If i can


Artposter_ifican_1

Present By Julistyjunghaae

Cast: Krystal (FX), Myungsoo (Infinite), Jiyeon (T-ara)

Genre: Sad, Angst, Friendship | Length: Vignette | Rate: Teen

Disclaimer: This story is pure from my imagination. Do not claim as yours. All cast belong themselves. I just borrow they name. No Bash, No Copy paste also No Silent readers please. Thanks.

oOo

Gadis itu kini diam. Hujan tak membuat gadis itu pergi. Suara gemuruh khas hujan menutup semua pendengarannya. Ia menutup matanya, merasakan air hujan menggelitik suluruh tubuhnya yang terasa dingin.

Ia tak bergeming. Tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Ia masih saja diam tanpa berbicara, mengatup rapat mulutnya dan menangis sejadi-jadinya-mengeluarkan gumpalan air yang selalu ia tahan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Sesuatu yang terasa begitu tajam.

Ia mulai melangkah. Pergi, berjalan dengan tatapan yang kosong. Hampa, sulit untuk diartikan.  Baju biru nya basah. Rambut coklat bergelombangnya basah dan matanya terasa berat untuk melihat karena terlalu larut dalam tangisnya bersama dengan hujan yang datang.

Hujan mulai mereda. Tak ada lagi air yang jatuh pada puncak kepalanya. Hanya tersisa dingin yang menusuk kulitnya dengan tajam. Ia menatap tubuhnya pada pantulan kaca dari toko dihadapannya. Berantakan, mungkin itu yang dapat mendefinisikan dirinya saat ini juga.

Ia mulai berjalan. Menyusuri jalan yang mulai kosong. Ya, sehabis hujan, mentari masih tak datang, malah semakin menenggelamkan dirinya masuk, seolah tertelan oleh bumi yang bulat lalu membuat langit semakin meredup.

Ia berjalan perlahan. Sebenarnya tak ada niat untuk pergi ke apartement nya tapi ia harus berganti baju. Bagaimanapun juga ia tak mau membuat sang kakak juga temannya khawatir. Sesaat, setelah ia sudah sampai didepan apartement nya. Ia masih tak bergeming. Ia berdoa sejenak lalu mulai membuka pintu apatementnya.

“Soo jung-ah

“Hei” Sapa gadis itu tanpa ekpresi seolah tak ada ada tenaga untuk membuat sebuah guratan ekspresi yang berarti.

“Kenapa bajumu basah?”

“Terkena hujan”

“Hmmmm, ohya tadi saat aku disini bersama dengan Myungsoo oppa, sekitar jam 2 lalu, apakah kau datang kesini?”

Gadis bernama Soojung itu terdiam sejenak dan mulai berpikir. “Aku mendengar bunyi pintu terbuka dan mendengar pintu tertutup dengan keras, apa kau yang melakukan itu” ujar gadis berwajah polos itu dengan mata nya yang melirik kesegala arah. Terbesit pikiran aneh disana.

“Tidak, aku tidak datang kesini Yeon-ah, tadi aku sibuk, dosen Kim membuat kepalaku pusing”

Bukan, bukan dosen Kim tapi kau dan Kim Myungsoo, kekasihmu yang membuat kepalaku pusing Jiyeon-ah, batinnya.

“Lalu, ng, apakah apartement ini dihuni oleh seseorang selain kita Soojung-ah?”

“Aku rasa tidak”

Soojung melangkahkan kakinya malas. Ia menutup matanya lalu membuka pintu kamarnya, membanting tubuhnya kekasur dengan keras. Bahkan rasanya lebih dari sakit saat melihatnya tersenyum seperti itu, pikirnya.

Soojung mencari sesuatu. Ia mengadahkan tangannya kesemua arah. Berharap benda yang ia cari ketemu namun ternyata salah. Benda itu tetap tak kunjung ketemu. Ia pasrah lalu menutup matanya kembali namun tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri dan merutuki kebodohannya.

Ia bergegas mengganti baju hingga sesaat, saat ia sudah mau keluar dari pintu apartement seseorang mencegah langkahnya. “Kau mau kemana?” Soojung terhenyak pada pemandangan yang ada dihadapnnya.

“Myungsoo-ssi, kenapa kau bisa berada disini?”

“Aku dari tadi disini, dikamar Jiyeon”

Soojung mendesah, ia benci jika sudah berkaitan Jiyeon. “Oh” hanya kata itu yang dapat dikeluarkan oleh Soojung. Ia tak mampu untuk berucap lagi setelah pikirannya melayang, menatap pakaian apa yang dikenakan Myungsoo.

“Hmmm..kau mau kemana?”

“Mengambil ponsel dan tas, tertinggal dikelas”

Myungsoo hanya tersenyum. Soojung yang melihatnya mencoba memalingkan wajahnya, tentu saja, saat pemandangan dihadapnnya itu berubah menjadi neraka. Saat Jiyeon dan Myungsoo mengumbar kemesraan tepat didepan dirinya.

“Sebaiknya aku pergi”

Soojung membanting pintu apartementnya dengan keras. Bagaimana bisa ia melihat pemandangan yang begitu menyebalkan disaat dirinya sudah mulai tenang? Ia hanya menyenderkan badan kurusnya dipintu. Bahkan tangis gadis kurus itu sudah kering untuk dapat keluar seperti tadi.

“Kau dan aku baru saja bertemu dan saling mengucap nama tapi kenapa kau sudah berhasil menghapus logikaku” gumam Soojung pelan.

