THE ZODIAC #2


Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Krystal Jung [F(x)], Kim Jong In [EXO], Han Seung Yun [LUNAFLY]

Genre: Romance, Angst

Rating: PG+17 (adegan yang tidak cocok untuk anak di bawah umur, sebaiknya berada dalam pengawasan orang tua), Teen Adult

Length: Two Shoot, Stand Alone

Before Story: Painfully Loving You [Yaoi], Once Upon A Time [Shonen-Ai, Straight], The Zodiac 1/2 [Straight]

Note: sebenernya kecewa banget dengan respon dari part 1 the zodiac, lebih-lebih karena sebelumnya di once upon a time respon yang saya terima sangat menyenangkan. Tapi apa boleh buat, kekecewaan cuma bisa dipendam aja :cry: walau begitu saya kembali membawa bagian kedua. Semoga kali ini saya bisa mendapat sedikit apresiasi dari para readers, tanpa kalian apa artinya saya berkarya, ya kan?

 the zodiac

 2013 present

Copyright&Crossposting by Goetary

With all standard disclaimer applied

T H E   Z O D I A C

 

Kai tersungkur di lantai studio yang dingin, dengan peluh membasahi wajahnya. Dengan sisa kekuatan ia mencoba menarik lutut sebelah kanannya dengan bantuan dua tangan, berusaha mencari lihat keadaan pergelangan kakinya yang mati rasa. Mungkin ia baik-baik saja, karena ia tak merasakan apa-apa selain degup jantungnya yang berdentam-dentam tak karuan.

Ketika mengangkat kakinya lebih tinggi, ia bisa melihat telapak kakinya terkulai lemas. Dan sedetik kemudian lelaki itu segera kehilangan kesadaran.

 

©G O E T A R Y

Ketika akhirnya sadar, Kai terbangun di atas ranjang rumah sakit yang kaku. Punggungnya terasa sakit sekali, entah sudah berapa lama ia tertidur dalam posisi yang sama. Kaki sebelah kanannya terbalut gips dan tergantung setinggi kepalanya.

Kai menatap kakinya dan teringat kejadian di studio sebelum ia jatuh pingsan lalu bergidik ngeri. Ia menyentuh pahanya dengan gemetar. Disaat bersamaan seorang dokter masuk ke dalam kamar. Dokter itu nampak prihatin, jantung Kai kembali berdentam tidak karuan.

“Jong In-ssi, bagaimana kabarmu?”

Dokter mulai membolak-balik catatan di tangannya tanpa menunggu jawaban Kai. Ia terlihat kecewa sebelum kembali berbicara pada Kai. “Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Akan ada kemungkinan terburuk. Kuharap kau bisa tabah saat mendengar hasil pemeriksaan Sinar-X nanti.”

Kai diam membisu. Bibirnya pucat pasih. Perutnya perih akibat belum makan sejak pagi, itu pun kalau ia baru berada di rumah sakit beberapa jam yang lalu. Ketika dokter berjalan keluar, Kai memanggilnya.

“Dok, aku masih ingin menari,” ujarnya lirih.

Dokter lalu memperbaiki letak kacamatanya, dan kembali mengulum senyum simpati saat menoleh.

Kai menangis.

 

***

Lee Soo Man menghambur ke dalam kamar rawat Kai dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya penuh kemarahan ketika ia tiba di samping ranjang tempat Kai sedang berbaring tak berdaya. Kai yang melihat kemarahan di mata pria baya di hadapannya menciut.

Asisten pribadi Lee Soo Man menyodorkan sebuah kursi untuk diduduki majikannya, ia menghempaskan bokongnya di sana. Lalu kembali menatap Kai setelah sesaat sebelumnya menilai gips yang tengah membungkus kaki lelaki muda itu hingga ke pahanya.

“Maaf…” bisik Kai sarat ketakutan.

Lee Soo Man memandang wajah Kai yang pucat, dengan lembut ia menepuk tangan lelaki muda tersebut. Lee Soo Man menggeleng, dengan mimik khawatir ia berusaha tersenyum, “akulah yang harus minta maaf karena tidak menjagamu seperti yang seharusnya kulakukan.”

Kai tertegun. Apa ia tak salah dengar? Pria paling berkuasa di perusahaan tempatnya mencari nafkah yang terkenal arogan ini baru saja meminta maaf padanya.

“Cepatlah sembuh, Nak. Jangan pedulikan soal konser. Yang paling penting sekarang adalah kau kembali sehat. Mengerti?” Lee Soo Man mencecar Kai seakan sedang berusaha meyakinkan diri sendiri kalau laki-laki yang tengah terbaring dengan kaki tergantung di depannya akan baik-baik saja.

Kai tiba-tiba merasa ingin menangis lagi. Ia memejamkan mata rapat-rapat saat tak kuasa membayangkan wajah-wajah kecewa penggemarnya yang sudah membeli tiket solo pertamanya sejak beberapa bulan yang lalu. Ia tak ingin membatalkan konser tersebut, apalagi jika harus digantikan oleh orang lain. Kai tahu konser tunggal ini bisa menjadi batu loncatan baginya, dan kesempatan tidak akan datang kedua kalinya jika ia menyerah sekarang.

