The Blue Tears


the-blue-tears_aliceappril_melurmutia

Author             : Aliceappril / Choi Yoora

Cast                 : Choi Yoora

Kim Jaejoong

Other Cast       : Shin Nari

Im Jiseon

Park Yoochun

Genre              : Romance, Sadness, friendship

Length             : Oneshoot

Rating             : PG

creditnya         : Cafe Poster (http://cafeposterart.wordpress.com)

 

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata, atau bahkan lebih tepatnya duplikat dari kisah itu, aku kembali membawa Jae-Ra couple, enjoy the stories

 

Aku tidak tau bagaimana pagi kembali

Aku lupa cara untuk bernafas dengan baik,

Ketika aku menutup mata, dan membukanya kembali

Hanya dirimu lah yang tidak bisa dihapuskan walaupun hanya sesaat

 

*Semua sudut pandang milik Author*

 

Pagi yang cerah seakan membangunkan Yoora dari mimpi panjangnya. Gadis berusia 16 tahun ini bangkit dari selimut tebalnya, membuka jendela kamar agar udara dan sinar mentari memasuki kamar bernuasa biru itu. Suara burung dan hembusan embun pagi yang segar seakan langsung menyambutnya ketika dia membuka jendela.

“Nice day, I Hope all the best for me and everybody in the world” ucapnya seraya tersenyum menikmati cerahnya pagi ini.

“Eonni, kau cepatlah mandi, kita akan sarapan bersama” sebuah suara mengintrupsikannya.

“Choi Jira, pelankan suaramu. Kau merusak pagi ku dengan teriakan bisingmu itu”

Tanpa memperdulikan umpatan adiknya, Yoora berjalan kekamar mandi membasuh wajahnya dengan penyegar dan menyikat giginya. Dia keluar kamar setelah merapikan tempat tidur dan menyisir sedikit rambut sebahunya.

 

“Anyeong Appa, Eomma” sapanya pada Orangtuanya.

“Yoora~a kau tidak mandi?” Tanya Eommanya yang sedang menyeduh susu, Yoora menggeleng sambil mengambil nasi dihadapannya.

“Aku akan berangkat siang Eomma, hari ini sekolah ku akan mengadakan acara pentas seni”

“Wuah… Eonni siapa bintang tamunya?” Teriak adiknya yang sedari tadi lahap memakan sarapannya.

Molla, kudengar hanya artis lokal” jawabnya sambil mengendikkan bahunya,

“Ah… tidak seru. Aku tidak jadi datang” Yoora melirik adiknya bingung

“Memangnya ada yang menyuruhmu untuk datang? Jangan banyak maunya, kau itu masih sekolah dasar. Tidak pantas datang keacara seni begitu”

 

Jira menatap kakaknya sebal, dan mulai siap melontarkan protes-protesnya, namun seperti biasa Yoora sama seklai tak mengubrisnya. Seperti inilah keadaan tiap pagi dirumah ini. Tuan dan Nyonya Choi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua putrinya.

 

~at the school~

 

Dengan malas Yoora melangkah kan kaki menuju kelasnya, sekolahnya sudah mulai ramai dengan siswa, padahal acara pucak pensinya baru dimulai beberapa jam lagi. Memang sih ada bazaar yang dibuka oleh pihak sekolah jadi membuat siswa datang lebih cepat. Sebenarnya Yoora agak malas datang terlalu dini begini sebelum acaranya dimulai. Tapi karena perintah kedua sahabatnya yang memohon untuknya datang lebih cepat, membuatnya sekarang tengah duduk disalah satu meja yang disebahnya sudah ada kedua sahabatnya.

 

“Yoora~a Wasseo” serbu Im Jiseon, gadis manis dengan wajah polos menyambut kehadirannya. Yoora hanya berdeham pelan menjawabnya.

“Apa yang kalian ingin bicarakan?” Tanya Yoora setelah melepas tasnya.

“Teman kita yang satu ini, aku tidak tau harus bilang dia ini polos atau bodoh” Ucap Shin Nari, gadis cantik ini memulai pembicaraan.

“Jangan menyebutku bodoh Nari~a” Protes Jiseon sambil mengerucutkan bibirnya. Yoora hanya diam menunggu kelanjutan kalimat Nari.

“Kalau tidak bodoh apa namanya?” Tanya Nari sambil menatap Jiseon bingung

“Aku hanya tidak tau” Jawab Jiseon, Nari melengos sebal, sepertinya sudah lelah bicara dengan Jiseon.

“Sudahlah, cepat beri tau aku ada apa?” Tanya Yoora penasaran

“Kau tau Kim Jaejoong? Teman kami berdua saat di junior high school?” Yoora mengangguk, sambil kembali menatap Nari.

“Tadi malam dia menyatakan cinta pada Jiseon” mata Yoora membulat saat Nari membisikan kalimat itu.

“Dan kau tau, Teman kita yang polos Im Jiseon ini. Tidak tau sama sekali jika Jaejoong menyatakan cinta padanya, dan membiarkannya begitu saja”

 

Sontak Yoora langsung menatap Jiseon yang duduk tepat disebelahku.

“Im Jiseon, kau ini bagaimana? Mana mungkin kau tidak mengetahui seseorang tengah menyatakan cinta padamu?”

Jiseon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda bahwa dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.

Nan Jinja Molla” jawabnya pendek, mendengar hal itu Nari dan Yoora hanya bisa menghela nafas. Yoora memang belum pernah melihat seperti apa Jaejoong itu. Karena dia tidak bersekolah di tempat yang sama dengan Jiseon dan Nari ketika Junior High School. Tapi dia tau kalau beberapa minggu belakangan ini Namja itu tengah mendekati teman polosnya ini.

