The Choi’s Little Sister [Yoona]


The Choi’s Little Sister|Drama, Friendhsip, Romance|PG-13

Kata orang, untuk mendapatkan ayahnya, dekati dulu anaknya. Maka bagi Yoona, untuk mendapatkan kakaknya, maka dekati dulu adiknya.

.

the choi's little sister cover yoona

(credit picture to Kak Mey)

[penting] Author’s note: Bagi readers yang ingin mengambil fanfic ini keluar dari blog ini, di publish di blog lain misalnya. Mohon cantumkan nama authornya secara jelas. Sampai detik ini plagiat tidak dihalalkan. Mohon pengertianya, kita sama-sama menuai karya, jadi kita saling menghargai =3

                                                                                                       .          

The Choi’s Little Sister

Im Yoona and the other Choi artists

Standard Disclaimer Applied

2013©Ninischh

Present

.

JANGTUNG Yoona sudah mau copot saking cepatnya dua katup di organ itu membuka tutup.

Hari apa sekarang? Ah, iya. Bulan Maret. Apa itu namanya? White day? Sungguh seumur hidup Yoona tak pernah sekali pun percaya—dan ikut merayakan acara-acara nggak jelas macam begituan. Dikiranya ini hari warna. Mestinya ada juga grey day dan red day kalau memang ada white day.

Tapi, yah, untuk yang sekali ini Yoona patut terkejut.

Pagi tadi, Siwon—pemuda yang sudah ditaksirnya begitu lama sampai ia tak lagi sadar kapan ia mulai suka padanya—bicara padanya dan mengajaknya bertemu pulang sekolah nanti, atau kalau bisa pada jam istirahat saja. Jadi selama jam pelajaran pagi hingga istirahat itu pula, otak Yoona tak henti memikirkan segala kemungkinan yang hendak Siwon ‘bicarakan’ dengannya.

Apakah itu pernyataan cinta?

Siwon hendak menembaknya?

Oh, ya Tuhan. Mestinya Yoona masih punya otak untuk menyimpulkan bahwa kemungkinan itu hukumnya ‘tidak mungkin’. Pemuda itu begitu tampan, begitu hebat, begitu luar biasa dibanding ia, Yoona si gadis desa.

Makanya itu ia terkejut setelah bertemu Siwon di pojokkan sekolah, dekat ruangan tempat bola basket dan segala macam teteng bengek olah raga diletakkan berada. Pemuda itu menjulurkan tangan dan menyodorkan sebuah tas kertas.

Yoona mengangkat alis heran. “Untukku?”

Siwon mengangguk. “Iya, sebagai ucapan terima kasih,” sahutnya. Yoona mengambil tas itu, mengecek dan menemukan sebuah kotak putih di dalamnya. Gadis itu segera mengeluarkan sang kotak, terbawa oleh rasa penasaran luar biasa. Dibukanya kotak tersebut dan ia hampir kehabisan oksigen untuk bernapas.

Cokelat. Siwon memberinya cokelat.

Ini mimpi atau mimpi?

Yoona menelan ludah, sungguh takut luar biasa jika Siwon bisa mendengar degup jantungnya yang sudah kayak balapan F1. Untuk apa pemuda itu memberinya cokelat? Balasan white day atau apalah itu? hei, Yoona bahkan nggak memberinya cokelat.

“Terima kasih untuk apa?”

“Terima kasih untuk pelajaran hidupnya yang berharga. Aku belajar banyak darimu. Seseorang berkata untuk memberikan sesuatu padamu sebagai ucapan terima kasihku. Jadi, itulah, untukmu,” katanya mengangkat bahu. Siwon lalu menggaruk wajahnya. “Rasanya nggak menjamin, sih. Soalnya buatan sendiri.”

Yoona—beneran, deh—hampir kena serangan jantung.

Siwon bela-belain buat cokelat sendiri hanya untuk mengucapkan terima kasih? Pada Yoona? ia pasti mimpi.

“Beneran?” ucapnya nggak yakin.

Siwon senyum kikuk. “Iya, tapi kalau Yoona nggak mau, ya nggak usah,” katanya. Bola mata gadis itu membesar. “NGGAK! Nggak kok, cokelat ini aku terima dengan sepenuh hati,” senyumnya, jelas tak bisa sembunyikan rasa senangnya yang luar biasa.

Pemuda itu mengangguk. “Oke.”

Siwon mengangguk sopan padanya dan hendak berlalu, tapi tangan Yoona reflek menangkapnya membuat Siwon berbalik. “Makasih… Siwon,” ucapnya lembut. Pemuda itu membalas dengan senyum kecil.

Yoona meloncat-loncat mengarungi kordidor. Siwon suka padanya! Yakin sekarang Yoona bahwa Siwon sudah seratus persen membalas cintanya. Apalagi yang lebih indah daripada itu, coba?

Tapi nyatanya rasa senang itu tidak bertahan lama. Sampai Yoona melihat Siwon lagi, hendak menyapa pemuda itu dengan riangnya, hingga tiba-tiba ia terdiam.

Siwon juga sedang berdiri di koridor sekolah. Berdampingan dengan mantan pacarnya, menyudut berdua. Pemuda itu tertawa dengan Tiffany yang sedang memakan cokelat. Mata Yoona membesar begitu melihat tas kertas warna cokelat (bekas belanja ibunya, mungkin) dan kotak lain berisi cokelat di tangan Siwon. Yoona baru ingat tadi pemuda itu memang membawa dua tas. Ternyata tas yang satunya lagi…

Dan pemuda itu tertawa! Begitu bahagianya memakan cokelat (yang dibuatnya sendiri) dengan Tiffany. Padahal rasanya berbulan-bulan lalu mereka sudah putus, ya Tuhan.

Yoona membalikkan badan dan menahan diri untuk tidak membuang tas isi cokelat yang tadi dibanggakannya itu.

The Choi’s Little Sister

Yoona pov

HALO, kalau bertemu denganku panggil saja Yoona. Nggak perlu pakai embel-embel apa pun, hanya Yoona. Sebenarnya sejarah Yoona ini agak menyedihkan, tentang orangtuaku yang sampai sekarang tinggal terpisah, tak kunjung merujuk. Tapi hei, namaku tetap Im Yoona. Jadi salam kenal, ya, hehhehe.

