The Choi’s Little Sister [Siwon]


                 The Choi’s Little Sister|Drama, Family, Romance|PG-13

Namaku Choi Siwon, pemuda yang garis takdirnya sudah ditentukan oleh orang lain sedari lahir.

.

the-chois-little-sister-blue-light-version-cover

(credit poster to Han Hyema)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

                                                                                                       .          

The Choi’s Little Sister

Choi Siwon and the others Choi artist

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

“BENARKAH?” tawa Siwon, membalikkan badan menghadapkan matanya pada hujan di luar kamar. Derasnya air menganggu pendengaran meskipun tidak menghilangkan sinyal.

Suara di ponselnya nampak mengangguk. Orang itu lalu berkata, “Humn, ia bertanya apakah aku sudah tahu mengenai hal itu. Kubilang aku sudah tahu, baik dari orangtuaku mau pun darimu.”

Pemuda itu mengatupkan mulutnya, mengehentikan sang tawa. Ia lalu mendesah, menyandarkan kepalanya pada bantal di kasur.

Hujan di luar tidak begitu deras, hanya gerimis kecil di awal Februari—pertanda datangnya musim semi. Dan ini hanyalah pembicaraan telponnya dengan Tiffany yang biasa. Entah sejak kapan ritual ini berlangsung, melapor kejadian yang mereka alami setiap dua minggu atau paling tidak seminggu sekali (meskipun kata ‘putus’ sudah terucap berbulan-bulan lamanya). Dan Siwon pun tak sadar betapa ia menikmatinya.

“Terus beliau bilang apa?”

Tiffany di seberang sana tertawa kecil. “Ia bertanya apa yang kupikirkan. Lalu kujawab, aku bisa terima, meskipun butuh waktu. Ayahmu bilang ia percaya padaku, dan sambil membungkuk berkata bahwa ia benar-benar membutuhkan bantuanku.”

“Sekarang aku merasa seperti berhutang sesuatu padanya, ayahmu itu,” lanjut Tiffany, membuat senyum kecil Siwon mengembang.

“Kau memang berhutang padanya,” Siwon mengangkat wajah, mendelik suara ribut-ribut di luar kamarnya yang mengganggu. “Sekarang jelas tujuannya mengadakan acara tahun baruan kemari itu. Ayahku ingin bertemu empat mata denganmu.”

Tiffany tertawa sementara Siwon bangkit berdiri, mengernyitkan alis mendengar suara nyaring di luar yang semakin menyiksa. Dugaannya kalau bukan Jinri, ya Minho, atau Sooyoung, dan kemungkinan lain adalah teman-teman mereka yang merepotkan.

“Aku juga bertemu ibumu,” aku Tiffany. Siwon berhenti melangkah. “Selama ini sering kulihat wajahnya di majalah dan televisi, tapi kenyataannya dia memang menawan. Wajahnya mirip sekali denganmu, dan aku yakin kulitnya selembut Sulli.”

Pemuda itu mengangguk. “Dan dia pintar sekali bicara, persis Minho. Benarkan?”

Mantan pacar Siwon itu terkikik. “Tepat.”

“Yaaa, Jung Krystal! Aku berusaha menyelamatkanmu, tahu. Kamu nggak bakal nyesel!” Siwon sudah sampai di pintu kamarnya. Suara adiknya. Pemuda itu membuka pintu kamarnya dan menemukan Jinri juga Krystal di depan kamar Minho.

“Ada apa?” tanya Tiffany di telpon.

Siwon menghela napas, memunculkan tubuhnya di depan dua gadis itu dan meringis. “Ada misi penting, Fanny ah. Kutelpon lagi nanti, oke?”

The Choi’s Little Sister

Siwon pov

NAMAKU Choi Siwon.

Selama ini aku selalu merasa bersyukur dengan segala kebaikan yang telah Tuhan berikan padaku. Harta yang lebih dari cukup, pendidikan yang menopangku, wajah yang selalu membuat (uhuk) tante-tante (uhuk) di mall berdecak kagum, termasuk keluarga tempatku dilahirkan.

Umurku empat tahun ketika mulai dekat dengan haraboeji—kakek. Tujuh tahun ketika (saat itu aku jelas tak paham mengapa) ayah Sooyoung—sepupuku—pergi meninggalkan rumah. Delapan tahun kala haraboeji meninggal. Sembilan tahun hidupku saat nenek menyusul kakek kembali ke bumi. Umur sepuluh ketika pertanyaanku akan dunia tak terjawab.

Sekarang umurku delapanbelas tahun, dan aku paham jalan hidupku.

Ketika ayahnya masih bersama Sooyoung, keluarga kecil mereka tinggal di rumah utama. Bersama dengan haraboeji dan halmeonni, rumah sebelah menyaingi ributnya rumahku dengan sepasang orangtua dan tiga anak.

Minho yang berumur empat tahun kerap mengajakku main ke rumah utama, hendak bertemu Sooyoung—partner in crimenya—sementara aku bertemu haraboeji. Kala itu Jinri baru belajar jalan. Ngomong pun susah.

Aku yang lima tahun, duduk dengan selimut hangat di halaman belakang bersama haraboeji. Mendengarnya bicara, “Perusahaan tidak akan berjalan baik bila tidak dipandu oleh pemimpin yang baik pula. Tapi pemimpin yang baik pun masih tak cukup, karenanya ia butuh bantuan dari berbagai karyawannya sebagai penopang.

“Karena itu, Siwon ah, Choihwang butuh bantuanmu sebagai penopangnya, untuk membuat perusahaan ini tetap baik.”

Aku tidak paham, sungguh (apalagi aku masih lima tahun). Yang aku dapat hanya, bahwa aku harus jadi penopang ‘sang pemimpin’ Choihwang kelak. Hal itu terdengar di telingaku dari mulut haraboeji, sebagai pekerjaan yang sangat hebat, menakjubkan. Aku ingin jadi penopang si pemimpin.

Dua tahun berikutnya ayah Sooyoung meninggalkan rumah.

Semua orang di rumah sibuk berkeliaran. Tangis Sooyoung hampir terdengar setiap hari, memaksaku dan Minho menemaninya di tempat tidur setiap malam. Sementara ibu kami sendiri sibuk menenangkan Bibi Gina di ruangannya seharian.

