an ILLUSION


Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Kwon Yuri [SNSD], Shim Changmin [TVXQ]

Genre: Angst

Rating: PG (Pariental Guide)

Length: Ficlet

Type: WIP (work in progress) – Stand Alone

Note: Untuk setiap kelanjutan judulnya bisa sama juga bisa beda, ceritanya akan tetap saling berhubungan meskipun tidak menutup kemungkinan akan muncul pairing berbeda. Dan untuk tiap bagian bisa dibaca tanpa membaca part sebelumnya. Semoga hal itu tidak akan mengurangi pemahaman setiap partnya :mrgreen:

:: You Are My Love ::

:: an ILLUSION ::

an illusion

Copyright&Cross-posting©Goetary

“Jangan pernah kembali lagi kesini.” Suara tegas seorang wanita menyeruak dari celah-celah dinding juga jendela ke pekarangan rumah yang kosong.

“Tak peduli apapun alasanmu. Aku tak ingin melihatmu lagi.” Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih marah ketimbang sebelumnya.

“Itukah yang kau mau?” sambut suara lain. Seorang pria.

Mata wanita berambut panjang itu memicing menatap pria jangkung di hadapannya. Senyum sinis merekah di bibirnya. “Itukah yang aku mau?” tanyanya skeptis.

“Yuri…”

Wanita itu membuang muka.

“Yul…”

“Pergi!”

“Yul…”

“Pergi kataku.”

Yuri-a.”

Oppa!” wanita itu tiba-tiba menghardik lelaki berambut coklat keemasan yang mengenakan blazer berwarna coklat muda dipadu jins hitam dan sepatu boot yang bahkan tidak di lepasnya sebelum memasuki rumah. “PERGI!!”

“Ini rumahku.” Suara itu pelan, hampir berbisik. Yuri pasti salah dengar. Tapi tidak, ia justru mendengarnya dengan sangat jelas. “Ini rumahku, Yul. Kau tak berhak mengusirku dari rumahku sendiri.”

Kali ini, bukan seringaian yang membingkai bibirnya, bukan lagi aura mematikan yang mempengaruhi suasana hatinya. Melainkan emosi lain yang lebih jelas. Lebih mudah di pahami. Yuri menangis. Hatinya tercabik hancur.

Wanita mana yang ingin di tinggalkan suami yang selama ini di pujanya karena sebuah alasan yang ia pun tak ingin memikirkannya. Lalu tepat ketika ia merasa yakin ia mampu hidup sendiri, suami yang meninggalkannya itu tiba-tiba kembali. Kembali menginginkan segalanya. Termasuk tempat terakhir yang Yuri miliki.

Yuri memutar tubuhnya membelakangi Changmin. Berusaha sekuat tenaga menarik langkahnya menjauh dari tempat lelaki itu berdiri. Terseok-seok menghampiri pintu kamar yang terasa menjauh beberapa kilo meter.

“Yuri…”

Yuri tak lagi mendengar panggilan Changmin. Ia mengabaikannya seperti lelaki itu mengabaikan dirinya. Ia tak lagi mau mendengar suara Changmin. Tak lagi ingin melihatnya. Tidak lagi. Tidak pernah. Tidak akan. Tidak. Tidak. Dan tidak.

Tapi alangkah baiknya jika hati dan jiwanya sanggup menyetujui pikirannya yang berkecamuk, yang meminta kesempatan untuk memegang kendali atas dirinya, sekali saja. Karena ia sangat membutuhkan persetujuan seperti itu. Persetujuan yang tak akan pernah di beri oleh siapa pun. Changmin sekalipun.

Terutama Changmin.

Yuri menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. Tenaganya habis terkuras. Emosi memenuhi dadanya.

Sakit.

“Yuri…”

Changmin tepat berada di belakangnya, di ambang pintu kamar yang terbuka lebar. “Maafkan aku.”

Yuri tak menjawab.

“Kau boleh tinggal di sini. Selama apapun yang kau inginkan. Aku tak akan kembali lagi, Yul. Aku yakin itu yang kau mau.”

Yuri tampak berusaha keras menahan isakannya.

“Yuri…” suara Changmin melemah.

“Tinggallah disini, Oppa.”

“Yul?”

“Ini rumahmu.” Yuri menyeka air matanya. Ia berdiri menatap Changmin. Dan baru sadar kalau lelaki di hadapannya itu, yang sudah dikenalnya lebih lama dari usia perkawinan mereka nampak benar-benar berbeda.