 

“Yaa… Im Jiseon” Suara bass milik seseorang membuat mereka bertiga menoleh. Dilihatnya Park Yoochun teman satu kelas mereka menghampiri ketiganya.

“Kau tidak menjawab pernyataan Jaejoong semalam ya?” Ketiga gadis dihadapannya mentapanya terkejut.

“Yoochun~a, Noneun Arra?” Tanya Yoora, Yoochun mengangguk

Keurom, Jaejoong memberitauku, Yaa… Jiseon, jadi apa jawabanmu? Tega sekali kau memberikan harapan palsu pada temanku”

Yoochun, Yoora dan Nari langsung menatap lekat Jiseon, penarasan dengan jawaban gadis itu. Jiseon menatap ketiga temannya takut-takut.

“Yaa… Kalian jangan menatapku begitu, membuat gugup saja”

“Aigoo Jiseon~a, harus berapa kali lagi aku bersabar menghadapimu sejak tadi” Protes Nari sambil memukul dadanya sendiri.

“Aku tidak bisa menerimanya” Semua temannya membulatkan mata tak percaya.

Wae?” Yoora langsung merespon ucapan Jiseon, padahal tadinya dia berpikir Jiseon akan menerima Jaejoong, karena melihat keakraban mereka selama ini.

 

“Aku menyukai orang lain”

MWO…!!!” kali ini hanya Yoora dan Nari yang terkejut luar biasa. Bagaimana mungkin mereka tidak tau kalau Jiseon tengah menyukai seseorang. Padahal hampir setiap hari mereka selalu bersama.

Nugu?” Yoora bertanya dengan nada penuh penasaran.

“Apa dia murid sekolah ini juga?” Tanya Yoochun

“Kami mengenalnya?” giliran Nari yang bertanya.

“Yaa… satu-satu jika bertanya?” Teriak Jiseon sambil mengacak-ngacak rambutnya kesal.

Keuyang Marrebwa” Yoora menarik tangan Jiseon, untuk memberhentikan gerakan Jiseon yang masih mengacak-ngacak rambutnya.

Baru Jiseon akan membuka suara, namun seketika itulah matanya membulat dan terpaku diam. Yoora dan Nari langsung mengikuti arah pandangnya. Shim Changmin, itulah pria yang tengah ditatap Jiseon saat ini. Yoora kembali melihat Jiseon, raut kegembiraan tergambar jelas pada wajah Jiseon. Seulas senyum tersungging manis di wajah Yoora.

 

“Sepertinya kita tau siapa” Nari mengangguk setuju dengan ucapan Yoora.

“Sejak kapan kau menyukainya? Mengapa kami berdua sama sekali tidak tau?” Nari mulai tertarik dengan topik baru dan melupakan pembicaraan awal mereka.

Jiseon tidak menjawab, dia tersipu malu dengan memunculkan semburat merah diwajahnya.

“Aigoo… Kau bisa malu juga Im Jiseon” Sindir Yoora yang langsung mendapat lirikan tajam dari Jiseon.

 

“Baiklah sepertinya memang Jaejoong belum beruntung, aku pergi” Yoochun yang sedari tadi diam, akhirnya memilih untuk pergi dari sana. Karena sepertinya acara Girls Talk akan dimulai dan dirinya pasti hanya akan jadi barang antic konu, jika terus disana.

Yoora yang melihat Yoochun yang keluar dari kelasnya, langsung berdiri dan mengejar Yoochun.

“Yoochun~a” Panggilnya, Namja itu menoleh dan berhenti melangkah

Wae?” Yoora menatap Yoochun sebentar, ragu-ragu untuk bertanya

“Kau.. masih menyukainya?”

Yoochun terpaku saat mendengar pertanyaan Yoora, gadis ini ternyata sangat peka

“Tak perlu kau jawab aku tau jawabanmu, maaf sudah bertanya” Yoora menepuk pundak Yoochun dan melangkah kembali, namun Yoochun memanggil namanya.

“Yoora~a” Yoora menoleh dan menunjukan ekspresi wajah yang seolah bertanya “Apa?”

“Katakan pada Jiseon, Jaejoong akan datang di acara puncak nanti”

Yoochun kembali melangkah menuju lapangan, dan Yoora kembali emlangkah menuju kelasnya.

@@@

Yoora harus menunggu beberapa jam untuk acara puncak pentas seni sekolahnya. Dia juga penasaran sebenarnya siapa Geust star yang banyak dibicarakan teman-temannya akan mengisi acara pensi sekolahnya. Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba, Yoora, Nari dan Jiseon berlari kecil menuju lapangan, sambil mendesak-desak masuk diantara kerumanan siswa yang lain agar lebih dekat dengan panggung.

“Ah… Jiseon~a, Itu Jaejoong” Teriak Nari, Yoora dan Jiseon mengikuti arah pandang Nari dan melihat seorang pria tampan dengan wajah sempurna tengah berbicara dengan Yoochun.

“Jadi itu Namja bernama Kim Jaejoong” ucap Yoora, Tertegun itulah kesan pertama yang Yoora dapat, saat melihat Jaejoong untuk pertama kalinya.

“Lihat acaranya sudah mau mulai” Ucap Jiseon mengalihkan perhatian teman-temannya, namun tidak bagi Yoora, Gadis itu masih terus memandang Jaejoong, entah apa yang dimiliki oleh Namja itu sehingga membuat Yoora betah menatapnya lama.

 

CN-Blue, itulah Geust Star acara tersebut. Jiseon dan Nari tak henti-henti mengelu-elukan nama band itu sejak saat mereka muncul, begitu pula dengan siswa yang lain. Yoora juga menyukai CNBlue, tapi entah mengapa dari sudut matanya, seorang Namja yang tengah berdiri beberapa meter darinya jauh lebih menarik perhatiannya daripada band yang tengah menyanyikan single berjudul “LOVE”.