Tapi mimpi tinggal mimpi. Karena beberapa saat kemudian dokter membawakan hasil pemeriksaan yang dalam sekejap memutar balik dunianya.

“Betis dibangun oleh susunan dua tulang besar yang di sebut Fibula dan Tibia, sementara dua tulang ini dengan tengkorak pergelangan kaki disambung oleh otot Ligaments.” Dokter itu memperbaiki letak kacamatanya seperti biasa, seolah sedang mengulur waktu sebelum menyampaikan sesuatu yang lebih serius, “dalam kasus pasien, ketika kaki kanannya terkilir, salah satu otot merenggang. Tekanan yang terlalu kuat membuat otot tersebut putus.

“Sebelumnya, pasien sudah pernah berkonsultasi di sini. Ketika itu salah satu tulang luar atau yang disebut Fibula mengalami pergeseran hingga menekan tulang besar Tibia. Namun sekarang kaki pasien tidak bisa disambung karena operasi tidak akan bisa menjahit otot-otot yang putus. Jika kami memaksakan hal tersebut terjadi, takutnya akan menyebabkan gangguan pada organ lain di sekitar alat gerak bagian bawah.”

“Maksud Dokter, Kai tidak akan bisa menari lagi?” sela manajer panik.

Dokter menggeleng prihatin. “Kemungkinannya kecil. Tapi dengan penggunaan kaki palsu tidak menutup kemungkinan hal tersebut terlaksana dengan baik. Sudah banyak bukti nyata dari pengguna kaki palsu yang merasa jauh lebih sehat dengan kaki baru mereka ketimbang harus bergantung pada tongkat.”

“Kaki palsu?!” Kai memekik ngeri. “Aku tak mau pakai kaki palsu!”

Manajer berhambur menahan gerakan Kai yang membuatnya hampir terjerembab, dengan cepat memeluk bahu lelaki itu. Dokter menggumamkan permohonan maaf, namun bukan itu yang ingin ia dengar.

Kai lalu menangis sampai kelelahan.

 

***

Ketika matanya terbuka, seberkas sinar matahari menerpa dirinya. Kai memicingkan matanya yang bengkak dan sembab oleh tangisan semalam. Ia tidak yakin kapan dirinya jatuh tertidur, tapi saat melihat sosok manajernya yang tengah meringkuk tidak nyaman di sofa, Kai tahu ia pasti menangis lama sekali.

Pandangannya menerawang ke seluruh penjuru ruangan, sambil mempertanyakan mengapa rumah sakit selalu berwarna putih secara diam-diam.

Kai menghembuskan napasnya keras-keras, sengaja membangunkan manajernya. Lelaki yang umurnya lebih tua tujuh tahun dari Kai itu segera melompat dari sofa dan menghampiri Kai.

“Kau tak apa-apa?” tanyanya masih sepanik kemarin.

Kai tidak menjawab apa-apa.

Tapi semoga saja ia tak mesti selalu mengatakan ia baik-baik saja pada orang-orang yang ia temui nanti, termasuk kepada penggemarnya. Lebih-lebih pada Krystal. Karena ia sendiri pun tidak yakin, apakah ia memang akan baik-baik saja atau tidak. Mungkinkah hidupnya bisa kembali normal seperti sedia kala bahkan setelah ia kehilangan alat pijaknya?

Wajah Kai tertekuk. Pikiran tentang Krystal kembali mengusiknya. Bagaimana kabar gadis itu? Apakah dia baik-baik saja walau tanpa dirinya di sisinya? Kai menggigit bibir, berusaha menekan perasaan yang kembali membayangi pelupuk matanya.

Ia sudah cukup lelah.

 

©G O E T A R Y

“Aku sudah pernah menikah, Oppa. Tapi pernikahanku yang baru seumur jagung tak sanggup kupertahankan,” ungkap Krystal pada Yun, tak ingin terus-menerus menutupi masa lalunya ketika ia merasa hubungan mereka semakin dekat.

Untuk sesaat Yun membisu, ia tidak pernah menyangka gadis semuda Krystal ternyata sudah pernah menikah. “Kenapa?” tanya Yun buka suara akhirnya.

“Awalnya kupikir pernikahanku baik-baik saja, tapi ternyata cuma aku yang merasa demikian,” sahut Krystal sedih.

Krystal tidak ingin menutup-nutupi siapa dirinya. Ia pun menceritakan segalanya pada Yun namun berusaha untuk tetap menjaga nama baik Kai. Karena kenyataannya Kai memang sangat baik padanya. Mungkin perceraian itu terjadi karena dirinya juga. Namun Krystal tidak mengatakan seluruhnya, ia tidak mengatakan soal perjanjian mereka sebelum menikah, juga tidak bilang kalau ia merasa Kai tidak pernah mencintainya.

“Kapan itu terjadi, Krys?”

“Sebelum aku pergi ke Osaka.”

Yun menggigit bibir bawahnya, tanda ia sedang berpikir, persis seperti yang sering Kai lakukan kalau sedang bingung atau ketika merasa kesepian. Namun apa pun yang tengah di pikirkan lelaki itu, Krystal berharap hal tersebut tak akan mengubah sesuatu di antara mereka.

Yun meraih tangan Krystal, menggenggamnya erat-erat. Ia menatap mata Krystal lekat-lekat dengan sorot matanya yang nampak begitu kesepian. Krystal sampai tidak tega melihatnya.