Tujuh tahun aku dan enam tahun Minho bermain sepakbola jam sembilan malam, jelas tak fokus mendengar kakek berkata, “Janji diucap untuk ditepati. Perjanjian dan peraturan juga serupa. Mereka dibuat untuk ditaati, bukannya justru untuk dikhianati, dilanggar dan diberontak.

“Peraturanmu adalah sebagai penopang perusahaan, bukan sebagai pemimpin, Siwon ah. Ketahuilah nak, pria sejati adalah mereka yang mematuhi peraturan.”

Bodohnya aku termakan ucapan kakek. Sampai sekarang pun aku selalu taat aturan.

Tahun depannya, kakekku yang luar biasa ini kembali ke Yang Maha Kuasa. Pertanyaan hidupku mulai muncul, diawali dari kalimat terakhirnya padaku di rumah sakit, yang berbunyi, “Pemimpin Grup Choihwang berikutnya, Adalah kau Choi Siwon, cucuku.”

Apa?

Tiga tahun lebih aku berperan sebagai penopang—pembantu—asisten si pemimpin. Sekarang ternyata aku berubah jadi si pemimpin itu? atau sedari awal aku memang pemimpinnya? Maksudnya apa?

Tiba kala aku ingin bertanya pada kakek, batu nisan berkilau itu tidak merespon pertanyaanku. Membuatku geram.

Selepas kepergian kakek, gantian halmaeonni menjadi guruku. Mata pelajaran yang diajarnya adalah cinta. “Aku percaya cinta sejati. Percaya cintaku selamanya pada kakekmu, meyakinkanku untuk menikahinya.

“Menikahlah dengan cinta sejatimu, Siwon ah, maka kebahagiaan abadi kan menyertaimu.”

Sembilan tahun umurku ketika nenek bicara cinta. Aku percaya.

Percaya bahwa aku harus menikahi gadis cinta sejatiku.

Aku sepuluh tahun ketika nenek akhirnya meninggal, sedikit pun tak menghapus seluruh kepercayaan dan keyakinan yang diajarkan kakek dan nenekku sebelumnya. Aku masih menganutnya, meskipun keraguan itu terbaca di mataku.

Aku tumbuh dan berkembang.

Di sekolah menengah pertama aku melanggar kepercayaan nenek atas cinta sejati ketika berpacaran. Mempertanyakan kebenaran kalimat nenek saat aku sadar cinta sejati itu hanya dongeng cinderella.

Menuju sekolah menengah akhir, otakku bekerja. Aku melihat di televisi, membaca di koran, berbagai tindak kriminal yang melanggar peraturan. Melihat teman-temanku mengkhianati aturan sekolah. Membuatku bingung ke mana harus berpegangan.

Dan pertanyaan terbesarku sekarang, masihkah aku menjadi penopang si pemimpin? Kalau iya, siapakah si pemimpin itu? Jelas-jelas presiden direktur Choihwang yang sekarang adalah Choi Seunghyun, yang nantinya pasti akan berlanjut pada Choi Siwon.

Aku ini apa?

Hidupku bagaimana?

Pertanyaan itu tidak berhenti. Terus berlanjut membuatku sakit kepala.

Sampai tiba malam itu, beberapa bulan sejak ulangtahunku yang ke tujuhbelas. Langit berbintang menakjubkan di malam London yang biasa. Adikku Minho pergi ke luar dengan temannya si office boy hotel atau apalah itu. Berdua dengan ayah di balik tirai megah suite hotel, ia bicara.

Ayahku mengungkap semua tentang kisahnya, nasib keluarga kami, takdir hidupku.

Ternyata sedari awal jalan hidupku sudah ditentukan. Apa yang akan kuraih di masa depan, karir apa yang menantiku, siapa gadis yang kan jadi istriku, semua sudah disiapkan. Nyatanya aku, Choi Siwon, adalah pemuda yang garis takdirnya sudah ditentukan oleh orang lain sedari lahir.

Dan orang lain itu adalah kakekku.

Segala hal yang diucapkannya padaku dulu hanya pendukung bagiku untuk percaya padanya. Bahwa di masa depan nanti, tanpa mematuhi perkataannya itu pun, aku akan tetap menjalani hidup seperti yang sudah ditulis di atas kertas skenario hidup olehnya, kakekku itu.

Aku masih Choi Siwon, tetap delapanbelas tahun.

Tapi hidupku sudah jelas diatur olehnya. Bahwa di masa depan nanti, saat umurku empatpuluh, Choihwang masih akan berdiri megah dan akan jatuh dalam pimpinanku. Aku tak kan jadi penopang, atau asisten, atau apalah. Karena akulah pemimpinnya.

Gadis cinta sejati itu dari awal memang tak pernah ada. Adanya gadis yang ditetapkan oleh kakek untuk jadi istriku. Karena aku masih menganut kepercayaan kuno kakek untuk ‘tidak melanggar peraturan’, maka naskah takdir itu akan kujalankan. Takdir yang kuterima dan tak kan kubantah.

Karenanya, selama aku tidak melanggar peraturan, maka Tiffany Hwang sah terikat denganku.

The Choi’s Little Sister

AKU mengangkat sebelah alis, menyuruh Kyuhyun mengulang kalimatnya.

“Sentuh, bayar. Main, bayar. Kalau main terus kalah, bayar juga,” ancam Kyuhyun setelah sampai di ujung ruangan OSIS, berdiri di pintunya. Langkahnya sudah mau berangkat, sebelum pemuda itu kembali berbalik dan menunjukku. “Kalau menang, bayarnya dua kali lipat.”

Maka pergilah Cho Kyuhyun meninggalkan ruang OSIS.

Aku mendengus, dalam hati memutar bola mata lucu.

Sungguh aneh Kyuhyun memberikan ancaman begitu padaku. Kalau pun aku main dan disuruhnya untuk membayar, berapa jumlah yang Kyuhyun minta? Rasanya semahal apa pun aku sanggup. Makanya bodoh orang yang mengancam dengan meminta uang dariku. Mereka lupa aku ini Choi Siwon, penerus Choihwang.

“Siapa juga yang mau main game murahannya,” gerutuku kecil. Tapi ternyata cukup besar untuk terdengar oleh gadis di seberang meja, membuatnya tertawa.