Setelah beberapa lagu dinyanyikan, Cnblue meminta selingan sebentar dan digantikan dengan band-band lokal. Yoora kembali menatap Jaejoong, dan kali ini pandangan mereka bertemu. Seketika tubuhnya kaku sambil merutuki diri dalam hati, karena kebodohannya yang terus memperhatikan Jaejoong.

“Jiseon~a, mereka kemari” Ucap Yoora sambil menggenggam tangan Jiseon. Ya Jaejoong dan Yoochun mendekat ke arah mereka. Sebenarnya dalam hati Yoora berharap, semoga bukan kearah mereka bertigalah dia berjalan, namun harapannya pupus begitu mendengar sapaan Yoochun.

“Haaii” Yoora dan kedua temannya hanya tersenyum membalas sapaan yoochun

Annyeong semua, lama tidak bertemu” kali ini tanpa melihat pun sudah dipastikan Jaejoong yang berbicara.

“Oh Annyeong Jaejoong~a” sapa Nari ramah.

“Ehmm… Jaejoong~a, mengenai semalam aku…” dengan menunduk Jiseon ingin mengatakan penyesalannya, namun segera dipotong oleh Jaejoong.

“Sudahlah, Gwenjhana” balasnya sambil tersenyum.

 

“Oh Ya, Jaejoong~a, ini teman kami namanya Choi Yoora” Nari berusaha menghilangkan suasana kikuk yang terjadi. Namun kali ini Yoora yang gantian terperangah kaget

“Annyeonghaseo Kim Jaejoong imnida”

“Annyeonghaseo Choi Yoora Imnida” Jaejoong mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yoora, Yoora terdiam sesaat sampai Nari menyenggol tangannya. Baru Yoora membalas uluran tangan Jaejoong.

Acara kembali dimulai dan Cnblue kembali bernyanyi. Yoora menghela nafas lega, kerena kecanggungan ini segera hilang. Sepanjang acara mereka menikmatinya dengan tawa. Dan kecanggungan yang tadi sempat menguasi situasi kini tergantikan dengan suasana bersahabat. Dan entah bagaimana, Yoora dan Jaejoong jadi banyak mengobrol sampai acara selesai.

 

@@@

Hari baru dimulai, dan merasakan adanya wana baru

Mengenal dirinya, menghadirkan indahnya dunia

 

Setelah cara pentas seni itu. Yoora dan Jaejoong sering berkomunikasi lewat Text messaging, untuk sekedar mengobrol ringan dan bersenda gurau. Dan diakui atau tidak, Yoora menjadi lebih semangat setiap harinya, hanya dengan Jaejoong mengirimkannya Text. Suasana baru, Kecerian baru dan warna baru, hadir dihidupnya. Hanya dengan sebuah pesan text yang dikirimkan, oleh orang yang baru sekali dilihatnya sudah membuatnya tersenyum bahagia. Yoora memiliki kegiatan baru sekarang. Yaitu menunggu pesan dan telepon dari Jaejoong, tidak peduli apa yang nanti akan dibicarakan Jaejoong, tapi hanya dengan berkomunikasi saja sudah membuat hatinya ber bunga-bunga.

 

Yoora tau, ada yang aneh dengan dirinya. Perasaan ini pernah dirasakannya dulu. Dan dia bukan gadis kemarin sore, yang tidak mengetahui arti semua ini. Cinta, ya itulah yang tengah dirasakan Yoora pada Jaejoong. Membanyangkan dirinya akan tersenyum-senyum sendiri setiap kali mendapat pesan dari Jaejoong,  dirinya yang akan melompat-lompat kegirangan saat Jaejoong menelponnya. Atau dirinya yang akan berteriak senang saat Jaejoong mengkhwatirkannya.

 

Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa saat, karena Jaejoong tak kunjung memberikan sebuah kepastian pada hubungan mereka selama ini. Sekarang kegelisahanlah yang menjadi teman Yoora. Setiap hari yang ditunggu bukanlah lagi pesan atau telepon dari Jaejoong, tapi juga sebuah pengakuan yang akan memperjelas hubungan mereka saat ini.

 

“Bagaimana hubungan mu dengan Jaejoong Yoora~a?” Tanya Jiseon saat jam istirahat. Yoora menghela nafas pelan. Ya Jiseon dan Nari sudah tau kalau yoora menyukai Jaejoong. Yoora memilih jujur dengan kedua temannya dari pada menyembunyikannya sendiri. Apalagi mengingat Jaejoong sempat menyukai Jiseon, dia tidak mau dianggap sebagai Teman makan teman.

“Entahlah masih begitu saja, tidak ada kemajuan. Mungkin dia masih menyukaimu” Jawab Yoora tak bersemangat.

“Kurasa tidak, dia sama sekali sudah tidak menghubungiku sejak pensi lalu”

“Itukan menurutmu, siapa tau hatinya berbeda” Ponsel yoora bergetar, dengan cepat Yoora mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.

Seulas senyum tergambar diwajahnya.

 

Annyeong… bagaimana pagimu? Apakah tadi ujianmu lancar? Aku berdoa loh supaya kau bisa mengerjakannya

 

“Oh God… So sweet” Ucap Nari sambil menangkupkan kedua tangannya.

Yoora mengetik pesan balasan untuknya. Sejak rajin bertext pesan dengannya, tingkat kecepatan jarinya mengetik, sedikit meningkat.