“Asal kau mau,” bisik Yun lirih, masih tetap menggenggam tangan Krystal. “Aku tak akan membiarkan perbedaan apa pun di antara kita menghancurkan hubungan kita, Krys. Kalau kau bersedia, aku akan menemanimu selamanya.”

Krystal hampir tersedak oleh air matanya sendiri.

“Aku bukan orang yang memiliki segalanya. Tapi, aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhanmu…” Yun menarik napas sesaat sebelum melanjutkan, “maukah kau menikah denganku?”

Air mata jatuh di pipi Krystal. Matanya sembab, bibirnya bergetar lembut.

“Caraku melamarmu memang tidak seperti yang seharusnya, aku tidak sempat menyiapkan bunga mau pun cincin, tapi rasanya jika tidak kukatakan sekarang, aku akan melihatmu pergi dariku. Aku tak mau hal itu terjadi.”

Bagaimana mungkin ia menjawab tidak? Bagaimana mungkin ia beralasan padahal malam-malam sejak ia bertemu Yun, alasan mengapa Kai tidak lagi terlalu sering menghampiri otaknya adalah karena sebagian hatinya yang kosong mulai terisi oleh kehadiran lelaki itu.

“Jika kau bilang iya, aku berjanji akan segera menyiapkan cincinnya. Bahkan melamarmu dengan formal. Aku akan pergi menemui kedua orang tuamu serta kakakmu untuk meminta restu mereka.”

Yun mencecarnya bertubi-tubi. Ekspresinya yang nampak memohon juga penuh harapan persis seperti Kai. Kai juga sering bicara cepat kalau sedang gugup, hampir tidak pernah memberinya kesempatan menjawab pertanyaannya.

Krystal tersenyum menyadari kemiripan antara Yun dan Kai yang semakin sering terlihat. Namun ia tidak menyesalinya. Mungkin Yun adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuknya sebagai pengganti mantan suaminya.

Sampai sekarang ia memang tidak pernah tahu mengapa Kai memutuskan perceraian secara tiba-tiba tanpa berdiskusi dengannya untuk mencari solusinya lebih dulu. Ia tak pernah yakin perbedaan apa yang sudah menggagalkan pernikahan pertamanya. Tapi jika Yun cukup mencintainya, rasanya masa depan cukup menjanjikan.

 

***

Kai baru akan memasukkan jeruk yang sudah dikupas untuk kesekian kalinya ke dalam mulut ketika manajer bertanya, “kapan kau bersedia di operasi?”

“Aku tidak mau.”

Jongina…”

Kai membuang muka. Tahu kalau manajernya sekali pun tak akan bisa mengerti bagaimana perasannya. “Aku baik-baik saja, Hyung. Aku tidak ingin kakiku dipotong. Tidak sekarang. Tidak juga nanti. Lagian operasi akan percuma pada akhirnya.”

“Tapi tak ada salahnya dicoba kan?”

Kai menoleh, “tak ada yang perlu diperbaiki lagi, Hyung.”

“Tapi kalau begini terus kau bisa…”

“Toh apapun juga percuma,” kilah Kai. Dia tak suka dikasihani. “Aku tak akan pernah benar-benar sembuh.”

Si manajer mendengus lelah, “akan kupanggilkan Krystal. Kau mau bertemu dengannya? Kalau dia yang bicara mungkin kau mau menurutinya.”

“Kami sudah bercerai. Ingat?”

Kenapa tidak sekalian kau panggilkan juga Taemin? Suruh ia bangkit dari kubur untuk menjemputku. Batin Kai kesal.

 

***

“Kau tampak berbeda, Krys,” ujar Jessica penuh selidik.

Krystal mengangkat sebelah alisnya, “apanya?”

Kakak sulungnya yang dijuluki Ice Princess oleh teman-temannya terlihat tengah berpikir sebelum menjawab pertanyaan adiknya, “lebih mmm… bahagia.”

Gadis itu tertawa, “aku memang bahagia, Onnie!”

“O ya?” Jessica nampak tertarik. “Siapa dia?”

Krystal mencibir, Jessica selalu ingin tahu apa saja. Tapi dengan senang hati Krystal akan memberitahunya soal Yun. Bagaimana pun juga, ia ingin Jessica yang pertama tahu. “Namanya Yun, Han Seung Yun.”

“Sepertinya pernah dengar,” tukas Jessica berusaha memaksa otaknya berpikir.

“Dia penyanyi, sama sepertimu Onn.”

“Yang benar?”

Krystal mengangguk mantap. Kali ini ia yakin Jessica akan merestui hubungannya dengan Yun, tidak seperti ketika pertama kali ia meminta restunya setelah Kai melamar.

“Dia menyanyi di grup apa?”

“LUNAFLY.”

Jessica membisu sesaat, sambil memandangi wajah adiknya dengan penuh perhatian, berusaha mencari perubahan ekspresi di wajah cantiknya. Ketika akhirnya Krystal mulai tersenyum malu-malu, Jessica yakin adiknya memang sedang jatuh cinta. Semoga kali ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.