Apa?

Tenang saja. Kisah sedih sejarah namaku tak kan kubahas di sini, kok. Mungkin kali lain kalau kita memang berjodoh, akan kuhaturkan seluruh ceritanya. Lengkap dengan foto dan tanda tangan langsung dari Im Yoona.

Ini tentang Choi Siwon. Ah, tidak. Bukan hanya tentang pemuda itu. Tapi tentang seluruh keluarganya yang kukenal.

Kelas sepuluh dulu, aku dan Siwon sekelas. Bahkan ketika masa orientasi pun popularitas Siwon sungguh bagaikan bintang. Wajahnya yang tampan, senyumnya yang menawan, dan betapa sopan perangainya membuat seluruh senior perempuan bertanya-tanya tentangnya. Termasuk kami, anak baru.

Sebenarnya hal yang paling menonjol darinya ialah kalimat ‘penerus grup Choihwang’ yang senantiasa berkibar di punggungnya. Duh, siapa yang tak ingin dengan cowok tampan nan tajir seperti Siwon, sih?

Dan aku, Im Yoona, benci luar biasa padanya.

Ternyata kami sekelas. Membuatku semakin mual.

Kekayaan itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Melihat Siwon dengan bangganya diantar dengan Mercedes ke sekolah, sebelum setahun berikutnya ia membawa Audi. Sungguh apalagi coba kalau bukan sombong itu namanya?

Dan aku nggak buta! Tasnya, sepatunya, dan bahkan, penanya! Pena yang digunakannya untuk menulis pun—hah. Dipikirnya sekolah ini pameran, tempat menunjukkan segala ‘kemewahan’ dengan barang bermerek dan betapa mahal benda yang kau gunakan itu.

Masih di semester awal, sampai aku tahu ternyata sepupu Siwon, Choi Sooyoung, juga bersekolah di tempat yang sama. Nama Sooyoung pun cepat kali terangkat, mengingat wajahnya yang bersinar mulus dan sikapnya yang usil. Tapi bukan itu yang jadi alasan kebencianku.

Gayanya berpakaian, sepatu berbeda-beda yang dikenakannya tiap hari ke sekolah, hah! Halo nona cantik, ini sekolah, bukan catwalk. Kita ke sekolah untuk belajar, menuntut ilmu, bukannya untuk bilang, “Hai, kemarin aku beli tas Gucci limited edition yang terbaru, lho,” atau apalah yang semacam itu.

Aku muak, sungguh.

Apalagi setelah tahu nilai mata pelajaran Soyoung tidak begitu bagus, malahan di bawah rata-rata. Jelas menunjukkan titel ‘artis’ dan tas Louis Vuittonnya tak dapat membantu menaikkan nilai. Mending kalau anugerah cantiknya itu dimanfaatkan, misalnya ia menjadi model atau apalah. Apalagi kalau ia tersenyum tiap kali kami berpapasan, atau setidaknya beramah-tamah.

Tapi, nggak! Beneran deh, ini cewek, sudah sampai di ubun-ubun aja rasa kesalku.

Aku benci tas Converse hitam yang Siwon kenakan tiap Senin sampai Kamis. Putih sepatu Nike yang acap dipakainya pada Rabu dan Sabtu. Bahkan Lamborgini yang sering mengantarnya pergi sekolah pun, aku benci semuanya!

“Yoona,” panggilnya suatu hari, masih di kelas sepuluh. Ugh, untuk apa pemuda sok ini panggil-panggil namaku. Terbesit untuk melenggang pergi saja darinya. Tapi aku masih punya sopan santun, jadi aku menoleh dan berkata, “Apa?”

“Tasmu terbuka.”

Aku menganga, mengecek resluiting tasku yang terbuka. Begitu berbalik, Siwon sudah hilang dari pandangan. Beberapa waktu setelahnya barulah aku sadar Siwon begitu perhatian padaku. Ketika potong rambut beberapa hari lalu, tak ada seorang teman pun yang sadar. Tapi Siwon memanggil namaku dan berkata, “Rambut barumu bagus, Yoona.”

Jelas ia memperhatikanku! Ia bahkan sadar aku baru saja potong rambut!

Lalu perasaan itu muncul begitu saja. Semakin aku berusaha untuk menjadi ‘detektif’ demi mengetahui seluk-beluk kehidupan Siwon, semakinlah aku suka padanya. Ia pemuda yang baik dan ramah, memang sombong, namun ia masih saja peduli padaku—membuatku mabuk dan yakin ia juga merasakan hal yang sama.

Aku tidak peduli dengan gadis mana itu yang jadi pacarnya selama tiga bulan. Atau gadis di sana yang jadi kekasihnya tidak sampai hitung seminggu. Karena ketika di kelas, ia akan memanggil namaku dan memperhatikanku. Siwon pasti suka padaku, hanya saja malu untuk mengungkapkannya.

Aku harus dekat dengan Siwon. Karenanya aku berusaha mendekati Sooyoung, sepupunya itu, meskipun gagal. Gadis itu sungguh punya harga diri tinggi, tidak bergaul dengan cewek murahan macam aku.

Tahun berikutnya aku menjadi pengurus OSIS, dengan tujuan utama untuk mendekatkan diri pada Siwon. Meskipun sudah masuk ke sana, hubungan kami hanya sebatas teman pengurus saja. Membuatku geram (apalagi setelah ia pacaran dengan Tiifany itu, ugh).

Saat itulah adik Siwon, Choi Minho, hadir di sekolah. Pamornya langsung luar biasa menakjubkan, dengan tampang yang ganteng pake banget, nakal bukan main dan mulutnya yang ajib, langsung saja ia mendapat titel ‘Siapa yang tidak kenal Choi Minho, adik Choi Siwon?’

Aku merasa de javu ketika bertemu Minho. Mereka mirip tapi nggak mirip juga (haha). Ketika itu aku langsung memutuskan untuk mendekati Minho, berusaha mengorek cerita mengenai keluarga mereka, terutama Siwon. Awalnya kupikir berhasil, bahkan aku hampir saja suka pada Minho kalau pemuda itu nggak kegenitan ngegodain cewek satu sekolah. Alhasil aku gagal, untuk yang kesekian kalinya.