 

Annyeong… Ehhmm ujianku lumayan lancar, aku optimis nilaiku bagus. Karena ada seseorang yang dengan tulus mendoakanku

 

Yoora kembali meletakkan ponselnya, dan menghela nafas panjang. Tidak ada kepastian lagi, entah sampai kapan Yoora harus menunggu Jaejoong memberi kejelasan padanya. Ponselnya kembali bergetar, Yoora sudah tau pasti itu balasan Jaejoong.

 

Aku akan selalu memdoakan yang terbaik untukmu, Oh ya, Ra~a nanti malam aku aku akan menelponmu lagi, ada sesuatu yang ingin aku katakan

 

Deg… Yoora terpaku melihat pesan Jaejoong, Mungkinkah dia akan…? Pikiran Yoora sudah melayang entah kemana, bolehkan dia sedikit saja berharap.

“Jangan tersenyum terus, kau membuatku takut Yoora” suara Nari menghentikan lamunan dan senyumannya.

“Jadi seperti ini, efek orang jatuh cinta” Celetuk Jiseon, Yoora meliriknya sebal

“Ya… jangan berkata seolah-olah hanya aku saja yang sedang jatuh cinta, kau kan juga sedang jatuh cinta dengan Changmin” Seru Yoora sambil menyenggol lengan Jiseon. Dan Jiseon hanya tersenyum malu.

“Mengapa tak kau coba tanyakan saja pada Yoochun, dia dan Jaejoong kan teman dekat”

Belum sempat ada persetujuan dariku, Nari sudah memanggil Yoochun.

“Yoochun~a” Yoochun menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat, ketika Nari memanggilnya. Nari menarik tangan Yoora untuk mengikuti langkahnya menuju Yoochun.

Wae Nari~a?” Tanya Yoochun penuh harap

“Ada yang ingin ditanyakan Yoora padamu” Ucapnya sambil mendorong tubuh Yoora lebih dekat pada Yoochun dan setelah itu dia meninggalkan mereka.

Yoora menundukkan kepala, bukan karena dia malu hanya saja, dia ragu apakah harus bertanya atau tidak.

 

“Yoora~a kau  seperti Yeoja yang ingin menyatakan cinta padaku, jika terus bersikap seperti itu”

Yoora langsung mengangkat wajahnya dan menatap Yoochun tajam.

“Buang jauh pikiranmu itu, aku ingin bertanya sesuatu” Yoochun melipat kedua tangan didadanya sambil menunggu Yoora bicara.

“Apakah Jaejoong masih menyuaki Jiseon?” Tanya Yoora pelan.

“Sepertinya tidak lagi, dia bilang dia tengah menyukai seseorang, aku tidak tau siapa. Tapi dapat kupastikan itu bukan Jiseon”

Yoora menatap Yoochun tak percaya.

“Ah.. kudengar kalian berdua tengah dekat ya, atau jangan-jangan kau Yeoja yang disukainya” Wajah Yoora panas dan tubuhnya kaku, buru-buru dia menyentuh dinding sebelum hatinya terbang melayang tinggi. Dia ingin berteriak sambil melompat membenarkan ucapan Yoochun.

“Mana Mungkin” hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibirnya.

“Siapa yang tahu, dan lihatlah wajahmu sudah memerah hanya dengan begitu”

Sontak Yoora langsung menyentuh wajahnya, untuk menutupi kegugupannya.

“Sudahlah, kau tunggu saja. Jaejoong pasti mengatakannya”

@@@

Let me see the feelings you have for me

You’re the only one I see

But I will be waiting for you
To say you want me to be with you

 

Yoora berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil terus menggenggam erat ponselnya. Menunggu seseorang menghubunginya. Hatinya bergemuruh tak tenang, pikirannya terus menerka apa yang ingin di bicarakan Namja itu padanya malam ini. Mungkinkan hal yang selama ini ditunggunya akan terjadi. Jika memang iya, dia pasti akan sangat bahagia. Semampu dirinya akan membuat Jaejoong tak menyesal memilihnya. Pikirannya terpotong Karena ponselnya bergetar. Yoora mengatur nafas untuk menetralkan dirinya.

Yobboseo

“Ra~a” panggilnya, Yoora tersenyum mendengarnya, hanya Jaejoong yang memangilnya begitu.

“Ehhhmmm”

“Aku tidak menganggumu kan?” Yoora menggeleng cepat, tanpa sadar apa yang dilakukannya tak mungkin bisa dilihat Jaejoong.

“Aku ingin bercerita sesuatu” Yoora menjauhkan ponselnya dari telinganya, dia kembali mengatur nafasnya yang kembali memburu dengan cepat.

“Ceritakanlah”

“Aku sedang menyukai seseorang, dia gadis yang baik. Dia tidak terlalu cantik, tapi dimataku dia sangat menarik. Setiap hari aku selalu bicara dengannya entah itu lewat pesan atau bicara langsung. Hariku terasa lebih indah saat dia juga menyambutku dengan baik. Kau bisa merasakan perasaanku Ra~a”

Aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjawab

“Ya… aku bisa merasakannya” Karena aku juga merasakan hal yang sama sejak mengenalmu

“Aku ingin menyatakan perasaanku padanya Ra~a, tapi rasanya aku takut sekali dia akan menolakku”

Aku tidak mungkin menolakmu. ingin sekali Yoora meneriakkan kalimat itu pada Jaejoong.

“Kau belum mencobanya Jaejoong~a, siapa tau dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan mu kan?”

“Begitukah menurutmu?” Jaejoong kembali meminta pendapat Yoora

“Ya … kau harus mencobanya” jawab Yoora pasti

“Baiklah besok aku akan menemui Eunri dan menyatakan perasaanku padanya. Gomawo Ra~a, kau membuatku yakin untuk mengungkapkannya”

 

Byaaaaarrrrrrr

Bagaikan sebuah ledakan besar yang terjadi dihatinya. Dadanya sesak seakan tak ada udara di sekitarnya. Matanya panas menahan buliran Kristal yang siap meluncur ke wajahnya. Angannya hilang, terbang melayang dan tak berbekas sama sekali.