Gadis itu mengambil smartphone miliknya dari dalam tas dan mulai mengetikkan sesuatu di sana, lalu perlahan senyum mengembang di wajahnya. Jessica menunjukkan foto seseorang yang tadi dicarinya di internet kepada Krystal yang seketika merona. “Dia manis sekali,” pekik Jessica senang.

Krystal tertawa tulus. Untuk pertama kalinya sejak palu pengadilan di ketuk tiga kali.

 

***

Tatapannya menerawang keluar jendela. Berharap bisa melihat sesuatu yang tengah terjadi di luar sana. Namun tak ada yang bisa ia lakukan lagi, bahkan mungkin untuk selama-lamanya.

Dari ranjang rumah sakit yang tak nyaman, tak peduli sekeras apa pun Kai berusaha melongokkan kepalanya, dari jendela ia hanya bisa melihat langit yang kosong. Sesekali burung berterbangan, sendirian mau pun berkelompok.

Ia rindu Krystal. Juga rindu Taemin.

Kai meraih handphone di samping ranjang dan mulai membuka-buka foto lama Krystal. Lelaki itu mendesah ketika jemarinya terhenti pada sebuah foto yang ia ambil diam-diam saat gadis itu masih tertidur. Pagi sebelum ia memutuskan mengakhiri pernikahan mereka.

Lelaki itu tersenyum pilu. Air mata mengalir di pipi. Kai lalu memejamkan matanya yang lelah. Ia sudah terlalu sering menangis, ternyata beginilah rasanya berada di ambang kematian.

 

©G O E T A R Y

California, March  2014

Rambut lelaki yang dicat merah itu berkilau ditimpa cahaya matahari, dengan santai berjalan menyusuri trotoar. Kacamata hitam membingkai wajahnya yang tirus. Lelaki itu sedang mendengarkan musik dari Ipod-nya sembari mencari sebuah alamat yang di tulis dengan tangan di secarik kertas.

Ketika akhirnya ia menemukan nomor rumah yang dicarinya, cukup lama ia hanya tertegun melihat hamparan taman pribadi yang amat luas membentang di depannya. Lelaki bertubuh kurus itu berjalan melewati jalan setapak dari pintu pagar yang lebih kecil di samping gerbang utama. Sambil menyeret kopernya, tak bisa dipungkiri kalau ia terpesona setengah mati pada isi taman tersebut, padang hijau menghampar sejauh mata memandang, dengan banyak ragam bunga berwarna-warni mulai bermekaran. Bibirnya yang kemerahan berdecak kagum.

Pintu depan rumah itu besar sekali dan terbuat dari kayu yang di pernis dengan aksen bunga yang indah. Sambil menyiapkan mentalnya ia menekan bel. Mula-mula ia mengira sedang tak ada orang, tapi lalu pintu berderik membuka kearah dalam.

Sebenarnya ia sendiri tidak begitu mengerti mengapa ia yang disuruh kemari untuk merawat pasien yang harusnya dibantu oleh seorang ahli terapis yang memiliki reputasi yang bagus, mengingat bahwa pasien kali ini adalah seorang artis. Terlebih lagi, kenyataan dia masih seorang siswa di sebuah fakultas kedokteran jurusan terapis fisik membuatnya semakin sangsi. Mungkin orang-orang di rumah sakit salah memberinya alamat.

Seorang pria tua berkepala hampir botak muncul di balik pintu yang terbuka. Perawakannya tinggi besar, namun raut wajahnya nampak tulus.

Lelaki yang hanya memakai celana pendek serta kaos dan jaket itu tersenyum ragu-ragu. “Annyeong haseyo,” sapanya. “Saya terapis Tuan Kim.”

Ketika pria tua tadi mempersilahkannya masuk, di saat bersamaan seorang pria yang nampak seumuran dengannya muncul bersama kursi roda. Ia kembali akan menyapanya ketika tenggorokannya tiba-tiba tercekat.

Kai memandangi lelaki berwajah secantik perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak. Dia sudah bermaksud menolak ahli terapis yang hanya akan menyiksanya dengan kegiatan-kegiatan yang belum tentu bisa berbuat banyak untuk kaki kanannya. Padahal kedatangannya ke Los Angeles adalah untuk melarikan diri dari semua kewajiban tersebut. Walau pada dasarnya Kai sangat ingin bisa menari lagi, ia takut tak akan pernah bisa. Sehingga melarikan diri terasa seperti ide yang bagus.

Tapi ketika melihat lelaki yang sedang tersenyum kepadanya itu, hatinya seakan melompat keluar dari tubuhnya. Seketika matanya terasa perih dan jantungnya berdegup tak karuan.

Ottokhae?” bisik Kai pada diri sendiri dengan suara lirih di antara kebingungannya.

“Apa kabar?” lelaki berambut merah itu masih berusaha menyunggingkan senyuman yang sama walau pun perasaannya entah mengapa ikut bergejolak.

Kai diantara keterkejutannya mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya, mengira apa yang dilihatnya saat ini mungkin hanya bagian dari khayalannya yang kerap kali memberondong dirinya. Tapi lelaki yang di depanya itu kenyataan. Iya kan?

“Taemin?” sembur Kai dengan suara tercekik.

 

©G O E T A R Y

Yun mengajak Krystal makan malam.