Lalu datang Choi Sulli, dari wajahnya saja aku tahu dia adik bungsu Siwon.

Dan dia harapan terakhirku untuk mendekati keluarga Choi ini.

The Choi’s Little Sister

“KAMU yakin nggak papa, Sul?”

Sulli menoleh padaku dan tersenyum—senyumnya manis banget, sumpah. Ia lalu mengangguk yakin.

“Ya nggak papalah, eonni. Emangnya di sini neraka apa? Santai aja lagi,” jawabnya santai. Sulli mengait lengan kananku dan mengajakku berjalan lebih cepat.

Jadi ceritanya aku berusaha mendekati Sulli di kelas tiga SMA ini. Entah karena akunya hoki, takdir Tuhan, atau memang karena Sulli baiknya kebangeten. Pertama kali kenalan dulu, aku berpura-pura nggak sengaja ketemu Sulli di suatu tempat (padahal aku ngikutin dia), lalu bertanya banyak hal ke Sulli. Ia menjawab semua pertanyaanku dan begitulah. Kami jadi dekat begini.

Hari Kamis kemarin, sepulang sekolah, Sulli tiba-tiba menghampiriku dan dengan senyumnya yang paling cerah berkata, “Eonni, temenin aku ke Rumah Hantu, ya?”

Hah?

Kala itu aku memang nggak kepikiran kenapa gadis ini sampai mesti mengajakku. Rasanya ia punya segumpal teman untuk diajak pergi. Mana dia udah punya pacar lagi. Si Sulli nyindir banget nih, mentang-mentang aku jomblo gitu, jadi dia ngajak aku.

Tapi karena keleletan otak seorang Im Yoona berpikir, akhirnya yang terucap adalah, “Oke. Kapan, nih?”

Sebenarnya sudah beberapa kali Sulli mengajakku pergi melalui SMS, BM, twitter, facebook, kakaotalk, line—dan lain macamnya—tapi aku masih ragu. Sampai pada ajakan langsungnya itu, maka pergilah diriku ini.

Kami berencana pergi hari Sabtu, pulang sekolah. Tapi karena berbagai kendala ini dan itu, maka akhirnya aku pergi ke rumah Sulli dulu, sebelum dari rumahnya itu kami berangkat barengan ke Rumah Hantu (selain karena kendaraan kami ada di rumah Sulli).

“Tunggu sebentar ya, eonni, aku siap-siap dulu,” katanya sebelum berlari masuk lagi ke rumah.

Aku berdiri matung di pos satpam, menunggu Sulli yang tiba-tiba datang menjemputku dan mengajakku masuk ke pekarangan belakang rumahnya. Sekarang aku ditinggalin lagi, sendirian di halaman belakang rumah Sulli—ah, nggak, nggak. Di rumah Siwon! Ya Tuhan, betapa ingin aku bertemu dengannya di sini *ups.

Ini ketiga kalinya aku ke rumah Siwon—atau Sulli, atau Minho, atau Sooyoung, siapa pun, lah. Pertama ketika ada rapat OSIS dadakan di rumah Siwon—yang jelas ujung-ujungnya nggak jadi rapat (lagian ngapain pula rapat di rumah Siwon). Dan kedua waktu acara tahun baruan kemarin.

Sebelum itu nggak pernah aku masuk ke dalam rumahnya, palingan cuma mengagumi dari luar dan berandai-andai kapanlah aku bisa masuk ke sana, bertemu Siwon.

Sinar matahari Sabtu sore nampak bercahaya dipantulan rumput hijau, didukung dengan pohon-pohon dan bunga warna-warni yang tertata cantik di sekeliling taman. Waktu acara tahun baruan, tamannya kurang jelas terlihat karena suasananya yang gelap. Tapi kalau sore begini jadi kelihatan indah, apalagi kalau ada Siwon di sebelahku, pasti rasanya sempurna banget.

Krek.

Aku menoleh dan melihat seorang ahjumma datang membuka pintu teras halaman belakang, membawa nampan berisi gelas tinggi berwarna kuning. Kalau nggak salah, ahjumma ini pembatu utama dapur rumah Sulli, atau semacam itulah istilahnya.

“Jus mangganya, nona,” kata sang ahjumma. Aku langsung bangkit berdiri. “Wah, nggak usah repot ahjumma, cuma sebentar kok,” ujarku, ikut membantunya meletakkan semangkuk cemilan dan gelas tersebut di atas meja kecil di sebelah kursi.

“Oh, bukan nona Krystal, ya?” Ahjumma itu menatapku sambil mendekap nampan kosongnya. Aku nyengir kecil. Semirip itukah aku sama Krystal?

“Bukan, Ahjumma. Saya Im Yoona, kakak kelas Sulli,” ringisku. Tapi Ahjumma itu mengangguk dan tersenyum kecil. “Saya ingat kok, nona. Temannya Siwon dan Sooyoung, kan? Nona datang kok waktu acara tahun baruan kemarin,” katanya.

Aku cuma bisa ngangguk. “Kalau nona nggak suka, silahkan ditukar minumannya. Saya yang salah kira, maaf nona,” Ahjumma itu membalikkan badan, hendak masuk lagi ke dalam. “Saya permisi dul—”

“Eh, tunggu sebentar Ahjumma,” panggilku. “Uhmn, saya boleh nanya sedikit nggak?”

Ekspresinya bingung, tapi Ahjumma ini justru berkata, “Iya, nona.”

“Sebelumnya maaf, tapi…” aku menelan ludah. “Boleh tahu nggak, pendapatan Ahjumma bekerja di sini berapa? Per bulannya?”

Kemudian hening.

Kutelan ludah ini bulat-bulat. Ahjumma pembawa nampan terdiam, langsung menimbulkan rasa bersalahku padanya. Aku salah bicara, ya? Aku kelancangan, ya? Ya ampun, tentu saja Yoona. Bodoh banget, mana ada orang yang nggak tersinggung ditanya hal sensitif begituan oleh orang baru. Anak kecil pula.

Tapi tiba-tiba Ahjumma ini tersenyum, dan aku terkesiap melihatnya menggeleng.