“Kau harus mendoakanku, agar Euri memiliki perasaan yang sama padaku dan menerimaku menjadi Namjachinggunya”

Keureu, aku akan mendoakanmu pastinya” Ucapnya sekuat mungkin menahan agar suaranya tak bergetar. Sambungan terputus

 

Pandangannya mulai kabur, karena dihalangai oleh airmata yang menumpuk dimatanya. Kakinya lemas tak sanggup lagi menahan berat badannya. Yoora jatuh terduduk sambil memegangi dadanya yang terasa seperti tertusuk ribuan juta pisau. Sakit, sakit sekali hatinya. Perlahan dia menangis terisak, merutuki kebodohannya. Mengapa dia terlalu berharap, mengapa dia terlalu yakin Jaejoong juga menyukainya. Akhirnya dia sendiri merasakan sakit yang teramat sangat karena kebodohannya.

 

 

@@@

No matter how hard I try,
I’ll end up crying
and my tears just won’t stop
.

 

Sejak saat itu Yoora sudah tidak berhubungan lagi dengan Jaejoong. Dan sejak saat itu semuanya berubah, tak ada lagi warna baru di harinya, tak ada lagi semangat baginya. Kegiatan baru juga kini tengah dilakukan Yoora yaitu, Malamun berdiam diri dan menjauh dari segala keramaian. Bahkan Jiseon dan Nari pun tak bisa mengembalikan Yoora seperti dulu. Nari meminta bantuan Yoochun untuk bicara pada Yoora. Dan sekarang Yoochun tengah duduk disamping Yoora namun gadis itu sama sekali tak menyadarinya.

 

“Hei… apa kau melihat Yoora?” Yoora menoleh sebal pada Yoochun yang tengah mengganggu dirinya.

“Pergilah aku tak ingin diganggu” ucapnya dingin

“Aku juga tidak ingin menggangu, aku hanya bartanya apa kau melihat temanku Choi Yoora?”

“Yoochun tidak lucu”

“Aku memang sedang tidak melucu” jawab Yoochun santai

“Lalu apa maksudmu, mengapa mencari orang yang sudah jelas-jelas ada dihadapanmu” bentak Yoora sambil menghadap Yoochun, Bukannya kaget karena sudah dibentak. tapi Yoochun malah menatap Yoora tajam.

“Jangan mengaku-ngaku dirimu sebagai Choi Yoora, kalian berdua berbeda”

“Lalu kalau aku bukan Yoora, aku ini siapa? Hantunya Yoora begitu” ucap Yoora sinis

“Yoora yang ku kenal tidak seperti ini, dia itu cerewet banyak bicara dan selalu membawa keceriaan pada sekitarnya. Tapi lihat sekarang, kau seperti sebuah boneka manakein yang bernyawa, mati rasa” kalimat Yoochun seketika membuat tubuh Yoora beku. Separah itulah dirinya.

“Kau tak tau bagaimana sakitnya Yoochun, jadi jangan bertingkah seolah-olah kau mengerti semuanya” Yoora bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, namun tangan Yoochun lebih dulu menghalanginya dan kembali membuatnya terduduk.

“Siapa bilang aku tidak mengerti, Sebelum kau, aku yang lebih dulu merasakan sakitnya patah hati. Aku juga memiliki cinta yang sama seperti cintamu pada Jaejoong, aku juga merasakan sakit yang sama. Jadi kaulah yang jangan bertingkah seolah-olah hanya kau yang mengalami sakit seperti ini”

 

Sebuah pukulan baru saja dirasakan Yoora, tidak menyangka Yoochun akan mengatakan hal yang menyakitkan. Pertahanan Yoora hancur, saat itu juga air matanya kembali mengalir. Tatapan Yoochun melembut begitu melihat Yoora menangis. Yoochun menarik Yoora dalam pelukannya,

“Sakit Yoochun~a, sakit sekali sampai-sampai aku sulit untuk bernapas” ucap Yoora sambil memukul dadanya.

“Aku benar-benar bodoh, mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Tapi, apakah aku salah? Apakah salah jika aku mencintainya”

Yoochun melepaskan pelukannya dan menatap Yoora.

“Tidak ada yang salah dengan cinta Yoora~a, sakit dan bahagia itu adalah hal yang wajar dalam cinta. Hanya saja bagaimana kita bisa menyikapinya, agar tidak terasa begitu menyakitkan”

Yoora kembali menghamburkan diri pada Yoochun, mencari ketenangan disana.

 

@@@

Where are you now?
Who are you being with?
What are doing and laughing at?
You’re the only one I’m thinking of
.

I know is that I just really hurt

 

Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Perlahan-lahan walaupun sulit Yoora berusaha untuk menerimanya. Membiarkanya bahagia dengan pilihannya. Sudah cukup baginya mengetahui kalau Jaejoong saat ini baik-baik saja. Tapi harus diakuinya sampai saat ini dia belum bisa menghilangkan bayangan Jaejoong walaupun sebentar. Yoora sering menatap ponselnya, berharap ada sebuah pesan singkat dari Jaejoong.

Yoora mengambil ponselnya dan membaca lagi semua pesan yang pernah Jaejoong kirimkan padanya. Ini satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa rindunya pada Jaejoong. Saat tengah serius membaca pesannya, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama orang yang sangat  dirindukannya. Bukannya senang, namun Yoora bimbang antara mengangkatnya atau tidak. Jika dia mengangkatnya dapat dipastikan hatinya akan kembali melemah medengar suara lembut Jaejoong. Tapi jika dibiarkan, dia sangat merindukan Jaejoong.

