya lebih hebat dari aku, sungguh!😀 hehe..
      aduh terserah suaminya mau siapa aja bolehlah😀 haha.. IYAA SUER MYUNGSOO BILANG KAYA GITU AKU AJA SAMPE SESEK NAPAS PAS TAU DAN LIAT VIDEONYA!! ASDJKGHFLSTP BANGET!!😳

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s