“Setiap bulannya, kami nggak mendapat banyak, nona,” katanya, masih juga dengan senyum. ‘Kami’ artinya bukan hanya Ahjumma saja, berarti pelayan dan pekerja lain yang bekerja di sini juga, kan.

Rasa kesalku langsung tumbuh pada orang kaya ini. Berduit tapi menggaji pembantu sendiri aja pelit.

“Jumlahnya jauh dibanding dengan mereka yang bekerja di kantor Choihwang di gedung sana,” lanjutnya. Matanya berbalik menatapku. “Tapi kami tetap tinggal di sini, melayani keluarga Choi. Karena sedari awal tujuan kami memang bukan uang dan materi, nona.”

Aku mengangkat sebelah alis.

“Saya sudah mengabdi sejak tuan Choi Seunghyun belajar membaca. Anak dan suamiku juga di sini. Mereka memberi kami tempat tinggal, makanan, dan harapan untuk terus melanjutkan hidup.”

Lalu, “Apalagi setelah nyonya Park Bom tinggal di sini dan mengambil alih yayasan sosial keluarga. Semakin banyak remaja yang kacau hidupnya datang ke mari. Diberi tempat tinggal, makanan, juga jaminan untuk melanjutkan sekolah.”

“Di sini kami memang melayani, tapi bukannya diperlakukan dengan tidak senonoh dan disuruh seenaknya. Remaja dan anak-anak yang bekerja di sini juga diberi waktu untuk belajar dan bersekolah. Tidak sedikit dari anak muda itu yang pada akhirnya bekerja juga di Choihwang grup.”

Nampaknya Ahjumma sungguh-sungguh dalam setiap perkatannya. Aku tidak punya alasan selain menganga dan terdiam.

Rumah dengan seribu pelayan ini? Itu rahasia dibaliknya? Melihat gaya hidup Sooyoung yang keterlaluan (juga dibumbui dengan benciku yang terlalu lekat padanya), mendengar hal ini rasanya sulit untuk percaya. Aku tahu ini bukan drama Korea, tapi hei, mungkinkah? Rasanya nggak.

“Tidak semua keluarga berstrata sosial tinggi itu punya perangai yang jelek, nak. Orang jahat memang melimpah, tapi yang berhati mulia juga tidak sedikit,” katanya. “Taman di sana itu, nyonya dan Jinri nona lah yang merawatnya,” Ahjumma menggerling taman indah di belakangku, seraya melempar senyum terakhirnya. Sebelum berbalik dan kali ini serius berjalan menjauhi teras belakang.

“Oh, Hara ahjumma?”

Aku melirik melalui pintu masuk teras. Sulli bicara dengan Ahjumma tadi sebentar sebelum melihatku. “Yoona eonni! Maaf lama. Ah, Sooyoung eonni ikut kita nggak papa, kan?”

The Choi’s Little Sister

“HEI,” sapa Sooyoung begitu menampakkan diri di teras belakang, bersama Sulli. Tumben banget Sooyoung mau ikut denganku. Biasanya kan dia Tom dan aku Jerry, apalagi kalau lagi ngomongin Siwon.

Aku melirik keduanya—terutama Sooyoung—dan tiba-tiba mengucap syukur dalam hati. Sooyoung nggak berpakaian terlalu mewah dan menor, untunglah. Jadi ketika jalan bertiga nanti, aku nggak bakal kelihatan terlalu, uhmn, berpakaian terlalu sederhana. Begitulah.

Aku berusaha seramah mungkin tersenyum. “Sooyoung,” sapaku padanya.

“Nggak papa kan, kalau Sooyoung eonni ikut?” sahut Sulli. “Tuh, kan, gara-gara eonni sih. Yoona eonni nggak mau kalau Sooyoung eonni ikut,” gerutunya pada Sooyoung. Padahal aku nggak ngomong apa-apa, ya ampun, Sulli.

“Kata siapa? Hei, Yoona kan nggak bilang gitu,” Sooyoung lalu mengangkat alis balik tatap aku. “Aku ini pelindungmu tahu, Sul. Barangkali aja fans Siwon ini ngelakuin hal-hal nggak senonoh ke kamu.”

Mukaku langsung merah karena malu. Baru saja terpikir olehku Sooyoung sudah berubah baik dan ingin berteman denganku. Ternyata dia masih jadi Voldemort dan aku Ron (soalnya Ron yang paling penakut, kan).

Sulli langsung tersenyum canggung, jelas gadis itu bingung mau ngomong apa.

“Ya, ya udah. Kita—kita langsung berangkat aja, yuk,” ajaknya. Sooyoung berjalan mendahului, ke depan rumah lewat jalan kecil di pinggiran teras. “Maaf, ya eonni. Tadi aku juga udah nolak,” bisiknya padaku, menggerling Sooyoung.

“Nggak papa, Sul. Aku juga nggak ambil hati kok,” kataku, jelas kebalikan dari perasaanku. Nampaknya Sulli tahu dan cuman bisa ngeringis juga.

Begitu sampai di depan, yang terlihat justru mobil Siwon dan sang empunya yang sedang bicara dengan Sooyoung. Aku menelan ludah, jangan-jangan Siwon mau ikut juga? Langsung saja khayalanku berkelana, tentang aku yang ketakutan waktu di Rumah Hantu dan Siwon bakalan meluk dan nenangin aku. Mimpi banget, yak.

Oppa mau ke mana?” tanya Sulli, langsung menghampiri Siwon yang sudah duduk nyaman di dalam mobil. Aku jalan menyusul. “Anterin kami ya, oppa~”

Siwon nampak sudah siap pergi. Pakai kemeja biru lengan pendek, rambutnya juga entah kenapa rapi banget. Mau ke mana?

Pemuda itu nampaknya menyadari keberadaanku, dan sontak jantungku yang cuman satu (lagi-lagi) lompat ke bulan begitu tahu ia memandangku.

“Oppa ada urusan, Sul. Lain kali, ya,” senyumnya. Matanya bertelepati dengan Sooyoung, sebelum tersenyum bersalah pada Sulli. “Yoona, duluan ya,” sapanya dan mengangguk padaku. Mobil hitamnya lalu melaju pergi setelah mengklakson satpam di pintu gerbang.