 

Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya dia memilih mengangkatnya, tak peduli bagaimana nantinya. Karena saat ini dia sangat merindukan Jaejoong.

Yobboseo

“Ra~a” panggilan ini, entah sudah berapa banyak Yoora membanyangkan Jaejoong kembali memangillnya begitu.

“Apa kabar, maaf aku tidak pernah menghubungimu lagi, sejak saat itu” terdengar nada menyesal dari suaranya

“Ehmm Gwenjhana, aku mengerti” Ya sangat amat mengerti Jaejoong~a

“Aku ingin bercerita Ra~a, maukah kau mendengarkan ku”

Yoora menyentuh kasurnya duduk disana, dia merasa kakinya sangat lemas. Dia berpikir apa yang ingin Jaejoong ceritakan? Apakah mengenai kebahagiannya bersama Eunri. Jika memang benar. Apakah dia sanggup mendengarnya.

“Ya aku akan mendengarkan” jawaban bodoh memang, namun dia tak ingin mengecewakan Jaejoong, lagipula dia juga tak mau buru-buru mengakhiri pembicaraan ini.

 

“Eunri menolakku, setelah seminggu tak memberi jawaban, akhirnya hari ini dia menolakku” Aku terdiam, bingung harus bagaimana senang karena aku masih memiliki harapan atau sedih karena dia juga ditolak.

“Jika dia memang ingin menolakku. Seharusnya dia mengatakannya sejak awal, mengapa harus membuatku menunggu” terdengar nada sedih dari suaranya.

“Teranyata rasanya sesakit ini ya di tolak” Jaejoong berusaha mengatakannya dengan tertawa. Yoora meremas seprai kasurnya, untuk menahan air matanya.

“Jaejoong~a, apa saat Jiseon menolakmu, kau juga merasa seperti ini?” Tanyanya parau

Aniya, mungkin perasaanku pada Jiseon tidak sedalam perasaanku pada Eunri. Ra~a. aku sedih sekali saat ini. Untung ada kau yang mau mendengarkanku. Gomawo

 

Lagi, aku menangis lagi, entah sudah berapa banyak air mata yang kukeluarkan untuknya dalam dua minggu terakhir ini. Yoora membaringka tubuhnya dan memeluk gulingnya erat.

“Tuhan… mengapa kau biarkan dia juga merasakan apa yang kurasa. Aku rela merasakan sakit yang bahkan lebih dari ini, asal dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku rela menukar semua kebahagiaanku, agar dia tidak merasakan hal seperti ini” ucapnya sambil terisak.

 

 

@@@

You Must Erase, forget our memories

No matter where you are, I can’t lose you

My heart still beats for you

“Katakanlah padanya” Yoora yang tengah melamun di teras rumahnya, terkejut dengan apa yang diucapkan Yoochun.

“Apa yang harus aku katakan?” Tanyanya pura-pura tak mengerti

“Tentang perasaanmu tentu saja. Paling tidak setelah kau mengatakannya. Kau tak akan semurung ini, Jaejoong juga akan lebih bersikap baik padamu”

Yoora mengeleng lemah, pandangannya sama sekali tak teralihkan dari taman di hadapannya.

“Aku tidak mau”

“Yoora~a, aku sudah muak melihatmu yang seperti ini setiap harinya. Aku, Nari dan Jiseon selalu berusaha membuatmu kembali. Tapi apa? Karena memang hanya Jaejoong yang bisa mengembalikanmu”

Yoora menatap Yoochun tajam

“Kau tau, aku ingin sekali mengatakannya, ingin sekali berteriak dihadapannya mengatakan bahwa aku sangat mencintainya sambil memohon dia dapat menatapku sekali saja. Tapi aku tidak bisa melakukannya” Yoora menaikkan beberapa oktaf suaranya.

“Aku tidak bisa melakukan itu, aku sudah terang-terangan mendukung dirinya untuk mendapatkan Eunri, mana mungkin aku membuatnya bingung dengan perasaanku. Lagi pula aku takut, takut sekali dia akan menjauhiku saat mengetahui aku mencintainya”

 

Yoochun duduk disamping Yoora dan membalikkan tubuh temannya agar menghadapnya.

“Tapi dengan kau mengatakannya, kau akan lebih lega dari sekarang. Setidaknya itu yang kurasa saat menyatakan perasaanku pada Nari”

“Tapi setelah itu Nari menjauhimu kan? Karena Nari tak bisa membalas perasaanmu, maka dia lebih memilih untuk mengabaikanmu. Bagaimana kalau itu juga terjadi padaku? Aku tidak sanggup kehilangan Jaejoong sekarang, aku lebih memilih menyembunyikannya dari pada harus kehilangannya. Aku ingin dia tetap menganggapku ada”

Tapi kau hanya akan di carinya saat dia memang membutuhkanmu Yoora~a, saat dia tak membutuhkanmu, maka lihatlah sekarang. Tak ada satu kabar pun darinya kau terima kan?”

Yoora kembali menatap halaman dihadapannya, menghindari tatapan menuntun Yoochun

“Aku senang jika masih bisa berguna untuknya, setidaknya itu caraku untuk mencintainya”

Yoochun pasrah mendengar jawaban singkat Yoora, entah harus dengan cara apa lagi dia membujuk Yoora. Rasa bersalah menyelimutinya, seharusnya sejak awal dia tak membiarkannya Yoora dekat dengan Jaejoong. maka gadis yang duduk disampingnya ini tetap menjadi gadis ceria yang dikenalnya dulu.

 

 

@@@

Since the day you left without a word of goodbye
I feel that the scenery around me has changed. If I was given one more chance,
I would tell you once again

that I love you.