Bel masuk lima menit lagi berbunyi, mengkahiri rapat jadi-jadian OSIS ini. Terbukti dari ketidakhadiran setengah dari pengurus di rapat tadi. Pengurus terakhir barusan saja keluar, tinggal aku dan Yoona di dalam. Lagipula yang dibahas hanya program terakhir pengurus angkatan kami, sebelum akhirnya kami harus menyerahkan jabatan pada pengurus baru.

“Game jaman kapan, nih?” masih dengan tawa, Yoona meraih game yang bentuknya apalah itu di meja di tengah ruangan. Sengaja Kyuhyun tinggalkan di sana, pemuda itu bermaksud kabur setelah masuk kelas beberapa menit. Dengan berbekal izin ke kamar kecil, dia bakalan lari ke sini untuk mulai main lagi.

Omong-omong soal masuk kelas, ingin juga aku kabur seperti yang dilakukan Kyuhyun. Preman itu dengan santainya melanggar peraturan, bolos kelas dan menerima kuhuman dengan tawa. Apalagi setelah ini ada pelajaran akutansi, menambah godaanku untuk melanggar aturan.

Melanggar peraturan.

“Gimana sih, cara mainnya? Hahha,” tanya Yoona lagi, mengutak-atik game kesayangan Kyuhyun tanpa bisa memenangkan pertandingannya. Ia lalu menunjukkan game jadul itu padaku.

“Entah,” senyumku kecil, mengangkat bahu. Yoona masih saja tertawa.

Aku mendengus. Entah Kyuhyun yang terlalu rendahan, atau memang ia nggak punya game yang lain. Game yang begituan bahkan nggak laku lagi di jual di pasar, saking jadulnya. Miskin banget pemuda itu.

Ketika akhirnya aku bangkit berdiri dan meraih buku catatanku dengan tangan. “Aku duluan, Yoona,” kataku.

Yoona mengangkat sebelah alis, persis seperti yang tadi kulakukan pada Kyuhyun. “Ke Kelas? Ngapain? Bolos aja yuk, sekali-kali juga, hahahha,” cegah gadis itu—yang lagi-lagi dengan tawa.

Aku tertawa keras dalam hati, meskipun yang nampak di wajahku pasti hanya seulas senyum kecil. Aku? melanggar peraturan? Rasanya tidak logis. Apa kata guru nanti begitu Choi Siwon si murid tampan, kaya, baik dan sopan itu bolos? Bisa-bisa semua imejku hancur.

“Aku tidak melanggar peraturan,” ucapku seolah bergurau. Sudah berdiri, tinggal mengambil langkah menuju pintu. Tapi Yoona kembali memotong jalanku ketika ia berkata, “Peraturan di buat untuk dilanggar, tuan Choi. Lagipula untuk sekali ini saja.”

Mataku berputar dan bersitatap dengan Yoona. Rambut sepundak gadis ini tidak bergelombang cantik seperti Sooyoung. Tapi cukup rapi dan nyaman dipandang. Matanya berbinar. Tawanya yang lebar membahana bervirus, menyebar pada siapa pun yang mendengar untuk ikut tertawa (dan masih membuatku bertanya-tanya bagaimana gadis ini bisa selalu terlihat senang di berbagai situasi).

Kupandang kedua bola matanya dengan jurus mata (uhukgenituhuk) andalanku, dan sukses membuat Yoona sedikit kikuk. Ketika aku hendak bicara, gadis itu (lagi-lagi) dengan berani memotongnya.

“Jujur saja, sebenarnya kamu juga ingin bolos, kan?”

Hampir aku ketahuan tertohok. Bagaimana gadis ini bisa tahu? Pembaca pikiran, eh?

Yoona mengedikkan kepalanya ke kursi tempatku tadi duduk, tersenyum. “Ayo duduk, lagi. Kita bahas tentang pengumpulan dana untuk membantu korban bencana alam tadi saja. Aku masih punya beberapa ide, Siwon ah.”

Entah bagaimana tubuhku bisa bergerak sendiri. Aku kembali duduk di kursi semula, membuat senyum di bibir Yoona terukir manis.

Im Yoona.

Kami hanya pernah sekali sekelas, itu pun dua tahun lalu, ketika kelas sepuluh. Kuperhatikan ia banyak tertawa di kelas. Dan, ya, semua yang bersamanya entah kenapa selalu terlihat sedang tertawa. Yoona terkenal akan keceriannya di seluruh penjuru sekolah, tak heran jumlah teman yang dimilikinya sungguh melimpah.

Dan satu lagi. Im Yoona suka padaku. Terbukti dari aura malu di mata cerianya ketika ketahuan sedang memperhatikanku di beberapa rapat OSIS, dan sikap berlebihannya untuk menarik perhatianku.

Bicara dengannya menyenangkan. Ia manis dan yah, lumayan cantik. Mengingat ia termasuk salah satu mantan Heechul (Tiffany dan adikku yang cantik, Jinri, juga mantannya.) Sekarang pemuda banci itu pacaran dengan Jessica, entah apa yang dilihat si cantik Jessica dari Heechul.

Karena kehebatan mantannya yang cantik-cantik itu, maka kamu belum akan dianggap cantik kalau belum jadi pacar atau pun mantan Heechul. Sungguh sekolah yang aneh. (Iya, dan anehnya Sooyoung belum juga jadi mantan Heechul.)

“Acara amal?”

Yoona mengangguk mengiyakan, nampak bahagia karena aku memperhatikan. “Ini sesuai dengan sekbidmu, Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi bisa dimasukin sebagai program tambahan di laporan tahunan nanti. Lagian, untuk program terakhir, baiknya kita ngelakuin hal-hal yang baik dan bermanfaat, kan?”

Aku menatapnya dan hanya bisa mengangkat sebelah alis. “Caranya gimana, yoona?”

Gadis itu tersenyum—yang lagi-lagi menumbuhkan hasratku untuk memilikinya. Rasanya sudah lama ingin kutembak gadis ini kalau aku belum terpesona oleh Tiffany. Dan sekarang, takdir dan peraturan itu mengikatku. Prinsipku sendiri untuk tidak menyakiti Tiffany dengan berpacaran dengan gadis lain.

Tapi bagaimana?

Im Yoona baru saja meyakinkanku untuk melanggar peraturan dengan membolos. Ini pertama kalinya aku melanggar, dan berhasil. Membuatku ragu apakah benar pelanggaran yang kubuat ini.