Siwon memanggil namaku! Ya Tuhan, kalau nggak ada Sooyoung dan Sulli di situ mungkin aku sudah pingsan atau terbang keluar Galaksi Andromeda.

“Siwon oppa mau ke mana, sih? Rapi banget bajunya. Lagian sekalian nganter kita apa salahnya, coba,” ujar Sulli. “Dia ada urusan, Sul, biarin aja,” jawaban dari Sooyoung yang begitu tegas terasa janggal. Apalagi di tambah dengan kode dari mata Sooyoung, membuat Sulli tiba-tiba paham dan mengangguk.

Setelahnya mungkin baru aku tahu Siwon hendak mengunjungi rumah Tiffany dan beramah-tamah ke sana. Tapi karena ketika itu aku nggak tahu, jadi biarlah aku menikmati hari ini, daripada merasa cemburu yang tidak beralasan (Hei, aku dan Siwon kan tidak punya hubungan apa pun).

“Omong-omong, tadi pagi kan ibuku pergi ke Jongno-gu, sama Lee Joon ahjusshi. Kita pergi naik apa, Sul? Mobil dipake semua.”

Sulli menganga mendengar perkataan Sooyoung.

Dan di sinilah kami akhirnya, menunggu di halte bis terdekat untuk mencapai Rumah Hantu. Tempat itu baru dibuat beberapa minggu belakangan di sebuah mall besar di Seoul. Apalagi letak rumah Sulli di pusat kota, dengan bis pun tidak butuh banyak waktu untuk sampai di sana.

Sooyoung menapaki tangga masuk bis duluan. Aku yang naik berikutnya bingung hendak duduk di sebelah Sooyoung atau di tempat lain. Akhirnya Sulli malah narik tanganku dan mengajakku duduk berdua dengannya, di belakang kursi Sooyoung.

“Udah, biarin aja. Palingan juga dia lagi asyik denger lagu,” jawab Sulli begitu kuungkapkan rasa nggak enakku yang ngebiarin Sooyoung duduk sendirian. Begitu kulirik, gadis itu memang tengah menikmati musik dengan earphonenya.

Lalu tiba-tiba aku merasa terpana, melihat betapa Sooyoung begitu terbiasa naik kendaraan umum, nggak merasa risih dan jijik atau sejenisnya. Perkataan Ahjumma tadi siang tiba-tiba terngiang, dan membuatku berpikir mengenai Siwon dan Sulli dan Sooyoung, juga keluarga mereka ini selama perjalanan.

Ommo!”

Sulli menganga lebay, Sooyoung menaikkan kedua alisnya dan menggigit bibirnya, begitu, saking kagetnya kami melihat antrian pembelian tiket masuk ke Rumah Hantu.

“Panjang banget antriannya, haha,” tawa hambar Sulli. Aku juga ikut menggeleng kagum. Orang antri sepanjang ini, bela-belain menguras kocek hanya untuk ditakuti-takuti di rumah Hantu. Pinter banget.

“Bodoh banget nih, antri sepanjang ini cuman buat ditakut-takutin,” sahut Sooyoung. Aku langsung mendelik padanya kaget. Apa Sooyoung baru saja mengucapkan apa yang aku pikirin?

“Apa?” kata gadis itu, kepergok aku sedang terpana memandangnya. Aku menggeleng lemah. “Kita juga bodoh, mau-maunya dibodoh-bodohin Rumah Hantu buat ditakutin hantu yang jelas-jelas bodoh,” kataku.

Nggak tahu deh apa yang lucu, tiba-tiba aja Sooyoung ketawa sambil menatapku. Sulli mengangkat alis bingung, pasti Sulli juga nggak ngerti kenapa Sooyoung ketawa. Apa kalimatku barusan lucu?

“Yang jelas bukan aku yang bakalan antri buat beliin kita tiket,” lanjut Sooyoung, menatapku dengan senyum sinis—tapi entah kenapa tetep aja cantik. Dalam hati aku mendesah pelan, modus banget nih, cewek. Nampaknya sudah bawaanku untuk selalu diintimidasi Sooyoung.

“Aku?” tunjukku pada diri sendiri. Sulli tersenyum semanis mungkin padaku, bulu matanya berkedip-kedip lucu. “Please, eonni?” pintanya. Kalau sudah begini terpaksa aku mengantri.

Setelah senyum kecil sebagai tanggapan atas juluran lidah usil dari Sooyoung, maka di sinilah aku, mengantri. Berdiri di paling belakang dari antrian sepanjang rel kereta api dari Kutub Utara ke Kutub Selatan, rasanya baru mulai antri aja aku sudah pingin menyerah.

Karena terletak di lantai dasar mall, beberapa kios kecil berderet di sekitar Rumah Hantu. Jualannya pun beragam. Nampak di antaranya yang menjual aksesori plastik murahan (aku yakin Sooyoung nggak pernah pake aksesori begituan), juga makanan ringan seperti pop corn, es coffe, dan… es krim.

Baru lima menit lalu aku mengantri, dan Sooyoung malah enak-enakan beli es krim dan duduk di pelataran kiosnya, memperhatikanku yang capek berdiri menunggu antrian. Sulli juga beli es krim sebenarnya, dan aku positif gadis itu begitu senang beli es krim sampai tak lagi ingat padaku. Bukannya aku hendak menyalahkan Sooyoung. Tapi sikap gadis itu yang membuatku tanpa sadar membencinya.

“Yoona-ya!” seru Sooyoung, melambaikan tangan dan mempertontonkan enaknya es krim padaku. Gadis itu sengaja! Bahkan nggak berminat menawarkan es krimnya padaku!

Ya Tuhan, memangnya siapa yang awalnya mengajakku ke Rumah Hantu ini, hah? Aku berbaik hati mengantri ngebeliin mereka tiket, dan mereka malah enak-enakan makan es krim—di depanku pula? Memangnya serendah itu ya, derajat remaja dengan orangtua berpenghasilan pas-pasan bagi mereka? Mentang-mentang di rumahnya ada seribu pelayan dan punya kolam uang.

Mana antriannya lama bergerak lagi, sial nih.