Sejak seharian Krystal sudah sibuk di kamarnya, mencari pakaian yang cocok untuk ia kenakan malam ini. Yun bisa saja mengajaknya ke restoran mewah dan ia tak mau salah kostum. Tetapi betapa terkejutnya ia waktu Yun menjemputnya dengan pakaian biasa-biasa saja. Jins, kaos dan jaket. Namun ia memaksa dirinya berpikiran positif.

Dan kecurigaanya terbukti benar, bukannya ke restoran mewah, Yun malah mengajaknya makan malam di rumahnya.

“Aku sudah memakai baju terbaikku, Oppa!” gerutu Krystal.

Yun hanya menoleh sekilas lalu tertawa, “aku kan tidak bilang akan mengajakmu ke hotel berbintang lima.”

Wajah gadis itu merengut, “tapi kan harusnya Oppa memberitahuku sejak kemarin.”

Yun masih tertawa saat mengiring Krystal ke pintu depan, dia dan Kai suka sekali menggodanya. “Lain kali deh. Aku janji akan mengajakmu ke tempat terbaik di dunia nanti, tapi sekarang aku ingin kita menghabiskan waktu di sini, aku sudah membuat makanan sejak sore tadi. Kau pasti suka.”

Yun meraih tangan Krystal, “lagipula tak ada salahnya berdandan secantik ini untuk calon mempelai pria.”

Krystal tersipu mendengar pujian Yun. Kemarahannya seketika lenyap, digantikan oleh kecupan singkat di bibirnya.

Ketika Yun membimbingnya melihat-lihat rumah yang kosong karena kedua orang tuanya sedang berpergian keluar negri, Krystal merasa jantungnya hampir copot karena terlalu cepat berdetak. Yun menggandengnya menuju kamarnya, “tunggu sebentar.” Yun menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Kamar milik Yun masih terkesan seperti bagian rumah yang lain, bedanya di dalam sana terdapat satu set lengkap alat musik. Ada keyboard, gitar listrik dan gitar klasik, serta drum.

Hp Yun berdering, lelaki itu melongok dari balik pintu kamar mandi. “Tolong jawab, sayang.”

Untuk sesaat Krystal merasa tubuhnya melayang. Ini pertama kalinya ia mendengar lelaki itu memanggilnya sayang, dan hatinya langsung berbunga-bunga. Namun ketika handphone tersebut tidak berhenti berdering, Krystal buru-buru mencarinya.

“Halo?”

“Halo,” suara lelaki. “Yun ada?”

“Maaf, Yun sedang ke toilet. Ada perlu apa? Akan saya sampaikan padanya.”

“Eh, Krystal yah?” tanya suara tersebut. Krystal mengangguk tanpa sadar lalu segera menjawab. “Ini aku, Sam. Bagaimana kabarmu?”

“Baik, bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik. Ngomong-ngomong, kapan-kapan kau harus meminta Yun mengajakmu saat kami manggung. Sesekali melihat sisi profesionalisme kami kan tidak ada salahnya,” Sam berkelakar di seberang sana. Krystal hanya tersenyum.

“Ya sudah. Bilang saja pada Yun kalau nanti kutelpon lagi. Bye.”

Belum sempat Krystal menjawab, telepon tersebut diputus secara sepihak dari seberang. Dengan bibir mengerut ia meletakkan lagi hp Yun. Dan matanya tertumbuk pada dompet yang terlentang di atas ranjang. Krystal mengambilnya dan tersenyum melihat foto Yun di kartu identitasnya.

Lalu wajahnya memucat.

Yun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih rapih. Krystal tidak melihat ada lemari di dalam kamar jadi ia berasumsi kamar mandi lelaki itu memiliki fungsi ganda di dalamnya.

“Maaf, lama ya?”

Krystal tersenyum lemah. “Aku ingin pulang, Oppa.”

Yun mengangkat alisnya terkejut, “kenapa tiba-tiba? Kita bahkan belum makan malam.”

“Aku sedang tidak enak badan, boleh lain kali saja?”

Yun terlihat kecewa, ia berdiri dengan bahasa tubuh yang sama dengan Kai sementara berpikir.

Please?”

Dengan bahu terkulai lelaki itu mengangguk mengiyakan. “Biar kuantar.”

 

***

Sesampainya di rumah, Krystal bersandar di pintu cukup lama, peluh membanjiri wajahnya. Dadanya kembang kempis oleh tarikan napas yang ia paksakan.

Sambil menyeret kakinya ia berjalan menuju kamar. Krystal menaruh tasnya di ranjang, tanpa repot-repot ganti baju ia mengambil komputer jinjing dari atas meja. Buru-buru Krystal mengetik sesuatu dari mesin pencari di internet.

ZODIAK.

Kata kunci tersebut membawanya ke banyak sekali artikel yang berhubungan, tapi tidak ada satu pun jawaban yang ia butuhkan ada disana. Krystal kembali mengetik kata kunci lain, sampai ketika akhirnya ia mengingat deretan angka di kartu identitas Yun.

Krystal tiba pada sebuah situs yang menjabarkan karakter setiap zodiak, sebelum sibuk dengan zodiaknya sendiri, ia mencari zodiak Kai. Dan Yun.