Haruskah aku terus melanggar? Dengan terus bersama Yoona?

The Choi’s Little Sister

KAMI kakak adik berempat ini rutin mengunjungi kantor pusat perusahaan dua kali dalam setahun. Biasanya di awal musim semi dan gugur, setiap tanggal sepuluh. Termasuk sepuluh Februari kemarin. Tujuannya tak lain tak bukan adalah menyapa seluruh pegawai dan duduk-duduk di atap kantor sambil minum coffe (Jinri: es krim).

Dengan banyaknya jumlah pegawai di sini, butuh seharian penuh untuk menyapa semua. Apalagi jika menyapanya dengan gaya kami masing-masing, bisa-bisa dua hari atau tiga baru selesai pekerjaan merepotkan ini.

Menyapa si Seungri misalnya, sekretaris appa yang nongkrong di ruangan tak jauh dari ruang presdir.

Dari jauh Minho bakalan lari dan berteriak, “Oi, Seungri hyung!” Dan dari perubahan ekspresi Seungri ahjusshi pun nampak betapa besar rasa rindu sekretaris appa pada adikku ini—sebelum mereka ngobrol ngorol-ngidul tentang kekalahan telak Barcelona atas AC Milan di pertandingan kemarin malam.

Jinri menyusul. Tersenyum dengan bibir, mata, dan seluruh urat wajahnya, berkata, “Selamat pagi, Seungri ahjusshi.”

Kali ini dibalas olehnya dengan senyuman. Seungri ahjusshi yang tengah merapikan mejanya dengan berbagai berkas akan terhenti aktivitasnya, karena Jinri berkata, “Oh, sini biar kubantu.” Sungguh Jinri tak kan berhenti membereskan sampai bersih betul meja kerja itu.

Sooyoung lain cerita. Begitu sampai langsung tersenyum cantik. Cantiknya bukan main, sebelum kemudian berlalu begitu saja. Tanpa Seungri ahjusshi ketahui tab hitam di atas meja dan makan siang di lacinya sudah raib dibawa pergi.

“Oh, Selamat pagi, Siwon ah. Apa kabar?” sapanya begitu aku lewat terakhir.

“Baik, terima kasih,” jawabku dengan senyum kilas dan anggukan. Melihatnya bergumam, “Sopan ya, seperti biasa,” mengingatkanku bahwa aku masih Choi Siwon, putra Choi Seunghyun yang ‘sopan’.

Itu embel-embel yang orang berikan padaku. Orang bilang aku pemuda tampan yang sopan. Orang bilang aku pandai bertutur, taat agama, penerus yang berpotensi…

Orang bilang.

Lagi-lagi pendapat orang lain. Selalu saja mereka menilaiku dari luar.

Aku muak. Segala hal mengenai nama ‘Choi’ yang kupakai dan takdirku dengan peraturan juga segala hal di keluarga ini membangunku menjadi aktor. Tersenyum di hadapan seluruh kolega dan mendesah jijik pada setiap pujian. Mengucapkan kebalikan dari kata hati. Rasanya kotor tubuhku dari luar.

Lalu aku menatap mereka.

Sooyoung yang masih saja usil pada semua orang. Tahu dia sedang mencari perhatian, mengalihkan sepi keluarganya. Tapi sepupuku itu tertawa dan ia menikmatinya.

Kemudian Minho yang nakalnya luar biasa. Mulutnya sungguh mengagumkan, kemampuan bersosialisasinya membuatku berdecak. Hampir seluruh warga Seoul mengenal Choi Minho. Tapi itu bukan karena embel-embel ‘calon penerus Choihwang’ seperti yang kusandang.

Namun karena ia pandai bergaul, dan ia tidak berpura-pura. Minho tidak berakting.

Adikku yang manis, Sulli—atau Jinri. Di antara kami berempat, ia yang paling ‘baik’. Kami bertiga senang menghamburkan uang. Dengan belanjaan Sooyoung tiap bulan, pergaulan Minho yang tak terbatas, dan aku dengan segala kesombonganku.

Sulli masih saja di rumah, membantu Yoseob ahjusshi menyapu halaman. Tak jarang Sulli membantu Hara ahjumma mencuci piring dan menyuci baju. Lalu aku ini apa? Betapa kotor jiwaku dibanding gadis itu.

Bodohnya.

Dengan bangga kujeritkan pada dunia bahwa aku adalah Choi Siwon, penerus Grup terbesar di Korea Selatan, Choihwang. Apa arti manusia sombong sepertiku—dengan harta melimpah yang kupunya, dibanding adik-adikku? Mereka lebih pantas meneruskan Grup..

Tiga tahun lalu, ketika aku kelas 3 SMP. Kala aku muntah karena pusing mengenai takdir hidupku. Aku memutuskan untuk mencoba menjadi orang baik. Bekerja di pom bensin yang letaknya di sisi lain Seoul. Jadi tak ada orang rumah yang tahu mengenai hal ini.

Aku berusaha bekerja baik. Tersenyum ramah pada setiap pelanggan, tertawa sopan pada setiap kalimat, “Kau ini tampan sekali, sopan dan ramah pula. Kau pantas bekerja di tempat yang lebih layak dari ini, nak.”

Dalam hati aku tertawa, menyadari rasa sombongku tumbuh.

Tentu saja. Memangnya siapa yang mau bekerja di pom bensin murahan ini seumur hidup? Aku masih muda, tampan, dan aku penerus Choihwang.

Karenanya aku mulai bosan dan jarang masuk kerja. Aku kembali menjadi aku sombong yang dulu.

Sampai suatu hari bos di pom bensin memanggilku, dan memberikan ultimatum.

“Namamu Choi Siwon, kan? aku bukan orang buta, aku tahu kau penerus Grup Choihwang yang besar itu. Aku tak tahu apa tujuanmu bekerja di sini, tapi kalau kerjamu payah begini, aku meragukan nama Choi Siwonmu itu.” ucapnya.

Aku terdiam dan menatap pemilik pom bensin ini kesal, menahan marah.

“Kalau kau tak ingin dipecat, maka datanglah bekerja besok.”

Aku tersentak dan tersinggung. Dalam sekali kedip saja aku bisa membuat pom bensin ini bangkrut. Bos sombong itu lupa siapa namaku.