Es krim keduanya habis. Lima belas menit sudah aku mengantri. Begitu kulirik mereka berdua, Sulli melempar senyum padaku dan tiba-tiba pergi. Sementara Sooyoung juga bangkit, berjalan ke arahku. Ralat, kupikir ia berjalan ke arahku. Ternyata Sooyoung pergi ke depan antrian, ke pintu Rumah Hantunya.

“Nih,” Sooyoung tiba-tiba muncul di hadapanku, menyodorkan tiga lembar tiket masuk Rumah Hantunya.

Aku melebarkan mata, menurunkan bibir.

“Aku tanya berapa harga tiketnya, dan mereka menjual begitu saja karcis ini padaku. Tanpa antri.”

Aku memandang antrian panjang tempat aku berdiri, melirik mereka yang dengan sabar menunggu untuk membeli tiket, sebelum memandang tiga tiket berwarna hitam di tangan Sooyoung.

“Sooyoung ah,” kataku geram, melangkahkan kaki keluar dari antrian. Gadis yang kupanggil tersenyum polos. “Apa? Aku nggak tahu kalau mereka mau menjual tiket ini cuma-cuma, tanpa antri. Tahu gitu kamu nggak usah antri capek gini kan, Yoona. Haah,” desah Sooyoung dibuat-buat.

Aku menggigit bibir, menahan kesal.

“Dasar,” gerutuku. “Dari tadi, kek. Bikin kesel orang aja,” kutendang sepatu ungu cantiknya sebagai gurauan. Sooyoung seketika mengernyit.

“Hei!” tegurnya. Sooyoung langsung mengelus sepatu yang menyelimuti kakinya sayang. “Cup, cup, nggak papa kok, Nicky sayang. Tenang, mama ada di sini jagain kamu. Iya, jangan nangis ya, sayang.”

Aku mengangkat alis, melongo menatap sepatu bertuliskan NIKE besar-besar di bagian belakangnya, sepatu olahraga gaya. Ngapain pula Sooyoung ngomong gitu ke sepatu? Tiba-tiba aku merasa malu berdiri di sebelahnya begini.

“Oh, Nike Air Max for Women!” pekikku. Sooyoung menoleh. “Iya, kan? bener, kan? Baru kemarin,” lanjutku.

Sooyoung langsung senyum sumringah. “Hah? Kok cewek kampung tahu sepatu beginian?”

Rasanya kayak naik pesawat ke mars, terus terjun pake payung ke segetiga bermuda. Dalem dan jleb banget, dibilang cewek kampung saya.

Belum sempat membalas, tiba-tiba datang Sulli yang merangkul lengan kananku. Ternyata ia juga merangkul lengan kiri Sooyoung. “Udah dapet tiketnya, kan? Ayo kita masuk, eonni, hahaha.”

Ketawa evil Sulli serem juga. Terpaksalah kami menapaki pintu utama ke rumah hantu.

“Kamu dari mana?” bisikku.

“Kamar kecil, eonni.”

Dari triplek dan gabus, gerbang utama masuk ke dalam dipenuhi poster hantu-hantu lokal yang dibuat hingga berkesan menyeramkan. Semua berwarna hitam, kecuali unsur merah untuk aura darah-darahnya.

Petugas yang memeriksa tiket di pintu masuk pun berpakaian gelap. Ia tersenyum menyeramkan menatap Sooyoung, mempersilahkan kami masuk seraya berkata, “Hati-hati dek, hantu di sini suka banget cewek cantik. Kalau takut lari aja. ”

Aku langsung jijik dengernya.

Sulli jalan di depan, sementara aku dan Sooyoung berdampingan di belakangnya. Cewek itu sombong banget, jalan duluan seolah mimpin, padahal begitu ada suara aneh dan hantu pertama yang serba putih muncul, dia langsung teriak kesetanan.

Itu kenapa hantunya pake kain putih—ya, ampun!

Aku menelan ludah, menggenggam lengan kiri Sooyoung erat tanpa sadar. Berjalan lebih cepat.

Jalan tiba-tiba berbelok. Ada panah bertuliskan ‘masuk ruang operasi’. Tiba-tiba aku nggak pingin ke mana-mana. “Ayo, Sooyoung, ayo,” ujarku panik tanpa sadar, sudah lupa aku dan Sooyoung nggak berteman—nggak berteman baik maksudnya.

“AAAAKKH!”

Aku berhenti jalan. “Suara Sulli,” bisik Sooyoung. Baru aku sadar si Sulli udah nggak di depan kami lagi. Jangan-jangan gadis itu dimakan hantu dokter dari ruang operasi atau semacamnya? Ya ampun, ya ampun.

“Kalau sakit perut, sini abang operasiin, dek,” suara seorang perawat laki-laki. Tiba-tiba muncul sebuah tempat tidur, ada cewek yang baring di atasnya! Ya ampun. Gadis di atas kasur, yang mau dioperasi dan dikelilingi tiga perawat laki-laki itu menggerakkan matanya, menatapku kasihan. “Tolong saya, dek. Tolong saya.”

Ya ampun, ya ampun, gadis itu hidup. Dia masih hidup!

Tiga perawat itu lalu menusuk si gadis dengan pisau-pisau tajam. Tiba-tiba muncrat darah dari tengah perutnya! Muncrat darah! Ya ampun, ya ampun, darahnya ngucur keluar kayak air mancur. Kalau kejadian ini ada di tengah lapangan mungkin aku bakalan ketawa, masa darahnya keluar kayak air mancur gitu.

“Oh, oh, ayo Sooyoung ah, ayo,” aku menarik tangan Sooyoung lebih cepat, nggak sabar mau keluar. Ya ampun, kenapa tadi aku mau aja masuk ke sini.

Kami berjalan makin cepat, melewati hantu-hantu yang berdiri di kanan-kiri. Ada beberapa persimpangan dan kami berdua beberapa kali sampai ke jalan buntu, yang artinya harus muter dan ketemu hantu sialan tadi.

Di dalam gelap. Lorongnya hanya bercahaya satu lilin tiap tiga meter. Kalau nggak hati-hati pasti aku udah ke sandung.

Aku mengangkat wajah. Ah, ada cahaya.

“Itu jalan keluar, ayo cepet, Sooyoung ah,” aku menarik lengan gadis ini lebih cepat.