 

©G O E T A R Y

Sejak malam ketika kencan mereka gagal. Yun berusaha menghubungi Krystal, tapi tidak pernah tersambung. Entah mengapa ia merasa kalau gadis itu sedang menghindarinya. Karena tidak tahu alasannya, ia berniat untuk mencari tahu.

Yun datang ke rumah Krystal, gadis itu juga tidak di sana.

*

Seharusnya ia mencari sesuatu untuk tugas pertamanya kalau tidak mau terlambat mengumpulkannya sampai hari kamis depan. Tapi saat di perpustakaan, bukannya mencari buku yang ia perlukan, ia malah mencari ke bagian ramalan. Merasa desakan teramat sangat yang memaksanya mencari tahu arti sebuah zodiak. Apa pengaruhnya pada sifat manusia. Dan yang terpenting, apa pengaruhnya bagi dirinya dan Yun.

*

Ketika akhirnya Yun melihat Krystal, perasaannya langsung lega. Ia sudah sangat merindukan gadis itu, ingin rasanya menariknya pergi dari ruangan yang penuh buku-buku dan kelompok mahasiswa ini. Yun baru saja akan mendekat ketika ia melihat Krystal beranjak menuju komputer. Ia terlihat begitu serius. Yun merasa tidak baik mengganggunya, sehingga ia mencari tempat duduk untuk menunggui gadis itu dari sana.

*

Krystal membaca deretan-deretan kalimat di layar komputer umum milik perpustakaan kampus dengan jantung bergemuruh di dadanya.

Mereka yang terlahir pada tanggal 23 Desember – 3 Februari memiliki wajah persegi yang tampan, berdagu lancip, rambut hitam tebal dan kaku, beralis tebal serta bulu matanya hitam dan lebat, perawakannya kurus tinggi. Bila berjalan menunduk seolah mencari sesuatu di tanah. Hal tersebut juga menggambarkan sifatnya yang teliti dalam menjalankan segala macam pekerjaan.

Ketika beranjak dewasa, sifatnya yang pemalu ditopang sifat jujur dan berani berkorban, sehingga dia memiliki pergaulan yang luas. Mereka tidak jarang rela berkorban jika ada orang yang menghadapi kesusahan walau terkadang justru merugikan dirinya sendiri.

Orang yang lahir pada tanggal 14 Januari 1994 memiliki hobi antara lain: suka belajar dan membaca buku apa saja. Senang bekerja keras. Cukup mengagumi karya seni. Menyukai musik,  lagu dan makanan pedas. Mengagumi alam, penelitian ilmiah serta otodidak.

Tangannya bergetar saat ia terus menggerakkan mouse sementara ia membaca isi artikel tersebut. Merasa dirinya sudah mendapat jawaban yang ia cari, Krystal lalu mencetak seluruh artikel tersebut dan bergegas kembali ke kursinya semula tempat sebuah buku mata kuliah terabaikan.

Yun merasakan ada yang tidak beres ketika Krystal berjalan keluar melewatinya tanpa membawa buku-buku yang ia ambil tadi. Curiga, Yun menghampiri komputer yang habis dipakai Krystal sebelumnya untuk mencari tahu apa yang dibaca gadis itu.

 

***

Rasa curiga, kecewa, frustasi, amarah serta sakit hati mendorongnya mengambil sebuah keputusan. Dengan jemari bergetar ia meremas kuat-kuat kertas di tangannya hingga kusut dan menggumpal. Ia berjalan dengan langkah-langkah lebar. Bagai singa yang sedang marah.

“Mengapa kau memilihku, Krystal?” hardik Yun tanpa tedeng aling-aling. Menuntut penjelasan soal cetakan artikel yang dibuatnya di perpustakaan.

Krystal yang saat itu sedang duduk di depan kolam ikan di halaman rumahnya mendongak dengan raut wajah bingung.

“Siapa yang kau lihat saat kau melihatku? Siapa yang kau dengar saat kau mendengarku? Siapa yang kau inginkan ketika bersamaku?”

Napas Krystal terhenti sejenak. Jantungnya sontak berhenti berdegup. Ia tahu apa yang sedang dibicarakan Yun ketika melihat kilatan amarah itu di mata lelaki di hadapannya. Ia berdiri namun tetap menundukkan kepala, mencoba menghindari tatapan mata Yun yang menakutkan.

“Jawab aku! Siapa sebenarnya aku bagimu, Krys!?” Yun memekik kalut. Dadanya naik turun karena emosi yang sekuat tenaga coba ia redam. “Apa kau berharap aku ini Jongin? Apa kau berharap aku bisa menggantikan posisinya, itu sebabnya kau mau bersamaku? Benar begitu? Jawab aku!?”

Oppa… ini tidak seperti yang kau bayangkan.”

“Kalau begitu apa? Apa maksudnya ini?” disodorkannya kertas kusut yang ada di tangannya dengan tak sabaran.

“Maafkan aku,” bisik Krystal. Hanya itu satu-satunya penjelasan yang ia punyai.

Yun menyeringai pedih.

Hatinya terluka. Tentu saja. Ia mengira Krystal sudah benar-benar membuka hati untuknya dan siap dengan hubungan mereka. Namun bisa saja selama ini gadis itu melihatnya sebagai Kai. Jelas Krystal tahu banyak tentang dirinya, seperti film atau jenis musik kesukaannya, seperti warna yang dia sukai, makanan yang tak ia sukai atau pun yang ia sukai. Kalau ia kira Krystal adalah jodohnya, anggapan tersebut jelas salah.