Lalu aku sadar. Aku lebih sombong darinya. Dengan harta ini mestinya aku bisa lebih banyak berbuat baik, bukannya bersikap sombong kekanak-kanakkan begini. Karenanya tekadku bulat untuk datang bekerja besok, dan menjadi lebih rajin bekerja.

Demam merajai badanku esok harinya. Panasnya membuat eomma dan Hara ahjumma panik setengah mati, mengompresku dan bergantian menjagaku semalaman. Aku terpaksa berbaring di kasur. Hari itu harusnya aku pergi bekerja, kesalku menjalar. Dengan mempertaruhkan nama Choi ini aku dipecat di sebuah pom bensin kecil di pinggiran Seoul.

Payah.

Lusanya aku sembuh, berniat untuk melewatkan sekolah dengan memohon agar kembali dipekerjakan di pom bensin. Aku akan bekerja seharian penuh—selama ini aku bekerja paruh waktu. Dan terkejutku luar biasa melihat Minho yang menggantikanku bekerja di sana.

Jam sembilan pagi. Adikku itu gila atau apa?

“Oi, Siwon hyung!” panggilnya. Senyumnya lebar sekali, dengan seragam merah dan topi yang dikenakannya. Harus kuakui, pakaian apa pun memang nampak pantas di badannya, adikku ini.

Pemilik pom bensin keluar begitu aku berdiri di depan Minho. “Kamu ngapain?” desisku. Ia mengangkat bahu, wajah tak berdosanya sungguh membuatku geram. “Pagi ini pelajaran matematika. Aku nggak bisa ngitung, males,” sahutnya. Aku menatapnya tajam.

“Pak, maaf kemarin saya tidak bisa datang,” ucapku begitu pemiliknya menghampiri. Sejak pertama bekerja di sini, tak pernah kulihat wajahnya tersenyum sekali pun. Mataku masih normal, dan saat itu yakinku ia sedang tersenyum.

“Tak apa, Minho yang menggantikanmu di sini, kemarin,” bapak itu menepuk punggung Minho dan tersenyum padanya seolah mereka teman lama. Aku terdiam, menatap mata adikku tidak suka (Hei, dia bolos sekolah dengan sengaja) dan mendengus. Selain memarahinya karena berani bolos, bukankah sebaiknya aku berterima kasih padanya?

Aku berganti seragam kerja, berdua dengan Minho melayani pelanggan yang kendaraannya minta diberikan minum. Hari itu surat izin sakitku masih di sekolah, jadi bukan karena aku bolos seperti Minho hingga bisa leluasa ke pom bensin pagi begini.

Saat pelanggan sepi, aku menghampirinya. Menatapnya dengan pandangan menenangkan yang membuatku nyaman, menyiratkan rasa terima kasih.

“Dih, maaf hyung. Tapi aku masih suka cewek,” ujarnya jijik melihat tatapan mataku. Kemudian Minho tertawa. “Tapi kalau mau bilang makasih, pulsa limapuluh lumayan juga.”

The Choi’s Little Sister

KETIKA itu Minho kelas 2 SMP, dan hampir setiap hari kami bekerja di pom bensin di pinggiran Seoul, bergantian. Honor yang kudapat memang tidak banyak, tapi cukup membuatku mendapat sejumlah pelajaran berharga mengenai kehidupan yang jauh dari kemewahan. Tiga bulan berikutnya rahasia ini diketahui appa, dan berakhirlah masa-masa bekerja di pom bensinku.

“Yakin?” ujarku ragu. Menatap Yoona di sebelahku dengan sebelah mata. “Mereka itu bukannya orang yang mau ngerjain tugas beginian. Kamu nggak kenal mereka, Yoona,” tolakku tegas.

Yoona tertawa, dan membuatku hampir copot jantung karena beku darahku melihat indah tawanya.

“Udah, telpon aja,” ujarnya. Lagi-lagi, tubuhku bergerak di luar kontrolku, menuruti perintah Yoona tanpa sadar. Tangan ini meraih ponsel di kantong dan mulai menelpon adik-adikku (ya, Sooyoung juga terhitung sebagai adik).

Aku kembali pada gadis ini beberapa saat kemudian. Melirik dua kardus cokelat kosong yang dieratnya dengan tangan. “Minho masih jauh, dia ada di seberang Seoul, bakalan lama nyampenya. Ssul di rumah. Dan Sooyoungie sebentar lagi sampai, tapi yah, dia, kau tahulah, habis belanja.”

“Wah, bahaya. Ingatkan sepupumu itu untuk tidak berpakaian terlalu mewah, bisa gagal rencana,” Yoona mengangkat sebelah alis. Entah bagaimana ia bisa berucap begitu dengan nada senang dan tawa.

Aku mengangguk paham.

Program OSIS kami yang terakhir, adalah mengumpulkan dana untuk korban bencana alam. Akhir-akhir ini sering terjadi longsor dan banjir di beberapa kota terpencil di Korea Selatan, karena itu kami berniat untuk membantu. Dan usul Yoona untuk menyelenggarakannya dengan meminta sumbangan.

Minta sumbangan, iya benar. Di tengah jalan, di persimpangan, di dekat lampu lalu lintas ini kami membawa kardus. Pergi menghampiri mobil-mobil yang berhenti menunggu lampu untuk berganti hijau sambil meminta simpati mereka.

“Permisi tuan, mohon bantuannya untuk korban bencana alam,” ujarku, mengucap sepelan mungkin di dekat jendela kaca sebuah mobil hitam. Mobil mewah.

Si sopir tidak membuka kacanya hanya untuk mendengarku. Bahkan untuk mengucap ‘maaf, terima kasih,’ pun tidak. Begitu lampu hijau mobil itu langsung melaju, sungguh mata mereka buta. Nggak melihat ada orang di tengah jalan begini, dan langsung lari ngebut aja.

Aku berdecak kesal.

Sebenarnya jalan ini bukan terletak pusat kota Seoul, namun daerahnya dapat dikatakan ramai. Dan di daerah sinilah penduduknya biasa paling ramah. Pengurus OSIS lain menyebar ke seluruh Seoul, meminta sumbangan dengan cara yang sama denganku.