One Years Ago

 

Hari ini adalah hari kelulusan Yoora dan kawan-kawan. Mereka menyambutnya dengan suka cita dan juga kesedihan, karena harus berpisah satu sama lainnya. Yoora berhasil masuk universitas negeri di seoul dengan jurusan Psikologi. Nari dan Jiseon mereka memilih ekomoni di universitas yang berbeda. Saat ini mereka tengah merayakan kelulusan mereka. Bagaimana dengan perasaan Yoora? Ternyata selama ini ,dia berusaha keras untuk menjadi aktris yang baik. Dia menutupi kepiluan hatinya demi tidak lagi membuat teman-temannya khawatir.

“Berjanjilah, kita memang berpisah. Tapi kumohon kalian harus tetap ada untukku ya?” Pinta Jiseon dengan nada merajuk.

“Pasti Im Jiseon kau tak usah khawatir” Jawab Yoora yakin.

“Bagaimana kalau kita buat perjanjian” kalimat Nari mengundang tatapan bingung Yoora dan Jiseon

“Saat kita kembali berkumpul seperti saat ini. Kita sudah harus memiliki Namjachingu? Otthe

“Perjanjian Konyol” ucap Yoora singkat sambil kembali meminum milkshakenya.

“Aku setuju” teriak Jiseon semangat. Yang langsung dapat tatapan membunuh dari Yoora

“Ayolah Yoora, kau harus sudah bisa membuka hatimu lagi. Jangan hanya karena seorang Kim Jaejoong kau menutup hatimu rapat-rapat, kau terlalu baik untuknya” Nari mencoba untuk membujuk Yoora dengan Puppy Eyesnya.

“Kukira kita sudah sepakat untuk tidak lagi membahas hal ini Nari~a” Seru Yoora tanpa memandang Nari.

 

“Tapi mau sampai kapan kau akan terus seperti…. KIM JAEJOONG” Teriak Nari keras, saat melihat Jaejoong tengah memasuki kafe yang mereka singgahi. Karena efek suara Nari yang terlalu keras, Jaejoong pun bisa mendengarnya walaupun berjarak beberapa meter.

Yoora hanya bisa terpaku sejak saat Nari meneriakkan nama namja itu. Dirinya tak memiliki kekuatan sedikit pun, bahkan hanya untuk bernafas saja dia sulit. Yoora merasa oksigen di sekitarnya lenyap seiring dengan suara sapaan Namja itu.

Annyeong

Annyeong” Jawab Nari dan Jiseon nyaris tak terdengar, karena hanya seperti bisikan.

“Sedang kumpul rupanya, merayakan apa?” Tanyanya sambil duduk mengambil posisi tepat disebalah Yoora, tentu saja itu membuat Yoora semakin berbujur kaku.

“Hanya acara Girls Talk saja, Kau apa kabar, sudah lama kami tak mendengar kabar mu, bahkan Yoora juga tidak tau bagaimana keadaanmu” Yoora melirik Nari kesal, apa sih maksud ucapannya itu. Sepertinya Nari memang sengaja memancing Jaejoong.

Mianhae, aku memang sengaja menghilang, biar teman kalian ini” Jaejoong melirik Yoora yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa, sebelum akhirnya merangkul pundak Yoora yang otomatis langsung membuat Yoora terpengarah kaget.

“Merindukan dan mencemaskanku. Tapi nyatanya dia sama sekali, tak menghubungiku lagi” Jaejoong mengatakan itu sambil tetap merangkul Yoora dan Yoora harus berusaha keras menahan perasaannya untuk tidak menanggis.

“Begitukah, Ehmm Jiseon~a temani aku ke-toilet ya” tanpa menunggu jawaban Jiseon, Nari langsung menarik tangan Jiseon.

 

Yoora tau itu alesan klasik, Nari sengaja meninggalkan mereka berdua, agar mereka bisa leluasa bicara. Namun sampai beberapa detik kepergian temannya, Yoora masih mematung di tempatnya, dan Jaejoong sama sekali belum melepas rangkulannya. Karena masih ingin dapat bernafas dengan baik. Akhirnya Yoora melepaskan rangkulan Jaejoong dipundaknya sambil bersiap menjadi seorang aktris yang akan kembali beracting.

“Kau apa kabar?” Tanya Yoora dengan senyum yang sekuat tenaga dipaksakan, agar terlihat ceria.

“Aku baik, kau sendiri?” Yoora mengangguk sambil tetap mempertahankan senyumnya.

“Kau tega sekali tidak pernah menghubungiku lagi Ra~a”

Ya Tuhan… panggilan itu lagi, Jaejoong~a, ku mohon berhenti membuat jantungku berdebar

“Aku agak sibuk, kau tau lah ujian benar-benar menyita waktu” jawabnya beralasan.

“Ya aku tau, tapi mengapa aku lebih merasa kau seperti menghindariku ya” Jaejoong menatap tepat dimanik mata Yoora, yang membuat gadis itu mengalihkan padangannya cepat.

“Itu hanya perasaan mu saja, Oh ya bagaimana hubungan mu dengan Eun Ri?” sengaja dia bertanya begitu untuk mengetahui perkembangan terakhir hubungan mereka.

“Aku tetap tak bisa mengapainya, semakin aku menginginkannya semakin dia pergi dariku” Jawab Jaejoong sambil tersenyum sedih.

 

“Kau sendiri, pernah kah mengalami hal ini?” Yoora menatapnya sebentar dan kembali mengalihkan pandanganya pada Milk shake chocolate nya.

“Tentu saja pernah, bukankah setiap orang pernah jatuh cinta”

“Jadi kau pernah merasakannya, mengapa tak pernah ceritakan padaku” Yoora hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan Jaejoong, yang menurutnya sangat lucu.