Pantas saja. Gadis itu selalu menatapnya dengan pandangan familiar sejak ia kembali ke Seoul, ternyata ia sudah menyadari apa yang bisa diambilnya dari kedekatan mereka.

Kening Yun bertaut, bibirnya bergetar, tak peduli sekuat apa ia berusaha meredam kekecewaannya, semua itu tercermin jelas di wajahnya. Kepalanya tertunduk lesu, hanya pernyataan maaf yang keluar dari bibir Krystal. Dan itu rasanya jauh lebih menyakitkan. Tapi toh ia memang tidak seharusnya mengharapkan apa-apa setelah mengetahui kenyataannya.

“Selamat tinggal, Krys.”

Gadis itu bergeming. Mata Yun memerah ketika ia berbalik pergi sambil menyeret langkahnya yang terasa berat, namun Krystal tidak sempat melihatnya. Karena ketika ia mendongak, Yun telah berjalan menjauh. Meninggalkan dirinya. Hidupnya.

 

***

Entah sudah berapa puluh kali Krystal mencoba menghapus air matanya. Tapi air mata itu seolah tak pernah kering. Mengalir lagi. Menetes lagi.

Kepergian Yun terasa menyakitkan. Dadanya sesak. Dan Krystal harus megap-megap untuk sekedar bisa bernapas. Padahal biasanya itu adalah kegiatan yang bisa ia lakukan tanpa sadar sekali pun. Namun kini semakin ia bernapas, semakin sakit yang ia rasakan. Ia memukul dadanya kuat-kuat seolah hal tersebut dapat meredakan sakit di hatinya.

Hujan berderai di luar. Kabut menghalangi pandangannya.

Ia tidak mau berharap banyak. Sejak awal ia tidak seharusnya berharap. Tentu saja ia merasa Yun mirip dengan Kai, zodiak mereka ternyata sama, karena mereka lahir di hari, bulan dan tahun yang sama, jadi tak aneh kalau mereka memiliki kemiripan.

Sifat mereka sama, kebiasaan mereka sama, kesukaan mereka juga sama. Semuanya sama, meski keduanya adalah dua orang yang berbeda. Walau awalnya ia tak mau mengakuinya, pada akhirnya Krystal harus menerimanya. Karena kalau tidak, Yun bisa tersakiti oleh keegoisannya. Tapi mengapa begitu sulit rasanya menemukan cinta sejati? Begitu tidak berartikah dirinya?

Tak pantaskah ia bahagia?

Kini setelah mengetahuinya, Yun pergi. Pasti sejak awal mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Krystal tertawa, namun hatinya meringis pilu. Dan tangisnya pecah lagi. Isakannya terdengar menyayat hati.

Ketika ia mulai merasa putus asa, Yun kembali dengan napas terengah-engah serta tubuh basah kuyup. Ia berjalan menghampiri Krystal yang tengah terpekur dengan kepala menunduk dan terisak-isak di sofa ruang tamu. Refleks gadis itu berdiri.

“Aku…” ucap Yun ditengah-tengah denyut nadi yang memompa darahnya demikian cepat. “Aku… Krys. Bagaimana mungkin aku bisa pergi begitu saja?” tanyanya dengan kepanikan yang tercermin jelas di wajah tampannya.

Krystal menatap wajah Yun ragu.

“Bagaimana bisa aku berlalu begitu saja?” Susah payah Yun menelan air mata yang kini merembes di pipinya. “Kalau aku benar-benar mencintaimu? Kalau hatiku sakit saat tahu semuanya tapi justru menolak untuk percaya?”

Oppa…”

Yun menggeleng kuat-kuat, “aku tak sanggup Krys. Aku tak mampu membayangkan kehidupanku setelah ini tanpa dirimu.” Tiba-tiba Yun terkulai lemas, ia jatuh berlutut. Dengan masih berusaha tidak menangis tersedu-sedu, “tolong terima aku,” pintanya memelas. “Tolong jangan menolakku dengan terus memikirkan Jongin, itu tidak adil untukku, Krys. Tolong jangan membuangku begitu saja, tolong…”

Oppa, apa yang sedang kau bicarakan?”

Yun mendongak, tatapannya yang mengabur oleh air mata bahkan tak sanggup memudarkan kecantikan Krystal. “Aku cinta padamu, Krys. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

Krystal bergeming. Seluruh beban dalam dirinya terangkat sudah. Ia ingin percaya, percaya bahwa Tuhan masih menyediakan masa depan untuknya.

“Jadi kumohon, jangan membuangku seperti ini. Kau sudah berjanji,” desak Yun lirih.

Kata-kata itu menggetarkan hatinya. Tapi Krystal tidak punya jawabannya. Tidak lagi.

Namun apa sebenarnya yang membuat ia berhak melakukan hal tersebut? Apa yang membuatnya berhak menyakiti lelaki yang mencintainya? Dan sebanyak apa pun pertanyaan yang ia ajukan, tak ada jawaban yang jatuh dari langit. Dunia seakan tengah berbalik memunggunginya, membiarkan dia hancur tanpa tahu harus melakukan apa lagi.