“Permisi nyonya,” panggilku. Mobil mewah (lagi), dan mobil seperti ini biasanya akan berlaku sama. Langsung melenggang pergi, tanpa melihatku lagi.

Nah, kan. Kaca jendelanya tidak turun, masih tertutup rapat, sang nyonya aman di dalam. “Permisi, nyonya. Mohon bantuannya,” ketukku di kaca jendela. “Permisi nyonya,” ujarku untuk yang ketiga kalinya. Kuketuk lagi kaca jendelanya.

Kaca jendela di bangku belakang turun. Aku terkesiap dan menunggu.

“Nggak sopan banget sih, jadi anak. Tahu diri dong, ini mobil mewah. Tolong untuk tidak dirusak, kalau tidak sanggup mengganti kerusakaan yang diperbuat dengan ketukanmu itu,” desisnya. Pakaiannya mewah banget, cuman berdua sama si sopir. Aku terdiam.

“Anak siapa sih, kurang kerjaan banget minta sumbangan siang bolong begini. Pergi sana,” usirnya. Nyonya—nggak, dia nggak cantik. Masih cantik eommaku—itu mengenakan kaca mata hitam. Dengan syal macan tutul cokelat putihnya yang berlebihan menggerakan jemari dengan kuku lentik warna-warninya, menyuruhku pergi.

Tanpa sadar aku melangkah mundur, berdiri di trotoar dan memandang kesal mobil yang membawa nyonya itu pergi dari jauh.

Anak siapa katanya? Aku menarik napas, baru hendak mengucap ritualku, dan tersadar. Itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, aku harus mulai belajar untuk mengendalikan rasa sombongku.

Dari sudut mata kulihat Yoona datang mendekat. Sebenarnya ini hari libur, tapi untuk mendukung kegiatan ini kami berdua mengenakan seragam sekolah. Ia tersenyum padaku dan mengangkat alis, menanyakan hasil kerjaku dengan matanya.

“Sudah kubilang cara ini nggak efektif. Kita kan bisa minta sumbangan sama murid-murid, dengan hasil yang lebih pasti dan… banyak,” gerutuku.

Kulihat kardus di tangan Yoona berisi beberapa lembar uang, sebelum gadis itu raih uangnya dan ia kumpulkan, dimasukkan ke dalam tempat khusus. Gadis itu melirik kardus dengan tulisan ‘Bantuan untuk Korban Bencana Alam’ di depannya, kardusku yang kosong. Ia mendengus dan malah tertawa.

“Belum beruntung saja,” gumamnya. Itu? hanya itu yang dibilangnya? Aku menarik napas. Kalau Tiffany pasti sudah menghiburku dengan segala macam cara ampuhnya.

“Mereka bahkan nggak ngebuka kaca mobilnya, Yoona! gimana kita bisa dapet uangnya. Ugh,” kulempar kardus itu ke tanah dan membungkuk. Kami berdua berdiri di depan sebuah Mini Market kecil, di salah satu pojok persimpangan. Tempatnya agak menjorok ke dalam, tak kan terlihat dari perempatan tempatku meminta sumbangan tadi.

“Sial,” segala sumpah serapah itu keluar dari mulutku. Dan ini bukannya hari mendung, tapi cuaca panas dengan matahari yang menyengat. Dari awal aku sudah menolak cara ini. Nggak akan berhasil, pasti.

Aku meraih dompet di kantong celana, meraup semua uang lembar di dalamnya—semua—dan hendak melemparnya ke dalam kardus. Tapi tangan Yoona menahan tanganku, aku berhenti dan menatapnya kesal. Wajahku pasti seram sampai Yoona terkesiap dan balik melihatku.

“Jangan,” bisiknya, takut dan gemetar dalam suaranya. Gadis ini lalu menelan ludah. “Pasti ada cara yang lebih baik dari ini, Siwon ah. Tolong simpan uangmu lagi,” ia mendorong tanganku. Terpaksa kumasukan lagi uang ini ke dompet.

“Orang kaya sialan,” umpatku. Wajah pucat Yoona kembali sepertia biasa, dan ia terkikik. Aku mendeliknya heran.

“Bukannya selama ini kamu juga gitu? Duduk nyaman dalam mobil bahkan nggak peduli sama apa yang terjadi di sekitar?” ia tertawa. “Mungkin mereka ngeliat mobilmu, makanya nggak ada yang mau ngasih sumbangan ke kamu,” Yoona masih saja tertawa.

Aku menarik napas dan diam-diam melirik audi hitamku yang terpakir rapi di pelataran Mini Market. Yah, yah, kadang aku juga melakukan hal yang sama kalau lagi di mobil. Melihatnya baru aku sadar. Mobilku juga masuk kategori mobil mewah, ya?

Ponsel di kantongku bergetar. Nama Jinri tertera di layar. Baru mau kujawab telponnya, orang yang menelpon keburu datang.

Oppa!” serunya. Aku mengangkat wajah dan mengangkat tangan, tersenyum kecil dan kembali memasukan ponsel ke kantong. “Sul,” sahutku.

Adik bungsuku, turun dari mobil hitam yang biasa di supir Lee Joon ahjusshi dari pintu belakang. Nampaknya Sooyoung pulang dan berganti pakaian, lalu menjemput Jinri dulu di rumah, karena sepupuku itu muncul dari jok belakang bersamaan dengan Jinri. Aku menarik napas syukur, Sooyoung nggak pakai baju yang berlebihan.

Kuhampiri Lee Joon ahjusshi, kukatakan padanya Jinri dan Sooyoung akan pulang denganku. Kuntunjuk mobilku di parkiran Mini Market, dan Lee Joon ahjusshi beranjak pulang. Mataku menyipit. Mobil yang dikendarai Lee Joon ahjusshi, Lamborgini. Mengingatkanku bahwa mobil mewah juga dinaiki Jinri dan Sooyoung.

“Yoona,” desis Sooyoung begitu aku kembali.  Atmosfer aneh yang canggung meresap. Kedua gadis ini nggak sekelas, mungkinkah Sooyong masih kesal pada Yoona—layaknya kejadian tahun baruan kemarin itu?

“Oppa, kita mau ngapain?” Jinri memecah hening.