Wajah tampan yang di ingatnya telah kehilangan sisi kekanakannya, di gantikan oleh wajah pria dewasa. Tubuh jangkungnya kini nampak lebih tegap, lebih bersahaja. Dan yang terpenting, Changmin nampak makmur dan bahagia. Benarkah?

Yuri menangis lagi. Menyadari betapa keliru dirinya. Betapa ia marah pada diri sendiri karena terperosok terlalu dalam pada kenangan yang harusnya di lupakan. Bahkan Changmin sanggup hidup sendiri. Lelaki itu telah bahagia walau tanpa dirinya.

Yuri marah pada dirinya sendiri karena tak sanggup berpura-pura bahagia juga. Tapi toh semua sudah terlanjur. Changmin sudah melihat bagaimana terpuruknya dirinya tanpa lelaki itu.

“Jangan menangis, Yul,” bisik Changmin bergetar. Yuri sempat terkejut, namun cepat-cepat dihapusnya ekspresi mendamba dari wajahnya yang kian tirus tak bercahaya. Malu menatap wajah Changmin yang berbanding terbalik darinya.

“Maafkan aku, aku hampir tak bisa menghentikan air mataku, Oppa,” yuri berusaha tertawa, lagi-lagi gagal.

Yuri tak menggubris air mata yang tak mau berhenti mengalir. Juga tak berusaha memperhatikan ekspresi wajah Changmin yang selalu berubah tiap kali ia bicara. Ia beranjak mendekati lemari, mengeluarkan koper beserta semua baju miliknya.

“Yuri, apa yang kau lakukan?”

“Aku mau pergi, Oppa.”

“Kemana?”

“Kemana saja.”

“Katakan padaku, kemana kau ingin pergi?”

“Bukan urusanmu, Oppa.”

“Yul…”

“Kumohon, jangan seperti ini lagi padaku. Aku sudah cukup menderita karenamu. Berapa banyak lagikah air mata yang harus ku kuras supaya kau puas?”

Changmin mundur selangkah dengan paras pucat. “Apa maksudmu, Yul?”

Oppa, maaf. Aku hanya ingin pergi. Itu saja.”

“Kemana?”

Kehilangan kesabaran, Yuri menjerit. “Kemana saja asal tak melihatmu lagi!” Yuri menggeleng kuat-kuat. Rambut panjangnya bergoyang seiring gelengan kepalanya. Kali ini ia tidak menangis. Air mata sepertinya sudah kering. Tubuhnya kini mengerti, ia lelah.

Dan seluruh ruangan hening. Tak ada lagi suara napas Changmin. Tak ada lagi pertanyaan dan pernyataan lelaki itu yang tadi menyakitinya.

Lelaki itu telah lenyap.

Sosok Changmin yang tadi berdiri di ambang pintu sudah pergi. Sekali lagi tanpa pamit. Yuri mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan panik. Kosong. Bahkan pintu depan yang tadi terbuka kini tertutup rapat.

Langit di luar perlahan berubah kelabu. Yuri sadar ini sudah malam. Sekali lagi ia mengitari seluruh rumah, mencari bukti keberadaan Changmin beberapa saat yang lalu. Ketika ia sampai di kamar tidurnya, ia melihat kenyataan yang paling tak ingin di lihatnya. Menyadari kewarasannya yang mulai pudar.

Di atas ranjang baju-baju berserakan, sebagian di dalam koper yang terbuka, sebagian di kasur dan sebagian lagi terlupakan di lantai.

Yuri tersungkur ke lantai. Tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya kacau. Keheningan terasa memekakkan. Seluruh ruangan yang tiba-tiba bisu membuat dadanya sesak.

Dengan siapa ia bicara tadi?

Mengapa ia menangis?

Dimana Changmin?

Dan kesadaran itu kembali menghantuinya. Ia sendiri. Bicara sendiri. Changmin tidak ada. Changmin tidak pernah kembali sejak terakhir ia membawa serta pakaiannya ikut bersamanya. Changmin tidak pernah kembali. Tidak pernah. Tak akan pernah.

“Pergi!!” tiba-tiba Yuri menjerit kalut. “Pergiiii! Pergi dari rumahku! Pergi! Pergi! Pergi! Pergiiiiii!!!”

-See You Later-

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s