Bibirnya bergetar hebat. Tak ada kehangatan di sana, di dasar hatinya. Dingin menyelimuti tubuhnya, Yun berusaha memeluk tubuhnya kuat-kuat untuk meredam getaran yang menjalari kulitnya tapi tak ada yang terjadi. Dia masih kewalahan dengan beban yang sedang bersarang di kepalanya. Yang menanti jawaban yang tak kunjung tiba.

Oppa…” suara Krystal memecah keheningan dalam ruangan yang di beri banyak penerangan.

Yun mengangkat kepalanya tiba-tiba. Secercah harapan nampak di matanya yang basah.

“Kukira aku mencintaimu, tapi…”

Untuk sejenak, Yun membisu. Dengan ekspresi pilu ia berusaha mengangkat kepalanya, “mengapa kau tidak mencintaiku, Krys?” tanyanya dengan suara serak. “Mengapa kau mencintainya dan bukan aku?” Air mata serta-merta jatuh lagi di wajahnya. Yun menggigit bibirnya kuat-kuat, memaksa diri sendiri untuk tidak menangis tersedu-sedu.

“Jawab aku!” suara Yun meninggi. “Mengapa kau mencintainya dan tidak mencintaiku!?” hardik lelaki itu kalap. Dengan napas tersengal ia memandangi wajah Krystal dengan penuh kemarahan.

Perlahan-lahan dari ekor matanya ia bisa melihat Krystal berdiri. Bayangannya nampak berlalu. Yun bergegas berlari mengejar gadis itu. Dengan paksa didorongnya tubuh Krystal ke tembok. Bibirnya menekan bibir Krystal, sementara tubuhnya menyangga tubuh gadis itu sehingga ia tak bisa bergerak.

Yun mencium Krystal dengan membabi buta, menekan bibir Krystal yang hangat dengan bibirnya yang beku karena dingin di sekujur tubuhnya. Menelusuri lekuk leher gadis itu lalu meninggalkan bekas kekecewaannya di setiap jengkal kulitnya sementara Krystal terus-menerus memberontak di bawah tekanannya. Seperti kesetanan Yun melepas kancing-kancing kemeja Krystal dengan sekali hempasan, tangannya meremas payudara gadis itu hingga Krystal kesakitan.

“Jangan Oppa!” jerit Krystal megap-megap ketakutan.

Otak Yun memang terasa buntu oleh penghinaan yang diberi Krystal kepadanya. Namun masih cukup jernih untuk menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan besar, yang bisa saja membuatnya menyesali hal tersebut seumur hidup.

Didorongnya tubuh Krystal secara tiba-tiba. Dan merasa tertekan oleh kenyataan yang kini tepat di hadapannya. Apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu?

Tubuh Krystal merosot lemah, ia terduduk dengan mata menerawang sambil berusaha merapatkan kemejanya yang robek dengan jemarinya yang mati rasa. Mata gadis itu kosong, namun air mata terus-terusan mengalir di pipinya bagai air keran.

“Krys…” Yun bermaksud mendekat, namun Krystal segera meringkuk, berusaha menjauh walau tak bisa. “Krys maaf, maafkan aku.”

Yun membeku di tempatnya dengan perasaan kacau-balau, ia meremas rambutnya dengan gusar. Seluruh sendinya terasa panas, hatinya sakit melihat penderitaan di wajah krystal yang ia sebabkan. Padahal ia sudah berjanji akan melindungi Krystal, namun justru menjadi orang yang menyebabkan kerusakan pada diri gadis itu. Parahnya lagi, ia tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.

“Kau baik-baik saja, Krys?” hanya itu yang bisa keluar dari bibir Yun. Berkali-kali, bahkan untuk sekedar meyakinkan dirinya sendiri kalau ia masih bisa melihat tubuh Krystal bergerak-gerak lamban oleh tarikan napasnya.

Tapi Krystal tidak pernah menjawab, hanya isak tangisnya yang kini membahana di seluruh rumah.

 

THE END

 

Well, gimana?

Sungguh, niat awalnya gak pengen di bikin setragis ini. Bagaimana pun, setelah menderita cukup lama saya ingin Krystal bisa bahagia bersama Yun yang baik hati. Trus selanjutnya bikin KaiMin dan Sulli dengan seseorang happy ending. Tapi komentar para reader yang minta Kaistal jangan berpisah sebelumnya cukup bikin otak saya rancu, padahal sebelum part 1 di publish yang bagian kedua ini udah rampung dengan ending yang manis hehehe~ akhirnya saya rubah lagi deh, semoga gak mengecewakan. Dan seperti prediksi saya sebelumnya, moga-moga aja nanti bisa punya ide lagi trus bikin next storynya :D

Ngomong2, saya bener-bener merasa bersalah sama Yun yang manis dan baik hati(?) karena udah tega bikin karakternya sebuas itu, padahal Yun bertolak belakang dengan Kai (yang punya wajah mesum yang saya gilai :lol: ) punya wajah manis semanis gula kayak Taemin tapi versi cowok sejati(?) (untuk saya Taemin sulit banget keliatan cowoknya selain waktu di Lucifer) :mrgreen:

One thought on “THE ZODIAC #2

Comment please...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s