Aku berbalik dan tersenyum pada adikku, menjelaskan apa yang harus dilakukannya. Rambut Jinri dan Sooyoung diikat satu, ekor kuda di belakang. Dengan poni yang bergaya sama dan kaos putih (Sooyoung) dan merah muda (jinri) yang keduanya kenakan, entah mataku saja, atau mereka terlihat seperti gadis kembar?

Jinri, Minho dan Sooyoung akan membantuku dan Yoona meminta sumbangan. Dengan cara yang sama seperti tadi. Semakin banyak pasukan, semakin cepat selesai. Itu yang Yoona bilang.

“Oke, siap, bos,” hormat Jinri, dengan senang meraih kardus untuk sumbangan yang kuberikan. Ini aneh, tapi entah kenapa kulihat Sooyoung juga nampak semangat. Sepupuku semangat minta sumbangan? Sungguh selama ini tak ada hal lain yang dapat membuatnya bahagia selain belanja.

Aku berdiri di sisi lain perempatan, melakukan kegiatan yang menyebalkan ini lagi. Sekarang aku pasang muka flat, terserah mereka mau ngasih sumbangan atau nggak.

Tiba-tiba aku penasaran. Aku membalikkan badan dengan kardus kosongku sebagai payung dari sengitnya matahari, melirik adikku. Di sana Jinri dan Sooyoung, saling membelakangi dan tersenyum ramah pada mobil-mobil yang berlalu-lalang. Keduanya nampak begitu santai dan menikmati pekerjaan yang mereka lakukan setiap incinya.

Aku terkesiap bingung.

Setiap lima belas menit kami kumpul di depan Mini Market, beli minuman kaleng dan cemilan sambil menghitung jumlah uang yang dihasilkan. Jinri dan Sooyoung mendapat dua kali lipat lebih banyak dari Yoona. Aku diam.

“Ternyata bakat juga minta sumbangan,” puji Yoona pada adikku dan Sooyoung. Aku tahu maksudnya tulus. Jinri sudah senyum lebar aja segede kambing, tapi Sooyoung malah berdecak. “Bakat jadi pengemis maksudnya? Hahha.”

Semakin aneh, Sooyoung ketawa ngakak, begitu juga Yoona. Tawa Jinri menyusul setelahnya. Aku mengerutkan alis heran. Orang-orang ini, kenapa santai begitu?

Minho datang sejam berikutnya. “Ini siapa? Kok ada kembar siam?” adalah kalimat pertama yang diucapnya begitu membuka helm dan menunjuk Jinri juga Sooyoung. Ternyata aku bukan satu-satunya yang merasa Jinri dan Sooyoung mirip kala itu.

Jinri, Minho dan Sooyoung benar-benar membantu. Hadirnya mereka menambah hasil sumbangan kami berkali-kali lipat. Tak jarang kulihat tuan atau nyonya yang ada di dalam mobil justru tertawa bersama Sooyoung, selagi menunggu lampu hijau. Beberapa diantara mereka sampai menanyakan nama Minho dan mendesah kesal ketika harus berpisah dengan adikku itu.

Sudah jam empat sore. Sejauh ini aku hanya mendapat sepuluh ribu, jikalau dirupiahkan. Aku menegak kaleng colaku kesal, duduk di teras Mini Market sambil memperhatikan adik-adikku yang berlari ke sana ke mari dengan riang, meminta sumbangan.

Aku kurang ganteng atau apa? Kenapa si Minho gampang banget ngedapetin hati mereka hanya sekedar untuk ngasih sumbangan?

“Waha, adikmu hebat banget, nih. Hasil kita lumayan juga,” ujar Yoona, gadis itu datang dengan keringat di pelipisnya. Matahari memang lagi terik, tadi sudah kubilang. Gadis itu meraih sebotol cola di jok mobilku (kami beli sepack, haus banget) dan duduk tak jauh dariku, menghitung seluruh hasilnya.

“Kamu dapet berapa, Siwon?” tanyanya. Aku menatapnya tajam, Yoona balas menatapku dan ia tertawa. Gadis ini sengaja banget nyindirnya.

“Mau tahu nggak rahasianya, buat menarik hati nyonya-nyonya itu?” Yoona menggerling perempatan tempat deretan mobil berhenti bergantian menunggu hijau lampu lalu lintas. Aku mengangkat alis.

“Apaan?”

Gadis itu tersenyum. “Kerja dengan hati, lakukan dengan ikhlas, bukan dengan kesal. Mereka tahu dari luar jikalau kita bekerja dengan sepenuh hati. Kelihatan kok dari wajahnya.”

Mataku menyipit. “Jadi aku jelek? Wajahku nggak ikhlas, gitu ya?”

Yoona tertawa dan menggeleng, berkali-kali menolak berkata bukan itu maksudnya. Tapi aku tahu apa inti yang dibicarakannya.

Dan aku mencoba—bekerja dengan hati itu. Tersenyum tulus, sungguhan dari hati dan berkata sopan. Sopan yang beneran, bukan hanya gaya-gayaan sopan seperti yang selama ini kulakukan. Aku tahu aku berasil—Yoona berhasil—begitu melihat hasil kerjaku yang bertambah.

“Benar, kan?” ujar gadis itu, menatapku. Aku hanya mengangkat bahu.

Ternyata sengaja Yoona mengajukan usul untuk melakukan kegiatan ini, ia ingin memberiku pelajaran. Mengenai bekerja dengan hati dan ikhlas, sungguh-sungguh, bukan hanya pura-pura dan akting. Dalam hati aku tersenyum, menatap balik mata Yoona di hadapan tawa adik-adikku.

Hari ini aku mendapat pelajaran, terima kasih untuk Yoona.

The Choi’s Little Sister

ORANG bilang 14 Februari itu hari valentine—hari kasih sayang, dan sejenis itu, dan semacamnya.

Selama ini tidak pernah hari itu kulalui dengan perlakuan khusus—kecuali stok cokelat di rumah tiba-tiba saja bertambah banyak. Tapi sore ini, setelah berkali berkata pada Jinri, “Bukan Sul, bukan oppa yang ngasih cokelat itu,” dikarenakan cokelat misterius yang ada di kasur Jinri setelah ia pulang sekolah. Ternyata aku juga dapat hadiah, seorang tamu.

“Err, selamat hari kasih sayang?” ujar Tiffany ragu, gadis itu menyodorkan sebuah kotak berbungkus plastik—nampak baru dibeli dari tokonya, jelas dibeli tanpa persiapan.