“Iya, iya, sabar,” katanya. Aku menariknya lebih keras. Semakin cepat keluar, semakin cepat melihat cahaya, semakin cepat pergi dari hantu sialan, semakin cepat—BRUK!

Aku menoleh dan menemukan Sooyoung terjatuh. Ternyata kami sedang ada di sebuah jembatan—jembatan keluar dari neraka nampaknya. Di bawah jembatan, hantu-hantu dengan make up tebalnya mengulurkan tangan, berusaha menggapai kami. Dan salah satunya sedang menarik kaki Sooyoung! Ya ampun, ya ampun.

“Sooyoung!” seruku.

Sepupu Siwon ini meringis, mengerang berusaha melepaskan genggaman si hantu di kakinya. Aku melirik panik, berjongkok di sebelahnya dan berusaha melepaskan genggaman itu—sekaligus menghindari tangan-tangan lain yang berusaha mencapai kami.

“Lepas! Lepasin woy, nafsu banget,” Sooyoung mendorong-dorong si hantu dengan kaki lainnya yang kebas. Aku sempat kepikiran kalau hantu yang menarik kaki Sooyoung itu perempuan, ngapain pula dia nafsu sama Sooyoung. Mungkin nafsu sama sepatunya?

Kadang aku merasa punya ikatan batin sama Sooyoung. Tiba-tiba aja si hantu tadi berpaling tangannya menggenggam sepatu ungu cantik Sooyoung, dia berusaha ngerebut si Nicky! (nama sepatu Sooyoung)

Aku memukul-mukul hantu lain yang mulai berdatangan, juga sesekali mendorong hantu yang nafsu dengan si Nicky. Sooyoung berhenti menendang, membuatku menoleh. Ia menatap hantu itu geram, lalu menyenandungkan senyum kecil.

“Dadah, Nicky,” katanya.

Aku melongo. Saking kagetnya nggak sadar kalau Sooyoung udah ngelepas dua sepatu ungu cantik kesayangannya untuk diberikan pada hantu. Tepat ketika sepasang sepatu itu sudah lepas dari kakinya, Sooyoung menarik lenganku keluar.

Aku nggak sadar apa yang terjadi. Sampai kami udah kembali ke lantai dasar mall—keluar dari Rumah Hantu, dan aku melirik kaki Sooyoung yang nggak beralaskan apa pun.

“Sooyoung! Sepatumu, itu si Nicky, hantu tadi, sepatumu,” aku terbata, bolak-balik melirik kaki Sooyoung dan Rumah Hantu. Ya, ampun. “Sooyoung ah.”

Gadis itu terkekeh. Dengan santai menertawai kakinya sendiri. “Halah, cuman sepatu, bisa beli lagi besok. Kamu nggak papa kan, Yoona?” aku menggeleng pelan.

Aku menuntunnya berjalan menuju kursi terdekat, membantunya duduk tanpa banyak bicara. Orang-orang melihat kami penasaran, gadis cantik tapi nggak pake sepatu. Lalu teriakan, “Eonni!” dari Sulli yang datang mendekat membuatku sadar bahwa kami tadi berangkat bertiga. Selama sesaat aku lupa ada Sulli.

Ia menganga lebay, “Eonni! Sepatumu mana?” tanyanya panik. Setelah menceritakan kejadiannya, Sulli dan Sooyoung (yang meminjam sepatuku) pergi berdua kembali ke Rumah Hantu dan meminta balik sepatunya (sementara aku duduk sendirian di kursi menunggu mereka tanpa sepatu).

Petugas di sana nggak mau tahu dan nggak bertanggung jawab, bilang kalau itu bukan urusan mereka. Salah sendiri sepatunya lepas, lagian nggak ada yang nyuruh Sooyoung buka sepatu juga, kan. Akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong.

“Jadi gimana?” tanyaku setelah mereka kembali.

Sooyoung menghela napas pelan, membuatku merasa bersalah. “Telpon orang rumah, suruh bawa sepatu ke sini sekalian jemput. Males banget, masa aku nggak pake sepatu,” katanya dengan nada tawa. Dalam hati aku terkesiap, masih bisa ketawa aja di situasi begini.

“Halo, oppa?”

Aku dan Sooyoung melirik Sulli.

“Siwon oppa! Yoona eonni… Yoona eonni pingsan! Tadi kami habis keluar dari rumah hantu, terus Yoona eonni pingsan saking takutnya! Oppa, cepetan ke sini, sekalian bawa sepatu Sooyoung eonni, ya. Iya, iya, Oppa cepet, ya!”

Klik. Aku (lagi-lagi) terpana melihat Sulli.

“Siapa yang pingsan?” protesku. Tapi Sooyoung malah ketawa dan berhigh five dengan Sulli. “Kita lihat Siwon oppa beneran panik atau nggak. Ini ujian cinta Siwon oppa buat Yoona eonni, tahu.”

Aku menggeleng. Dalam keadaan begini Sooyoung dan Sulli masih sempat-sempatnya ngejailin orang. Soal tiket tadi itu juga, Sooyoung pasti sengaja. Bukan karena dia bermaksud jahat atau apa, dia cuman usil. Itu sudah kebiasaanya, nggak ada alasan lain.

Setengah jam berikutnya akan datang Siwon, dengan muka khawatirnya yang tampan bertanya, “Mana? Di mana Yoona?” yang membuat wajahku memerah sampai rasanya pingin pingsan beneran. Itu sebelum Sulli dan Sooyoung teriak, “April mop!” di depan Siwon sampai pemuda itu gondok luar biasa.

Setidaknya hari ini menyenangkan. Aku belajar mengenal Sooyoung dari sisi berbeda. Ia gadis yang baik, dan berteman dengannya nampak akan sangat menyenangkan. Juga belajar untuk mengerti… uhmn, apakah pemuda yang tiba-tiba datang dengan wajah panik sambil mengkhawatirkanmu itu namanya cinta? Kuharap, iya.

“Pokoknya besok kita ke sini lagi, eonni. Bawa banyak sepatu,” bisik Sulli. Sooyoung mengangguk.

The Choi’s Little Sister

AKU menyeruput habis jus jeruk di atas meja. “Junho songsaenim?” ulangku.