Kau pikir, aku mau berterus terang mengatakan bahwa aku mencintaimu begitu ?

“Siapa Namja beruntung itu Ra~a, apa aku mengenalnya”

Tangannya yang tengah mengaduk-aduk Milkshake berhenti sebentar. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan ini. Haruskah dia jujur, atau kembali mengarang cerita.

“Ya Kau mengenalnya, bahkan kau sangat mengenalnya dengan baik”

“Benarkah siapa dia, apa dia tau kalau kau menyukainya?” Tanya Jaejoong Antusias.

Yoora menggeleng lemah, entah ada apa dengannya, kenapa dia menunjukkan kelemahannya begini. Bukannya seharusnya dia kembali beracting.

“Kenapa? Kau tidak ingin memberitahu dia?”

Yoora menatap Jaejoong lembut. Berusaha sekuat tenaga agar tidak terlarut pada perasaannya.

“Aku tidak ingin dia menjauhiku, jika dia tau aku mencintainya” Jaejoong mengerutkan keningnya bingung.

“Dia tidak mungkin membalas cintaku Jaejoong~a, jadi dia pasti lebih memilih menjauh daripada merasa terbebani oleh perasaanku. Dan aku tidak siap dengan itu” terdengar cengeng sekali ucapannya, waalupun Yoora memang tidak menangis. Tapi mendengar kalimatnya barusan akan membuat siapapun yang mendegarnya pasti akan merasa pilu.

 

“Kau kan belum mencobanya Ra~a, bukankah itu yang kau katakan padaku dulu? Mengapa sekarang kau yang tidak melakukannya”

“Tidak semudah itu, Sungguh tidak semudah itu Jaejoong~a” pertahanan Yoora hancur, perlahan air mata yang ditahannya menampakan diri di wajahnya. Jaejoong membulatkan mata saat melihat Yoora menangis, tangannya terulur untuk mengapus buliran bening itu.

“Astaga, Kumohon jangan menangis Ra~a, entah sudah berapa banyak air mata yang kau keluarkan untuk menangisi diriku yang tidak peka sama sekali terhadap perasaanmu”

Deg… apa yang dikatakannya tadi. Yoora mengangkat wajahnya dan menatap Jaejoong dengan wajah minta penjelasan.

“Ya, aku sudah mengetahui semuanya, Yoochun telah memberitahuku” Yoora menatap Jaejoong tak percaya, jadi sejak tadi mereka sama-sama bermain acting? Ternyata mereka berdua punya bakat terpendam yang sama,

“Kenapa Ra~a, kenapa kau begitu mencintaiku. Sampai-sampai membuat dirimu menjadi seperti ini hanya demi Namja seperti ku”

“Jika kau bertanya apa alasannya, maka aku minta maaf aku tidak bisa memberitahumu, karena aku sendiri saja tidak tau”

Dibiarkan air mata yang terus mengalir, bukan karena dia ingin menunjukan sisi lemahnya, tapi justru dia ingin memperlihatkan sedalam inilah seorang Choi Yoora mencintai Kim Jaejoong, hingga bersedia menjatuhkan diri dengan menangis dihadapan pria itu.

“Hanya dengan sekali bertemu dan berkomunikasi dengan mu setiap harinya, mampu membuatku begini. Hanya dengan sesederhana itu Jaejoong, kau berhasil merebut semua perasaanku. Terlalu cepat bukan? Aku juga tidak mengerti” ucapnya parau, diambilnya beberapa lembar tissue untuk mengapus air matanya.

 

Mian… Jeongmal Minahae Ra~a”

“Untuk apa kau meminta maaf. Ini tentangku Jae~a, bukan tentangmu. Aku yang sudah berani mencintaimu jadi aku siap menerima apapun resikonya”

“Tapi Ra~a, aku juga bersalah karena tidak menyadarinya” Ucapnya sambil menatap Yoora dalam.

“Dengar, saat aku memutuskan untuk mencintaimu, tak sedikitpun aku membuat syarat agar kau juga mencintaiku, atau aku dapat memilikimu. Walaupun perasaan ingin memilikimu sepenuhnya selalu menghantuiku, aku tidak ingin menjadi munafik untuk memungkirinya. Tapi satu hal yang perlu kau tau. Tidak akan pernah ada syarat untuk mencintai seseorang. Aku tulus mencintaimu dan hanya itu yang ku tahu. Untuk yang terakhir, jangan kau ucapkan maaf.  Walaupun sakit, aku tetap bahagia, karena kau selalu berada di hatiku

 

@@@

Since the day you left without a word of goodbye
I feel that the scenery around me has changed.
The promise I made
that I would become your everything
and the incomplete memories
have also changed.

I can’t forget you,
But the truth is, I don’t want to forget you.
I can’t feel even a bit of happiness
because you’re not by my side.

No matter where you are,
no matter who you are being with,
no matter what kind of dream you are dreaming of,
or what you are doing and laughing at,
I will be here forever.

 

 

Gimana…? Gantung, gak jelas, sad endding… aku tau pasti kalian akan berpikir begitu. tapi aku memang sengaja ngebuat seperti ini. Kenapa ? karena aku mengikuti kisah aslinya yang memang seperti ini, ceritanya. ada yang mau minta sequelnya? akan aku pertimbangkan. Tapi aku gak janji akan happy end ya, karena kisah nyatanya aja masih gak jelas itu sadness atau happiness

14 thoughts on “The Blue Tears

    • Yoora nya terlalu melankolis, *eh* … iya beruntung, pasti akan lebih beruntung kalo Jaejoong juga ngebales… Ne Gomawo udah baca🙂

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s