Tamuku sore ini, Tiffany Hwang. Ia datang sendirian, berangkat naik taksi katanya. Kalau sudah begini terpaksa aku mengantarnya pulang nanti, jikalau ia memang ingin pulang.

“Maaf tidak dibungkus, dan diberi pernik lainnya—seperti tahun lalu,” ucapnya malu. Dalam hati aku ingin tersenyum. Tahun lalu Tiffany memberiku kue hasil karyanya sendiri. Meskipun rasanya lezat dan membuatku senang, ujung-ujungnya nasib kue itu juga berada di kerongkongan Sooyoung.

Aku mengeluarkannya dari plastik, melihat sebuah gantungan cokelat elegan berlapis. Bahannya terbuat dari kulit, dan gantungan di sekitar bawahnya kosong. Sebuah gantungan kunci mobil. Aku meraba bagian belakangnya, dan terkesiap. Masih ada har—

“—Dan, maaf masih ada harganya, hahhaha,” Tiffany tertawa canggung dan merebut gantungan itu. Mencopot tempelan harganya dan meremasnya, memasukkannya ke dalam kantong. Ia tertawa malu.

Aku hanya tersenyum kecil kala Tiffany mengembalikan hadiah itu padaku. Ia jelas membeli ini dalam perjalan ke sini, dan tiba-tiba sadar kalau sekarang aku sudah jadi jomblo.

“Makasih,” ucapku tulus, berkata dengan hati—sesuai yang diajarkan Yoona. Dan rasanya memang luar biasa begitu melihat Tiffany membalas senyumku dengan hati senang.

“Sebenarnya kemari aku mau memberi tahumu satu hal,” ujarnya. Tiffany mengikat satu rambutnya, membuatnya nampak rapi dan manis. Kepalanya berbalut hoodie ungu tipis yang lucu.

Aku mengangkat alis. “Ada apa?”

Blush on di pipi dan rona malunya berpadu satu. “Sebenarnya,” ia menelan ludah, dan tiba-tiba aku merasakan firasat tak menyenangkan. “Sebenarnya Yunho oppa tadi menembakku, siang pulang sekolah,” ucapnya.

Aku menyipitkan alis, merasa tidak benar mendengar gadis ini mengutarakan hal beginian di depanku. Jung Yunho, kakak kelasku yang sekarang sudah kuliah, memang telah mengincar Tiffany sejak lama. Dan ini memang kesempatannya karena Tiffany sudah putus dariku.

Untuk apa gadis ini membicarakan hal ini denganku? Kenapa aku harus tahu?

“Kau harus tahu, karena ini menyangkut ikatan kita,” lanjutnya, rona malunya hilang. Aku mengangguk saja. “Pernikahan itu masih jauh, sangat jauh, Siwon ah. Aku tak ingin hidupmu terbuang hanya dengan menatapku saja. Setidaknya kau harus menikmati dunia, sebelum kembali  lagi karena terikat denganku.”

Aku menatapnya tak paham.

“Karenanya aku menerima Yunho oppa, aku tak ingin jadi bebanmu,” Tiffany menatapku disertai senyum geli. “Kau juga harus membuka hatimu, untuk Im Yoona.”

Entah bagaimana cara Tiffany memancingku, tapi pembicaraan ini berlanjut denganku yang bicara panjang mengenai perasaanku pada Yoona. Memang aneh, tapi entah kenapa ketika bersama Tiffany, rasanya aku tak bisa berbohong. Tidak ada yang bisa kusembunyikan kala menatap matanya.

“Kalau begitu sudah jelas, kan?” kata gadis itu lagi, bangkit berdiri, nampaknya hendak pulang. “Kau harus berterima kasih pada Im Yoona atas segalanya. Atau kau perlu bantuanku membuatnya?”

Aku terdiam dan mengangguk.

Aku akan berterima kasih pada Yoona, dengan memberikannya kue lambang hari empatbelas Februari itu.

Cokelat.

End.

The Choi's Little Sister [SIWON]

16 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Siwon]

  1. wah wah choi family gokil abis deh yg lebih gokil lgy choi seunghyun alias top knp jd babehnya siwon (?) si seungri jd sekrtrsny dpanggil ahjussi pula anak2 bigbang dsini pada tua haha😀

  2. wah disini ceritanya lebih serius ya
    tapi tetap nggak ngehilangin khasnya ff ini yaitu konyolnya😀
    dari ff yang ini aku juga belajar dari tingkah lakunya siwon loh author makasih buat pembelajaran hidupnya ^^
    kasihan sooyoung nggak nyangka dia ditinggal ayahnya
    choi sibling emang kompak, bikin iri
    cerita selanjutnya ditunggu🙂

  3. choi sibling selalu buat ketawa tapi ada hikmah.bingung dengan siwon,dia suka yoona tapi terikat dengan fany.Dan fany juga mendukung yoonwon.yang penting yoonwon!!

  4. Sepertinya aku salah baca hehe hrusnya aku baca part siwon oppa dulu yaaa.. tp malah yoong unnie version yg aku baca duluan tp gapapa aku mudah ngerti ko ceritanya hehehe…

    jd sbnernya yoonwon udh sama2 sukaaa waaahhh senangnya… dilanjut dong yaa unn crtanyaaa aku suka abis seru bgt dan kocak abis tingkah laku para tokoh disini.. bda dari biasa nya hahaha daebakk🙂

    Ditunggu lanjutannya yaaa dan ff yg lainnya jg tp tentunya yoonwon cast nyaaa hehe soalnya aku yoonwonited hahaha :

    Gomawo unn.. fighting : D

  5. Suka ama karekternya Sooyoung disini.
    Apa lagi pas dibilang dia ama sulli kembarsiam apa minho.. Lucu banget

  6. Mian br coment part ini😦
    Tp bener siwon suka yoona?klo bener cpet dtembak donk udah g sabar nich *plakk
    Wah chingu endingx yoonwon donk jeball😦

  7. Iniiiiiii fanfiction yang sangatt baguuss..
    lebih dari ceritta cinta cinta.an..
    ada pesan moral dan cerita yang sangat menyentuhh..
    Sukkaa sekaliiii..
    Meski akhirnya wonpa sama tiffanny..
    Jiwa Yoonwonited tetapp membara disiniii😀 ..

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s