Taeyeon berhenti mengunyah ramen yang tadi dibelinya dari Hyuna ahjumma—salah satu ibu yang jualan di kantin sekolah. Sahabatku ini mengangkat wajahnya, diam sejenak tuk menelan makanannya. “Humn,” angguknya. “Kamu pasti nggak percaya apa yang dibilangnya di kelas seni kemarin, Yoona.”

“Apa?” lanjutku.

Taeyeon nggak langsung menjawab, justru menambah jeda makin panjang dengan memakan ramennya tanpa henti. Membuat orang penasaran saja.

“Ya, Taeyeon ah,” tegurku.

Taeyeon menarik napas dan meminum air putihnya. “Junho songsaenim, biasalah dia kalau ngajar kan suka curhat dulu. Ngomong ngolor ngidul,” katanya. “Hari itu nggak tahu kenapa dia ngomongin soal siswa yang bawa mobil ke sekolah. Eh, dia langsung kayak ngewawancarain Siwon aja gitu, mentang cowok itu bawa mobil.”

“Diwawancarain? Hee, gimana?” tanyaku. Taeyeon dan Siwon memang sekelas tahun ini. Sementara aku, seperti biasa, kena sial hingga tak bisa sekelas dengan keduanya.

“’Hari ini berangkat sekolah jam berapa Siwon? Barengan sama adik-adik?’” Taeyeon menirukan gaya bicara Junho songsaenim. “Siwon cuman cengengesan sopan aja, padahal anak sekelas udah pada ketawa. Apalagi waktu dia nanya, ‘Jemput Tiffany dulu ke rumah, ya?’ walah, makin heboh deh tu kelas.”

Alisku seketika mengernyit mendengar nama Tiffany disebut. “Padahal mereka kan udah lama putus. Terus Siwon bilang apa?”

Taeyeon tersenyum maklum sambil mengangkat bahu. “Yah, wajarlah. Mereka kan pacarannya lama banget, sampai guru-guru akhirnya pada hapal,” tetap saja penjelasan itu nggak masuk akal bagiku. Tapi Taeyeon melanjutkan, “Siwon menggeleng sopan, dan bilang, ‘Tiffany diantar mamanya, saya juga cuman berangkat dengan Jinri, songsaenim.’ Sumpah, sopan banget. Kelas kemudian hening.”

Melihat gaya bicara Taeyeon tak elak membuat kami berdua tertawa.

“Siwon kayak yakin banget Tiffany beneran diantar mamanya,” cecar Taeyeon. Melihat aku merengut, ia tertawa lagi. “Tapi tetaplah cinta seorang Choi Siwon hanya untuk gadis hubungan tanpa statusnya,” goda Taeyeon, melirikku genit.

“Siwon nggak pernah bilang dia sayang aku,” tolakku, menghembuskan napas perlahan.

Sejak kejadian di Rumah Hantu, hampir tiap malam kami bicara lewat pesan singkat, sesekali Siwon memang menelpon, seolah kami pacaran. Tanpa ada deklarasi sayang, suka, atau semacamnya. Awalnya aku senang luar biasa, tapi semakin ke sini, justru semakin menyiksa. Aku ingin lebih.

“Yah, setidaknya sekarang kamu udah deket sama dia, Yoona ya,” senyum Taeyeon menenangkan. “Oh ya, Siwon ada bilang nggak ke kamu? Hari ini dia nggak sekolah, ternyata pergi sekeluarga ke Singapura.”

“Sekeluarga? Nggak, dia nggak bilang apa pun.”

Taeyeon nyengir kecil, menyadari lautan manusia di kantin makin menipis, tanda kelas akan dimulai lagi. Ia lalu bangkit berdiri, bersiap juga ke kelas nampaknya. “Hei, Taeyeon ah, mau ke mana?” lirikku.

“Iya, sekeluarga. Ternyata Sooyoung, Minho, sama Sulli juga pergi ke Singapura. Enak banget ya, uang berlimpah, bisa melengos ke Singapura dengan mudahnya,” Taeyeon mengedikkan kepalanya. Mengajakku ke kelas. “Katanya mau ngerayain ulang tahun Sooyoung, atau Sulli, atau Siwon, atau ulang tahun ketiganya serentak gitu, deh.”

Aku menggelengkan kepala takjub sebelum menyusul Taeyeon meninggalkan kantin.

Sungguhlah mereka itu, keluarga Choi. Ckckck.

End😉

The Choi's Little Sister [YOONA]

21 thoughts on “The Choi’s Little Sister [Yoona]

  1. Kocak ngebayangin yoona seneng banget dpet coklat dr siwon , tapi pas dia tau siwon ngasih coklat juga k fany yoona jadi sbel , untung coklatnya gaa jdi dibuang ,🙂 sbenernya siwon suka atau gaa sih sama yoona , klo gaa suka knapa dia panik banget wktu sulli nelp bilang klo yoona pngsan , tapi klo suka knapa siwon gaa blang ju2r k yoona dan msh dket sama fany solah2 mreka msh pcaran ?? Bkin sekuelnya dong thor , 🙂

  2. aaah sooyoung… entah kenapa karakternya berasa asli banget😀
    yoona anak kampung, perasaan di cerita sebelumnya siwon duluan yang naksir dia. perasaan baru ketemu mereka. kenapa tiba2 udah sekelas dari jaman apa?
    banyak typo, it’s so ninis kekeke~ tapi gapapa, selalu kocak, selalu nyenengin bacanya😉
    btw, lanjutannya kris sama sooyoung kapaaaan?

    • hai eonni (:
      eeh di cerita sebelumnya siwon kan pacar tiffany humnnn coba deh eonni baca ulang (:
      jadi ciri khas saya banyak typo gitu ya hahha -__- iya nih udah di post di blog tapi di sini entah kenapa belum sempet2 huhu. oke ntar aku post.

      anyway makasih ya udah mau baca dan komen. uuuu kangen deh sama gita eonni~

  3. Ih eonniyaaaa~ >< aku suka banget FF ini, castnya bias aku semua ya ampunn <3<3 terus castnya juga semuanya kayaknya cocok banget gitu Sama peran Dan karakternya, jadi lebih ngena gitu ceritanya._. Ih gimana Cara bilangnya yah, pokoknya daebakkk (y)
    Tapi ngegantung nihh'-' sequel dong eonn ;;)

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s