Soojung berjalan menjauh. Cepat-cepat ia pergi kekampusnya. Takut bahwa ponsel dan tasnya hilang tak berbekas. Diambil oleh seseorang. Ia melangkah dengan pelan, ingin bergerak cepat tapi kakinya seolah sulit terangkat. Tertahan oleh sesuatu dan tak ingin meninggalkan apartementnya.

Ia mencoba untuk tak peduli dengan rasa penasaran yang menghampiri dirinya. Karena ia tau apa yang dilakukan Myungsoo dan Jiyeon lakukan setelah mengumbar kemersraan seperti tadi. Baiklah, ia mencoba untuk tak peduli sekarang karena nyatanya ia sudah beberapa kali melihat Jiyeon dan Myungsoo melakukan hal tak pantas di apartement dirinya juga Jiyeon.

Lalu ia melanjutkan jalannya pada tujuan sebenarnya. Walau jauh tapi ia lebih suka berjalan. Ia kini terdiam. Nama sekolahnya sudah terpang-pang jelas disana dan kini ia mulai melangkah, menuju satu kelas untuk mencari barang miliknya namun entah kenapa bayangan Myungsoo dan Jiyeon terus menggetayangi dirinya hingga sulit untuk berkonsentrasi.

“Ketemu”

Soojung menghela nafasnya. Bersyukur karena semuanya masih utuh: Ponsel dan tas tangannya juga semua tumpukan kertas tugas yang ada didalamnya. Soojung menatap sekitar. Masih jam empat sore tapi kampus sudah sepi.

Ia berpikir sejenak lalu memutuskan untuk naik kepaling atas, menaikinya setapak demi setapak, menaiki anak tangga yang begitu banyak lalu pada akhirnya langkah kakinyanya berakhir pada ujung pintu atas dan mulai membukanya lalu tersenyum dengan lega. Ia pikir matahari masih bersembunyi tapi ternyata matahari sudah menjamah seluruh kota Seoul yang tadinya terbanjiri air yang datang dengan deras.

Ia memutuskan untuk kepaling ujung. Ia berjalan dan menengok kebawah. Ia melihat begitu banyak mobil yang berlalu lalang disekitar Universitas nya. Ia menghela nafasnya perlahan lalu menutup matanya.

Ia merentangkan kedua tangannya. Merasakan hembusan angin sore yang sejuk. Mendengar suara burung dan suara mobil yang menjadi satu. Membuat suara bising yang aneh. Namun setidaknya angin yang sejuk seolah mengalih perhatiannya.

Masuk kedalam dunianya. Masuk dalam imaginasinya. Dalam dunia yang indah, hamparan rumput hijau dan wangi khas senja yang begitu memanjakan hidungnya. Seolah ia tak sadar berada diatas puluhan meter gedung ini.

Ia mulai membuka matanya. Matahari berwarna emas sudah tenggelam seolah tertelan dalam bumi yang bulat membuat langit menjadi gelap. Namun entah kenapa kini tangisnya mulai meleleh. Air matanya mulai tak terbendung.

Kita baru bertemu

Kita baru berjabat tangan

Kita baru memanggil nama

Tapi entah kenapa Kau sudah dapat meluluh lantahkan seluruh hidupku

Dirinya merutuki perasaannya. Ia bodoh, bahkan sangat bodoh. Ia berpikir kenapa ia bisa mencintai sesosok pria yang sudah dimiliki gadis lain. Dan parahnya lagi itu adalah sahabat dirinya sendiri dan mereka sering melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami-istri.

Ini salah! Ya, ia tau bahwa ini salah. Menyukai pria yang sudah memiliki kekasih dan menjadi gila hanya karena melihat pria itu bercumbu dengan gadis lain, atau mungkin sahabatnya. Ia mencemooh dirinya sendiri yang bodoh.

Bagaimana bisa ada gadis sebodoh diriku?

Ia mengepalkan tangannya keras, hingga terdengar gemertak dari tangannya yang terkepal keras.

Jika ia dapat mengubah waktu
Jika ia dapat bertemu dengan Myungsoo lebih awal
Jika ia dapat membuat Myungsoo jatuh cinta sebelum Jiyeon
Jika ia dapat merubah takdir

Yaitu membuat Kim Myungsoo bersama dengan dirinya, bukan Park Jiyeon. Sahabatnya

Jika ia bisa
Tapi ia tak bisa

Soojung mengerluarkan sebening Kristal dari pelepuk matanya. Semua tak dapat terbendung lagi. Saat matahari semakin tenggelam dan cahaya langit sudah mulai meredup dan semakin meredup hingga akhirnya matahari benar-benar menghilang, dirinya menghela nafasnya panjang, ini adalah takdirnya.

Ia mulai melompat. Merentang seluruh tangannya. Menutup matanya, menahan gejolak rasa takut yang berada dalam dirinya saat angin menembus seluruh tubuhnya. Jatuh berpuluh-puluh meter hingga akhirnya ia mencapi dasar.

Dan inilah takdir dari dirinya.

Because I can’t…
and, if I can….
Is not my ending

END

Note: kalau udah baca, tinggalin jejak ya ^^

7 thoughts on “If i can

  1. It’s in fact very complex in this active life to listen news on TV, so I only use web for that reason, and take the hottest news.

  2. kenapa ff myungstal itu kebanyakan angsty sad romance sih… Dan point of viewnya itu pasti si soojung. Gue pengen nangis gak kuat kesian liat soojung T_T /ikutan terjun bebas dari atas monas/

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s